Close

MEMAKNAI KARTINI, MENGHIDUPKAN GAGASANNYA

“Teman-teman saya di sini berkata, bahwa lebih bijaksana bagi kami (Kartini dan kedua adiknya) jika kami tidur dulu seratus tahun lamanya – kalau kami bangun kembali, itulah saat yang baik untuk kami… Jawa sudah sampai sejauh yang kami inginkan.” – Cerita Kartini dalam surat kepada Nn. E.H. Zeehandelaar-atau dipanggil Stella-

(6 November 1899).

Sebagai perempuan yang lahir pada akhir abad ke-19, Kartini memiliki pemikiran yang melampaui zamannya. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisi surat-surat Kartini dengan sahabat-sahabatnya, Kartini banyak bercerita tentang pemikiran-pemikirannya terutama sebagai perempuan Jawa. Kartini tak hanya seorang tokoh emansipasi, tetapi seorang pemikir kritis yang berani menggugat ketidakadilan. Lebih jauh lagi, Kartini mengkritik budaya patriarki dan ketimpangan sosial. Baginya, semua perbuatan yang menyebabkan semua manusia menderita, adalah dosa.

 

Saparinah Sadli, guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan penulis Kartini Pribadi Mandiri, menyebutkan bahwa yang membedakan Kartini dengan pahlawan lain adalah Kartini meninggalkan tulisan, yang sampai saat ini, 122 tahun setelah wafatnya, tulisan tersebut masih bisa menjadi inspirasi perempuan. 

Cerita Hidup Kartini

 

Kartini menjalani pendidikan hanya sampai usia 12 tahun. Setelah bersekolah di Europese Lagere School (ELS), dia dipingit dan tidak boleh keluar rumah selama belum memiliki suami. Pingitan merupakan hal yang biasa dijalani oleh perempuan Jawa pada masa itu, mereka dipersiapkan untuk menerima lamaran dan menikah. Kartini mencoba berbagai cara untuk mengubah pikiran orang tuanya agar diizinkan melanjutkan pendidikan di Semarang, tetapi gagal. Sebagai rasa sayang kepada Kartini, ayahnya memperbolehkan Kartini mengakses berbagai literasi dari dalam dan luar negeri, terutama tulisan bertema gerakan feminisme dan sosialis yang digandrungi di Eropa saat itu. Dari situ Kartini memahami bahwa pendidikan yang merata penting bagi kemajuan perempuan. 

 

Pada usia 16 tahun, Kartini dan kedua adiknya, Roekmini dan Kardinah, dibebaskan dari pingitan tanpa harus terikat pada pernikahan. Dalam suratnya kepada Stella (25 Mei 1899), Kartini menceritakan satu hari yang sangat menyenangkan. Pada 2 Mei 1889, mereka bertiga ikut ayahnya ke Semarang untuk merayakan penobatan Ratu Wilhelmina. Hal ini menjadi kemenangan besar dan juga pertunjukan yang aneh saat gadis-gadis usia mereka boleh tampil di muka umum. Kejadian yang menjadi perbincangan dan bahkan dirayakan ini tak memuaskan Kartini. Baginya kebebasan bukan perayaan atau bersenang-senang. Kebebasan berarti bisa mandiri, merdeka, dan tidak bergantung pada orang lain. 

 

Suatu ketika, Kartini bercakap-cakap dengan ibunya tentang hal-ihwal perempuan. Saat itu, dia mengungkapkan bahwa tak ada satu pun yang menarik dan dia dambakan kecuali diperbolehkan berdiri sendiri. Ibunya menanggapi bahwa belum ada seorang pun di antara mereka yang berbuat demikian. “Maka tibalah waktunya, bahwa seseorang suatu ketika akan berbuat begitu,” jawab Kartini.

 

Sekolah Perempuan Bumiputra

 

Awalnya, Kartini ragu apakah bisa mewujudkan cita-cita menjadi guru dan membangun sekolah perempuan. Namun keragu-raguan itu sirna saat ayahnya memperbolehkan Kartini menempuh pendidikan guru. Menurut ayahnya, pikiran menjadi guru pada sekolah gadis Bumiputra sangat bagus. Kartini pernah memiliki rencana dan peluang untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda, tetapi dia tidak jadi berangkat karena berbagai pertimbangan. Meski demikian, cita-cita Kartini menjadi guru akhirnya terwujud, walaupun tanpa ijazah formal. Ia dan kedua adiknya mendirikan sekolah perempuan pada 1903 di Jepara. Mereka bertiga juga mengajar di sekolah tersebut.

 

Dalam surat kepada Ny. R.M. Abendanon (4 Juli 1903), Kartini menceritakan betapa senangnya ia meski hanya ada satu murid, yang kemudian berkembang menjadi tujuh. Murid-murid datang empat kali seminggu untuk belajar membaca, menulis, hingga keterampilan hidup seperti menjahit, merenda, dan memasak.

 

Salah satu momen paling menyentuh saat seorang ibu datang dari jauh untuk menitipkan anaknya belajar pada Kartini, karena ia sendiri tak pernah merasakan pendidikan, dan ingin anaknya mendapatkan kesempatan itu. Sang ibu berkata bahwa di mana pun Kartini membuka sekolah, dia pasti akan datang untuk mengantarkan anaknya.

 

“Panggil Aku Kartini Saja”

 

Dalam surat pertamanya kepada Stella (25 Mei 1899), Kartini minta dipanggil namanya saja. Surat ini menjadi jawaban iklan Kartini di majalah De Hollandsche Lelie. Stella, seorang aktivis feminis Belanda kemudian menjadi teman korespondensi Kartini. Surat ini yang memulai Kartini mengenal banyak tokoh feminis dan politik etis di Belanda.

 

Memanggil Kartini hanya dengan nama merupakan satu perlawanannya terhadap feodalisme. Dia yang merupakan anak perempuan kedua Bupati Jepara Sosroningrat yang mengalir darah bangsawan.

 

Dalam surat keduanya (18 Agustus 1899), Kartini mengungkapkan keinginannya untuk menghapus tata krama kaku antara kakak dan adik. Kartini, Roekmini, dan Kardinah, yang kemudian disebut three sister menjadi dekat karena menjalani pingitan hampir bersamaan. Selama masa itu, Kartini mengizinkan adik-adiknya memanggil dengan kata “kamu”, begitu pun sebaliknya. Hal ini menjadi perlawanan pertamanya di lingkungan keluarganya sendiri. Kartini melepaskan etiket yang dinilai ruwet, dengan menghapuskan bahasa Jawa halus (kromo inggil) dan melakukan sembah, sebagaimana yang lazim saat itu, dari adik kepada kakaknya.

 

Kebahagiaan di Akhir Hidup Kartini

 

Saat berusia 24 tahun, Kartini yang dianggap oleh masyarakat terlalu tua untuk menikah, dilamar Bupati Rembang. Demi rasa sayang kepada ayahnya, Kartini menerima lamaran tersebut dan bersedia menjalani poligami. Namun, ia berkompromi dengan memberikan syarat kepada calon suaminya.

 

Kartini bersedia diperistri jika Bupati Rembang menyetujui gagasan dan cita-citanya untuk membuka sekolah dan mengajar putri-putri pejabat Rembang, seperti yang ia lakukan di Jepara. Kartini juga tak mau ada prosesi jalan jongkok, berlutut, dan menyembah kaki mempelai pria saat resepsi. Terakhir, ia akan berbicara dalam bahasa Jawa ngoko dan bukan krama inggil kepada suaminya, sebagai penegasan bahwa seorang istri haruslah setara.

 

Meski diawali dengan keraguan, Kartini bahagia dengan pernikahannya. Dalam surat kepada Tuan Abendanon dan Nyonya (11 Desember 1903), Kartini bercerita bagaimana dia dan suaminya memiliki impian yang sama. Dia berkata jika mereka bertemu, pasti akan menyukai suaminya yang memiliki pemikiran cerdas dan baik hati. Sesuai dengan gambaran Kartini tentang seorang bangsawan terhadap rakyatnya. 

 

Kartini meninggal di usia sangat muda, 25 tahun, empat hari setelah melahirkan anaknya. Dia meninggal dalam rangkulan suaminya dengan penuh kasih. Dalam surat suaminya kepada Tuan Abendanon, seminggu setelah Kartini wafat, Bupati Rembang tersebut mengatakan bahwa dalam sepuluh bulan bersama Kartini, dia merasakan kebahagiaan. Kartini baginya adalah penjelmaan dari kasih sayang, dengan pandangan yang luas, sehingga tak ada seorang pun di antara saudara-saudara perempuan bangsa Bumiputra yang menyamainya.

 

Perempuan di Era Modern

 

Kini, di tahun 2026, semakin banyak perempuan yang bisa melangkah lebih bebas seperti menentukan pilihan, dan menjalani hidup dengan caranya sendiri, seperti yang pernah dibayangkan oleh Kartini. Namun, kebebasan itu hadir dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang sudah menjalaninya dengan leluasa, ada pula yang masih berkompromi dengan rasa aman, dukungan sekitar, dan kesempatan yang belum selalu sama.

 

Dalam keseharian, hal ini terasa lewat hal-hal yang dekat. Perempuan sudah bisa memilih pendidikan dan pekerjaan yang diinginkan, menentukan pasangan hidupnya sendiri, atau bepergian tanpa harus selalu ditemani. Di saat yang sama, masih ada stigma yang ikut hadir, seperti komentar yang misoginis, ekspektasi dalam peran rumah tangga, atau rasa was-was ketika harus beraktivitas dan berada di luar pada malam hari. Di antara pengalaman yang beragam itu, kebebasan perempuan terus bergerak dan bertumbuh, sedikit demi sedikit, dengan cara yang tidak selalu sama.

 

Semoga peringatan Kartini tidak hanya dimaknai melalui simbol seperti berkebaya, tetapi juga menjadi momen untuk mengenang dan menghidupkan kembali gagasan-gagasannya tentang perempuan yang memiliki ruang untuk tumbuh dan merdeka. 

 

Tia Brizantana – Program Officer Solo Bersimfoni