Berpartisipasi dalam Temu Inklusi Nasional, Solo Bersimfoni Kenalkan Kesalehan Sosial Kepada Masyarakat Difabel

Gambar Temu Inklusi

Gambar Temu InklusiSurakarta, Solobersimfoni.org – Solo Bersimfoni mengghadiri acara Temu Inklusi 2018 yang dilaksanakan pada 22-25 Oktober di Desa Plembutan, Playen, Gunung Kidul. Temu Inklusi ini merupakan ketiga kalinya, pertama kali dilaksanakan di tahun 2014 dan kedua di tahun 2016. Temu Inklusi merupakan kegiatan pertemuan antara aktivis difabel yang dilaksanakan dua tahun sekali dalam rangka mewujudkan cita-cita Indonesia Inklusif 2030. Kegiatan ini diselenggarakan oleh (Sasana Inklusi dan Gerakan Difabel) dengan bantuan aktivis difabel lain dan masyarakat setempat untuk menjadi panitia.

Suharto yang menjadi ketua panitia dalam kegiatan tersebut berharap dengan diselenggarakannya acara ini pemerintan mempunyai rumusan arah kebijakan yang lebih strategis untuk kalangan difabel yang sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan

Selain untuk cita-cita Indonesia Inklusif 2030 kegiatan Temu Inklusi ini juga memiliki tujuan lain yaitu Merangkai gagasan untuk perubahan, membangun kepercayaan diri aktivis difabel, dan agar bekerja lebih semangat untuk difabel. Kegiatan diisi oleh beberapa rangkaian acara. Ada Sarasehan, Seminar, Pameran aktifis difabel dan komunitas difabel, dan seni pertunjukan oleh siswa difabel. Kegiatan juga diisi oleh penandatanganan MOU (Master Of Undertranding) antara lembaga Komisi Yudisial dan Sigab (Sasana Inklusi dan Gerakan Difabel) untuk kemudahan akses masyarakat difabel.

Solo Bersimfoni turut berpartisipasi dalam pameran para aktivis difabel, bersama dengan AIPJ (Australia Indonesia Partnership for Justice) Solo Bersimfoni meamerkan dan membagikan merchandise dan modul yang berkaitan dengan kesalehan social yang merupakan visi dari Solo Bersimfoni. Kru Solo Bersimfoni juga turut aktif dalam memperkenalkan “Kesalehan Sosial” kepada setiap orang yang mengunjungi stand dari Solo Bersimfoni. Harapannya merchandise dan modul yang dibagikan bisa untuk mengkampanyekan apa yang menjadi visi dari Solo Bersimfoni ke masyarakat luas untuk mendorong perilaku toleran dan anti kekerasan.

Selain Solo Bersimfoni yang juga turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut adalah AIPJ (Australia Indonesia Partnership for Justice), Kompak (kompak kolaborasi masyarakat dan pelayanan untuk kesejahteraan), Sigab (Sasana Inklusi dan Gerakan Difabel), Sapda ( Sentra Advokasi Perempuan,  Difabel dan, Anak, Komisi Yudisial, Dinas Sosial, Dinas Sosial setempat, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Bupati Gunung Kidul dan Komunitas difabel lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *