Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah 2025: Menumbuhkan Agen Toleransi Berbasis Budaya di Kalangan Pelajar

Surakarta – Upaya membangun ekosistem pendidikan yang berbudaya, inklusif, serta bebas dari kekerasan dan intoleransi terus diperkuat di Provinsi Jawa Tengah. Perkumpulan Solo Bersimfoni dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) menyelenggarakan Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 yang berlangsung pada Selasa–Rabu, 9–10 Desember 2025 di Hotel Asia Solo. Kegiatan ini diikuti oleh 58 pelajar SMA dari 58 sekolah pelaksana Program Sekolah Adipangastuti yang tersebar di Jawa Tengah.

Pelatihan ini merupakan bagian dari penguatan Program Sekolah Adipangastuti, sebuah model sekolah toleran berbasis budaya Jawa yang mengarusutamakan nilai hasthalaku sebagai pedoman perilaku warga sekolah. Delapan nilai hasthalaku—gotong royong, graprak semanak, guyub rukun, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor, dan tepa selira—diposisikan sebagai fondasi karakter untuk membangun generasi muda yang berintegritas, toleran, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Kegiatan dibuka secara resmi dengan sambutan dari Walikota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, S.H., M.Kn., yang menegaskan bahwa Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan yang aman, toleran, dan inklusif bagi generasi muda. Ia menilai program ini sebagai bagian penting dari upaya pencegahan kekerasan, intoleransi, dan berbagai tantangan sosial yang kian kompleks di lingkungan sekolah.

Respati menyampaikan apresiasinya kepada Solo Bersimfoni beserta seluruh mitra sekolah yang secara konsisten mendorong penguatan nilai-nilai perdamaian dan toleransi di Jawa Tengah. Menurutnya, program Adipangastuti bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun karakter generasi muda yang berintegritas dan berdaya saing. “Ini adalah investasi untuk masa depan bangsa,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Walikota juga menyoroti realitas yang dihadapi remaja saat ini, di mana kekerasan, perundungan, intoleransi, hingga disinformasi mudah memengaruhi ruang belajar dan pergaulan. Oleh karena itu, keberadaan Duta Adipangastuti dinilai sangat strategis sebagai penggerak perubahan di lingkungan sekolah. Para peserta diharapkan tidak hanya menjadi simbol program, tetapi mampu mengambil peran aktif sebagai pemimpin muda yang menjaga ruang sekolah tetap aman, menghargai keberagaman, dan menumbuhkan solidaritas antarsesama.
Respati menekankan bahwa pelatihan ini harus dimaknai sebagai proses pembentukan karakter kepemimpinan yang bijak, berani, dan bertanggung jawab. Ia berharap nilai-nilai yang diperoleh selama pelatihan dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sekolah sehari-hari dan menginspirasi teman sebaya untuk terlibat dalam gerakan toleransi.

Menutup sambutannya, Walikota Surakarta menegaskan komitmen Pemerintah Kota Surakarta untuk terus memperkuat kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil seperti Solo Bersimfoni. Ia berharap gerakan toleransi yang dibangun melalui Sekolah dan Duta Adipangastuti dapat tumbuh menjadi budaya yang mengakar, bukan sekadar program jangka pendek. “Masa depan toleransi di Jawa Tengah berada di tangan generasi muda yang berani dan berintegritas,” pungkasnya.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan dari BNPT RI menekankan pentingnya pendekatan pencegahan intoleransi sejak usia sekolah. Assoc. Prof. Muhammad Suaib Tahir, Lc., M.A., Staf Ahli Bidang Pencegahan BNPT RI, dalam sesi materinya menyampaikan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya merupakan benteng utama dalam mencegah radikalisme. “Pencegahan dini melalui penguatan daya tangkal terhadap paham ini terutama di lingkungan pendidikan merupakan salah satu langkah penting untuk memutus sel-sel radikal terorisme,” ujarnya.

Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa sejak tahun 2019 hingga 2025, Sekolah Adipangastuti telah menjangkau 67 SMA di Jawa Tengah. Ia menegaskan peran strategis Duta Adipangastuti sebagai agen perubahan di sekolah. “Duta Adipangastuti bukan hanya simbol, tetapi penggerak. Mereka diharapkan mampu menghidupkan nilai hasthalaku dalam praktik nyata, baik di sekolah maupun di masyarakat,” tuturnya.

Pada sesi materi kepemimpinan Perempuan; Peran Remaja Membangun Kesetaraan, Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A., menekankan pentingnya peran remaja, khususnya perempuan, dalam membangun kesetaraan dan budaya saling menghargai. “Remaja hari ini adalah pemimpin masa depan. Kepemimpinan yang berangkat dari empati, kesetaraan, dan keberanian menyuarakan kebaikan akan menjadi kunci terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan inklusif,” ungkapnya di hadapan para peserta.

Sementara itu, Prof. Agung Nur Probohudono, Ph.D., Ak., CA., CFr.A., Direktur Program Solo Bersimfoni, mengajak para peserta untuk membangun ketangguhan diri melalui konsep Resilience Impact Leadership. Ia menyampaikan, “Pemimpin muda harus tangguh, mampu bangkit dari tantangan, dan berani memberi dampak positif bagi sekitarnya. Nilai hasthalaku memberi fondasi kuat bagi lahirnya kepemimpinan yang beretika dan berdaya guna.”

Pembekalan keterampilan kampanye digital disampaikan oleh Triana Rahmawati, content creator asal Solo. Dalam sesinya, ia menekankan pentingnya kreativitas yang dibarengi dengan etika. “Media sosial bisa menjadi ruang edukasi yang sangat kuat. Konten yang positif, jujur, dan beretika akan membantu pesan toleransi dan hasthalaku menjangkau lebih banyak orang,” jelasnya.
Pada hari kedua, para peserta mengikuti Solo Walking Tolerance Tour yang dipandu oleh Soerakarta Walking Tour. Peserta mengunjungi berbagai rumah ibadah dan situs bersejarah di Kota Surakarta, seperti Masjid Agung Surakarta, GPIB Penabur, Gereja St. Antonius, Klenteng Tien Kok Sie, Benteng Vastenburg, Reco Gladak, dan Ringin Kembar Alun-Alun Utara. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung tentang praktik toleransi dan kehidupan multikultural yang telah lama tumbuh di Kota Solo.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penganugerahan pemenang Lomba Poster Sekolah Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025, sekaligus menjadi penegasan komitmen bersama untuk terus mengampanyekan nilai hasthalaku secara kreatif dan berkelanjutan.
Melalui Pelatihan Duta Adipangastuti Se-Jawa Tengah Tahun 2025 ini, Solo Bersimfoni berharap para peserta mampu menyusun dan menjalankan rencana tindak lanjut di sekolah masing-masing serta menjadi garda terdepan dalam mencegah kekerasan dan intoleransi. Dengan berlandaskan nilai budaya lokal, Duta Adipangastuti diharapkan tumbuh sebagai generasi muda yang berkarakter, berdaya, dan berkontribusi nyata bagi terciptanya lingkungan pendidikan yang damai dan inklusif.

