MARI KITA BERSIMFONI

KEPALA PUSPEKA APRESIASI KERJA SOLO BERSIMFONI DAN MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI

Jakarta 5/4/2023. Dalam rangka penyusunan modul P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam kurikulum merdeka yang tengah disusun, Solo Bersimfoni melakukan audiensi kepada Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Ibu Rusprita Putri Utami, di Kantor Puspeka Kemendikbud Ristek, Gedung C Lantai 18, Kemendikbud Ristek, Senayan, Jakarta. Selaku Kepala Puspeka, Ibu Rusprita sangat mengapresiasi langkah Solo Bersimfoni dalam upaya implementasi kurikulum berbasis projek, khususnya tematik Bhineka Tunggal Ika melalui program Sekolah Adipangastuti. Sekolah Adipangastuti melakukan pendekatan yang sangat khas yaitu nilai budaya lokal yang dinamakan hasthalaku atau delapan perilaku yaitu gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor dan tepa selira.   Lebih lanjut, Ibu Rusprita menjelaskan bahwa Kemendikbud Ristek RI, khususnya Puspeka, mendapatkan mandat terkait penguatan Profil Pelajar Pancasila dan juga pencegahan kekerasan pada satuan pendidikan, meliputi perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi atau yang kerap disebut Tiga Dosa Pendidikan. Puspeka sendiri berkomitmen melakukan penguatan karakter peserta didik yang beracuan pada enam Profil Pelajar Pancasila yang saat ini terus digalakkan. Begitu juga dengan Solo Bersimfoni terus mempromosikan pesan perdamaian dan toleransi melalui model sekolah Adipangastuti dan juga modul P5 khususnya berbasis projek tema Bhinneka Tunggal Ika yang diintegrasikan dengan Perpres No 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE).   Sebagai bentuk dukungan dan kerja,sama, Solo Bersimfoni diberikan kesempatan turut membantu Kemendikbud Ristek RI dalam penyusunan Buku Saku Profil Pelajar Pancasila. Buku saku ini nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu sumber bacaaan untuk meningkatkan pemahaman terkait Profil Pelajar Pancasila kepada guru, tenaga kependidikan, orang tua, siswa, dan masyarakat umum.  

KEPALA PUSPEKA APRESIASI KERJA SOLO BERSIMFONI DAN MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI Read More »

Gubernur Jateng: Mengukuhan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri “Wanita Indonesia Wanita Tangguh”

Pengukuhan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri “Wanita Indonesia Wanita Tangguh” Kerjasama: Yayasan Gema Salam dan Solo Bersimfoni   Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P telah mengukuhkan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri pada hari Jumat tanggal 16 September 2022 di Hotel Grand Sae Surakarta. Pengukuhan ini juga dihadiri oleh Walikota Surakarta, Komandan Densus 88 AT Polri, Komandan Kodim 0735, Kapolres Kota Surakarta, Dinas Koperasi Provinsi Jawa Tengah, Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Surakarta, Kesbangpol Kota Surakarta, BAPAS Kota Surakarta, Dinas Sosial Kota Surakarta, Kapolsek Kecamatan Banjarsari, Ketua Kadin Solo dan Perkumpulan Solo Bersimfoni. Dalam sambutan dan arahannya, Gubernur Jawa Tengah mengatakan akan dukungannya terhadap terbentuknya koperasi ini, sebagai wujud pesan perdamaian dan gotong royong. Beliau juga mengatakan ucapan terima kasihnya kepada Ketua Solo bersimfoni atas bantuannya dalam pembentukan koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri. Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri merupakan koperasi yang dibentuk atas kerja sama antara Yayasan Gema Salam dan Perkumpulan Solo Bersimfoni. Koperasi ini beranggotakan istri-istri eks narapidana teroris (napiter) yang merupakan istri dari mitra Yayasan Gema Salam. Sesuai dengan taglinenya yaitu “Wanita Indonesia Wanita Tangguh”, pembentukan koperasi ini sebagai pemberdayaan perempuan bagi para istri dalam penguatan ekonomi khususnya kelembagaan usaha yaitu pembentukan koperasi bagi istri eks napiter di Provinsi Jawa Tengah. Kadensus 88 AT Polri, Irjen. Pol. Marthinus Hukom, S.I.K., M.Si., berkata, “Perempuan adalah dasar dari pendidikan anak, sehingga seorang ibu harus bisa berkembang.” Kegiatan tersebut menjadi salah satu strategi pendekatan reintegrasi eks napiter khususnya dari kalangan perempuan agar memiliki akses yang lebih luas terkait dengan pemasaran produk barang dan jasa yang dihasilkan dari keluarga eks napiter. Di samping itu, adanya kelembagaan koperasi menjadi wadah dan pintu masuk bagi berbagai peluang dan bantuan pihak-pihak terkait, baik Non-Goverment Organization (NGO) maupun pemerintah untuk membantu dan mempercepat pemulihan ekonomi dalam proses reintegrasi eks napiter di tengah-tengah masyarakat.   Sebelum pengukuhan, telah dilaksanakan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Perkoperasian (DIKLATKOP) bagi para pengurus dan anggota koperasi. Maksud dari kegiatan ini adalah meningkatkan wawasan dan keahlian tentang manajemen perkoperasian dan membentuk wadah kelembagaan koperasi bagi istri eks napiter di Provinsi Jawa Tengah serta memberikan akses pembiayaan dan pasar untuk produk barang/jasa yang dihasilkan keluarga eks napiter tersebut. Program ini merupakan implementasi dari kebijakan Pemerintah Republik Indonesia tentang Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang mengarah pada terorisme (Perpres Nomor 7 Tahun 2021) khususnya Pilar 1 yang terdiri dari pencegahan (Kesiap-siagaan, kontra radikalisasi dan deradikalisasi).           Penulis: Tia Brizantiana-Program Officer Solo Bersimfoni

Gubernur Jateng: Mengukuhan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri “Wanita Indonesia Wanita Tangguh” Read More »

MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA

Pandemi yang kita hadapi saat ini telah membawa berbagai permasalahan pelik dalam dunia pendidikan. Siswa menjadi salah satu unsur dalam sistem pendidikan yang terdampak oleh pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan (daring). Banyaknya tugas yang menumpuk menjadikan mereka merasa stress dan kelelahan dalam mengejar deadline. Belum lagi tugas-tugas tersebut diberikan oleh banyak guru mapel dan harus diselesaikan dalam waktu yang singkat. Persoalan lainnya adalah kurangnya interaksi guru dan murid dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang membuat murid merasa jenuh serta tidak memiliki gairah dalam belajar. Ini tentu menjadi sebuah hal yang kontradiktif ketika saat ini program merdeka belajar tengah menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan kita. Di mana konsep merdeka belajar adalah agar murid merasa bahagia dalam menempuh pendidikan. Namun kenyataannya justru murid merasa terbelenggu dengan proses belajar itu sendiri. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 13-20 April 2020 lalu, dari 1.700 responden sebanyak 77,8% memiliki kesulitan berupa tugas yang menumpuk. Sedangkan 37,1% responden mengeluhkan tugas dari guru dengan waktu pengerjaan yang sempit sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan. Responden tersebut merupakan gabungan siswa dari jenjang TK sampai SMA/sederajat yang tersebar di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota di Indonesia. Responden sebesar 79,9% mengatakan bahwa interaksi murid dan guru sangatlah minim. Interaksi dalam PJJ hanya berlangsung saat guru memberikan dan menagih tugas saja. Sedangkan 87,2% murid menyatakan bentuk interaksi yang paling sering dilakukan adalah melalui percakapan via aplikasi online chat yang masih kurang efektif sebagai sarana komunikasi antara guru dan murid. Tentu bisa dibayangkan bagaimana tekanan yang dirasakan oleh murid untuk menyelesaikan tugas yang sangat banyak. Mereka seharusnya dapat menyerap ilmu yang diberikan guru dengan optimal tetapi justru kehabisan waktu dan energi hanya untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum tentu mereka pahami. Sebagai seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saya sendiri merasakan problem tersebut. Kondisi yang saya amati dalam proses belajar mengajar di sekolah pada umumnya belum mencerminkan apa yang menjadi tujuan konsep belajar Kurikulum Paradigma Baru, yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid. Guru seharusnya dapat memberikan keleluasaan kepada murid untuk belajar dengan menyenangkan tanpa tekanan. Penggunaan Learning Management System (LMS) yang kurang optimal tidak bisa memberikan ruang terjadinya interaksi dua arah antara guru dan murid. Kebanyakan guru hanya mengunggah materi dan tugas di platform Google Classroom yang harus diselesaikan oleh murid secara mandiri. Sebagian besar guru tidak memberikan kesempatan siswa untuk berkonsultasi terkait tugas mereka ketika mengalami kendala. Beberapa murid bahkan mencari jalan pintas dengan menyalin pekerjaan temannya, namun tidak memahami materi yang diajarkan. Banyak murid kesusahan karena tugas yang menumpuk. Guru pun tak kalah susah dengan pelaporan jurnal dan administrasi yang cukup merepotkan. Pada akhirnya yang terjadi adalah proses pembelajaran yang hanya sekedar menjadi sebuah aktivitas untuk menggugurkan kewajiban, tetapi kurang bermakna. Pembelajaran daring sampai saat ini masih dijalani oleh guru dan murid meskipun Pembelajaran tatap Muka (PTM) sebagian sudah mulai dilakukan. Guru dituntut agar lebih kreatif dalam mengelola kelas, melakukan inovasi dan mengembangkan metode mengajar sehingga kelas lebih interaktif. Proses pembelajaran hendaknya dikondisikan agar membuat siswa lebih terlibat secara penuh. Tatap maya dengan memanfaatkan aplikasi seperti Google Meet dan Zoom dapat dilakukan untuk mewadahi siswa dalam menyampaikan ide-idenya. Fitur Share Screen dalam aplikasi video conference dapat dioptimalkan untuk memberi kesempatan pada siswa dalam menyampaikan paparan materi secara menarik menggunakan bahasanya sendiri. Aplikasi yang mendukung pembelajaran secara visual seperti Canva juga bisa menjadi pilihan dalam membuat presentasi yang menarik sehingga pembelajaran di kelas berlangsung seru dan asyik. Murid perlu diberi kesempatan untuk mengekspresikan bagaimana suasana hatinya pada saat pembelajaran dan memberi umpan balik kepada guru. Ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi papan tulis virtual seperti mentimeter, padlet atau jamboard. Selain menjalin komunikasi dua arah, kegiatan menyenangkan semacam ini juga penting sebagai refleksi dan evaluasi guru dalam menjalankan tugas mengajarnya. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru. Guru hanyalah fasilitator dan pelayan murid yang menunjukkan sikap among, serta mendengar apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan muridnya. Jika diibaratkan sebuah gambar, maka para murid ini memiliki garis-garis tipis yang harus ditebalkan oleh guru dengan memberikan penguatan dan bimbingan dalam proses belajar. Sudah saatnya seorang guru mampu menjalankan perannya sebagai pendidik untuk memberikan  pembelajaran yang bermakna. Guru hendaknya bisa membuat para murid menikmati dan mencintai proses belajar dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Sumber daya yang ada dapat dioptimalkan dalam berinovasi. Guru hendaknya terus melakukan refleksi dan evaluasi diri. Hal ini penting bagi perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Perlu disadari bahwa murid merupakan individu dengan karakter yang unik dan potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mereka juga memiliki kebutuhan yang beragam karena berangkat dari berbagai latar belakang. Pembelajaran yang menyenangkan akan membuat kelas maya dipenuhi dengan senyum dari wajah-wajah ceria seperti yang kita dambakan. Merdeka belajar bukan hanya sekedar angan-angan,  namun dapat kita wujudkan dengan melakukan perubahan.   Penulis : Asri Pujihastuti,S.Pd. Sahabat Simfoni dan Guru SMKN 7 Surakarta Pernah dimuat di Koran Solo Tanggal : Sabtu, 7 Desember 2021

MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA Read More »

Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental

Sesuai amanat yang tertuang pada Perwali No. 49 tahun 2019 dengan tujuan membentuk karakter pemuda di kota Surakarta melalui Hasthalaku. Solo Bersimfoni bekerjasama dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia mengadakan kegiatan yang mengajak remaja milenial untuk menerapkan nilai-nilai Hasthalaku untuk mewujudkan Indonesia Bersatu. Hal ini sebagai langkah kongkrit upaya pemerintah dalam Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda serta keterlibatan masyarakat sipil. Program ini dinamakan Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Podcast Cuap Cuap Relasi, Seminar Karakter Hasthalaku dan Bedah Film Toleransi bertema Hasthalaku. Podcast Cuap Cuap Relasi (Remaja Toleransi) dilakukan Sembilan kali dengan masing-masing tema : Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Ewuh Pekewuh, Pangerten, Andhap Asor, Tepa Selira dan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Narasumber yang mengisi kegiatan ini adalah Dispora Kota Surakarta yaitu Kepala Kepemudaan, Nico Agus Putranto, dan Kasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan, Zufar Sasongko. Sedangkan Sahabat Simfoni, yang merupakan relawan serta kepanjangan tangan dari Solo Bersimfoni, juga menjadi narasumber kegiatan ini. Dalam Podcast bertema GNRM, perwakilan dari Kemenko PMK RI hadir yaitu Bayu Priyo Jatmiko. Sembilan podcast telah diupload pada YouTube Channel Solo Bersimfoni mulai tanggal 23 sampai dengan 30 November 2020. Seminar Karakter Hasthalaku dengan tema Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Remaja Milenial yang Bersumber dari Nilai Budaya Lokal secara daring telah terlaksana dengan lancar dan dihadiri oleh total 700 peserta baik dari zoom meeting maupun live streaming channel YouTube Solo Bersimfoni. Peserta merupakan siswa dan siswi Model Sekolah Adipangastuti yang sedang diterapkan pada lima sekolah di Soloraya yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong. Kegiatan ini dimulai dengan laporan kegiatan oleh M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni kepada Kemenko PMK RI melalui R. Alfredo Sani F selaku Asisten Deputi Revolusi Mental Kemenko PMK RI. Dalam kesempatan ini, Pak Alfredo juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini berada di bonus demografi, yaitu pemuda yang masuk usia produktif lebih banyak daripada yang masuk usia non produktif, sehingga kita perlu menyiapkan pemuda dengan membangun karakter hasthalaku yang sangat relevan di era sekarang. Narasumber kegiatan Seminar berjumlah empat orang yang merupakan pemerhati pemuda dan pemangku jabatan di Pemerintahan Kota Surakarta. Yang pertama adalah Waskito Widi Wardojo, S.S., M.A. yang merupakan dosen Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS memberikan materi dengan tema Internalisasi Nilai Nilai Karakter Hasthalaku. Kemudian yang kedua adalah Indradi AP, S.H., M.M selaku Kepala Kesbangpol Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Peran Organisasi pemuda dalam Pengembangan Karakter Hasthalaku Remaja Milenial. Yang ketiga adalah Dr. agus Setyo Utomo, S.E., M.Si., Ak. CA, C.Pa. yang merupakan aktifis pemuda dan Kepala Markas PMI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Merawat Persatuan dalam Semangat Kemanusiaan. Serta yang terakhir adalah Bambang Nugroho selaku Ketua KNPI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Semangat Pemuda dalam Mewujudkan Indonesia Bersatu. Pada kegiatan yang ketiga, yaitu Bedah Film Toleransi bertemakan Hasthalaku telah terlaksana dengan baik dan lancar pada hari Selasa tanggal 24 Desember 2020 di Graha Solo Raya pukul 13.00 – 15.00 WIB. Film yang diputar ada lima film yaitu Sepatu, Coba Peka, Second Change, Semanak dan Nggak Kenal Agama. Tiga film diantaranya adalah pemenang lomba pembuatan film pendek program Sekolah Adipangastuti tahun 2019 di SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 110 peserta dari OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Kota Surakarta. OKP yang hadir dari HIPMI, Suara Muda Solo, PRRBM, HMI, TAD, KNPI, PT HKTI, PMII, Banser, PMR Markas, JCI, IMM, IPNU, KAMMI, dan KTI. Sedangkan OPD yang hadir dari Bapppeda, Departemen Agama dan Kesbangpol Kota Surakarta. Kegiatan ini diawali oleh pesan dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII, Suyanta, S.Pd., M.Pd, agar seluruh peserta selalu melakukan protokol kesehatan untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19 di Soloraya. Beliau juga mengatakan bahwa sesuai pemuda, selain harus memiliki kemampuan berkompetisi juga harus memiliki karakter yang bagus agar dapat sukses di masa depan. Narasumber kegiatan Bedah Film ini ada tiga orang yaitu pemeran Film Semanak, Katira dan El Alimudin, serta sutradara Film Sepatu, Muhammad Anis. Tujuan umum kegiatan ini adalah untuk menanamkan karakter bangsa guna mewujudkan Indonesia Bersatu bersama Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui identitas budaya yang terdapat pada Perwali Nomor 49 Tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan yang disebut hasthalaku bagi remaja milenial di Kota Surakarta.       link berita: https://revolusimental.go.id/kabar-masyarakat/detail-suara-kita?url=pengembangan-karakter-remaja-milenial-di-kota-surakarta-tahun-2020-program-gerakan-nasional-revolusi-mental-kerjasama-solo-bersimfoni-dan-kemenko-pmk-r

Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental Read More »

“KONTRIBUSI REMAJA MILENIAL untuk PENGUATAN KEBANGSAAN melalui PENERAPAN NILAI-NILAI HASTHALAKU”

Webinar Wisuda Program Sekolah Adipangastuti Kamis, 17 Desember 2020 Pada tanggal 17 Desember 2020, Solo Bersimfoni menyelenggarakan wisuda Program Sekolah Adipangastuti secara daring dengan tema “Kontribusi Remaja Milenial untuk Penguatan Kebangsaan melalui Penerapan Nilai-Nilai Hasthalaku”. Adipangastuti adalah model sekolah toleransi berbasis budaya yang sudah diterapkan selama dua tahap yaitu tahun 2019 dan 2020 dan di tahap ini telah dilakukan selama bulan Juli-Desember 2020. Bapak Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. hadir sebagai pembicara dalam kegiatan ini sekaligus untuk mengukuhkan lima sekolah percontohan di Solo Raya sebagai Sekolah Adipangastuti. Kegiatan diikuti oleh sekiranya 1466 guru dan siswa dari sekolah percontohan Adipangastuti periode 2019 di Kota Solo yaitu SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta serta tiga sekolah tambahan di periode 2020 di Solo Raya yaitu SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen. Turut hadir Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VI Provinsi Jawa Tengah, Suratno, S.Pd., M.Pd., dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII, Suyanta, S.Pd., M.Pd. yang telah memberikan dukungan penuh sejak awal penerapan model Sekolah Adipangastuti serta para relawan Sahabat Simfoni yang selama ini mendampingi implementasi program-program Sekolah Adipangastuti.   Dalam pengantarnya Ketua Solo Bersimfoni M. Farid Sunarto menyebutkan bahwa model Sekolah Adipangastuti berisi pendidikan karakter hasthalaku[1] dengan budaya literasi yang dikemas secara menarik bagi remaja milenial. Tema-tema kebaikan kemudian didistribusikan secara digital lewat video, film, blog, konten, podcast, novel, komik dan lainnya. Tak kalah penting adalah branding sekolah untuk mengkampanyekan nilai-nilai hasthalaku melalui poster, leaflet, majalah dinding, hiasan sekolah dan tagline karya guru serta siswa. Peningkatan kapasitas media sosial serta penguatan platform digital juga dilakukan sehingga website dan media sosial sekolah seperti Youtube, FB, IG, Twitter dapat menyuarakan nilai-nilai hasthalaku. “Apalagi terjadinya pandemi Covid-19 telah memaksa siswa dan guru untuk lebih melek digital maka nilai-nilai hasthalaku menjadi sangat penting untuk dipahami dan dilakukan oleh generasi muda agar tercipta toleransi, perdamaian, dan menghargai keberagaman di mana saja termasuk di dunia maya,” kata Farid.   Bapak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan materi menarik berkaitan dengan tantangan berat yang dihadapi generasi muda di era disruptif ini. “Kita harus terbiasa untuk menerima perbedaan sejak dini,” ucapnya sambil menceritakan pentingnya tata krama dalam bermedia sosial dan rasa tanggung jawab ketika menyebarkan sebuah informasi. “Jika hasthalaku dapat benar-benar diterapkan di setiap sekolah saya yakin tidak akan ada lagi perundungan dan permusuhan,” tambahnya.   Webinar ditutup dengan pengukuhan lima sekolah percontohan menjadi Sekolah Adipangastuti oleh Bapak Gubernur. “Nilai-nilai hasthalaku harus ditularkan kepada sekolah-sekolah di wilayah lain, dan itu hanya bisa dilakukan apabila konsepnya dipahami serta diinternalisasi oleh setiap warga sekolah Adipangastuti sehingga akhirnya menjadi budaya yang terbukti baik dan bisa dicontoh.” Program Sekolah Adipangastuti yang terselenggara atas dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice 2 (AIPJ2) ini direncanakan untuk dua sekolah baru di lingkup Solo Raya pada tahun 2021. Harapannya, program ini juga bisa diterapkan pada sekolah lain di Jawa Tengah.   Ditulis oleh: Tia Brizantiana [1] Pendekatan budaya dan perilaku yang dikembangkan Solo Bersimfoni menjadikan aspek budaya Jawa (Solo) menjadi instrumen utama dan sebuah model untuk mengubah perilaku intoleran menjadi perilaku yang toleran dan cinta damai. (https://solobersimfoni.org/?page_id=415)

“KONTRIBUSI REMAJA MILENIAL untuk PENGUATAN KEBANGSAAN melalui PENERAPAN NILAI-NILAI HASTHALAKU” Read More »

PILKADA SOLO

PILKADA dan HASTHALAKU

Pemilihan umum telah memanggil kita S’luruh rakyat menyambut gembira Hak demokrasi Pancasila Hikmah Indonesia merdeka Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya Pengemban AMPERA yang setia Di bawah Undang-undang Dasar 45 Kita menuju ke Pemilihan Umum Lirik Mars Pemilu  karya Mochtar Embut di atas mungkin sedikit asing di telinga para milenial. Lagu yang sebelum era reformasi selalu menggema menjelang Pemilihan Umum, satu-satunya rujukan memilih anggota dewan dan majelis perwakilan yang kemudian akan memilih presiden sebagai mandataris yaitu penerima mandat dan perintah undang-undang. Saat itu, gubernur dan bupati atau walikota dipilih berdasarkan kesepakatan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Waktu itu, pemilihan langsung tidak dikenal, ciri khas pemerintahan sentralistik. Peraturan perundang-undangan berganti, sistem desentralisasi diterapkan untuk meningkatkan kredibilitas pemerintah. Dimulailah sebuah sistem pemilihan pimpinan daerah dari putera daerah yang diharapkan dapat menjembatani keinginan rakyat menuju tata kelola pemerintahan yang baik dan kemajuan daerah. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA atau PEMILUKADA) dilakukan secara simultan di seluruh wilayah Indonesia melalui pemilihan kepala daerah langsung. Kembali kepada lirik lagu di atas, bagi saya lagu ini sangat fenomenal bahkan masih terngiang sampai sekarang. Pada tahun 1998, grup musik Slank  pernah mengaransemen ulang lagu tersebut dengan sentuhan rock and roll, dengan harapan menggaet pemilih pemula untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Terulang diputar dan digelorakan setiap PEMILU berlangsung. Tidak tahu mengapa, apakah karena PILKADA yang sifatnya sangat lokal, atau karena tidak dikemas oleh musisi terkenal, sehingga tidak ada lagu, mars, jingle yang monumental untuk mensukseskan perhelatan ini. Atau malah sudah ada lirik lagu pilkada dengan lirik tarik sis.. semongko..? Entahlah. Secara kuantitas, partisipasi pemilih tercapai. Sayangnya, pesan dalam lirik lagu tersebut – memilih pemimpin sebagai pengemban atau sulih suara atas AMPERA (amanat penderitaan rakyat), yang merupakan slogan yang sering dipakai oleh Sukarno yang mengilhami perjuangan para founding fathers ketika memimpin negara ini untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama, sangat mungkin belum tercapai. Tahun ini, PILKADA serentak diselenggarakan pada tanggal 9 Desember 2020 yang kebetulan diperingati juga sebagai Hari Anti Korupsi Se-Dunia (HAKORDIA). Hal ini mungkin menjadikan para pasangan calon berfikir ulang untuk mengusung visi dan misi tentang pemberantasan korupsi sebagai dagangan politiknya. Berbagai pesan moral dan harapan tinggi mencuat supaya pemilihan kepala daerah ini mampu mendapatkan pemimpin terbaik. Pemimpin seperti lagu di atas. Dengan suasana pandemi yang kita tidak tahu kapan berakhir ini, muncul berbagai drama PILKADA di seluruh Indonesia. Mulai dari isu oligarki, kekerabatan, inkompetensi, protokol kesehatan, kotak kosong, dan lain sebagainya. Kesuksesan PILKADA dapat dijadikan parameter ketercapaian proses demokratisasi di daerah. Proses yang berjalan seiring dengan kedewasaan masyarakat bersama serangkaian variabel di dalamnya. Kedewasaan dalam berpikir dan bertindak sesuai dengan kata hati, dengan menjunjung tinggi nilai hasthalaku untuk menjaga toleransi. Penyebaran isu SARA dan politik uang demi kepentingan tertentu adalah kejahatan yang luar biasa yang harus dihindari, sehingga siapapun yang menang dalam kontestasi ini diharapkan mampu mengakomodir kepentingan semua elemen masyarakat. Kelompok yang dianggap termajinalkan harus tetap diperhatikan. Pun untuk praktik diskriminasi terhadap aliran, kelompok, atau partai yang berbeda yang digunakan sebagai pemicu kepentingan politik praktis saja. Siapapun yang terpilih dalam kontestasi ini, adalah hasil kontribusi kita. Konsekuensi dari pilihan yang harus dilaksanakan. Mari kita jadikan perhelatan PILKADA ini sebagai implementasi tepa selira, pangerten dan guyub rukun dalam hasthalaku untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga. Tarik sis… semongko…. Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya Pengemban AMPERA yang setia Di bawah Undang-undang Dasar 45 Kita menuju ke Pemilihan Kepala Daerah..   Penulis : Khresna Bayu Sangka

PILKADA dan HASTHALAKU Read More »

Belajar Dari Tilik : Gotong Royong Itu Susah

Banyak hal menarik, paling tidak dari sudut pandang saya, atas viralnya film pendek “Tilik”. Sebuah film yang mengangkat fenomena kearifan lokal masyarakat Jawa (dari tepa selira, ewuh pakewuh, pangerten, lembah manah, andhap asor, guyub rukun, grapyak semanak, dan gotong royong), biasanya terjadi di pedesaan, pada umumnya. Tilik adalah kebiasaan berbondong-bondong menengok tetangga sakit yang dirawat di rumah sakit, dengan bersama-sama urunan menyewa mobil untuk pergi bersama. Sutradara film ini berhasil mengacak-acak perasaan dan emosi penontonnya. Wahyu Agung Prasetyo, sutradara film ini, sukses membuat karya dengan skenario plot twist yang menaikkan adrenalin dan kemudian mencabiknya dalam hitungan detik saja diakhir cerita. Film ini menceritakan dengan sangat nyata tentang realita sosial yang sering kali muncul di masyarakat bahwa dalam sebuah kelompok sosial ada orang-orang yang berbagi peran sesuai kapasitasnya. Ada tukang kompor-yang memulai pembicaraan-, ada biang gosip-yang darinya muncul berbagai asumsi, persepsi dan narasi-, tak lupa peran waton suloyo, sok alim, blak-blakan, sampai pahlawan kesiangan-yang sering kadang blunder juga-. Dalam film ini, Bu Tejo (diperankan oleh Siti Fauziah) dimunculkan sebagai center of gravity untuk menunjukkan beberapa satir yang lekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Ghibah Atau disebut rasan-rasan dalam bahasa Jawa. Banyak orang senang melakukan hal satu ini. Biasanya yang menjadi bahan ghibah adalah isu-isu up to date tentu saja disertai bumbu penyedap layaknya micin dengan takaran yang lebih banyak  daripada faktanya. Perilaku julid, kepo, nyinyir berjamaah menjadikan gossip- digosok makin sip- ini menjadi semakin renyah dan menyenangkan jika dibawakan oleh sumber yang kredibel, baik secara intelektual ataupun sosial. Prinsip mana hadap juga diterapkan dalam penyampaiannya, tidak peduli waktu, tempat dan suasana. Asal ada umpan lezat, langsung saja disamber dengan cepat. Internet Menurut kabar pesbuk, menurut sher-sheran wasap, menurut yutub. Ketiga hal ini seolah-olah telah menjadi rujukan utama sebuah kebenaran. Pesan moral yang ingin disampaikan film ini adalah sikap untuk selalu waspada dan melek terhadap informasi yang bersliweran dan tak jelas juntrungannya. Dengan kata lain, literasi informasinya harus baik supaya tidak menjadi hoaks. Korupsi Penyuapan menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 1980 dinyatakan sebagai,tindakan “memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum”; juga “menerima sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum”. Salah satu adegan dalam film ini memberikan kritik sosial dengan menceritakan bagaimana korupsi level embyeh-embyeh yang jamak dan sering kali ditemui pada setiap perhelatan pemilihan umum kepala daerah dengan level terendah sampai tertinggi sekalipun. Intimidasi Pungutan, pajak, retribusi, denda dan sejenisnya adalah hal yang sangat sulit untuk diikhlaskan bagi sebagian masyarakat. Diperlukan kebesaran hati untuk menerima kenyataan bahwa kita wajib membayar semua hal itu, atas tindakan dan atau kepemilikan kita. Hla sayangnya, beberapa orang melakukan tindakan dengan berbagai cara untuk menghindari kewajiban ini. Film Tilik bisa menggambarkan bagaimana ‘ganasnya’ Bu Tejo yang rela nyokot pak Polisi jika harus kena tilang. Dalam hal ini ancaman verbal dan non-verbal menjadi senjata ampuh. Simplifikasi Menggampangkan. Penggunaan moda angkutan yang tidak pada peruntukannya. Yang menjadi hal unik dalam film ini adalah penggunaan truk sebagai moda transportasi. Kenapa pakai truk..? Sesederhana ya karena tidak ada mobil lain yang bisa ngangkut orang sebanyak itu, dan juga diceritakan bahwa semua bis sewaan full karena dadakan. Sering kali kita lihat dijalan bagaimana moda transportasi yang secara keamanan dan ijinnya melenceng. Misalnya mobil bak terbuka seperti truk atau pick-up bahkan sepur kelinci acap kali digunakan sebagai moda angkutan massa. Prinsipnya, sing penting guyub, dan tahu kabar dari sang sakit dengan mata kepala sendiri. Sekaligus piknik tipis-tipis. Seksis Wanita di berbagai kalangan sering dilihat sebagai sosok yang mengutamakan 3B (Brain, Behavior and Beauty), akan tetapi B yang terakhir lah yang paling sering dijadikan referensi utama. Sampai Gotrek saja bilang kalau Dian yang maju nyalon lurah, pasti semua bapak-bapak milih dia. Pun demikian sesama perempuan, mengakui bahwa kecantikan Dian menjadi ancaman bagi pasangan mereka. Gotong royong itu susah Ringan sama dijinjing, Berat sama dipikul. Mobil mogok silakan didorong sendiri. Tentu saja untuk sesuatu yang dirasakan bukan menjadi tupoksinya. Sekali lagi pada adegan ini Bu Tejo berhasil melengkapi diri sebagai tokoh antagonis yang paripurna. Disaat orang-orang sibuk mendorong truk yang mogok, Bu Tejo bersedekap dengan santai melenggang kangkung, tentu saja ditemani Bu Tri yang berperan sebagai tukang nambah-nambahi panas. Terlepas dari segala macam kontroversi yang muncul. Film pendek ini adalah cerminan dari kehidupan sehari-hari kita. Diperlukan pikiran terbuka dan lapang dada untuk mengkomentarinya. Setiap orang dan netizen yang budiman dan maha benar pun memiliki sudut pandang berdasarkan pengalaman dan pengatahuan yang berbeda Jadi bagaimana dengan kita..? Apakah kita sudah berhastha laku..?   Penulis : Khresna Bayu Sangka  

Belajar Dari Tilik : Gotong Royong Itu Susah Read More »

Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya

Oleh: M Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni Social distancing sampai kapan? Anda terus mendengar orang-orang mengatakan social distancing atau jarak sosial, tetapi apa artinya itu? Jangan berharap itu menjadi istilah yang hilang dalam waktu dekat. Pikirkan itu lebih seperti physical distancing atau jarak fisik. Dalam bentuk yang paling sederhana, menjauhkan sosial, berarti menjaga jarak yang aman antara Anda dan orang-orang di sekitar Anda. WHO mengatakan ini adalah salah satu cara efektif yang membantu memperlambat penyebaran COVID-19 dan mengontrol kapasitas medis dan rumah sakit. Tidak percaya? coba pertimbangkan kasus ini, ketika virus H1N1 mulai menyebar di Meksiko, pemerintah menutup sekolah dan merekomendasikan jarak sosial. The National Institute of Health menyebutkan bahwa langkah-langkah ini bisa memotong tingkat penularan sebesar 37 persen dan membantu rumah sakit menangani volume pasien sedikit lebih mudah. Tidak meyakinkan?  ini contoh lain di Amerika, Kota St. Louis memberlakukan beberapa langkah jarak sosial pada tahun 1918 setelah Perang Dunia Pertama untuk mencegah penyebaran influenza (flu, keluarga virus yang berbeda dari COVID-19) yang menutup sekolah, gereja, dan teater, sama seperti yang kita lakukan sekarang. Tercatat 1700 orang meninggal karena flu di St. Louis. Sedangkan Philadelphia tidak memaksakan tindakan yang sama pada saat itu, dan jumlah korban meninggal mencapai 16.000 orang. Tim medis dan rumah sakit di Philadelpia pada saat itu melaporkan bahwa mereka tidak dapat menampung semua pasien. Nah, terkait pencegahan penularan COVID-19, beberapa kepala daerah mengambil preventif untuk mengatur warganya. Walikota Surakarta Fx Hadi Rudyatmo sendiri memperpanjang status Kejadian Luar Biasa (KLB) COVID-19 hingga 13 April 2020 mendatang. Bahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menetapkan status tanggap darurat bencana COVID-19 untuk provinsi Jawa Tengah hingga 29 Mei 2020. Artinya bahwa masih cukup lama masyarakat harus bersabar dan menahan diri tidak keluar rumah, mengontrol anak-anak tetap di rumah, membatasi pergerakan sosial semua orang, baik di tempat-tempat peribadatan, kegiatan hajatan, pertemuan komunitas dan sebagainya. Bahkan Kapolri telah memberikan larangan yang berdampak penghentian paksa kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang. Ini semua akan membantu membatasi penyebaran COVID-19 dan mengendalikan kapasitas medis dan rumah sakit dalam menangani pasien. Tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan penularan COVID-19 di Indonesia ini akan terkendali. Prof. Dr. Sutanto Sastraredja, DEA pakar matematika UNS dalam channel YouTube memberi pernyataan mengejutkan setelah melakukan simulasi menggunakan persamaan deferensial matematika berdasarkan kecepatan bertambahnya kasus COVID-19 di Indonesia selama ini. Menurutnya, COVID-19 diprediksi bisa hilang di Indonesia pada 10 Juni 2020 asalkan pemerintah mau melakukan karantina total atau lockdown, namun jika tidak, Indonesia bisa jatuh dalam fase di mana penyebaran COVID-19 sulit dikendalikan setelah 10 Juni 2020. Disamping itu, saat ini juga ada yang menggambarkan situasinya dimana Indonesia seperti mangkok raksasa yang di dalamnya terdapat banyak orang sehat yang terus bergerak dan mereka bercampur dengan orang terinfeksi COVID-19 dan hindden carrier yang belum sempat dikarantina. Akibatnya bisa saja prediksi dan simulasi matematis Prof Dr Sutanto akan terjadi.  Menjaga Kurva Landai Seperti diketahui, tenaga medis merupakan garda terdepan dalam penanganan COVID-19. Resiko besar sepanjang waktu berada di hadapan mereka. Semua pasien yang memeriksakan kesehatannya memiliki resiko menularkan, baik sebagai pasien terinfeksi maupun sebagai hidden carrier COVID-19. Mengutip akun instagram @ikatandokterindonesia, sampai saat ini diketahui 10 dokter telah meninggal di tengah pandemi yang melanda Indonesia. Beberapa karena terpapar, namun terdapat juga yang meninggal karena kelelahan dengan perjuangannya. Kondisi tenaga medis yang kewalahan dan alat perlindungan yang sangat kurang bukan rahasia lagi. Ini membuat para tenaga medis baik dokter, perawat, penyuluh, yang berada di garda terdepan berisiko terpapar COVID-19 dan membuat tenaga semakin terbatas. Dalam situasi seperti ini, kita berharap tim medis dan rumah sakit dalam kondisi tetap prima. Masyarakat ikut berpartisipasi menekan penularan COVID-19 dan tetap berada dalam kemampuan pengelolaan tim medis/rumah sakit. Perhatikan garis horizontal yang merupakan kapasitas rumah sakit dan tenaga medis, jika jumlah kasus melebihi kemampuan tenaga medis/rumah sakit, maka pasien akan bertebaran di luar sana. Nah, bayangkan jika pasien rumah sakit tidak terkendali, jumlahnya melebihi kapasitas tim medis dan rumah sakit, maka akan banyak di temukan pasien terlantar dan tidak diisolasi, mereka berada di luar sana, menularkan kepada orang yang sehat karena interaksi yang tidak terkontrol. Sistem layanan kesehatan memiliki kapasitas maksimal, seperti kapasitas ICU, kapasitas IGD, jumlah dokter, perawat dan tim medis lainnya. Terlihat pada berbagai pengalaman kasus di seluruh dunia, tanpa langkah-langkah pembatasan dan pengendalian, kasus positif yang memerlukan penanganan intensif dapat melebihi kapasitas sistem layanan kesehatan. Ketika sistem layanan kesehatan terbebani di luar kapasitas kondisi pasien akan memburuk dan dapat menyebabkan tingkat kematian naik. Keterlambatan melakukan langkah-langkah pembatasan dini juga dapat menurunkan kapasitas system layanan kesehatan. Hal ini terjadi saat para petugas kesehatan tidak dapat bekerja karena ikut tertular penyakit atau karena kelelahan.  Maka menjadi sangat penting untuk menahan kurva jumlah pasien terpapar agar tetap selandai mungkin. Semakin awal dan ketat pembatasan social distancing dilakukan maka kasus akan semakin terdistribusikan dan kurva semakin landai, sehingga tidak membuat lebih banyak orang gagal mendapatkan perawatan yang diperlukan. Dukung Mengamankan Kapasitas Medis Masyarakat tidak sulit berpartisipasi aktif memberikan dukungan kepada tim medis dan Rumah Sakit agar tetap bisa melandaikan kurva aman. Cukup tinggal di rumah dan ikuti anjuran pemerintah, social distancing/physical distancing, WFH, cuci tangan, makan makanan yang sehat, berjemur selama 15 menit pada jam 10.00 wib dan menjaga jarak sosial. Semudah itukah? Ternyata nggak mudah juga. Sebagian masyarakat kita bandel, tetap beraktifitas seperti biasa dan meremehkan situasi ini karena alasan jenuh dan bosan di rumah. Kita semua diminta untuk bersabar menghadapi situasi yang dianggap jenuh dan membosankan ini. Coba sedikit saya kasih gambaran kejadian nyata. Kisah 33 orang penambang yang terisolasi 700 m di bawah tanah selama 69 hari. Kisahnya difilmkan dan masih bisa ditonton gratis di channel youtube ada subtitle Indonesia dengan judul “The 33”. Saat runtuhnya tambang tembaga-emas San José dekat Copiapó, Chili, pada 5 Agustus 2010, praktis mengisolasi 33 pria di bawah tanah. Para penambang terjebak di kedalaman 700 meter (2300 ft) dan berjarak 5 kilometer (3 mil) dari pintu masuk tambang, mengikuti putaran dan belokan menuju pintu masuk tambang. Terisolasi di bawah tanah selama 69 hari, mereka berada dalam situasi yang benar-benar kritis, tidak memiliki sumber pangan yang cukup, tidak mempunyai akses, satu-satunya jalur telah tambang

Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya Read More »

Hasthalaku Di Rumah Aja

Tantangan terbesar bagi orang yang terbiasa beraktivitas di luar rumah seperti pekerja dan pelajar adalah harus berlama-lama di rumah. Tidak boleh keluar, interaksi fisik dan sosial yang dibatasi – hanya dengan lingkup terkecil kita. Keluarga. Hal yang lebih menantang adalah ketika harus bekerja atau menyelesaikan tugas berbarengan dengan momong anak, bersih-bersih rumah, atau berbagi laptop atau rebutan koneksi internet dengan kakak/adik. Jika tidak dikelola dengan baik, berdamai dengan keadaan dan menjaga kewarasan, bukan tidak mungkin manusia kembali menjadi homo homini lupus – manusia adalah mangsa manusia yang lain.   “Manusia itu adalah apa yang bersiapa dan siapa yang berapa”. Ke-siapa-an manusia diuraikan dalam rumusannya “manusia adalah makluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya”. […] manusia sebagai subjek atau persona yang sadar. Tanpa kesadaran manusia tidak mampu berhadapan dengan dirinya sendiri, apalagi menyadari berada dalam dunia” (Prof. Dr. N. Drijarkara, Percikan Filsafat, 1978).   Bukankah homo homini socius – manusia yang berguna bagi manusia yang lain sebagai makhluk sosial berkedudukan jauh lebih baik dimata semua agama, suku, dan golongan? Menjadikan manusia sebagai manusia sebagaimana adanya dalam tatanan Jawa disebut dengan nguwongke uwong. Budaya Jawa mengenal pepatah rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah yang berarti bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmonisasi antar sesama.   Hasthalaku merupakan generalisasi beberapa nilai budaya Jawa yang sangat erat dengan kehidupan saat ini. Demikian juga pada masa-masa berat ini. Pandemi COVID-19 dapat memberikan peluang bagi kita untuk belajar berbagai hal baru atau lama yang dapat dilakukan dari rumah dengan orang-orang terdekat kita. Memulai dari hal-hal kecil. Saling memahami peran anggota keluarga, membagi waktu antara pekerjaan kantor atau sekolah dengan pekerjaan rumah tangga. Memanfaatkan waktu untuk bercerita dan bercengkerama, lepas dari gawai yang menghubungkan dunia maya. Dan lain sebagainya.   Demikian juga kegiatan penggalangan dana (fundraising) secara online untuk membantu pengadaan alat pelindung diri (APD) misalnya, merupakan istilah modern yang menggunakan konsep gotong royong sebagai kristalisasi nilai hasthalaku. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia merupakan bentuk solidaritas sosial. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang didalamnya kaya akan nilai edukatif. Tak ayal, survey yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia merupakan sebuah keniscayaan. Urip Iku Urup (Hidup itu adalah nyala, manuisa hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitarnya)   Maka dari itu sangat penting untuk dapat tepa selira, saling menghargai serta memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah oleh adanya perbedaan-perbedaan, tidak termakan berita bohong atau hoaks. Dengan selalu mencari tahu kebenaran dan keabsahan berita sebelum kita sebar-luaskan kembali. Saring sebelum Sharing, karena Sharing is Caring.   Sikap saling menghargai, saling pengertian, saling sapa, saling bantu, dan saling menghormati seperti yang ada pada hasthalaku yang dimulai dari rumah ini, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dikembangkan dan dilaksanakan secara kontinyu kan membawa kerukunan, ketenangan, dan perdamaian dimulai dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Dengan kata lain, selama manusia hidup di dunia haruslah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan benci. Memayu hayuning bawana, ambrastha dur angkara.   Penulis: Khresna Bayu Sangka  

Hasthalaku Di Rumah Aja Read More »