Close

Tentang Hasthalaku

Pendekatan budaya dan perilaku yang dikembangkan Solo Bersimfoni menjadikan aspek budaya Jawa (Solo) menjadi instrumen utama dan sebuah model untuk mengubah perilaku intoleran menjadi perilaku yang toleran dan cinta damai. Solo Bersimfoni menyebutnya sebagai “Hasthalaku”.

 

Hasthalaku adalah frasa dari dua kata yang berasal dari Bahasa Jawa yaitu Hastha dan Laku. Hastha (dibaca hasto) dalam bahasa Indonesia berarti delapan dan Laku berarti perilaku. Jadi dalam Bahasa Indonesia, Hasthalaku adalah delapan perilaku. Dalam hal ini perilaku yang dimaksud adalah berdasarkan nilai-nilai dalam budaya Jawa. Hasthalaku sebenarnya sudah ada sejak dahulu, Solo Bersimfoni hanya mengingatkan kembali adanya nilai luhur tersebut untuk dijadikan dasar perilaku para remaja Kota Solo dan sekitarnya.

 

Hasthalaku terdiri dari :

Gotong Royong (Saling membantu – Helpfulness)

Grapyak Semanak (ramah tamah – Friendly)

Guyub Rukun (kerukunan – Harmony)

Lembah Manah (rendah hati – Humble)

Ewuh pekewuh (saling menghormati – Mutual Respect)

Pangerten (saling menghargai – Compassionate)

Andhap Ashor (berbudi luhur – Virtuous)

Tepa Slira (tenggang rasa – Solidarity)

 

Solo Bersimfoni berharap masyarakat semakin sadar, mau peduli dan berpartisipasi untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan secara dini tindakan intoleran dan radikal yang tepat sasaran untuk memperoleh hasil yang optimal.