Close

Bulan April lalu youtuber bernama Ferdian Paleka mengunggah konten kontroversial di channel youtube pribadinya yang akhirnya ramai menjadi perbincangan publik di berbagai media, terutama di media sosial. Ferdian mengunggah konten berupa prank dengan memberikan bingkisan-bingkisan menyerupai sembako yang ternyata berisi batu dan sampah kepada beberapa orang pada waktu tengah malam di kota Bandung. Perbuatan Ferdian, sekalipun dia berdalih hanya memberikan hiburan kepada penontonnya, telah menyakiti perasaan publik. Bahkan media Inggris, Mirror, dalam artikelnya 11 Mei 2020 memberitakan hal ini dengan judul “Youtuber arrested after handing out boxes of rubbish disguised as food.”

Sebelum peristiwa ini terjadi, saya melihat beberapa video unggahan Ferdian ini lewat di beranda facebook, dan yang terbersit dalam benak saya saat itu sebagai orang tua adalah rasa prihatin yang begitu besar, karena hampir setiap narasi kalimat yang dia ucapkan dalam video tersebut berisi kata-kata kotor. Kontennya tak jauh dari hal negatif yang sama sekali tidak ada unsur mendidik, bahkan kebanyakan cenderung mengarah pada hal-hal tidak senonoh. Tayangan semacam itu dikonsumsi oleh para subscriber-nya yang sebagian besar adalah remaja. Saat ini, perilaku streaming native para remaja kian hari kian meningkat. Seperti dicatat oleh Ericsson ConsumerLab (situs yang mempelajari perilaku orang-orang dalam bertindak dan berpikir tentang produk dan layanan TIK), terdapat kenaikan tren sebanyak 13% sejak tahun 2011 dari para remaja dalam menonton video melalui youtube. Kurang lebih tiga jam dalam sehari para remaja dengan rentang usia 16-19 tahun menghabiskan waktunya didepan smartphone.

Ferdian telah ditangkap oleh pihak kepolisian meskipun sempat masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) selama beberapa hari. Penangkapan itu menyusul pelaporan kepada pihak berwajib oleh salah satu korban transpuan bernama Mirna. Korban merasa sedih karena dipermainkan, ketika awalnya merasa senang dan terharu atas pemberian Ferdian serta mendoakan kebaikan kepadanya tetapi yang didapatkan malah sebaliknya. Ferdian dan dua orang kawannya dijerat dengan pasal UU ITE dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. Publik merasa geram dan tak sedikit yang mengutuk perbuatan pelaku karena tidak pantas dilakukan apalagi oleh seorang public figure.

Melihat fenomena ini muncul pertanyaan di benak kita, mengapa public figure yang cakap menggunakan teknologi justru mengalami gagap kepekaan sosial dan nilai kemanusiaan?  Public figure yang seharusnya melahirkan karya inspiratif justru membuat konten negatif  yang bisa menjadi contoh tidak baik bagi generasi muda khususnya content creator yang ada kemungkinan mengikuti jejaknya. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah (PR) kita bersama selaku manusia yang memiliki budaya tepa selira, sebuah budaya yang mengakar kuat dalam pribadi bangsa. Tepa selira atau tenggang rasa adalah salah satu nilai hasthalaku yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Tepa selira adalah cara kita menjaga perasaan orang lain terhadap apa yang kita lakukan yang menjadikan kita berhati-hati dalam bertindak. Kita pasti setuju bahwa perilaku yang ditunjukkan Ferdian Paleka ini sangat jauh dari tepa selira. Ketika transpuan yang merupakan salah satu bagian masyarakat termarjinalkan dan juga terdampak krisis di masa pandemi ini dimana membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup justru malah menjadi bulan-bulanan dan dijadikan konten prank dari seorang youtuber. Ini menunjukkan ambyar-nya sikap teladan seorang public figure yang banyak dikenal orang dan cenderung diikuti segala tindakannya. Bagaimana nasib generasi muda jika perilaku tak bermoral yang dilakukan Ferdian dan teman-temannya dicontoh oleh ribuan subscriber-nya? Ambyar-nya perilaku tepa selira dengan mengatas namakan konten hiburan ini tentunya akan berakibat  pula pada ke-ambyar-an moral para pemuda bila kita tidak segera melakukan tindakan pencegahan yang nyata. Pelaporan yang dilakukan oleh korban adalah tindakan tepat sehingga mampu memberi efek jera dan menjadi pembelajaran khususnya bagi content creator agar dapat membuat konten yang tidak hanya kreatif namun juga mendidik dan mendatangkan manfaat bagi para subscriber dan followers-nya. Seharusnya sebagai generasi milenial mereka bisa menjaga tingkah lakunya di dunia maya, apalagi dengan adanya Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) . Mereka seharusnya memahami bahwa segala tindakan di platform media sosial yang melanggar norma dapat pidanakan.

Perbuatan Ferdian tidak hanya melukai kaum transpuan yang menjadi korban namun juga melukai seluruh masyarakat Indonesia. Tidak heran jika masyarakat begitu reaktif menangapi kasus ini. Mungkin dalam industri platform media sosial, Ferdian Paleka hanyalah salah satu dari sekian banyak youtuber yang menjadikan konten prank untuk meraup keuntungan dan menjaring like serta subscribe secara sukarela atas “konten tipu-tipu” mereka. Prank kerap kali dijadikan bahan video untuk diunggah, dan tanpa sadar konten ini menjamur dan laris manis karena menemukan pangsa pasarnya. Kenyataan bahwa masih ada yang terhibur dan permisif dengan konten negatif, saat itulah sikap tepa selira menemui ke-ambyar-annya.

Dengan adanya kasus Ferdian Paleka ini seharusnya kita bisa mengambil hikmah. Sudah saatnya generasi muda disadarkan kembali bahwa ketika kita bergurau untuk mempermainkan orang demi kesenangan diri saja adalah perbuatan tidak manusiawi dan mencederai rasa kemanusiaan, apalagi mempermainkan orang demi mendapatkan uang dan popularitas. Sungguh sikap tersebut sangat tidak terpuji dan niscaya tidak mendatangkan keberkahan dalam hidup kita. Kasus ini menjadi pembelajaran kita bersama terutama generasi muda untuk lebih selektif memilih tayangan yang mendatangkan inspirasi dan manfaat serta meninggalkan konten-konten yang tidak berfaedah. Apalagi di bulan yang suci ini, momen dimana seharusnya kita menebar cinta kasih kepada sesama dan membangun perilaku tepa selira, tidak sepantasnya dinodai oleh sikap melecehkan sesama manusia. Kini saatnya kita memungut kembali perilaku tepa selira yang ambyar di tangan seorang Ferdian Paleka. Kita rangkai kembali sikap tersebut demi terciptanya rasa aman, saling mengasihi dan saling melindungi bagi sesama manusia.

 

Penulis : Asri Pujihastuti, S.Pd.

May 23, 2020

AMBYARNYA TEPA SELIRA DEMI KONTEN MEDIA SOSIAL

AMBYARNYA TEPA SELIRA DEMI KONTEN MEDIA SOSIAL

Bulan April lalu youtuber bernama Ferdian Paleka mengunggah konten kontroversial di channel youtube pribadinya yang akhirnya ramai menjadi perbincangan publik di berbagai media, terutama di media sosial. Ferdian mengunggah konten berupa prank dengan memberikan bingkisan-bingkisan menyerupai sembako yang ternyata berisi batu dan sampah kepada beberapa orang pada waktu tengah malam di kota Bandung. Perbuatan Ferdian, sekalipun dia berdalih hanya memberikan hiburan kepada penontonnya, telah menyakiti perasaan publik. Bahkan media Inggris, Mirror, dalam artikelnya 11 Mei 2020 memberitakan hal ini dengan judul “Youtuber arrested after handing out boxes of rubbish disguised as food.”

Sebelum peristiwa ini terjadi, saya melihat beberapa video unggahan Ferdian ini lewat di beranda facebook, dan yang terbersit dalam benak saya saat itu sebagai orang tua adalah rasa prihatin yang begitu besar, karena hampir setiap narasi kalimat yang dia ucapkan dalam video tersebut berisi kata-kata kotor. Kontennya tak jauh dari hal negatif yang sama sekali tidak ada unsur mendidik, bahkan kebanyakan cenderung mengarah pada hal-hal tidak senonoh. Tayangan semacam itu dikonsumsi oleh para subscriber-nya yang sebagian besar adalah remaja. Saat ini, perilaku streaming native para remaja kian hari kian meningkat. Seperti dicatat oleh Ericsson ConsumerLab (situs yang mempelajari perilaku orang-orang dalam bertindak dan berpikir tentang produk dan layanan TIK), terdapat kenaikan tren sebanyak 13% sejak tahun 2011 dari para remaja dalam menonton video melalui youtube. Kurang lebih tiga jam dalam sehari para remaja dengan rentang usia 16-19 tahun menghabiskan waktunya didepan smartphone.

Ferdian telah ditangkap oleh pihak kepolisian meskipun sempat masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) selama beberapa hari. Penangkapan itu menyusul pelaporan kepada pihak berwajib oleh salah satu korban transpuan bernama Mirna. Korban merasa sedih karena dipermainkan, ketika awalnya merasa senang dan terharu atas pemberian Ferdian serta mendoakan kebaikan kepadanya tetapi yang didapatkan malah sebaliknya. Ferdian dan dua orang kawannya dijerat dengan pasal UU ITE dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. Publik merasa geram dan tak sedikit yang mengutuk perbuatan pelaku karena tidak pantas dilakukan apalagi oleh seorang public figure.

Melihat fenomena ini muncul pertanyaan di benak kita, mengapa public figure yang cakap menggunakan teknologi justru mengalami gagap kepekaan sosial dan nilai kemanusiaan?  Public figure yang seharusnya melahirkan karya inspiratif justru membuat konten negatif  yang bisa menjadi contoh tidak baik bagi generasi muda khususnya content creator yang ada kemungkinan mengikuti jejaknya. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah (PR) kita bersama selaku manusia yang memiliki budaya tepa selira, sebuah budaya yang mengakar kuat dalam pribadi bangsa. Tepa selira atau tenggang rasa adalah salah satu nilai hasthalaku yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Tepa selira adalah cara kita menjaga perasaan orang lain terhadap apa yang kita lakukan yang menjadikan kita berhati-hati dalam bertindak. Kita pasti setuju bahwa perilaku yang ditunjukkan Ferdian Paleka ini sangat jauh dari tepa selira. Ketika transpuan yang merupakan salah satu bagian masyarakat termarjinalkan dan juga terdampak krisis di masa pandemi ini dimana membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup justru malah menjadi bulan-bulanan dan dijadikan konten prank dari seorang youtuber. Ini menunjukkan ambyar-nya sikap teladan seorang public figure yang banyak dikenal orang dan cenderung diikuti segala tindakannya. Bagaimana nasib generasi muda jika perilaku tak bermoral yang dilakukan Ferdian dan teman-temannya dicontoh oleh ribuan subscriber-nya? Ambyar-nya perilaku tepa selira dengan mengatas namakan konten hiburan ini tentunya akan berakibat  pula pada ke-ambyar-an moral para pemuda bila kita tidak segera melakukan tindakan pencegahan yang nyata. Pelaporan yang dilakukan oleh korban adalah tindakan tepat sehingga mampu memberi efek jera dan menjadi pembelajaran khususnya bagi content creator agar dapat membuat konten yang tidak hanya kreatif namun juga mendidik dan mendatangkan manfaat bagi para subscriber dan followers-nya. Seharusnya sebagai generasi milenial mereka bisa menjaga tingkah lakunya di dunia maya, apalagi dengan adanya Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) . Mereka seharusnya memahami bahwa segala tindakan di platform media sosial yang melanggar norma dapat pidanakan.

Perbuatan Ferdian tidak hanya melukai kaum transpuan yang menjadi korban namun juga melukai seluruh masyarakat Indonesia. Tidak heran jika masyarakat begitu reaktif menangapi kasus ini. Mungkin dalam industri platform media sosial, Ferdian Paleka hanyalah salah satu dari sekian banyak youtuber yang menjadikan konten prank untuk meraup keuntungan dan menjaring like serta subscribe secara sukarela atas “konten tipu-tipu” mereka. Prank kerap kali dijadikan bahan video untuk diunggah, dan tanpa sadar konten ini menjamur dan laris manis karena menemukan pangsa pasarnya. Kenyataan bahwa masih ada yang terhibur dan permisif dengan konten negatif, saat itulah sikap tepa selira menemui ke-ambyar-annya.

Dengan adanya kasus Ferdian Paleka ini seharusnya kita bisa mengambil hikmah. Sudah saatnya generasi muda disadarkan kembali bahwa ketika kita bergurau untuk mempermainkan orang demi kesenangan diri saja adalah perbuatan tidak manusiawi dan mencederai rasa kemanusiaan, apalagi mempermainkan orang demi mendapatkan uang dan popularitas. Sungguh sikap tersebut sangat tidak terpuji dan niscaya tidak mendatangkan keberkahan dalam hidup kita. Kasus ini menjadi pembelajaran kita bersama terutama generasi muda untuk lebih selektif memilih tayangan yang mendatangkan inspirasi dan manfaat serta meninggalkan konten-konten yang tidak berfaedah. Apalagi di bulan yang suci ini, momen dimana seharusnya kita menebar cinta kasih kepada sesama dan membangun perilaku tepa selira, tidak sepantasnya dinodai oleh sikap melecehkan sesama manusia. Kini saatnya kita memungut kembali perilaku tepa selira yang ambyar di tangan seorang Ferdian Paleka. Kita rangkai kembali sikap tersebut demi terciptanya rasa aman, saling mengasihi dan saling melindungi bagi sesama manusia.

 

Penulis : Asri Pujihastuti, S.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *