Blog

  • Fragmen Solo Bersimfoni Di CFD (Car Free Day)

    Fragmen Solo Bersimfoni Di CFD (Car Free Day)

    Solo, Minggu 28/4/2019, Jl. Slamet Riyadi Kota Solo

    pat di depan Bank BRI Surakarta Jalan Slamet Riyadi Forum Milenial Soloraya (FORMES) menggelar kegiatan #PERCAYAKPU yang dikuti oleh kurang lebih 100 elemen remaja milenial se-Soloraya, serta dihadiri oleh KPU Surakarta dan juga Banwaslu Surakarta. Kegiatan yang dilaksanakan pada saat Car Free Day (CFD) ini dimulai pukul 07.00 – 09.00 WIB.

    (more…)

  • Memaknai Kartini, Menghidupkan Gagasannya

    Memaknai Kartini, Menghidupkan Gagasannya

    MEMAKNAI KARTINI, MENGHIDUPKAN GAGASANNYA

    “Teman-teman saya di sini berkata, bahwa lebih bijaksana bagi kami (Kartini dan kedua adiknya) jika kami tidur dulu seratus tahun lamanya – kalau kami bangun kembali, itulah saat yang baik untuk kami… Jawa sudah sampai sejauh yang kami inginkan.” – Cerita Kartini dalam surat kepada Nn. E.H. Zeehandelaar-atau dipanggil Stella-

    (6 November 1899).

    Sebagai perempuan yang lahir pada akhir abad ke-19, Kartini memiliki pemikiran yang melampaui zamannya. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisi surat-surat Kartini dengan sahabat-sahabatnya, Kartini banyak bercerita tentang pemikiran-pemikirannya terutama sebagai perempuan Jawa. Kartini tak hanya seorang tokoh emansipasi, tetapi seorang pemikir kritis yang berani menggugat ketidakadilan. Lebih jauh lagi, Kartini mengkritik budaya patriarki dan ketimpangan sosial. Baginya, semua perbuatan yang menyebabkan semua manusia menderita, adalah dosa.

     

    Saparinah Sadli, guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan penulis Kartini Pribadi Mandiri, menyebutkan bahwa yang membedakan Kartini dengan pahlawan lain adalah Kartini meninggalkan tulisan, yang sampai saat ini, 122 tahun setelah wafatnya, tulisan tersebut masih bisa menjadi inspirasi perempuan. 

    Cerita Hidup Kartini

     

    Kartini menjalani pendidikan hanya sampai usia 12 tahun. Setelah bersekolah di Europese Lagere School (ELS), dia dipingit dan tidak boleh keluar rumah selama belum memiliki suami. Pingitan merupakan hal yang biasa dijalani oleh perempuan Jawa pada masa itu, mereka dipersiapkan untuk menerima lamaran dan menikah. Kartini mencoba berbagai cara untuk mengubah pikiran orang tuanya agar diizinkan melanjutkan pendidikan di Semarang, tetapi gagal. Sebagai rasa sayang kepada Kartini, ayahnya memperbolehkan Kartini mengakses berbagai literasi dari dalam dan luar negeri, terutama tulisan bertema gerakan feminisme dan sosialis yang digandrungi di Eropa saat itu. Dari situ Kartini memahami bahwa pendidikan yang merata penting bagi kemajuan perempuan. 

     

    Pada usia 16 tahun, Kartini dan kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah, dibebaskan dari pingitan tanpa harus terikat pada pernikahan. Dalam suratnya kepada Stella (25 Mei 1899), Kartini menceritakan satu hari yang sangat menyenangkan. Pada 2 Mei 1889, mereka bertiga ikut ayahnya ke Semarang untuk merayakan penobatan Ratu Wilhelmina. Hal ini menjadi kemenangan besar dan juga pertunjukan yang aneh saat gadis-gadis usia mereka boleh tampil di muka umum. Kejadian yang menjadi perbincangan dan bahkan dirayakan ini tak memuaskan Kartini. Baginya kebebasan bukan perayaan atau bersenang-senang. Kebebasan berarti bisa mandiri, merdeka, dan tidak bergantung pada orang lain. 

     

    Suatu ketika, Kartini bercakap-cakap dengan ibunya tentang hal-ihwal perempuan. Saat itu, dia mengungkapkan bahwa tak ada satu pun yang menarik dan dia dambakan kecuali diperbolehkan berdiri sendiri. Ibunya menanggapi bahwa belum ada seorang pun di antara mereka yang berbuat demikian. “Maka tibalah waktunya, bahwa seseorang suatu ketika akan berbuat begitu,” jawab Kartini.

     

    Sekolah Perempuan Bumiputra

     

    Awalnya, Kartini ragu apakah bisa mewujudkan cita-cita menjadi guru dan membangun sekolah perempuan. Namun keragu-raguan itu sirna saat ayahnya memperbolehkan Kartini menempuh pendidikan guru. Menurut ayahnya, pikiran menjadi guru pada sekolah gadis Bumiputra sangat bagus. Kartini pernah memiliki rencana dan peluang untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda, tetapi dia tidak jadi berangkat karena berbagai pertimbangan. Meski demikian, cita-cita Kartini menjadi guru akhirnya terwujud, walaupun tanpa ijazah formal. Ia dan kedua adiknya mendirikan sekolah perempuan pada 1903 di Jepara. Mereka bertiga juga mengajar di sekolah tersebut.

     

    Dalam surat kepada Ny. R.M. Abendanon (4 Juli 1903), Kartini menceritakan betapa senangnya ia meski hanya ada satu murid, yang kemudian berkembang menjadi tujuh. Murid-murid datang empat kali seminggu untuk belajar membaca, menulis, hingga keterampilan hidup seperti menjahit, merenda, dan memasak.

     

    Salah satu momen paling menyentuh saat seorang ibu datang dari jauh untuk menitipkan anaknya belajar pada Kartini, karena ia sendiri tak pernah merasakan pendidikan, dan ingin anaknya mendapatkan kesempatan itu. Sang ibu berkata bahwa di mana pun Kartini membuka sekolah, dia pasti akan datang untuk mengantarkan anaknya.

     

    “Panggil Aku Kartini Saja”

     

    Dalam surat pertamanya kepada Stella (25 Mei 1899), Kartini minta dipanggil namanya saja. Surat ini menjadi jawaban iklan Kartini di majalah De Hollandsche Lelie. Stella, seorang aktivis feminis Belanda kemudian menjadi teman korespondensi Kartini. Surat ini yang memulai Kartini mengenal banyak tokoh feminis dan politik etis di Belanda.

     

    Memanggil Kartini hanya dengan nama merupakan satu perlawanannya terhadap feodalisme. Dia yang merupakan anak perempuan kedua Bupati Jepara Sosroningrat yang mengalir darah bangsawan.

     

    Dalam surat keduanya (18 Agustus 1899), Kartini mengungkapkan keinginannya untuk menghapus tata krama kaku antara kakak dan adik. Kartini, Roekmini, dan Kardinah, yang kemudian disebut three sister menjadi dekat karena menjalani pingitan hampir bersamaan. Selama masa itu, Kartini mengizinkan adik-adiknya memanggil dengan kata “kamu”, begitu pun sebaliknya. Hal ini menjadi perlawanan pertamanya di lingkungan keluarganya sendiri. Kartini melepaskan etiket yang dinilai ruwet, dengan menghapuskan bahasa Jawa halus (kromo inggil) dan melakukan sembah, sebagaimana yang lazim saat itu, dari adik kepada kakaknya.

     

    Kebahagiaan di Akhir Hidup Kartini

     

    Saat berusia 24 tahun, Kartini yang dianggap oleh masyarakat terlalu tua untuk menikah, dilamar Bupati Rembang. Demi rasa sayang kepada ayahnya, Kartini menerima lamaran tersebut dan bersedia menjalani poligami. Namun, ia berkompromi dengan memberikan syarat kepada calon suaminya.

     

    Kartini bersedia diperistri jika Bupati Rembang menyetujui gagasan dan cita-citanya untuk membuka sekolah dan mengajar putri-putri pejabat Rembang, seperti yang ia lakukan di Jepara. Kartini juga tak mau ada prosesi jalan jongkok, berlutut, dan menyembah kaki mempelai pria saat resepsi. Terakhir, ia akan berbicara dalam bahasa Jawa ngoko dan bukan krama inggil kepada suaminya, sebagai penegasan bahwa seorang istri haruslah setara.

     

    Meski diawali dengan keraguan, Kartini bahagia dengan pernikahannya. Dalam surat kepada Tuan Abendanon dan Nyonya (11 Desember 1903), Kartini bercerita bagaimana dia dan suaminya memiliki impian yang sama. Dia berkata jika mereka bertemu, pasti akan menyukai suaminya yang memiliki pemikiran cerdas dan baik hati. Sesuai dengan gambaran Kartini tentang seorang bangsawan terhadap rakyatnya. 

     

    Kartini meninggal di usia sangat muda, 25 tahun, empat hari setelah melahirkan anaknya. Dia meninggal dalam rangkulan suaminya dengan penuh kasih. Dalam surat suaminya kepada Tuan Abendanon, seminggu setelah Kartini wafat, Bupati Rembang tersebut mengatakan bahwa dalam sepuluh bulan bersama Kartini, dia merasakan kebahagiaan. Kartini baginya adalah penjelmaan dari kasih sayang, dengan pandangan yang luas, sehingga tak ada seorang pun di antara saudara-saudara perempuan bangsa Bumiputra yang menyamainya.

     

    Perempuan di Era Modern

     

    Kini, di tahun 2026, semakin banyak perempuan yang bisa melangkah lebih bebas seperti menentukan pilihan, dan menjalani hidup dengan caranya sendiri, seperti yang pernah dibayangkan oleh Kartini. Namun, kebebasan itu hadir dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang sudah menjalaninya dengan leluasa, ada pula yang masih berkompromi dengan rasa aman, dukungan sekitar, dan kesempatan yang belum selalu sama.

     

    Dalam keseharian, hal ini terasa lewat hal-hal yang dekat. Perempuan sudah bisa memilih pendidikan dan pekerjaan yang diinginkan, menentukan pasangan hidupnya sendiri, atau bepergian tanpa harus selalu ditemani. Di saat yang sama, masih ada stigma yang ikut hadir, seperti komentar yang misoginis, ekspektasi dalam peran rumah tangga, atau rasa was-was ketika harus beraktivitas dan berada di luar pada malam hari. Di antara pengalaman yang beragam itu, kebebasan perempuan terus bergerak dan bertumbuh, sedikit demi sedikit, dengan cara yang tidak selalu sama.

     

    Semoga peringatan Kartini tidak hanya dimaknai melalui simbol seperti berkebaya, tetapi juga menjadi momen untuk mengenang dan menghidupkan kembali gagasan-gagasannya tentang perempuan yang memiliki ruang untuk tumbuh dan merdeka. 

     

    Tia Brizantana – Program Officer Solo Bersimfoni

  • Viktimisasi Sekunder: Beban Ganda Korban Kekerasan Seksual

    Viktimisasi Sekunder: Beban Ganda Korban Kekerasan Seksual

    Viktimisasi Sekunder: Beban Ganda Korban Kekerasan Seksual

    Apakah kita sering mendengar tentang perempuan korban kekerasan yang mendapatkan penghakiman oleh sekitarnya -atau netizen jika kasusnya viral di media sosial-? Peringatan International Women’s Day (IWD) 2026 mengangkat beberapaa tema, salah satunya adalah “Give to Gain”, yang bisa diartikan sebagai memberi untuk menerima, sebagai upaya menekankan kekuatan timbal balik dan dukungan. Apa yang bisa kita lakukan? Tentu saja, yang pertama adalah berdiri bersama korban.

     

    IWD diperingati setiap tanggal 8 Maret sebagai hari untuk mengapresiasi peran dan pencapaian perempuan serta mengingat perjuangan kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. Awal abad ke-20, muncul keresahan akan ketidakadilan bagi buruh perempuan yang dibebani dengan jam kerja panjang, upah rendah, dan kondisi kerja yang buruk. Gerakan pertama dilakukan pada tahun 1908 di New York, sebanyak 15.000 buruh perempuan melakukan aksi turun ke jalan yang menuntut jam kerja lebih pendek, upah yang layak, serta hak memilih. Aksi ini menjadi salah satu pemicu gerakan perempuan internasional. Kemudian di tahun 1910 pada Konferensi Pekerja oleh Second International di Kopenhagen, aktivis perempuan asal Jerman, Clara Zetkin mengusulkan adanya Hari Perempuan Internasional. Usulan ini didukung oleh lebih dari 100 perempuan dari berbagai negara. Setahun kemudian, 1911, Hari Perempuan Internasional pertama kali diperingati di negara Eropa seperti Austria, Jerman, Denmark, dan Swiss. Sejak 1917, tanggal 8 Maret menjadi tanggal resmi IWD (IWD pertama kali dirayakan pada 19 Maret dan kemudian pada 8 Maret setelah hari utama dalam aksi unjuk rasa perempuan pada 1917). Tahun 1975, United Nations mulai memperingati IWD secara resmi. Dua tahun kemudian, pada 1977, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi yang mengundang negara anggota untuk menetapkan satu hari bagi hak perempuan dan perdamaian internasional, yang kemudian banyak negara rayakan pada 8 maret.

     

    Peringatan IWD mulai menggunakan tema resmi setiap tahun sejak 1996. Tema tahunan dibuat agar peringatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki fokus pada isu tertentu dalam perjuangan kesetaraan. Pada 2026, salah satu tema IWD adalah Give to Gain. Kampanye Give to Gain tak hanya menyasar pada individu, tetapi juga pada organisasi, dan komunitas. Agar dukungan terhadap korban semakin meningkat. Dukungan bisa berupa donasi, pengetahuan, sumber daya, infrastruktur, visibilitas, advokasi, pendidikan, pelatihan, pendampingan, atau waktu. Harapannya, perempuan dan masyarakat yang saling membantu, akan menciptakan dunia yang lebih suportif dan saling terhubung. 

     

    Beban Ganda Korban Kekerasan Seksual

    Kekerasan, terutama kekerasan seksual, merupakan pelanggaran hak asasi manusia berat yang tidak hanya menimbulkan penderitaan fisik, tetapi juga luka psikologis dan sosial yang mendalam. Dalam banyak kasus, penderitaan korban tidak berhenti pada peristiwa kekerasan. Mereka kerap mengalami beban ganda. Pertama akibat peristiwa kekerasan oleh pelaku, dan kedua akibat respon sosial maupun institusional yang tidak berpihak. Penghakiman sosial ini yang membuat korban bahkan enggan melapor dan sulit pulih dari trauma. Ini bisa disebut sebagai viktimisasi sekunder atau luka kedua, yaitu rasa sakit tambahan yang timbul akibat penghakiman, penolakan, atau prasangka negatif masyarakat setelah peristiwa kekerasan terjadi. 

    Contoh viktimisasi sekunder adalah victim blaming yaitu menyalahkan korban atas kekerasan yang dialaminya. Fenomena ini masih mengakar pada budaya patriarkal. Hal ini disebutkan dalam jurnal “Stigma Masyarakat terhadap Korban Kekerasan Seksual” karya Lutfia Asysifa (2025), yang menjelaskan bahwa masyarakat kerap kali menilai korban dengan kacamata moralitas sosial yang sempit dibandingkan dengan kacamata kemanusiaan. Korban seringkali dianggap ikut bersalah karena cara berpakaian, perilaku, atau latar belakang kehidupannya. Korban kemudian mengalami beban ganda, hal ini menjadikan penanganan kekerasan seksual tidak bisa maksimal dan sering kali solusi yang diberikan tidak memihak kepada korban. Salah satunya adalah menikahkan korban yang mengalami kehamilan akibat kekerasan seksual dengan pelaku.

     

    Akhir-akhir ini, banyak kasus kekerasan seksual yang muncul di media sosial dan menjadi viral. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran masyarakat semakin tinggi. Sayangnya tidak dibarengi dengan pemahaman masyarakat dan institusi yang berwenang terkait “berdiri bersama korban”. Berbeda dengan kasus kriminal biasa, pada kasus kekerasan seksual digunakan azas praduga bersalah sampai dibuktikan sebaliknya untuk pelaku. Meski demikian, korban tetap mendapatkan penghakiman.

     

    Akhir Februari 2026, masyarakat dikejutkan dengan berita seorang laki-laki melakukan percobaan pembunuhan dengan menggunakan senjata tajam kepada seorang perempuan di sebuah kampus ternama karena pelaku tidak terima atas penolakan cinta dari korban. Saat pertama muncul, banyak ucapan simpati kepada korban dan kutukan pada pelaku. Belakangan, diketahui bahwa mereka berdua menjalin hubungan terlarang karena korban sudah mempunyai kekasih. Penghakiman kemudian di arahkan kepada korban bahkan muncul komentar “pantas dikapak”. Fenomena ini adalah femisida, yaitu kekerasan terhadap perempuan karena dia adalah perempuan. Seorang perempuan tidak aman saat dia melakukan penolakan, atau bahkan perilaku yang dianggap tidak benar, karena taruhannya adalah nyawa. Sedangkan hal ini tidak terjadi pada laki-laki.

     

    Viktimisasi sekunder yang dialami korban kekerasan seksual, terkadang tidak hanya berhenti pada penghakiman sosial, tetapi juga dari sistem hukum yang bias gender. Aparat penegak hukum sering menganggap bahwa kekerasan seksual sering direduksi menjadi “hubungan suka sama suka”. Hal ini mengaburkan elemen paksaan dalam tindak pidana seksual. Seperti pada kasus kekerasan seksual oleh musisi dan sastrawan asal Soloraya. Kasus ini sempat viral, apalagi ditemukan fakta bahwa korban sudah melapor ke PPA dan mendapatkan penghakiman diminta tobat karena zina. Korban, yang pernah memiliki hubungan pacaran dengan pelaku, semakin tertekan dan dianggap salah.

     

    Kasus ini mendapatkan atensi dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifah Fauzi, yang menegaskan penanganan kasus harus berperspektif korban. “Kekerasan seksual dalam bentuk apa pun merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi dan dibenarkan,” ucap beliau. Kemudian, kasus ini akhirnya dilaporkan ke aparat yang berwenang. Tak hanya itu, salah satu selebgram dari Solo juga membantu korban dengan membuat konten dukungan. Banyaknya dukungan ini yang menjadikan korban semakin berani untuk melanjutkan kasusnya. Fakta bahwa dorongan dari pusat penting untuk menggerakkan daerah, sehingga harapannya dorongan adanya aturan penanganan kekerasan seksual yang lebih berempati supaya korban mendapatkan perlindungan dan keadilan, serta layanan pemulihan.

     

    Ruang Aman bagi Perempuan

    Pada momentum IWD tahun ini, masyarakat diajak memahami bahwa memberi dukungan korban kekerasan berarti ikut membangun ruang yang lebih aman bagi semua. Di ruang digital, masyarakat dapat berdiri bersama korban dengan tidak memberikan stigma atau menyalahkan korban, serta membantu menyebarkan informasi layanan bantuan. Dengan empati, literasi digital yang baik, dan keberanian berpihak pada korban, netizen tidak hanya memberi dukungan, tetapi juga mendapatkan ruang digital yang lebih adil, aman, dan berkeadilan, khususnya bagi perempuan dan anak. 

    Harapannya, setiap orang -baik di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun ruang digital- berani mengambil peran untuk menolak segala bentuk kekeradan dan diskriminasi terhadap perempuan. Dukungan nyata dapat dimulai dari hal sederhana; mendengarkan korban tanpa menghakimi, menyebarkan informasi yang benar, serta menguatkan upaya perlindungan dan pendampingan yang dilakukan berbagai lembaga, termasuk KemenPPA dan komunitas pendamping lainnya. Melalui kerjasama dari lingkungan terdekat seperti keluarga, masyarakat, komunitas, hingga institusi pemerintah, akan hadir sebuah ruang yang aman, setara dan saling menghargai bagi perempuan tidak hanya hadir dalam bentuk wacana, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari.

  • IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Karanggede: Pendidikan Toleransi Berbasis Kearifan Lokal Jawa untuk Sekolah Aman dan Nyaman

    IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Karanggede: Pendidikan Toleransi Berbasis Kearifan Lokal Jawa untuk Sekolah Aman dan Nyaman

    IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Karanggede: Pendidikan Toleransi Berbasis Kearifan Lokal Jawa untuk Sekolah Aman dan Nyaman

    Karanggede, Boyolali – Kamis, 12 Februari 2026. Aula SMAN 1 Karanggede menjadi ruang belajar bersama bagi 60 guru dan karyawan dalam kegiatan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti. Mengusung tema “Pendidikan Toleransi Berbasis Kearifan Lokal Jawa untuk Sekolah Aman dan Nyaman”, kegiatan ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan nilai-nilai karakter yang selama ini telah hidup di lingkungan sekolah.

     

    Kegiatan ini selaras dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kebijakan ini resmi dirilis oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen) untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, kondusif, dan bebas dari kekerasan, guna melindungi seluruh warga sekolah. Permendikdasmen ini menegaskan pentingnya sekolah sebagai ruang aman yang menghormati perbedaan dan menjunjung tinggi martabat anak serta seluruh komunitas pendidikan.

    IHT di SMAN 1 Karanggede pada dasarnya bukan menghadirkan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan menyadarkan kembali bahwa delapan langkah atau nilai yang dibahas sesungguhnya sudah dijalankan dalam keseharian warga sekolah. Namun, sering kali praktik-praktik baik tersebut belum teridentifikasi dan belum dipahami bersama sebagai bagian dari sebuah gerakan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

     

    Dalam sambutannya, Kepala SMAN 1 Karanggede, Ibu Titik Nur Aini, S.Sos., M.Pd. menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk “membuka kesadaran bersama.” Banyak hal yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Bapak dan Ibu guru, komite, maupun peserta didik, tetapi belum diberi makna sebagai bagian dari laku pendidikan toleransi. Melalui forum ini, nilai-nilai tersebut diangkat, dirumuskan, dan ditegaskan kembali agar menjadi kesadaran kolektif.

    Salah satu poin penting yang mengemuka adalah bagaimana cara mengapresiasi anak dan membangun pembiasaan positif. Pendidikan toleransi tidak berhenti pada wacana, melainkan perlu diwujudkan melalui sikap sehari-hari: cara guru menyapa siswa, cara sekolah merespons perbedaan, hingga bagaimana ruang aman diciptakan bagi setiap anak tanpa terkecuali. Kearifan lokal Jawa, hasthalaku, menjadi fondasi dalam membangun budaya sekolah yang saling menghormati dan aman.

     

    Harapannya, melalui pembiasaan yang konsisten, sekolah semakin ramah anak dan nyaman bagi semua. Ketika nilai-nilai tersebut benar-benar hidup di dalam hati setiap warga sekolah, maka berbagai program sekolah pun akan berjalan lebih lancar. Toleransi yang tumbuh dari kesadaran akan memunculkan loyalitas terhadap lembaga, memperkuat profesionalitas dalam bekerja, dan membangun rasa memiliki yang mendalam.

     

    Kegiatan IHT ini juga menjadi ruang dialog yang hangat dan reflektif. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak untuk merefleksikan praktik yang sudah dilakukan serta menyusun komitmen bersama untuk langkah ke depan. Dengan demikian, pendidikan toleransi berbasis kearifan lokal Jawa bukan sekadar tema kegiatan, melainkan menjadi ruh dalam setiap gerak dan kebijakan sekolah yang mendukung terwujudnya sekolah aman dan nyaman seperti yang diamanatkan oleh Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

    Di akhir sesi, suasana penuh semangat dan kebersamaan terasa di Aula SMAN 1 Karanggede. Dengan komitmen yang diperbarui, seluruh guru dan karyawan siap melangkah bersama, menghadirkan sekolah yang aman, nyaman, dan menggembirakan bagi seluruh warga sekolah.

  • INTEGRASI HASTHALAKU DALAM P5 KEARIFAN LOKAL SEBAGAI PENGUAT IDENTITAS BUDAYA

    INTEGRASI HASTHALAKU DALAM P5 KEARIFAN LOKAL SEBAGAI PENGUAT IDENTITAS BUDAYA

    INTEGRASI HASTHALAKU DALAM P5 KEARIFAN LOKAL SEBAGAI PENGUAT IDENTITAS BUDAYA

    Identitas budaya, penting tidak, sih?

     

    Sebut saja Raden, kebiasaannya yang suka menyendiri ini kerap membuat orang enggan untuk mengajaknya berinteraksi. Asik bermain gawai saat diajak mengobrol, hanya  berdeham ketika ada teman yang menyapa dengan senyuman, bahkan ketika hendak  melewati guru pun ia tak mengucap kalimat permisi. Terkesan individualis, bolak-balik ia  ditegur untuk memperbaiki sikap dan lebih terbuka. Coba kalian bayangkan, ketika memiliki  teman sepertinya, apa yang akan kalian rasakan? 

     

    Tak jarang, pada masa kini, Sebagian besar siswa merasa berat untuk sekedar mengucap kata maaf, terimakasih, dan meminta tolong. Tersenyum saat bertemu dengan teman pun mereka tak mau, apalagi menunduk ketika melewati orang yang lebih tua dari mereka. Padahal sikap sederhana seperti inilah yang menjadi bentuk penerapan nilai-nilai kesantunan dalam diri seseorang. 

     

    Namun, sayangnya degradasi identitas budaya ini terjadi secara massif. Sebuah riset berjudul “Pandangan Pemuda terhadap Pentingnya Tata Krama dan Budaya Pendidikan Anak Usia Dini” dimana respondennya merupakan remaja di kisaran usia 17-19 tahun memberikan Gambaran mengenai dekadensi identitas budaya ini. Dalam penilitian tersebut, tergambar bahwa 31,1% pelajar jarang mencium tangan orang yang lebih tua, 46,6% jarang membungkukkan badan ketika lewat di depan orang yang lebih tua, bahkan sejumlah 6,7% menyatakan tidak pernah. Lalu 66,7% mengaku sering melihat para pelajar berkata kotor atau kasar, dan 51% pelajar tidak lagi menggunakan kata “permisi” ketika melewati seseorang.

    Identitas budaya, penting tidak, sih?

     

    Sebut saja Raden, kebiasaannya yang suka menyendiri ini kerap membuat orang enggan untuk mengajaknya berinteraksi. Asik bermain gawai saat diajak mengobrol, hanya  berdeham ketika ada teman yang menyapa dengan senyuman, bahkan ketika hendak  melewati guru pun ia tak mengucap kalimat permisi. Terkesan individualis, bolak-balik ia  ditegur untuk memperbaiki sikap dan lebih terbuka. Coba kalian bayangkan, ketika memiliki  teman sepertinya, apa yang akan kalian rasakan? 

     

    Tak jarang, pada masa kini, Sebagian besar siswa merasa berat untuk sekedar mengucap kata maaf, terimakasih, dan meminta tolong. Tersenyum saat bertemu dengan teman pun mereka tak mau, apalagi menunduk ketika melewati orang yang lebih tua dari mereka. Padahal sikap sederhana seperti inilah yang menjadi bentuk penerapan nilai-nilai kesantunan dalam diri seseorang. 

     

    Namun, sayangnya degradasi identitas budaya ini terjadi secara massif. Sebuah riset berjudul “Pandangan Pemuda terhadap Pentingnya Tata Krama dan Budaya Pendidikan Anak Usia Dini” dimana respondennya merupakan remaja di kisaran usia 17-19 tahun memberikan Gambaran mengenai dekadensi identitas budaya ini. Dalam penilitian tersebut, tergambar bahwa 31,1% pelajar jarang mencium tangan orang yang lebih tua, 46,6% jarang membungkukkan badan ketika lewat di depan orang yang lebih tua, bahkan sejumlah 6,7% menyatakan tidak pernah. Lalu 66,7% mengaku sering melihat para pelajar berkata kotor atau kasar, dan 51% pelajar tidak lagi menggunakan kata “permisi” ketika melewati seseorang.

  • UNTUK KAMU YANG MASIH NIREMPATI: BELAJAR DARI TANTE SHARON

    UNTUK KAMU YANG MASIH NIREMPATI: BELAJAR DARI TANTE SHARON

    UNTUK KAMU YANG MASIH NIREMPATI: BELAJAR DARI TANTE SHARON

    Sudah lima belas hari berlalu sejak kasus meninggalnya Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Universitas Udayana. Peristiwa ini diwarnai isu perundungan dan perilaku nirempati dari beberapa mahasiswa yang terekam dalam tangkapan layar di grup percakapan yang kemudian memicu kemarahan publik di media sosial. Namun, di tengah gejolak tersebut, Ibunda Timothy, Tante Sharon, justru memancarkan keteladanan luar biasa: welas asih dan empati yang melampaui kesedihannya sendiri.

    Sikap mulia Tante Sharon bukan hanya cermin dari kemuliaan seorang ibu, tetapi juga kritik tajam terhadap kondisi masyarakat yang mulai kehilangan empati, khususnya di ruang digital. Empati yang ditunjukkan Tante Sheren ini menjadi panggilan moral bagi kita semua untuk merenungkan makna sejati dari empati.

    Empati Sejati Melampaui Penderitaan Pribadi

    Tante Sharon memilih jalan pengampunan daripada hukuman atau balas dendam. Tindakannya mencerminkan sikap welas asih yang jauh melampaui kebencian terhadap orang yang telah menyakiti anaknya. Alih-alih menghukum, beliau memutuskan untuk menganggap pelaku yang terlibat dalam perundungan kepada anaknya sebagai “anak baru” yang harus dipantau. Hal ini merupakan sikap welas asih dari Tante Sheren dengan memperlakukan pelaku sebagai individu yang melakukan kesalahan sesaat dan berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Pelaku tidak dilihat sebagai musuh, melainkan sebagai orang yang membutuhkan arah yang benar.

    Selain itu, Tante Sharon juga memberikan syarat “wajib lapor” kepada beberapa pelaku untuk mengedukasi dan membantu mereka berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ini adalah langkah untuk membentuk integritas dan tanggung jawab dalam diri mereka, sekaligus membawa semangat Timothy dalam hidup mereka. Hal ini bisa disebut sebagai kehangatan di tengah kehancuran. Alih alih melampiaskan amarah saat bertemu dengan pelaku, tante Sheren memilih untuk merangkul dan memberikan nasihat yang baik.

    Sikap Tante Sharon yang penuh welas asih ini mengkritik budaya nirempati yang semakin merajalela, terutama di dunia maya. Kasus ini menunjukkan bagaimana perundungan daring bisa berkembang begitu cepat, dengan individu yang merundung korban tanpa mengetahui siapa mereka sebenarnya. Tante Sheren mengungkapkan bahwa sebagian besar pelaku perundungan daring bahkan tidak mengenal Timothy secara pribadi.

    Perbedaan antara sikap welas asih seorang ibu yang berduka dan konten perundungan yang penuh hinaan menjadi panggilan bagi kita semua untuk melakukan introspeksi. Tragedi ini mengingatkan kita betapa mudahnya kehilangan empati saat berinteraksi, baik di kampus maupun di media sosial.

    Mengubah Duka Menjadi Perbaikan Sistem

    Tante Sharon tidak hanya menunjukkan empati melalui kata-kata, tetapi juga dengan langkah konkret untuk memperbaiki sistem yang ada, yaitu fokus pada kebijakan nasional dan mendorong konseling proaktif.

    Pertama, Tante menyerukan agar pihak kampus dan kementerian terkait berkolaborasi dalam membenahi pendidikan moral, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Beliau menyadari bahwa perundungan adalah masalah nasional yang tidak bisa diselesaikan hanya di tingkat perguruan tinggi. Kedua, beliau mendorong agar layanan konseling kampus lebih proaktif, untuk memastikan bahwa tidak ada mahasiswa yang merasa sendirian atau tertekan. Ini adalah langkah konkret untuk mendukung kesehatan mental mahasiswa dan mencegah tragedi serupa di masa depan.

    Hasthalaku: Pilar Karakter Bangsa yang Relevan di Era Digital

    Dalam nilai Hasthalaku, ada nilai-nilai seperti Tepa Selira (tenggang rasa dan empati) dan Andhap Asor (bersikap berbudi luhur dan tidak angkuh). Tante Sheren menunjukkan Tepa Selira dengan memberikan tenggang rasa kepada mereka yang terlibat dalam perundungan, bahkan ketika mereka adalah pelaku yang telah menyakiti anaknya. Andhap Asor, atau rendah hati, juga terlihat jelas dalam dirinya. Meskipun ia sedang dilanda kesedihan yang mendalam, Tante Sheren tetap bersikap rendah hati dan berbudi luhur, tidak terjerumus dalam kebencian atau balas dendam.

    Melalui penerapan nilai-nilai Hasthalaku ini, Tante Sharon memberi teladan hidup yang berharga bagi kita semua. Ia mengajarkan bahwa empati, kasih sayang, dan kebijaksanaan adalah kekuatan terbesar yang bisa mengubah dunia, khususnya dalam menghadapi tragedi.

    Tante Sharon telah memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Di tengah kesedihan yang luar biasa, beliau memilih untuk mengutamakan welas asih, memberi kesempatan kedua, dan dan berharap ada perbaikan sistem. Tragedi Timothy harus menjadi titik balik bagi kita untuk menghentikan budaya nirempati dan membangun masyarakat yang lebih berempati, dimulai dari keluarga, lingkungan pendidikan, dan ruang digital kita.

    Melalui keteladanan Tante Sharon, kita diajak untuk menumbuhkan empati dalam setiap langkah kita. Tidak hanya dalam keluarga, tetapi juga di media sosial dan masyarakat luas. Mari kita jadikan tragedi ini sebagai momentum moral untuk menciptakan dunia yang lebih baik, lebih peduli, dan penuh kasih sayang.

    Sumber:
    Video Podcast
    https://www.youtube.com/watch?v=UjmR0DgqIgA&t=168s&pp=ygUNZGVubnkgc3VtYXJnbw%3D%3D

    Berita
    https://regional.kompas.com/read/2025/10/28/15515761/belajar-rendah-hati-dari-ibunda-timothy?page=all

    https://www.suara.com/lifestyle/2025/10/25/111923/sosok-ibu-timothy-anugerah-besar-hati-maafkan-pembully-anaknya-ternyata-seorang-pengajar

  • Lomba Poster Sekolah Adipangastuti Tahun 2025 Se-Jawa Tengah Sukses Digelar

    Lomba Poster Sekolah Adipangastuti Tahun 2025 Se-Jawa Tengah Sukses Digelar

    Sekolah Adipangastuti kembali menyelenggarakan Lomba Poster Tingkat SMA Se-Jawa Tengah Tahun 2025 sebagai bagian dari upaya penguatan karakter peserta didik melalui media visual kreatif. Kegiatan ini diikuti oleh 160 siswa SMA yang berasal dari 44 SMA pendaftar dari total 67 SMA pelaksana Program Sekolah Adipangastuti se-Jawa Tengah. Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya partisipasi sekolah dalam mendukung penguatan nilai karakter melalui karya kreatif siswa.

    Lomba poster tahun ini mengangkat tiga tema utama, yaitu Hasthalaku, Perundungan (Bullying), dan Intoleransi. Ketiga tema tersebut dipilih untuk mendorong siswa mengekspresikan gagasan kritis, nilai karakter, serta kepedulian sosial melalui karya visual yang edukatif, komunikatif, dan inspiratif.

    Seluruh 160 karya poster yang masuk tidak hanya dinilai oleh dewan juri, tetapi juga dipamerkan secara terbuka selama kegiatan Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025. Pameran poster ini menjadi ruang apresiasi bagi seluruh peserta sekaligus media edukasi visual bagi para Duta Adipangastuti, guru pendamping, perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan undangan yang hadir. Beragam pesan tentang nilai Hasthalaku, penolakan terhadap perundungan, serta pentingnya toleransi disampaikan secara kreatif melalui visual yang kuat dan bermakna.

    Timeline Pelaksanaan Lomba

    Pelaksanaan Lomba Poster Sekolah Adipangastuti Tahun 2025 diawali dengan pengumuman lomba pada 24 Oktober 2025 yang dilaksanakan berbarengan dengan kegiatan Sebar Kawruh Online bersama BNPT RI. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan sosialisasi lomba sekaligus memperkuat pesan kebangsaan dan toleransi kepada satuan pendidikan.

    Tahapan selanjutnya adalah pendaftaran lomba poster yang dibuka pada 25–31 Oktober 2025, diikuti dengan pengumpulan karya lomba poster pada 1–30 November 2025 melalui mekanisme yang telah ditetapkan. Seluruh karya yang masuk kemudian melalui proses seleksi dan penjurian.

    Proses penjurian dilaksanakan oleh Bambang Nugroho, S.Sn., M.Sn., dengan memperhatikan kesesuaian tema, kreativitas dan orisinalitas karya, kekuatan pesan, serta kualitas visual. Dari hasil penilaian tersebut, terpilih para pemenang terbaik pada masing-masing tema.

    Pada Tema Hasthalaku, Juara I diraih oleh Ladyza Thirlita Gioria Pdepartris dari SMA Negeri 2 Klaten, Juara II oleh Zaenal Abidin dari SMA Negeri 1 Dempet, dan Juara III oleh Ghaida Nauira Agni F dari SMA Negeri 1 Dukun.

    Pada Tema Perundungan, Juara I diraih oleh Aghnia Shafa Maulana dari SMA Negeri 1 Welahan, Juara II oleh Reina Almira Aryaputri dari SMA Negeri 1 Sragen, dan Juara III oleh Adhiva Muzakir Filzah dari SMA Negeri 2 Boyolali.

    Sementara itu, pada Tema Intoleransi, Juara I diraih oleh Keyla Purwitasari dari SMA Negeri 1 Tangen, Juara II oleh Fernando Josua S. dari SMA Negeri 3 Pekalongan, dan Juara III oleh Lauren Zya Bintan Ferdyna dari SMA Negeri 1 Wonogiri.

     

    Penganugerahan pemenang lomba poster dilaksanakan pada hari kedua Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025, bertempat di Hotel Asia, pada 10 Desember 2025. Momen ini menjadi semakin bermakna karena berada dalam rangkaian kegiatan pelatihan yang bertujuan menyiapkan siswa sebagai agen perubahan dan teladan nilai karakter di lingkungan sekolah.

    Melalui lomba poster dan pameran karya ini, Sekolah Adipangastuti berharap nilai-nilai Hasthalaku, sikap anti perundungan, serta semangat toleransi dapat semakin tertanam kuat di lingkungan sekolah, sekaligus menumbuhkan kreativitas, kepekaan sosial, dan keberanian siswa dalam menyuarakan pesan positif bagi generasi muda.

  • Workshop “Berdaya dan Berkarya di Era Digital” di SMAN 1 Wonogiri

    Workshop “Berdaya dan Berkarya di Era Digital” di SMAN 1 Wonogiri

    SMAN 1 Wonogiri menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti pada Selasa, 16 Desember 2025, sebagai bagian dari upaya sekolah dalam membekali peserta didik dengan keterampilan abad ke-21. Kegiatan ini mengusung tema “Berdaya dan Berkarya di Era Digital.” Workshop ini menjadi ruang belajar yang inspiratif bagi siswa untuk memahami sekaligus mempraktikkan pemanfaatan teknologi digital secara positif dan bertanggung jawab.

    Peserta kegiatan berjumlah 36 siswa yang merupakan perwakilan dari masing-masing kelas, terdiri atas 15 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Dengan komposisi peserta yang representatif, kegiatan ini diharapkan mampu menularkan semangat literasi digital dan nilai-nilai Hasthalaku ke seluruh warga sekolah.

    Materi pertama disampaikan oleh Tia Brizantiana dengan topik “Hasthalaku di Dunia Digital.” Dalam sesi ini, peserta diajak untuk memahami pentingnya nilai Hasthalaku sebagai landasan karakter dalam berinteraksi di ruang digital. Pemateri menekankan bahwa dunia digital bukan ruang tanpa nilai, melainkan tempat di mana etika, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai harus tetap dijunjung tinggi. Siswa juga diberikan pemahaman mengenai jejak digital, dampak perilaku daring, serta peran generasi muda dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat dan beradab.

    Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Burhanudin Fajri dengan materi “Membuat Konten Praktik Baik Hasthalaku di Dunia Digital.” Pada sesi ini, peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran berbasis praktik. Siswa dibimbing untuk menggali ide, menyusun pesan, dan mengemas nilai-nilai Hasthalaku ke dalam bentuk konten digital yang edukatif dan menarik. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir kreatif, inovatif, serta peka terhadap isu-isu yang relevan dengan kehidupan remaja di era digital.

    Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan pembuatan storyline dan konten edukasi oleh para peserta yang dipandu oleh Risca Dj. Melalui aktivitas ini, siswa belajar bekerja sama, menyampaikan gagasan secara terstruktur, serta memanfaatkan teknologi multimedia sebagai sarana berkarya. Hasil karya yang disusun diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik sekaligus inspirasi bagi siswa lain dalam menggunakan media digital secara positif.

    Tujuan utama dari pelaksanaan IHT Sekolah Adipangastuti ini adalah membekali siswa dengan keterampilan dan literasi digital agar mampu berdaya dan berkarya sejak sekarang melalui pemanfaatan teknologi multimedia secara kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. “Dengan bekal tersebut, siswa diharapkan memiliki kesiapan, kepercayaan diri, serta daya saing dalam menghadapi tantangan dan peluang di masa depan,” ungkap Novi Fajar, Penanggung Jawab Sekolah Adipangastuti di SMAN 1 Wonogiri.

    Kepala SMAN 1 Wonogiri, Drs Susilo Joko Raharjo, M.Pd., menyampaikan harapan agar kegiatan ini menjadi langkah awal bagi siswa untuk berani berkarya di ruang digital. Hal tersebut dirangkum dalam kutipan inspiratif: “Berdaya dan berkarya digital sekarang, masa depan dalam genggaman.”

    Melalui kegiatan ini, SMAN 1 Wonogiri menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga berkarakter, beretika, dan siap berkontribusi positif di dunia digital.

     

  • Rangkaian Kegiatan Sekolah Adipangastuti di SMAN Colomadu: Kolaborasi Guru, Siswa, dan Pemangku Kepentingan

    Rangkaian Kegiatan Sekolah Adipangastuti di SMAN Colomadu: Kolaborasi Guru, Siswa, dan Pemangku Kepentingan

    SMAN Colomadu melaksanakan rangkaian kegiatan Program Sekolah Adipangastuti sebagai upaya strategis membangun budaya sekolah yang toleran, berkarakter, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Program ini dilaksanakan secara berkelanjutan sepanjang akhir tahun 2025 dan melibatkan guru, peserta didik, serta mitra eksternal sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan berbasis nilai budaya hasthalaku.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan Sosialisasi Sekolah Adipangastuti kepada guru yang dilaksanakan pada 3 Oktober 2025. Kegiatan ini menghadirkan Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, sebagai narasumber utama. Dalam sosialisasi tersebut, M. Farid Sunarto memaparkan konsep Sekolah Adipangastuti, nilai-nilai hasthalaku, serta peran strategis guru dalam menanamkan budaya toleransi dan karakter positif di lingkungan sekolah. Kegiatan ini dibuka dan didukung langsung oleh Kepala SMAN Colomadu saat itu, Soekarno, S.Pd., M.Si., yang menegaskan pentingnya keselarasan visi guru dalam mengimplementasikan program secara berkelanjutan.

    Memasuki bulan Desember 2025, terjadi pergantian kepemimpinan di SMAN Colomadu. Jabatan kepala sekolah resmi diemban oleh Ibu Dra. Suranti Tri Umiatsih, M.Eng., yang melanjutkan dan memperkuat komitmen sekolah dalam pelaksanaan Program Sekolah Adipangastuti.

    Selanjutnya, pada 4 Desember 2025, SMAN Colomadu menyelenggarakan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti untuk guru dan siswa dengan narasumber yang sama, Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si. IHT ini difokuskan pada internalisasi nilai hasthalaku kepada peserta didik melalui pendekatan dialogis dan partisipatif. Siswa diajak memahami perannya sebagai agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghargai. Kegiatan ini menjadi ruang penting bagi siswa untuk mengembangkan kesadaran karakter, kepemimpinan, serta tanggung jawab sosial.

    Puncak rangkaian kegiatan ditandai dengan Launching Sekolah Adipangastuti di SMAN Colomadu yang dilaksanakan pada 16 Desember 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Provinsi Jawa Tengah, Sugiharto, S.Pd., M.Pd. serta jajaran pengurus Solo Bersimfoni, yaitu Ketua, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., dan Direktur Operasional, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menjadi simbol dukungan dan penguatan kolaborasi antara sekolah dan mitra dalam mengimplementasikan pendidikan berbasis karakter dan toleransi.

    Sebagai tindak lanjut dan penguatan kapasitas siswa, SMAN Colomadu kembali menggelar Workshop on Creative Educational Content pada 18 Desember 2025. Workshop ini diikuti oleh perwakilan media center dari organisasi siswa di sekolah yaitu OSIS, MPK, Ambalan, Rohis, Rokat, dan Rokris. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Solo Bersimfoni yaitu Burhanudin Fajri, Tia Brizantiana, dan Ridwan Rivaldi Sukma, yang membekali peserta dengan keterampilan produksi konten edukatif dan kampanye kreatif berbasis nilai Sekolah Adipangastuti. Peserta dilatih mengemas pesan toleransi, budaya positif, dan karakter dalam bentuk konten digital yang komunikatif dan relevan dengan generasi muda.

    Melalui rangkaian kegiatan yang terencana dan berkesinambungan ini, SMAN Colomadu menunjukkan komitmen nyata dalam mengimplementasikan Sekolah Adipangastuti secara substantif. Program ini diharapkan mampu membangun budaya sekolah yang kuat, melahirkan guru dan siswa yang berkarakter, kreatif, serta siap menjadi agen perubahan positif di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

  • Seminar Sekolah Adipangastuti di SMAN 2 Ungaran: Menanamkan Nilai Hasthalaku Bersama Siswa

    Seminar Sekolah Adipangastuti di SMAN 2 Ungaran: Menanamkan Nilai Hasthalaku Bersama Siswa

    SMAN 2 Ungaran menyelenggarakan Seminar Sekolah Adipangastuti pada Senin, 8 Desember 2025 sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis budaya dan toleransi di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi SMAN 2 Ungaran sebagai peserta, dengan menghadirkan Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., sebagai narasumber.

    Seminar ini merupakan wujud komitmen sekolah dalam mengimplementasikan nilai-nilai Sekolah Adipangastuti, sebuah model sekolah toleran berbasis budaya Jawa yang menekankan pembentukan karakter peserta didik sebagai agen perubahan. Kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan dari Kepala Sekolah, Wiwin Sri Winarni, S.S., serta doa bersama sebagai bentuk penguatan nilai spiritual dan kebersamaan di lingkungan sekolah.

    Dalam sesi utama, M. Farid Sunarto menyampaikan materi tentang penguatan nilai hasthalaku yang menjadi fondasi Sekolah Adipangastuti. Delapan nilai budaya Jawa, yaitu hasthalaku, dijelaskan secara kontekstual dan relevan dengan kehidupan remaja masa kini. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif agar siswa tidak hanya memahami secara konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan pengalaman sehari-hari di sekolah maupun di luar sekolah.

    Para siswa diajak untuk merefleksikan peran mereka sebagai generasi muda dalam menjaga harmoni, menghargai perbedaan, serta mencegah segala bentuk kekerasan dan intoleransi di lingkungan pendidikan. Melalui diskusi dan contoh konkret, narasumber menekankan bahwa nilai hasthalaku bukan sekadar warisan budaya, tetapi pedoman sikap yang dapat membentuk karakter kepemimpinan, empati sosial, dan tanggung jawab moral siswa.

    Setelah istirahat, materi dilanjutkan dengan simulasi dan diskusi kelompok untuk merancang penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sekolah. Mulai dari cara membangun komunikasi yang saling menghargai, menyelesaikan konflik secara damai, hingga menciptakan budaya sekolah yang ramah dan inklusif. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan oleh perwakilan siswa sebagai bentuk pembelajaran kolaboratif.

    Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan siswa dalam bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan. Seminar ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran dan komitmen siswa untuk menjadi pelaku utama dalam membangun budaya positif di sekolah.

    Melalui Seminar Sekolah Adipangastuti ini, SMAN 2 Ungaran berharap siswa mampu menginternalisasi nilai-nilai hasthalaku dan menerapkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran siswa sebagai agen toleransi dan duta budaya positif, sejalan dengan upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, harmonis, dan berkarakter.

    Penutupan kegiatan ditandai dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam mendukung keberlanjutan Program Sekolah Adipangastuti.

  • Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah 2025: Menumbuhkan Agen Toleransi Berbasis Budaya di Kalangan Pelajar

    Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah 2025: Menumbuhkan Agen Toleransi Berbasis Budaya di Kalangan Pelajar

    Surakarta – Upaya membangun ekosistem pendidikan yang berbudaya, inklusif, serta bebas dari kekerasan dan intoleransi terus diperkuat di Provinsi Jawa Tengah. Perkumpulan Solo Bersimfoni dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) menyelenggarakan Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 yang berlangsung pada Selasa–Rabu, 9–10 Desember 2025 di Hotel Asia Solo. Kegiatan ini diikuti oleh 58 pelajar SMA dari 58 sekolah pelaksana Program Sekolah Adipangastuti yang tersebar di Jawa Tengah.

    Pelatihan ini merupakan bagian dari penguatan Program Sekolah Adipangastuti, sebuah model sekolah toleran berbasis budaya Jawa yang mengarusutamakan nilai hasthalaku sebagai pedoman perilaku warga sekolah. Delapan nilai hasthalaku—gotong royong, graprak semanak, guyub rukun, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor, dan tepa selira—diposisikan sebagai fondasi karakter untuk membangun generasi muda yang berintegritas, toleran, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

    Kegiatan dibuka secara resmi dengan sambutan dari Walikota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, S.H., M.Kn., yang menegaskan bahwa Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan yang aman, toleran, dan inklusif bagi generasi muda. Ia menilai program ini sebagai bagian penting dari upaya pencegahan kekerasan, intoleransi, dan berbagai tantangan sosial yang kian kompleks di lingkungan sekolah.

    Respati menyampaikan apresiasinya kepada Solo Bersimfoni beserta seluruh mitra sekolah yang secara konsisten mendorong penguatan nilai-nilai perdamaian dan toleransi di Jawa Tengah. Menurutnya, program Adipangastuti bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun karakter generasi muda yang berintegritas dan berdaya saing. Ini adalah investasi untuk masa depan bangsa,” ujarnya.

    Dalam sambutannya, Walikota juga menyoroti realitas yang dihadapi remaja saat ini, di mana kekerasan, perundungan, intoleransi, hingga disinformasi mudah memengaruhi ruang belajar dan pergaulan. Oleh karena itu, keberadaan Duta Adipangastuti dinilai sangat strategis sebagai penggerak perubahan di lingkungan sekolah. Para peserta diharapkan tidak hanya menjadi simbol program, tetapi mampu mengambil peran aktif sebagai pemimpin muda yang menjaga ruang sekolah tetap aman, menghargai keberagaman, dan menumbuhkan solidaritas antarsesama.

    Respati menekankan bahwa pelatihan ini harus dimaknai sebagai proses pembentukan karakter kepemimpinan yang bijak, berani, dan bertanggung jawab. Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama pelatihan dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sekolah sehari-hari dan menginspirasi teman sebaya untuk terlibat dalam gerakan toleransi.

    Menutup sambutannya, Walikota Surakarta menegaskan komitmen Pemerintah Kota Surakarta untuk terus memperkuat kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil seperti Solo Bersimfoni. Ia berharap gerakan toleransi yang dibangun melalui Sekolah dan Duta Adipangastuti dapat tumbuh menjadi budaya yang mengakar, bukan sekadar program jangka pendek. “Masa depan toleransi di Jawa Tengah berada di tangan generasi muda yang berani dan berintegritas,” pungkasnya.

    Senada dengan hal tersebut, perwakilan dari BNPT RI menekankan pentingnya pendekatan pencegahan intoleransi sejak usia sekolah. Assoc. Prof. Muhammad Suaib Tahir, Lc., M.A., Staf Ahli Bidang Pencegahan BNPT RI, dalam sesi materinya menyampaikan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya merupakan benteng utama dalam mencegah radikalisme. Pencegahan dini melalui penguatan daya tangkal terhadap paham ini terutama di lingkungan pendidikan merupakan salah satu langkah penting untuk memutus sel-sel radikal terorisme,” ujarnya.

    Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa sejak tahun 2019 hingga 2025, Sekolah Adipangastuti telah menjangkau 67 SMA di Jawa Tengah. Ia menegaskan peran strategis Duta Adipangastuti sebagai agen perubahan di sekolah. “Duta Adipangastuti bukan hanya simbol, tetapi penggerak. Mereka diharapkan mampu menghidupkan nilai hasthalaku dalam praktik nyata, baik di sekolah maupun di masyarakat,” tuturnya.

    Pada sesi materi kepemimpinan Perempuan; Peran Remaja Membangun Kesetaraan, Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A., menekankan pentingnya peran remaja, khususnya perempuan, dalam membangun kesetaraan dan budaya saling menghargai. “Remaja hari ini adalah pemimpin masa depan. Kepemimpinan yang berangkat dari empati, kesetaraan, dan keberanian menyuarakan kebaikan akan menjadi kunci terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan inklusif,” ungkapnya di hadapan para peserta.

    Sementara itu, Prof. Agung Nur Probohudono, Ph.D., Ak., CA., CFr.A., Direktur Program Solo Bersimfoni, mengajak para peserta untuk membangun ketangguhan diri melalui konsep Resilience Impact Leadership. Ia menyampaikan, “Pemimpin muda harus tangguh, mampu bangkit dari tantangan, dan berani memberi dampak positif bagi sekitarnya. Nilai hasthalaku memberi fondasi kuat bagi lahirnya kepemimpinan yang beretika dan berdaya guna.”

    Pembekalan keterampilan kampanye digital disampaikan oleh Triana Rahmawati, content creator asal Solo. Dalam sesinya, ia menekankan pentingnya kreativitas yang dibarengi dengan etika. “Media sosial bisa menjadi ruang edukasi yang sangat kuat. Konten yang positif, jujur, dan beretika akan membantu pesan toleransi dan hasthalaku menjangkau lebih banyak orang,” jelasnya.

    Pada hari kedua, para peserta mengikuti Solo Walking Tolerance Tour yang dipandu oleh Soerakarta Walking Tour. Peserta mengunjungi berbagai rumah ibadah dan situs bersejarah di Kota Surakarta, seperti Masjid Agung Surakarta, GPIB Penabur, Gereja St. Antonius, Klenteng Tien Kok Sie, Benteng Vastenburg, Reco Gladak, dan Ringin Kembar Alun-Alun Utara. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung tentang praktik toleransi dan kehidupan multikultural yang telah lama tumbuh di Kota Solo.

    Rangkaian kegiatan ditutup dengan penganugerahan pemenang Lomba Poster Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025, sekaligus menjadi penegasan komitmen bersama untuk terus mengampanyekan nilai hasthalaku secara kreatif dan berkelanjutan.

    Melalui Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 ini, Solo Bersimfoni berharap para peserta mampu menyusun dan menjalankan rencana tindak lanjut di sekolah masing-masing serta menjadi garda terdepan dalam mencegah kekerasan dan intoleransi. Dengan berlandaskan nilai budaya lokal, Duta Adipangastuti diharapkan tumbuh sebagai generasi muda yang berkarakter, berdaya, dan berkontribusi nyata bagi terciptanya lingkungan pendidikan yang damai dan inklusif.