Category: Featured

  • The Eight Values: Discovering the Unique Identity of Solo Youth

    The Eight Values: Discovering the Unique Identity of Solo Youth

    The history of Solo is closely entwined with the history of the Surakarta Sultanate, which followed the Mataram Sultanate. Solo is well-known as a centre of ancient Javanese culture because it has traditionally served as a political hub and centre for development of Javanese traditions. (more…)

  • CEGAH INTOLERANSI, KEMBALI KE HASTHALAKU

    CEGAH INTOLERANSI, KEMBALI KE HASTHALAKU

    Sebut saja namanya Ibu Tika. Guru salah satu SMA di Solo ini sudah lama prihatin melihat kondisi anak didiknya. Mereka seakan melupakan sopan santun. Saat berpapasan dengan guru yang tidak mengajar mereka, tak ada senyum, apalagi sapa. Keprihatinannya makin menjadi, ketika salah satu muridnya, perempuan, berencana tidak lagi meneruskan kuliah. “Saya kan perempuan, perempuan tidak perlu pendidikan tinggi,” begitu ia mengenang jawaban sang murid. (more…)

  • MEMUPUK TOLERANSI MELALUI SEKOLAH ADIPANGASTUTI

    MEMUPUK TOLERANSI MELALUI SEKOLAH ADIPANGASTUTI

    Surakarta, Kamis 20 Juni 2019. Solo Bersimfoni mengadakan sosialisasi model sekolah Adipangastuti kepada 50 kepala sekolah dan 50 guru SMA/SMK se-Soloraya. Sekolah ini adalah sebuah model sekolah yang menerapkan sikap perilaku bijaksana, baik, lembut dan sabar dengan dengan menekankan nilai-nilai lokal budaya Jawa (Hasthalaku).

    (more…)

  • SOLO BERSIMFONI TURUT MENGINISIASI PERWALI PEMBANGUNAN KEPEMUDAAN KOTA SURAKARTA

    SOLO BERSIMFONI TURUT MENGINISIASI PERWALI PEMBANGUNAN KEPEMUDAAN KOTA SURAKARTA

    Pada Selasa 11 Juni 2019, Solo Bersimfoni bersama dengan Bapppeda Kota Surakarta dan organisasi kepemudaan di Solo mengadakan kelanjutan dari diskusi kelompok terfokus yang diadakan pada 22 Mei 2019 lalu . Forum ini membahas Peraturan Walikota tentang Pembangunan Kepemudaan Kota Surakarta. “Ranah yang dilakukan oleh Solo Bersimfoni saat ini terkait dengan program yang telah diamanatkan dari Bappenas, yaitu pencegahan ekstremisme kekerasan”. (M. Farid Sunarto – Ketua Solo Bersimfoni). (more…)

  • Fragmen Solo Bersimfoni Di CFD (Car Free Day)

    Fragmen Solo Bersimfoni Di CFD (Car Free Day)

    Solo, Minggu 28/4/2019, Jl. Slamet Riyadi Kota Solo

    pat di depan Bank BRI Surakarta Jalan Slamet Riyadi Forum Milenial Soloraya (FORMES) menggelar kegiatan #PERCAYAKPU yang dikuti oleh kurang lebih 100 elemen remaja milenial se-Soloraya, serta dihadiri oleh KPU Surakarta dan juga Banwaslu Surakarta. Kegiatan yang dilaksanakan pada saat Car Free Day (CFD) ini dimulai pukul 07.00 – 09.00 WIB.

    (more…)

  • Pesan Toleransi Untuk Milenial

    Pesan Toleransi Untuk Milenial

    Solobersimfoni.org, Surakarta,- Menyambut perkembangan teknologi yang sangat pesat Solo Bersimfoni Bekerjasama dengan Center for the Study of Islam and Social Transformation (Cisform) mengadakan pemutaran dan diskusi Film bertemakan “Toleransi”.

    (more…)

  • Bullying di Sekolah

    Bullying di Sekolah

    Tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya mengalami bullying di sekolah.  Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan, seyogyanya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk mendapatkan pembinaan pengetahuan dan mental terbaik selain di rumah. (more…)

  • Yuk Kita Cegah Bullying disekitar kita

    Yuk Kita Cegah Bullying disekitar kita

    Gambar Yuk Kita Cegah Bullying disekitar kitaKomisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 26 ribu kasus anak dalam kurun 2011 hingga September 2017. Laporan tertinggi yang diterima KPAI adalah anak yang berhadapan dengan hukum.

    “Anak berhadapan dengan hukum sebanyak 34 persen salah satu contohnya kasus kekerasan Thamrin City. Selanjutnya permasalahan keluarga dan pengasuhan 19 persen,” kata Komisioner KPAI Retno Listyarti dalam diskusi ‘Stop Bullying di Sekolah’ di DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Rabu (4/10/2017).

    Kasus lain yang diterima oleh KPAI seperti masalah pendidikan serta pornografi dan cybercrime. Retno pun menyayangkan kasus bully di Thamrin City yang berujung pencabutan KJP anak pelaku bully.

    “Melihat kasus Thamrin di mana 9 anak melakukan kekerasan di mana para pelaku KJPnya dicabut kemudian dikeluarkan dari sekolah. Ini akan menjadi masalah baru karena sama saja pelaku dicabut hak anaknya untuk mendapat pendidikan,” lanjut Retno.

    “Memang ini kasus kekerasan tapi karena pelaku dan korban adalah anak-anak, penyelesaian masalah ini tidak harus masuk ranah hukum,” sambung Retno.

    Wakil Sekretaris Jenderal PSI Danik Eka Rahmaningtiyas mengakui sulitnya memutus mata rantai kasus bully anak menjadi permasalahan. Sebab, korban bisa menjadi pelaku dan pelaku dapat pula menjadi korban.

    “Ini memang lingkaran setan bagaimana putusnya tentu tergantung pula mindset masyarakat. Dihentikan lewat peraturan tentu tidak akan bisa kalau SDM tidak disiapkan karena itu tataran sosialisasi serta pendampingan dan pencegahan menjadi upaya preventif seperti rehabilitasi,”papar Danik.

    “Ini memerlukan andil bagian dari banyak orang untuk memutus bersama mata rantai yang sudah mengakat kuat,” imbuhnya.

    Hal senada juga disampaikan perwakilan komunitas SudahDong yang merupakan gerakan anti bullying, Ira Savitri. Menurutnya, peran serta keluarga dan lingkungan untuk memberikan edukasi. Dia meyakini baik korban maupun pelaku bully baik di sekolah maupun lingkungan tidak boleh ditinggalkan.

    “Tentunya untuk memutus mata rantai bully selain rehabilitasi dan trauma healing, pendekatan dengan informatif serta edukasi bisa memberikan pendidikan yang baik. Tentunya bagaimana menghentikan diri sendiri, karena indikasi sebagai pelaku bully juga harus di stop agar tidak menjurus hingga perbuatan bullying,” jelasnya.

    “Kita tidak bisa meninggalkan baik pelaku atau korban, karena bisa saja pelaku menjadi korban karena telah membully yang nantinya teman-teman sekitarnya kembali membully dia,” tuturnya.

     

    Sumber: http://www.kpai.go.id/berita/kpai-terima-aduan-26-ribu-kasus-bully-selama-2011-2017

  • Belajar Hastha Laku di Urban Social Forum 6th

    Belajar Hastha Laku di Urban Social Forum 6th

    Gambar Belajar Hastha Laku di Urban Social Forum 6thSolobersimfoni.org.- Surakarta, Berpartisipasi dalam kegiatan Urban Socal Forum yang diselenggarakan Yayasan Kota Kita, Solo Bersimfoni hadir dan menyampaikan materi untuk menjaga dan mendorong toleransi dalam berkehidupan di tengah kota. Bertempat di Halaman Studio Lokananta, Solo Bersimfoni Hadir dalam panel 09, pada hari Sabtu 15 Desember 2018 dengan dengan materi bertemakan “Hastha Laku Penjaga Toleransi”. Ketua Solo Bersimfoni M. Farid Sunarto, S. Pd, M. Si dalam materinya mengenalkan dan mengkampanyekan nilai-nilai luhur Hastha Laku yang selama ini konsisten dikampanyekan oleh Solo Bersimfoni kepada peserta.

    Dalam kesempatan materi yang diberikan Solo Bersimfoni peserta terlihat antusias dalam mengenal lebih jauh tentang Hastha Laku. Terlihat dari banyaknya antusias dalam sesi diskusi, bahkan ada yang menyampaikan ketertarikannya untuk bergabung menjadi volunteer Solo Bersimfoni. Memang selain membawakan materi tentang Hastha Laku Ketua Solo Bersimfoni M. Farid Sunarto, S. Pd, M. Pd. Juga menyampaikan terkait tiga pilar yang digunakan oleh Solo Bersimfoni yaitu Riset yang menghasilkan Modul Hastha Laku, Training of Trainer Solo Bersimfoni yang akan menghasilkan Volunter yang biasa disebut Sahabat Simfoni dan Branding and Campaign.

    Urban Social Forum kali ini adalah yang ke 6 yang diselenggarakan oleh Yayasan Kota Kita dengan mengusung tema “Another City is Posible”. “Urban Social Forum diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan akses informasi untuk seluruh elemen masyarakat dalam mencari jawaban bersama tentang strategi pembangunan kota yang lebih inklusif. Mengusung slogan “Another City is Possnblet’. USF 6 meyakini bahwa kota di Indonesia yang diidam-idamkan, kota yang lebuh manusiawi adalah mungkin,” kata Ahmad Rifai sebagai penyelenggara yang merupakan direktur Yayasan Kota Kita.

    Setelah hadir di berbagai Kota di Indonesa Urban Social Forum yang ke 6 ini kembali diselenggarakan di Kota Surakarta yang merupakan Kota Pertama diselenggarakannya Urban Social Forum. Acara ini berpusat di duaa tempat di Surakarta yaitu di Halaman Studio Lokananta dan di Sanggar Rumah Banjarsari. Tidak hanya Solo Bersimfoni yang berpartisipasi dalam kegiatan ini tapi juga banyak organisasi khususnya yang menjalankan kegiatannya di Kota  Surakarta turut meramaikan acara dalam 16 panel diskusi dan 3 loka karya. Setidaknya ada 800 perkiraan peserta yang hadir yang terdiri dari perwakilan organisasi, pelajar, pemuda, dan mahasiswa yang ada di Surakarta.

  • Menyebar Pesan Damai Lewat Seni Tradisional

    Menyebar Pesan Damai Lewat Seni Tradisional

    Ketoprak

    Yuk, Ramaikan Pentas Ketoprak Kolosal Solo Bersimfoni!

    Surakarta, Solobersimfoni.org – Berkolaborasi dengan Ketoprak Kampung Balekambang Surakarta dan Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, Solo Bersimfoni akan menyelenggarakan pergelaran Ketoprak Kolosal dengan lakon “Cempoko Mulyo” pada Sabtu, 24 November 2018 mulai pukul 18.00 di halaman RRI Surakarta.

    Sebagian pemain dalam pementasan ketoprak ini adalah para Sahabat Simfoni dan didedikasikan untuk merawat budaya damai dan toleran pada generasi muda di Solo. Menggenapkan niat itu, Solo Bersimfoni mengundang 165 siswa-siswi sekolah menengah di Solo untuk turut hadir.

    Memeriahkan pementasan ketoprak, turut digelar Festival Wedangan yang diikuti oleh delapan warung wedangan, masing-masing mengusung tema Hastha Laku. Mereka akan menyajikan wedang dan jajanan khas Solo secara cuma-cuma bagi seluruh tamu yang hadir.

    Solo Bersimfoni berharap kegiatan ini dapat menginspirasi remaja untuk memahami budaya damai dan toleran di lingkungan mereka, sehingga timbul kesadaran untuk menjaga dan turut menyebarkan perilaku positif, terutama perilaku berbasis budaya Jawa yang tersebut dalam Hastha Laku: Tepa Slira (tenggang rasa), Lembah Manah (rendah hati), Andhap Ashor (berbudi luhur), Grapyak Semanak (ramah tamah), Gotong Royong (saling membantu), Guyub Rukun (kerukunan), Ewuh pekewuh (saling menghormati), dan Pangerten (saling menghargai).

    Acara yang bisa dinikmati masyarakat umum ini menyediakan 1000 TIKET GRATIS yang bisa didapatkan di tautan loket.com/event/ketoprak-kolosal-dan-festival-wedangan-gratis-bys dan diambil langsung di Kantor Solo Bersimfoni, Kantor Kadin Surakarta, dan Kantor RRI Surakarta. Bagi yang tidak bisa hadir, pementasan ketoprak bisa didengarkan langsung dari RRI Pro 1 (101 MHz FM)/ Pro 2 (972 KHz AM).

    Solo Bersimfoni merupakan perkumpulan sosial kemanusiaan yang didirikan oleh para tokoh muda Solo dengan tujuan merawat budaya damai dan mendorong perilaku toleransi di kalangan remaja. Dalam hal ini Solo Bersimfoni menggunakan pendekatan budaya dengan mengedepankan nilai-nilai luhur dalam budaya masyarakat Jawa. Solo Bersimfoni tidak berafiliasi kepada partai politik atau kelompok tertentu.

    Ayo segera daftarkan diri Anda atau datang ke tempat-tempat yang disebutkan di atas untuk pengambilan tiket.

     

    Untuk informasi lebih lanjut mohon menghubungi 0857-2865-5245 (Insani).