Close

Masih menjadi perbincangan hangat bagaimana Pandemi COVID-19 berpengaruh dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Sampai saat ini berbagai berita muncul di media online dan offline nasional maupun internasional. Ketakutan dan kecemasan tentang COVID-19 adalah suatu penyakit yang dapat menyebabkan pandangan dan tindakan kurang bijaksana  terhadap hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti orang yang terlibat, tempat, bahkan masyarakat sekitarnya.

Sangat disayangkan, hal ini menimbulkan dampak sosial berupa stigma negatif. Salah satunya  terhadap orang yang terlibat, seperti pasien dan keluarganya dan bahkan tenaga medis yang menangani mereka. Kita tidak bisa memungkiri bahwa tenaga medis saat ini menjadi pahlawan kemanusiaan. Mereka harus mengambil risiko dengan membahayakan diri sendiri demi terhentinya penyebaran virus COVID-19 serta merawat pasien yang terinfeksi. Tak terkecuali pihak pemulasaran jenazah juga menjadi sosok yang penting karena merekalah yang harus menjaga keselamatan dari pemakaman jenazah pasien yang meninggal.

Aksi pengusiran dan pemblokiran jalan ambulans yang akan memakamkan pasien menjadi bukti nyata stigma yang dialami oleh beberapa pasien, keluarga pasien dan tenaga medis. Video aksi ini sempat viral di media sosial dan mengundang simpati para warganet hingga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Beliau sangat menyayangkan kejadian tersebut terjadi di tengah pandemi ini, terlebih tindakan tersebut tidak menunjukkan rasa tepa selira antar manusia.

“…Dan saya mohon maaf, saya ingin kembali mengajak bapak ibu untuk ngrogoh rasa kamanungsan (menggunakan rasa kemanusiaan) yang kita miliki,” kata Ganjar melalui akun media sosialnya, Jum’at 10 April 2020.

Perlu kita ketahui bahwa pengurusan jenazah dengan status positif COVID-19 sudah melalui SOP yang benar dan sesuai dengan standar WHO oleh tenaga medis di rumah sakit. Sebelum dilakukan pemakaman, jenazah sudah terlebih dahulu dibungkus dalam body bag, kemudian dimasukkan dalam peti yang tertutup rapat, yang sudah melalui proses disinfektan. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk takut terhadap jenazah COVID-19, karena tidak ada kemungkinan penyakit tersebut bisa menular. Bahkan tentang pemulasaran jenazah pun juga dilakukan oleh pihak yang mengerti protokol yang benar.

Terbentuknya stigma dan ketakutan terhadap beberapa penyakit menular justru menghambat respon yang efektif dan memperumit penanganan kasusnya. Penyebab munculnya stigma ini karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang bagaimana COVID-19 bisa menyebar ke orang lain. Salah satu cara untuk melindungi masyarakat dari stigma adalah dengan menjaga privasi dan kerahasiaan mereka yang mencari perawatan kesehatan dan mereka yang mungkin menjadi bagian dari tenaga medis. Seperti yang dilansir kawalcovid19.id, bahwa bahaya stigma sosial bisa berdampak kepada psikologi seseorang seperti :

  1. Membuat orang menyembunyikan status kesehatan
  2. Membuat orang enggan memeriksakan diri
  3. Membuat orang kabur saat akan diperiksa, diobati atau dikarantina. Sehingga memperbesar risiko penularan di masyarakat.

Untuk itu sangat diperlukan edukasi dengan kemasan menarik dan mudah dimengerti tentang COVID-19 tanpa meningkatkan rasa takut. Cara-cara ini dirasa mampu mengurangi stigma yang berlebihan kepada mereka yang terlibat. Tentu saja, sebagai masyarakat kita perlu saling gotong royong dan guyub rukun menjaga lingkungan kita agar mereka yang terlibat tidak semakin merasa diasingkan.

 

Penulis: Burhanudin Fajri

April 25, 2020

REDUPKAN STIGMA COVID-19

Stigma Covid-19

Masih menjadi perbincangan hangat bagaimana Pandemi COVID-19 berpengaruh dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Sampai saat ini berbagai berita muncul di media online dan offline nasional maupun internasional. Ketakutan dan kecemasan tentang COVID-19 adalah suatu penyakit yang dapat menyebabkan pandangan dan tindakan kurang bijaksana  terhadap hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti orang yang terlibat, tempat, bahkan masyarakat sekitarnya.

Sangat disayangkan, hal ini menimbulkan dampak sosial berupa stigma negatif. Salah satunya  terhadap orang yang terlibat, seperti pasien dan keluarganya dan bahkan tenaga medis yang menangani mereka. Kita tidak bisa memungkiri bahwa tenaga medis saat ini menjadi pahlawan kemanusiaan. Mereka harus mengambil risiko dengan membahayakan diri sendiri demi terhentinya penyebaran virus COVID-19 serta merawat pasien yang terinfeksi. Tak terkecuali pihak pemulasaran jenazah juga menjadi sosok yang penting karena merekalah yang harus menjaga keselamatan dari pemakaman jenazah pasien yang meninggal.

Aksi pengusiran dan pemblokiran jalan ambulans yang akan memakamkan pasien menjadi bukti nyata stigma yang dialami oleh beberapa pasien, keluarga pasien dan tenaga medis. Video aksi ini sempat viral di media sosial dan mengundang simpati para warganet hingga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Beliau sangat menyayangkan kejadian tersebut terjadi di tengah pandemi ini, terlebih tindakan tersebut tidak menunjukkan rasa tepa selira antar manusia.

“…Dan saya mohon maaf, saya ingin kembali mengajak bapak ibu untuk ngrogoh rasa kamanungsan (menggunakan rasa kemanusiaan) yang kita miliki,” kata Ganjar melalui akun media sosialnya, Jum’at 10 April 2020.

Perlu kita ketahui bahwa pengurusan jenazah dengan status positif COVID-19 sudah melalui SOP yang benar dan sesuai dengan standar WHO oleh tenaga medis di rumah sakit. Sebelum dilakukan pemakaman, jenazah sudah terlebih dahulu dibungkus dalam body bag, kemudian dimasukkan dalam peti yang tertutup rapat, yang sudah melalui proses disinfektan. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk takut terhadap jenazah COVID-19, karena tidak ada kemungkinan penyakit tersebut bisa menular. Bahkan tentang pemulasaran jenazah pun juga dilakukan oleh pihak yang mengerti protokol yang benar.

Terbentuknya stigma dan ketakutan terhadap beberapa penyakit menular justru menghambat respon yang efektif dan memperumit penanganan kasusnya. Penyebab munculnya stigma ini karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang bagaimana COVID-19 bisa menyebar ke orang lain. Salah satu cara untuk melindungi masyarakat dari stigma adalah dengan menjaga privasi dan kerahasiaan mereka yang mencari perawatan kesehatan dan mereka yang mungkin menjadi bagian dari tenaga medis. Seperti yang dilansir kawalcovid19.id, bahwa bahaya stigma sosial bisa berdampak kepada psikologi seseorang seperti :

  1. Membuat orang menyembunyikan status kesehatan
  2. Membuat orang enggan memeriksakan diri
  3. Membuat orang kabur saat akan diperiksa, diobati atau dikarantina. Sehingga memperbesar risiko penularan di masyarakat.

Untuk itu sangat diperlukan edukasi dengan kemasan menarik dan mudah dimengerti tentang COVID-19 tanpa meningkatkan rasa takut. Cara-cara ini dirasa mampu mengurangi stigma yang berlebihan kepada mereka yang terlibat. Tentu saja, sebagai masyarakat kita perlu saling gotong royong dan guyub rukun menjaga lingkungan kita agar mereka yang terlibat tidak semakin merasa diasingkan.

 

Penulis: Burhanudin Fajri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *