Close

IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Karanggede: Pendidikan Toleransi Berbasis Kearifan Lokal Jawa untuk Sekolah Aman dan Nyaman

Karanggede, Boyolali – Kamis, 12 Februari 2026. Aula SMAN 1 Karanggede menjadi ruang belajar bersama bagi 60 guru dan karyawan dalam kegiatan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti. Mengusung tema “Pendidikan Toleransi Berbasis Kearifan Lokal Jawa untuk Sekolah Aman dan Nyaman”, kegiatan ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan nilai-nilai karakter yang selama ini telah hidup di lingkungan sekolah.

 

Kegiatan ini selaras dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kebijakan ini resmi dirilis oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen) untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, kondusif, dan bebas dari kekerasan, guna melindungi seluruh warga sekolah. Permendikdasmen ini menegaskan pentingnya sekolah sebagai ruang aman yang menghormati perbedaan dan menjunjung tinggi martabat anak serta seluruh komunitas pendidikan.

IHT di SMAN 1 Karanggede pada dasarnya bukan menghadirkan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan menyadarkan kembali bahwa delapan langkah atau nilai yang dibahas sesungguhnya sudah dijalankan dalam keseharian warga sekolah. Namun, sering kali praktik-praktik baik tersebut belum teridentifikasi dan belum dipahami bersama sebagai bagian dari sebuah gerakan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

 

Dalam sambutannya, Kepala SMAN 1 Karanggede, Ibu Titik Nur Aini, S.Sos., M.Pd. menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk “membuka kesadaran bersama.” Banyak hal yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Bapak dan Ibu guru, komite, maupun peserta didik, tetapi belum diberi makna sebagai bagian dari laku pendidikan toleransi. Melalui forum ini, nilai-nilai tersebut diangkat, dirumuskan, dan ditegaskan kembali agar menjadi kesadaran kolektif.

Salah satu poin penting yang mengemuka adalah bagaimana cara mengapresiasi anak dan membangun pembiasaan positif. Pendidikan toleransi tidak berhenti pada wacana, melainkan perlu diwujudkan melalui sikap sehari-hari: cara guru menyapa siswa, cara sekolah merespons perbedaan, hingga bagaimana ruang aman diciptakan bagi setiap anak tanpa terkecuali. Kearifan lokal Jawa, hasthalaku, menjadi fondasi dalam membangun budaya sekolah yang saling menghormati dan aman.

 

Harapannya, melalui pembiasaan yang konsisten, sekolah semakin ramah anak dan nyaman bagi semua. Ketika nilai-nilai tersebut benar-benar hidup di dalam hati setiap warga sekolah, maka berbagai program sekolah pun akan berjalan lebih lancar. Toleransi yang tumbuh dari kesadaran akan memunculkan loyalitas terhadap lembaga, memperkuat profesionalitas dalam bekerja, dan membangun rasa memiliki yang mendalam.

 

Kegiatan IHT ini juga menjadi ruang dialog yang hangat dan reflektif. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak untuk merefleksikan praktik yang sudah dilakukan serta menyusun komitmen bersama untuk langkah ke depan. Dengan demikian, pendidikan toleransi berbasis kearifan lokal Jawa bukan sekadar tema kegiatan, melainkan menjadi ruh dalam setiap gerak dan kebijakan sekolah yang mendukung terwujudnya sekolah aman dan nyaman seperti yang diamanatkan oleh Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

Di akhir sesi, suasana penuh semangat dan kebersamaan terasa di Aula SMAN 1 Karanggede. Dengan komitmen yang diperbarui, seluruh guru dan karyawan siap melangkah bersama, menghadirkan sekolah yang aman, nyaman, dan menggembirakan bagi seluruh warga sekolah.