Tag: hasthalaku

  • Penguatan Kompetensi Guru SMA Pelaksana Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025

    Penguatan Kompetensi Guru SMA Pelaksana Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025

    Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk pada peran dan kompetensi guru SMA. Guru tidak lagi hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga mampu merancang pembelajaran yang kreatif, inklusif, dan relevan dengan karakter peserta didik abad ke-21. Menjawab tantangan tersebut, Pelatihan Pengembangan Kompetensi Guru SMA Pelaksana Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 diselenggarakan pada 9–10 Desember 2025 di Hotel Asia Solo. Kegiatan ini dipandu oleh Direktur Program Solo Bersimfoni, Khresna Bayu Sangka, Ph.D.

    Sebelum kegiatan pelatihan dimulai, Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, memberikan laporan terkait program Solo Bersimfoni di Jawa Tengah khususnya implementasi Sekolah Adipangastuti. Beliau mengatakan bahwa SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti bukanlah sekolah yang terpapar paham ekstremisme, tetapi sekolah yang memiliki kesiapsiagaan untuk menangkal sesuatu yang belum, dan atau yang tidak terjadi, supaya benar-benar tidak terjadi dan lebih menekankan lagi pada aspek perilaku yang berdasarkan nilai-nilai budaya Jawa, yaitu hasthalaku. Selain itu, Menjadi Sekolah Adipangastuti bukan hanya pengembangan karakter, tetapi investasi kelembagaan yang memperkuat identitas, budaya, mutu pembelajaran, reputasi lokal, regional, dan nasional. “Implementasi Sekolah Adipangastuti membuat sekolah lebih hidup, kreatif, dan inovatif,” lanjutnya.

    Pelatihan ini diikuti oleh 57 guru dari 57 SMA pelaksana Program Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penguatan kompetensi pedagogik dan penguasaan TIK, sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar serta kebutuhan pembelajaran digital yang semakin kompleks. Data Kemendikbud menunjukkan masih adanya kesenjangan kompetensi TIK di kalangan guru, sehingga pelatihan ini menjadi langkah konkret untuk menjawab kebutuhan tersebut.

    Fokus utama pelatihan adalah pengembangan kemampuan guru dalam merancang konten pembelajaran yang efektif, menarik, dan terdiferensiasi. Guru dibekali pemahaman tentang diferensiasi konten agar mampu menyesuaikan materi dengan beragam gaya belajar siswa, baik visual, auditori, maupun kinestetik. Selain itu, pendekatan Universal Design for Learning (UDL) diperkenalkan untuk memastikan materi pembelajaran dapat diakses oleh seluruh peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan khusus.

    Pelatihan ini juga menekankan penerapan model pembelajaran inovatif seperti Project-Based Learning (PBL) dan Flipped Classroom. Guru dilatih merancang proyek pembelajaran yang kontekstual, lengkap dengan rubrik penilaian dan alat dokumentasi, serta mengembangkan materi pra-belajar berbasis video atau konten digital. Melalui pendekatan ini, waktu tatap muka di kelas dapat dimanfaatkan untuk diskusi mendalam, kolaborasi, dan penguatan pemahaman konsep.

    Aspek penting lainnya adalah integrasi STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dalam pembelajaran. Guru didorong untuk mengaitkan materi ajar dengan aplikasi dunia nyata dan teknologi, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan siswa. Selain itu, keterampilan content repurposing juga diberikan agar guru mampu mengolah satu materi menjadi berbagai format konten, seperti video pembelajaran, reels edukatif, infografis, dan bahan ajar digital lainnya secara efisien.

    Metode pelatihan menggunakan pendekatan hybrid, mengombinasikan teori daring dengan workshop luring, mentoring bersama narasumber ahli, serta sesi kolaborasi dan berbagi praktik baik antar guru. Pada akhir pelatihan, setiap guru ditargetkan menghasilkan satu lesson plan pembelajaran terdiferensiasi untuk satu unit pembelajaran sebagai hasil pelatihan.

    Selain itu, peserta guru juga diberi pembelajaran tentang penggunaan Artificial Intelegence (AI) sebagai dukungan pembelajaran. Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H., dalam penutupan kegiatan menyampaikan bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan keahlian, pengetahuan, atau kreativitas seorang pendidik. Namun, AI dapat menjadi alat yang berguna untuk meningkatkan dan memperkaya pengalaman belajar mengajar.

    Melalui Pelatihan Pengembangan Kompetensi Guru ini, diharapkan para guru SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti mampu menjadi perancang pembelajaran kreatif yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus berkontribusi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, inovatif, dan berdaya saing di Jawa Tengah.

  • Hasthalaku di Era Deep Learning: Catatan Saya dari Diseminasi Sekolah Adipangastuti 2025

    Hasthalaku di Era Deep Learning: Catatan Saya dari Diseminasi Sekolah Adipangastuti 2025

    Laporan M. Farid Sunarto – Ketua Solo Bersimfoni & Co-Founder Program Sekolah Adipangastuti

     

    Program Sekolah Adipangastuti Mau Dikemanakan?

    Rabu, 26 November 2025, bertempat di Meeting Room Modjola Café di Mojolaban Sukoharjo menjadi lokasi pertemuan diseminasi hasil penelitian yang dihadiri Cabang Dinas V, VI, dan VII Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah serta perwakilan dari 67 SMA pelaksana Program Sekolah Adipangastuti di Provinsi Jawa Tengah. Forum ini untuk mencermati temuan hasil penelitian tim UNS oleh Khresna Bayu Sangka dan Okta Hadi Nurcahyono. Pertemuan ini tidak hanya memaparkan hasil penelitian, tetapi juga menjadi ajang evaluasi substansi program, identifikasi masalah lapangan, serta perumusan strategi yang lebih relevan untuk konteks pendidikan saat ini.

    Sebagai Ketua Solo Bersimfoni sekaligus Co-Founder Program Sekolah Adipangastuti, saya membuka diskusi dengan menekankan urgensi adaptasi program terhadap perubahan kebijakan nasional. Pergeseran dari P5 menuju pendekatan kokurikuler dan Deep Learning Approach menuntut setiap sekolah untuk melakukan penyesuaian metode implementasi nilai-nilai Hasthalaku.

    Beberapa poin penting yang dibahas dalam pembuka pertemuan antara lain: bagaimana memastikan keberlanjutan nilai Hasthalaku dalam struktur kurikulum yang berubah; perlunya peningkatan kapasitas guru untuk menghadapi tuntutan digitalisasi; kesiapan sekolah dalam merespons perubahan kebijakan pusat secara sistematis; dan pentingnya dukungan kelembagaan, khususnya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan pemerintah provinsi Jawa Tengah.

    Dalam forum ini saya menegaskan bahwa konsistensi program tidak cukup hanya bertumpu pada praktik yang telah berjalan. Diperlukan pembaruan konsep, penguatan kapasitas, dan sinkronisasi kebijakan agar Sekolah Adipangastuti tetap relevan serta dapat memperluas dampaknya.

    Temuan Lapangan: Hasthalaku Menjadi Identitas Baru Sekolah

    Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai Hasthalaku yang terdiri dari gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, andhap asor, dan tepa selira, telah membentuk habitus baru di sekolah-sekolah. Banyak guru menyampaikan bahwa siswa kini lebih reflektif, lebih terbuka dalam berdialog, dan memiliki kepekaan sosial yang lebih baik melalui kegiatan literasi dan digitalisasi. Juga memperkaya konten praktik baik di media sosial seperti ruang podcast, TikTok sekolah, mading digital, hingga proyek observasi sosial.

    Yang menjadi kabar baiknya adalah, meskipun program yang dilead dalam MIS Adipangastuti telah berakhir, namun kegiatan literasi masih berjalan secara mandiri, tanda bahwa nilai-nilai ini tidak berhenti sebagai proyek, tetapi tumbuh menjadi budaya. Beberapa sekolah adipangastuti juga meningkatkan kapasitas guru dalam membangun kecakapan narasi dan literasi dengan pendekatan teknologi dan AI.

    Namun demikian, saya juga mencatat tantangan yang mengemuka: keterbatasan waktu guru pembimbing adipangastuti, masuknya siswa baru yang belum tersosialisasi program adipangastuti, serta fasilitasi kecakapan teknologi dan AI yang belum merata. Semua ini menjadi pekerjaan bersama jika kita ingin program ini bertahan dan berkembang.

    Gelombang Perubahan Nasional: Saat Pendidikan Nilai Budaya Jawa Hasthalaku Harus Menyelaraskan Irama Baru

    Perubahan kebijakan pendidikan nasional yang kini beralih dari fokus Projek Profil Pelajar Pancasila (P5) menuju pendekatan Deep Learning dan 8 Dimensi Profil Lulusan menciptakan dinamika baru bagi 67 SMA pelaksana program adipangastuti di Jawa Tengah.

    Saya menyoroti perubahan ini, dahulu P5 menjadi panggung besar implementasi nilai karakter, kini sekolah harus menenun pendidikan karakter ke dalam kokurikuler yang dikehendaki pemerintah melalui tiga strategi utama: (1) integrasi antarmapel, (2) Gerakan 7 Kebijakan Anak Hebat Indonesia (G7KAIH), dan (3) strategi proyek kokurikuler lainnya.

    Dalam konteks itu, nilai-nilai Hasthalaku tidak boleh sekadar dipindahkan bentuknya. Ia harus diinterpretasi ulang, dirumuskan ulang, dan diiterasikan ulang ke dalam struktur baru yang menuntut kolaborasi lintas mata pelajaran, kreativitas guru, serta keberanian sekolah untuk bereksperimen.

    Saya menegaskan, “Kita tidak sedang memindahkan wadah, tetapi sedang menciptakan dapur baru. Dan dapur baru membutuhkan resep baru.”

    Dengan perubahan menuju 8 dimensi lulusan, sekolah kini menghadapi tantangan baru: bagaimana memastikan bahwa nilai budaya lokal tetap menjadi DNA pembentukan karakter peserta didik ketika indikator dan kerangka nasional berubah total. Di sinilah pentingnya peran Program Sekolah Adipangastuti sebagai model pendidikan berbasis budaya Jawa yang lentur, mampu menyesuaikan diri, tetapi tetap teguh pada jati dirinya.

    “Brokoli dalam Pasta”: Metafora Baru Pendidikan Karakter Jawa

    Pada sesi pemantik diskusi, saya memperkenalkan metafora yang menjadi arah baru program Adipangastuti: Hasthalaku adalah brokoli. Teknologi adalah pasta. Brokoli itu sayuran bernutrisi baik, tetapi anak muda tidak selalu tertarik makan sayur brokoli. Pasta disukai para gen z dan gen alfa, dimaknai lezat, modern, dan mudah diterima. “Maka tugas kita adalah menyajikan ‘brokoli dalam pasta’ nilai budaya dikemas dalam teknologi yang digemari generasi masa kini.”

    Pendidik tidak boleh takut pada teknologi. AI bukan ancaman; ia adalah assistant intelligence yang dapat membantu guru merumuskan narasi pembelajaran, menganalisis karakter siswa, dan menyajikan materi secara personal. Di luar negeri, AI telah digunakan sebagai personalisasi AI, sebuah model AI yang disesuaikan dengan karakter, interest dan gaya belajar setiap siswa. Di Indonesia, kita harus berani melompat. Tidak cukup berjalan mengikuti perubahan, kita harus berlari mengejar relevansi.

    Komitmen Program Sekolah Adipangastuti: Merajut Budaya Lokal dan Teknologi Terkini

    Dalam sesi akhir diseminasi, saya menyampaikan komitmen strategis Solo Bersimfoni untuk membawa Program Sekolah Adipangastuti memasuki fase baru, fase yang bukan lagi berfokus pada mempertahankan program, tetapi mengonsolidasikan identitasnya sebagai model pendidikan budaya-modern yang canggih dan relevan.

    Pertama, kami berkomitmen merancang ulang modul Adipangastuti agar selaras dengan tiga strategi kokurikuler dan 8 profil lulusan. Bukan sekadar menyesuaikan, tetapi memformulasikan ulang agar nilai Hasthalaku tampil lebih kuat, lebih kontekstual, dan lebih mudah diterapkan lintas mata pelajaran.

    Kedua, peningkatan kapasitas digital literasi guru menjadi prioritas mutlak. Para guru perlu memasuki ranah baru: AI dan Asisten AI untuk pembelajaran, pembuatan konten kreatif yang berkelas, manajemen branding digital, serta keterampilan berpikir kritis tingkat lanjut yang dapat mentransformasikan ruang kelas menjadi ruang eksplorasi. Guru tidak lagi hanya sebagai pengajar, tetapi arsitek pengalaman belajar.

    Ketiga, kami akan mengembangkan ekosistem sekolah yang lebih modern adaptif dengan implementasi teknologi yang membantu pembelajaran: studio podcast, tim ekstra kurikuler adipangastuti, pemanfaatan AI dan asisten AI, hingga ruang-ruang kreatif bagi siswa untuk membangun identitas karakter melalui teknologi.

    Saya menutup sesi tersebut dengan pemikiran yang sangat saya yakini: “Budaya memberikan akar, teknologi memberikan sayap. Bila keduanya dirajut bersama, kita akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi berkarakter, kreatif, dan berdaya saing global. Hasthalaku bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah bahasa karakter masa depan, selama kita berani menyajikannya dengan cara baru.”

    Komitmen ini tidak hanya dibangun oleh Solo Bersimfoni, tetapi juga oleh para kepala sekolah, guru, Cabdin, dan seluruh ekosistem pendidikan Jawa Tengah. Bersama-sama, kita menulis babak baru: babak ketika nilai Jawa tidak lagi berjalan di belakang perkembangan zaman, tetapi berjalan bersisian, bahkan memimpin.

  • Peningkatan Kompetensi Digital melalui IHT SMAN 1 Sumberlawang bersama Solo Bersimfoni

    Peningkatan Kompetensi Digital melalui IHT SMAN 1 Sumberlawang bersama Solo Bersimfoni

    SMAN 1 Sumberlawang terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui penguatan kompetensi digital bagi siswa maupun guru. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan In House Training (IHT) yang menghadirkan narasumber Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si. Kegiatan IHT ini dilaksanakan sebanyak dua kali dengan sasaran peserta yang berbeda yaitu guru dan siswa, tetapi tetap berfokus pada pemanfaatan teknologi digital dalam dunia pendidikan.

    Kegiatan pertama pada Selasa, 11 November 2025, diikuti oleh siswa perwakilan ekstrakurikuler dari berbagai bidang. Mengusung tema “Pemanfaatan Platform Digital untuk Pembelajaran”, sesi ini bertujuan membekali para siswa agar mampu mengoptimalkan teknologi sebagai alat pendukung belajar sekaligus media publikasi kegiatan positif mereka. Dalam pemaparannya, M. Farid Sunarto menjelaskan berbagai platform digital yang dapat dimanfaatkan, mulai dari aplikasi berbagi dokumen, media presentasi kreatif, platform manajemen kegiatan, hingga media sosial sebagai wadah publikasi kegiatan sekolah.

    Para peserta yang merupakan siswa aktif dari berbagai organisasi dan ekstrakurikuler tampak sangat antusias mengikuti sesi ini. Mereka diajak memahami cara menggunakan teknologi secara efektif, kreatif, dan tetap etis. Digitalisasi, menurut narasumber, bukan hanya kebutuhan, tetapi juga peluang bagi generasi muda untuk terus berkembang. Kegiatan positif yang dilakukan siswa dapat dipublikasikan dengan cara yang lebih menarik sehingga mampu memberikan inspirasi bagi warga sekolah lainnya. Hal ini sejalan dengan tujuan sekolah untuk menciptakan generasi yang berdaya saing dan peka terhadap perkembangan zaman.

    Kegiatan IHT kedua ditujukan pada guru dengan tema “Meningkatkan Kompetensi Literasi Digital untuk Guru” yang dikemas dalam pelatihan berjudul “Guru Cerdas Digital”. Melalui pelatihan ini, guru-guru SMAN 1 Sumberlawang dibimbing untuk memahami lebih jauh penggunaan teknologi dalam kegiatan administratif, pembuatan media ajar interaktif, hingga pengelolaan kelas digital. Narasumber menekankan bahwa literasi digital kini menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki pendidik untuk mendukung efektivitas proses pembelajaran.

    Para guru sangat antusias mengikuti pelatihan ini karena materi yang diberikan benar-benar aplikatif dan relevan dengan tugas mereka sehari-hari. Dengan penguasaan teknologi yang lebih baik, guru dapat menyampaikan materi pelajaran secara lebih menarik, menciptakan interaksi yang lebih dinamis, dan mengelola administrasi pembelajaran dengan lebih efisien. Peserta menyampaikan bahwa pelatihan literasi digital ini sangat bermanfaat dan membantu mereka meningkatkan kualitas kerja serta memberikan pengalaman baru dalam mengimplementasikan strategi pembelajaran berbasis digital.

     

    Selain memberikan manfaat bagi guru, literasi digital ini juga memberikan dampak langsung bagi siswa. Dengan meningkatnya kompetensi digital pendidik, proses pembelajaran pun menjadi lebih mudah, menarik, dan relevan bagi perkembangan kemampuan digital siswa. Para peserta pelatihan menegaskan bahwa digitalisasi sangat membantu siswa dalam mengembangkan kompetensinya, terutama dalam mengelola informasi dan mempublikasikan kegiatan positif sekolah.

    Kepala SMAN 1 Sumberlawang, Dra. Suranti Tri Umiatsih, M.Eng., menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini dapat diagendakan setiap tahun sebagai upaya mengembangkan kompetensi seluruh warga sekolah. Pendidikan berbasis digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menyiapkan generasi yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Melalui kegiatan IHT ini, SMAN 1 Sumberlawang kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan tuntutan zaman.

  • Pembekalan Peserta Pemilihan Putra Putri Smansa Solo (SWARNADIPA) 2025: Menanamkan Hasthalaku di Dunia Online dan Offline

    Pembekalan Peserta Pemilihan Putra Putri Smansa Solo (SWARNADIPA) 2025: Menanamkan Hasthalaku di Dunia Online dan Offline

    Pemilihan Putra Putri Smansa Solo (SWARNADIPA) 2025 kembali hadir sebagai wadah yang menampilkan bakat, kecerdasan, dan kepemimpinan siswa SMA Negeri 1 Surakarta. Mengusung slogan SMANSA’s World of Radiant Youth, ajang ini menjadi panggung bagi generasi muda yang siap memancarkan keemasan dalam karakter, wawasan, serta perilaku digital. Rangkaian kegiatan pembekalan peserta dilaksanakan pada Selasa, 11 November 2025, setelah proses belajar mengajar selesai, dan sepenuhnya diselenggarakan oleh OSIS SMAN 1 Surakarta. Adapun peran guru hadir hanya pada tahap penjurian, guna memastikan objektivitas dan kualitas penilaian.

    Pembekalan ini mengundang narasumber dari Solo Bersimfoni, Tia Brizantiana. Materi dimulai dengan pendalaman Hasthalaku, delapan nilai luhur budaya Jawa yaitu gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor, dan tepa selira. Nilai-nilai ini tidak hanya menjadi pedoman etika, tetapi juga dasar pembentukan pribadi yang berintegritas. Para peserta diajak memahami bahwa seorang Putra Putri Smansa merupakan representasi sekolah yang harus mampu menjadi teladan dalam tutur kata, sikap sosial, serta penghormatan kepada sesama. Dengan Hasthalaku, karakter anggun dan berwibawa dapat tumbuh secara alami.

    Materi kemudian dilanjutkan dengan literasi digital, sebuah kompetensi penting di era modern. Peserta dibekali kemampuan menilai, memilah, dan mengolah informasi secara kritis agar tidak mudah terjebak pada informasi palsu maupun provokatif. Mereka juga diajak memahami jejak digital, etika bermedia, serta bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana berkarya, berkomunikasi, dan menginspirasi. Literasi digital menjadi fondasi bagi peserta untuk tampil cerdas dan berwawasan luas.

    Bagian terakhir pembekalan menyoroti keamanan digital. Materi ini mencakup perlindungan data pribadi, ancaman siber, keamanan akun, hingga risiko penyalahgunaan informasi. Melalui pemahaman ini, peserta diharapkan mampu menjaga diri di ruang digital sekaligus mempertahankan citra positif sebagai figur publik sekolah. Kesadaran akan keamanan digital menjadi bekal penting di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

    Dengan rangkaian pembekalan yang komprehensif ini, SWARNADIPA 2025 berupaya mencetak generasi muda yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter kuat dan cakap dalam menghadapi tantangan era digital. Melalui perpaduan nilai Hasthalaku dan kecakapan digital, para peserta diharapkan mampu memancarkan semangat Radiant Youth dan menjadi kebanggaan Smansa Solo.

  • Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Tindak Kekerasan di SMAN 1 Wonogiri

    Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Tindak Kekerasan di SMAN 1 Wonogiri

    Sebagai upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari tindak kekerasan, SMAN 1 Wonogiri mengadakan kegiatan Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Tindak Kekerasan. Kegiatan ini diikuti oleh 180 siswa kelas X dan XI serta difasilitasi langsung oleh Fasilitator Nasional Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang juga Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si.. Sosialisasi ini menjadi langkah konkret sekolah dalam menanamkan nilai-nilai empati, menghargai perbedaan, serta memperkuat komitmen bersama untuk menciptakan sekolah yang ramah dan berkarakter.

    Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman langsung kepada siswa mengenai berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan, baik kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis, serta dampak negatif yang ditimbulkannya bagi korban, pelaku, maupun komunitas sekolah secara keseluruhan. Melalui pemaparan dan contoh kasus nyata, siswa diajak untuk lebih peka terhadap tindakan-tindakan yang termasuk kategori kekerasan dan pentingnya mencegah hal tersebut sejak dini.

    Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Dengan pendekatan tatap muka yang komunikatif dan interaktif, fasilitator memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan situasi yang mungkin terjadi di lingkungan mereka. Suasana diskusi yang terbuka membantu siswa memahami bahwa pencegahan kekerasan bukan hanya tanggung jawab guru atau pihak sekolah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah.

    Materi sosialisasi juga mencakup informasi dan prosedur penanganan tindak kekerasan sesuai mekanisme kerja TPPK di satuan pendidikan. Siswa diperkenalkan pada langkah-langkah pelaporan jika mereka mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan, termasuk kepada siapa laporan disampaikan dan bagaimana tindak lanjut dilakukan secara profesional dan sesuai prosedur. Hal ini penting agar setiap siswa merasa terlindungi dan tahu bahwa sekolah memiliki sistem yang jelas untuk menangani setiap laporan kekerasan.

    Salah satu bagian menarik dari kegiatan ini adalah dialog terbuka antara siswa dan fasilitator nasional TPPK. Melalui sesi tanya jawab dan simulasi situasi nyata, peserta belajar memahami cara merespons situasi kekerasan dengan bijak, mendukung teman yang menjadi korban, serta tidak menjadi bagian dari tindakan yang memperburuk keadaan. Pendekatan partisipatif ini juga menumbuhkan sikap empati, saling menghargai, dan tanggung jawab sosial antar siswa.

    Kepala SMAN 1 Wonogiri, Drs. Susilo Joko Raharjo, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan harapan besar dari kegiatan ini. Beliau berharap agar seluruh siswa memahami cara mencegah tindak kekerasan dan mampu menanganinya sesuai prosedur jika sudah terjadi, sehingga tidak ada lagi kasus yang diabaikan atau diselesaikan secara keliru. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat iklim kebhinekaan dan keberagaman di lingkungan sekolah, di mana setiap siswa, tanpa memandang latar belakangnya, merasa aman dan dihargai.

    “Solo Bersimfoni sebagai Lembaga yang memproyeksikan toleransi dan anti radikalisme dengan hasthalakunya, yang diimplementasikan di SMAN 1 Wonogiri dengan tujuan agar siswa memahami jenis-jenis pencegahan kekerasan di sekolah”, tambah beliau.

    Dengan terselenggaranya sosialisasi ini, SMAN 1 Wonogiri berkomitmen untuk terus mengembangkan budaya sekolah yang positif, ramah, dan bebas dari kekerasan. Sinergi antara siswa, guru, dan TPPK menjadi modal penting untuk mewujudkan sekolah yang benar-benar menjadi tempat tumbuh kembang yang sehat bagi generasi muda.

  • Webinar Sebar Kawruh #4 Bersama BNPT RI: Membangun Generasi Damai dan Toleran di Sekolah

    Webinar Sebar Kawruh #4 Bersama BNPT RI: Membangun Generasi Damai dan Toleran di Sekolah

    Solo, 24 Oktober 2025 – Dalam upaya memperkuat nilai-nilai toleransi dan mencegah potensi kekerasan di kalangan pelajar, kegiatan Webinar Sebar Kawruh #4 kembali digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat, 24 Oktober 2025 pukul 09.30 WIB. Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Prof. Irfan Idris, M.A., serta dibuka oleh Prof. Agung Nur Probohudono, Ph.D., aktivis dari Solo Bersimfoni.

    Webinar kali ini mengangkat tema “Pencegahan Kekerasan dan Intoleransi pada SMA di Jawa Tengah”, yang relevan dengan meningkatnya perhatian terhadap dinamika sosial di kalangan remaja, khususnya di lingkungan sekolah menengah. Tema ini menjadi bagian dari komitmen bersama antara BNPT RI dan Solo Bersimfoni untuk memperkuat peran pendidikan dalam membentuk karakter siswa yang berwawasan kebangsaan, berempati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

    Membangun Ketahanan Pelajar dari Intoleransi dan Kekerasan

    Dalam paparannya, Prof. Irfan Idris menekankan bahwa apa yang sudah dilakukan Solo Bersimfoni sudah sesuai dengan amanat RANPE yang dijalankan oleh BNPT dalam hal ini mengedepankan pencegahan kekerasan. Beliau juga menjelaskan bahwa pencegahan kekerasan dan intoleransi harus dimulai dari lingkungan pendidikan. Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan nilai-nilai sosial.

    “Remaja SMA adalah generasi yang sedang mencari jati diri. Mereka mudah terpengaruh oleh informasi yang salah jika tidak dibekali pemahaman yang benar tentang kebangsaan, toleransi, dan kemanusiaan,” ujar Prof. Irfan.

    Beliau menambahkan bahwa fenomena intoleransi sering kali bermula dari ketidaktahuan, perbedaan pemahaman agama, maupun pengaruh lingkungan digital. Karena itu, pendidikan karakter dan literasi digital menjadi kunci dalam memperkuat daya tahan siswa terhadap narasi kekerasan atau ideologi ekstrem.

    Selain itu, BNPT RI melalui berbagai program pencegahan berupaya menggandeng sekolah, guru, dan masyarakat untuk membangun jejaring yang solid dalam mendeteksi dini potensi radikalisme. Kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan komunitas seperti Solo Bersimfoni, menjadi bentuk nyata keterlibatan banyak pihak dalam menjaga harmoni sosial.

    Solo Bersimfoni dan Peran Pendidikan Damai

    Sementara itu, Prof. Agung Nur Probohudono dalam sambutannya menyampaikan pentingnya membangun ruang dialog di sekolah agar siswa dapat mengekspresikan perbedaan dengan cara yang sehat dan konstruktif. Salah satu hal yang sudah dilakukan Solo Bersimfoni adalah pelaksanaan Sebar Kawruh sebagai ruang untuk berbagi ilmu, nilai, dan juga pengalaman dalam menyebarkan praktik baik penguatan karakter di Provinsi Jawa Tengah.

    “Cara untuk mencegah kekerasan adalah dengan membangun kesadaran, menguatkan literasi, dan menumbuhkan daya tangkal ekstrimisme melalui pendekatan budaya yaitu hasthalaku, dalam hal ini melalui program Sekolah Adipangastuti,” tambah beliau.

    Melalui Sebar Kawruh ini, peserta, yang terdiri dari guru, siswa, dan tenaga kependidikan dari SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah, diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam lingkungan masing-masing sebagai upaya pencegahan intoleransi dan menumbuhkan harmoni sosial.

    Kami juga berharap, ke depannya, Prof. Irfan dan BNPT bisa terus bekerja sama dengan solo bersimfoni dan juga dengan sekolah adipangastuti di jawa Tengah dalam bentuk edukasi, pendampingan dan kolaborasi lintas sektor.

    Harapan untuk Masa Depan

    Webinar Sebar Kawruh #4 ini menegaskan kembali pentingnya sinergi antara lembaga pemerintah, komunitas, dan masyarakat pendidikan dalam membangun ekosistem sekolah yang aman, damai, dan inklusif.

    Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Irfan Idris di akhir acara:

    “Pencegahan kekerasan dan intoleransi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Kita harus menanamkan nilai damai sejak dini agar generasi muda Indonesia tumbuh menjadi pelindung perdamaian, bukan pelaku kekerasan.”

    Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan SMA-SMA di Jawa Tengah dapat menjadi pelopor dalam mengembangkan pendidikan karakter berbasis toleransi. Webinar Sebar Kawruh #4 menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berbudaya damai, penuh empati, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

     

  • Menumbuhkan Karakter dan Praktik Baik di Era Digital: IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN 11 Semarang

    Menumbuhkan Karakter dan Praktik Baik di Era Digital: IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN 11 Semarang

    Semarang, 29 September 2025 — SMAN 11 Semarang kembali menegaskan perannya sebagai sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai inklusivitas dan toleransi melalui kegiatan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti yang dilaksanakan pada Senin, 29 September 2025, bertempat di ruang meeting sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan siswa dan anggota OSIS yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman serta pengamalan hasthalaku dan keberagaman yang menjadi inti dari Sekolah Adipangastuti. Kegiatan ini bertujuan tidak hanya untuk memperkuat pemahaman siswa tentang nilai-nilai Hasthalaku, tetapi juga untuk melatih keterampilan melalui produksi konten positif di media sosial.

    Sebelum kegiatan dimulai, Bapak Sae Panggalih, PJ Sekolah Adipangastuti SMAN 11 Semarang, beserta Denok dan Kenang Kota Semarang, siswa yang menjadi Duta Wisata Kota Semarang, menyampirkan batik hasil karya siswa kepada Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H. dan Finance and Contract Treasurer, Risca Dj., S.E., M.Ak., kemudian mengajak tim Solo Bersimfoni berkeliling lingkungan sekolah untuk melihat berbagai aktivitas yang menggambarkan keberagaman seperti pembuatan batik perpaduan budaya di Semarang, melihat hasil karya siswa dalam program Sekolah Adipangastuti serta mengunjungi Mini Museum Adipangastuti yang berada di perpustakaan. Menariknya, Museum Adipangastuti adalah hasil karya siswa angkatan sebelumnya, yang bertujuan untuk mengenal budaya Semarangan yang beragam. Dalam mini museum terdapat penjelasan mengenai ikon budaya masyarakat, pembagian budaya berkultur agraris dan maritim, serta budaya khusus Kawasan wilayah kampung batik semarangan di Bubakan.

    Implementasi Hasthalaku: Praktik Baik untuk Menghargai Keberagaman

    SMAN 11 Semarang telah menyandang predikat Sekolah Adipangastuti sejak tahun 2024, dan dikenal aktif mengimplementasikan berbagai program yang mendukung lingkungan sekolah yang ramah anak, bebas kekerasan, serta menghargai perbedaan. Keunikan SMAN 11 Semarang terletak pada lingkungan geografis dan sosialnya; sekolah ini berada di kawasan yang dikelilingi oleh rumah ibadah dari berbagai agama, menjadikannya contoh nyata kehidupan harmonis dalam keberagaman.

    Kegiatan IHT dimulai dengan pembukaan oleh Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H., sekaligus mengisi materi awal tentang pendalaman makna hasthalaku, delapan nilai karakter utama yang menjadi ruh dari Program Sekolah Adipangastuti. Para peserta diajak untuk mengidentifikasi bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah maupun di luar sekolah. Melalui diskusi interaktif, siswa menyadari bahwa nilai-nilai Hasthalaku tidak bersifat abstrak atau kuno, namun sangat kontekstual dan dibutuhkan dalam dinamika sosial modern, termasuk di ruang digital.

    Materi berikutnya disampaikan oleh Program Officer Solo Bersimfoni, Ridwan Rivaldi Sukma dan Tia Brizantiana, mengajak peserta untuk melihat bagaimana nilai-nilai Hasthalaku bisa hadir di dunia digital. Dalam era banjir informasi dan maraknya konten negatif, siswa diajak untuk lebih berhati-hati di dunia digital dan dapat menjadi agen perubahan positif dengan menghadirkan narasi yang membangun dan mencerminkan nilai karakter baik.

    Kemudian materi selanjutnya adalah mengenai konten praktik baik hasthalaku, yang disampaikan oleh Creative and Design Officer Solo Bersimfoni, Burhanudin Fajri. Mereka dibimbing untuk merancang konten sederhana namun bermakna yang bisa diunggah ke platform media sosial sekolah seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Kegiatan diakhiri dengan praktik membuat storyline konten. Setiap kelompok siswa menyusun alur cerita sederhana berdasarkan satu nilai Hasthalaku yang mereka pilih, kemudian mengembangkan ide tersebut menjadi konsep konten yang siap diproduksi. Proses ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif.

     

    Harapan dan Keberlanjutan

    Ke depan, SMAN 11 Semarang akan terus memperluas program Sekolah Adipangastuti dengan menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga, serta mengembangkan pendekatan yang lebih inovatif dalam pendidikan karakter dan budaya damai. Melalui semangat Adipangastuti yang hidup dalam praktik sehari-hari, SMAN 11 Semarang terus bergerak menjadi sekolah yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menjadi contoh nyata keberagaman itu .

  • Berbagi Praktik Baik Sekolah Adipangastuti: Inovasi, Kolaborasi, dan Transformasi Pendidikan Karakter

    Berbagi Praktik Baik Sekolah Adipangastuti: Inovasi, Kolaborasi, dan Transformasi Pendidikan Karakter

    Hotel Asia, 25 September 2025 – Sekolah Adipangastuti di bawah naungan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V, VI, dan VII Provinsi Jawa Tengah berkumpul dalam Focus Group Discussion (FGD) Riset Dampak Sekolah Adipangastuti Tahun 2025 untuk berdiskusi dalam mencari bentuk praktik baik Sekolah Adipangastuti. Kegiatan ini merupakan rangkaian riset dan evaluasi serta menjadi ruang refleksi bersama atas implementasi program Sekolah Adipangastuti yang telah berjalan sejak 2019. Dalam kegiatan ini, dipaparkan berbagai capaian, inovasi, tantangan, hingga usulan strategis untuk keberlanjutan program di masa depan.

     

    Kegiatan FGD dibuka oleh Direktur Eksekutif Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., Beliau berterima kasih atas partisipasi dari sekolah dan dukungan dari Dinas Pendidikan Jawa Tengah, dalam hal ini melalui Cabang Dinas Wilayah, terkait pelaksanaan Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah. Dalam laporan evaluasi yang dipaparkan oleh Khresna Bayu Sangka, Ph.D., Direktur Riset Solo Bersimfoni, dan Dr. (Cand.) Okta Hadi Nurcahyono, tim riset Solo Bersimfoni, disebutkan bahwa sebanyak 1.941 responden telah memberikan umpan balik terhadap program ini. Salah satu temuan penting adalah tingginya minat siswa terhadap topik P5 seperti kewirausahaan, kearifan lokal, dan nilai-nilai Hasthalaku, meskipun posisi Sekolah Adipangastuti masih berada di urutan ke-8 dalam prioritas persepsi siswa. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan komunikasi dan penyelarasan implementasi program dengan minat siswa.

    Branding Hasthalaku dan Efektivitas Media Sosial

    Salah satu aspek penting yang banyak dibahas adalah branding dan publikasi program melalui media sosial sekolah. Pengalaman dari berbagai sekolah menunjukkan beragam praktik menarik. Di SMAN 6 Surakarta mengusung nilai hasthalaku dalam partisipasi siswa di ajang beauty pageant. Selain itu, branding sekolah menarik kunjungan dari luar daerah seperti SMAN di Balikpapan. Namun, keterlibatan siswa dalam manajemen media sosial masih menjadi tantangan.

    SMAN 1 Karanganyar mengungkapkan transformasi besar setelah program Adipangastuti. Sekolah kini memiliki media center dan aktif di Instagram dan TikTok, dengan pelibatan siswa yang mulai ditingkatkan. Inovasi yang sama dilakukan di SMAN 1, 2, dan 3 Sragen dengan program podcast sebagai sarana komunikasi nilai dan identitas sekolah. Hasilnya pun membanggakan, sekolah mendapatkan juara berbagai lomba literasi tingkat provinsi hingga nasional.

    SMAN 2 Klaten menambahkan bahwa pelatihan media sosial sangat dibutuhkan agar siswa dapat menghasilkan konten yang konsisten dan berkualitas. Kegiatan literasi seperti pembuatan konten video dan poster sudah berjalan bahkan selama liburan sekolah.

    Penggunaan media sosial dinilai positif oleh warga sekolah maupun masyarakat sekitar. SMAN 1 Jatisrono melaporkan bahwa program jurnalistik dan pemanfaatan media sosial memberi dampak signifikan pada keterlibatan siswa. Sementara itu, SMAN 1 Gemolong mencatat bahwa branding Adipangastuti lebih mudah dikenal dibanding Hasthalaku, menunjukkan perlunya penyegaran atau penguatan komunikasi tentang nilai-nilai inti Hasthalaku.

    Pengembangan Literasi dan Pembelajaran Proyek

    Sesi ini menyoroti keberlanjutan praktik literasi dan pembelajaran berbasis proyek. Seperti di SMAN 1 Wonogiri menjalankan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dan mading tematik berbasis Hasthalaku, meskipun penerbitan buku mengalami stagnasi. Sedangkan di SMAN 1 Karanganyar memanfaatkan website untuk publikasi hasil literasi siswa, meski masih mencari bentuk evaluasi yang ideal.

    SMAN 6 Surakarta menerapkan program Jumat Siti Sekar Mayang, di mana siswa berbagi pengalaman tentang Hasthalaku sebagai bagian dari penguatan literasi personal. SMAN 1 Surakarta, yang sudah menghasilkan 4 (empat) buku selama program Sekolah Adipangastuti, menjalankan program literasi dalam tiga tahap dengan pendekatan kontekstual dan berbasis komunitas. Ini mencakup wawancara lapangan dan refleksi kritis, yang terintegrasi dengan mata pelajaran.

    SMAN 3 Sragen membuat program baru yang diberi nama Gamalae, yang bertujuan untuk pembentukan perilaku dan karakter siswa sebagai wujud visi FiveBer. Program ini menggabungkan literasi, tanggung jawab lingkungan, dan kedalaman pembelajaran.

    Inovasi Kolaboratif dan Dukungan

    Kegiatan kolaboratif di berbagai sekolah menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus didukung semua pihak. Seperti yang sudah dilakukan pada SMAN 2 Boyolali dan SMAN 1 Kartasura yang mengembangkan ketoprak dan mars dalam Bahasa Jawa sebagai bentuk pelestarian budaya. SMAN 1 Mojolaban aktif dengan podcast mingguan, bulletin LIMO, dan kampanye anti-bullying bersama Yayasan Kakak Surakarta.

    Kepala SMAN Karangpandan, yang sebelumnya adalah Kepala SMAN 1 Karanganyar, mengadopsi program sekolah sebelumnya seperti membuat taman Hasthalaku, senin literasi-numerasi, serta membangun media center. Dalam diskusi, SMA Muhammadiyah 1 Surakarta menunjukkan bahwa nilai hasthalaku dapat bersinergi dengan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Sedangkan di SMAN 1 Sumberlawang berfokus pada pembelajaran mendalam berbasis 7 kebiasaan anak hebat serta pelatihan guru dalam penguatan critical thinking.

    Dari sisi kebijakan dan regulasi, Cabang Dinas Wilayah V dan VI menyatakan apresiasi terhadap inovasi yang telah dilakukan oleh sekolah-sekolah. Ke depan, diharapkan program Adipangastuti dapat secara resmi masuk ke dalam struktur kokurikuler sekolah pada tahun 2026. Pertemuan semacam ini dinilai sangat penting sebagai wadah saling belajar dan berbagi antar sekolah.

    Menyemai Karakter, Menumbuhkan Harapan

    Pertemuan di Hotel Asia ini menegaskan bahwa Program Sekolah Adipangastuti tidak hanya tentang serangkaian kegiatan, tetapi tentang pembentukan karakter yang kontekstual, kolaboratif, dan berkelanjutan. Dari pengembangan media sosial, literasi, seni budaya, hingga kolaborasi lintas stakeholder, Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah telah menunjukkan bahwa pendidikan karakter bisa menjadi jiwa dari proses pembelajaran.

    Tantangan tentu masih ada seperti konsistensi pelaksanaan, pengelolaan SDM, evaluasi program, hingga kebutuhan pelatihan lanjutan. Namun dengan semangat berbagi praktik baik dan saling menguatkan, Program Sekolah Adipangastuti diyakini akan terus tumbuh sebagai fondasi pendidikan masa depan yang lebih manusiawi, berbudaya, dan bermakna.

  • Pembiasaan dan Teladan di SMAN 3 Sragen; Membangun Sekolah Berkarakter Melalui Program Adipangastuti

    Pembiasaan dan Teladan di SMAN 3 Sragen; Membangun Sekolah Berkarakter Melalui Program Adipangastuti

    SMAN 3 Sragen mulai mengimplementasikan Program Sekolah Adipangastuti sejak tahun 2020. Menurut Ibu Atik Dwi Kurniasih, Waka Kesiswaan dan PJ Sekolah Adipangastuti, program ini tidak serta-merta berjalan mulus di awal. Namun, berkat komitmen seluruh elemen sekolah, dari guru, siswa, hingga kepala sekolah, Program Adipangastuti perlahan menunjukkan hasil nyata. Fokus utama dari program ini adalah membentuk karakter siswa melalui pembiasaan dan teladan. Hal ini diceritakan beliau dalam kegiatan Sebar Kawruh #3 pada Jumat, 26 September 2025 pukul 09.00 WIB secara online melalui zoom meeting.

    Sebar Kawruh merupakan program Solo Bersimfoni yang bertujuan untuk berbagi praktik baik implementasi Sekolah Adipangastuti yang dapat digunakan sebagai studi tiru pelaksanaan di sekolah lain. Sejumlah 39 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru dan siswa Sekolah Adipangastuti hadir secara online dalam kegiatan ini.

    Sebar Kawruh #3 kali ini dibuka oleh Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H.. Beliau menyampaikan bahwa Sebar Kawruh ini bertujuan untuk menghadirkan harmoni antara pendidikan, nilai budaya dan penguatan karakter bangsa. Harapannya, gaung Sekolah Adipangastuti selalu menggema, tak hanya di awal tapi selalu konsisten dan berkesinambungan.

    Ibu Atik menceritakan, selama pelaksanaan Program Adipangastuti, SMAN 3 Sragen melakukan internalisasi nilai hasthalaku dalam pembelajaran dan pembiasaan, serta membuat kegiatan siswa dalam hal pencegahan bullying, pencegahan intoleransi, serta pencegahan tindakan kekerasan di satuan pendidikan. Seperti halnya sekolah lain, SMAN 3 Sragen juga membuat branding hasthalaku di ruang kelas, ruang guru serta lingkungan sekolah.

    Praktik Baik dalam Pembelajaran

    Salah satu hasil langsung adalah dibuatnya lagu sekolah Adi Pangastuti oleh guru yang dinyanyikan oleh siswa. Hal ini menjadi Istimewa karena tidak ada mata pelajaran seni musik di sekolah. Kegiatan pembelajaran berpikir kritis yang sudah dilakukan adalah FGD Penguatan Implementasi Nilai-Nilai Hasthalaku Dalam Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme di SMAN 3 Sragen dengan melibatkan siswa, guru serta orang tua/wali murid, Rapat Koordinasi OSIS dan MPK membahas implementasi nilai-nilai hasthalaku di lingkungan sekolah, penyusunan rencana kerja OSIS bidang jurnalistik dalam sosalisasi nilai-nilai hasthalaku bagi warga sekolah melalui berbagai macam media, diskusi siswa mempersiapkan gelar karya P5 dengan tema “Bhineka Tunggal Ika”, dan Kegiatan Gelar Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tema “Bhineka Tunggal Ika”.

    Selain itu, SMAN 3 Sragen secara konsisten mendapatkan penghargaan terkait literasi saat pelaksanaan Sekolah Adipangastuti, yang pertama adalah mendapatkan penghargaan Capaian Literasi Terbaik Sekolah Adipangastuti se Jawa Tengah tahun 2023 dan Juara 2 Lomba Artikel Adipangastuti Award 2024 se Jawa Tengah. Projek literasi yang dilakukan sekolah adalah mading dengan konten hasthalaku dan profil pelajar Pancasila, serta pembuatan buku antologi.

    Keberhasilan program ini tidak lepas dari kerja sama yang baik dengan berbagai pihak eksternal. Selain dengan Solo Bersimfoni, SMAN 3 Sragen juga menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah, yaitu Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sragen untuk memberikan materi cakap digital dengan tema cerdas dan bijak ber media sosial kepada anggota OSIS dan tim jurnalistik sekolah.

    Rencana Ke Depan: Menguatkan dan Mengembangkan

    Melihat dampak positif yang dirasakan, SMAN 3 Sragen berkomitmen untuk terus mengembangkan Program Sekolah Adipangastuti. Rencana jangka panjangnya adalah mencetak generasi unggul; bagaimana sekolah adipangastut dapat menghidupkan nilai hasthalaku. Beberapa kuncinya adalah (1) kolaboratif, bukan individualis, (2) empatik, bukan apatis, (3) rendah hati, bukan arogan, (4) toleran, b bukan ekslusif, dan (5) menjadi solusi, bukan sumber masalah. Kelima hal ini dimasukkan dalam kegiatan yg direncanakan seperti integrasi dalam kurikulum dan pembelajaran di kelas, pembiasaan dalam interaksi sehari-hari, serta kokurikuler sebagai laboratorium karakter.

    Program Sekolah Adipangastuti di SMAN 3 Sragen adalah bukti nyata bahwa pendidikan karakter dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dan berdampak. Dengan dukungan seluruh warga sekolah, komunitas, dan stakeholder, SMAN 3 Sragen terus melangkah menjadi sekolah yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga bijak dalam nilai dan tindakan.

  • Solo Bersimfoni Audiensi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah: Sinergi Penguatan Karakter melalui Program Sekolah Adipangastuti

    Solo Bersimfoni Audiensi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah: Sinergi Penguatan Karakter melalui Program Sekolah Adipangastuti

    Semarang, 2 September 2025 — Solo Bersimfoni melakukan audiensi resmi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah (Disdikbud Jateng), untuk menyampaikan laporan pelaksanaan program, serta menjajaki kolaborasi lebih lanjut dalam penguatan karakter dan perlindungan peserta didik melalui Program Sekolah Adipangastuti. Kegiatan ini dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) melalui program Bridging Fund.

    Kegiatan audiensi ini berlangsung di Aula C kantor Disdikbud Jateng dan diterima oleh Bidang Pembinaan Kebudayaan dan Bidang Pembinaan SMA beserta timnya. Dalam kesempatan ini, Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., dan Diektur Program Solo Bersimfoni, Prof. Agung Nur Probohudono, Ph.D., memaparkan kiprah lembaga dalam mendampingi sekolah-sekolah di Jawa Tengah sejak 2019, khususnya dalam isu-isu strategis seperti pencegahan kekerasan di sekolah, pengembangan karakter siswa, penguatan nilai keberagaman, serta pembangunan budaya sekolah yang ramah dan inklusif.

    Pelaporan dan Rencana Kolaborasi

    Solo Bersimfoni menyampaikan berbagai capaian program sampai akhir 2025, mulai dari implementasi Program Sekolah Adipangastuti di 67 Sekolah Menengah di Jawa Tengah dan beberapa advokasi kebijakan kepemudaan di tingkat kota sampai provinsi. Selain itu, Solo Bersimfoni juga menyampaikan program yang akan dilakukan sampai akhir tahun 2025 terkait pelaksanaan Program Sekolah Adipangastuti hingga pelatihan Duta Sekolah Adipangastuti sebagai kepanjangan tangan menyebarkan hasthalaku di lingkungan sekolah. Solo Bersimfoni juga menekankan pentingnya pendekatan yang partisipatif dan berbasis komunitas sekolah, agar program tidak hanya bersifat simbolis, tetapi menyentuh keseharian peserta didik dan tenaga pendidik.

    Sebagai tindak lanjut program, Solo Bersimfoni mengajukan dua inisiatif utama yang memerlukan dukungan Dinas:

    1. Pelatihan TPPK (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan) di sekolah-sekolah Adipangastuti se-Jawa Tengah, untuk memperkuat kapasitas tim dalam mencegah, menangani, dan melaporkan kekerasan di lingkungan sekolah secara efektif.
    2. Program “Sebar Kawruh Sekolah Adipangastuti”, yang akan menjadi ajang pembelajaran dan inspirasi bagi siswa dan guru, serta menghadirkan Kepala Dinas sebagai narasumber utama untuk memberikan materi tentang “Pembentukan Karakter Pelajar Jawa Tengah yang Berbudaya dan Berintegritas.”

    Dukungan dan Harapan

    Menanggapi pemaparan tersebut, Sulistiono, S.Sn., Subkor Sejarah dan Tradisi Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Jateng memberikan apresiasi atas konsistensi dan kepedulian Solo Bersimfoni dalam mendampingi sekolah-sekolah di Jawa Tengah, khususnya dalam isu-isu yang sering kali dianggap sensitif namun sangat penting untuk ditangani bersama.

    Beliau memaparkan kegiatan Bidang Pembinaan Kebudayaan yang bisa dikolaborasikan dengan Solo Bersimfoni di semester akhir 2025, seperti penanaman watak dan budi pekerti sejak dini, napak tilas mengikuti jejak kepahlawanan, kemah budaya, serta gelar budaya. Semua kegiatan ini berkaitan dengan pembentukan karakter siswa.
    Sumaryati, S.E., M.Si., analis peserta didik yang mewakili Bidang Pembinaan SMA, juga menyampaikan terima kasih dan dukungannya terhadap program Solo Bersimfoni, baik yang sudah dilakukan maupun yang sedang direncanakan. Selain itu, beliau menyampaikan tentang kegiatan Bidang Pembinaan SMA yang terkait dengan pengembangan karakter dan bisa dikolaborasikan dengan Solo Bersimfoni, seperti In House Training (IHT) Pendidikan Karakter dan Musyawarah Kerja Forum OSIS Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah.

    Penutup

    Audiensi ini menjadi langkah strategisdalam memperkuat kolaborasi antara lembaga masyarakat dan pemerintah daerah, khususnya dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi dan berkarakter. Solo Bersimfoni dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah sepakat untuk terus menjalin komunikasi dan mempersiapkan agenda bersama yang berdampak luas dan berkelanjutan.

    “Dengan Sekolah Adipangastuti, harapannya siswa tidak hanya lulus dengan nilai yang baik, tetapi juga bisa menjadi agen perubahan melalui karakter hasthalaku,” – Prof Agung Nur Probohudono, Ph.D.