Close

March 27, 2020

Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial

WABAH COVID-19, ANTARA JARAK FISIK DAN SOLIDARITAS SOSIAL

Wabah COVID-19 telah mengubah wajah dunia sejak World Health Organization (WHO) menetapkannya sebagai pandemi global pada  Kamis, 12 Maret 2020. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia, dan bisa menyerang siapa saja. Virus yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 ini dapat menular dengan cepat. Saat artikel ini ditulis COVID-19 telah menyebar ke 196 negara di luar Cina, termasuk Indonesia. Dari website covid19.go.id per 27 Maret 2020  pukul 12:00 WIB terdapat 893 kasus yang telah terkonfirmasi dan 780 dalam perawatan. Sejak tanggal 27 Maret 2020 pun telah mulai berkembang di Provinsi Jawa Tengah yang hingga hari ini tercatat mencapai 40 pasien positif termasuk kota Solo, Jawa Tengah.

Pemerintah Kota Surakarta saat ini tengah  berupaya untuk memutus rantai wabah ini dengan melakukan langkah tegas. Setelah menyatakan ada dua pasien positif corona dirawat di RSUD dr Moewardi dan salah satunya meninggal dunia, jumlah yang tertular diperkirakan akan terus meningkat. Di tengah kegaduhan akibat pandemi Covid-19, pemerintah kota Surakarta menetapkan status ini menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Selain meniadakan sejumlah potensi keramaian, Pemkot Surakarta juga meliburkan kegiatan belajar mengajar siswa TK sampai SMA dan sederajat selama 14 hari ke depan sejak tanggal 14 Maret 2020. Para siswa diminta untuk belajar di rumah, sebagai upaya pencegahan meluasnya penyebaran virus COVID-19. Selain itu, sejumlah tempat wisata di Kota Solo juga mulai ditutup.

Jarak Fisik dan Solidaritas Sosial

Masyarakat dunia pun, termasuk warga negara Indonesia, dihimbau untuk membantu memutus penyebaran virus dengan melakukan social distancing atau menjaga jarak sosial.  Sejak Jumat 20 Maret 2020 WHO resmi menggantikan istilah social distancing menjadi physical distancing atau menjaga jarak fisik. Istilah ini dilakukan guna mencegah konotasi yang tidak diinginkan. Ditakutkan manusia menjaga jarak sosialnya sehingga merasa khawatir untuk melakukan interaksi sosial. Padahal interaksi sosial sangatlah penting untuk mengalahkan COVID-19 yang juga penting mengurangi konsekuensi negatif dalam langkah-langkah pengendalian pandemi.

Pada situasi keadaan pandemi seperti ini kita mesti mengurangi interaksi fisik, tidak membuat keramaian, dan tidak datang ke pusat keramaian. Kita diharuskan berkegiatan di rumah saja, tidak bertemu saudara dan teman-teman di luar rumah, tidak mengadakan perhelatan dan kumpul-kumpul. Namun bukan berarti kita membatasi solidaritas sosial.

Di tengah himbauan untuk #dirumahaja banyak sekali saudara kita yang tidak memungkinkan untuk tinggal di rumah karena kebutuhan mencari sesuap nasi, juga kehilangan pekerjaan karena usaha yang mempekerjakannya terpaksa tutup. Atau bahkan menjadi garda terdepan dalam mengurusi para pasien di fasilitas kesehatan: para dokter, perawat, pembersih di rumah sakit, sopir ambulans, dan tenaga medis lainnya.

Baru-baru ini muncul banyak relawan dan gerakan sosial di Indonesia yang gotong royong bergerak dan mengumpulkan donasi untuk dibelikan alat pelindung diri bagi tenaga medis, masker untuk dibagikan pada masyarakat rentan, bahkan sembako untuk dibagikan kepada mereka yang kehilangan pekerjaan. Para influencer dan masyarakat umum bergerak untuk kerja solidaritas itu. Ya, itulah makna sesungguhnya dari social solidarity, bukan social distancing.

Cara-cara ini bisa kita lakukan sebagai usaha untuk pangerten terhadap keadaan. Selain itu, sebagai warga negara yang baik, kita juga harus menghargai keputusan dari Presiden Joko Widodo untuk dapat belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah.

Selain pangerten terhadap keadaan kita juga perlu pangerten terhadap orang-orang yang masih tetap harus bekerja di luar sana sebagai garda terdepan pemulihan kesehatan dan keadaan.

Penulis : Burhanudin Fajri

One Comment on “Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial

Avatar
farid
May 2, 2020 at 2:53 pm

Tulisannya bagus sekali… ijin share

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *