CEGAH INTOLERANSI, KEMBALI KE HASTHALAKU

solo bersimfoni
Sebut saja namanya Ibu Tika. Guru salah satu SMA di Solo ini sudah lama prihatin melihat kondisi anak didiknya. Mereka seakan melupakan sopan santun. Saat berpapasan dengan guru yang tidak mengajar mereka, tak ada senyum, apalagi sapa. Keprihatinannya makin menjadi, ketika salah satu muridnya, perempuan, berencana tidak lagi meneruskan kuliah. “Saya kan perempuan, perempuan tidak perlu pendidikan tinggi,” begitu ia mengenang jawaban sang murid.

Merasa bertanggung jawab pada masa depan sang murid, ibu guru ini mencoba menggali lebih dalam. Apalagi, sebenarnya murid ini tergolong pintar. Usut punya usut, ternyata pemicunya adalah ajaran ekstra kurikuler kerohanian di sekolah. Ibu Tika semakin tercekat, para pengajar rohani ini ternyata amat jarang dikontrol oleh sekolah. Siapa saja bisa datang, mengajar, dan menginterpretasikan agama dengan bebas di sekolah.

Syukur ia kemudian bertemu Solo Bersimfoni dan mendapat penjelasan tentang konsep kearifan lokal dan bagaimana mengimplementasikannya. “Ketakutan saya hilang sejak ada Solo Bersimfoni,” katanya.

Solo Bersimfoni, adalah organisasi masyarakat di Kota Solo yang mencoba mengenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada remaja dan masyarakat. Dengan kemasan kontemporer, kegiatan Solo Bersimfoni menjadi relevan dengan perkembangan zaman. Solo Bersimfoni menggunakan pendekatan nilai hasthalaku yang diyakini mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat Jawa.

Jika diartikan satu persatu, hastha berarti delapan dan laku yang berarti nilai-nilai. Jadi hasthalaku adalah delapan nilai budaya lokal yang diimplementasikan untuk menguatkan nilai-nilai toleransi. Nilai-nilai tersebut adalah gotong royong, guyub rukun (kerukunan), grapyak semanak (ramah tamah), lembah manah (rendah hati), ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), andhap asor (berbudi luhur) dan tepa slira (tenggang rasa).

Solo yang begitu kental dengan kemajemukan, akhir-akhir ini memang sering dikaitkan dengan berbagai tindak intoleransi. Oleh karena itu, revitalisasi hasthalaku seperti guyub rukun harus bisa membangun kesadaran baru untuk mewaspadai fundamentalisme sekaligus mengembalikan Kota Solo sebagai kota yang toleran. Di sisi lain, derasnya arus informasi dan teknologi turut menjadikan budaya semakin tergerus.

Di luar, Solo terkenal akan masyarakatnya yang grapyak semanak, dalam bahasa Indonesia berarti ramah tamah. Grapyak artinya senang aruh-aruh (menyapa) dan semanak berarti hangat dan mudah akrab. Grapyak semanak menjaga sikap dan perilaku toleran, sebuah sikap baik yang menjadi modal kuat membangun kemajemukan tersebut menjadi sebuah karakter dan  identitas masyarakat Soloraya.

Namun demikian, sejarah panjang Kota Solo menyisakan peristiwa miris yang tercatat dalam sejarah dan tidak boleh terulang lagi.  Pasca reformasi 1998, perkembangan aktivitas keagamaan semakin marak  sehingga kelompok-kelompok radikal mulai berkembang. Masuknya radikalisme bisa dilihat antara lain dari kecenderungan beberapa masjid di Solo yang mengeksklusifkan diri, termasuk di perguruan tinggi. Mereka seperti tidak mau bergabung dengan sesama muslim yang dianggap tidak sealiran serta tidak mau menghadiri kajian yang bukan dari kelompoknya.

Dari latar belakang sejarah, ideologi yang mendasari jaringan teroris Solo tidak terlepas dari pengaruh gerakan Darul Islam di Jawa Barat, yang beberapa tokohnya berhasil berinteraksi dengan tokoh di Jawa Tengah pada tahun 1962 yaitu setelah Kartosuwiryo, pendiri gerakan DI/TII ditangkap TNI. Begitupun ketika Adah Djaelani, pemimpin pemberontakan DI/TII Jilid III ditumpas TNI pada akhir tahun 1970-an,  beberapa anggota NII yang tidak tertangkap diperkirakan mencari tempat berlindung di sekitar Sukoharjo Solo. Fajar Purwawidada dalam publikasi Jaringan Baru Teroris Solo (2014) menyimpulkan bahwa anggota yang tersisa ini bisa jadi cikal fundamentalisme di Solo.

Solo yang multikultural

Luas Kota Solo hanya sekitar 44 km², dengan penduduk 503.421 jiwa. Pada website Kota Surakarta disebutkan asal kata Solo berasal dari Desa Sala. Orang Eropa yang tinggal di Jawa susah mengucapkan Sala maka mereka menyebut Solo. Desa Sala dipilih oleh Sri Susuhunan Paku Buwono II karena lokasinya yang strategis dekat dengan Sungai Bengawan Solo yang sejak lama memiliki arti penting dalam hubungan sosial, politik dan militer antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Desa Sala menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mataram pada tahun 1745 yang pindah keraton karena Keraton Kartasura, pusat Kerajaan Mataram, hancur oleh pemberontakan Sunan Kuning dan anak buahnya yang dikenal dengan Geger Pecinan tahun 1742.

Kini, Solo dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa karena secara tradisional menjadi pusat budaya dan pengembangan tradisi Jawa. Selain itu, Solo merupakan kota asal dan tempat Presiden Joko Widodo membangun karier politiknya, sehingga mau tidak mau segala hal yang berkaitan dengan Solo menjadi acuan di tingkat nasional. Meskipun multikultural, dalam kesehariannya masyarakat Solo menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi.

Setidaknya ada empat suku mayoritas yang hidup di Solo, yaitu suku Jawa, China, Banjar dan Arab. Masing-masing suku bertumbuh kembang mayoritas di kawasan tertentu, seperti suku China di sekitar Pasar Gede, suku Banjar di sekitar Kartopuran, dan suku Arab di sekitar Pasar Kliwon. Suku Jawa tentu saja tersebar di seluruh penjuru kota. Pengkotak-kotakan ini terkadang menjadi hal yang sensitif dan menjadikan Solo seperti sekam, mudah tersulut jika ada isu-isu intoleransi dari beberapa kelompok. Karena itu hasthalaku sebagai identitas perilaku berbudaya semakin perlu dikenalkan dan diimplementasikan.

Metode kampanye hasthalaku ada berbagai cara. Awalnya adalah mencetak relawan kesalehan sosial yang mandiri dan bersinergi untuk mendorong perilaku toleran dan damai. Relawan ini dipanggil sebagai sahabat simfoni. Training of Trainers (ToT) dilakukan sebanyak tiga angkatan. Selama ToT, mereka dikenalkan tentang hasthalaku dan bagaimana mengimplementasikannya di tengah masyarakat. Dukungan Pemerintah Kota Solo ditunjukkan dengan kehadiran Bapak Dr. H. Achmad Purnomo, Apt. selaku Wakil Walikota Surakarta dan Bapak Untara, S.H. selaku pejabat Sekda Kota Surakarta pada ToT kedua. Beliau berdua menyempatkan hadir memberi semangat kepada sahabat simfoni. Kurang lebih 90 sahabat simfoni menjadi kepanjangan tangan Solo Bersimfoni dalam menyebarkan dan mensosialisasikan hasthalaku untuk membangun toleransi dan perdamaian.

Sebagai lanjutan dari metode yang pertama, Solo Bersimfoni menyosialisasikan hasthalaku ke sekolah-sekolah. Kegiatan yang dinamakan Simfoni Goes to School ini dilakukan pada SMA dan SMK di Kota Solo. Solo Bersimfoni memilih jenjang SMA / SMK  karena berdasarkan konsultasi dengan berbagai pihak (lembaga penelitian, organisasi masyarakat sipil dan pemerintah) bibit-bibit intoleransi berbasis kekerasan mulai muncul di jenjang itu. Beberapa ekstra kurikuler sekolah juga diperkirakan mudah dimasuki paham kekerasan. Ketua Solo Bersimfoni, Farid Sunarto mengatakan, “Beberapa kelompok yang terpapar relatif berusia muda.  Mereka memperoleh informasi dari dunia maya yang bisa diakses dari genggaman tangan dan kegiatan kerohanian sekolah”. Kajian kerohanian yang dilakukan setelah jam belajar usai menyebabkan minimnya kontrol dari sekolah.

Sambutan dari peserta dalam kegiatan Simfoni Goes to School selalu positif. Ini terlihat dari tanggapan salah satu siswa peserta yang mengatakan, “Jika diterapkan Hasthalaku dapat membuat hubungan sosial menjadi baik serta membuat lingkungan menjadi damai dan nyaman.” Solo Bersimfoni berharap para anak muda ini bisa menyebarkan kembali hasthalaku yang telah mereka terima kepada lingkungan sekitarnya. Seperti bola salju yang menggelinding makin besar, penyebaran hasthalaku tidak berhenti di kegiatan Simfoni Goes to School.

Menurut Ibu Tika murid-murid mengalami perubahan setelah mengikuti Simfoni Goes to School. Sebelumnya, anak berperilaku baik namun acuh terhadap sekitar maupun guru.  “Kini mereka menjadi ramah kepada teman yang berbeda kelas dan peduli untuk segera membantu orang lain yang kesulitan,” kata Ibu Tika.

Ibu Tika bersyukur karena murid perempuan yang di awal cerita tidak mau melanjutkan kuliah setelah lulus SMA akhirnya melanjutkan di sekolah keperawatan untuk menjadi bidan. “Itu sesuai dengan keinginannya menolong banyak orang, saya menekankan kepada anak itu bahwa sekolah bukan untuk kamu tapi agar berguna bagi orang lain,” tambahnya.

“Dulu, sebelum bertemu Solo Bersimfoni, saya merasa jika anak-anak berperilaku seperti ini terus menerus, mau jadi apa bangsa ini. Setelah bertemu dengan Solo Bersimfoni, ketakutan saya hilang, masih ada organisasi semacam ini yang menyebarkan kebaikan. Saya menjadi yakin bahwa bangsa ini akan menjadi baik,” ungkap bu Tika tentang Solo Bersimfoni.

Meski masih tahap awal, Solo Bersimfoni sudah melakukan banyak kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat Solo Raya tentang pentingnya budaya lokal sebagai upaya dalam mereduksi sikap intoleran. Menurut Farid Sunarto perilaku yang terkait intoleransi sebenarnya juga banyak terkait phubbing dan bullying. “Ini adalah agregasi-agregasi kecil yang bisa dikatakan intoleran tapi tidak lantas lari ke kekerasan, tapi bolehlah kita menyentuh perubahan sikap dan perilaku” tambahnya. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan diantaranya dengan ikut karnaval kemerdekaan yang menampilkan beragam baju adat dan keagamaan, menjadi fasilitator dalam Jambore Pemuda Solo bekerja sama dengan Dispora Kota Surakarta untuk memperkenalkan Hasthalaku on the Move, menyelenggarakan Hasthalaku Fair di Car Free Day (CFD), dan pentas ketoprak lengkap dengan wedangannya sebagai acara puncak tahunan Solo Bersimfoni.

Pentas ketoprak dan wedangan dikunjungi kurang lebih seribu masyarakat Solo Raya dari kalangan pendidikan, pemerintahan dan umum. Mengusung judul “Kethoprak Kolosal Cempoko Mulyo”, nilai-nilai hasthalaku tidak hanya disampaikan dalam pertunjukan tetapi juga menjadi nama tiap titik wedangan. Harapannya hasthalaku bisa diingat dan diamalkan masyarakat Solo Raya terutama dalam menjaga perilaku toleran.

Program Keberlanjutan

Demi menjaga keberlangsungan program, Solo Bersimfoni menginisiasi terbitnya regulasi terkait pembangunan kepemudaan di Kota Surakarta. Yang mana dalam regulasi tersebut hasthalaku menjadi identitas karakter pemuda Solo. Dampaknya adalah anggaran dan kegiatan yang dialokasikan pada suatu dinas di Kota Surakarta akan diarahkan kepada pembangunan karakter dengan identitas hasthalaku.

Demikian juga Solo Bersimfoni menginisiasi sebuah model sekolah dengan nama Sekolah Adipangastuti. Model tersebut memberikan arah dan panduan untuk penerapan nilai hasthalaku di sekolah SMA dan SMK.

Solo Bersimfoni meyakini bahwa budaya lokal adalah metode yang cocok untuk membuka sekat-sekat intoleransi dan membuat masyarakat Soloraya kembali saling menghargai dan menghormati. Farid Sunarto menambahkan “Saya berharap Solo Bersimfoni ke depan bisa mendorong  perubahan perilaku dari kecenderungan kepada kekerasan beralih kepada hasthalaku yang disampaikan secara ringan agar menarik anak-anak milenial”. Tim Solo Bersimfoni percaya, anak muda di Kota Solo dan sekitarnya mau dan mampu menebarkan hal-hal baik untuk kemaslahatan bersama. Dari kota kecil, Solo Bersimfoni bercita-cita bisa menyatukan bangsa menjadi Indonesia Bersimfoni. Mari kita bersimfoni, mari menjaga toleransi untuk negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *