Close

November 28, 2020

Menjadi Pahlawan Milenial dengan Ber-hasthalaku

Indonesia lahir dari pekik merdeka yang semangatnya masih berkobar dalam dada setiap rakyatnya. Negara kita tumbuh subur dari setiap tetesan darah para pejuang yang mengalir ke dalam tanah ibu pertiwi. Sudah selayaknya bangsa kita mengenang, menghargai dan meneruskan perjuangan para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa raganya demi sebuah cita-cita kemerdekaan yang diidam-idamkan.

Sejarah telah mencatat beratnya perjuangan para pahlawan mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini. Perjuangan yang mungkin tidak terbayangkan apalagi dirasakan oleh anak muda di zaman sekarang. Jika para pejuang zaman dahulu harus mengangkat senjata dan bertaruh nyawa demi kemerdekaan bangsa, saat ini generasi muda tengah dihadapkan pada “penjajahan” dalam wujud yang berbeda. Bukan bangsa asing seperti ratusan tahun lalu yang harus mereka perangi,  namun mereka sedang berperang melawan rasa malas, sikap apatis, dan ketergantungan.

Generasi milenial memiliki andil besar menjadi pahlawan bagi peradaban bangsa. Lalu siapakah para pahlawan milenial ini?

Menurut Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 1964 tentang Penetapan, Penghargaan Dan Pembinaan Pahlawan atau Undang-Undang (UUD) Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, pahlawan adalah warga negara yang melakukan tindak kepahlawanan, berjasa dan berkorban untuk bangsa dan negara, serta tidak melakukan tindakan yang menodai nilai perjuangannya. Sedangkan kata “pahlawan” sendiri secara umum dapat disimpulkan sebagai sosok yang berani berkorban untuk mengatasi masalah bangsa.

Saat ini banyak entrepreneur muda yang bergerak dalam bidang bisnis Start Up menggunakan ketrampilan yang mereka miliki. Dengan memanfaatkan kecanggihan  informasi dan teknologi maupun digital marketing, mereka mampu menciptakan banyak lapangan kerja bagi masyarakat sehingga mereka layak disebut sebagai pahlawan.  Sebagian besar dari kita tentu mengenal salah satu perusahaan e-commerce Indonesia berbasis market place, Buka Lapak yang didirikan oleh Achmad Zaky. Perusahaan ini berfokus pada pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM). Kontribusi perusahaan yang lahir dari tokoh milenial Indonesia ini tentunya sangat besar bagi bangsa, ia mampu membantu mengerakkan roda perekonomian negara dengan memberdayakan kekuatan masyarakat.

Selain itu tokoh-tokoh muda yang mengharumkan nama bangsa melalui seni dan budaya serta atlet-atlet yang membawa nama bangsa di kancah internasional juga dapat disebut sebagai pahlawan milenial. Seorang siswi dari SMAN 68 Jakarta, Nila Eleora Putri Sianturi, adalah salah satu contohnya. Remaja ini berhasil meraih prestasi di ajang festival seni internasional, 21st International High Schools Arts Festival di Tokyo, Jepang. Dia juga meraih medali emas Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tahun 2019 untuk bidang poster kategori putri. Para remaja milenial juga pasti tak asing dengan Aero Sutan Aswar yang telah menyabet gelar juara pada Kejuaraan Dunia Jetski 2019, di Amerika Serikat. Selain itu kita mengenal atlet wushu Edgar Xavier Marvelo, atlet panjat tebing Alfian Muhammad Fajri dan banyak lagi tokoh pemuda lainnya yang berhasil membanggakan nama Indonesia di mata dunia.

Hasthalaku sebagai Nilai Sikap Pahlawan Milenial di Masa Pandemi

Di tengah badai pandemi yang masih saja menerpa dunia, generasi muda Indonesia memiliki tantangan untuk menjadi pahlawan-pahlawan yang mampu menciptakan inovasi dan karya yang bermakna bagi bangsa. Mereka dihadapkan pada situasi yang membutuhkan aksi nyata agar Indonesia tak terus-menerus terpuruk  dari segi kesehatan, ekonomi maupun pendidikan.

Para Influencer, Youtuber, Vlogger, dan Selebgram di era milenial ini bisa dikatakan sebagai pahlawan yang mampu memberi pengaruh positif bagi banyak orang. Mereka mampu menggerakkan banyak tangan dan mempengaruhi opini bahkan mengubah perilaku anak-anak muda di masa sulit ini.

Beberapa  waktu lalu pemerintah melalui BNPB menggandeng beberapa influencer muda dalam upaya memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait penyebaran Covid-19, seperti Indra Bekti @indrabekti dan Sarah Alana Gibson @sarahgibson21. Di dalam gerakan tersebut para influencer juga digerakkan oleh Kementrian Kominfo sebagai key opinion leaders yang berfungsi melatih literasi digital serta menangkal penyebaran hoax di masyarakat.

Tak hanya perjuangan lewat karya dan inovasi, generasi muda saat ini juga memiliki tantangan untuk menghadapi berbagai pihak yang ingin memecah belah persatuan bangsa. Upaya untuk menyatukan negara Indonesia dengan kebhinekaannya tentu tidaklah mudah. Sejak negara Indonesia terbentuk akan selalu ada upaya untuk memecah belah negara dengan 1.340 suku dan 6 agama yang berbeda ini.

Kini, generasi muda mengemban tugas berat demi menjaga kelangsungan kemerdekaan dan menjaga persatuan Indonesia. Dengan adanya teknologi yang semakin maju, ancaman pihak-pihak yang ingin memecah belah persatuan bangsa sangat mudah menyisipkan propagandanya secara masif, terstruktur dan sitematis melalui berbagai media.  Kebebasan dalam bermedia sosial sering disalahgunakan beberapa pihak untuk menyebarkan isu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Terlebih lagi momen menjelang pilkada saat ini berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah masyarakat agar terpolarisasi atau terpisah dalam kubu-kubu berdasarkan afiliasi politik mereka.

Upaya tersebut dapat ditangkal dengan menerapkan prinsip hasthalaku yang tercermin dalam sikap dan perilaku generasi muda. Sikap gotong royong, grapyak semanak, guyub rukun, lembah manah, ewuh-pekewuh, pangerten, andhap asor dan tepa selira adalah senjata ampuh melawan masifnya upaya memecah-belah bangsa.

Gotong-Royong dan Guyub Rukun dalam Krisis

Pandemi Covid-19 bukan hanya menjadi krisis kesehatan bagi bangsa kita, namun ia telah menjelma menjadi krisis sosial dan ekonomi. Dengan menjaga semangat gotong-royong, masyarakat telah berhasil membuktikan bahwa negara kita adalah negara yang kuat dalam melewati krisis ini.

Kepedulian kaum milenial terhadap sesama dapat dilihat dari aksi para influencer dalam berbagai kegiatan. Sebut saja salah satu tokoh selebgram dengan akun @rachelvennya, yang pada awal pandemi telah melakukan penggalangan dana hingga milyaran rupiah dengan menggerakkan jutaan pengikutnya di Instagram. Ada juga beberapa selebgram lain yang melakukan aksi sukarela seperti membagikan nasi bungkus, sembako maupun peralatan medis bagi yang membutuhkan.

Sikap saling menolong ditunjukkan oleh warga mulai yang paling ringan melalui dukungan moril dengan tidak memberi stigma negatif pada penderita hingga memberikan bantuan materiil dengan menyediakan sembako dan kebutuhan sehari-hari. Beberapa warga juga bergotong-royong memproduksi masker kain dan jamu serta membagi-bagikannya kepada mereka yang membutuhkan.

Empati dalam Pangerten, Grapyak Semanak dan Tepa Selira

Solidaritas masyarakat dunia saat ini tengah diuji, seberapa kuat empati kita terhadap orang lain. Komunikasi dengan empati terwujud dalam nilai-nilai pangerten, grapyak semanak dan tepa selira. Dengan nilai pangerten dan tepa selira kita mampu mengedepankan rasa bagaimana menjadi orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Adanya perasaan “Bagaimana bila pasien Covid-19 itu adalah kita atau keluarga kita?” membuat masyarakat tergerak untuk ikut membantu pemulihan para pasien.

Dengan demikian tidak akan ada stigma negatif terhadap para pasien Covid-19 yang membuat mereka dikucilkan. Hal ini justru memunculkan keinginan kita untuk membantu meringankan beban dan mendukung proses penyembuhan pasien. Jangan sampai rasa takut mengalahkan rasa kemanusiaan terhadap korban, sehingga yang kita sebarkan hanyalah kepanikan dan ketakutan tak berdasar yang memperburuk kondisi pasien, terutama secara psikologis.

Grapyak semanak atau sikap ramah terhadap orang lain dapat menumbuhkan kedekatan dan menjadikan kita lebih banyak mendengar keluhan orang lain daripada memaksa mereka mendengarkan kita. Kita akan menjadi orang yang berjasa menjadi pendengar yang baik dan mampu memberikan ketenangan pada orang lain. Melindungi orang lain merupakan sikap seorang pahlawan.

Menghargai Orang Lain dengan sikap Lembah Manah, Ewuh-pekewuh, dan Andhap Asor

Dalam menjaga hubungan sosial dengan orang lain sikap lembah manah, ewuh-pekewuh dan andhap asor memiliki peran yang sangat penting. Sikap rendah hati direfleksikan dalam tutur kata yang sopan, sikap yang lembut, menekankan tata krama, berbicara dengan nada yang baik dan kata-kata yang enak didengar. Selain itu kita juga harus dapat menyesuaikan kondisi dan situasi yang sedang dialami oleh lawan bicara kita.

Manusia sebagai makhluk sosial harus dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar dengan baik. Sikap andhap asor diperlukan agar manusia dapat menjadi seseorang yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

Sikap yang terkandung dalam nilai-nilai hasthalaku mencerminkan budi pekerti luhur dan jiwa kepahlawanan. Saat ini kita tak perlu mengangkat senjata untuk berjuang di masa krisis, namun dengan mengimplementasikan nilai-nilai hasthalaku, generasi milenial mampu menjadi para pahlawan penyelamat banyak jiwa manusia.

Jadi, siapkah kita menjadi pahlawan milenial dengan ber-hasthalaku?

 

Penulis
Asri Pujihastuti, S.Pd.
Guru SMKN 7 Surakarta

2 Comments on “Menjadi Pahlawan Milenial dengan Ber-hasthalaku

Avatar
access
February 1, 2021 at 1:09 am

It is the best time to make some plans for the future and it is time to be happy. I have read this post and if I could I desire to suggest you few interesting things or suggestions. Perhaps you can write next articles referring to this article. I desire to read more things about it! Ree Panchito Pardoes

Reply
Avatar
bollywood
February 1, 2021 at 3:05 am

I just love reading the things you write. Thank you for sharing with us. God bless Maryanne Valentijn Ankney

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *