Close

Murid-murid memasuki kelas. Bapak guru pun mulai menerangkan pelajaran, tetapi mereka tidak mendengarkan perkataan bapak guru namun sibuk ber-wefie bahkan mengajak bapak guru untuk wefie bersama-sama.

 

Sepenggal cerita di atas menjadi pembuka pementasan fragmen persembahan Sahabat Simfoni pada acara Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) Provinsi Jawa Tengah pada hari Kamis tanggal 17 Oktober 2019 di UTC Convention Hotel Semarang. Tema FORKOPIMDA kali ini adalah Komitmen Bersama Menjaga Jawa Tengah Tetap Guyub, Toleran, Aman dan Tenteram. Rapat koordinasi ini dilakukan untuk menyikapi beberapa berita yang menyedihkan akhir-akhir ini, seperti adanya anak-anak yang masuk Rumah Sakit Jiwa karena kecanduan gawai.

 

Fragmen sepuluh  menit tersebut membuka acara yang dihadiri antara lain oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. “Fragmen tadi bagus sekali, menggambarkan bagaimana anak sekolah mengajak gurunya wefie dan tidak hormat kepada gurunya, kemudian menyadari kesalahan sendiri dan mencari solusi dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka”. Fragmen yang dilakukan oleh Sabahat Simfoni, yaitu relawan dari Solo Bersimfoni yang menjadi kepanjangan tangan untuk menyebarkan hasthalaku, menjadi penting karena memberikan contoh yang nyata mengenai sikap dan perilaku tidak baik di kalangan remaja. Dengan pementasan fragmen ini, Solo Bersimfoni mempunyai harapan agar hasthalaku lebih dikenal lagi bahkan di Jawa Tengah.

 

Ganjar Pranowo juga menjelaskan bahwa kini banyak sekali kegiatan positif bagi siswa-siswi SMA dan mahasiswa yang bisa memupuk jiwa toleransi seperti forum anak yang sudah mulai rutin dilakukan di setiap daerah dan didukung oleh UNICEF. Ada juga program “Sehari Bersama Gubernur” yang bertujuan agar orang di luar pemerintahan bisa melihat persoalan di masyarakat secara langsung, serta dapat memberikan ide dan aspirasi untuk masalah yang ada. Hal ini juga disepakati oleh Rektor UNDIP, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H.,M.Hum, “Anak-anak muda harus bisa memilih dan memilah kegiatan yang positif bagi dirinya”.

 

Pangdam IV Diponegoro, Mayjen Mochamad Effendi juga menambahkan bahwa kita semua sebagai WNI memiliki warna dan mempunyai kewajiban yang sama yaitu menciptakan suasana damai. “Contoh nyatanya adalah kita mengumpulkan semua di sini dengan latar belakang yang berbeda-beda. Seperti yang disampaikan oleh adik-adik dalam fragmen dari Solo Bersimfoni, meskipun kita berbeda tetapi kita punya rasa untuk mempersatukan Indonesia”, ungkapnya. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bahu-membahu. Kondisi harmonis dan rukun ini tidak dibangun oleh satu orang saja tetapi banyak orang, semua lapisan masyarakat turut berpartisipasi dalam menjaga keharmonisan.

 

Terakhir, Ganjar Pranowo mengingatkan kepada hadirin terutama anak-anak muda tentang komitmen mereka dalam menjaga kerukunan dan perilaku di Jawa Tengah dan Indonesia. Tentu saja komitmen bersama ini harus terus dipegang agar terjalin rasa saling menjaga perilaku dan menjaga kata-kata demi kedamaian bersama.

 

 #MariKitaBersimfoni

#MariMenjagaToleransiUntukNegeri