Close

November 27, 2025

Riset Dampak Sekolah Adipangastuti: Kolaborasi Memperkuat Implementasi

Rabu, 26 November 2025 – Solo Bersimfoni (SB) melaksanakan kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Pemaparan Hasil Riset Sekolah Adipangastuti (SA) tahun 2025 menghadirkan beragam pandangan dari guru, pengelola program, hingga perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Dipandu oleh pemaparan hasil riset dari Okta Hadi Nurcahyono dan Khresna Bayu Sangka, diskusi berlangsung intens dan produktif, menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat nilai hasthalaku dan keberlanjutan SA di sekolah-sekolah.

Sebanyak sembilan SMA pelaksana SA yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Mojolaban, SMA Muhammadiyah 1 Surakarta, SMAN 1 Karanganyar, SMAN 1 Gemolong, SMAN 1 Wonogiri, SMAN 2 Klaten dan SMAN 2 Boyolali hadir pada kegiatan ini. Setelah pemaparan hasil riset, semua sekolah memberikan masukan agar pelaksanaan SA ke depan lebih baik.

Atik Astrini dari SMAN 6 Surakarta, mengungkapkan harapan dilaksanakannya berbagai kegiatan, agar semangat warga sekolah selalu terjaga dalam implementasi SA. Selain itu, beberapa sekolah juga sudah memasukkan Hasthalaku pada program rutin, seperti SMAN 2 Boyolali yang melakukan berbagi praktik inovatif. Yoko Supriyanto, menjelaskan bahwa hasthalaku diimplementasikan dalam poster seni rupa, artikel kokurikuler, mural di setiap kelas, dan lingkungan. Sekolah juga mengadakan pemilihan Duta Adipangastuti. Menariknya, sebagian besar program dapat dijalankan dengan biaya minimal. Namun ia menilai siswa baru lebih mengenal Adipangastuti sebagai identitas visual unik dibanding hasthalaku, sehingga diperlukan penguatan pemahaman.

Tantangan Implementasi Sekolah Adipangastuti

Harjanti dari SMAN 2 Klaten menegaskan bahwa SA berjalan baik, sekolah mengagendakan satu kegiatan SA per tahun dan mengundang narasumber dari SB. Munculnya tantangan baru adalah beberapa guru pension, sehingga perlu sosialisasi dan pemahaman SA Kembali untuk menjaga konsistensi branding hasthalaku.

Hal serupa disampaikan Novi Fajar dari SMAN 1 Wonogiri, yang menyebutkan bahwa SA masih berjalan meski tidak semassif ketika masih ada Mangement Information System (MIS) Sekolah Adipangastuti. Ia menilai bahwa indikator keberhasilan akan membuat program SA lebih terarah. Eka Candra dari SMAN 1 Karanganyar sebagai penerus pelaksana SA di sekolah menambahkan bahwa meski MIS bisa dilaksanakan tanpa anggaran besar, yang diperlukan adalah fasilitasi kreativitas melalui indikator yang lebih beragam. Menurutnya, meski beberapa sekolah mengalami pergantian kepala, implementasi SA tetap berjalan dengan baik asalkan tim pelaksana solid dan sejalan dengan visi misi sekolah.

Pembiasaan Nilai, Ruang Ekspresi, dan Karakter Siswa

Amelia Puspitasari dari Cabang Dinas Wilayah V mengapresiasi atmosfer positif SA yang membuat guru aktif berbagi praktik baik. Hasthalaku dianggap mampu membentuk karakter jika dijalankan dengan keteladanan dan konsistensi. Sementara itu, Sigid Susilo dari Cabang Dinas Wilayah VI menyoroti tantangan menyampaikan nilai hasthalaku kepada Gen Z yang memiliki bahasa berbeda. Ia menekankan pentingnya memberi ruang ekspresi agar motivasi siswa tetap tinggi.

Penguatan karakter juga menjadi fokus Suparmi dari SMAN 1 Mojolaban yang memasukkan anti-bullying ke dalam program SA. Sekolahnya mengembangkan podcast pendidikan serta e-magazine bulanan melalui ekskul LIMO (Literasi Essamo). Harapannya adanya monitoring dan evaluasi implementasi SA yang sistematis, sehingga memicu sekolah untuk melaksanakan SA dengan maksimal. Sularsih dari SMA Muhammadiyah 1 Surakarta menambahkan bahwa kegiatan seperti FGD menjadi sarana memahami keberagaman implementasi SA sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk tampil.

Sumaryono dari SMAN 1 Gemolong) mengusulkan agar hasthalaku diperkenalkan sejak jenjang SMP. Sementara Swastiko dari SMAN 1 Surakarta menekankan perlunya standarisasi konten website Adipangastuti agar informasi lebih tertata, konsisten, dan mudah diakses.

Pada bagian pemaparan riset, Okta Hadi menyampaikan bahwa hasil implementasi SA secara umum sudah baik. Namun ia menegaskan bahwa hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi Solo Bersimfoni untuk terus berinovasi, terutama dalam menjaga keberlanjutan dan relevansi program.

Sekolah Adipangastuti sebagai Gerakan Bersama

Dari komentar peserta, Okta Hadi melihat potensi SA untuk dilombakan karena setiap sekolah memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. M Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni, menambahkan bahwa penguatan SA terbukti menjadi benteng pencegahan kekerasan di sekolah.

FGD ini menegaskan bahwa keberhasilan Sekolah Adipangastuti tidak hanya bergantung pada satu komponen, tetapi kolaborasi, strategi, konsistensi, dan inovasi bersama. Dengan beragam masukan konstruktif, SA diharapkan semakin matang dan berdampak bagi pembentukan karakter siswa di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *