Penguatan Kompetensi Guru SMA Pelaksana Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang pesat telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk pada peran dan kompetensi guru SMA. Guru tidak lagi hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga mampu merancang pembelajaran yang kreatif, inklusif, dan relevan dengan karakter peserta didik abad ke-21. Menjawab tantangan tersebut, Pelatihan Pengembangan Kompetensi Guru SMA Pelaksana Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 diselenggarakan pada 9–10 Desember 2025 di Hotel Asia Solo. Kegiatan ini dipandu oleh Direktur Program Solo Bersimfoni, Khresna Bayu Sangka, Ph.D.

Sebelum kegiatan pelatihan dimulai, Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, memberikan laporan terkait program Solo Bersimfoni di Jawa Tengah khususnya implementasi Sekolah Adipangastuti. Beliau mengatakan bahwa SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti bukanlah sekolah yang terpapar paham ekstremisme, tetapi sekolah yang memiliki kesiapsiagaan untuk menangkal sesuatu yang belum, dan atau yang tidak terjadi, supaya benar-benar tidak terjadi dan lebih menekankan lagi pada aspek perilaku yang berdasarkan nilai-nilai budaya Jawa, yaitu hasthalaku. Selain itu, Menjadi Sekolah Adipangastuti bukan hanya pengembangan karakter, tetapi investasi kelembagaan yang memperkuat identitas, budaya, mutu pembelajaran, reputasi lokal, regional, dan nasional. “Implementasi Sekolah Adipangastuti membuat sekolah lebih hidup, kreatif, dan inovatif,” lanjutnya.

Pelatihan ini diikuti oleh 57 guru dari 57 SMA pelaksana Program Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penguatan kompetensi pedagogik dan penguasaan TIK, sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar serta kebutuhan pembelajaran digital yang semakin kompleks. Data Kemendikbud menunjukkan masih adanya kesenjangan kompetensi TIK di kalangan guru, sehingga pelatihan ini menjadi langkah konkret untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Fokus utama pelatihan adalah pengembangan kemampuan guru dalam merancang konten pembelajaran yang efektif, menarik, dan terdiferensiasi. Guru dibekali pemahaman tentang diferensiasi konten agar mampu menyesuaikan materi dengan beragam gaya belajar siswa, baik visual, auditori, maupun kinestetik. Selain itu, pendekatan Universal Design for Learning (UDL) diperkenalkan untuk memastikan materi pembelajaran dapat diakses oleh seluruh peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan khusus.

Pelatihan ini juga menekankan penerapan model pembelajaran inovatif seperti Project-Based Learning (PBL) dan Flipped Classroom. Guru dilatih merancang proyek pembelajaran yang kontekstual, lengkap dengan rubrik penilaian dan alat dokumentasi, serta mengembangkan materi pra-belajar berbasis video atau konten digital. Melalui pendekatan ini, waktu tatap muka di kelas dapat dimanfaatkan untuk diskusi mendalam, kolaborasi, dan penguatan pemahaman konsep.
Aspek penting lainnya adalah integrasi STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dalam pembelajaran. Guru didorong untuk mengaitkan materi ajar dengan aplikasi dunia nyata dan teknologi, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan siswa. Selain itu, keterampilan content repurposing juga diberikan agar guru mampu mengolah satu materi menjadi berbagai format konten, seperti video pembelajaran, reels edukatif, infografis, dan bahan ajar digital lainnya secara efisien.

Metode pelatihan menggunakan pendekatan hybrid, mengombinasikan teori daring dengan workshop luring, mentoring bersama narasumber ahli, serta sesi kolaborasi dan berbagi praktik baik antar guru. Pada akhir pelatihan, setiap guru ditargetkan menghasilkan satu lesson plan pembelajaran terdiferensiasi untuk satu unit pembelajaran sebagai hasil pelatihan.
Selain itu, peserta guru juga diberi pembelajaran tentang penggunaan Artificial Intelegence (AI) sebagai dukungan pembelajaran. Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H., dalam penutupan kegiatan menyampaikan bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan keahlian, pengetahuan, atau kreativitas seorang pendidik. Namun, AI dapat menjadi alat yang berguna untuk meningkatkan dan memperkaya pengalaman belajar mengajar.
Melalui Pelatihan Pengembangan Kompetensi Guru ini, diharapkan para guru SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti mampu menjadi perancang pembelajaran kreatif yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus berkontribusi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, inovatif, dan berdaya saing di Jawa Tengah.

