Tag: corona

  • Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya

    Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya

    Oleh: M Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni

    Social distancing sampai kapan?

    Anda terus mendengar orang-orang mengatakan social distancing atau jarak sosial, tetapi apa artinya itu? Jangan berharap itu menjadi istilah yang hilang dalam waktu dekat. Pikirkan itu lebih seperti physical distancing atau jarak fisik. Dalam bentuk yang paling sederhana, menjauhkan sosial, berarti menjaga jarak yang aman antara Anda dan orang-orang di sekitar Anda. WHO mengatakan ini adalah salah satu cara efektif yang membantu memperlambat penyebaran COVID-19 dan mengontrol kapasitas medis dan rumah sakit.

    Tidak percaya? coba pertimbangkan kasus ini, ketika virus H1N1 mulai menyebar di Meksiko, pemerintah menutup sekolah dan merekomendasikan jarak sosial. The National Institute of Health menyebutkan bahwa langkah-langkah ini bisa memotong tingkat penularan sebesar 37 persen dan membantu rumah sakit menangani volume pasien sedikit lebih mudah. Tidak meyakinkan?  ini contoh lain di Amerika, Kota St. Louis memberlakukan beberapa langkah jarak sosial pada tahun 1918 setelah Perang Dunia Pertama untuk mencegah penyebaran influenza (flu, keluarga virus yang berbeda dari COVID-19) yang menutup sekolah, gereja, dan teater, sama seperti yang kita lakukan sekarang. Tercatat 1700 orang meninggal karena flu di St. Louis. Sedangkan Philadelphia tidak memaksakan tindakan yang sama pada saat itu, dan jumlah korban meninggal mencapai 16.000 orang. Tim medis dan rumah sakit di Philadelpia pada saat itu melaporkan bahwa mereka tidak dapat menampung semua pasien.

    Nah, terkait pencegahan penularan COVID-19, beberapa kepala daerah mengambil preventif untuk mengatur warganya. Walikota Surakarta Fx Hadi Rudyatmo sendiri memperpanjang status Kejadian Luar Biasa (KLB) COVID-19 hingga 13 April 2020 mendatang. Bahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menetapkan status tanggap darurat bencana COVID-19 untuk provinsi Jawa Tengah hingga 29 Mei 2020. Artinya bahwa masih cukup lama masyarakat harus bersabar dan menahan diri tidak keluar rumah, mengontrol anak-anak tetap di rumah, membatasi pergerakan sosial semua orang, baik di tempat-tempat peribadatan, kegiatan hajatan, pertemuan komunitas dan sebagainya. Bahkan Kapolri telah memberikan larangan yang berdampak penghentian paksa kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang. Ini semua akan membantu membatasi penyebaran COVID-19 dan mengendalikan kapasitas medis dan rumah sakit dalam menangani pasien.

    Tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan penularan COVID-19 di Indonesia ini akan terkendali. Prof. Dr. Sutanto Sastraredja, DEA pakar matematika UNS dalam channel YouTube memberi pernyataan mengejutkan setelah melakukan simulasi menggunakan persamaan deferensial matematika berdasarkan kecepatan bertambahnya kasus COVID-19 di Indonesia selama ini. Menurutnya, COVID-19 diprediksi bisa hilang di Indonesia pada 10 Juni 2020 asalkan pemerintah mau melakukan karantina total atau lockdown, namun jika tidak, Indonesia bisa jatuh dalam fase di mana penyebaran COVID-19 sulit dikendalikan setelah 10 Juni 2020. Disamping itu, saat ini juga ada yang menggambarkan situasinya dimana Indonesia seperti mangkok raksasa yang di dalamnya terdapat banyak orang sehat yang terus bergerak dan mereka bercampur dengan orang terinfeksi COVID-19 dan hindden carrier yang belum sempat dikarantina. Akibatnya bisa saja prediksi dan simulasi matematis Prof Dr Sutanto akan terjadi. 

    Menjaga Kurva Landai

    Seperti diketahui, tenaga medis merupakan garda terdepan dalam penanganan COVID-19. Resiko besar sepanjang waktu berada di hadapan mereka. Semua pasien yang memeriksakan kesehatannya memiliki resiko menularkan, baik sebagai pasien terinfeksi maupun sebagai hidden carrier COVID-19. Mengutip akun instagram @ikatandokterindonesia, sampai saat ini diketahui 10 dokter telah meninggal di tengah pandemi yang melanda Indonesia. Beberapa karena terpapar, namun terdapat juga yang meninggal karena kelelahan dengan perjuangannya. Kondisi tenaga medis yang kewalahan dan alat perlindungan yang sangat kurang bukan rahasia lagi. Ini membuat para tenaga medis baik dokter, perawat, penyuluh, yang berada di garda terdepan berisiko terpapar COVID-19 dan membuat tenaga semakin terbatas.

    Dalam situasi seperti ini, kita berharap tim medis dan rumah sakit dalam kondisi tetap prima. Masyarakat ikut berpartisipasi menekan penularan COVID-19 dan tetap berada dalam kemampuan pengelolaan tim medis/rumah sakit.

    Perhatikan garis horizontal yang merupakan kapasitas rumah sakit dan tenaga medis, jika jumlah kasus melebihi kemampuan tenaga medis/rumah sakit, maka pasien akan bertebaran di luar sana. Nah, bayangkan jika pasien rumah sakit tidak terkendali, jumlahnya melebihi kapasitas tim medis dan rumah sakit, maka akan banyak di temukan pasien terlantar dan tidak diisolasi, mereka berada di luar sana, menularkan kepada orang yang sehat karena interaksi yang tidak terkontrol.

    Sistem layanan kesehatan memiliki kapasitas maksimal, seperti kapasitas ICU, kapasitas IGD, jumlah dokter, perawat dan tim medis lainnya. Terlihat pada berbagai pengalaman kasus di seluruh dunia, tanpa langkah-langkah pembatasan dan pengendalian, kasus positif yang memerlukan penanganan intensif dapat melebihi kapasitas sistem layanan kesehatan. Ketika sistem layanan kesehatan terbebani di luar kapasitas kondisi pasien akan memburuk dan dapat menyebabkan tingkat kematian naik.

    Keterlambatan melakukan langkah-langkah pembatasan dini juga dapat menurunkan kapasitas system layanan kesehatan. Hal ini terjadi saat para petugas kesehatan tidak dapat bekerja karena ikut tertular penyakit atau karena kelelahan.  Maka menjadi sangat penting untuk menahan kurva jumlah pasien terpapar agar tetap selandai mungkin. Semakin awal dan ketat pembatasan social distancing dilakukan maka kasus akan semakin terdistribusikan dan kurva semakin landai, sehingga tidak membuat lebih banyak orang gagal mendapatkan perawatan yang diperlukan.

    Dukung Mengamankan Kapasitas Medis

    Masyarakat tidak sulit berpartisipasi aktif memberikan dukungan kepada tim medis dan Rumah Sakit agar tetap bisa melandaikan kurva aman. Cukup tinggal di rumah dan ikuti anjuran pemerintah, social distancing/physical distancing, WFH, cuci tangan, makan makanan yang sehat, berjemur selama 15 menit pada jam 10.00 wib dan menjaga jarak sosial. Semudah itukah? Ternyata nggak mudah juga. Sebagian masyarakat kita bandel, tetap beraktifitas seperti biasa dan meremehkan situasi ini karena alasan jenuh dan bosan di rumah.

    Kita semua diminta untuk bersabar menghadapi situasi yang dianggap jenuh dan membosankan ini. Coba sedikit saya kasih gambaran kejadian nyata. Kisah 33 orang penambang yang terisolasi 700 m di bawah tanah selama 69 hari. Kisahnya difilmkan dan masih bisa ditonton gratis di channel youtube ada subtitle Indonesia dengan judul “The 33”. Saat runtuhnya tambang tembaga-emas San José dekat Copiapó, Chili, pada 5 Agustus 2010, praktis mengisolasi 33 pria di bawah tanah. Para penambang terjebak di kedalaman 700 meter (2300 ft) dan berjarak 5 kilometer (3 mil) dari pintu masuk tambang, mengikuti putaran dan belokan menuju pintu masuk tambang. Terisolasi di bawah tanah selama 69 hari, mereka berada dalam situasi yang benar-benar kritis, tidak memiliki sumber pangan yang cukup, tidak mempunyai akses, satu-satunya jalur telah tambang tertutup batu besar yang jatuh. Dan yang terjadi, 33 penambang ini bisa selamat dan dibawa ke permukaan pada 13 Oktober 2010.

    Kisah dramatis tersebut, tentu berbeda jauh dengan kondisi social distancing kita saat ini. Mereka bisa selamat karena sadar dan disiplin berbagi tugas, mengelola logistik yang amat terbatas, membuat program sanitasi, dan lain sebagainya, nyatanya berhasil. Sedangkan kita masih mengeluh dengan jenuh dan bosan ditengah semua kenyamanan yang dimiliki, masih tersedia fasilitas logistik di dapur, memiliki kuota internet untuk mengakses semua informasi dunia luar, hiburan televisi banyak channel, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Setidaknya bagi mereka yang sejatinya benar-benar bisa tetap berada di rumah dan tidak ada yang memaksanya keluar rumah. Situasi social distancing saat ini agak lebih mudah daripada 33 penambang yang dipaksa terisolasi selama 69 hari di kedalaman 700 meter.

    Mari kita lakukan apa yang diperintahkan oleh pemerintah, oleh para pakar kesehatan, oleh petugas keamanan. Perintahnya sederhana, yaitu social distancing atau menjaga jarak sosial, tetap berada di rumah, mencuci tangan, meningkatkan sistem imunitas tubuh dengan makan sehat, olahraga di rumah, berjemur dan work from home sebagainya. Ini hal penting sekali. Sekali lagi, ini bukan lagi masalah politik, saat ini cuma soal kesehatan dan kemanusiaan.

    Tulisan ini pernah dimuat di harian Solopos pada tanggal 11 April 2020 dengan judul “Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya”

  • Hasthalaku Di Rumah Aja

    Hasthalaku Di Rumah Aja

    Tantangan terbesar bagi orang yang terbiasa beraktivitas di luar rumah seperti pekerja dan pelajar adalah harus berlama-lama di rumah. Tidak boleh keluar, interaksi fisik dan sosial yang dibatasi – hanya dengan lingkup terkecil kita. Keluarga. Hal yang lebih menantang adalah ketika harus bekerja atau menyelesaikan tugas berbarengan dengan momong anak, bersih-bersih rumah, atau berbagi laptop atau rebutan koneksi internet dengan kakak/adik. Jika tidak dikelola dengan baik, berdamai dengan keadaan dan menjaga kewarasan, bukan tidak mungkin manusia kembali menjadi homo homini lupus – manusia adalah mangsa manusia yang lain.

     

    “Manusia itu adalah apa yang bersiapa dan siapa yang berapa”. Ke-siapa-an manusia diuraikan dalam rumusannya “manusia adalah makluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya”. […] manusia sebagai subjek atau persona yang sadar. Tanpa kesadaran manusia tidak mampu berhadapan dengan dirinya sendiri, apalagi menyadari berada dalam dunia” (Prof. Dr. N. Drijarkara, Percikan Filsafat, 1978).

     

    Bukankah homo homini socius – manusia yang berguna bagi manusia yang lain sebagai makhluk sosial berkedudukan jauh lebih baik dimata semua agama, suku, dan golongan? Menjadikan manusia sebagai manusia sebagaimana adanya dalam tatanan Jawa disebut dengan nguwongke uwong. Budaya Jawa mengenal pepatah rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah yang berarti bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmonisasi antar sesama.

     

    Hasthalaku merupakan generalisasi beberapa nilai budaya Jawa yang sangat erat dengan kehidupan saat ini. Demikian juga pada masa-masa berat ini. Pandemi COVID-19 dapat memberikan peluang bagi kita untuk belajar berbagai hal baru atau lama yang dapat dilakukan dari rumah dengan orang-orang terdekat kita. Memulai dari hal-hal kecil. Saling memahami peran anggota keluarga, membagi waktu antara pekerjaan kantor atau sekolah dengan pekerjaan rumah tangga. Memanfaatkan waktu untuk bercerita dan bercengkerama, lepas dari gawai yang menghubungkan dunia maya. Dan lain sebagainya.

     

    Demikian juga kegiatan penggalangan dana (fundraising) secara online untuk membantu pengadaan alat pelindung diri (APD) misalnya, merupakan istilah modern yang menggunakan konsep gotong royong sebagai kristalisasi nilai hasthalaku. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia merupakan bentuk solidaritas sosial. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang didalamnya kaya akan nilai edukatif. Tak ayal, survey yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia merupakan sebuah keniscayaan. Urip Iku Urup (Hidup itu adalah nyala, manuisa hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitarnya)

     

    Maka dari itu sangat penting untuk dapat tepa selira, saling menghargai serta memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah oleh adanya perbedaan-perbedaan, tidak termakan berita bohong atau hoaks. Dengan selalu mencari tahu kebenaran dan keabsahan berita sebelum kita sebar-luaskan kembali. Saring sebelum Sharing, karena Sharing is Caring.

     

    Sikap saling menghargai, saling pengertian, saling sapa, saling bantu, dan saling menghormati seperti yang ada pada hasthalaku yang dimulai dari rumah ini, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dikembangkan dan dilaksanakan secara kontinyu kan membawa kerukunan, ketenangan, dan perdamaian dimulai dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Dengan kata lain, selama manusia hidup di dunia haruslah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan benci. Memayu hayuning bawana, ambrastha dur angkara.

     

    Penulis: Khresna Bayu Sangka

     

  • Lawan Hoaks Covid-19 Dengan Hasthalaku Bermedsos

    Lawan Hoaks Covid-19 Dengan Hasthalaku Bermedsos

    Kita semua mengetahui himbauan dari pemerintah untuk tidak panik dalam menghadapi pandemi COVID-19. Ketika awal masuknya virus ini ke Indonesia, masyarakat berbondong-bondong memborong bahan makanan yang ada di supermarket, menimbun masker dan kawan-kawannya. Contoh diatas adalah bentuk kepanikan dari masyarakat yang terjadi karena hoaks yang beredar.

    Di tengah upaya pemerintah dalam menghadapi pandemi COVID-19 agar tidak terus menyebar, masih ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang menyebarkan berita palsu (hoaks) seputar COVID-19. Kominfo mengindentifikasi pada Selasa, 18 Maret 2020 ada 250 konten hoaks dan disinformasi yang berkaitan dengan pandemi COVID-19. Seluruh konten hoaks tersebut tersebar di platform media sosial khususnya di aplikasi WhatsApp yang notabene berisi grup keluarga dengan latar belakang yang bermacam-macam.

    Berbagai narasi yang menyesatkan lalu-lalang hampir setiap hari di linimasa media sosial kita tentang isu seputar COVID-19. Sebagian besar diantaranya merupakan berita palsu yang tidak jelas sumbernya sehingga sulit untuk diketahui kebenarannya. Banyaknya hoaks juga berdampak menurunkan rasa percaya masyarakat terhadap otoritas kesehatan dan pemerintah, sehingga masyarakat melakukan aksi penyembuhan dengan caranya sendiri. Sebagian besar cara penyembuhan pun juga mereka dapatkan melalui linimasa yang belum jelas kebenarannya.

    Pada keadaan seperti ini kita semestinya bergotong-royong untuk melawan hoaks yang kian meresahkan masyarakat. Contoh langkah yang bisa kita lakukan ialah tidak langsung percaya dan menyebarkan berita tentang pandemi COVID-19 yang kita baca di media sosial. Atau saat ingin memberikan informasi trik atau cara menangkal virus COVID-19 pastikan benar berasal dari sumber yang terpercaya dan beritanya bisa dipertanggungjawabkan, seperti media massa mainstream, website resmi Kementerian Kesehatan, WHO, serta pihak terpercaya lainnya.

    Di Indonesia sendiri ada Dewan Pers yang merilis daftar lembaga-lembaga resmi yang telah terdaftar. Selain itu ada pula sertifikasi IFCN atau International Fact Checking Network yang dikeluarkan oleh Poynter, sekolah jurnalis di Florida, Amerika Serikat. Sudah ada lima media/platform Indonesia yang mendapat sertifikasi ini, antara lain liputan6.com, Kompas.com, Tirto.id, Tempo.co dan Mafindo. Beberapa kelompok masyarakat sipil di berbagai daerah pun sudah bergerak menangkal hoaks. Mereka saling bekerjasama membuka pengaduan masyarakat, saling tukar informasi, berdiskusi, dan melakukan verifikasi hoaks yang beredar di masyarakat.

    Badan kesehatan dunia, World Health Organisation (WHO) sebenarnya telah menjalin kerjasama dengan WhatsApp dengan membentuk akun untuk melayani pertanyaan publik tentang seputar COVID-19 melalui chatbot. Akun chatbot ini memiliki nama resmi ‘COVID19.go.id’ dan memiliki tanda centang warna hijau sebagai bukti akun telah terverifikasi. Kita hanya perlu menambahkan kontak nomor +6281133399000 di ponsel. Secara otomatis aplikasi atau situs WhatsApp akan membuka jendela percakapan dengan chatbot tersebut.

    Kita juga bisa mengakses chatbot  untuk informasi resmi dan benar tentang Covid-19 atau website yang disedikan oleh Pemprov Jateng, https://corona.jatengprov.go.id/ atau Home – Covid19.go.id. Saluran itu diharapkan bisa menjadi kanal informasi publik yang valid dan terpercaya mengenai COVID-19. Hentikan pemberitaan yang membuat gaduh dan suasana mencekam, seperti gencarnya pemberitaan jumlah korban COVID-19 karena akan berdampak terhadap kondisi pikiran kita.

    Kondisi pikiran yang panik dan kalut akan berpengaruh terhadap keadaan fisik dan menurunkan imunitas tubuh kita. Selama keadaan masih seperti ini, pastikan asupan makanan yang sehat, mendapatkan paparan cahaya matahari setiap pagi, cukup 10 menit saja, serta pikiran dan hati yang bahagia. Ketiga hal tersebut mampu menaikkan daya tahan tubuh. Tidak perlu melakukan pencegahan yang ekstrim atau memborong segala macam kebutuhan. Secukupnya saja. Jika memiliki rejeki berlebih, bolehlah kita memberikan dana bantuan kepada yang membutuhkan. Sharing is caring. Ingat, waspada boleh, panik jangan. Kita lawan Covid-19 dengan gotong royong, guyub rukun, dan pangerten.

    Penulis: Burhanudin Fajri

     

  • Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial

    Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial

    Wabah COVID-19 telah mengubah wajah dunia sejak World Health Organization (WHO) menetapkannya sebagai pandemi global pada  Kamis, 12 Maret 2020. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia, dan bisa menyerang siapa saja. Virus yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 ini dapat menular dengan cepat. Saat artikel ini ditulis COVID-19 telah menyebar ke 196 negara di luar Cina, termasuk Indonesia. Dari website covid19.go.id per 27 Maret 2020  pukul 12:00 WIB terdapat 893 kasus yang telah terkonfirmasi dan 780 dalam perawatan. Sejak tanggal 27 Maret 2020 pun telah mulai berkembang di Provinsi Jawa Tengah yang hingga hari ini tercatat mencapai 40 pasien positif termasuk kota Solo, Jawa Tengah.

    Pemerintah Kota Surakarta saat ini tengah  berupaya untuk memutus rantai wabah ini dengan melakukan langkah tegas. Setelah menyatakan ada dua pasien positif corona dirawat di RSUD dr Moewardi dan salah satunya meninggal dunia, jumlah yang tertular diperkirakan akan terus meningkat. Di tengah kegaduhan akibat pandemi Covid-19, pemerintah kota Surakarta menetapkan status ini menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

    Selain meniadakan sejumlah potensi keramaian, Pemkot Surakarta juga meliburkan kegiatan belajar mengajar siswa TK sampai SMA dan sederajat selama 14 hari ke depan sejak tanggal 14 Maret 2020. Para siswa diminta untuk belajar di rumah, sebagai upaya pencegahan meluasnya penyebaran virus COVID-19. Selain itu, sejumlah tempat wisata di Kota Solo juga mulai ditutup.

    Jarak Fisik dan Solidaritas Sosial

    Masyarakat dunia pun, termasuk warga negara Indonesia, dihimbau untuk membantu memutus penyebaran virus dengan melakukan social distancing atau menjaga jarak sosial.  Sejak Jumat 20 Maret 2020 WHO resmi menggantikan istilah social distancing menjadi physical distancing atau menjaga jarak fisik. Istilah ini dilakukan guna mencegah konotasi yang tidak diinginkan. Ditakutkan manusia menjaga jarak sosialnya sehingga merasa khawatir untuk melakukan interaksi sosial. Padahal interaksi sosial sangatlah penting untuk mengalahkan COVID-19 yang juga penting mengurangi konsekuensi negatif dalam langkah-langkah pengendalian pandemi.

    Pada situasi keadaan pandemi seperti ini kita mesti mengurangi interaksi fisik, tidak membuat keramaian, dan tidak datang ke pusat keramaian. Kita diharuskan berkegiatan di rumah saja, tidak bertemu saudara dan teman-teman di luar rumah, tidak mengadakan perhelatan dan kumpul-kumpul. Namun bukan berarti kita membatasi solidaritas sosial.

    Di tengah himbauan untuk #dirumahaja banyak sekali saudara kita yang tidak memungkinkan untuk tinggal di rumah karena kebutuhan mencari sesuap nasi, juga kehilangan pekerjaan karena usaha yang mempekerjakannya terpaksa tutup. Atau bahkan menjadi garda terdepan dalam mengurusi para pasien di fasilitas kesehatan: para dokter, perawat, pembersih di rumah sakit, sopir ambulans, dan tenaga medis lainnya.

    Baru-baru ini muncul banyak relawan dan gerakan sosial di Indonesia yang gotong royong bergerak dan mengumpulkan donasi untuk dibelikan alat pelindung diri bagi tenaga medis, masker untuk dibagikan pada masyarakat rentan, bahkan sembako untuk dibagikan kepada mereka yang kehilangan pekerjaan. Para influencer dan masyarakat umum bergerak untuk kerja solidaritas itu. Ya, itulah makna sesungguhnya dari social solidarity, bukan social distancing.

    Cara-cara ini bisa kita lakukan sebagai usaha untuk pangerten terhadap keadaan. Selain itu, sebagai warga negara yang baik, kita juga harus menghargai keputusan dari Presiden Joko Widodo untuk dapat belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah.

    Selain pangerten terhadap keadaan kita juga perlu pangerten terhadap orang-orang yang masih tetap harus bekerja di luar sana sebagai garda terdepan pemulihan kesehatan dan keadaan.

    Penulis : Burhanudin Fajri