Close

November 27, 2025

Hasthalaku di Era Deep Learning: Catatan Saya dari Diseminasi Sekolah Adipangastuti 2025

Laporan M. Farid Sunarto – Ketua Solo Bersimfoni & Co-Founder Program Sekolah Adipangastuti

 

Program Sekolah Adipangastuti Mau Dikemanakan?

Rabu, 26 November 2025, bertempat di Meeting Room Modjola Café di Mojolaban Sukoharjo menjadi lokasi pertemuan diseminasi hasil penelitian yang dihadiri Cabang Dinas V, VI, dan VII Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah serta perwakilan dari 67 SMA pelaksana Program Sekolah Adipangastuti di Provinsi Jawa Tengah. Forum ini untuk mencermati temuan hasil penelitian tim UNS oleh Khresna Bayu Sangka dan Okta Hadi Nurcahyono. Pertemuan ini tidak hanya memaparkan hasil penelitian, tetapi juga menjadi ajang evaluasi substansi program, identifikasi masalah lapangan, serta perumusan strategi yang lebih relevan untuk konteks pendidikan saat ini.

Sebagai Ketua Solo Bersimfoni sekaligus Co-Founder Program Sekolah Adipangastuti, saya membuka diskusi dengan menekankan urgensi adaptasi program terhadap perubahan kebijakan nasional. Pergeseran dari P5 menuju pendekatan kokurikuler dan Deep Learning Approach menuntut setiap sekolah untuk melakukan penyesuaian metode implementasi nilai-nilai Hasthalaku.

Beberapa poin penting yang dibahas dalam pembuka pertemuan antara lain: bagaimana memastikan keberlanjutan nilai Hasthalaku dalam struktur kurikulum yang berubah; perlunya peningkatan kapasitas guru untuk menghadapi tuntutan digitalisasi; kesiapan sekolah dalam merespons perubahan kebijakan pusat secara sistematis; dan pentingnya dukungan kelembagaan, khususnya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan pemerintah provinsi Jawa Tengah.

Dalam forum ini saya menegaskan bahwa konsistensi program tidak cukup hanya bertumpu pada praktik yang telah berjalan. Diperlukan pembaruan konsep, penguatan kapasitas, dan sinkronisasi kebijakan agar Sekolah Adipangastuti tetap relevan serta dapat memperluas dampaknya.

Temuan Lapangan: Hasthalaku Menjadi Identitas Baru Sekolah

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai Hasthalaku yang terdiri dari gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, andhap asor, dan tepa selira, telah membentuk habitus baru di sekolah-sekolah. Banyak guru menyampaikan bahwa siswa kini lebih reflektif, lebih terbuka dalam berdialog, dan memiliki kepekaan sosial yang lebih baik melalui kegiatan literasi dan digitalisasi. Juga memperkaya konten praktik baik di media sosial seperti ruang podcast, TikTok sekolah, mading digital, hingga proyek observasi sosial.

Yang menjadi kabar baiknya adalah, meskipun program yang dilead dalam MIS Adipangastuti telah berakhir, namun kegiatan literasi masih berjalan secara mandiri, tanda bahwa nilai-nilai ini tidak berhenti sebagai proyek, tetapi tumbuh menjadi budaya. Beberapa sekolah adipangastuti juga meningkatkan kapasitas guru dalam membangun kecakapan narasi dan literasi dengan pendekatan teknologi dan AI.

Namun demikian, saya juga mencatat tantangan yang mengemuka: keterbatasan waktu guru pembimbing adipangastuti, masuknya siswa baru yang belum tersosialisasi program adipangastuti, serta fasilitasi kecakapan teknologi dan AI yang belum merata. Semua ini menjadi pekerjaan bersama jika kita ingin program ini bertahan dan berkembang.

Gelombang Perubahan Nasional: Saat Pendidikan Nilai Budaya Jawa Hasthalaku Harus Menyelaraskan Irama Baru

Perubahan kebijakan pendidikan nasional yang kini beralih dari fokus Projek Profil Pelajar Pancasila (P5) menuju pendekatan Deep Learning dan 8 Dimensi Profil Lulusan menciptakan dinamika baru bagi 67 SMA pelaksana program adipangastuti di Jawa Tengah.

Saya menyoroti perubahan ini, dahulu P5 menjadi panggung besar implementasi nilai karakter, kini sekolah harus menenun pendidikan karakter ke dalam kokurikuler yang dikehendaki pemerintah melalui tiga strategi utama: (1) integrasi antarmapel, (2) Gerakan 7 Kebijakan Anak Hebat Indonesia (G7KAIH), dan (3) strategi proyek kokurikuler lainnya.

Dalam konteks itu, nilai-nilai Hasthalaku tidak boleh sekadar dipindahkan bentuknya. Ia harus diinterpretasi ulang, dirumuskan ulang, dan diiterasikan ulang ke dalam struktur baru yang menuntut kolaborasi lintas mata pelajaran, kreativitas guru, serta keberanian sekolah untuk bereksperimen.

Saya menegaskan, “Kita tidak sedang memindahkan wadah, tetapi sedang menciptakan dapur baru. Dan dapur baru membutuhkan resep baru.”

Dengan perubahan menuju 8 dimensi lulusan, sekolah kini menghadapi tantangan baru: bagaimana memastikan bahwa nilai budaya lokal tetap menjadi DNA pembentukan karakter peserta didik ketika indikator dan kerangka nasional berubah total. Di sinilah pentingnya peran Program Sekolah Adipangastuti sebagai model pendidikan berbasis budaya Jawa yang lentur, mampu menyesuaikan diri, tetapi tetap teguh pada jati dirinya.

“Brokoli dalam Pasta”: Metafora Baru Pendidikan Karakter Jawa

Pada sesi pemantik diskusi, saya memperkenalkan metafora yang menjadi arah baru program Adipangastuti: Hasthalaku adalah brokoli. Teknologi adalah pasta. Brokoli itu sayuran bernutrisi baik, tetapi anak muda tidak selalu tertarik makan sayur brokoli. Pasta disukai para gen z dan gen alfa, dimaknai lezat, modern, dan mudah diterima. “Maka tugas kita adalah menyajikan ‘brokoli dalam pasta’ nilai budaya dikemas dalam teknologi yang digemari generasi masa kini.”

Pendidik tidak boleh takut pada teknologi. AI bukan ancaman; ia adalah assistant intelligence yang dapat membantu guru merumuskan narasi pembelajaran, menganalisis karakter siswa, dan menyajikan materi secara personal. Di luar negeri, AI telah digunakan sebagai personalisasi AI, sebuah model AI yang disesuaikan dengan karakter, interest dan gaya belajar setiap siswa. Di Indonesia, kita harus berani melompat. Tidak cukup berjalan mengikuti perubahan, kita harus berlari mengejar relevansi.

Komitmen Program Sekolah Adipangastuti: Merajut Budaya Lokal dan Teknologi Terkini

Dalam sesi akhir diseminasi, saya menyampaikan komitmen strategis Solo Bersimfoni untuk membawa Program Sekolah Adipangastuti memasuki fase baru, fase yang bukan lagi berfokus pada mempertahankan program, tetapi mengonsolidasikan identitasnya sebagai model pendidikan budaya-modern yang canggih dan relevan.

Pertama, kami berkomitmen merancang ulang modul Adipangastuti agar selaras dengan tiga strategi kokurikuler dan 8 profil lulusan. Bukan sekadar menyesuaikan, tetapi memformulasikan ulang agar nilai Hasthalaku tampil lebih kuat, lebih kontekstual, dan lebih mudah diterapkan lintas mata pelajaran.

Kedua, peningkatan kapasitas digital literasi guru menjadi prioritas mutlak. Para guru perlu memasuki ranah baru: AI dan Asisten AI untuk pembelajaran, pembuatan konten kreatif yang berkelas, manajemen branding digital, serta keterampilan berpikir kritis tingkat lanjut yang dapat mentransformasikan ruang kelas menjadi ruang eksplorasi. Guru tidak lagi hanya sebagai pengajar, tetapi arsitek pengalaman belajar.

Ketiga, kami akan mengembangkan ekosistem sekolah yang lebih modern adaptif dengan implementasi teknologi yang membantu pembelajaran: studio podcast, tim ekstra kurikuler adipangastuti, pemanfaatan AI dan asisten AI, hingga ruang-ruang kreatif bagi siswa untuk membangun identitas karakter melalui teknologi.

Saya menutup sesi tersebut dengan pemikiran yang sangat saya yakini: “Budaya memberikan akar, teknologi memberikan sayap. Bila keduanya dirajut bersama, kita akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi berkarakter, kreatif, dan berdaya saing global. Hasthalaku bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah bahasa karakter masa depan, selama kita berani menyajikannya dengan cara baru.”

Komitmen ini tidak hanya dibangun oleh Solo Bersimfoni, tetapi juga oleh para kepala sekolah, guru, Cabdin, dan seluruh ekosistem pendidikan Jawa Tengah. Bersama-sama, kita menulis babak baru: babak ketika nilai Jawa tidak lagi berjalan di belakang perkembangan zaman, tetapi berjalan bersisian, bahkan memimpin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *