Tag: surakarta

  • Agen Simfoni Bersatu, dari Sahabat untuk Sahabat.

    Agen Simfoni Bersatu, dari Sahabat untuk Sahabat.

    Sahabat Simfoni merupakan perpanjangan tangan dari Solo Bersimfoni untuk menyebarkan toleransi melalui nilai-nilai hasthalaku kepada masyarakat di Kota Solo, terutama generasi muda. Sudah kurang lebih tiga tahun Sahabat Simfoni menemani Solo Bersimfoni yang diawali dengan Training of Trainers yang sudah dilakukan dalam empat angkatan.

    Dalam berkegiatan, Sahabat Simfoni melakukan berbagai cara untuk menyebarkan hasthalaku seperti Simfoni Goes to School, Hasthalaku on the Street, Simfoni Class, pementasan Fragmen Hasthalaku dan tak lupa kampanye di media sosial mereka. Tentu saja kegiatan yang mereka lakukan disesuaikan dengan tren yang sedang terjadi di kalangan anak muda, apalagi Sahabat Simfoni juga merupakan bagian dari pemuda.

    Dalam masa pandemi, kegiatan yang dilakukan secara bertatap muka dijadwalkan ulang bahkan dibatalkan atau diubah dengan metode online. Hal ini mengingat naiknya penderita Covid-19 di Indonesia yang bahkan per akhir Januari 2021 sudah melebihi dari satu juta kasus.

    Simfoni Goes to School dilakukan pada program literasi dan ekstra kurikuler pramuka di SMAN 1 Surakarta. Disini Sahabat Simfoni membuat materi hasthalaku seperti video YouTube yang kemudian diberikan kepada siswa. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Sekolah Adipangastuti, sekolah toleransi berbasis budaya yang diinisiasi oleh Solo Bersimfoni untuk mereduksi intoleransi di kalangan pemuda Soloraya. Bahkan pada tanggal 17 Desember 2020 telah dikukuhkan lima Sekolah Adipangastuti yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

    Fragmen hasthalaku merupakan salah satu cara sahabat simfoni untuk menyebarkan toleransi dengan cara yang menarik dan menyentil berbagai isu intoleransi. Mereka pun pernah menampilkan fragmen di depan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam kegiatan Forkopimda Provinsi Jawa Tengah “Komitmen Bersama Menjaga Jawa Tengah Tetap Guyub, Toleran, Aman dan Tenteram” di Gedung  UTC Convention Hotel, Semarang pada kamis, 17 Oktober 2019.

    Organisasi Sahabat Simfoni : Agen Simfoni Bersatu

    Awalnya, Sahabat Simfoni hanya dibentuk dari alumni kegiatan ToT saja. Namun semakin lama, banyak anak muda yang tertarik menjadi bagian dari Solo Bersimfoni dan menjadi Sahabat Simfoni walau tidak pernah mengikuti ToT. Untuk menampung keinginan ini, Sahabat Simfoni berinisiasi untuk membentuk organisasi sahabat simfoni yang dinamakan Agen Simfoni Bersatu (ASB).

    Pada Jumat tanggal 29 Januari 2021, ASB melakukan peluncuran pembentukan organisasi di Ruang Hasthalaku Solo Bersimfoni bertepatan dengan acara Kenduri Perdamaian dimana Sahabat Simfoni berkontribusi menggelar pentas fragmen hasthalaku bertema keberagaman. Dengan durasi kurang lebih lima menit, sahabat simfoni ingin mengambarkan bagaimana stigma ras bisa dicegah dengan menerapkan nilai hasthalaku. Tanggapan dari peserta Kenduri Perdamaian pun sangat positif, salah satunya berkata bahwa Kampung Damai, yang merupakan nama kampung dalam fragmen, harus menjadi gerakan yang nyata.

    “Bersama dengan tulus dan tanpa rasa curiga menjadi kekuatan di akar rumput agar masyarakat bisa saling gotong royong dan tepa selira” – Andi Kristanto

    “Pelagi berwarna-warni yang membuat jadi indah” – Puji Yanti Ordiyasa.

    Harapan dibentuknya organisasi ini agar Sahabat Simfoni dapat saling belajar, berbagi dan juga mengembangkan diri baik di kalangan sahabat sendiri maupun dari orang lain. Selanjutnya dengan adanya ASB, Sahabat Simfoni dapat belajar mengelola organisasi dari membuat program kegiatan sampai pelaksanaan dengan semangat hasthalaku. Dengan membuat program kegiatan sendiri, mereka akan menjangkau dan mendapatkan jaringan serta pengalaman yang lebih luas.

    #KitaBersamaKarenaKitaBerbeda

    #MariKitaBersimfoni

    Penulis : Tia Brizantiana

     

  • STRATEGI MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI PEMBERLAKUAN SISTEM ZONASI

    STRATEGI MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI PEMBERLAKUAN SISTEM ZONASI

    Deskripsi Pemberlakuan Sistem Zonasi di SMAN 1 Surakarta

    Sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta telah di berlakukan sejak dua tahun terakhir ini. Sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Nomor 421/07651 tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Provinsi Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2019/2020, seleksi PPDB SMA dilaksanakan melalui tiga jalur, yaitu jalur zonasi, jalur prestasi, dan jalur perpindahan orang tua atau wali. Hanya saja, perbedaannya adalah pada tahun pertama, sistem zonasi yang diterapkan menggunakan cakupan wilayah Kecamatan dengan sistem pemeringkatan masih menggunakan nilai UN SMP. pada tahun kedua, cakupan wilayah yang digunakan berubah menjadi wilayah Desa atau Kelurahan dalam jarak terdekat dengan satuan Pendidikan tanpa menggunakan pemeringkatan nilai UN SMP dalam proses seleksi. Melalui petunjuk teknis (juknis) PPDB tahun 2019/2020 tersebut, calon peserta yang wajib diterima melalui jalur zonasi adalah calon peserta didik yang berdomisili pada jarak Desa atau Kelurahan terdekat dalam zona sekolah paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima. Domisili calon peserta didik ini berdasarkan alamat pada kartu keluarga atau Surat Keterangan domisili dari RT/RW yang dilegalisir oleh Lurah/Kades setempat, yang diterbitkan paling singkat 6 bulan sebelum pelaksanaan PPDB. Dimana kuota 90% jalur zonasi ini sudah termasuk bagi peserta didik dari keluarga ekonomi tidak mampu atau Gakin (Keluarga Miskin) dengan proporsi jalur zona 70% dan jalur Gakin 20%. Kuota10% sisanya dibagi menjadi 5% jalur prestasi dalam zona dan 5% jalur prestasi luar zona. Hal ini karena kuota jalur perpindahan orang tua/wali di SMAN 1 Surakarta tidak terpenuhi 5%, sehingga kuota jalur orang tua/wali tersebut dialihkan ke dalam jalur prestasi.

    Hasthalaku Sebagai Program Penanaman Nilai di Sekolah

    Manajemen sekolah di SMAN 1 Surakarta yang terdiri dari berbagai unsur seperti siswa, guru, kepala sekolah, dan komite sekolah telah menentukan beberapa strategi akibat  Perubahan-perubahan yang muncul pasca pemberlakuan sistem zonasi. Dalam kaitannya untuk menghadapi perubahan budaya sekolah, melalui kerja sama dengan Solo Bersimfoni dan beberapa dosen dari
    Universitas Sebelas Maret (UNS), SMAN 1 Surakarta bersama dengan SMAN 6 Surakarta ditunjuk sebagai pilotting project yang menerapkan program hasthalaku di sekolah. Oleh karena itu, SMAN 1 Surakarta termasuk sekolah Adipangastuti yang mengimplementasikan program hasthalaku. Program hasthalaku tersebut merupakan bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
    siswa. Sekolah tidak hanya berperan sebagai sarana lembaga untuk mentransfer ilmu pengetahuan, namun juga mendidik dan membentuk karakter siswa melalui nilai-nilai yang ditanamkan dalam hasthalaku tersebut. Nilai-nilai itu meliputi tepa selira (tenggang rasa), pangerten (saling menghargai), lembah manah (rendah hati), guyub rukun (kerukunan), gotong royong (saling membantu), grapyak semanak (ramah tamah), ewuh pakewuh (saling menghargai), dan andhap asor (berbudi luhur). Nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, misalnya ketika siswa bertemu gurunya menunduk, masuk kelas harus mengetuk pintu, salam terlebih dahulu, cara berbicara, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terus-menerus dibiasakan dan tidak dapat dilakukan oleh satu orang, semua warga sekolah turut bersama-sama terlibat dalam mengimplementasikan hasthalaku. Menurut Ketua komunitas Solo Bersimfoni, Solo Bersimfoni menjadikan hasthalaku sebagai sebuah identitas gerakan yang bersumber dari budaya lokal, sehingga hal ini mendorong anak-anak muda untuk bersikap wong jawa ora ilang jawane.Inovasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai upaya mempertahankan budaya sekolah. Inovasi yang dilakukan dalam program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga menjadi strategi sekolah dalam menghadapi perubahan budaya sekolah yang terjadi. GLS yang awalnya hanya dilakukan sebatas kegiatan literasi 15 menit sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai, mulai tahun pelajaran 2019/2020 koordinator GLS di SMAN 1 Surakarta melakukan beberapa gebrakan untuk program ini. Inovasi yang dilakukan adalah dalam satu minggu, terdapat beberapa kegiatan yang berusaha dibiasakan oleh sekolah kepada para siswa.

    Pada hari senin, terdapat kegiatan senin presrasi dan literasi bahasa. Senin Prestasi ditujukan kepada siswa kelas XII dengan melakukan Try Out (TO) rutin untuk persiapan UTBK khusus.
    Kegiatan literasi bahasa dilakukan oleh siswa kelas X dan XII dengan cara berpidato dalam bahasa Inggris setelah upacara bendera. Pada hari selasa sampai dengan hari kamis, terdapat literasi keagamaan. Setiap 15 menit pertama sebelum KBM dimulai, siswa yang beragama Islam melakukan tadarus di kelas, kemudian bagi siswa yang beragama Kristen melakukan kebaktian, sedangkan bagi siswa yang beragama Katolik, Hindu, dan Budha melakukan diskusi bersama di ruang agama masing-masing. Setiap hari jum’at minggu pertama, kegiatan yang dilakukan dibagi menjadi jum’at bersih, jum’at religi, dan jum’at sehat. Setiap jum’at minggu kedua terdapat kegiatan Jum’at Beraksi. Pada minggu pertama, jum’at bersih dilakukan oleh siswa kelas X yang bergotong royong membersihkan sekolah dengan membawa alat-alat kebersihan. Jumat religi dilaksanakan oleh siswa kelas XI dengan mengikuti pengajian di aula sekolah, sementara yang non islam beribadah di ruang ibadah masing-masing. Jum’at sehat ditujukan kepada siswa kelas XII yang melakukan kegiatan senam di lapangan. Seluruh kegiatan yang ada pada hari jum’at minggu pertama tersebut dilakukan secara bergantian atau rolling per angkatan. Kegiatan yang dilakukan pada minggu kedua, yaitu jum’at beraksi dilakukan dengan cara berpendapat kritis melalui tulisan. Siswa kelas XII di instruksikan untuk membaca novel kemudian menulisnya dalam bentuk resensi yang di jilid dan dijadikan buku-buku kumpulan resensi novel. Sedangkan untuk siswa kelas X dan kelas XI membuat jurnal baca dari buku-buku (non pelajaran) yang sudah mereka baca. Seluruh tulisan mereka diberlakukan plagiarism checked untuk menghindari kecurang-kecurangan yang dilakukan oleh siswa. Pemberlakuan plagiarism checked yang dilakukan oleh sekolah bertujuan agar siswa dapat bersikap jujur dan berkompetisi dengan cara yang sehat.

    Sekolah merupakan lembaga pendidikan dengan salah satu tujuannya adalah mensosialisasikan generasi muda menjadi anggota masyarakat untuk dijadikan tempat pembelajaran, mendapatkan pengetahuan, perubahan perilaku, dan penguasaan tata nilai. Dalam pandangan struktural fungsional, masyarakat dilihat sebagai suatu sistem sosial yang terdiri atas unsur-unsur atau elemenelemen yang saling berkaitan. Perubahan yang terjadi pada suatu unsur atau elemen tertentu, akan berdampak pada perubahan unsur atau elemen lainnya. Pandangan ini juga  menekankan pada peran dan fungsi struktur sosial yang menitikberatkan pada konsensus atau kesepakatan bersama dalam masyarakat (Maunah, 2016, p. 159). Begitu halnya ketika sistem zonasi sebagai sebuah sistem yang baru diterapkan dalam dunia pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan seperti SMAN 1 Surakarta yang memiliki struktur organisasi di dalamnya diketahui telah mendapatkan pengaruh atas pemberlakuan sistem zonasi yang berdampak pada beberapa perubahan dan proses adaptasi untuk mempertahankan struktur tersebut. Istilah struktur sosial dalam hal ini digunakan untuk menunjukkan jaringan yang kompleks dalam hubungan sosial (Radcliffe-Brown, 1952, p. 188). Jaringan yang terbentuk dalam struktur manajemen sekolah di SMAN 1 Surakarta tersusun atas berbagai unsur atau elemen yang saling berhubungan dan memiliki keterkaitan. Elemen-elemen tersebut antara lain terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, siswa, serta komite sekolah. Setiap elemen dalam struktur tersebut memiliki peran dan fungsi sesuai dengan statusnya masing-masing. Kepala sekolah dalam hal ini berperan sebagai manajer sekolah yang bertugas untuk mengkoordinasikan seluruh elemen dalam struktur manajemen sekolah agar berjalan dan bekerja sesuai dengan fungsinya, misalnya ketika pemberlakuan sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta mengakibatkan perubahan budaya sekolah dan pola pembelajaran yang ada, maka kepala sekolah sebagai komando bersama dengan wakil kepala sekolah, guru, atau bahkan dapat membentuk hubungan maupun jaringan sosial yang lebih luas kepada komite sekolah serta pihak eksternal untuk menentukan langkah-langkah atau strategi dalam menghadapi perubahan atas pemberlakuan sistem zonasi tersebut. Jika dalam penelitian yang dilakukan oleh Chan, et al. (2019) tentang sistem zonasi mengungkapkan bahwa terdapat dampak positif dan negatif dari sistem zonasi terhadap penerimaan peserta didik baru. Dimana dampak positifnya adalah menghilangkan label sekolah favorit dan non favorit, serta dampak negatifnya adalah sulitnya bagi wali murid untuk mendaftarkan anaknya di sekolah karena pandaftaran yang dilaksanakan secara online, sehingga terkesan rumit. Secara lebih spesifik penelitian ini menunjukkan bahwa sistem zonasi juga berdampak pada perubahan-perubahan yang terjadi di sekolah. Perubahan tersebut meliputi perubahan budaya sekolah dan pola pembelajaran.

    Hasthalaku sebagai salah satu langkah sekolah untuk menghadapi perubahan budaya sekolah muncul karena jaringan kerjasama yang dibangun antara SMAN 1 Surakarta dengan beberapa pihak eksternal seperti Solo Bersimfoni dan Universitas Sebelas Maret. Dalam menjalin kerjasama tersebut, wakil kepala sekolah bidang kehumasan juga berperan penting sebagai gerbang fasilitator yang menghubungkan sekolah dengan pihak eksternal. Jika salah satu elemen atau unsur dalam struktur manajemen sekolah tersebut tidak berfungsi, maka akan mempengaruhi kondisi struktur yang ada secara keseluruhan. Proses penanaman nilai-nilai dalam hasthalaku tidak akan berhasil jika siswa tidak mengetahui dan menerapkan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan seharihari di sekolah. Pembiasaan tentang nilai-nilai dalam hasthalaku yang secara terus menerus dilakukan juga tidak akan bertahan lama jika guru tidak mencerminkan perilaku yang sesuai dengan hasthalaku tersebut. Selain hasthalaku, inovasi yang dilakukan SMAN 1 Surakarta terhadap program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga dapat dilihat sebagai bagian dari strategi sekolah dalam
    mempertahankan budaya sekolah. Budaya dalam pandangan Radcliffe-Brown (1952) dilihat sebagai mekanisme adaptif yang membuat manusia atau elemen-elemen dalam manajemen sekolah mampu menjaga kehidupan sosial sebagai suatu komunitas yang teratur. Mekanisme adaptif yang dilakukan oleh SMAN 1 Surakarta juga berkaitan dengan adanya perubahan pola pembelajaran setelah sistem zonasi diterapkan. Guru mengubah pola pembelajaran dan melakukan adaptasi sesuai dengan kultur kelas dengan masing-masing siswa yang memiliki keberagaman sifat, karakter, dan kemampuan dalam menyerap materi pembelajaran. Hal ini dapat dilihat sebagai fungsi yang dimiliki oleh seseorang dengan status sebagai guru. Guru memiliki peranan yang dimainkan atau kontribusi yang diberikan dalam proses pembelajaran demi keberjalanan struktur tersebut. Berbagai strategi yang dilakukan oleh manajemen sekolah dalam menghadapi pemberlakuan
    sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta tersebut terbentuk berdasarkan konsensus atau kesepakatan bersama dengan elemen-elemen manajemen sekolah yang ada. Konsensus itulah yang mengintegrasikan warga sekolah dalam struktur sosial yang lebih mapan sehingga tercipta keteraturan. Melalui perspektif struktural fungsional, disini kita dapat melihat jika masyarakat dalam suatu struktur sosial mengalami perubahan, maka akan muncul cara atau strategi yang berkembang secara lebih baik untuk mengatasi perubahan tersebut (Maunah, 2016, p. 160).

     

    Ditulis oleh : Ya Shinta Dewi Wahyuni; Nurhadi Nurhadi; Okta Hadi Nurcahyono

    Klik dibawah untuk melihat selengkapnya

    Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan Volume 8, No. 2, September 2020 (124-136)

     

  • Hasthalaku Di Rumah Aja

    Hasthalaku Di Rumah Aja

    Tantangan terbesar bagi orang yang terbiasa beraktivitas di luar rumah seperti pekerja dan pelajar adalah harus berlama-lama di rumah. Tidak boleh keluar, interaksi fisik dan sosial yang dibatasi – hanya dengan lingkup terkecil kita. Keluarga. Hal yang lebih menantang adalah ketika harus bekerja atau menyelesaikan tugas berbarengan dengan momong anak, bersih-bersih rumah, atau berbagi laptop atau rebutan koneksi internet dengan kakak/adik. Jika tidak dikelola dengan baik, berdamai dengan keadaan dan menjaga kewarasan, bukan tidak mungkin manusia kembali menjadi homo homini lupus – manusia adalah mangsa manusia yang lain.

     

    “Manusia itu adalah apa yang bersiapa dan siapa yang berapa”. Ke-siapa-an manusia diuraikan dalam rumusannya “manusia adalah makluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya”. […] manusia sebagai subjek atau persona yang sadar. Tanpa kesadaran manusia tidak mampu berhadapan dengan dirinya sendiri, apalagi menyadari berada dalam dunia” (Prof. Dr. N. Drijarkara, Percikan Filsafat, 1978).

     

    Bukankah homo homini socius – manusia yang berguna bagi manusia yang lain sebagai makhluk sosial berkedudukan jauh lebih baik dimata semua agama, suku, dan golongan? Menjadikan manusia sebagai manusia sebagaimana adanya dalam tatanan Jawa disebut dengan nguwongke uwong. Budaya Jawa mengenal pepatah rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah yang berarti bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmonisasi antar sesama.

     

    Hasthalaku merupakan generalisasi beberapa nilai budaya Jawa yang sangat erat dengan kehidupan saat ini. Demikian juga pada masa-masa berat ini. Pandemi COVID-19 dapat memberikan peluang bagi kita untuk belajar berbagai hal baru atau lama yang dapat dilakukan dari rumah dengan orang-orang terdekat kita. Memulai dari hal-hal kecil. Saling memahami peran anggota keluarga, membagi waktu antara pekerjaan kantor atau sekolah dengan pekerjaan rumah tangga. Memanfaatkan waktu untuk bercerita dan bercengkerama, lepas dari gawai yang menghubungkan dunia maya. Dan lain sebagainya.

     

    Demikian juga kegiatan penggalangan dana (fundraising) secara online untuk membantu pengadaan alat pelindung diri (APD) misalnya, merupakan istilah modern yang menggunakan konsep gotong royong sebagai kristalisasi nilai hasthalaku. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia merupakan bentuk solidaritas sosial. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang didalamnya kaya akan nilai edukatif. Tak ayal, survey yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia merupakan sebuah keniscayaan. Urip Iku Urup (Hidup itu adalah nyala, manuisa hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitarnya)

     

    Maka dari itu sangat penting untuk dapat tepa selira, saling menghargai serta memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah oleh adanya perbedaan-perbedaan, tidak termakan berita bohong atau hoaks. Dengan selalu mencari tahu kebenaran dan keabsahan berita sebelum kita sebar-luaskan kembali. Saring sebelum Sharing, karena Sharing is Caring.

     

    Sikap saling menghargai, saling pengertian, saling sapa, saling bantu, dan saling menghormati seperti yang ada pada hasthalaku yang dimulai dari rumah ini, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dikembangkan dan dilaksanakan secara kontinyu kan membawa kerukunan, ketenangan, dan perdamaian dimulai dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Dengan kata lain, selama manusia hidup di dunia haruslah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan benci. Memayu hayuning bawana, ambrastha dur angkara.

     

    Penulis: Khresna Bayu Sangka

     

  • Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial

    Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial

    Wabah COVID-19 telah mengubah wajah dunia sejak World Health Organization (WHO) menetapkannya sebagai pandemi global pada  Kamis, 12 Maret 2020. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia, dan bisa menyerang siapa saja. Virus yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 ini dapat menular dengan cepat. Saat artikel ini ditulis COVID-19 telah menyebar ke 196 negara di luar Cina, termasuk Indonesia. Dari website covid19.go.id per 27 Maret 2020  pukul 12:00 WIB terdapat 893 kasus yang telah terkonfirmasi dan 780 dalam perawatan. Sejak tanggal 27 Maret 2020 pun telah mulai berkembang di Provinsi Jawa Tengah yang hingga hari ini tercatat mencapai 40 pasien positif termasuk kota Solo, Jawa Tengah.

    Pemerintah Kota Surakarta saat ini tengah  berupaya untuk memutus rantai wabah ini dengan melakukan langkah tegas. Setelah menyatakan ada dua pasien positif corona dirawat di RSUD dr Moewardi dan salah satunya meninggal dunia, jumlah yang tertular diperkirakan akan terus meningkat. Di tengah kegaduhan akibat pandemi Covid-19, pemerintah kota Surakarta menetapkan status ini menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

    Selain meniadakan sejumlah potensi keramaian, Pemkot Surakarta juga meliburkan kegiatan belajar mengajar siswa TK sampai SMA dan sederajat selama 14 hari ke depan sejak tanggal 14 Maret 2020. Para siswa diminta untuk belajar di rumah, sebagai upaya pencegahan meluasnya penyebaran virus COVID-19. Selain itu, sejumlah tempat wisata di Kota Solo juga mulai ditutup.

    Jarak Fisik dan Solidaritas Sosial

    Masyarakat dunia pun, termasuk warga negara Indonesia, dihimbau untuk membantu memutus penyebaran virus dengan melakukan social distancing atau menjaga jarak sosial.  Sejak Jumat 20 Maret 2020 WHO resmi menggantikan istilah social distancing menjadi physical distancing atau menjaga jarak fisik. Istilah ini dilakukan guna mencegah konotasi yang tidak diinginkan. Ditakutkan manusia menjaga jarak sosialnya sehingga merasa khawatir untuk melakukan interaksi sosial. Padahal interaksi sosial sangatlah penting untuk mengalahkan COVID-19 yang juga penting mengurangi konsekuensi negatif dalam langkah-langkah pengendalian pandemi.

    Pada situasi keadaan pandemi seperti ini kita mesti mengurangi interaksi fisik, tidak membuat keramaian, dan tidak datang ke pusat keramaian. Kita diharuskan berkegiatan di rumah saja, tidak bertemu saudara dan teman-teman di luar rumah, tidak mengadakan perhelatan dan kumpul-kumpul. Namun bukan berarti kita membatasi solidaritas sosial.

    Di tengah himbauan untuk #dirumahaja banyak sekali saudara kita yang tidak memungkinkan untuk tinggal di rumah karena kebutuhan mencari sesuap nasi, juga kehilangan pekerjaan karena usaha yang mempekerjakannya terpaksa tutup. Atau bahkan menjadi garda terdepan dalam mengurusi para pasien di fasilitas kesehatan: para dokter, perawat, pembersih di rumah sakit, sopir ambulans, dan tenaga medis lainnya.

    Baru-baru ini muncul banyak relawan dan gerakan sosial di Indonesia yang gotong royong bergerak dan mengumpulkan donasi untuk dibelikan alat pelindung diri bagi tenaga medis, masker untuk dibagikan pada masyarakat rentan, bahkan sembako untuk dibagikan kepada mereka yang kehilangan pekerjaan. Para influencer dan masyarakat umum bergerak untuk kerja solidaritas itu. Ya, itulah makna sesungguhnya dari social solidarity, bukan social distancing.

    Cara-cara ini bisa kita lakukan sebagai usaha untuk pangerten terhadap keadaan. Selain itu, sebagai warga negara yang baik, kita juga harus menghargai keputusan dari Presiden Joko Widodo untuk dapat belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah.

    Selain pangerten terhadap keadaan kita juga perlu pangerten terhadap orang-orang yang masih tetap harus bekerja di luar sana sebagai garda terdepan pemulihan kesehatan dan keadaan.

    Penulis : Burhanudin Fajri

  • Hastha Laku dalam Video Teaser

    Hastha Laku dalam Video Teaser

    Dihadiri lebih dari 200 peserta dari siswa SMA dan SMK yang ada di Surakarta pertanda acara Deseminasi video teaser bertemakan toleransi  diapresiasi dengan baik oleh warga Kota Solo. Selasa (29/1/2019) Perkumpulan Solo Bersimfoni menyelenggarakan kegiatan deseminasi video teaser bertemakan Toleransi.

    (more…)

  • Pesan Toleransi Untuk Milenial

    Pesan Toleransi Untuk Milenial

    Solobersimfoni.org, Surakarta,- Menyambut perkembangan teknologi yang sangat pesat Solo Bersimfoni Bekerjasama dengan Center for the Study of Islam and Social Transformation (Cisform) mengadakan pemutaran dan diskusi Film bertemakan “Toleransi”.

    (more…)

  • Bullying di Sekolah

    Bullying di Sekolah

    Tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya mengalami bullying di sekolah.  Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan, seyogyanya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk mendapatkan pembinaan pengetahuan dan mental terbaik selain di rumah. (more…)

  • solider.id: Implementasi modul Hastha Laku dalam Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus

    solider.id: Implementasi modul Hastha Laku dalam Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus

    GambarSolider.id, Surakarta- Komunitas Solo Bersimfoni telah menyusun modul Hastha Laku yang memiliki arti delapan laku utama. Penyusunan modul tersebut berangkat dari latar belakang upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan difabel khususnya bidang pendidikan. Serta keberadaan Kota Solo yang didorong untuk menjadi model kota ramah difabel.

    Hastha Laku memiliki delapan prinsip nilai berbudaya dan berkehidupan. Delapan prinsip tersebut adalah Tepa selira (tenggang rasa), lembah manah (rendah hati), andhap asor(berbudi luhur), grapyak semanak (ramah-tamah), gotong-royong, guyub rukun (kerukunan), ewuh pekewuh (saling menghormati)dan pangerten (saling menghargai).

    Delapan nilai tersebut diimplementasikan sebagai bentuk dukungan pemenuhan hak pendidikan, dan meningkatkan martabat serta kesejahteraan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

    Hal tersebut juga diungkapkan Paulina Pannen, Staf Ahli Menteri Bidang Akademik, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) saat seminar bertajuk peningkatan akses dan akseptabilitas bagi difabel di perguruan tinggi pada Kamis, tahun lalu.

    Dari sanalah untuk pertama kalinya pertemuan bagi para guru yang mengajar ABK di sekolah inklusi, Guru Pendamping Khusus (GPK), juga pengajar Sekolah Luar Biasa di Pusat Layanan Autis (PLA) Surakarta diadakan di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Surakarta, Jumat (21/12).

    Didik Prasetyanto perwakilan Solo Bersimfoni menjelaskan, tujuan pertemuan yang akan diadakaan secara rutin ini untuk mendapatkan formulasi dalam pengimplementasian modul Hastha Laku yang telah disusun. Hal ini bertujuan untuk menjaga toleransi dan keberlangsungan perdamian dan keharmonisasian di masyarakat lintas etnis dan agama.

    “Kegiatan ini juga sebagai interaksi dalam dan mengekspresikan pandangan para guru, relawan dan pendamping ABK yang bergerak pada inklusivitas pendidikan tentang pentingnya tolerasni keberagaman. Sehingga akan kita temukan cara yang tepat untuk memberikan kesempatan yang setara bagi anak difabel atau ABK,” jelas Didik Prasetyanto.

    Hasil yang diharapkan dari diskusi terfokus ini adalah para guru, relawan maupun pendamping ABK mengenal konsep Hastha Laku. Serta dapat berbagi pengalaman, mengumpulkan ide dan gagasan dengan ragam sudut pandang dari para peserta. Ide dan gagasan selanjutnya digunakan sebagai acuan untuk melakukan kegiatan selanjutnya terkait menghadapi isu-isu intoleransi di kalangan ABK.

    Dono, salah seorang peserta mengatakan acara diskusi ini penting untuk menjaga reputasi Solo sebagai kota toleransi dan damai.

    “Juga untuk menjaga ABK agar tidak ada lagi perundungan. Upaya mencegah bibit-bibit intoleran, bullying, body shaming, dan sexual harassment bagi ABK,” ujar Dono.

     

    Reporter                     : Puji Astuti

    Editor                          : Robandi

    Link                             : https://www.solider.id/baca/4985-implementasi-modul-hastha-laku-dalam-pembelajaran-anak-berkebutuhan-khusus

  • Ulama Besar Internasional Kunjungi Kantor Solo Bersimfoni

    Ulama Besar Internasional Kunjungi Kantor Solo Bersimfoni

    Gambar Ulama Besar Internasional Kunjungi Kantor Solo BersimfoniSolobersimfoni.org- Surakarta, Rabu 26 Desember  tepatnya pada pagi hari Ulama Besar Baitul Maqdis Dr. Muraweh Mousa Nassar datang mengunjungi kantor Solo Bersimfoni. Kedatangan Dr. Muraweh Mousa Nassar adalah dalam rangka bersilaturahmi dan ingin mengenal Perkumpulan Solo Bersimfoni yang merupakan organisasi sosial kemanusiaan di Surakarta.

    Menyambut baik kunjungannya tim Solo Bersimfoni yaitu Ketua Perkumpulan Solo Bersimfoni M. Farid Sunarto, S.Pd, M.Si dan Direktur Branding Solo Bersimfoni Agung Nur Probohudono S.E., Ak., M.Si., Ph.D  menjelaskan beberapa program yang selama ini dilakukan Solo Bersimfoni dan di dalam program Solo Bersimfoni selalu menjunjung tinggi kemanusiaan, membuat keharmonisan bagi masyarakat dan membangun apa yang disebut dengan kesalehan sosial. Kesalehan sosial merupakan ciri dari perilaku yang menerapkan nilai-nilai luhur Hastha Laku yang juga sudah lekat dengan Solo Bersimfoni yang merupakan salah satu cara dalam menciptakan kesalehan sosial menggunakan pendekatan budaya.

    Dr. Muraweh Mousa Nassar sangat bersimpati dengan apa yang sudah dilakukan oleh Solo Bersimfoni terutama terkait kemanusiaan. Beliau berharap program-program yang sudah dilaksanakan tidak hanya berhenti di tingkat lokal namun bisa dibawa ke arah nasional bahkan global karena hal-hal seperti ini lah yang sesungguhnya sedang dibutuhkan oleh banyak orang.

  • Yuk Kita Cegah Bullying disekitar kita

    Yuk Kita Cegah Bullying disekitar kita

    Gambar Yuk Kita Cegah Bullying disekitar kitaKomisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 26 ribu kasus anak dalam kurun 2011 hingga September 2017. Laporan tertinggi yang diterima KPAI adalah anak yang berhadapan dengan hukum.

    “Anak berhadapan dengan hukum sebanyak 34 persen salah satu contohnya kasus kekerasan Thamrin City. Selanjutnya permasalahan keluarga dan pengasuhan 19 persen,” kata Komisioner KPAI Retno Listyarti dalam diskusi ‘Stop Bullying di Sekolah’ di DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Rabu (4/10/2017).

    Kasus lain yang diterima oleh KPAI seperti masalah pendidikan serta pornografi dan cybercrime. Retno pun menyayangkan kasus bully di Thamrin City yang berujung pencabutan KJP anak pelaku bully.

    “Melihat kasus Thamrin di mana 9 anak melakukan kekerasan di mana para pelaku KJPnya dicabut kemudian dikeluarkan dari sekolah. Ini akan menjadi masalah baru karena sama saja pelaku dicabut hak anaknya untuk mendapat pendidikan,” lanjut Retno.

    “Memang ini kasus kekerasan tapi karena pelaku dan korban adalah anak-anak, penyelesaian masalah ini tidak harus masuk ranah hukum,” sambung Retno.

    Wakil Sekretaris Jenderal PSI Danik Eka Rahmaningtiyas mengakui sulitnya memutus mata rantai kasus bully anak menjadi permasalahan. Sebab, korban bisa menjadi pelaku dan pelaku dapat pula menjadi korban.

    “Ini memang lingkaran setan bagaimana putusnya tentu tergantung pula mindset masyarakat. Dihentikan lewat peraturan tentu tidak akan bisa kalau SDM tidak disiapkan karena itu tataran sosialisasi serta pendampingan dan pencegahan menjadi upaya preventif seperti rehabilitasi,”papar Danik.

    “Ini memerlukan andil bagian dari banyak orang untuk memutus bersama mata rantai yang sudah mengakat kuat,” imbuhnya.

    Hal senada juga disampaikan perwakilan komunitas SudahDong yang merupakan gerakan anti bullying, Ira Savitri. Menurutnya, peran serta keluarga dan lingkungan untuk memberikan edukasi. Dia meyakini baik korban maupun pelaku bully baik di sekolah maupun lingkungan tidak boleh ditinggalkan.

    “Tentunya untuk memutus mata rantai bully selain rehabilitasi dan trauma healing, pendekatan dengan informatif serta edukasi bisa memberikan pendidikan yang baik. Tentunya bagaimana menghentikan diri sendiri, karena indikasi sebagai pelaku bully juga harus di stop agar tidak menjurus hingga perbuatan bullying,” jelasnya.

    “Kita tidak bisa meninggalkan baik pelaku atau korban, karena bisa saja pelaku menjadi korban karena telah membully yang nantinya teman-teman sekitarnya kembali membully dia,” tuturnya.

     

    Sumber: http://www.kpai.go.id/berita/kpai-terima-aduan-26-ribu-kasus-bully-selama-2011-2017