Category: Campaign

  • Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya

    Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya

    Oleh: M Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni

    Social distancing sampai kapan?

    Anda terus mendengar orang-orang mengatakan social distancing atau jarak sosial, tetapi apa artinya itu? Jangan berharap itu menjadi istilah yang hilang dalam waktu dekat. Pikirkan itu lebih seperti physical distancing atau jarak fisik. Dalam bentuk yang paling sederhana, menjauhkan sosial, berarti menjaga jarak yang aman antara Anda dan orang-orang di sekitar Anda. WHO mengatakan ini adalah salah satu cara efektif yang membantu memperlambat penyebaran COVID-19 dan mengontrol kapasitas medis dan rumah sakit.

    Tidak percaya? coba pertimbangkan kasus ini, ketika virus H1N1 mulai menyebar di Meksiko, pemerintah menutup sekolah dan merekomendasikan jarak sosial. The National Institute of Health menyebutkan bahwa langkah-langkah ini bisa memotong tingkat penularan sebesar 37 persen dan membantu rumah sakit menangani volume pasien sedikit lebih mudah. Tidak meyakinkan?  ini contoh lain di Amerika, Kota St. Louis memberlakukan beberapa langkah jarak sosial pada tahun 1918 setelah Perang Dunia Pertama untuk mencegah penyebaran influenza (flu, keluarga virus yang berbeda dari COVID-19) yang menutup sekolah, gereja, dan teater, sama seperti yang kita lakukan sekarang. Tercatat 1700 orang meninggal karena flu di St. Louis. Sedangkan Philadelphia tidak memaksakan tindakan yang sama pada saat itu, dan jumlah korban meninggal mencapai 16.000 orang. Tim medis dan rumah sakit di Philadelpia pada saat itu melaporkan bahwa mereka tidak dapat menampung semua pasien.

    Nah, terkait pencegahan penularan COVID-19, beberapa kepala daerah mengambil preventif untuk mengatur warganya. Walikota Surakarta Fx Hadi Rudyatmo sendiri memperpanjang status Kejadian Luar Biasa (KLB) COVID-19 hingga 13 April 2020 mendatang. Bahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menetapkan status tanggap darurat bencana COVID-19 untuk provinsi Jawa Tengah hingga 29 Mei 2020. Artinya bahwa masih cukup lama masyarakat harus bersabar dan menahan diri tidak keluar rumah, mengontrol anak-anak tetap di rumah, membatasi pergerakan sosial semua orang, baik di tempat-tempat peribadatan, kegiatan hajatan, pertemuan komunitas dan sebagainya. Bahkan Kapolri telah memberikan larangan yang berdampak penghentian paksa kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang. Ini semua akan membantu membatasi penyebaran COVID-19 dan mengendalikan kapasitas medis dan rumah sakit dalam menangani pasien.

    Tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan penularan COVID-19 di Indonesia ini akan terkendali. Prof. Dr. Sutanto Sastraredja, DEA pakar matematika UNS dalam channel YouTube memberi pernyataan mengejutkan setelah melakukan simulasi menggunakan persamaan deferensial matematika berdasarkan kecepatan bertambahnya kasus COVID-19 di Indonesia selama ini. Menurutnya, COVID-19 diprediksi bisa hilang di Indonesia pada 10 Juni 2020 asalkan pemerintah mau melakukan karantina total atau lockdown, namun jika tidak, Indonesia bisa jatuh dalam fase di mana penyebaran COVID-19 sulit dikendalikan setelah 10 Juni 2020. Disamping itu, saat ini juga ada yang menggambarkan situasinya dimana Indonesia seperti mangkok raksasa yang di dalamnya terdapat banyak orang sehat yang terus bergerak dan mereka bercampur dengan orang terinfeksi COVID-19 dan hindden carrier yang belum sempat dikarantina. Akibatnya bisa saja prediksi dan simulasi matematis Prof Dr Sutanto akan terjadi. 

    Menjaga Kurva Landai

    Seperti diketahui, tenaga medis merupakan garda terdepan dalam penanganan COVID-19. Resiko besar sepanjang waktu berada di hadapan mereka. Semua pasien yang memeriksakan kesehatannya memiliki resiko menularkan, baik sebagai pasien terinfeksi maupun sebagai hidden carrier COVID-19. Mengutip akun instagram @ikatandokterindonesia, sampai saat ini diketahui 10 dokter telah meninggal di tengah pandemi yang melanda Indonesia. Beberapa karena terpapar, namun terdapat juga yang meninggal karena kelelahan dengan perjuangannya. Kondisi tenaga medis yang kewalahan dan alat perlindungan yang sangat kurang bukan rahasia lagi. Ini membuat para tenaga medis baik dokter, perawat, penyuluh, yang berada di garda terdepan berisiko terpapar COVID-19 dan membuat tenaga semakin terbatas.

    Dalam situasi seperti ini, kita berharap tim medis dan rumah sakit dalam kondisi tetap prima. Masyarakat ikut berpartisipasi menekan penularan COVID-19 dan tetap berada dalam kemampuan pengelolaan tim medis/rumah sakit.

    Perhatikan garis horizontal yang merupakan kapasitas rumah sakit dan tenaga medis, jika jumlah kasus melebihi kemampuan tenaga medis/rumah sakit, maka pasien akan bertebaran di luar sana. Nah, bayangkan jika pasien rumah sakit tidak terkendali, jumlahnya melebihi kapasitas tim medis dan rumah sakit, maka akan banyak di temukan pasien terlantar dan tidak diisolasi, mereka berada di luar sana, menularkan kepada orang yang sehat karena interaksi yang tidak terkontrol.

    Sistem layanan kesehatan memiliki kapasitas maksimal, seperti kapasitas ICU, kapasitas IGD, jumlah dokter, perawat dan tim medis lainnya. Terlihat pada berbagai pengalaman kasus di seluruh dunia, tanpa langkah-langkah pembatasan dan pengendalian, kasus positif yang memerlukan penanganan intensif dapat melebihi kapasitas sistem layanan kesehatan. Ketika sistem layanan kesehatan terbebani di luar kapasitas kondisi pasien akan memburuk dan dapat menyebabkan tingkat kematian naik.

    Keterlambatan melakukan langkah-langkah pembatasan dini juga dapat menurunkan kapasitas system layanan kesehatan. Hal ini terjadi saat para petugas kesehatan tidak dapat bekerja karena ikut tertular penyakit atau karena kelelahan.  Maka menjadi sangat penting untuk menahan kurva jumlah pasien terpapar agar tetap selandai mungkin. Semakin awal dan ketat pembatasan social distancing dilakukan maka kasus akan semakin terdistribusikan dan kurva semakin landai, sehingga tidak membuat lebih banyak orang gagal mendapatkan perawatan yang diperlukan.

    Dukung Mengamankan Kapasitas Medis

    Masyarakat tidak sulit berpartisipasi aktif memberikan dukungan kepada tim medis dan Rumah Sakit agar tetap bisa melandaikan kurva aman. Cukup tinggal di rumah dan ikuti anjuran pemerintah, social distancing/physical distancing, WFH, cuci tangan, makan makanan yang sehat, berjemur selama 15 menit pada jam 10.00 wib dan menjaga jarak sosial. Semudah itukah? Ternyata nggak mudah juga. Sebagian masyarakat kita bandel, tetap beraktifitas seperti biasa dan meremehkan situasi ini karena alasan jenuh dan bosan di rumah.

    Kita semua diminta untuk bersabar menghadapi situasi yang dianggap jenuh dan membosankan ini. Coba sedikit saya kasih gambaran kejadian nyata. Kisah 33 orang penambang yang terisolasi 700 m di bawah tanah selama 69 hari. Kisahnya difilmkan dan masih bisa ditonton gratis di channel youtube ada subtitle Indonesia dengan judul “The 33”. Saat runtuhnya tambang tembaga-emas San José dekat Copiapó, Chili, pada 5 Agustus 2010, praktis mengisolasi 33 pria di bawah tanah. Para penambang terjebak di kedalaman 700 meter (2300 ft) dan berjarak 5 kilometer (3 mil) dari pintu masuk tambang, mengikuti putaran dan belokan menuju pintu masuk tambang. Terisolasi di bawah tanah selama 69 hari, mereka berada dalam situasi yang benar-benar kritis, tidak memiliki sumber pangan yang cukup, tidak mempunyai akses, satu-satunya jalur telah tambang tertutup batu besar yang jatuh. Dan yang terjadi, 33 penambang ini bisa selamat dan dibawa ke permukaan pada 13 Oktober 2010.

    Kisah dramatis tersebut, tentu berbeda jauh dengan kondisi social distancing kita saat ini. Mereka bisa selamat karena sadar dan disiplin berbagi tugas, mengelola logistik yang amat terbatas, membuat program sanitasi, dan lain sebagainya, nyatanya berhasil. Sedangkan kita masih mengeluh dengan jenuh dan bosan ditengah semua kenyamanan yang dimiliki, masih tersedia fasilitas logistik di dapur, memiliki kuota internet untuk mengakses semua informasi dunia luar, hiburan televisi banyak channel, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Setidaknya bagi mereka yang sejatinya benar-benar bisa tetap berada di rumah dan tidak ada yang memaksanya keluar rumah. Situasi social distancing saat ini agak lebih mudah daripada 33 penambang yang dipaksa terisolasi selama 69 hari di kedalaman 700 meter.

    Mari kita lakukan apa yang diperintahkan oleh pemerintah, oleh para pakar kesehatan, oleh petugas keamanan. Perintahnya sederhana, yaitu social distancing atau menjaga jarak sosial, tetap berada di rumah, mencuci tangan, meningkatkan sistem imunitas tubuh dengan makan sehat, olahraga di rumah, berjemur dan work from home sebagainya. Ini hal penting sekali. Sekali lagi, ini bukan lagi masalah politik, saat ini cuma soal kesehatan dan kemanusiaan.

    Tulisan ini pernah dimuat di harian Solopos pada tanggal 11 April 2020 dengan judul “Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya”

  • “Hasthalaku di Tengah Krisis, Itu Perlu”

    “Hasthalaku di Tengah Krisis, Itu Perlu”

    The Godfather of Broken Heart, Didi Kempot mengadakan “Konser dari Rumah” yang disiarkan langsung stasiun Kompas TV (Sabtu, 11 April 2020). Acara ini sukses berat menggerakkan para Sobat Ambyar untuk berdonasi yang hasilnya akan digunakan untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid 19. Dari rentang waktu 19.00-22.00WIB, terkumpul donasi Rp 4 miliar lebih. Sungguh nominal yang sangat fantastis.

    Saking banyaknya penyumbang, server kitabisa.com sebagai platform pengumpulan donasi, sempat bermasalah. Namun saat pengiriman donasi dialihkan ke salah satu rekening bank, wuiihh… wuss wusss wusss uang masuk mengalir. Perhelatan “Konser dari Rumah” ini diselingi pula pesan agar para perantau tidak  mudik ke kampung halaman. Satu imbauan yang dikeluarkan pemerintah untuk menghentikan laju Covid 19. Tak pelak, konser pakdhe-nya Sobat Ambyar ini  mendapat apresiasi langsung dari Presiden Joko Widodo  melalui telewicara jaringan telepon.

    (more…)

  • Hasthalaku Di Rumah Aja

    Hasthalaku Di Rumah Aja

    Tantangan terbesar bagi orang yang terbiasa beraktivitas di luar rumah seperti pekerja dan pelajar adalah harus berlama-lama di rumah. Tidak boleh keluar, interaksi fisik dan sosial yang dibatasi – hanya dengan lingkup terkecil kita. Keluarga. Hal yang lebih menantang adalah ketika harus bekerja atau menyelesaikan tugas berbarengan dengan momong anak, bersih-bersih rumah, atau berbagi laptop atau rebutan koneksi internet dengan kakak/adik. Jika tidak dikelola dengan baik, berdamai dengan keadaan dan menjaga kewarasan, bukan tidak mungkin manusia kembali menjadi homo homini lupus – manusia adalah mangsa manusia yang lain.

     

    “Manusia itu adalah apa yang bersiapa dan siapa yang berapa”. Ke-siapa-an manusia diuraikan dalam rumusannya “manusia adalah makluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya”. […] manusia sebagai subjek atau persona yang sadar. Tanpa kesadaran manusia tidak mampu berhadapan dengan dirinya sendiri, apalagi menyadari berada dalam dunia” (Prof. Dr. N. Drijarkara, Percikan Filsafat, 1978).

     

    Bukankah homo homini socius – manusia yang berguna bagi manusia yang lain sebagai makhluk sosial berkedudukan jauh lebih baik dimata semua agama, suku, dan golongan? Menjadikan manusia sebagai manusia sebagaimana adanya dalam tatanan Jawa disebut dengan nguwongke uwong. Budaya Jawa mengenal pepatah rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah yang berarti bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmonisasi antar sesama.

     

    Hasthalaku merupakan generalisasi beberapa nilai budaya Jawa yang sangat erat dengan kehidupan saat ini. Demikian juga pada masa-masa berat ini. Pandemi COVID-19 dapat memberikan peluang bagi kita untuk belajar berbagai hal baru atau lama yang dapat dilakukan dari rumah dengan orang-orang terdekat kita. Memulai dari hal-hal kecil. Saling memahami peran anggota keluarga, membagi waktu antara pekerjaan kantor atau sekolah dengan pekerjaan rumah tangga. Memanfaatkan waktu untuk bercerita dan bercengkerama, lepas dari gawai yang menghubungkan dunia maya. Dan lain sebagainya.

     

    Demikian juga kegiatan penggalangan dana (fundraising) secara online untuk membantu pengadaan alat pelindung diri (APD) misalnya, merupakan istilah modern yang menggunakan konsep gotong royong sebagai kristalisasi nilai hasthalaku. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia merupakan bentuk solidaritas sosial. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang didalamnya kaya akan nilai edukatif. Tak ayal, survey yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia merupakan sebuah keniscayaan. Urip Iku Urup (Hidup itu adalah nyala, manuisa hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitarnya)

     

    Maka dari itu sangat penting untuk dapat tepa selira, saling menghargai serta memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah oleh adanya perbedaan-perbedaan, tidak termakan berita bohong atau hoaks. Dengan selalu mencari tahu kebenaran dan keabsahan berita sebelum kita sebar-luaskan kembali. Saring sebelum Sharing, karena Sharing is Caring.

     

    Sikap saling menghargai, saling pengertian, saling sapa, saling bantu, dan saling menghormati seperti yang ada pada hasthalaku yang dimulai dari rumah ini, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dikembangkan dan dilaksanakan secara kontinyu kan membawa kerukunan, ketenangan, dan perdamaian dimulai dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Dengan kata lain, selama manusia hidup di dunia haruslah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan benci. Memayu hayuning bawana, ambrastha dur angkara.

     

    Penulis: Khresna Bayu Sangka

     

  • Sekolah di Rumah; Pangerten dengan Keadaan, Pangerten terhadap Sesama

    Sekolah di Rumah; Pangerten dengan Keadaan, Pangerten terhadap Sesama

    “Nanti kalau sudah masuk sekolah, aku mau bu guru dan temen-temen ke lapangan dulu sebelum masuk kelas, aku mau meluk bu guru dan temen-temen semua. Aku rindu!”, seorang siswi berkata kepada gurunya melalui aplikasi chatting online, setelah satu bulan lamanya diberlakukan School From Home (SFH).

    Sudah lebih dari satu bulan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada semua jenjang sekolah di Kota Surakarta dilakukan secara daring (online). Ini terkait dengan keputusan Walikota Surakarta Nomor 443.76/28 Tahun 2020 tentang Penetapan Status Kejadian Luar Biasa (KLB) Corona Virus Disease (COVID-19) di Kota Surakarta. Kepwalkot ini berlaku sejak tanggal 13 Maret 2020 sampai dengan dicabutnya penetapan status KLB oleh Walikota Surakarta.

    Yuliyanti Dewi Untari, guru SMAN 1 Surakarta menceritakan bagaimana anak didiknya sudah menginginkan masuk sekolah lagi seperti biasa. “Salah satu kesulitan siswa adalah tidak bisa menanyakan langsung kepada guru mengenai materi yang belum jelas. Itu membuat mereka tidak paham sepenuhnya dengan materi yang disampaikan.”

    Selain harus mengajar siswa, mereka juga harus menyediakan waktu untuk menemani anak selama kegiatan SFH. Hal ini juga berlaku bagi para orang tua murid yang melakukan Work From Home (WFH), mereka kesulitan membagi waktu antara bekerja dan menemani anak sekolah di rumah. “Saya melihatnya bukan memberatkan, karena situasi seperti ini seluruh dunia merasakan. Penting untuk kita bersama-sama mencari solusi dan menyelesaikannya dengan baik.”, ujar Atik Astrini, guru sekolah lanjutan di Surakarta ketika ditanya tentang pembelajaran online yang dirasa memberatkan guru dan siswa.

    Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mendapatkan keluhan dari dua siswa sekolah menengah lanjutan di Semarang melalui direct message (DM) pada akun Instagramnya. Mereka bercerita beratnya tugas yang diberikan oleh guru selama SFH karena dirasa merepotkan terutama jika mengharuskan mereka untuk keluar dari rumah. Merespon DM mereka, Ganjar mengundang dua siswa tersebut ke rumah dinasnya untuk dapat berdiskusi. Kemudian dikeluarkanlah Surat Edaran Nomor 443/2/09002 tentang Layanan Penyelenggaraan Layanan Pendidikan dalam Rangka Pencegahan Penularan dan Penyebaran Infeksi Corona Virus Disease (COVID-19) di Jawa Tengah. Dalam surat edaran yang mulai berlaku sejak Senin tanggal 23 Maret 2020 ini dijelaskan bahwa guru dari berbagai jenjang sekolah juga mulai melaksanakan WFH. Ganjar juga menyebutkan agar materi pembelajaran di rumah lebih efektif jika berkaitan dengan COVID-19 supaya tidak memberatkan siswa.

    Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, memberikan catatan agar guru tidak memberikan tugas yang memberatkan siswa, baik dari sisi materi (biaya) maupun cara mengerjakannya. Tugas sebaiknya tidak bersifat kolektif dan tidak ada tuntutan untuk menyelesaikannya karena situasi yang sedang sulit, dan akan lebih baik jika berupa ketrampilan hidup sehari-hari agar siswa mampu bertahan dalam menghadapi situasi pandemi saat ini dan setelahnya.

    Hasthalaku Dalam Pembelajaran Online

    Yuliyanti bahkan sudah menggunakan metode ‘siswa mengoreksi tugasnya sendiri’ dalam KBM online, bahkan sebelum SFH. “Sekarang saya juga masih menggunakan metode tersebut. Anak-anak saya beri kunci jawaban untuk mengoreksi tugasnya dan mereka melaporkan kepada saya berapa nilai dari tugas tersebut.”

    Tentu saja menjadi pertanyaan, apakah siswa bisa dipercaya untuk mengoreksi tugasnya sendiri dan tidak curang. “Saya percaya, karena memang nilai kejujuran sejak awal sudah saya terapkan. Ini juga supaya siswa merasa dipercaya. Hal seperti ini penting dalam perkembangan kepercayaan diri siswa”, tambahnya.

    Kejujuran adalah ciri dari andhap asor yang merupakan salah satu nilai dalam hasthalaku. Kejujuran dapat membuat orang saling percaya dan meminimalisir konflik sehingga keharmonisan akan terjaga (Modul Hasthalaku Solo Bersimfoni, hal 72). Kejujuran siswa menjadikan pembelajaran semakin menyenangkan dan tidak rawan konflik, karena setiap siswa saling percaya dan tidak ada rasa iri terhadap siswa lain. Tentu saja hal ini akan menjadikan guyub rukun terjaga.

    Pada kegiatan belajar mengajar online, guru memaksimalkan penggunaan teknologi, namun beberapa guru ada yang kurang menguasainya. Beberapa metode dilakukan oleh guru, seperti menggunakan aplikasi WhatsApp, google classroom, google meet, zoom, dan aplikasi lain. Salah satu yang memberatkan bagi siswa adalah besarnya kuota internet yang harus digunakan dalam kegiatan belajar mengajar secara online.

    Pembelajaran online juga membuat guru harus beradaptasi dan berinovasi dalam penggunaan berbagai media dalam pemberian materi kepada siswa. Hal ini dilakukan agar materi tetap menarik dan tidak membosankan bagi siswa. Seorang guru di SMKN 7 Surakarta, Asri Pujihastuti berkata, “Memang kendala bertatap muka dan online akan berbeda, tetapi saya jadi belajar menggunakan banyak aplikasi, seperti google sites, google classroom, menggunakan absensi di google form kemudian video conference melalui google meet atau zoom. Guru menjadi melek teknologi.  Sebenarnya dulu juga bisa menggunakan tetapi mungkin dirasa tidak perlu karena pembelajarannya secara tatap muka.”

    Siswa juga diharapkan untuk selalu mengikuti pelajaran meskipun secara online. Dibutuhkan rasa pangerten dari siswa agar KBM online berjalan dengan baik. Pangerten dalam Bahasa Indonesia berarti pengertian atau peka terhadap kondisi sesama (Modul Hasthalaku Solo Bersimfoni, hal 61). Siswa dan guru diharapkan dapat saling menghargai pada saat keadaan yang sulit karena pandemi COVID-19.

    “Video conference memang belum saya gunakan, karena tidak semua anak didik saya mempunyai fasilitas untuk dapat mengaksesnya, seperti keterbatasan gadget dan juga sinyal karena tidak semua siswa tinggal di kota. Beberapa siswa yang tinggal di pelosok tentu saja kesulitan mendapatkan sinyal. Juga ada keluhan tentang besarnya kuota (internet) yang dihabiskan.”, tambah Yuliyanti.

    Atik bercerita, “Banyak sekali cerita sedih terkait pembelajaran online ini, banyak siswa yang tidak memiliki smartphone, atau meminjam milik mamanya sehingga harus menunggu mamanya pulang kerja, ada yang nitip teman, jadi siswa pun kadang sedih saat mendengarkan cerita temannya.”

    Atik pun menyadari hal ini dan berusaha agar tugas yang diberikan tidak memberatkan siswa. “Pertama anak (merasa) happy dalam keadaan seperti ini, kedua bagaimana materi sampai ke siswa. Jadi untuk tugas, (biasanya) saya memberikan waktu satu minggu untuk mengumpulkan.” Karena keterbatasan fasilitas yang dipunyai siswa, salah satu sekolah memberikan pinjaman smartphone kepada siswa yang memang membutuhkan dan ada inisiatif untuk memberikan kuota kepada siswa yang kurang mampu dengan menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).

    Pembelajaran online sebenarnya bukan hal yang baru dalam KBM. Sebelum KLB, beberapa guru juga melakukan pembelajaran online jika tidak bisa bertatap muka dengan siswa. Seperti saat guru melakukan program akselerasi di kota lain, atau juga pada saat siswa melakukan on the job training. “Dulu kecepatan internet belum seperti sekarang, tetapi respon dari siswa tergolong cepat. Saat itu saya menggunakan e-mail, jadi tugas siswa dikirimkan kepada saya setiap hari lewat e-mail”, ujar Yuliyanti.

    KBM dengan bertatap muka tentu saja berbeda dengan online. Selain pemberian materi yang interaktif, siswa juga bertemu dengan teman-temannya. Secara psikologi ini berpengaruh terhadap mood dan semangat siswa. Bercengkerama dengan teman diantara pergantian jam pelajaran, pergi ke kantin saat istirahat, bermain futsal atau basket sepulang sekolah maupun sekadar berjalan-jalan di lingkungan sekolah menjadi hal yang dirindukan para siswa saat ini.

    Atik melanjutkan bahwa siswanya menjadi lebih pangerten dan tepa selira justru setelah harus menjalani SFH, “Kejadian seperti ini adalah hal yang sebelumnya tidak pernah diduga oleh siswa. Mereka menjadi lebih memaknai pertemuan dengan guru dan teman-temannya dan menyadari kehadiran guru memang tidak tergantikan.”

    Dalam keadaan seperti ini, semua lapisan masyakarat diharapkan pangerten dan bersedia mengikuti himbauan Presiden RI Joko Widodo untuk bekerja di rumah, belajar di rumah dan beribadah di rumah. Bersama-sama kita mengurangi penyebaran virus COVID-19 dengan #DiRumahAja. Ini juga merupakan salah satu cara pangerten terhadap saudara kita yang menempuh risiko karena tidak memungkinkan untuk bekerja dari rumah dalam masa pandemi, begitu pula sebaliknya. Sikap pangerten sangat diperlukan agar dampak yang lebih luas dari pandemi ini bisa diminimalisir sampai keadaan memungkinkan untuk kembali beraktifitas.

    Penulis : Tia Brizantiana

  • Lawan Hoaks Covid-19 Dengan Hasthalaku Bermedsos

    Lawan Hoaks Covid-19 Dengan Hasthalaku Bermedsos

    Kita semua mengetahui himbauan dari pemerintah untuk tidak panik dalam menghadapi pandemi COVID-19. Ketika awal masuknya virus ini ke Indonesia, masyarakat berbondong-bondong memborong bahan makanan yang ada di supermarket, menimbun masker dan kawan-kawannya. Contoh diatas adalah bentuk kepanikan dari masyarakat yang terjadi karena hoaks yang beredar.

    Di tengah upaya pemerintah dalam menghadapi pandemi COVID-19 agar tidak terus menyebar, masih ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang menyebarkan berita palsu (hoaks) seputar COVID-19. Kominfo mengindentifikasi pada Selasa, 18 Maret 2020 ada 250 konten hoaks dan disinformasi yang berkaitan dengan pandemi COVID-19. Seluruh konten hoaks tersebut tersebar di platform media sosial khususnya di aplikasi WhatsApp yang notabene berisi grup keluarga dengan latar belakang yang bermacam-macam.

    Berbagai narasi yang menyesatkan lalu-lalang hampir setiap hari di linimasa media sosial kita tentang isu seputar COVID-19. Sebagian besar diantaranya merupakan berita palsu yang tidak jelas sumbernya sehingga sulit untuk diketahui kebenarannya. Banyaknya hoaks juga berdampak menurunkan rasa percaya masyarakat terhadap otoritas kesehatan dan pemerintah, sehingga masyarakat melakukan aksi penyembuhan dengan caranya sendiri. Sebagian besar cara penyembuhan pun juga mereka dapatkan melalui linimasa yang belum jelas kebenarannya.

    Pada keadaan seperti ini kita semestinya bergotong-royong untuk melawan hoaks yang kian meresahkan masyarakat. Contoh langkah yang bisa kita lakukan ialah tidak langsung percaya dan menyebarkan berita tentang pandemi COVID-19 yang kita baca di media sosial. Atau saat ingin memberikan informasi trik atau cara menangkal virus COVID-19 pastikan benar berasal dari sumber yang terpercaya dan beritanya bisa dipertanggungjawabkan, seperti media massa mainstream, website resmi Kementerian Kesehatan, WHO, serta pihak terpercaya lainnya.

    Di Indonesia sendiri ada Dewan Pers yang merilis daftar lembaga-lembaga resmi yang telah terdaftar. Selain itu ada pula sertifikasi IFCN atau International Fact Checking Network yang dikeluarkan oleh Poynter, sekolah jurnalis di Florida, Amerika Serikat. Sudah ada lima media/platform Indonesia yang mendapat sertifikasi ini, antara lain liputan6.com, Kompas.com, Tirto.id, Tempo.co dan Mafindo. Beberapa kelompok masyarakat sipil di berbagai daerah pun sudah bergerak menangkal hoaks. Mereka saling bekerjasama membuka pengaduan masyarakat, saling tukar informasi, berdiskusi, dan melakukan verifikasi hoaks yang beredar di masyarakat.

    Badan kesehatan dunia, World Health Organisation (WHO) sebenarnya telah menjalin kerjasama dengan WhatsApp dengan membentuk akun untuk melayani pertanyaan publik tentang seputar COVID-19 melalui chatbot. Akun chatbot ini memiliki nama resmi ‘COVID19.go.id’ dan memiliki tanda centang warna hijau sebagai bukti akun telah terverifikasi. Kita hanya perlu menambahkan kontak nomor +6281133399000 di ponsel. Secara otomatis aplikasi atau situs WhatsApp akan membuka jendela percakapan dengan chatbot tersebut.

    Kita juga bisa mengakses chatbot  untuk informasi resmi dan benar tentang Covid-19 atau website yang disedikan oleh Pemprov Jateng, https://corona.jatengprov.go.id/ atau Home – Covid19.go.id. Saluran itu diharapkan bisa menjadi kanal informasi publik yang valid dan terpercaya mengenai COVID-19. Hentikan pemberitaan yang membuat gaduh dan suasana mencekam, seperti gencarnya pemberitaan jumlah korban COVID-19 karena akan berdampak terhadap kondisi pikiran kita.

    Kondisi pikiran yang panik dan kalut akan berpengaruh terhadap keadaan fisik dan menurunkan imunitas tubuh kita. Selama keadaan masih seperti ini, pastikan asupan makanan yang sehat, mendapatkan paparan cahaya matahari setiap pagi, cukup 10 menit saja, serta pikiran dan hati yang bahagia. Ketiga hal tersebut mampu menaikkan daya tahan tubuh. Tidak perlu melakukan pencegahan yang ekstrim atau memborong segala macam kebutuhan. Secukupnya saja. Jika memiliki rejeki berlebih, bolehlah kita memberikan dana bantuan kepada yang membutuhkan. Sharing is caring. Ingat, waspada boleh, panik jangan. Kita lawan Covid-19 dengan gotong royong, guyub rukun, dan pangerten.

    Penulis: Burhanudin Fajri

     

  • Kiat Solo Bersimfoni Bersama Dirjen Pothan Kemhan, Dalam Membentuk Karakter Bela Negara

    Kiat Solo Bersimfoni Bersama Dirjen Pothan Kemhan, Dalam Membentuk Karakter Bela Negara

    Solo Bersimfoni berkesempatan mengisi acara Seminar Nasional Pendidikan Karakter bersama dengan Prof. Ir. Bondan Tiara Tiara Sofyan, M.Si, Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, dan Dr. Izza Mafruhah, S.E.,M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS. Acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret pada 15 Februari 2020 tersebut diikuti kurang lebih 400 peserta.

    Peserta seminar memenuhi aula FEB UNS sekitar 400 peserta.

    SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN KARAKTER
    Peserta seminar memenuhi aula FEB UNS sekitar 400 peserta

    Dekan FEB UNS , Prof. Djoko Suhardjanto yang secara langsung membuka acara tersebut mengharapkan dengan adanya Seminar Nasional Pendidikan Karakter ini para narasumber mampu membekali pengetahuan, pemahaman bagi generasi muda tentang pentingnya kesadaran bela negara sehingga terhindar dari paham-paham radikal yang sangat merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa.

    “Metode penyebaran paham radikal sudah tidak zamannya menggunakan kekerasan bahkan senjata lagi, tetapi saat ini telah menggunakan cara yang lebih mengikuti perkembangan” jelas Prof Bondan.

    Prof. Ir. Bondan Tiara Tiara Sofyan, menegaskan bahwa Dalam penyebaran paham radikal saat ini telah mengikuti perkembangan zaman dan sudah tidak lagi menggunakan senjata. Ada beberapa cara yang  digunakan untuk menyebarkan paham-paham radikal,  diantaranya adalah brain washing atau cuci otak dengan cara memberikan pemahaman merubah ideologi, provokasi dan  separatis. Atau dengan menggaungkan isu-isu yang sehingga menimbulkan perpecahan. Terlebih sekarang ini Ideologi Pancasila sering dibenturkan dengan agama ataupun dengan kitab suci dan ujungnya untuk menguasai Indonesia.

    “baru-baru ini Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah membuat peraturan UU No. 23 Tahun 2019 Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan Negara, mohon doa nya semoga kami bisa segera mengimplementasikan Undang-undang ini dengan baik” ungkap Prof Bondan.

    Kementerian Pertahanan Republik Indonesia saat ini tengah berupaya untuk mengatasi hal tersebut dengan memberikan pembekalan tentang bela negara seperti perubahan/penguatan karakter bangsa dan UU No. 23 Tahun 2019 Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan Negara yang baru disahkan menjadi bukti tekad pemerintah dalam memperkuat pertahanan Indonesia.

    Prof Bondan Tiara
    Prof. Bondan saat memberikan materi kepada para peserta

    Prof. Bondan saat memberikan materi kepada para peserta

    Prof Bondan juga menambahkan bahwa membangun kesadaran berbangsa dan bernegara bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan membangun dialog atau komunikasi, pendidikan, dan seni budaya. Solo Bersimfoni juga disinggung oleh Prof Bondan bagaimana Solo Bersimfoni membangun kesadaran berbangsa dan bernegara dengan pendekatan budaya jawa atau yang dikenal dengan Hasthalaku untuk menghindarai kekerasan.

    Sementara itu, M. Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni mengatakan bahwa pemuda solo harus memiliki karakter budaya yang kuat, mempunyai nilai toleransi dan juga keberagaman dalam bermasyarakat, dan saat ini Pemerintah Kota Solo telah membuat Peraturan Walikota Surakarta Nomor 49 tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda yang tentu menaruh harapan dengan Perwali hak dan kewajiban pemuda dapat berkesempatan melestarikan, mengembangkan hingga memperoleh pendampingan/pembinaan yang lebih baik.

    Farid Sunarto
    M.Farid Sunarto memberikan penjelasan tentang Hasthalaku dalam bela negara

    M.Farid Sunarto memberikan penjelasan tentang Hasthalaku dalam bela negara

    Kemudian Dr. Izza Mafruhah, S.E.,M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS menambahkan bahwa pendidikan karakter merupakan proses belajar secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan menguasai IPTEK saja tidak cukup menjadikan seorang pelajar menjadi manusia. Kemampuan sosialisasi dan religiusitas sebagai bagian IMTAQ yang baik adalah pelengkap yang menyempurnakan seorang pelajar. Berpendidikan karakter berarti seseorang tidak hanya memiliki intelektual yang baik, tapi juga memiliki emosi serta tingkat spiritual yang baik.

    Penulis : Burhanudin Fajri

     

  • Fragmen Hasthalaku Di Depan Gubernur Jawa Tengah

    Fragmen Hasthalaku Di Depan Gubernur Jawa Tengah

    Murid-murid memasuki kelas. Bapak guru pun mulai menerangkan pelajaran, tetapi mereka tidak mendengarkan perkataan bapak guru namun sibuk ber-wefie bahkan mengajak bapak guru untuk wefie bersama-sama.

    Sepenggal cerita di atas menjadi pembuka pementasan fragmen persembahan Sahabat Simfoni pada acara Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) Provinsi Jawa Tengah pada hari Kamis tanggal 17 Oktober 2019 di UTC Convention Hotel Semarang. Tema FORKOPIMDA kali ini adalah Komitmen Bersama Menjaga Jawa Tengah Tetap Guyub, Toleran, Aman dan Tenteram. Rapat koordinasi ini dilakukan untuk menyikapi beberapa berita yang menyedihkan akhir-akhir ini, seperti adanya anak-anak yang masuk Rumah Sakit Jiwa karena kecanduan gawai.

    Fragmen sepuluh  menit tersebut membuka acara yang dihadiri antara lain oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. “Fragmen tadi bagus sekali, menggambarkan bagaimana anak sekolah mengajak gurunya wefie dan tidak hormat kepada gurunya, kemudian menyadari kesalahan sendiri dan mencari solusi dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka”. Fragmen yang dilakukan oleh Sabahat Simfoni, yaitu relawan dari Solo Bersimfoni yang menjadi kepanjangan tangan untuk menyebarkan hasthalaku, menjadi penting karena memberikan contoh yang nyata mengenai sikap dan perilaku tidak baik di kalangan remaja. Dengan pementasan fragmen ini, Solo Bersimfoni mempunyai harapan agar hasthalaku lebih dikenal lagi bahkan di Jawa Tengah.

    Ganjar Pranowo juga menjelaskan bahwa kini banyak sekali kegiatan positif bagi siswa-siswi SMA dan mahasiswa yang bisa memupuk jiwa toleransi seperti forum anak yang sudah mulai rutin dilakukan di setiap daerah dan didukung oleh UNICEF. Ada juga program “Sehari Bersama Gubernur” yang bertujuan agar orang di luar pemerintahan bisa melihat persoalan di masyarakat secara langsung, serta dapat memberikan ide dan aspirasi untuk masalah yang ada. Hal ini juga disepakati oleh Rektor UNDIP, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H.,M.Hum, “Anak-anak muda harus bisa memilih dan memilah kegiatan yang positif bagi dirinya”.

    Pangdam IV Diponegoro, Mayjen Mochamad Effendi juga menambahkan bahwa kita semua sebagai WNI memiliki warna dan mempunyai kewajiban yang sama yaitu menciptakan suasana damai. “Contoh nyatanya adalah kita mengumpulkan semua di sini dengan latar belakang yang berbeda-beda. Seperti yang disampaikan oleh adik-adik dalam fragmen dari Solo Bersimfoni, meskipun kita berbeda tetapi kita punya rasa untuk mempersatukan Indonesia”, ungkapnya. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bahu-membahu. Kondisi harmonis dan rukun ini tidak dibangun oleh satu orang saja tetapi banyak orang, semua lapisan masyarakat turut berpartisipasi dalam menjaga keharmonisan.

    Terakhir, Ganjar Pranowo mengingatkan kepada hadirin terutama anak-anak muda tentang komitmen mereka dalam menjaga kerukunan dan perilaku di Jawa Tengah dan Indonesia. Tentu saja komitmen bersama ini harus terus dipegang agar terjalin rasa saling menjaga perilaku dan menjaga kata-kata demi kedamaian bersama.

    #MariKitaBersimfoni

    #MariMenjagaToleransiUntukNegeri

  • Hasthalaku Mewarnai Perwali Kota Surakarta

    Hasthalaku Mewarnai Perwali Kota Surakarta

    “Pemuda mempunyai kontribusi yang signifikan atas keberhasilan pembangunan, sekali lagi saya garis bawahi bahwa pemuda mempunyai kontribusi yang signifikan”.

    Kalimat tersebut diucapkan oleh Wakil Walikota Solo Achmad Purnomo saat memberikan sambutan pada sosialisasi Peraturan Walikota Surakarta nomor 49 tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bappeda Kota Surakarta tersebut berlangsung pada 3 Desember 2019.

    (more…)

  • Solo Bersimfoni Kenalkan Hasthalaku Melalui Model Sekolah Adipangastuti

    Solo Bersimfoni Kenalkan Hasthalaku Melalui Model Sekolah Adipangastuti

    Surakarta, 5 Agustus 2019. Solo Bersimfoni melakukan pertemuan dengan Kepala Cabang VII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah guna menindaklanjuti pertemuan dengan Walikota Surakarta F.X Hadi Rudyatmo di Balaikota Surakarta pada 23 Juli 2019 lalu. Pertemuan dengan Walikota Surakarta tersebut memutuskan dua sekolah, yaitu SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta, untuk menerapkan model Sekolah Adipangastuti. Model sekolah ini bertujuan untuk menerapkan perilaku dan sikap yang berbudaya sesuai nilai-nilai Hasthalaku dari warga sekolah, khususnya siswa-siswi selaku remaja / kelompok milenial. Parameter model Sekolah Adipangastuti diharapkan dapat memberikan panduan pelaksanaan agar lebih terukur dan sistematis, sekaligus dapat dilakukan monitoring dan evaluasi. Ditambah dengan adanya buku panduan dan juga modul Hasthalaku diharapkan dapat memberikan arahan dan penjelasan model Sekolah Adipangastuti.

    Model sekolah Adipangastuti adalah sebuah model untuk mengintervensi implementasi Hasthalaku atau delapan nilai-nilai budaya Jawa terpilih yaitu : Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Ewuh Pekewuh, Pangerten, Andhap Ashor dan Tepo Seliro di lingkungan sekolah melalui kebijakan pemerintah, dinas terkait dan pemangku sekolah, khususnya sekolah setingkat SMA/SMK.

    Walikota Surakarta sangat mendukung adanya model Sekolah Adipangastuti ini. Beliau menaruh harapan agar warga Surakarta lebih mengenal gotong royong dan persatuan sebagai Bangsa Indonesia yang tidak pernah memandang suku, ras dan agama dikarenakan adanya model Sekolah Adipangastuti ini. Cabang VII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah akan segera menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan SMAN 1 Surakarta SMAN 6 Surakarta untuk menerapkan model sekolah Adipangastuti sekaligus menyambut baik adanya rencana model sekolah Adipangastuti ini.

    Penulis: Burhanudin Fajri

     

  • The Eight Values: Discovering the Unique Identity of Solo Youth

    The Eight Values: Discovering the Unique Identity of Solo Youth

    The history of Solo is closely entwined with the history of the Surakarta Sultanate, which followed the Mataram Sultanate. Solo is well-known as a centre of ancient Javanese culture because it has traditionally served as a political hub and centre for development of Javanese traditions. (more…)