Close

May 2, 2020

Sekolah di Rumah; Pangerten dengan Keadaan, Pangerten terhadap Sesama

“Nanti kalau sudah masuk sekolah, aku mau bu guru dan temen-temen ke lapangan dulu sebelum masuk kelas, aku mau meluk bu guru dan temen-temen semua. Aku rindu!”, seorang siswi berkata kepada gurunya melalui aplikasi chatting online, setelah satu bulan lamanya diberlakukan School From Home (SFH).

Sudah lebih dari satu bulan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada semua jenjang sekolah di Kota Surakarta dilakukan secara daring (online). Ini terkait dengan keputusan Walikota Surakarta Nomor 443.76/28 Tahun 2020 tentang Penetapan Status Kejadian Luar Biasa (KLB) Corona Virus Disease (COVID-19) di Kota Surakarta. Kepwalkot ini berlaku sejak tanggal 13 Maret 2020 sampai dengan dicabutnya penetapan status KLB oleh Walikota Surakarta.

Yuliyanti Dewi Untari, guru SMAN 1 Surakarta menceritakan bagaimana anak didiknya sudah menginginkan masuk sekolah lagi seperti biasa. “Salah satu kesulitan siswa adalah tidak bisa menanyakan langsung kepada guru mengenai materi yang belum jelas. Itu membuat mereka tidak paham sepenuhnya dengan materi yang disampaikan.”

Selain harus mengajar siswa, mereka juga harus menyediakan waktu untuk menemani anak selama kegiatan SFH. Hal ini juga berlaku bagi para orang tua murid yang melakukan Work From Home (WFH), mereka kesulitan membagi waktu antara bekerja dan menemani anak sekolah di rumah. “Saya melihatnya bukan memberatkan, karena situasi seperti ini seluruh dunia merasakan. Penting untuk kita bersama-sama mencari solusi dan menyelesaikannya dengan baik.”, ujar Atik Astrini, guru sekolah lanjutan di Surakarta ketika ditanya tentang pembelajaran online yang dirasa memberatkan guru dan siswa.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mendapatkan keluhan dari dua siswa sekolah menengah lanjutan di Semarang melalui direct message (DM) pada akun Instagramnya. Mereka bercerita beratnya tugas yang diberikan oleh guru selama SFH karena dirasa merepotkan terutama jika mengharuskan mereka untuk keluar dari rumah. Merespon DM mereka, Ganjar mengundang dua siswa tersebut ke rumah dinasnya untuk dapat berdiskusi. Kemudian dikeluarkanlah Surat Edaran Nomor 443/2/09002 tentang Layanan Penyelenggaraan Layanan Pendidikan dalam Rangka Pencegahan Penularan dan Penyebaran Infeksi Corona Virus Disease (COVID-19) di Jawa Tengah. Dalam surat edaran yang mulai berlaku sejak Senin tanggal 23 Maret 2020 ini dijelaskan bahwa guru dari berbagai jenjang sekolah juga mulai melaksanakan WFH. Ganjar juga menyebutkan agar materi pembelajaran di rumah lebih efektif jika berkaitan dengan COVID-19 supaya tidak memberatkan siswa.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, memberikan catatan agar guru tidak memberikan tugas yang memberatkan siswa, baik dari sisi materi (biaya) maupun cara mengerjakannya. Tugas sebaiknya tidak bersifat kolektif dan tidak ada tuntutan untuk menyelesaikannya karena situasi yang sedang sulit, dan akan lebih baik jika berupa ketrampilan hidup sehari-hari agar siswa mampu bertahan dalam menghadapi situasi pandemi saat ini dan setelahnya.

Hasthalaku Dalam Pembelajaran Online

Yuliyanti bahkan sudah menggunakan metode ‘siswa mengoreksi tugasnya sendiri’ dalam KBM online, bahkan sebelum SFH. “Sekarang saya juga masih menggunakan metode tersebut. Anak-anak saya beri kunci jawaban untuk mengoreksi tugasnya dan mereka melaporkan kepada saya berapa nilai dari tugas tersebut.”

Tentu saja menjadi pertanyaan, apakah siswa bisa dipercaya untuk mengoreksi tugasnya sendiri dan tidak curang. “Saya percaya, karena memang nilai kejujuran sejak awal sudah saya terapkan. Ini juga supaya siswa merasa dipercaya. Hal seperti ini penting dalam perkembangan kepercayaan diri siswa”, tambahnya.

Kejujuran adalah ciri dari andhap asor yang merupakan salah satu nilai dalam hasthalaku. Kejujuran dapat membuat orang saling percaya dan meminimalisir konflik sehingga keharmonisan akan terjaga (Modul Hasthalaku Solo Bersimfoni, hal 72). Kejujuran siswa menjadikan pembelajaran semakin menyenangkan dan tidak rawan konflik, karena setiap siswa saling percaya dan tidak ada rasa iri terhadap siswa lain. Tentu saja hal ini akan menjadikan guyub rukun terjaga.

Pada kegiatan belajar mengajar online, guru memaksimalkan penggunaan teknologi, namun beberapa guru ada yang kurang menguasainya. Beberapa metode dilakukan oleh guru, seperti menggunakan aplikasi WhatsApp, google classroom, google meet, zoom, dan aplikasi lain. Salah satu yang memberatkan bagi siswa adalah besarnya kuota internet yang harus digunakan dalam kegiatan belajar mengajar secara online.

Pembelajaran online juga membuat guru harus beradaptasi dan berinovasi dalam penggunaan berbagai media dalam pemberian materi kepada siswa. Hal ini dilakukan agar materi tetap menarik dan tidak membosankan bagi siswa. Seorang guru di SMKN 7 Surakarta, Asri Pujihastuti berkata, “Memang kendala bertatap muka dan online akan berbeda, tetapi saya jadi belajar menggunakan banyak aplikasi, seperti google sites, google classroom, menggunakan absensi di google form kemudian video conference melalui google meet atau zoom. Guru menjadi melek teknologi.  Sebenarnya dulu juga bisa menggunakan tetapi mungkin dirasa tidak perlu karena pembelajarannya secara tatap muka.”

Siswa juga diharapkan untuk selalu mengikuti pelajaran meskipun secara online. Dibutuhkan rasa pangerten dari siswa agar KBM online berjalan dengan baik. Pangerten dalam Bahasa Indonesia berarti pengertian atau peka terhadap kondisi sesama (Modul Hasthalaku Solo Bersimfoni, hal 61). Siswa dan guru diharapkan dapat saling menghargai pada saat keadaan yang sulit karena pandemi COVID-19.

“Video conference memang belum saya gunakan, karena tidak semua anak didik saya mempunyai fasilitas untuk dapat mengaksesnya, seperti keterbatasan gadget dan juga sinyal karena tidak semua siswa tinggal di kota. Beberapa siswa yang tinggal di pelosok tentu saja kesulitan mendapatkan sinyal. Juga ada keluhan tentang besarnya kuota (internet) yang dihabiskan.”, tambah Yuliyanti.

Atik bercerita, “Banyak sekali cerita sedih terkait pembelajaran online ini, banyak siswa yang tidak memiliki smartphone, atau meminjam milik mamanya sehingga harus menunggu mamanya pulang kerja, ada yang nitip teman, jadi siswa pun kadang sedih saat mendengarkan cerita temannya.”

Atik pun menyadari hal ini dan berusaha agar tugas yang diberikan tidak memberatkan siswa. “Pertama anak (merasa) happy dalam keadaan seperti ini, kedua bagaimana materi sampai ke siswa. Jadi untuk tugas, (biasanya) saya memberikan waktu satu minggu untuk mengumpulkan.” Karena keterbatasan fasilitas yang dipunyai siswa, salah satu sekolah memberikan pinjaman smartphone kepada siswa yang memang membutuhkan dan ada inisiatif untuk memberikan kuota kepada siswa yang kurang mampu dengan menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).

Pembelajaran online sebenarnya bukan hal yang baru dalam KBM. Sebelum KLB, beberapa guru juga melakukan pembelajaran online jika tidak bisa bertatap muka dengan siswa. Seperti saat guru melakukan program akselerasi di kota lain, atau juga pada saat siswa melakukan on the job training. “Dulu kecepatan internet belum seperti sekarang, tetapi respon dari siswa tergolong cepat. Saat itu saya menggunakan e-mail, jadi tugas siswa dikirimkan kepada saya setiap hari lewat e-mail”, ujar Yuliyanti.

KBM dengan bertatap muka tentu saja berbeda dengan online. Selain pemberian materi yang interaktif, siswa juga bertemu dengan teman-temannya. Secara psikologi ini berpengaruh terhadap mood dan semangat siswa. Bercengkerama dengan teman diantara pergantian jam pelajaran, pergi ke kantin saat istirahat, bermain futsal atau basket sepulang sekolah maupun sekadar berjalan-jalan di lingkungan sekolah menjadi hal yang dirindukan para siswa saat ini.

Atik melanjutkan bahwa siswanya menjadi lebih pangerten dan tepa selira justru setelah harus menjalani SFH, “Kejadian seperti ini adalah hal yang sebelumnya tidak pernah diduga oleh siswa. Mereka menjadi lebih memaknai pertemuan dengan guru dan teman-temannya dan menyadari kehadiran guru memang tidak tergantikan.”

Dalam keadaan seperti ini, semua lapisan masyakarat diharapkan pangerten dan bersedia mengikuti himbauan Presiden RI Joko Widodo untuk bekerja di rumah, belajar di rumah dan beribadah di rumah. Bersama-sama kita mengurangi penyebaran virus COVID-19 dengan #DiRumahAja. Ini juga merupakan salah satu cara pangerten terhadap saudara kita yang menempuh risiko karena tidak memungkinkan untuk bekerja dari rumah dalam masa pandemi, begitu pula sebaliknya. Sikap pangerten sangat diperlukan agar dampak yang lebih luas dari pandemi ini bisa diminimalisir sampai keadaan memungkinkan untuk kembali beraktifitas.

Penulis : Tia Brizantiana

2 Comments on “Sekolah di Rumah; Pangerten dengan Keadaan, Pangerten terhadap Sesama

Avatar
Atik Astrini
May 2, 2020 at 11:52 am

As colorful as tha rainbow, peristiwa ini harus terjadi, anak-anak dan kita semua akan punya pengalaman yg lengkap untuk memaknai proses dan perjalanan hidup. Stay positive, stay strong, stay healthy. #stayhome#lawancorona

Reply
Avatar
Untari
May 2, 2020 at 3:54 pm

Menarik, diluncurkan tepat saat peringatan Hardiknas. Menghubungkan apa yg terjadi dengan hastha laku.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *