Tag: hasthalaku

  • Perempuan Soloraya dalam Pusaran Terorisme

    Perempuan Soloraya dalam Pusaran Terorisme

    Tulisan ini menguak bagaimana perjuangan perempuan istri para narapidana kasus terorisme (Napiter) berjuang setelah suaminya ditangkap. Tidak sedikit perempuan yang tidak tahu-menahu aktivitas suaminya. Mereka tidak menyangka perubahan positif yang dialami sang suami justru berakhir pada jerat jaringan terorisme.

     

    Kisah Ani, Istri Seorang Napiter bernama Mardi

    Ruang tamu itu terlihat begitu sederhana. Tak ada hiasan yang terpasang di dindingnya, hanya ada sejumlah kursi kayu yang ditata menempel ke dinding berwarna krem. Warung makan yang berada di bagian sisi depan rumah sedang tutup, karena sedang bulan puasa. Dari lubang pintu, aku bisa melihat pengunjung supermarket yang terletak tepat di samping rumah, datang dan pergi.

    Aku sempat kesulitan menemukan rumah ini. Google maps yang dikirim Pak Mardi (bukan nama sebenarnya) sang pemilik rumah melalui pesan WhatsApp ternyata kurang akurat. Penulisan alamat juga terbalik antara RT dan RWnya. Hal ini cukup membuatku bingung hingga harus tersesat cukup lama sebelum akhirnya berhasil menemukan rumah yang sebenarnya terletak tepat di pinggir jalan raya.

    Oleh Pak Mardi aku dikenalkan kepada istrinya, Ani, juga bukan nama sebenarnya. Setelah tak lama saling mengenal, obrolan tentang keterlibatan Mardi dalam jaringan terorisme pun terus mengalir.

    Mardi yang saat ini berusia 50 Tahun, bergabung ke dalam kelompok yang bernama Azam Dakwah Center (ADC) yang dulu bermarkas di Ngruki, Sukoharjo. Menurut informasi dari Mardi, ADC berafilisiasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Ia ditangkap pada 2017 terkait kasus bom molotov di Solo Baru, Sukoharjo. Sebenarnya serangan bom molotov ini bisa dikatakan gagal. Sehingga tidak banyak orang yang tau.

    Namun, belakangan polisi berhasil mengendus adanya keterkaitan antara kasus ini dari hasil pengembangan kasus teroris di Bekasi. Menurut polisi kelompok ini antara lain bertanggung-jawab atas pengeboman di Kawasan Sarinah pada Januari 2016 dan serangan bom molotov di Solo Baru Sukoharjo.

    Menurut pengakuan Ani, dia tidak tau menau mengenai keterlibatan suaminya dalam serangan bom molotov itu. Pada saat terjadinya penyerangan, Pak Mardi bercerita tentang perannya sebagai pengawas yaitu bertugas untuk mengamankan dan memantau lokasi pengeboman.

    Ani mengisahkan, keterlibatan suaminya dengan kelompok teroris ini bermula saat ia bergabung dengan sebuah kelompok pengajian. Awalnya Ani menyambut gembira perubahan positif yang dialami suaminya. Namun, belakangan baru ia tahu kalau ternyata sang suami bergabung dengan kelompok garis keras.

    “Ya saya sih mendukung, Mbak, kalau suami itu rajin sholat dan pengajian. Dulu waktu muda suami saya tuh gangster, Mbak. Setelah menikah pun sholatnya masih bolong-bolong. Kalau saya ajak sholat pasti jawabannya iya nitip aja gitu. Dari yang seperti itu terus berubah drastis mau sholat dan ngaji saya seneng, Mbak. Cuma ya nggak tau kalau ternyata ngajinya di tempat yang salah,” terang Ani.
    Suatu sore hari Pak Mardi pamit pergi ke masjid untuk menunaikan sholat ashar berjamaah. Namun ternyata sampai malam tiba bahkan hingga keesokan harinya dia tidak kunjung pulang. Ani pontang-panting mencari informasi tentang keberadaan suaminya. Berbagai tempat yang biasa disinggahi suaminya ia datangi tapi hasilnya nihil.

    Hingga keesokan paginya, Ani memutuskan untuk mendatangi kantor kelurahan untuk melaporkan suaminya yang tidak kunjung pulang. Baru ketika itu Ani tahu jika suaminya ditangkap oleh Densus 88 Antiteror karena diduga terlibat aksi terorisme. Ani menyayangkan sikap Densus 88 yang tidak memberitahu pihak keluarga saat penangkapan,

    “Saya udah bingung suami posisinya di mana, Mbak, kok ya tidak ada pemberitahuan ke rumah dan keluarga dulu kalau ada penangkapan gitu,” keluhnya

    Siang hari sepulang dari kelurahan, rumah Ani didatangi oleh petugas Densus 88. Mereka datang dengan didampingi petugas dari kelurahan untuk menggeledah seisi rumah Mardi. Saat penggeledahan, Ani meminta agar rumahnya tidak diobrak-abrik dan semua barang dirapikan kembali ke keadaan semula.

    Dalam penggeledahan itu, petugas menyita dua alat bukti yaitu Al-Qur’an dan buku catatan Pak Mardi selama mengikuti pengajian.

    “Saya nggak habis pikir lho, Mbak, masa’ alat buktinya Al-Qur’an. Iya Al-Qur’an yang biasa kita baca itu!” ucapnya masygul.

    Setelah Mardi ditangkap, kini tanggung jawab ekonomi rumah tangga berpindah sepenuhnya ke pundak Ani. Ia yang semula seorang ibu rumah tangga kini harus menjadi tulang punggung keluarga dan bertindak sebagai bapak sekaligus ibu bagi ketiga anaknya.

    Kegalauan Ani makin menjadi, karena anak sulungnya akan melangsungkan pernikahan pada bulan April 2018, padahal Mardi ditangkap pada Desember 2017 atau hanya beberapa bulan sebelum pernikahan itu berlangsung. Setelah melalui perundingan yang panjang antara kedua keluarga, akhirnya diputuskan untuk memajukan tanggal pernikahan menjadi Januari 2018.

    Dari pihak keluarga laki-laki tidak mempermasalahkan meskipun calon mempelai perempuan adalah anak dari tersangka teroris. Karena Mardi sedang mendekam di penjara, posisinya sebagai wali akhirnya digantikan oleh adik laki-laki Ani.

    Ani melakukan segala upaya agar roda ekonomi keluarganya tetap berjalan dan untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya. Seperti membuat keset dan mengontrakkan sepetak rumah untuk dibuat ruko. Awalnya Ani memiliki usaha warung makan, tetapi tak lama setelah Mardi ditangkap, tak sedikit masyarakat yang menjauhi dan menghindari Ani dan keluarganya. Kondisi ini membuat Ani khawatir dagangannya tidak laku sehingga ia memutuskan untuk menutup warungnya. Setelah menutup warung makannya, Ani lantas beralih profesi dan bekerja membuat keset. Dari pekerjaan ini ia bisa mengantungi Rp 75 ribu sehari.

    “Ya lumayan, Mbak, itu biasanya saya nargetin sehari harus dapat segini supaya dapat Rp. 75.000 perhari. Gimanapun caranya saya coba selesaikan, Mbak. Kalau belum selesai ya saya lembur sampai gak tidur. Demi anak-anak.” imbuhnya.

    Beban Ani sedikit berkurang, karena tak lama kemudian ada yang berminat mengontrak ruko di samping rumahnya untuk dijadikan toko kelontong. Ini karena Ani mematok harga miring atau di bawah harga rata-rata meski lokasi tanahnya sangat strategis dan berada di pinggir jalan raya.

    “Kan kemarin banyak orang-orang yang menjauhi kita, Mbak, makanya saya tawarkan harga rendah. Alhamdulillahnya yang nyewa mau kita mintain uangnya di awal. Jadi sangat membantu,” ujar Ani tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.

    Dan kini ia akhirnya menekuni usaha yang pernah dirintisnya dahulu yakni membuka warung makan di depan rumahnya. Modal usaha warung makan ini ia dapatkan dari bantuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

    “Setelah Bapak bebas pada 2020, kemudian mendapatkan pembinaan dari BNPT dan dimodali sebesar Rp 5 juta untuk modal usaha,” ujar Ani.

    Usaha ini dipilih, karena dia memang memiliki kemampuan dalam bidang memasak, akhirnya diputuskan untuk membuka warung makan kembali. Munculnya stigma negatif setelah Mardi ditangkap tak hanya mempengaruhi sepinya pengunjung warung Ani, tetapi juga berpengaruh pada semua aspek kehidupan keluarganya.

    Stigma dari masyarakat ini tak urung membuat tertekan Ani dan anak-anaknya. Sikap anaknya, terutama anak nomor dua berubah jadi pemurung.

    “Anak saya itu yang nomor dua laki-laki, Mbak. Dia emang karakternya pendiam. Kayaknya sih dia tertekan sama stigma-stigma anak teroris. Dia nggak pernah cerita sih tapi saya hanya menyimpulkan dari sikapnya yang semakin tertutup,” tuturnya.

    Diakui, saat awal Mardi ditangkap, stigma negatif dari masyarakat memang sangat kuat, tetapi seiring berjalannya waktu stigma itu perlahan terkikis. Ani sendiri mengaku tak terlalu memikirkan stigma ini, yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya bisa bertahan saat suaminya mendekam di penjara.

    “Saya sih dari awal nggak diambil pusing, Mbak, masalah stigma. Ya wajar aja, siapa sih yang nggak memandang negatif keluarga teroris? Sebab kalau saya terlalu memikirkan, nanti gimana anak-anak saya bisa makan? Saya juga gak boleh terlihat sedih di depan anak-anak. Pokoknya kudu tegar di depan anak-anak itu,” imbuhnya.

    Perlu waktu dan proses yang panjang hingga akhirnya Ani dan keluarganya bisa diterima kembali secara sosial dalam lingkungan masyarakat. Perlu proses negosiasi yang panjang bagi diri sendiri untuk dapat menyesuaikan kepada lingkungan sekitar yang sebelumnya tidak mau memahami dan cenderung menghakimi.

    Warung makan dan sewa tanah inilah yang hingga kini menjadi tempat bagi pasangan Mardi dan Ani menggantungkan ekonomi keluarganya. Selepas keluar dari tahanan, Mardi belum berhasil mendapatkan pekerjaan. Statusnya sebagai eks napiter menyulitkan dia mendapatkan pekerjaan. Sehingga yang bisa dilakukannya adalah membantu istri mengelola warung makan.

    Ani juga aktif berjualan online beberapa produk makanan, seperti cabe kriuk, kue, madu, hingga menerima beberapa pesanan makanan untuk berbagai acara. “Alhamdulillah, banyak yang suka sama masakan saya. Jadi selain ada warung makan juga orang-orang suka pesan buat acara,” ujar Ani.

     

    Kisah Ine, Istri Napiter di Karanganyar

    Ine, demikian perempuan itu menyebutkan namanya saat tangannya menyalami tanganku. Ada ketegasan yang kutangkap dari suara lirihnya. Kerudung lebar berwarna hitam menutupi kepalanya.

    Ine menerimaku di teras depan rumahnya yang asri. Aku sempat satu kali salah rumah sebelum akhirnya berhasil menemukan rumah mungil yang terletak di Kota Karanganyar itu. Angin sepoi dan gemericik kolam mampu mengurangi cuaca terik di siang itu.

    Ine adalah istri Hamdan seorang mantan napiter. Ine mengisahkan, pada tahun 2016 Hamdan ditangkap oleh Densus 88. Ia dituduh membantu menyembunyikan salah satu pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Solo.

    Padahal, sesungguhnya Hamdan tidak tau menau jika teman yang ia bantu adalah pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Solo. Saat itu Hamdan hanya diminta temannya untuk membantu sebuah urusan kerja.

    Hamdan mengakui bahwa dulunya aktif mengikuti kajian secara online melalui handphone. Ia mengikuti kelompok Front Pembela Islam (FPI). Selain itu, ia aktif berteman dengan kelompok yang tergabung dalam organisasi yang memiliki visi misi serupa FPI. Ternyata, salah satu temannya itu adalah pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Solo.

    Tak lama setelah serangan bom bunuh diri di Mapolresta Solo terjadi, polisi langsung mendatangi rumah Hamdan dan menangkapnya. Meski Hamdan mengatakan tidak tahu jika temannya bersembunyi dari pengejaran Densus 88 saat dia bantu untuk berangkat ke Jakarta, tetapi ia tetap ditahan, diadili dan dijatuhi hukuman 3 tahun penjara.

    “Kami sekeluarga kaget, Mbak, kok bisa pak Hamdan ditangkap. Ternyata ketracking turut bantu menyembunyikan. Padahal waktu itu temannya bilang minta tolong supaya dibantu ke Jakarta masalah pekerjaan. Ya suami percaya aja dan kalau bisa bantu memang dibantu suami itu. Namanya sama teman sendiri. Suami juga gak tau tuh kalau ternyata temannya masuk ke dalam jaringan teroris,” terang Ine.

    Selama Hamdan ditahan, tentu korban yang paling terdampak adalah istri dan anak-anak. Mau tidak mau, siap tidak siap Ine harus merangkap posisi menjadi ayah sekaligus ibu bagi keempat anaknya yang masih kecil. Bahkan, ketika Hamdan ditangkap pada tahun 2016, anak bungsunya masih berusia tujuh bulan. Sedangkan anak-anaknya yang lain berada dalam usia sekolah yang membutuhkan biaya tidak sedikit.

    Ine pun harus memutar otak dan banting setir agar bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Berbagai usaha pernah dijalaninya. Mulai dari jualan baju dan mukena, berdagang kue kering hingga kini berjualan coklat karakter. Selain berusaha sendiri, pihak keluarga sesekali juga memberikan bantuan.

    Ine dan keluarganya juga pernah menerima bantuan dari BNPT dan sebuah yayasan yang aktif dalam upaya deradikalisasi.

    “Mereka pernah datang guna memberi bantuan dana sosial sekitar dua sampai tiga kali saja. Kemudian ketika Bapak bebas, petuga BNPT datang lagi untuk memberi modal untuk usaha,” imbuh Ine.

    Ine mengaku beruntung, karena tidak terlalu distigma oleh masyarakat. Stigma datang hanya dari satu-dua tetangganya, itupun hanya terjadi di awal penangkapan Hamdan. Lama-lama stigma itu hilang dan masyarakat capek sendiri.

    Mayoritas tetangga sekitarnya justru bersimpati dan tidak menghakimi. Apalagi memberikan stigma negatif pada keluarganya. Ini karena pasangan ini cukup baik dalam bersosialisasi di masyarakat, dari keluarga juga tidak ada sama sekali penghakiman atau kecaman.

    Dari teman-teman bermain atau sekolah anaknya tidak ada satu pun yang memberi stigma kepada mereka. Hal itu dikarenakan, baik dari pihak keluarga maupun masyarakat tahu bahwa Hamdan sebenarnya tidak terlibat secara langsung dalam jaringan teroris. Hamdan hanya dimanfaatkan oleh temannya untuk melindungi dan menyembunyikan teroris. Namun, dari persidangan Hamdan tetap dijerat pasal menyembunyikan teroris dan divonis hukuman 3 tahun..

     

    Pusaran Terorisme di Solo

    Perjumpaanku dengan Mba Ani dan Mbak Ine berawal dari kunjunganku ke Sekretariat Yayasan Gema Salam, yaitu yayasan yang menaungi eks napiter di kawasan Kota Solo dan sekitarnya atau yang lebih dikenal dengan istilah Soloraya, pada satu malam di penghujung Maret silam.

    Aku sowan ke sana untuk berkenalan dengan pak Mardi dan Hamdan.

    Selama ini sudah banyak ulasan kisah eks napiter khususnya Jaringan Teroris Solo, tetapi masih sedikit yang menuturkan dari perspektif keluarga napiter khususnya istri eks napiter Jaringan Teroris Solo.

    Berdasarkan informasi dari pengurus Yayasan Gema Salam, di Jawa Tengah terdapat sekitar 490 eks napiter. Sebanyak 376 berasal dari wilayah Solo Raya dan 290 di antaranya berasal dari Kota Solo. Sekitar empat puluh orang eks napiter aktif menjadi pengurus Yayasan Gema Salam.

    Yayasan ini bertujuan mendampingi eks napiter dalam upaya deradikalisasi serta merangkul eks napiter supaya dapat diterima kembali di masyarakat. Keluarga, khususnya perempuan istri napiter menjadi target utama dari yayasan ini, karena perempuan lah yang efektif berperan dalam mencegah penyebaran paham radikal dari keluarga. Ketika seseorang sudah telanjur kecemplung dalam jaringan, maka perempuan juga yang diharapkan bisa menjadi benteng terakhir yang memagari

    Solo khususnya Sukoharjo sudah lama dibidik oleh Densus 88, karena menjadi salah satu lokasi penyebaran paham radikal. Penyebaran paham ini dilakukan dalam sel-sel kecil yang kemudian melakukan aksinya sendiri secara terpisah.

    Terakhir, tepatnya pada Rabu (9/3/2022) malam aparat Densus 88 menembak mati seorang dokter berinisial SU di Sukoharjo, Jawa Tengah. SU disebut tak hanya terlibat dalam kelompok ekstremis, tetapi ia memiliki peran penting di Jemaah Islamiyah (JI).

    JI adalah organisasi militan Islam yang sudah sejak lama dituduh berada di belakang serangkaian teror di Indonesia. Kelompok ini dibentuk di Malaysia oleh Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar pada akhir 1980-an dan kemudian berkembang menjadi sel-sel yang tersebar di sejumlah negara di Asia Tenggara.

    Dikutip dari laman Center for International Security and Cooperation (CISAC) Stanford University, JI merupakan pecahan organisasi Darul Islam (DI). Tokoh pendirinya, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir diketahui memiliki latar belakang sebagai aktivis pergerakan Islam.

    Pada masa Orde Baru, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir melarikan diri ke Malaysia. Di sana, mereka mulai membentuk kelompok Islam dan memfasilitasi perjalanan ke Afghanistan bagi muslim di Asia Tenggara yang ingin bergabung melawan Uni Soviet.

    Hingga pertengahan 1990-an, banyak anggota JI yang dilatih di Afghanistan. Organisasi tersebut dilaporkan menerima sumber daya dan nasihat dari kelompok Al-Qaeda. Jamaah Islamiyah juga memiliki hubungan yang kuat dengan Front Pembebasan Islam Moro setelah Abdullah Sungkar berhasil mendirikan kamp pelatihan di Filipina. Setelah reformasi 1998, kelompok ini kembali ke Indonesia. Tidak lama setelah itu, Sungkar meninggal dunia.

    JI bertujuan untuk mendirikan negara Islam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.Pada awalnya, JI menggunakan cara damai dalam mencapai tujuan mereka. Tetapi pada pertengahan tahun 1990-an, mereka mulai mengambil jalan kekerasan untuk mencapai tujuan.

    Di Singapura, Malaysia dan Filipina, pemerintahnya secara aktif mengejar para anggota kelompok ini. Sikap berbeda diambil pemerintah Indonesia. Saat itu pemerintah menolak mengakui ancaman teroris Islam secara nasional.

    Pemerintah juga dituding enggan berkampanye melawan ancaman ini di depan publik mayoritas Islam yang meragukan keberadaan JI.

    Sejumlah teror yang dikaitkan dengan JI antara lain adalah serangkaian pengeboman gereja di Indonesia yang menewaskan 18 orang pada Desember 2000. Kelompok ini juga bertanggung jawab terhadap serangkaian pengeboman di Manila yang menewaskan 22 orang.

    Perempuan Penyemai Perdamaian

    Kisah perempuan dalam pusaran terorisme bukan hanya tentang para istri eks napiter. Ada juga kisah perempuan yang aktif dalam mengkampanyekan toleransi dan menyemai perdamaian di Solo Raya.

    Salah satunya adalah Ninin Karlina, ketua Peacegen Solo. Ia aktif mendapat undangan menjadi narasumber di berbagai acara tentang perdamaian dan dialog lintas agama serta diskusi di polres tentang perdamaian.

    Selain sebagai agen perdamaian, ia merupakan seorang ibu dua anak dan ustadzah di pondok Imam Syuhodo Sukoharjo. Banyak tantangan yang harus dihadapinya dalam mengkampanyekan perdamaian.

    “Agak susah dalam menempatkan diri menjadi beberapa sosok. Aku harus bisa memposisikan kapan aku menjadi agen perdamaian, kapan menjadi ustadzah, kapan menjadi istri, kapan menjadi ibu dan kapan menjadi anak.” ujarnya di penghujung Maret lalu.

    Ninin yang sejak 2018 menjadi Ketua PeaceGeneration Chapter Solo aktif melakukan tindakan mitigasi bencana sosial (konflik) dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan tindakan pencegahan berkembangkan paham radikal. PeaceGeneration merupakan salah satu Non Goverment Organization (NGO) yang memiliki metode penyampaian yang asyik yaitu dua belas nilai perdamaian. Nilai ini diantaranya adalah menerima diri, prasangka, perbedaan etnis, perbedaan agama, perbedaan jenis kelamin, perbedaan status ekonomi, perbedaan kelompok atau geng, keanekaragaman, konflik, menolak kekerasan, mengakui kesalahan, memberi maaf. Dengan cara ini, mereka dapat membumikan nilai-nilai perdamaian dengan cara yang dapat diterima oleh anak muda.

    Hidup dan besar di lingkungan pondok pesantren, Ninin juga sering mendapat stigma seperti perempuan kok keluar kota bahkan keluar pulau tanpa muhrim. Padahal dari suami sendiri sudah setuju dan tidak mempermasalahkan apalagi jika urusannya dengan kebaikan dan orang banyak.

    Tidak sampai di situ saja, Ninin juga sering memperoleh cibiran dari orang-orang sebagai ‘manusia proyek’. Berkecimpungnya di dunia NGO menjadikannya mendapat sebutan seperti itu. Beberapa orang memang memandang NGO hanya bekerja karena proyek. Namun, Ninin berusaha keras untuk tidak terlalu mendengarkan anggapan seperti itu karena akan menghambat usaha-usahanya dalam mengkampanyekan perdamaian dan toleransi.

    Justru stigma-stigma yang timbul dijadikan sebagai pacuan bahwa apa yang dilakukan itu nyata dan konkrit. Sebenarnya Ninin begitu aktif dalam mengkampanyekan perdamaian diawali dari kegelisahannya terhadap kinerja pemerintah yang kurang dalam menjangkau masyarakat khususnya anak muda.

    Pengalaman Ninin merupakan bukti nyata bahwa perempuan memiliki peran yang vital dalam isu perdamaian dan menyebarkan toleransi. Namun, hambatan-hambatan yang dialami perempuan memang kompleks dan cenderung lebih rumit dibandingkan laki-laki sebab kontruksi masyarakat yang masih mendiskreditkan bahwa perempuan yang baik adalah ia yang berada di rumah saja dan melayani suami. Padahal ada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (H.R. Bukhari).

     

    Artikel ini didukung atas kerjasama Konde.co dan The Asian Muslim Network (AMAN) Indonesia dalam program Peace Innovation Academy 2022.

    Penulis: Roudhotul Jannah – Sahabat Simfoni

  • K-POP DAN EKSISTENSI BUDAYA JAWA

    K-POP DAN EKSISTENSI BUDAYA JAWA

    Di era digital saat ini banyak fenomena yang membuka mata kita bahwa ternyata Indonesia juga menjadi sorotan dunia. Remaja Indonesia yang menjadi pengguna aktif media sosial telah menjadi target market yang menjanjikan bagi pasar industri ekonomi kreatif negara-negara lain, tak terkecuali Korea.
    Berbicara tentang kontribusi masyarakat Indonesia sebagai konsumen industri hiburan Korea, rilis data dari Twitter Indonesia melaporkan bahwa percakapan dengan tema K-Pop telah mencapai 7,5 miliar tweet selama periode Juli 2020 hingga Juli 2021. Angka tersebut merupakan capaian rekor tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya Indonesia berada di posisi teratas sebagai negara dengan volume tweet dan jumlah unique authors terbanyak di Twitter yang memperbincangkan tentang K-Pop. Unique Authors merupakan akun-akun yang aktif mengamplifikasi kampanye melalui penggunaan tanda pagar (hashtag) bukan hanya audiens yang aktif membuat cuitan atau menyimak tema yang diperbincangkan di Twitter. Indonesia juga merupakan salah satu dari lima negara penyumbang tweet tertinggi di dunia tentang K-Pop diantara ke empat negara lain yaitu Filipina, Thailand, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Peluang ini dimanfaatkan banyak E-commerce dari Indonesia yang menggandeng para influencer dan artis K-Pop menjadi brand ambassador mereka. Para artis K-Pop dan influencer ini diharapkan dapat memberi pengaruh terhadap konsumen yang rata-rata berasal dari para milenial dan generasi Z atau para pecinta K-Pop (K-POPers).

    Salah satu fenomena yang kita temui di akhir Januari 2022 lalu saat jagad maya dihebohkan dengan kemunculan video berdurasi pendek yang memperlihatkan tiga orang personel boyband NCT yaitu Mark, Jaemin dan Jisung sedang menari. Melihat artis K-Pop menari tentunya bukanlah hal aneh, namun yang membuat netizen khususnya warga Indonesia merasa terkejut adalah lagu yang mengiringi tarian mereka bukanlah lagu Korea seperti biasa melainkan lagu dangdut asli Indonesia yang berbahasa Jawa. Ketiga personel NCT tersebut menirukan gerakan tarian atau koreografi yang beberapa waktu lalu menjadi tren para pengguna media sosial di Indonesia. Lagu berjudul berjudul “Mendung Tanpo Udan” yang dinyanyikan oleh Ndarboy Genk merupakan salah satu lagu dangdut berbahasa Jawa yang memang asyik dan enak didengar. Ndarboy Genk sendiri adalah sebuah proyek solo dari seorang musisi Yogyakarta bernama Helarius Daru Indrajaya. Sedangkan pencipta lagu tersebut adalah seorang seniman Bernama Kukuh Prasetya Kudamai. Deretan komentar seperti “NCT melokal!” mewarnai unggahan video tarian (dance) dari Boy Band Korea tersebut. Semula banyak orang mengira video tersebut adalah hasil editan. Namun netizen kaget sekaligus bangga karena video yang menggunakan latar lagu Indonesia tersebut diunggah di akun media sosial resmi NCT Dream. Tentunya momen dance cover Mendung Tanpo Udan oleh NCT ini adalah sebuah refleksi bagi kita akan besarnya potensi pengaruh budaya Jawa yang kita miliki di kancah dunia. Bahkan Korean wave yang dikenal secara global pun terinspirasi dengan budaya Jawa.

    Jika kita menilik perjalanan masa lalu yang dialami negara Korea dan Indonesia, keduanya memiliki latar belakang pembentukan budaya yang sangat berbeda. Banyak pondasi yang membentuk budaya Korea hingga menjadi seperti sekarang ini, salah satunya adalah pengalaman pahit Korea yang pernah dijajah oleh negara Jepang pada Perang Dunia II. Setelah Korea Selatan merdeka, maka mereka tidak mau menginfiltrasi budaya dari dua negara yang menghimpitnya yaitu Jepang dan Tiongkok. Mereka melakukan pendekatan yang sama sekali baru dengan membangun kebudayaan mereka sendiri dari nol. Berbeda dengan Korea, budaya Jawa telah terbentuk sejak zaman kerajaan, bahkan menjadi cikal bakal peradaban dunia. Manusia purba paling maju yaitu Homo Soloensis yang pertama kali menggunakan peralatan dan perkakas dari serpihan batu ditemukan di Jawa Tengah tepatnya di tepi Bengawan Solo, Sangiran dan Sragen. Selain itu di bidang Sastra, keraton Kasunanan Solo telah melahirkan pujangga besar Ronggowarsito yang hingga kini diwariskan kepada para penerusnya. Di bidang industri, Jawa Tengah juga menjadi pusatnya sejak zaman kolonial dengan berdirinya 296 pabrik gula besar yang beroperasi di wilayah tersebut..

    Aset peninggalan budaya yang telah diwariskan sejak zaman dahulu bukan hanya dalam bentuk fisik namun juga berupa budaya perilaku. Perilaku masyarakat Jawa yang sarat nilai karakter yang baik sebagai jati diri bangsa hendaknya terus dijaga dan dilekatkan kepada generasi muda melalui berbagai media. Salah satu upaya mengenalkan kembali budaya adiluhung Jawa dilakukan oleh organisasi Solo Bersimfoni. Organisasi yang digerakkan oleh para tokoh dan agen anak muda Solo ini mengangkat budaya Hasthalaku yaitu delapan sikap perilaku masyarakat Jawa yang terdiri dari Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Pangerten dan Tepa selira. Ke-8 perilaku yang menjadi budaya sejak zaman nenek moyang masyarakat Jawa ini masih sangat relevan untuk diimplementasikan di masa sekarang. Dengan Hasthalaku maka harmoni kebhinekaan dan persatuan antar budaya dapat diorkestrasikan menjadi sebuah simfoni yang selaras dan mengikuti dinamika perkembangan zaman. Di bidang Pendidikan pada kurikulum paradigma baru, salah satu unsur Hasthalaku yaitu Gotong royong menjadi bagian dari dimensi Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila sendiri merupakan perwujudan dari pelajar Indonesia yang memiliki semangat belajar sepanjang hayat, memiliki kompetensi global, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di mana terdapat enam dimensi komponennya antara lain beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Pemerintah melalui Kemdikbud juga telah memfasilitasi dengan berbagai program, salah satunya adalah program Belajar Bersama Maestro dimana para pelajar dapat bertatap muka dan belajar langsung dari para maestro seni dan budaya serta terlibat langsung dalam proses kreatif dan keseharian para seniman dan budayawan. Sehingga dalam proses tersebut para pelajar mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup yang berharga dan diharapkan mampu membentuk dan memperkuat jati diri pelajar sebagai penentu karakter bangsa di masa yang akan datang.

    Dengan melihat Kembali potensi yang dimiliki masyarakat Jawa dan kekayaan budaya yang dimilikinya, maka budaya Jawa akan tetap eksis bahkan dapat bersaing dengan negara-negara lainnya. Meskipun derasnya arus globalisasi seperti merebaknya budaya K-Pop atau Korean Wave tidak dapat kita bendung. Budaya luar akan menambah khasanah dan inspirasi kita dalam berkarya, namun pengetahuan dan ketrampilan global yang dimiliki para generasi muda akan tetap selaras dengan budayanya sebagai jati diri bangsa yang tidak akan tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi. Setiap tempat dapat menjadi pusat budaya. Budaya adalah ekosistem yang dapat menumbuhkan berbagai aspek kehidupan lainnya seperti ekonomi, politik dan sosial dengan baik. Kolaborasi dari berbagai unsur dapat saling mengisi sehingga menguatkan keberadaan budaya Jawa yang kita miliki. Pemerintah dengan kebijakannya, masyarakat khususnya generasi muda dengan kreatifitasnya dapat menunjukkan kecintaan pada budaya sendiri melalui berbagai platform media sosial sebagai katalisator yang menjembatani konektivitas dengan bangsa lain, sehingga budaya Jawa dapat dikenal dan bersaing secara global dan tak kalah eksis dengan budaya Korea.

    Penulis: Asri Pujihastuti, S.Pd. (Guru SMKN 7 Surakarta dan Sahabat Simfoni)

  • MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA

    MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA

    Pandemi yang kita hadapi saat ini telah membawa berbagai permasalahan pelik dalam dunia pendidikan. Siswa menjadi salah satu unsur dalam sistem pendidikan yang terdampak oleh pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan (daring). Banyaknya tugas yang menumpuk menjadikan mereka merasa stress dan kelelahan dalam mengejar deadline. Belum lagi tugas-tugas tersebut diberikan oleh banyak guru mapel dan harus diselesaikan dalam waktu yang singkat. Persoalan lainnya adalah kurangnya interaksi guru dan murid dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang membuat murid merasa jenuh serta tidak memiliki gairah dalam belajar. Ini tentu menjadi sebuah hal yang kontradiktif ketika saat ini program merdeka belajar tengah menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan kita. Di mana konsep merdeka belajar adalah agar murid merasa bahagia dalam menempuh pendidikan. Namun kenyataannya justru murid merasa terbelenggu dengan proses belajar itu sendiri.

    Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 13-20 April 2020 lalu, dari 1.700 responden sebanyak 77,8% memiliki kesulitan berupa tugas yang menumpuk. Sedangkan 37,1% responden mengeluhkan tugas dari guru dengan waktu pengerjaan yang sempit sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan. Responden tersebut merupakan gabungan siswa dari jenjang TK sampai SMA/sederajat yang tersebar di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota di Indonesia. Responden sebesar 79,9% mengatakan bahwa interaksi murid dan guru sangatlah minim. Interaksi dalam PJJ hanya berlangsung saat guru memberikan dan menagih tugas saja. Sedangkan 87,2% murid menyatakan bentuk interaksi yang paling sering dilakukan adalah melalui percakapan via aplikasi online chat yang masih kurang efektif sebagai sarana komunikasi antara guru dan murid. Tentu bisa dibayangkan bagaimana tekanan yang dirasakan oleh murid untuk menyelesaikan tugas yang sangat banyak. Mereka seharusnya dapat menyerap ilmu yang diberikan guru dengan optimal tetapi justru kehabisan waktu dan energi hanya untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum tentu mereka pahami.

    Sebagai seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saya sendiri merasakan problem tersebut. Kondisi yang saya amati dalam proses belajar mengajar di sekolah pada umumnya belum mencerminkan apa yang menjadi tujuan konsep belajar Kurikulum Paradigma Baru, yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid. Guru seharusnya dapat memberikan keleluasaan kepada murid untuk belajar dengan menyenangkan tanpa tekanan. Penggunaan Learning Management System (LMS) yang kurang optimal tidak bisa memberikan ruang terjadinya interaksi dua arah antara guru dan murid. Kebanyakan guru hanya mengunggah materi dan tugas di platform Google Classroom yang harus diselesaikan oleh murid secara mandiri. Sebagian besar guru tidak memberikan kesempatan siswa untuk berkonsultasi terkait tugas mereka ketika mengalami kendala. Beberapa murid bahkan mencari jalan pintas dengan menyalin pekerjaan temannya, namun tidak memahami materi yang diajarkan. Banyak murid kesusahan karena tugas yang menumpuk. Guru pun tak kalah susah dengan pelaporan jurnal dan administrasi yang cukup merepotkan. Pada akhirnya yang terjadi adalah proses pembelajaran yang hanya sekedar menjadi sebuah aktivitas untuk menggugurkan kewajiban, tetapi kurang bermakna.

    Pembelajaran daring sampai saat ini masih dijalani oleh guru dan murid meskipun Pembelajaran tatap Muka (PTM) sebagian sudah mulai dilakukan. Guru dituntut agar lebih kreatif dalam mengelola kelas, melakukan inovasi dan mengembangkan metode mengajar sehingga kelas lebih interaktif. Proses pembelajaran hendaknya dikondisikan agar membuat siswa lebih terlibat secara penuh. Tatap maya dengan memanfaatkan aplikasi seperti Google Meet dan Zoom dapat dilakukan untuk mewadahi siswa dalam menyampaikan ide-idenya. Fitur Share Screen dalam aplikasi video conference dapat dioptimalkan untuk memberi kesempatan pada siswa dalam menyampaikan paparan materi secara menarik menggunakan bahasanya sendiri. Aplikasi yang mendukung pembelajaran secara visual seperti Canva juga bisa menjadi pilihan dalam membuat presentasi yang menarik sehingga pembelajaran di kelas berlangsung seru dan asyik.

    Murid perlu diberi kesempatan untuk mengekspresikan bagaimana suasana hatinya pada saat pembelajaran dan memberi umpan balik kepada guru. Ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi papan tulis virtual seperti mentimeter, padlet atau jamboard. Selain menjalin komunikasi dua arah, kegiatan menyenangkan semacam ini juga penting sebagai refleksi dan evaluasi guru dalam menjalankan tugas mengajarnya. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru. Guru hanyalah fasilitator dan pelayan murid yang menunjukkan sikap among, serta mendengar apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan muridnya. Jika diibaratkan sebuah gambar, maka para murid ini memiliki garis-garis tipis yang harus ditebalkan oleh guru dengan memberikan penguatan dan bimbingan dalam proses belajar.

    Sudah saatnya seorang guru mampu menjalankan perannya sebagai pendidik untuk memberikan  pembelajaran yang bermakna. Guru hendaknya bisa membuat para murid menikmati dan mencintai proses belajar dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Sumber daya yang ada dapat dioptimalkan dalam berinovasi. Guru hendaknya terus melakukan refleksi dan evaluasi diri. Hal ini penting bagi perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Perlu disadari bahwa murid merupakan individu dengan karakter yang unik dan potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mereka juga memiliki kebutuhan yang beragam karena berangkat dari berbagai latar belakang. Pembelajaran yang menyenangkan akan membuat kelas maya dipenuhi dengan senyum dari wajah-wajah ceria seperti yang kita dambakan. Merdeka belajar bukan hanya sekedar angan-angan,  namun dapat kita wujudkan dengan melakukan perubahan.

     

    Penulis : Asri Pujihastuti,S.Pd.
    Sahabat Simfoni dan Guru SMKN 7 Surakarta

    Pernah dimuat di Koran Solo
    Tanggal : Sabtu, 7 Desember 2021

  • LAUNCHING ONLINE IMPLEMENTASI  MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI TAHUN 2021

    LAUNCHING ONLINE IMPLEMENTASI MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI TAHUN 2021

    Jumat, 30 Juli 2021 Solo Bersimfoni melaksanakan kegiatan Launching Online Implementasi Model Sekolah Adipangastuti Tahap III Tahun 2021. Acara ini  dilaksanakan selama satu jam, mulai pukul 13.00-14.00 WIB melalui Zoom Cloud Meeting. Acara dihadiri oleh Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Bapak Eris Yunianto, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jateng, Bapak Nasikin, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Jateng, Bapak Sunarno dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jateng, Bapak Suratno, Perwakilan Komisi E DPRD Jawa Tengah, Muhammad Zein, Tim Ahli DPRD Provinsi Jawa Tengah, Bapak Huntal Hutapea, Kepala Kesbangpol Kota Surakarta, Bapak Indradi, Kepala Bidang Sosial, Budaya dan Pemerintahan BAPPPEDA Kota Surakarta, Ibu Sumilir Wijayanti serta sekolah adipangastuti tahap pertama, kedua dan ketiga.

    Model Sekolah Adipangastuti adalah sekolah toleransi berbasis budaya yang sudah diterapkan selama dua tahap yaitu tahun 2019 dan tahun 2020. Pada tahun 2019, ada dua sekolah pilot project implementasi yaitu SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Yang kemudian pada tahun 2020 dikembangkan ke lima sekolah dengan lingkup Soloraya yaitu di SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen. Selanjutnya, pada tahun 2021 dilaksanakan tahap III implementasi model sekolah di SMAN 1 Karanganyar dan SMAN 2 Boyolali yang akan dijalankan selama 6 bulan sejak  Juli-Desember 2021. Program dan luaran pada masing-masing sekolah akan disesuaikan dengan kebijakan masing-masing sekolah.

    Pada tahap III ini, Solo Bersimfoni bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, dalam hal ini melalui Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah V Provinsi Jawa Tengah, Nasikin, S.Stp.,M.Kom. dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VI, Drs Sunarno, M.Pd. yang telah memberikan dukungan penuh dengan mengeluarkan surat rekomendasi untuk penerapan Sekolah Adipangastuti di masing-masing sekolah naungannya.

    Model Sekolah Adipangastuti berisi mengenai program progam untuk mengajarkan pendidikan karakter hasthalaku dengan target ada tiga, yaitu Literasi dan Digitalisasi dengan cara budaya literasi tema hasthalaku dikemas sedemikian rupa agar remaja milenial sekolah SMA/SMK model adipangastuti tertarik untuk membangun tema-tema kebaikan yang dapat didistribusikan secara digital, misalnya video, film, blog, content creator, novel, komik dan sebagainya. Yang kedua adalah branding sekolah dengan nilai hasthalaku. Kegiatan branding hasthalaku di sekolah diharapkan menghasilkan tampilan fisik sekolah yang mengkampanyekan nilai-nilai hasthalaku. Berupa poster, leaflet, mading, hiasan sekolah, tagline, dan sebagainya. Kemudian adalah peningkatan kapasitas media sosial sekolah. Penguatan platform digital seperti Website sekolah, pengelolaan sosial media sekolah seperti Youtube, FB, IG, Twitter, dan sebagainya.

                Acara ini dimulai dengan laporan kegiatan oleh M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni yang kemudian sambutan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V, VI dan VII Provinsi Jawa Tengah dan diakhiri dengan pembukaan Program Sekolah Adipangastuti Tahap III Tahun 2021 oleh Bapak Eris Yunianto. Beliau mengatakan, “Saya sangat mengapresiasi Solo Bersimfoni yang telah tergerak dan bergerak dalam membumikan nilai-nilai kearifan lokal hasthalaku kepada pelajar SMA di wilayah Soloraya berbasis teknologi informasi”.

    Tujuan Kegiatan Launching Online Implementasi Model Sekolah Adipangstuti Tahun 2021 ini sebagai kick off dilaksanakannya implementasi Sekolah Adipangastuti Tahap III di SMAN 1 Karanganyar dan SMAN 2 Boyolali, yang telah berkomitmen dengan adanya persetujuan MoU yang telah disepakati bersama antara Solo Bersimfoni dan masing-masing sekolah. Yang mana mereka akan kreatif dan inovatif berkomitmen mengembangkan nilai-nilai budaya lokal Hasthalaku selama enam bulan. Yang terakhir untuk mendorong  penerapan nilai-nilai budaya lokal hasthalaku sebagai upaya pembangunan toleransi, perdamaian dan keberagaman.

     

    Penulis: Tia Brizantiana

  • MENGAPA ORANG INDONESIA SUKA INTERNET?

    MENGAPA ORANG INDONESIA SUKA INTERNET?

    Pertama, internet menyampaikan informasi dengan sangat cepat. Kedua, internet membuat semua orang saling terhubung, mendekatkan yang jauh tanpa batas negara dan waktu. Ketiga, biaya internet relatif murah. Kesiapan Indonesia atas hadirnya perkembangan internet salah satunya ditandai dengan peluncuran Program Indonesia Makin Cakap Digital 2021 yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, serta perwakilan Pimpinan Daerah di seluruh Indonesia pada 20 Mei 2021di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta.

    Berdasarkan We Are Social terdapat 175,4 juta pengguna internet di Indonesia pada 2020 dan terhitung per Januari 2021 terdapat 202,6 juta pengguna internet. Artinya pada saat kamu membaca tulisan ini, pengguna internet di Indonesia akan terus mengalami lompatan tinggi. Internet tidak bisa lepas dari kehadiran media sosial yang sangat digandrungi oleh masyarakat. Terbukti dengan adanya 170 juta pengguna sosial media di Indonesia per Januari 2021. Bagaimana dengan jumlah pengguna media sosial tahun 2022 nanti? Kalian pasti bisa membayangkannya.

    Perkembangan internet dan media sosial juga tak luput dari warganet yang mempunyai dua sisi. Bicara soal kekuatan warganet Indonesia tentu kita semua sudah paham betul berbagai fenomena pelanggaran di internet dan media sosial hingga akhirnya dalam Digital Civility Index (DCI), warganet Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara sebagai pengguna media sosial yang paling tidak sopan di wilayah tersebut[1] sepanjang 2020.

    Penelitian tersebut membuktikan bahwa etika bermedia sosial perlu dipegang teguh oleh setiap masyarakat terutama para netizen Indonesia saat berseluncur di internet. Internet sangat bermanfaat jika digunakan secara positif dan maksimal. Memang benar apa yang ditawarkan oleh Internet salah satunya adalah kebebasan tapi bukan tak ada batasnya. Siapa yang membatasi? Ya kita sendiri sebagai penggunanya dengan menggunakan etika dalam bermedia sosial.

    Kita coba ingat lagi ke belakang, pada saat tim Indonesia dipaksa mundur dari All England 2021 yang kemudian disusul dengan serbuan netizen Indonesia ke akun media sosial BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia). Ada lagi peristiwa saat Dewa Kipas menang melawan GothamChess pada pertandingan catur online di platform Chess.com, yang menyebabkan fans dari Gothamchess tidak terima dan ditanggapi dengan serbuan komentar jahat dari warganet Indonesia di akun media sosial Gothamchess. Dua kasus tersebut menjadikan pemakluman bahwa netizen Indonesia masuk urutan terbawah. Berbagai contoh di atas membuktikan bahwa akses informasi yang sangat cepat tidak diimbangi dengan literasi digital. Berita yang diterima langsung ditelan mentah-mentah tanpa disaring terlebih dahulu.

    Saat berselancar di internet, kita harus menerapkan nilai hasthalaku seperti pangerten dengan memberikan komentar yang baik pada postingan orang lain, sehingga juga akan mendapatkan respon baik dari pemilik konten. Dengan memilih kata-kata yang baik, maka nilai guyub rukun akan selalu terjaga. Selain itu, nilai lembah manah juga harus diterapkan untuk membuat orang lain nyaman. Contohnya dengan menghindari membuat kegaduhan dengan orang lain di media sosial. Jika berbeda pendapat dengan orang lain di media sosial, hendaknya menyelesaikan dengan baik dan sebaiknya tidak dalam forum yang bisa dibaca publik. Marilah bergotong royong menyebarkan konten positif seperti donasi, bukan malah gotong royong yang bikin emosi. Etika, tata krama dan sopan santun di dunia nyata semestinya juga berlaku di dunia maya meskipun hal itu tidak tertulis.

     

    Penulis : Burhanudin Fajri

    [1] https://indonesiabaik.id/infografis/benarkah-netizen-indonesia-paling-tak-sopan-se-asia

  • Ada Hasthalaku dalam Film You and I

    Ada Hasthalaku dalam Film You and I

    Apakah kalian sudah menonton Film You and I garapan sutradara Fanny Chotimah dan diproduseri oleh KawanKawan Media? Kalau sudah, mari kita tersenyum mengenang Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. Jika belum, mari menonton di Bioskop Online*. Cukup dengan sepuluh ribu rupiah, kita bisa merasakan bagaimana rasa saling cinta yang ada pada kedua sahabat tersebut bercampur dengan rasa haru,  membuncah dan meninggalkan rasa menyenangkan setelah menonton film ini. Hangat sampai ke hati.

    Film You and I berhasil menyabet berbagai penghargaan, diantaranya Asian Perspective Award dari 12th DMZ International Documentary Film Festival, Official Selection di Asian Vision dari Singapore International Film Festival 2020 dan Next:Wave Award di CPH:DOX International Film Festival di Denmark 2021. Selain itu di dalam negeri film ini memenangkan Film Dokumenter Panjang Terbaik dari Festival Flm Indonesia 2020 dan Piala Maya 9.

    Film dokumenter berdurasi 72 menit ini bercerita tentang kisah Kusdalini dan Kaminah di masa tua. Pemeran utamanya adalah mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Awal mula diceritakan bagaimana mereka bertemu yang kemudian menjadi sahabat tak terpisahkan sampai maut menjemput.

     

    Diceritakan saat masih belia, mereka bertemu di penjara pada tahun 1965 sebagai tahanan politik. Ketika Kusdalini keluar dari penjara tahun 1967, setiap hari dia mengunjungi Kaminah meski sempat ditakut-takuti oleh petugas penjara. Kaminah keluar dari penjara pada tahun 1972. Saat dia keluar, keluarga menolaknya. Apa yang kemudian terjadi padanya?

    Berlokasi di Solo, proses pengambilan video memakan waktu cukup lama, yaitu empat tahun dari 2016 sampai 2020. Fanny Chotimah mengatakan, “Awalnya kami tidak langsung melakukan take video, setiap hari saya dan tim ke rumah mereka hanya untuk mengobrol agar suasana menjadi menyenangkan.” Sungguh suatu pangerten yang luar biasa, bukan?

    Kalau diperhatikan, banyak nilai hasthalaku yang ada dalam film ini. Bagaimana guyub rukun mereka tampak dari dialog “We only have each other” yang sangat mendebarkan hati. Tetangga sekitar mereka pun selalu bergotong royong membantu setiap ada kesulitan, seperti saat mengganti atap rumah maupun mengantar ke Rumah Sakit saat Mbah Kus menurun kesehatannya dan harus dirawat inap.

    Bagaimana pangerten yang ada pada keduanya, untuk selalu menemani dalam suka dan duka. Bagaimana teman-teman mereka tetap grapyak semanak bersilaturahmi setiap bulan, meski sudah tak muda lagi. Orang-orang ini sungguh bisa disebut sebagai agen hasthalaku. Tak hanya sebagai teori tetapi juga praktek nyata sehari-hari.

    Hasthalaku adalah nilai budaya baik yang sewajarnya diterapkan dalam keseharian semua orang diusia berapapun. Jika Mbah Kam dan Mbah Kus saja bisa, anak muda tentunya harus bisa.

     

    Selamat menghabiskan waktu berdua dengan bahagia di atas sana, Mbah Kam dan Mbah Kus.

    Dengan penuh cinta,

    Solo Bersimfoni

     

    Penulis : Tia Brizantiana

  • SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN TOLERANSI YANG MENARIK UNTUK DISIMAK

    SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN TOLERANSI YANG MENARIK UNTUK DISIMAK

    Pernahkah anda merasa ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk kehidupan kota besar dan pergi ke tempat yang lebih tenang dan damai? Tempat kehidupan masyarakat yang rukun dan masih didominasi oleh nilai-nilai lama, budaya luhur, toleransi serta sikap menjaga keberasamaan. Anda bisa menemukannya dalam lingkungan Sekolah Adipangastuti-sekolah toleransi berbasis budaya-, sebuah hunian ramah untuk proses pembelajaran bagi warganya. Warga sekolah Adipangastuti akan membuat anda berpikir, orang-orang seperti inilah yang anda inginkan sebagai tetangga di lingkungan tersebut.

    Sekolah Adipangastuti adalah sebuah model sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan toleransi pada kalangan remaja khususnya pelajar. Model sekolah ini menerapkan budaya lokal dalam sistem sekolah dengan melakukan internalisasi nilai-nilai yang disebut hasthalaku ke dalam kegiatan pembelajaran siswa secara tidak mengikat, fleksibel dan luwes. Target dari sekolah ini menjadikan peserta didik lebih toleran dan mempunyai identitas budaya hasthalaku.

    Bila pendidikan disebut sebagai usaha untuk menghasilkan peserta didik yang cerdas dan berperilaku berbudi, maka seluruh rangkaian proses pembelajaran adalah  hasil dari pengetahuan (knowledge) dan pengalaman (experience). Cerdas dapat ditempuh melalui pembelajaran teoritis di ruang kelas, sementara moral atau perilaku berkaitan dengan nilai (value) yang lebih dipertimbangkan sebagai emotive berdasarkan pada ekspresi dan rasa.  Model sekolah Adipangastuti lebih cenderung hadir sebagai pembelajaran moral atau perilaku yang mengandalkan pengalaman  langsung dalam penerapan nilai-nilai.

    Program-program dalam model Sekolah Adipangastuti nyaris semuanya disusun berdasarkan kesepakatan guru, siswa dan tim pendamping program yang disesuaikan agar sejalan dengan program sekolah. Sehingga kegiatan-kegiatan yang lahir adalah hasil keinginan bersama yang memungkinkan terjadinya penjelajahan atau eksplorasi kegiatan dengan asyik dan leluasa. Kegiatan model sekolah adipangastuti berbasis pada pengembangan literasi, branding dan digitalisasi.

    Literasi digital mengarah pada pencarian berita dan konfirmasi dengan prinsip anti hoaks (berita bohong) dan ujaran kebencian. Pelatihan penggunaan beragam platform teknologi digital sebagai penunjang pembelajaran. Menarasikan Hasthalaku dalam bentuk tulisan (seperti; artikel populer, cerita fiksi, blog, naskah pementasan teater, sampai penerbitan buku), dalam bentuk gambar (seperti; poster, postingan media sosial, dan banner), dalam bentuk video (seperti; ilustrasi, pentas teater, film pendek, dan podcast),  serta dalam bentuk media kreatif lainnya.

    Selain itu, kegiatan yang berkaitan dengan sosial media pun tak kalah mendapat perhatian. Mengingat, penggunaan sosial media sekarang ini sudah menjadi suatu kebutuhan, maka online behavior sangat diperlukan. Bagaimana cara menyampaikan narasi di media sosial, bagaimana agar guru maupun siswa bisa membuat konten yang berfokus pada pendidikan karakter,  juga bagaimana mengukur seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan dari unggahan di media sosial melalui komentar (comment), penyebaran (share), dan reaksi (like).

    Program didesain dekat dan relevan dengan kehidupan siswa. Juga sebagai follow up dari pemberdayaan potensi seperti organisasi/ekstrakulikuler siswa. Berhadapan atas dunia di sekitarnya, menyebabkan siswa berupaya lebih lanjut mengeksplorasi lewat tindakan atau bahasa narasi. Sebuah model yang sederhana dan langsung.

    Indikator adanya kegiatan belajar adalah adanya perubahan tingkah laku, perubahan pola pikir, dan perubahan sikap. Sejalan dengan hal tersebut, model sekolah Adipangastuti berfokus pada capaian hasil perubahan daripada knowledge (kondisi sadar akan nilai-nilai hasthalaku), skill (kemampuan warga sekolah menggunakan beragam media/platform dalam menyebarkan konten tematik hasthalaku pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)), attitudes (menyikapi perasaan atau emosi terhadap seseorang atau sesuatu dari perspektif/sudut pandang nilai hasthalaku), habits (pengamalan nilai hasthalaku dalam perilaku yang berulang dan konsisten).

    Thomas Lickona dalam buku Mendidik untuk Membentuk karakter (2016) mengatakan, “Guru yang baik bukan hanya menentukan standar yang tinggi; mereka pun membantu siswanya membuat standar tersebut menjadi milik mereka.” Dengan menjadikan nilai-nilai hasthalaku yang kaya akan muatan toleransi sebagai standar perilaku bersama, maka akan tercipta kondisi KBM menjadi kondusif. Hal ini dikarenakan semua warga sekolah menjaga budaya toleransi dan memelihara nilai-nilai budaya lokal. Sehingga mampu menghindari atau meminimalisir resiko dampak perubahan sosial atau perilaku menyimpang yang bertentangan dengan aturan hukum, nilai religi dan norma sosial di lingkungan sekolah.

    Sebagai penutup, saya menukil perkataan Theodore Roosevelt untuk menunjukkan betapa pentingnya pendidikan moral perilaku terutama toleransi dalam menjaga kebersamaan, “Mendidik seseorang hanya untuk berpikir dengan akal tanpa disertai pendidikan moral berarti membangun suatu ancaman dalam kehidupan bermasyarakat.”

     

    Penulis : Gilar Prasetio

    Sahabat Simfoni dan Pendamping Sekolah Adipangastuti

  • Mengusung Literasi dan Digitalisasi Hasthalaku,  M Farid Sunarto Solo Bersimfoni menjadi Local Champion KemKominfo RI 2021

    Mengusung Literasi dan Digitalisasi Hasthalaku, M Farid Sunarto Solo Bersimfoni menjadi Local Champion KemKominfo RI 2021

    Selasa, 18 Mei 2021, M Farid Sunarto bersama tim Solo Bersimfoni mengadakan audiensi dengan Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, di Balaikota Surakarta.  Farid melaporkan kesiapannya menjadi salah satu Local Champion diantara dua puluh Local Champion terpilih oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (Kominfo RI) terkait “Indonesia Makin Cakap Digital 2021”. Pada Kamis, 20 Mei 2021 Farid akan memperoleh penghargaan dari Menteri Kominfo RI di hadapan Presiden RI Ir H. Joko Widodo di Gelora Bung Karno, Jakarta.

    Pencapaian M. Farid Sunarto memperoleh penghargaan Local Champion Indonesia Makin Cakap Digital 2021 lantaran bersama Solo Bersimfoni telah menarasikan toleransi dan perdamaian bagi remaja Generasi Z  dengan menggunakan budaya lokal Solo yang dinamakan hasthalaku. Hasthalaku terdiri dari gotong royong, grapyak semanak, guyub rukun, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor dan tepa selira.

     

    Ketua Solo Bersimfoni memberikan kenang-kenangan berupa kaos Hasthalaku kepada Walikota Surakarta Gibran Rakabuming

    Dalam mengkampanyekan hasthalaku, Solo Bersimfoni melakukan beberapa hal. Pertama mencetak lebih dari seratus relawan yang disebut sebagai Sahabat Simfoni melalui Training of Trainers (ToT). Sahabat Simfoni kemudian berkembang dan membentuk Agen Simfoni Bersatu (ASB). Yang kedua, Solo Bersimfoni melakukan advokasi regulasi kepemudaan di Kota Surakarta dengan memasukkan hasthalaku pada pasal 11 Perwali No.49/2019 Kota Surakarta tentang Penyadaran, Pengembangan dan Pemberdayaan Kepemudaan sebagai salah satu ciri pemuda Kota Surakarta. Disamping itu Solo Bersimfoni turut mengadvokasi regulasi provinsi dengan keluarnya Perda Provinsi Jawa Tengah No. 4/2021 tentang pembangunan dan pengembangan kepemudaan. Kemudian yang ketiga, Solo Bersimfoni menciptakan Model Sekolah Adipangstuti, sebuah model sekolah yang dimasukkan ke sekolah formal dengan menerapkan program berbasis hasthalaku. Tahun 2020 Solo Bersimfoni telah mengimplementasikan Model Sekolah Adipangastuti di wilayah Soloraya yaitu : di SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 1 Gemolong dan SMAN 3 Sragen. Pada tahun 2021, model sekolah ini akan diterapkan di SMAN 2 Boyolali dan SMAN 1 Karanganyar. Strategi Model Sekolah Adipangastuti adalah pada literasi dan digitalisasi yang kreatif dan inovatif. Untuk melacak jejak digital program tersebut, dapat menggunakan keyword google : hasthalaku, adipangastuti dan solo bersimfoni.

     

    Apa yang Solo Bersimfoni lakukan sesuai dengan tujuan dari kegiatan Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital 2021”. Penerapan hasthalaku sebaiknya juga dilakukan dalam daring selain luring. Hasthalaku dalam ber-Media Sosial bisa disebut sebagai penerapan literasi digital yang baik. Pentingnya literasi digital kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama anak muda, menjadi urgensi sebagai peningkatan kemampuan kognitif SDM agar ketrampilannya tidak sebatas mengoperasikan gawai.

    Sementara itu, bersamaan dengan kegiatan Indonesia Makin Cakap Digital 2021 di Jakarta, ada dua kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu Peluncuran Kegiatan Literasi Digital di 514 kabupaten/kota dan juga Kelas Cakap Digital secara luring yang dilakukan di dua puluh kota terpilih sebagai kota satelit yang telah mencapai indeks literasi digital antara 3,00-4,02, yaitu Jakarta Pusat, Tangerang Selatan, Kota Bandung, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Kupang, Aceh, Belitung, Batam, Padang, Palembang, Pontianak, palangkaraya, Palu, Kendari, Gorontalo, Ambon dan Jayapura.

    Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Kamis-Jumat, 20-21 Mei 2021. Dengan target lima puluh peserta luring pada masing-masing kota dan 514.000 peserta daring, harapannya dapat menjadi amunisi untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi transformasi digital pada era revolusi industri saat ini. Kegiatan Literasi Digital di 514 Kabupaten/Kota di Indonesia akan dilakukan dari Mei sampai dengan Desember 2021 dengan target 12,5 juta masyarakat Indonesia akan terpapar literasi digital.

    Sementara itu, salah satu kegiatan  Kementerian Kominfo di Surakarta dilaksanakan tanggal 20 dan 21 Mei 2021 di Alila Hotel Solo, dilaksanakan Pelatihan Kelas Digital Marketing yang diikuti tiga puluh peserta, untuk menguasai dasar konten marketing dan digital marketing, tip and trik e-commerce, dan cara membuat website eksis.

     

    Penulis: Tia Brizantiana

  • ORGANISASI PEMUDA DI SOLO KINI MILIKI ACUAN BERKEGIATAN

    ORGANISASI PEMUDA DI SOLO KINI MILIKI ACUAN BERKEGIATAN

    Pada 17 Februari 2021, Bapppeda (Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah) Kota Surakarta telah melaksanakan kegiatan peluncuran dan sosialisasi Rancangan Aksi Daerah (RAD) tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan Kota Surakarta di Ruang Rapat A Bapppeda Surakarta. Kegiatan yang diikuti oleh perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Surakarta ini disusul dengan kegiatan serupa pada 26 Februari 2021 dengan menghadirkan peserta dari Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Kota Surakarta di Kusuma Sahid Prince Hotel Surakarta. (more…)

  • Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental

    Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental

    Sesuai amanat yang tertuang pada Perwali No. 49 tahun 2019 dengan tujuan membentuk karakter pemuda di kota Surakarta melalui Hasthalaku. Solo Bersimfoni bekerjasama dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia mengadakan kegiatan yang mengajak remaja milenial untuk menerapkan nilai-nilai Hasthalaku untuk mewujudkan Indonesia Bersatu. Hal ini sebagai langkah kongkrit upaya pemerintah dalam Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda serta keterlibatan masyarakat sipil. Program ini dinamakan Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Podcast Cuap Cuap Relasi, Seminar Karakter Hasthalaku dan Bedah Film Toleransi bertema Hasthalaku.

    Podcast Cuap Cuap Relasi (Remaja Toleransi) dilakukan Sembilan kali dengan masing-masing tema : Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Ewuh Pekewuh, Pangerten, Andhap Asor, Tepa Selira dan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Narasumber yang mengisi kegiatan ini adalah Dispora Kota Surakarta yaitu Kepala Kepemudaan, Nico Agus Putranto, dan Kasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan, Zufar Sasongko. Sedangkan Sahabat Simfoni, yang merupakan relawan serta kepanjangan tangan dari Solo Bersimfoni, juga menjadi narasumber kegiatan ini. Dalam Podcast bertema GNRM, perwakilan dari Kemenko PMK RI hadir yaitu Bayu Priyo Jatmiko. Sembilan podcast telah diupload pada YouTube Channel Solo Bersimfoni mulai tanggal 23 sampai dengan 30 November 2020.

    Seminar Karakter Hasthalaku dengan tema Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Remaja Milenial yang Bersumber dari Nilai Budaya Lokal secara daring telah terlaksana dengan lancar dan dihadiri oleh total 700 peserta baik dari zoom meeting maupun live streaming channel YouTube Solo Bersimfoni. Peserta merupakan siswa dan siswi Model Sekolah Adipangastuti yang sedang diterapkan pada lima sekolah di Soloraya yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong.

    Kegiatan ini dimulai dengan laporan kegiatan oleh M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni kepada Kemenko PMK RI melalui R. Alfredo Sani F selaku Asisten Deputi Revolusi Mental Kemenko PMK RI. Dalam kesempatan ini, Pak Alfredo juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini berada di bonus demografi, yaitu pemuda yang masuk usia produktif lebih banyak daripada yang masuk usia non produktif, sehingga kita perlu menyiapkan pemuda dengan membangun karakter hasthalaku yang sangat relevan di era sekarang.

    Narasumber kegiatan Seminar berjumlah empat orang yang merupakan pemerhati pemuda dan pemangku jabatan di Pemerintahan Kota Surakarta. Yang pertama adalah Waskito Widi Wardojo, S.S., M.A. yang merupakan dosen Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS memberikan materi dengan tema Internalisasi Nilai Nilai Karakter Hasthalaku. Kemudian yang kedua adalah Indradi AP, S.H., M.M selaku Kepala Kesbangpol Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Peran Organisasi pemuda dalam Pengembangan Karakter Hasthalaku Remaja Milenial. Yang ketiga adalah Dr. agus Setyo Utomo, S.E., M.Si., Ak. CA, C.Pa. yang merupakan aktifis pemuda dan Kepala Markas PMI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Merawat Persatuan dalam Semangat Kemanusiaan. Serta yang terakhir adalah Bambang Nugroho selaku Ketua KNPI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Semangat Pemuda dalam Mewujudkan Indonesia Bersatu.

    Pada kegiatan yang ketiga, yaitu Bedah Film Toleransi bertemakan Hasthalaku telah terlaksana dengan baik dan lancar pada hari Selasa tanggal 24 Desember 2020 di Graha Solo Raya pukul 13.00 – 15.00 WIB. Film yang diputar ada lima film yaitu Sepatu, Coba Peka, Second Change, Semanak dan Nggak Kenal Agama. Tiga film diantaranya adalah pemenang lomba pembuatan film pendek program Sekolah Adipangastuti tahun 2019 di SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 110 peserta dari OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Kota Surakarta. OKP yang hadir dari HIPMI, Suara Muda Solo, PRRBM, HMI, TAD, KNPI, PT HKTI, PMII, Banser, PMR Markas, JCI, IMM, IPNU, KAMMI, dan KTI. Sedangkan OPD yang hadir dari Bapppeda, Departemen Agama dan Kesbangpol Kota Surakarta.

    Kegiatan ini diawali oleh pesan dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII, Suyanta, S.Pd., M.Pd, agar seluruh peserta selalu melakukan protokol kesehatan untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19 di Soloraya. Beliau juga mengatakan bahwa sesuai pemuda, selain harus memiliki kemampuan berkompetisi juga harus memiliki karakter yang bagus agar dapat sukses di masa depan. Narasumber kegiatan Bedah Film ini ada tiga orang yaitu pemeran Film Semanak, Katira dan El Alimudin, serta sutradara Film Sepatu, Muhammad Anis.

    Tujuan umum kegiatan ini adalah untuk menanamkan karakter bangsa guna mewujudkan Indonesia Bersatu bersama Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui identitas budaya yang terdapat pada Perwali Nomor 49 Tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan yang disebut hasthalaku bagi remaja milenial di Kota Surakarta.

     

     

     

    link berita:

    https://revolusimental.go.id/kabar-masyarakat/detail-suara-kita?url=pengembangan-karakter-remaja-milenial-di-kota-surakarta-tahun-2020-program-gerakan-nasional-revolusi-mental-kerjasama-solo-bersimfoni-dan-kemenko-pmk-r