Category: News

  • IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Karanggede: Pendidikan Toleransi Berbasis Kearifan Lokal Jawa untuk Sekolah Aman dan Nyaman

    IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Karanggede: Pendidikan Toleransi Berbasis Kearifan Lokal Jawa untuk Sekolah Aman dan Nyaman

    IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Karanggede: Pendidikan Toleransi Berbasis Kearifan Lokal Jawa untuk Sekolah Aman dan Nyaman

    Karanggede, Boyolali – Kamis, 12 Februari 2026. Aula SMAN 1 Karanggede menjadi ruang belajar bersama bagi 60 guru dan karyawan dalam kegiatan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti. Mengusung tema “Pendidikan Toleransi Berbasis Kearifan Lokal Jawa untuk Sekolah Aman dan Nyaman”, kegiatan ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan nilai-nilai karakter yang selama ini telah hidup di lingkungan sekolah.

     

    Kegiatan ini selaras dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kebijakan ini resmi dirilis oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen) untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, kondusif, dan bebas dari kekerasan, guna melindungi seluruh warga sekolah. Permendikdasmen ini menegaskan pentingnya sekolah sebagai ruang aman yang menghormati perbedaan dan menjunjung tinggi martabat anak serta seluruh komunitas pendidikan.

    IHT di SMAN 1 Karanggede pada dasarnya bukan menghadirkan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan menyadarkan kembali bahwa delapan langkah atau nilai yang dibahas sesungguhnya sudah dijalankan dalam keseharian warga sekolah. Namun, sering kali praktik-praktik baik tersebut belum teridentifikasi dan belum dipahami bersama sebagai bagian dari sebuah gerakan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

     

    Dalam sambutannya, Kepala SMAN 1 Karanggede, Ibu Titik Nur Aini, S.Sos., M.Pd. menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk “membuka kesadaran bersama.” Banyak hal yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Bapak dan Ibu guru, komite, maupun peserta didik, tetapi belum diberi makna sebagai bagian dari laku pendidikan toleransi. Melalui forum ini, nilai-nilai tersebut diangkat, dirumuskan, dan ditegaskan kembali agar menjadi kesadaran kolektif.

    Salah satu poin penting yang mengemuka adalah bagaimana cara mengapresiasi anak dan membangun pembiasaan positif. Pendidikan toleransi tidak berhenti pada wacana, melainkan perlu diwujudkan melalui sikap sehari-hari: cara guru menyapa siswa, cara sekolah merespons perbedaan, hingga bagaimana ruang aman diciptakan bagi setiap anak tanpa terkecuali. Kearifan lokal Jawa, hasthalaku, menjadi fondasi dalam membangun budaya sekolah yang saling menghormati dan aman.

     

    Harapannya, melalui pembiasaan yang konsisten, sekolah semakin ramah anak dan nyaman bagi semua. Ketika nilai-nilai tersebut benar-benar hidup di dalam hati setiap warga sekolah, maka berbagai program sekolah pun akan berjalan lebih lancar. Toleransi yang tumbuh dari kesadaran akan memunculkan loyalitas terhadap lembaga, memperkuat profesionalitas dalam bekerja, dan membangun rasa memiliki yang mendalam.

     

    Kegiatan IHT ini juga menjadi ruang dialog yang hangat dan reflektif. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak untuk merefleksikan praktik yang sudah dilakukan serta menyusun komitmen bersama untuk langkah ke depan. Dengan demikian, pendidikan toleransi berbasis kearifan lokal Jawa bukan sekadar tema kegiatan, melainkan menjadi ruh dalam setiap gerak dan kebijakan sekolah yang mendukung terwujudnya sekolah aman dan nyaman seperti yang diamanatkan oleh Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

    Di akhir sesi, suasana penuh semangat dan kebersamaan terasa di Aula SMAN 1 Karanggede. Dengan komitmen yang diperbarui, seluruh guru dan karyawan siap melangkah bersama, menghadirkan sekolah yang aman, nyaman, dan menggembirakan bagi seluruh warga sekolah.

  • Lomba Poster Sekolah Adipangastuti Tahun 2025 Se-Jawa Tengah Sukses Digelar

    Lomba Poster Sekolah Adipangastuti Tahun 2025 Se-Jawa Tengah Sukses Digelar

    Sekolah Adipangastuti kembali menyelenggarakan Lomba Poster Tingkat SMA Se-Jawa Tengah Tahun 2025 sebagai bagian dari upaya penguatan karakter peserta didik melalui media visual kreatif. Kegiatan ini diikuti oleh 160 siswa SMA yang berasal dari 44 SMA pendaftar dari total 67 SMA pelaksana Program Sekolah Adipangastuti se-Jawa Tengah. Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya partisipasi sekolah dalam mendukung penguatan nilai karakter melalui karya kreatif siswa.

    Lomba poster tahun ini mengangkat tiga tema utama, yaitu Hasthalaku, Perundungan (Bullying), dan Intoleransi. Ketiga tema tersebut dipilih untuk mendorong siswa mengekspresikan gagasan kritis, nilai karakter, serta kepedulian sosial melalui karya visual yang edukatif, komunikatif, dan inspiratif.

    Seluruh 160 karya poster yang masuk tidak hanya dinilai oleh dewan juri, tetapi juga dipamerkan secara terbuka selama kegiatan Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025. Pameran poster ini menjadi ruang apresiasi bagi seluruh peserta sekaligus media edukasi visual bagi para Duta Adipangastuti, guru pendamping, perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan undangan yang hadir. Beragam pesan tentang nilai Hasthalaku, penolakan terhadap perundungan, serta pentingnya toleransi disampaikan secara kreatif melalui visual yang kuat dan bermakna.

    Timeline Pelaksanaan Lomba

    Pelaksanaan Lomba Poster Sekolah Adipangastuti Tahun 2025 diawali dengan pengumuman lomba pada 24 Oktober 2025 yang dilaksanakan berbarengan dengan kegiatan Sebar Kawruh Online bersama BNPT RI. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan sosialisasi lomba sekaligus memperkuat pesan kebangsaan dan toleransi kepada satuan pendidikan.

    Tahapan selanjutnya adalah pendaftaran lomba poster yang dibuka pada 25–31 Oktober 2025, diikuti dengan pengumpulan karya lomba poster pada 1–30 November 2025 melalui mekanisme yang telah ditetapkan. Seluruh karya yang masuk kemudian melalui proses seleksi dan penjurian.

    Proses penjurian dilaksanakan oleh Bambang Nugroho, S.Sn., M.Sn., dengan memperhatikan kesesuaian tema, kreativitas dan orisinalitas karya, kekuatan pesan, serta kualitas visual. Dari hasil penilaian tersebut, terpilih para pemenang terbaik pada masing-masing tema.

    Pada Tema Hasthalaku, Juara I diraih oleh Ladyza Thirlita Gioria Pdepartris dari SMA Negeri 2 Klaten, Juara II oleh Zaenal Abidin dari SMA Negeri 1 Dempet, dan Juara III oleh Ghaida Nauira Agni F dari SMA Negeri 1 Dukun.

    Pada Tema Perundungan, Juara I diraih oleh Aghnia Shafa Maulana dari SMA Negeri 1 Welahan, Juara II oleh Reina Almira Aryaputri dari SMA Negeri 1 Sragen, dan Juara III oleh Adhiva Muzakir Filzah dari SMA Negeri 2 Boyolali.

    Sementara itu, pada Tema Intoleransi, Juara I diraih oleh Keyla Purwitasari dari SMA Negeri 1 Tangen, Juara II oleh Fernando Josua S. dari SMA Negeri 3 Pekalongan, dan Juara III oleh Lauren Zya Bintan Ferdyna dari SMA Negeri 1 Wonogiri.

     

    Penganugerahan pemenang lomba poster dilaksanakan pada hari kedua Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025, bertempat di Hotel Asia, pada 10 Desember 2025. Momen ini menjadi semakin bermakna karena berada dalam rangkaian kegiatan pelatihan yang bertujuan menyiapkan siswa sebagai agen perubahan dan teladan nilai karakter di lingkungan sekolah.

    Melalui lomba poster dan pameran karya ini, Sekolah Adipangastuti berharap nilai-nilai Hasthalaku, sikap anti perundungan, serta semangat toleransi dapat semakin tertanam kuat di lingkungan sekolah, sekaligus menumbuhkan kreativitas, kepekaan sosial, dan keberanian siswa dalam menyuarakan pesan positif bagi generasi muda.

  • Workshop “Berdaya dan Berkarya di Era Digital” di SMAN 1 Wonogiri

    Workshop “Berdaya dan Berkarya di Era Digital” di SMAN 1 Wonogiri

    SMAN 1 Wonogiri menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti pada Selasa, 16 Desember 2025, sebagai bagian dari upaya sekolah dalam membekali peserta didik dengan keterampilan abad ke-21. Kegiatan ini mengusung tema “Berdaya dan Berkarya di Era Digital.” Workshop ini menjadi ruang belajar yang inspiratif bagi siswa untuk memahami sekaligus mempraktikkan pemanfaatan teknologi digital secara positif dan bertanggung jawab.

    Peserta kegiatan berjumlah 36 siswa yang merupakan perwakilan dari masing-masing kelas, terdiri atas 15 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Dengan komposisi peserta yang representatif, kegiatan ini diharapkan mampu menularkan semangat literasi digital dan nilai-nilai Hasthalaku ke seluruh warga sekolah.

    Materi pertama disampaikan oleh Tia Brizantiana dengan topik “Hasthalaku di Dunia Digital.” Dalam sesi ini, peserta diajak untuk memahami pentingnya nilai Hasthalaku sebagai landasan karakter dalam berinteraksi di ruang digital. Pemateri menekankan bahwa dunia digital bukan ruang tanpa nilai, melainkan tempat di mana etika, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai harus tetap dijunjung tinggi. Siswa juga diberikan pemahaman mengenai jejak digital, dampak perilaku daring, serta peran generasi muda dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat dan beradab.

    Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Burhanudin Fajri dengan materi “Membuat Konten Praktik Baik Hasthalaku di Dunia Digital.” Pada sesi ini, peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran berbasis praktik. Siswa dibimbing untuk menggali ide, menyusun pesan, dan mengemas nilai-nilai Hasthalaku ke dalam bentuk konten digital yang edukatif dan menarik. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir kreatif, inovatif, serta peka terhadap isu-isu yang relevan dengan kehidupan remaja di era digital.

    Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan pembuatan storyline dan konten edukasi oleh para peserta yang dipandu oleh Risca Dj. Melalui aktivitas ini, siswa belajar bekerja sama, menyampaikan gagasan secara terstruktur, serta memanfaatkan teknologi multimedia sebagai sarana berkarya. Hasil karya yang disusun diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik sekaligus inspirasi bagi siswa lain dalam menggunakan media digital secara positif.

    Tujuan utama dari pelaksanaan IHT Sekolah Adipangastuti ini adalah membekali siswa dengan keterampilan dan literasi digital agar mampu berdaya dan berkarya sejak sekarang melalui pemanfaatan teknologi multimedia secara kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. “Dengan bekal tersebut, siswa diharapkan memiliki kesiapan, kepercayaan diri, serta daya saing dalam menghadapi tantangan dan peluang di masa depan,” ungkap Novi Fajar, Penanggung Jawab Sekolah Adipangastuti di SMAN 1 Wonogiri.

    Kepala SMAN 1 Wonogiri, Drs Susilo Joko Raharjo, M.Pd., menyampaikan harapan agar kegiatan ini menjadi langkah awal bagi siswa untuk berani berkarya di ruang digital. Hal tersebut dirangkum dalam kutipan inspiratif: “Berdaya dan berkarya digital sekarang, masa depan dalam genggaman.”

    Melalui kegiatan ini, SMAN 1 Wonogiri menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga berkarakter, beretika, dan siap berkontribusi positif di dunia digital.

     

  • Rangkaian Kegiatan Sekolah Adipangastuti di SMAN Colomadu: Kolaborasi Guru, Siswa, dan Pemangku Kepentingan

    Rangkaian Kegiatan Sekolah Adipangastuti di SMAN Colomadu: Kolaborasi Guru, Siswa, dan Pemangku Kepentingan

    SMAN Colomadu melaksanakan rangkaian kegiatan Program Sekolah Adipangastuti sebagai upaya strategis membangun budaya sekolah yang toleran, berkarakter, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Program ini dilaksanakan secara berkelanjutan sepanjang akhir tahun 2025 dan melibatkan guru, peserta didik, serta mitra eksternal sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan berbasis nilai budaya hasthalaku.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan Sosialisasi Sekolah Adipangastuti kepada guru yang dilaksanakan pada 3 Oktober 2025. Kegiatan ini menghadirkan Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, sebagai narasumber utama. Dalam sosialisasi tersebut, M. Farid Sunarto memaparkan konsep Sekolah Adipangastuti, nilai-nilai hasthalaku, serta peran strategis guru dalam menanamkan budaya toleransi dan karakter positif di lingkungan sekolah. Kegiatan ini dibuka dan didukung langsung oleh Kepala SMAN Colomadu saat itu, Soekarno, S.Pd., M.Si., yang menegaskan pentingnya keselarasan visi guru dalam mengimplementasikan program secara berkelanjutan.

    Memasuki bulan Desember 2025, terjadi pergantian kepemimpinan di SMAN Colomadu. Jabatan kepala sekolah resmi diemban oleh Ibu Dra. Suranti Tri Umiatsih, M.Eng., yang melanjutkan dan memperkuat komitmen sekolah dalam pelaksanaan Program Sekolah Adipangastuti.

    Selanjutnya, pada 4 Desember 2025, SMAN Colomadu menyelenggarakan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti untuk guru dan siswa dengan narasumber yang sama, Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si. IHT ini difokuskan pada internalisasi nilai hasthalaku kepada peserta didik melalui pendekatan dialogis dan partisipatif. Siswa diajak memahami perannya sebagai agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghargai. Kegiatan ini menjadi ruang penting bagi siswa untuk mengembangkan kesadaran karakter, kepemimpinan, serta tanggung jawab sosial.

    Puncak rangkaian kegiatan ditandai dengan Launching Sekolah Adipangastuti di SMAN Colomadu yang dilaksanakan pada 16 Desember 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Provinsi Jawa Tengah, Sugiharto, S.Pd., M.Pd. serta jajaran pengurus Solo Bersimfoni, yaitu Ketua, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., dan Direktur Operasional, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menjadi simbol dukungan dan penguatan kolaborasi antara sekolah dan mitra dalam mengimplementasikan pendidikan berbasis karakter dan toleransi.

    Sebagai tindak lanjut dan penguatan kapasitas siswa, SMAN Colomadu kembali menggelar Workshop on Creative Educational Content pada 18 Desember 2025. Workshop ini diikuti oleh perwakilan media center dari organisasi siswa di sekolah yaitu OSIS, MPK, Ambalan, Rohis, Rokat, dan Rokris. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Solo Bersimfoni yaitu Burhanudin Fajri, Tia Brizantiana, dan Ridwan Rivaldi Sukma, yang membekali peserta dengan keterampilan produksi konten edukatif dan kampanye kreatif berbasis nilai Sekolah Adipangastuti. Peserta dilatih mengemas pesan toleransi, budaya positif, dan karakter dalam bentuk konten digital yang komunikatif dan relevan dengan generasi muda.

    Melalui rangkaian kegiatan yang terencana dan berkesinambungan ini, SMAN Colomadu menunjukkan komitmen nyata dalam mengimplementasikan Sekolah Adipangastuti secara substantif. Program ini diharapkan mampu membangun budaya sekolah yang kuat, melahirkan guru dan siswa yang berkarakter, kreatif, serta siap menjadi agen perubahan positif di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

  • Seminar Sekolah Adipangastuti di SMAN 2 Ungaran: Menanamkan Nilai Hasthalaku Bersama Siswa

    Seminar Sekolah Adipangastuti di SMAN 2 Ungaran: Menanamkan Nilai Hasthalaku Bersama Siswa

    SMAN 2 Ungaran menyelenggarakan Seminar Sekolah Adipangastuti pada Senin, 8 Desember 2025 sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis budaya dan toleransi di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi SMAN 2 Ungaran sebagai peserta, dengan menghadirkan Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., sebagai narasumber.

    Seminar ini merupakan wujud komitmen sekolah dalam mengimplementasikan nilai-nilai Sekolah Adipangastuti, sebuah model sekolah toleran berbasis budaya Jawa yang menekankan pembentukan karakter peserta didik sebagai agen perubahan. Kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan dari Kepala Sekolah, Wiwin Sri Winarni, S.S., serta doa bersama sebagai bentuk penguatan nilai spiritual dan kebersamaan di lingkungan sekolah.

    Dalam sesi utama, M. Farid Sunarto menyampaikan materi tentang penguatan nilai hasthalaku yang menjadi fondasi Sekolah Adipangastuti. Delapan nilai budaya Jawa, yaitu hasthalaku, dijelaskan secara kontekstual dan relevan dengan kehidupan remaja masa kini. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif agar siswa tidak hanya memahami secara konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan pengalaman sehari-hari di sekolah maupun di luar sekolah.

    Para siswa diajak untuk merefleksikan peran mereka sebagai generasi muda dalam menjaga harmoni, menghargai perbedaan, serta mencegah segala bentuk kekerasan dan intoleransi di lingkungan pendidikan. Melalui diskusi dan contoh konkret, narasumber menekankan bahwa nilai hasthalaku bukan sekadar warisan budaya, tetapi pedoman sikap yang dapat membentuk karakter kepemimpinan, empati sosial, dan tanggung jawab moral siswa.

    Setelah istirahat, materi dilanjutkan dengan simulasi dan diskusi kelompok untuk merancang penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sekolah. Mulai dari cara membangun komunikasi yang saling menghargai, menyelesaikan konflik secara damai, hingga menciptakan budaya sekolah yang ramah dan inklusif. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan oleh perwakilan siswa sebagai bentuk pembelajaran kolaboratif.

    Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan siswa dalam bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan. Seminar ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran dan komitmen siswa untuk menjadi pelaku utama dalam membangun budaya positif di sekolah.

    Melalui Seminar Sekolah Adipangastuti ini, SMAN 2 Ungaran berharap siswa mampu menginternalisasi nilai-nilai hasthalaku dan menerapkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran siswa sebagai agen toleransi dan duta budaya positif, sejalan dengan upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, harmonis, dan berkarakter.

    Penutupan kegiatan ditandai dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam mendukung keberlanjutan Program Sekolah Adipangastuti.

  • Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah 2025: Menumbuhkan Agen Toleransi Berbasis Budaya di Kalangan Pelajar

    Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah 2025: Menumbuhkan Agen Toleransi Berbasis Budaya di Kalangan Pelajar

    Surakarta – Upaya membangun ekosistem pendidikan yang berbudaya, inklusif, serta bebas dari kekerasan dan intoleransi terus diperkuat di Provinsi Jawa Tengah. Perkumpulan Solo Bersimfoni dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) menyelenggarakan Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 yang berlangsung pada Selasa–Rabu, 9–10 Desember 2025 di Hotel Asia Solo. Kegiatan ini diikuti oleh 58 pelajar SMA dari 58 sekolah pelaksana Program Sekolah Adipangastuti yang tersebar di Jawa Tengah.

    Pelatihan ini merupakan bagian dari penguatan Program Sekolah Adipangastuti, sebuah model sekolah toleran berbasis budaya Jawa yang mengarusutamakan nilai hasthalaku sebagai pedoman perilaku warga sekolah. Delapan nilai hasthalaku—gotong royong, graprak semanak, guyub rukun, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor, dan tepa selira—diposisikan sebagai fondasi karakter untuk membangun generasi muda yang berintegritas, toleran, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

    Kegiatan dibuka secara resmi dengan sambutan dari Walikota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, S.H., M.Kn., yang menegaskan bahwa Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan yang aman, toleran, dan inklusif bagi generasi muda. Ia menilai program ini sebagai bagian penting dari upaya pencegahan kekerasan, intoleransi, dan berbagai tantangan sosial yang kian kompleks di lingkungan sekolah.

    Respati menyampaikan apresiasinya kepada Solo Bersimfoni beserta seluruh mitra sekolah yang secara konsisten mendorong penguatan nilai-nilai perdamaian dan toleransi di Jawa Tengah. Menurutnya, program Adipangastuti bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun karakter generasi muda yang berintegritas dan berdaya saing. Ini adalah investasi untuk masa depan bangsa,” ujarnya.

    Dalam sambutannya, Walikota juga menyoroti realitas yang dihadapi remaja saat ini, di mana kekerasan, perundungan, intoleransi, hingga disinformasi mudah memengaruhi ruang belajar dan pergaulan. Oleh karena itu, keberadaan Duta Adipangastuti dinilai sangat strategis sebagai penggerak perubahan di lingkungan sekolah. Para peserta diharapkan tidak hanya menjadi simbol program, tetapi mampu mengambil peran aktif sebagai pemimpin muda yang menjaga ruang sekolah tetap aman, menghargai keberagaman, dan menumbuhkan solidaritas antarsesama.

    Respati menekankan bahwa pelatihan ini harus dimaknai sebagai proses pembentukan karakter kepemimpinan yang bijak, berani, dan bertanggung jawab. Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama pelatihan dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sekolah sehari-hari dan menginspirasi teman sebaya untuk terlibat dalam gerakan toleransi.

    Menutup sambutannya, Walikota Surakarta menegaskan komitmen Pemerintah Kota Surakarta untuk terus memperkuat kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil seperti Solo Bersimfoni. Ia berharap gerakan toleransi yang dibangun melalui Sekolah dan Duta Adipangastuti dapat tumbuh menjadi budaya yang mengakar, bukan sekadar program jangka pendek. “Masa depan toleransi di Jawa Tengah berada di tangan generasi muda yang berani dan berintegritas,” pungkasnya.

    Senada dengan hal tersebut, perwakilan dari BNPT RI menekankan pentingnya pendekatan pencegahan intoleransi sejak usia sekolah. Assoc. Prof. Muhammad Suaib Tahir, Lc., M.A., Staf Ahli Bidang Pencegahan BNPT RI, dalam sesi materinya menyampaikan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya merupakan benteng utama dalam mencegah radikalisme. Pencegahan dini melalui penguatan daya tangkal terhadap paham ini terutama di lingkungan pendidikan merupakan salah satu langkah penting untuk memutus sel-sel radikal terorisme,” ujarnya.

    Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa sejak tahun 2019 hingga 2025, Sekolah Adipangastuti telah menjangkau 67 SMA di Jawa Tengah. Ia menegaskan peran strategis Duta Adipangastuti sebagai agen perubahan di sekolah. “Duta Adipangastuti bukan hanya simbol, tetapi penggerak. Mereka diharapkan mampu menghidupkan nilai hasthalaku dalam praktik nyata, baik di sekolah maupun di masyarakat,” tuturnya.

    Pada sesi materi kepemimpinan Perempuan; Peran Remaja Membangun Kesetaraan, Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A., menekankan pentingnya peran remaja, khususnya perempuan, dalam membangun kesetaraan dan budaya saling menghargai. “Remaja hari ini adalah pemimpin masa depan. Kepemimpinan yang berangkat dari empati, kesetaraan, dan keberanian menyuarakan kebaikan akan menjadi kunci terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan inklusif,” ungkapnya di hadapan para peserta.

    Sementara itu, Prof. Agung Nur Probohudono, Ph.D., Ak., CA., CFr.A., Direktur Program Solo Bersimfoni, mengajak para peserta untuk membangun ketangguhan diri melalui konsep Resilience Impact Leadership. Ia menyampaikan, “Pemimpin muda harus tangguh, mampu bangkit dari tantangan, dan berani memberi dampak positif bagi sekitarnya. Nilai hasthalaku memberi fondasi kuat bagi lahirnya kepemimpinan yang beretika dan berdaya guna.”

    Pembekalan keterampilan kampanye digital disampaikan oleh Triana Rahmawati, content creator asal Solo. Dalam sesinya, ia menekankan pentingnya kreativitas yang dibarengi dengan etika. “Media sosial bisa menjadi ruang edukasi yang sangat kuat. Konten yang positif, jujur, dan beretika akan membantu pesan toleransi dan hasthalaku menjangkau lebih banyak orang,” jelasnya.

    Pada hari kedua, para peserta mengikuti Solo Walking Tolerance Tour yang dipandu oleh Soerakarta Walking Tour. Peserta mengunjungi berbagai rumah ibadah dan situs bersejarah di Kota Surakarta, seperti Masjid Agung Surakarta, GPIB Penabur, Gereja St. Antonius, Klenteng Tien Kok Sie, Benteng Vastenburg, Reco Gladak, dan Ringin Kembar Alun-Alun Utara. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung tentang praktik toleransi dan kehidupan multikultural yang telah lama tumbuh di Kota Solo.

    Rangkaian kegiatan ditutup dengan penganugerahan pemenang Lomba Poster Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025, sekaligus menjadi penegasan komitmen bersama untuk terus mengampanyekan nilai hasthalaku secara kreatif dan berkelanjutan.

    Melalui Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 ini, Solo Bersimfoni berharap para peserta mampu menyusun dan menjalankan rencana tindak lanjut di sekolah masing-masing serta menjadi garda terdepan dalam mencegah kekerasan dan intoleransi. Dengan berlandaskan nilai budaya lokal, Duta Adipangastuti diharapkan tumbuh sebagai generasi muda yang berkarakter, berdaya, dan berkontribusi nyata bagi terciptanya lingkungan pendidikan yang damai dan inklusif.

  • Penguatan Kompetensi Guru SMA Pelaksana Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025

    Penguatan Kompetensi Guru SMA Pelaksana Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025

    Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk pada peran dan kompetensi guru SMA. Guru tidak lagi hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga mampu merancang pembelajaran yang kreatif, inklusif, dan relevan dengan karakter peserta didik abad ke-21. Menjawab tantangan tersebut, Pelatihan Pengembangan Kompetensi Guru SMA Pelaksana Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 diselenggarakan pada 9–10 Desember 2025 di Hotel Asia Solo. Kegiatan ini dipandu oleh Direktur Program Solo Bersimfoni, Khresna Bayu Sangka, Ph.D.

    Sebelum kegiatan pelatihan dimulai, Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, memberikan laporan terkait program Solo Bersimfoni di Jawa Tengah khususnya implementasi Sekolah Adipangastuti. Beliau mengatakan bahwa SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti bukanlah sekolah yang terpapar paham ekstremisme, tetapi sekolah yang memiliki kesiapsiagaan untuk menangkal sesuatu yang belum, dan atau yang tidak terjadi, supaya benar-benar tidak terjadi dan lebih menekankan lagi pada aspek perilaku yang berdasarkan nilai-nilai budaya Jawa, yaitu hasthalaku. Selain itu, Menjadi Sekolah Adipangastuti bukan hanya pengembangan karakter, tetapi investasi kelembagaan yang memperkuat identitas, budaya, mutu pembelajaran, reputasi lokal, regional, dan nasional. “Implementasi Sekolah Adipangastuti membuat sekolah lebih hidup, kreatif, dan inovatif,” lanjutnya.

    Pelatihan ini diikuti oleh 57 guru dari 57 SMA pelaksana Program Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penguatan kompetensi pedagogik dan penguasaan TIK, sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar serta kebutuhan pembelajaran digital yang semakin kompleks. Data Kemendikbud menunjukkan masih adanya kesenjangan kompetensi TIK di kalangan guru, sehingga pelatihan ini menjadi langkah konkret untuk menjawab kebutuhan tersebut.

    Fokus utama pelatihan adalah pengembangan kemampuan guru dalam merancang konten pembelajaran yang efektif, menarik, dan terdiferensiasi. Guru dibekali pemahaman tentang diferensiasi konten agar mampu menyesuaikan materi dengan beragam gaya belajar siswa, baik visual, auditori, maupun kinestetik. Selain itu, pendekatan Universal Design for Learning (UDL) diperkenalkan untuk memastikan materi pembelajaran dapat diakses oleh seluruh peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan khusus.

    Pelatihan ini juga menekankan penerapan model pembelajaran inovatif seperti Project-Based Learning (PBL) dan Flipped Classroom. Guru dilatih merancang proyek pembelajaran yang kontekstual, lengkap dengan rubrik penilaian dan alat dokumentasi, serta mengembangkan materi pra-belajar berbasis video atau konten digital. Melalui pendekatan ini, waktu tatap muka di kelas dapat dimanfaatkan untuk diskusi mendalam, kolaborasi, dan penguatan pemahaman konsep.

    Aspek penting lainnya adalah integrasi STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dalam pembelajaran. Guru didorong untuk mengaitkan materi ajar dengan aplikasi dunia nyata dan teknologi, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan siswa. Selain itu, keterampilan content repurposing juga diberikan agar guru mampu mengolah satu materi menjadi berbagai format konten, seperti video pembelajaran, reels edukatif, infografis, dan bahan ajar digital lainnya secara efisien.

    Metode pelatihan menggunakan pendekatan hybrid, mengombinasikan teori daring dengan workshop luring, mentoring bersama narasumber ahli, serta sesi kolaborasi dan berbagi praktik baik antar guru. Pada akhir pelatihan, setiap guru ditargetkan menghasilkan satu lesson plan pembelajaran terdiferensiasi untuk satu unit pembelajaran sebagai hasil pelatihan.

    Selain itu, peserta guru juga diberi pembelajaran tentang penggunaan Artificial Intelegence (AI) sebagai dukungan pembelajaran. Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H., dalam penutupan kegiatan menyampaikan bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan keahlian, pengetahuan, atau kreativitas seorang pendidik. Namun, AI dapat menjadi alat yang berguna untuk meningkatkan dan memperkaya pengalaman belajar mengajar.

    Melalui Pelatihan Pengembangan Kompetensi Guru ini, diharapkan para guru SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti mampu menjadi perancang pembelajaran kreatif yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus berkontribusi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, inovatif, dan berdaya saing di Jawa Tengah.

  • Penguatan Karakter dan Literasi Kesehatan Mental dalam IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN Karangpandan

    Penguatan Karakter dan Literasi Kesehatan Mental dalam IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN Karangpandan

    SMAN Karangpandan melaksanakan IHT (In-House Training) Sekolah Adipangastuti yang digelar pada Selasa, 9 Desember 2025, pukul 09.00 di aula sekolah. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pelaksanaan Projek Pembelajaran Kokurikuler dengan tema Kesehatan Mental dalam Penguatan Hasthalaku. Hadir sebagai narasumber Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., yang memberikan pemaparan mengenai pentingnya penguatan karakter hasthalaku bagi peserta didik di era modern. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 393 murid kelas X SMAN Karangpandan, yang terdiri atas 112 murid laki-laki dan 281 murid perempuan.

    Dalam era yang serba cepat dan penuh tantangan, pembelajaran tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga kesejahteraan psikologis murid. Tema kesehatan mental dipilih sebagai fokus projek kokurikuler karena relevansinya dengan kebutuhan murid saat ini. Banyak peserta didik menghadapi tekanan akademik, pergaulan, maupun dinamika keluarga yang mempengaruhi kondisi emosional mereka. Oleh sebab itu, melalui kegiatan ini sekolah ingin memberikan ruang belajar yang lebih humanis, reflektif, serta mendukung perkembangan pribadi murid secara menyeluruh.

    Tujuan kegiatan ini mencakup lima hal utama, yaitu meningkatkan pemahaman murid tentang pentingnya kesehatan mental, menumbuhkan kesadaran diri dan kemampuan mengelola emosi, menguatkan nilai-nilai hasthalaku melalui aktivitas projek, menghadirkan inspirasi dari narasumber Solo Bersimfoni, dan menciptakan lingkungan sekolah yang peduli dan mendukung kesehatan mental murid. Melalui tujuan tersebut, IHT ini diharapkan dapat membangun budaya sekolah yang lebih inklusif, empatik, dan berorientasi pada penguatan karakter.

    Farid Sunarto sebagai Ketua Solo Bersimfoni menghadirkan perspektif mendalam mengenai pentingnya pengembangan karakter bagi kesehatan mental remaja. Beliau menekankan bahwa kesehatan mental bukan hanya mengenai ketiadaan gangguan psikologis, tetapi juga kemampuan managemen solusi individu. Selain itu, Pak Farid juga mengajak murid untuk mengintegrasikan nilai-nilai hasthalaku ke dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ini dinilai sangat relevan dengan upaya memperkuat ketangguhan mental dan kemampuan berinteraksi secara sehat dalam lingkungan sosial.

    Kepala SMAN Karangpandan, Drs. Munarso, M.Pd., menyampaikan apresiasi mendalam atas terlaksananya kegiatan ini. Dalam kesannya, beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanaan kegiatan Pembelajaran Kokurikuler Projek Jeda Semester dengan tema Kesehatan Mental ini. Kegiatan hari ini memberikan pengalaman berharga bagi para murid untuk memahami pentingnya menjaga kesejahteraan diri, sekaligus memperkuat nilai-nilai Hasthalaku dalam kehidupan sehari-hari.

    Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal yang bermakna untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat, ramah, dan mendukung tumbuh kembang murid secara utuh. Terima kasih kepada seluruh pihak, terutama Solo Bersimfoni, yang telah berkolaborasi menyukseskan kegiatan ini,” tambah beliau.

    IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN Karangpandan menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara emosional dan berkarakter. Dengan sinergi antara sekolah, narasumber profesional, serta partisipasi aktif murid, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat, harmonis, dan berorientasi pada kesejahteraan murid.

  • Riset Dampak Sekolah Adipangastuti: Kolaborasi Memperkuat Implementasi

    Riset Dampak Sekolah Adipangastuti: Kolaborasi Memperkuat Implementasi

    Rabu, 26 November 2025 – Solo Bersimfoni (SB) melaksanakan kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Pemaparan Hasil Riset Sekolah Adipangastuti (SA) tahun 2025 menghadirkan beragam pandangan dari guru, pengelola program, hingga perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Dipandu oleh pemaparan hasil riset dari Okta Hadi Nurcahyono dan Khresna Bayu Sangka, diskusi berlangsung intens dan produktif, menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat nilai hasthalaku dan keberlanjutan SA di sekolah-sekolah.

    Sebanyak sembilan SMA pelaksana SA yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Mojolaban, SMA Muhammadiyah 1 Surakarta, SMAN 1 Karanganyar, SMAN 1 Gemolong, SMAN 1 Wonogiri, SMAN 2 Klaten dan SMAN 2 Boyolali hadir pada kegiatan ini. Setelah pemaparan hasil riset, semua sekolah memberikan masukan agar pelaksanaan SA ke depan lebih baik.

    Atik Astrini dari SMAN 6 Surakarta, mengungkapkan harapan dilaksanakannya berbagai kegiatan, agar semangat warga sekolah selalu terjaga dalam implementasi SA. Selain itu, beberapa sekolah juga sudah memasukkan Hasthalaku pada program rutin, seperti SMAN 2 Boyolali yang melakukan berbagi praktik inovatif. Yoko Supriyanto, menjelaskan bahwa hasthalaku diimplementasikan dalam poster seni rupa, artikel kokurikuler, mural di setiap kelas, dan lingkungan. Sekolah juga mengadakan pemilihan Duta Adipangastuti. Menariknya, sebagian besar program dapat dijalankan dengan biaya minimal. Namun ia menilai siswa baru lebih mengenal Adipangastuti sebagai identitas visual unik dibanding hasthalaku, sehingga diperlukan penguatan pemahaman.

    Tantangan Implementasi Sekolah Adipangastuti

    Harjanti dari SMAN 2 Klaten menegaskan bahwa SA berjalan baik, sekolah mengagendakan satu kegiatan SA per tahun dan mengundang narasumber dari SB. Munculnya tantangan baru adalah beberapa guru pension, sehingga perlu sosialisasi dan pemahaman SA Kembali untuk menjaga konsistensi branding hasthalaku.

    Hal serupa disampaikan Novi Fajar dari SMAN 1 Wonogiri, yang menyebutkan bahwa SA masih berjalan meski tidak semassif ketika masih ada Mangement Information System (MIS) Sekolah Adipangastuti. Ia menilai bahwa indikator keberhasilan akan membuat program SA lebih terarah. Eka Candra dari SMAN 1 Karanganyar sebagai penerus pelaksana SA di sekolah menambahkan bahwa meski MIS bisa dilaksanakan tanpa anggaran besar, yang diperlukan adalah fasilitasi kreativitas melalui indikator yang lebih beragam. Menurutnya, meski beberapa sekolah mengalami pergantian kepala, implementasi SA tetap berjalan dengan baik asalkan tim pelaksana solid dan sejalan dengan visi misi sekolah.

    Pembiasaan Nilai, Ruang Ekspresi, dan Karakter Siswa

    Amelia Puspitasari dari Cabang Dinas Wilayah V mengapresiasi atmosfer positif SA yang membuat guru aktif berbagi praktik baik. Hasthalaku dianggap mampu membentuk karakter jika dijalankan dengan keteladanan dan konsistensi. Sementara itu, Sigid Susilo dari Cabang Dinas Wilayah VI menyoroti tantangan menyampaikan nilai hasthalaku kepada Gen Z yang memiliki bahasa berbeda. Ia menekankan pentingnya memberi ruang ekspresi agar motivasi siswa tetap tinggi.

    Penguatan karakter juga menjadi fokus Suparmi dari SMAN 1 Mojolaban yang memasukkan anti-bullying ke dalam program SA. Sekolahnya mengembangkan podcast pendidikan serta e-magazine bulanan melalui ekskul LIMO (Literasi Essamo). Harapannya adanya monitoring dan evaluasi implementasi SA yang sistematis, sehingga memicu sekolah untuk melaksanakan SA dengan maksimal. Sularsih dari SMA Muhammadiyah 1 Surakarta menambahkan bahwa kegiatan seperti FGD menjadi sarana memahami keberagaman implementasi SA sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk tampil.

    Sumaryono dari SMAN 1 Gemolong) mengusulkan agar hasthalaku diperkenalkan sejak jenjang SMP. Sementara Swastiko dari SMAN 1 Surakarta menekankan perlunya standarisasi konten website Adipangastuti agar informasi lebih tertata, konsisten, dan mudah diakses.

    Pada bagian pemaparan riset, Okta Hadi menyampaikan bahwa hasil implementasi SA secara umum sudah baik. Namun ia menegaskan bahwa hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi Solo Bersimfoni untuk terus berinovasi, terutama dalam menjaga keberlanjutan dan relevansi program.

    Sekolah Adipangastuti sebagai Gerakan Bersama

    Dari komentar peserta, Okta Hadi melihat potensi SA untuk dilombakan karena setiap sekolah memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. M Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni, menambahkan bahwa penguatan SA terbukti menjadi benteng pencegahan kekerasan di sekolah.

    FGD ini menegaskan bahwa keberhasilan Sekolah Adipangastuti tidak hanya bergantung pada satu komponen, tetapi kolaborasi, strategi, konsistensi, dan inovasi bersama. Dengan beragam masukan konstruktif, SA diharapkan semakin matang dan berdampak bagi pembentukan karakter siswa di masa depan.

  • Hasthalaku di Era Deep Learning: Catatan Saya dari Diseminasi Sekolah Adipangastuti 2025

    Hasthalaku di Era Deep Learning: Catatan Saya dari Diseminasi Sekolah Adipangastuti 2025

    Laporan M. Farid Sunarto – Ketua Solo Bersimfoni & Co-Founder Program Sekolah Adipangastuti

     

    Program Sekolah Adipangastuti Mau Dikemanakan?

    Rabu, 26 November 2025, bertempat di Meeting Room Modjola Café di Mojolaban Sukoharjo menjadi lokasi pertemuan diseminasi hasil penelitian yang dihadiri Cabang Dinas V, VI, dan VII Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah serta perwakilan dari 67 SMA pelaksana Program Sekolah Adipangastuti di Provinsi Jawa Tengah. Forum ini untuk mencermati temuan hasil penelitian tim UNS oleh Khresna Bayu Sangka dan Okta Hadi Nurcahyono. Pertemuan ini tidak hanya memaparkan hasil penelitian, tetapi juga menjadi ajang evaluasi substansi program, identifikasi masalah lapangan, serta perumusan strategi yang lebih relevan untuk konteks pendidikan saat ini.

    Sebagai Ketua Solo Bersimfoni sekaligus Co-Founder Program Sekolah Adipangastuti, saya membuka diskusi dengan menekankan urgensi adaptasi program terhadap perubahan kebijakan nasional. Pergeseran dari P5 menuju pendekatan kokurikuler dan Deep Learning Approach menuntut setiap sekolah untuk melakukan penyesuaian metode implementasi nilai-nilai Hasthalaku.

    Beberapa poin penting yang dibahas dalam pembuka pertemuan antara lain: bagaimana memastikan keberlanjutan nilai Hasthalaku dalam struktur kurikulum yang berubah; perlunya peningkatan kapasitas guru untuk menghadapi tuntutan digitalisasi; kesiapan sekolah dalam merespons perubahan kebijakan pusat secara sistematis; dan pentingnya dukungan kelembagaan, khususnya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan pemerintah provinsi Jawa Tengah.

    Dalam forum ini saya menegaskan bahwa konsistensi program tidak cukup hanya bertumpu pada praktik yang telah berjalan. Diperlukan pembaruan konsep, penguatan kapasitas, dan sinkronisasi kebijakan agar Sekolah Adipangastuti tetap relevan serta dapat memperluas dampaknya.

    Temuan Lapangan: Hasthalaku Menjadi Identitas Baru Sekolah

    Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai Hasthalaku yang terdiri dari gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, andhap asor, dan tepa selira, telah membentuk habitus baru di sekolah-sekolah. Banyak guru menyampaikan bahwa siswa kini lebih reflektif, lebih terbuka dalam berdialog, dan memiliki kepekaan sosial yang lebih baik melalui kegiatan literasi dan digitalisasi. Juga memperkaya konten praktik baik di media sosial seperti ruang podcast, TikTok sekolah, mading digital, hingga proyek observasi sosial.

    Yang menjadi kabar baiknya adalah, meskipun program yang dilead dalam MIS Adipangastuti telah berakhir, namun kegiatan literasi masih berjalan secara mandiri, tanda bahwa nilai-nilai ini tidak berhenti sebagai proyek, tetapi tumbuh menjadi budaya. Beberapa sekolah adipangastuti juga meningkatkan kapasitas guru dalam membangun kecakapan narasi dan literasi dengan pendekatan teknologi dan AI.

    Namun demikian, saya juga mencatat tantangan yang mengemuka: keterbatasan waktu guru pembimbing adipangastuti, masuknya siswa baru yang belum tersosialisasi program adipangastuti, serta fasilitasi kecakapan teknologi dan AI yang belum merata. Semua ini menjadi pekerjaan bersama jika kita ingin program ini bertahan dan berkembang.

    Gelombang Perubahan Nasional: Saat Pendidikan Nilai Budaya Jawa Hasthalaku Harus Menyelaraskan Irama Baru

    Perubahan kebijakan pendidikan nasional yang kini beralih dari fokus Projek Profil Pelajar Pancasila (P5) menuju pendekatan Deep Learning dan 8 Dimensi Profil Lulusan menciptakan dinamika baru bagi 67 SMA pelaksana program adipangastuti di Jawa Tengah.

    Saya menyoroti perubahan ini, dahulu P5 menjadi panggung besar implementasi nilai karakter, kini sekolah harus menenun pendidikan karakter ke dalam kokurikuler yang dikehendaki pemerintah melalui tiga strategi utama: (1) integrasi antarmapel, (2) Gerakan 7 Kebijakan Anak Hebat Indonesia (G7KAIH), dan (3) strategi proyek kokurikuler lainnya.

    Dalam konteks itu, nilai-nilai Hasthalaku tidak boleh sekadar dipindahkan bentuknya. Ia harus diinterpretasi ulang, dirumuskan ulang, dan diiterasikan ulang ke dalam struktur baru yang menuntut kolaborasi lintas mata pelajaran, kreativitas guru, serta keberanian sekolah untuk bereksperimen.

    Saya menegaskan, “Kita tidak sedang memindahkan wadah, tetapi sedang menciptakan dapur baru. Dan dapur baru membutuhkan resep baru.”

    Dengan perubahan menuju 8 dimensi lulusan, sekolah kini menghadapi tantangan baru: bagaimana memastikan bahwa nilai budaya lokal tetap menjadi DNA pembentukan karakter peserta didik ketika indikator dan kerangka nasional berubah total. Di sinilah pentingnya peran Program Sekolah Adipangastuti sebagai model pendidikan berbasis budaya Jawa yang lentur, mampu menyesuaikan diri, tetapi tetap teguh pada jati dirinya.

    “Brokoli dalam Pasta”: Metafora Baru Pendidikan Karakter Jawa

    Pada sesi pemantik diskusi, saya memperkenalkan metafora yang menjadi arah baru program Adipangastuti: Hasthalaku adalah brokoli. Teknologi adalah pasta. Brokoli itu sayuran bernutrisi baik, tetapi anak muda tidak selalu tertarik makan sayur brokoli. Pasta disukai para gen z dan gen alfa, dimaknai lezat, modern, dan mudah diterima. “Maka tugas kita adalah menyajikan ‘brokoli dalam pasta’ nilai budaya dikemas dalam teknologi yang digemari generasi masa kini.”

    Pendidik tidak boleh takut pada teknologi. AI bukan ancaman; ia adalah assistant intelligence yang dapat membantu guru merumuskan narasi pembelajaran, menganalisis karakter siswa, dan menyajikan materi secara personal. Di luar negeri, AI telah digunakan sebagai personalisasi AI, sebuah model AI yang disesuaikan dengan karakter, interest dan gaya belajar setiap siswa. Di Indonesia, kita harus berani melompat. Tidak cukup berjalan mengikuti perubahan, kita harus berlari mengejar relevansi.

    Komitmen Program Sekolah Adipangastuti: Merajut Budaya Lokal dan Teknologi Terkini

    Dalam sesi akhir diseminasi, saya menyampaikan komitmen strategis Solo Bersimfoni untuk membawa Program Sekolah Adipangastuti memasuki fase baru, fase yang bukan lagi berfokus pada mempertahankan program, tetapi mengonsolidasikan identitasnya sebagai model pendidikan budaya-modern yang canggih dan relevan.

    Pertama, kami berkomitmen merancang ulang modul Adipangastuti agar selaras dengan tiga strategi kokurikuler dan 8 profil lulusan. Bukan sekadar menyesuaikan, tetapi memformulasikan ulang agar nilai Hasthalaku tampil lebih kuat, lebih kontekstual, dan lebih mudah diterapkan lintas mata pelajaran.

    Kedua, peningkatan kapasitas digital literasi guru menjadi prioritas mutlak. Para guru perlu memasuki ranah baru: AI dan Asisten AI untuk pembelajaran, pembuatan konten kreatif yang berkelas, manajemen branding digital, serta keterampilan berpikir kritis tingkat lanjut yang dapat mentransformasikan ruang kelas menjadi ruang eksplorasi. Guru tidak lagi hanya sebagai pengajar, tetapi arsitek pengalaman belajar.

    Ketiga, kami akan mengembangkan ekosistem sekolah yang lebih modern adaptif dengan implementasi teknologi yang membantu pembelajaran: studio podcast, tim ekstra kurikuler adipangastuti, pemanfaatan AI dan asisten AI, hingga ruang-ruang kreatif bagi siswa untuk membangun identitas karakter melalui teknologi.

    Saya menutup sesi tersebut dengan pemikiran yang sangat saya yakini: “Budaya memberikan akar, teknologi memberikan sayap. Bila keduanya dirajut bersama, kita akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi berkarakter, kreatif, dan berdaya saing global. Hasthalaku bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah bahasa karakter masa depan, selama kita berani menyajikannya dengan cara baru.”

    Komitmen ini tidak hanya dibangun oleh Solo Bersimfoni, tetapi juga oleh para kepala sekolah, guru, Cabdin, dan seluruh ekosistem pendidikan Jawa Tengah. Bersama-sama, kita menulis babak baru: babak ketika nilai Jawa tidak lagi berjalan di belakang perkembangan zaman, tetapi berjalan bersisian, bahkan memimpin.