Hastha Laku

Solo Bersimfoni menjadikan aspek budaya jawa (Solo) menjadi instrument utama.

Implementasi dari pendekatan budaya dan perilaku yang dikembangkan Solo Bersimfoni yaitu menjadikan aspek budaya jawa (Solo) menjadi instrument utama dan sebuah model untuk merubah perilaku intoleran / radikal menjadi perilaku yang toleran dan bersahabat.

Solo Bersimfoni menyebutnya sebagai “Hastha Laku Solo” atau Delapan Perilaku yang dikembangkan yaitu :

  1. Tepa Slira (tenggang rasa – Solidarity),
  2. Lembah Manah (rendah hati – Humble),
  3. Andhap Ashor (berbudi luhur – Virtuous),
  4. Grapyak Semanak (ramah tamah – Friendly),
  5. Gotong Royong (Saling membantu – Helpfulness),
  6. Guyub Rukun (kerukunan – Harmony),
  7. Ewuh pekewuh (saling menghormati – Mutual Respect),
  8. Pangerten (saling menghargai – Compassionate).

Delapan nilai tersebut berkaitan erat terhadap nilai-nilai dalam kehidupan yang harmonis.

Harapan Solo Bersimfoni,  masyarakat semakin sadar, mau peduli dan berpatisipasi untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan secara dini tindakan intoleran dan radikal yang tepat sasaran untuk memperoleh hasil yang maksimal.