Blog

  • Solo Bersimfoni ajak Pemuda Kampanyekan Hastha Laku di Sekolah-Sekolah Dalam Acara Jambore Pemuda

    Solo Bersimfoni ajak Pemuda Kampanyekan Hastha Laku di Sekolah-Sekolah Dalam Acara Jambore Pemuda

    Gambar Jambore PemudaSurakarta, Solobersimfoni.org – Menjadi Fasilitator dalam acara Jambore Pemuda, Solo Bersimfoni usung tema Hastha Laku On The Move bagi kalangan remaja khususnya anak sekolah. Hastha Laku akan diajarkan disekolah-sekolah oleh Sahabat Simfoni yang berkolaborasi dengan peserta Jambore Pemuda. Jambore Pemuda merupakan salah satu kegiatan  untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Kali ini Jambore Pemuda mengusung tema Membentuk Sikap Kesalehan Sosial, Kemandirian dan Berbudaya.  Pembukaan Jambore Pemuda dilaksanakan di Tekhnopark hari Kamis pada tanggal 25 Oktober 2018.

    Kesempatan menyampaikan materi di pembukaan Jambore Pemuda Direktur Operasional Solo Bersimfoni Didik Prasetyanto memperkenalkan apa itu Hastha Laku kepada peserta Jambore Pemuda. Hastha Laku yang merupakan delapan perilaku yang mencerminkan sifat Kesalehan Sosial yang sesuai dengan tema Jambore Pemuda Kali ini dan Visi dari Solo Bersimfoni. Delapan perilaku yang ada dalam hastha laku adalah Guyub Rukun (Kerukunan), Gotong Royong, Tepa Selira (Tenggang Rasa), Ewuh Pekewuh (Saling Menghormati), Pangerten (Saling Menghargai), Grapyak Semanak (Ramah Tamah), Lembah Manah (Rendah Hati), dan Andhap Ansor (Berbudi Luhur). Hastha laku merupakan serapan nilai-nilai budi luhur yang berkembang dalam masyarakat jawa yang ingin dikampanyekan kembali untuk mendorong perilku toleran dan anti kekerasan ini berkaitan erat terhadap nilai-nilai yang bersifat harmonis.

    Mayoritas Peserta Jambore Pemuda tertarik untuk menjadi tim bersama Solo Bersimfoni untuk mengajarkan Hastha Laku di sekolah-sekolah. Peserta Jambore merupakan perwakilan dari organisasi kepemudaan di Surakarta seperti Pramuka, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), JCI (Junior Chamber Indonesia) OSIS SMA, dan organisasi kepemudaan lain. Kemudia selama tiga hari  30 dari 150 peserta yang tergabung dalam tim Solo Bersimfoni akan melaksanakan Hastha Laku On The Move  ke SMAN 4 Surakarta, SMKN 1 Surakarta dan,  SMKN 3 Surakarta.

    Direktur Operasional Solo Bersimfoni Didik Prasetyanto juga mengatakan mengajak pemuda mengajarkan Hastha Laku di sekolah-sekolah merupakan agenda Solo Bersimfoni yang menjadi pijakan awal untuk membangun toleransi di generasi muda khususnya remaja di usia sekolah. Harapannya pemuda yang menjadi peserta dalam acara Jambore Pemuda tidak hanya mengajarkan Hastha Laku dalam acara kali ini saja, namun juga bisa menjadi relawan dan terus menanamkan nilai-nilai Hastha Laku kepada masyarakat yang lebih luas.

    Tim Media

    Solo Bersimfoni

  • Berpartisipasi dalam Temu Inklusi Nasional, Solo Bersimfoni Kenalkan Kesalehan Sosial Kepada Masyarakat Difabel

    Berpartisipasi dalam Temu Inklusi Nasional, Solo Bersimfoni Kenalkan Kesalehan Sosial Kepada Masyarakat Difabel

    Gambar Temu InklusiSurakarta, Solobersimfoni.org – Solo Bersimfoni mengghadiri acara Temu Inklusi 2018 yang dilaksanakan pada 22-25 Oktober di Desa Plembutan, Playen, Gunung Kidul. Temu Inklusi ini merupakan ketiga kalinya, pertama kali dilaksanakan di tahun 2014 dan kedua di tahun 2016. Temu Inklusi merupakan kegiatan pertemuan antara aktivis difabel yang dilaksanakan dua tahun sekali dalam rangka mewujudkan cita-cita Indonesia Inklusif 2030. Kegiatan ini diselenggarakan oleh (Sasana Inklusi dan Gerakan Difabel) dengan bantuan aktivis difabel lain dan masyarakat setempat untuk menjadi panitia.

    Suharto yang menjadi ketua panitia dalam kegiatan tersebut berharap dengan diselenggarakannya acara ini pemerintan mempunyai rumusan arah kebijakan yang lebih strategis untuk kalangan difabel yang sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan

    Selain untuk cita-cita Indonesia Inklusif 2030 kegiatan Temu Inklusi ini juga memiliki tujuan lain yaitu Merangkai gagasan untuk perubahan, membangun kepercayaan diri aktivis difabel, dan agar bekerja lebih semangat untuk difabel. Kegiatan diisi oleh beberapa rangkaian acara. Ada Sarasehan, Seminar, Pameran aktifis difabel dan komunitas difabel, dan seni pertunjukan oleh siswa difabel. Kegiatan juga diisi oleh penandatanganan MOU (Master Of Undertranding) antara lembaga Komisi Yudisial dan Sigab (Sasana Inklusi dan Gerakan Difabel) untuk kemudahan akses masyarakat difabel.

    Solo Bersimfoni turut berpartisipasi dalam pameran para aktivis difabel, bersama dengan AIPJ (Australia Indonesia Partnership for Justice) Solo Bersimfoni meamerkan dan membagikan merchandise dan modul yang berkaitan dengan kesalehan social yang merupakan visi dari Solo Bersimfoni. Kru Solo Bersimfoni juga turut aktif dalam memperkenalkan “Kesalehan Sosial” kepada setiap orang yang mengunjungi stand dari Solo Bersimfoni. Harapannya merchandise dan modul yang dibagikan bisa untuk mengkampanyekan apa yang menjadi visi dari Solo Bersimfoni ke masyarakat luas untuk mendorong perilaku toleran dan anti kekerasan.

    Selain Solo Bersimfoni yang juga turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut adalah AIPJ (Australia Indonesia Partnership for Justice), Kompak (kompak kolaborasi masyarakat dan pelayanan untuk kesejahteraan), Sigab (Sasana Inklusi dan Gerakan Difabel), Sapda ( Sentra Advokasi Perempuan,  Difabel dan, Anak, Komisi Yudisial, Dinas Sosial, Dinas Sosial setempat, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Bupati Gunung Kidul dan Komunitas difabel lain.

  • Solo Bersimfoni Ajak ibu-ibu Pengajian Bahas Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

    Solo Bersimfoni Ajak ibu-ibu Pengajian Bahas Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

    Gambar Solo Bersimfoni Ajak ibu-ibu Pengajian Bahas  Peran Keluarga dalam Pendidikan AnakGunung Kidul, solobersimfoni.org – Bertempat di Rumah Dinas Wakil Walikota Surakarta, Solo Bersimfoni mengundang komunitas pengajian ibu-ibu di lingkungan Surakarta dalam pertemuan rutin Solo Bersimfoni untuk mendiskusikan tema “Peran Perempuan dalam Membentuk Pribadi Kesalehan Sosial di Keluarga dan Masyarakat.” Pada tanggal 16 Oktober 2018.

    Diskusi ini merupakan bagian dari pertemuan rutin yang diselenggarakan Solo Bersimfoni dalam rangka mengajak elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam membangun kesalehan sosial. Lebih khusus Khresna Bayu Sangka sebagai perwakilan dari Solo Bersimfoni menyampaikan bila diskusi ini menjadi penting untuk dilakukan karena peran keluarga dalam pendidikan sangatlah penting terlebih peran ibu yang semestinya menghabiskan banyak waktu bersama anaknya.

    Diskusi berjalan mernarik dan peserta terlihat antusias dalam diskusi tersebut. Menyambut perbincangan dalam diskusi Ibu Sinta yang merupakan perwakilan dari Majelis Ta’lim Askadina Karanganyar mengakatan bahwa apa yang dilakukan Solo Bersimfoni merupakan sebuah gebrakan luar biasa. Bisa mengajak ibu-ibu dari berbagai forum pengajian untuk saling bertukan pendapat dan berbagi pengalaman dalam perannya sebagai ibu rumah tangga. Beliau juga menambahkan bahwa asumsi jika pendidikan. Harapannya diskusi ini bisa menjadi awal bagaimana peran ibu-ibu pengajian bisa terus dilibatkan dalam ikut membuat perubahan bagi masyarakat terutama untuk sekedar berbagi ilmu dan tukar pengalaman dalam mendidik anak.

    Diskusi ini merupakan kali ke tujuh yang telah dilaksanakan oleh Solo Bersimfoni. Bukan hanya mengajak ibu-ibu pengajian, dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya Solo Bersimfoni juga mengajak komunitas-komunitas lain yang ada di Surakarta seperti kalangan difabel, anak-anak muda dan yang lainnya. Selain mengadakan diskusi, Solo Bersimfoni juga turut mengajak elemen masyarakat untuk menjadi Sahabat Simfoni yang akan menjadi duta Solo Bersimfoni untuk turut menyebarkan visinya dalam membentuk masyarakat berkesalehan sosial.

    Semoga diskusi  ini terus menjadi ikhtiar Solo Bersimfoni dalam mewujudkan misi serta maksud dan tujuannya untuk Membangun ketahanan dan kohesi sosial masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi tindakan kekerasan dan radikal khususnya di kalangan remaja dan anak anak ; dan Mencetak relawan kesalahen sosial yang mandiri dan bersinergi untuk mendorong perilaku toleran dan anti kekerasan.

    Tim Media Solo Bersimfoni

  • Pengembangan Modul Hastha Laku

    Pengembangan Modul Hastha Laku

    Gambar Dalam rangka melaksanakan misi serta maksud dan tujuan perkumpulan Solo Bersimfoni yaitu (1) Membangun ketahanan dan kohesi sosial masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi tindakan kekerasan dan radikal khususnya di kalangan remaja dan anak anak ; dan (2) Mencetak relawan kesalahen sosial yang mandiri dan bersinergi untuk mendorong perilaku toleran dan anti kekerasan, maka Solo Bersimfoni melaksanakan program dengan strategi Cultural & Behavior Approach Activity dimulai dengan penyusunan Modul Pelatihan dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

    Modul Pelatihan disusun dengan menggali berbagai informasi yang menyangkut perilaku menyimpang di remaja dan anak-anak yang menimbulkan resistensi konflik dan kekerasan, baik kekerasan secara simbolik maupun kekerasan fisik yang terjadi di lingkungan sekolah dan kehidupan bermasyarakat. Selaku informan dan nara sumber adalah para guru / pengajar, pengurus OSIS, orang tua siswa, tokoh organisasi kepemudaan, organisasi wanita, budayawan, para pakar pendidikan dan tokoh masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Penyusunan Modul Solo Bersimfoni bekerjasama dengan Pustapako UNS dengan menghasilkan Modul Hastha Laku. Hastha Laku adalah 8 (hastha) laku (Perilaku) budaya jawa terpilih yang kemudian akan diturunkan menjadi RPP tematik berdasarkan atas kejadian yang berkembang di lingkungan tertentu untuk menjadi instrumen pembelajaran selanjutnya ke kelompok / instansi target.

    Dengan tersusunnya Modul Pelatihan Hastha Laku dan RPP tematik ini, kami berharap dapat menjadi instrumen penting bagi para pengajar / relawan solo bersimfoni untuk memberikan pembelajaran ke kelompok/instansi target dalam hal ini kalangan remaja dan anak-anak khususnya di instansi sekolah SMA / SMK di Soloraya. Modul dan RPP akan terus dikembangkan sehingga memiliki adaptasi dan implementasi untuk dilakukan pembelajaran di tingkat SMP dan SD serta masyarakat luas.

    Kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Tim Penyusun Modul, juga tim Pustapako UNS dan para pihak yang telah berkontribusi secara aktif dalam penyusunan Modul Hastha Laku. Secara khusus kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Khresna Bayu Sangka, SE, MM, PhD., yang telah memimpin tim secara baik.

    Kami menyadari bahwa modul Hastha Laku ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami mohon maaf, sekaligus mohon dapat diberikan masukan dan saran yang membangun.

    Surakarta, Agustus 2018
    Perkumpulan Solo Bersimfoni

     

    M. Farid Sunarto
    Ketua

  • Pendekatan Aktifitas Solo Bersimfoni

    Pendekatan Aktifitas Solo Bersimfoni

    Implementasi dari pendekatan budaya dan perilaku yang dikembangkan Solo Bersimfoni yaitu menjadikan aspek budaya jawa (Solo) menjadi instrument utama dan sebuah model untuk merubah perilaku intoleran / radikal menjadi perilaku yang toleran dan bersahabat. Solo Bersimfoni menyebutnya sebagai “Hastha Laku Solo” atau Delapan Perilaku yang dikembangkan yaitu :

    (1) Tepa Slira (tenggang rasa – Solidarity),

    (2) Lembah Manah (rendah hati – Humble),

    (3) Andhap Ashor (berbudi luhur – Virtuous),

    (4) Grapyak Semanak (ramah tamah – Friendly),

    (5) Gotong Royong (Saling membantu – Helpfulness),

    (6) Guyub Rukun (kerukunan – Harmony),

    (7) Ewuh pekewuh (saling menghormati – Mutual Respect), dan

    (8) Pangerten (saling menghargai – Compassionate).

    Delapan nilai tersebut berkaitan erat terhadap nilai-nilai dalam kehidupan yang harmonis.

    Harapan Solo Bersimfoni, masyarakat semakin sadar, mau peduli dan berpatisipasi untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan secara dini tindakan intoleran dan radikal yang tepat sasaran untuk memperoleh hasil yang maksimal.

  • Pertemuan Rutin di Rumah Dinas Wakil Walikota

    Pertemuan Rutin di Rumah Dinas Wakil Walikota

    Gambar Pertemuan Rutin di Rumah Wakil WalikotaApa toleransi itu?

    Toleransi adalah sikap saling menghargai dan menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

    Lalu bagaimana toleransi saat ini di lingkungan remaja?

    Toleransi remaja saat ini sudah mulai pudar. Banyak remaja usia sekolah yang senang mem-bully temannya. Mereka menganggap bahwa mem-bully  merupakan suatu hal yang menyenangkan sehingga dilakukan berulang kali. Selain mem-bully, banyak remaja yang termakan oleh isu-isu yang tidak benar sehingga menyebabkan konflik diantara mereka.

    Seharusnya remaja saat ini dapat lebih meningkatkan rasa toleransi dengan cara tidak mem-bully sesama. Mereka juga harus dapat menyaring informasi yang mereka dapatkan, mencari sumber data yang jelas mengenai informasi tersebut sehingga tidak akan terjadi konflik.

    Remaja adalah generasi penerus bangsa sehingga mereka harus dapat menjadi agent of tolerant agar nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang.

  • Focus Group Discussion 1

    Focus Group Discussion 1

    Gambar FGD 1Toleransi?

    Kata yang masih sering didengar, tetapi sudah jarang dilakukan oleh sebagian masyarakat. Masyarakat saat ini cenderung lebih individualis sehingga rasa toleransi diantara mereka sudah mulai pudar.

    Solo bersimfoni merupakan suatu organisasi sosial yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa toleransi masyarakat khususnya di Kota Solo. Bagaimana cara untuk dapat menumbuhkan rasa toleransi?

    Melalui penerapan hastha laku yaitu tepa slira, lembah manah, andhap asor, grapyak semanak, gotong royong, guyub rukun, ewuh pekewuh, dan pangerten diharapkan dapat menumbuhkan lagi rasa toleransi masyarakat. Penerapan hastha laku ini juga akan dibarengi dengan modul agar masyarakat lebih mudah dalam mempelajari dan menerapkannya.

    Modul yang akan digunakan sebagai bahan dalam penerapan hastha laku akan disusun secara sistematis dan dilengkapi gambar serta aktivitas yang harus dilakukan agar benar-benar dapat menumbuhkan rasa toleransi.

    Penerapan hastha laku tidak akan berhasil jika tidak ada dukungan dari masyarakat. Maka dari itu, Solo Bersimfoni juga mengajak masyarakat sekitar untuk menyukseskan program ini.

  • Focus Group Discussion 2

    Focus Group Discussion 2

    Gambar FGD 2Focus Group Discussion penyusunan modul Hastha Laku tahap 2 yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 2018 di Loji Hotel Solo. Pada FGD ini, Solo Bersimfoni mengundang narasumber dari kalangan TNI, POLRI, tokoh agama, dan juga tokoh masyarakat. Tujuan FGD ini ialah bertukar pikiran serta meminta masukan dari para narasumber untuk penyempurnaan modul Hastha Laku yang akan digunakan oleh para trainers dalam mengajarkan dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan, yaitu tepa selira (tenggang rasa), lembah manah (rendah hati), andhap ashor (berbudi luhur), grapyak semanak (ramah tamah), guyub rukun (kerukunan), ewuh pakewuh (saling menghormati), pangerten (saling pengertian), dan gotong royong. Melalui pendekatan nilai budaya ini diharapkan dapat meningkatkan toleransi dan mempererat tali persaudaraan antar lintas agama, lintas suku, lintas ras, dan lintas golongan.

    Iptu NG. Muhtar Fawaid mengatakan bahwa intoleransi yang terjadi saat ini disebabkan adanya perbedaan ideologi, perbedaan budaya, dan perbedaan pandangan politik. Hal-hal ini jika terus dibiarkan akan memberikan dampak yang berbahaya, yaitu radikalisme dan anarkisme. Langkah-langkah yang dapat diambil untuk mencegah intoleransi dan radikalisme adalah:

    1. Meningkatkan pemahaman tentang kehidupan berbangsa dan bernegara dalam format NKRI
    2. Meningkatkan rasa nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari
    3. Mengenali gejala intoleransi dan paham-paham radikal
    4. Berperan aktif dalam melaporkan gejala-gejala sekecil apapun yang mengarah pada intoleransi dan radikalisme
    5. Berhati-hati dalam mengambil referensi pengetahuan dengan cara menyelidiki kredibilitas sumbernya
    6. Bergabung dalam komunitas-komunitas perdamaian

    Berkaitan dengan hal tersebut, Bapak Ahsin dari Korem 074 mengatakan bahwa bersikap ramah, peduli, berdiskusi dan saling merangkul antar organisasi dapat mencegah terjadinya terorisme. Terakhir, tokoh agama, Ust. KH. M. Dian Nafi’i meminta agar setiap elemen masyarakat dapat menyikapi perbedaan dan konflik dengan pikiran tenang dan tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan.

  • Pertemuan Rutin Bulan Juli

    Pertemuan Rutin Bulan Juli

    Gambar Pertemuan Rutin Bulan JuliPertemuan rutin yang diadakan setiap bulan oleh Solo Bersimfoni merupakan salah satu sarana memperkenalkan Hastha Laku kepada masyarakat luas. Pada tanggal 25 Juli 2018 telah dilakukan pertemuan rutin di Bale Tawang Praja dengan mengundang ibu-ibu PKK dari beberapa kelurahan di Surakarta serta mengundang ibu-ibu dari PMI. Pada pertemuan ini, sharing session difokuskan pada perilaku anak yang terjadi dalam keluarga. Permasalahn-permasalah yang timbul seperti lunturnya sopan santun anak pada orang tua dan guru, gadged dan tontonan di TV yang memberikan dampak buruk pada anak khususnya pada anak kecil, serta kenakalan pada remaja.

    Beberapa usulan dan saran yang diberikan untuk mengatasi hal tersebut ialah dengan menemani anak saat menonton TV, memilih tayangan yang berkualitas dan sesuai dengan umur, membatasi anak untuk bermain gadged dan tidak membelikannya gadged. Selain itu orang tua juga harus mengajarkan nilai-nilai sopan santun dengan cara mempraktikkannya di dalam keluarga. Orang tua bisa memulainya dengan berbicara dengan nada lembut, mendengarkan pendapat anak dan tidak menganggap bahwa anak tidak tahu apa-apa, mengapresiasi setiap perubahan perilaku positif yang terjadi pada diri anak, serta memiliki waktu bersama dengan keluarga yang benar-benar berkualitas. Setiap anggota keluarga saling berinteraksi dan meninggalkan gadged dan kesibukannya masing-masing.

    Setiap ibu yang hadir diberikan modul Hastha Laku dengan harapan setiap ibu mengetahui pentingnya melestarikan nilai-nilai tepa selira (tenggang rasa), lembah manah (rendah hati), andhap ashor (berbudi luhur), grapyak semanak (ramah tamah), guyub rukun (kerukunan), ewuh pakewuh (saling menghormati), pangerten (saling pengertian), dan gotong royong. Setiap ibu juga diharapkan dapat mengajarkan nilai-nilai tersebut pada anak-anaknya karena pendidikan dasar yang paling utama berasal dari keluarga.

  • Solo Bersimfoni mengegelar deklarasi bersama remaja tolak phubbing, bullying dan persekusi

    Solo Bersimfoni mengegelar deklarasi bersama remaja tolak phubbing, bullying dan persekusi

    Gambar Solo Bersimfoni mengegelar deklarasi bersama remaja tolak phubbing, bullying dan persekusiPerkumpulan Solo Bersimfoni merupakan organisasi perkumpulan pemuda yang memiliki misi khusus untuk mengembangkan perilaku kesalehan sosial khususnya toleransi dan perilaku anti kekerasan. Problematika perilaku yang kini banyak terjadi di para remaja umumnya terjadi yaitu Phubbing, Bulliying dan Persekusi. Perilaku-perilaku tersebut merupakan perilaku negatif yang menjadi benih-benih sikap intoleran, radikal dan teror, sehingga hal inilah yang menjadi dasar/landasan Perkumpulan Solo Bersimfoni untuk berbuat merubah perilaku tersebut dengan pendekatan khusus.

    Pendekatan yang digalakan oleh Solo Bersimfoni berupa Cultural Approach dengan membuat kurikulum/modul pelatihan, seminar, ceramah, diskusi dan kampanye untuk menolak phubbing, bullying, persekusi, intoleransi, dan radikal lainnya di kalangan remaja dan anak anak, agar menjadi perilaku yang memiliki kesalehan sosial yang ‘njawani’ warisan budaya leluhur para orang tua, yang disebut “Hastha Laku” atau 8 laku terpilih.

    “”Hastha Laku Solo” atau delapan laku yang dipilih Solo Bersimfoni adalah: 1.) Tepa Slira (tenggang rasa); 2.) Lembah Manah (rendah hati); 3.) Andhap Ashor (berbudi luhur); 4.) Grapyak Semanak (ramah tamah); 5.) Gotong Royong; 6.) Guyub Rukun (kerukunan); 7.) Ewuh pekewuh (saling menghormati); dan 8.) Pangerten (saling menghargai). Delapan laku tersebut berkaitan erat terhadap nilai-nilai kehidupan yang harmonis, namun sayangnya saat ini nilai tersebut sudah jarang diajarkan dan ditinggalkan.

    Pendekatan budaya ini diimplementasikan dalam kegiatan Deklarasi Bersama, dengan mengangkat tema Remaja Tolak Phubbing, Bulliying dan Persekusi. Kegitan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 Juli 2018 Jam 08.00 – 11.00 WIB di Taman Balekambang. Jumlah peserta 1000 orang yang terdiri dari Pelajar, OKP, agent of tolerance, muspida dan tokoh masyarakat. Undangan bersifat terbuka. Bentuk aktivitas dalam kegiatan deklarasi ini yakni Deklarasi Bersama “Remaja Tolak Phubbing, Bulliying dan Persekusi, Arahan Walikota Surakarta, Fragmentasi Remaja, Sahabatsimfonivaganza (aksi expo, edukasi, konsultasi dan kampanye) dan Hiburan berupa bazzar dan fun games.