Close

November 21, 2025

Menggali Kearifan Lokal Solo Melalui Pelatihan Penulisan Feature; Kegiatan Projek Kokurikuler Kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2025/2026

Kearifan lokal bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas yang menuntun generasi muda memahami akar budaya mereka. Dengan semangat itulah SMA Negeri 1 Surakarta menyelenggarakan kegiatan Projek Kokurikuler bertema Kearifan Lokal untuk siswa kelas X tahun pelajaran 2025/2026. Salah satu rangkaian penting dalam kegiatan ini adalah Pelatihan Penulisan Artikel Feature, sebuah bekal yang dirancang untuk mengajak siswa mengenal, merasakan, dan menuliskan kembali kekayaan budaya Solo dan sekitarnya. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 13 November 2025 di Aula SMAN 1 Surakarta.

Pelatihan ini dilaksanakan sebagai langkah awal sebelum siswa terjun langsung melakukan kunjungan lapangan. Para peserta dibimbing untuk memahami dasar-dasar penulisan feature, jenis tulisan yang ringan, luwes, serta dekat dengan gaya komunikasi generasi sekarang, namun tetap mampu menyampaikan pesan mendalam. Feature dipilih karena mampu menjembatani pengalaman nyata di lapangan dengan gaya bertutur yang personal dan menggugah.

Solo, atau Surakarta, merupakan kota dengan kekayaan budaya yang adi luhung. Hamparan bangunan bersejarah, pusat kerajinan, pertunjukan seni tradisi, hingga ragam makanan khas menjadi laboratorium budaya yang sangat kaya untuk dieksplorasi oleh siswa. Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengenal kembali ruang-ruang kota yang mungkin selama ini mereka lewati tanpa menyadari nilai historis dan filosofisnya.

Dalam pengantar kegiatan, Penanggung Jawab Kokurikuler SMA Negeri 1 Surakarta, Ibu Arni Ferra Sinatra, S.Pd., M.Pd., menegaskan pentingnya keterampilan menulis bagi generasi muda. “Menulis merupakan sebuah keterampilan yang sangat mendukung kesuksesan siswa di masa depan. Dengan mengenal kearifan lokal, siswa diharapkan dapat memiliki jati diri yang kuat dan mengakar pada budayanya sendiri,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa penulisan feature mampu mendekatkan tema besar mengenai budaya ini dengan cara yang lebih hangat dan relevan bagi siswa.

 

Kegiatan pembekalan ini mendatangkan narasumber dari Solo Bersimfoni, Tia Brizantiana. Dalam paparannya, Tia menekankan bahwa tulisan feature berisi tak hanya 5W dan 1 H, tetapi juga kisah di dalam kisah. “Tulisan feature menggunakan detail naratif yang membangkitkan empati. Tulisan ini bersikat ringan, tidak selalu terkait dengan berita penting atau terbaru,” lanjut Tia.

Rangkaian kegiatan siswa dirancang untuk menyentuh berbagai aspek kearifan lokal Solo, seperti bangunan bersejarah, makanan khas, pertunjukan tradisional, dan pusat kerajinan. Tiap kelompok akan diajak mengunjungi keempat aspek di atas. Untuk bangunan bersejarah, tak hanya Keraton Kasunanan Surakarta atau Pura Mangkunegaran, siswa juga boleh memilih mengunjungi bangunan bersejarah lain seperti Loji Gandung, Gedung Bank Indonesia maupun Hotel Cakra yang ternyata memiliki sejarah penting di Solo. Kampung Batik Laweyan dan Kauman bisa dikunjungi sebagai pusat kerajinan, jika siswa tertarik pada alat music, bisa berkunjung ke Sentra Kerajinan Gitar Baki yang berada di Sukoharjo.

Pertunjukan budaya seperti Wayang Wong Sriwedari, Sendratari Ramayana Balekambang, atau rumah budaya seperti Rumah Budaya Kratonan dan Semarak Candra Kirana yang juga mengadakan pertunjukan seni sesekali. Tidak kalah menarik, ragam kuliner khas Solo seperti nasi liwet, cabuk rambak, dan tahu kupat, dapat menjadi bahan tulisan feature yang menggugah, karena setiap hidangan memuat cerita masyarakat yang melestarikannya.

Kegiatan ini bukan hanya bertujuan menghasilkan tulisan, melainkan membangun kesadaran budaya. Dengan terjun ke lapangan, mewawancarai pelaku budaya, dan merasakan langsung pengalaman kota, siswa diharapkan mampu menyusun tulisan yang kaya detail dan menggambarkan makna budaya secara mendalam.

Ibu Ferra menutup sesi pembekalan dengan pesan reflektif: “Mengenal kekayaan kearifan lokal dan menuliskannya merupakan sebuah upaya untuk merawat warisan leluhur.” Sejalan dengan itu, Tia Brizantiana mengingatkan bahwa generasi muda adalah penjaga kesinambungan budaya. Tulisan mereka dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Melalui kegiatan projek kokurikuler ini, SMA Negeri 1 Surakarta berharap siswa dapat mengembangkan literasi, kreativitas, dan kepekaan budaya. Lebih dari itu, mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tidak tercerabut dari akar, serta mampu menceritakan kekayaan Solo kepada dunia melalui tulisan-tulisan yang hidup, menarik, dan bermakna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *