Tag: solo bersimfoni

  • Lawan Hoaks Covid-19 Dengan Hasthalaku Bermedsos

    Lawan Hoaks Covid-19 Dengan Hasthalaku Bermedsos

    Kita semua mengetahui himbauan dari pemerintah untuk tidak panik dalam menghadapi pandemi COVID-19. Ketika awal masuknya virus ini ke Indonesia, masyarakat berbondong-bondong memborong bahan makanan yang ada di supermarket, menimbun masker dan kawan-kawannya. Contoh diatas adalah bentuk kepanikan dari masyarakat yang terjadi karena hoaks yang beredar.

    Di tengah upaya pemerintah dalam menghadapi pandemi COVID-19 agar tidak terus menyebar, masih ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang menyebarkan berita palsu (hoaks) seputar COVID-19. Kominfo mengindentifikasi pada Selasa, 18 Maret 2020 ada 250 konten hoaks dan disinformasi yang berkaitan dengan pandemi COVID-19. Seluruh konten hoaks tersebut tersebar di platform media sosial khususnya di aplikasi WhatsApp yang notabene berisi grup keluarga dengan latar belakang yang bermacam-macam.

    Berbagai narasi yang menyesatkan lalu-lalang hampir setiap hari di linimasa media sosial kita tentang isu seputar COVID-19. Sebagian besar diantaranya merupakan berita palsu yang tidak jelas sumbernya sehingga sulit untuk diketahui kebenarannya. Banyaknya hoaks juga berdampak menurunkan rasa percaya masyarakat terhadap otoritas kesehatan dan pemerintah, sehingga masyarakat melakukan aksi penyembuhan dengan caranya sendiri. Sebagian besar cara penyembuhan pun juga mereka dapatkan melalui linimasa yang belum jelas kebenarannya.

    Pada keadaan seperti ini kita semestinya bergotong-royong untuk melawan hoaks yang kian meresahkan masyarakat. Contoh langkah yang bisa kita lakukan ialah tidak langsung percaya dan menyebarkan berita tentang pandemi COVID-19 yang kita baca di media sosial. Atau saat ingin memberikan informasi trik atau cara menangkal virus COVID-19 pastikan benar berasal dari sumber yang terpercaya dan beritanya bisa dipertanggungjawabkan, seperti media massa mainstream, website resmi Kementerian Kesehatan, WHO, serta pihak terpercaya lainnya.

    Di Indonesia sendiri ada Dewan Pers yang merilis daftar lembaga-lembaga resmi yang telah terdaftar. Selain itu ada pula sertifikasi IFCN atau International Fact Checking Network yang dikeluarkan oleh Poynter, sekolah jurnalis di Florida, Amerika Serikat. Sudah ada lima media/platform Indonesia yang mendapat sertifikasi ini, antara lain liputan6.com, Kompas.com, Tirto.id, Tempo.co dan Mafindo. Beberapa kelompok masyarakat sipil di berbagai daerah pun sudah bergerak menangkal hoaks. Mereka saling bekerjasama membuka pengaduan masyarakat, saling tukar informasi, berdiskusi, dan melakukan verifikasi hoaks yang beredar di masyarakat.

    Badan kesehatan dunia, World Health Organisation (WHO) sebenarnya telah menjalin kerjasama dengan WhatsApp dengan membentuk akun untuk melayani pertanyaan publik tentang seputar COVID-19 melalui chatbot. Akun chatbot ini memiliki nama resmi ‘COVID19.go.id’ dan memiliki tanda centang warna hijau sebagai bukti akun telah terverifikasi. Kita hanya perlu menambahkan kontak nomor +6281133399000 di ponsel. Secara otomatis aplikasi atau situs WhatsApp akan membuka jendela percakapan dengan chatbot tersebut.

    Kita juga bisa mengakses chatbot  untuk informasi resmi dan benar tentang Covid-19 atau website yang disedikan oleh Pemprov Jateng, https://corona.jatengprov.go.id/ atau Home – Covid19.go.id. Saluran itu diharapkan bisa menjadi kanal informasi publik yang valid dan terpercaya mengenai COVID-19. Hentikan pemberitaan yang membuat gaduh dan suasana mencekam, seperti gencarnya pemberitaan jumlah korban COVID-19 karena akan berdampak terhadap kondisi pikiran kita.

    Kondisi pikiran yang panik dan kalut akan berpengaruh terhadap keadaan fisik dan menurunkan imunitas tubuh kita. Selama keadaan masih seperti ini, pastikan asupan makanan yang sehat, mendapatkan paparan cahaya matahari setiap pagi, cukup 10 menit saja, serta pikiran dan hati yang bahagia. Ketiga hal tersebut mampu menaikkan daya tahan tubuh. Tidak perlu melakukan pencegahan yang ekstrim atau memborong segala macam kebutuhan. Secukupnya saja. Jika memiliki rejeki berlebih, bolehlah kita memberikan dana bantuan kepada yang membutuhkan. Sharing is caring. Ingat, waspada boleh, panik jangan. Kita lawan Covid-19 dengan gotong royong, guyub rukun, dan pangerten.

    Penulis: Burhanudin Fajri

     

  • Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial

    Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial

    Wabah COVID-19 telah mengubah wajah dunia sejak World Health Organization (WHO) menetapkannya sebagai pandemi global pada  Kamis, 12 Maret 2020. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia, dan bisa menyerang siapa saja. Virus yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 ini dapat menular dengan cepat. Saat artikel ini ditulis COVID-19 telah menyebar ke 196 negara di luar Cina, termasuk Indonesia. Dari website covid19.go.id per 27 Maret 2020  pukul 12:00 WIB terdapat 893 kasus yang telah terkonfirmasi dan 780 dalam perawatan. Sejak tanggal 27 Maret 2020 pun telah mulai berkembang di Provinsi Jawa Tengah yang hingga hari ini tercatat mencapai 40 pasien positif termasuk kota Solo, Jawa Tengah.

    Pemerintah Kota Surakarta saat ini tengah  berupaya untuk memutus rantai wabah ini dengan melakukan langkah tegas. Setelah menyatakan ada dua pasien positif corona dirawat di RSUD dr Moewardi dan salah satunya meninggal dunia, jumlah yang tertular diperkirakan akan terus meningkat. Di tengah kegaduhan akibat pandemi Covid-19, pemerintah kota Surakarta menetapkan status ini menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

    Selain meniadakan sejumlah potensi keramaian, Pemkot Surakarta juga meliburkan kegiatan belajar mengajar siswa TK sampai SMA dan sederajat selama 14 hari ke depan sejak tanggal 14 Maret 2020. Para siswa diminta untuk belajar di rumah, sebagai upaya pencegahan meluasnya penyebaran virus COVID-19. Selain itu, sejumlah tempat wisata di Kota Solo juga mulai ditutup.

    Jarak Fisik dan Solidaritas Sosial

    Masyarakat dunia pun, termasuk warga negara Indonesia, dihimbau untuk membantu memutus penyebaran virus dengan melakukan social distancing atau menjaga jarak sosial.  Sejak Jumat 20 Maret 2020 WHO resmi menggantikan istilah social distancing menjadi physical distancing atau menjaga jarak fisik. Istilah ini dilakukan guna mencegah konotasi yang tidak diinginkan. Ditakutkan manusia menjaga jarak sosialnya sehingga merasa khawatir untuk melakukan interaksi sosial. Padahal interaksi sosial sangatlah penting untuk mengalahkan COVID-19 yang juga penting mengurangi konsekuensi negatif dalam langkah-langkah pengendalian pandemi.

    Pada situasi keadaan pandemi seperti ini kita mesti mengurangi interaksi fisik, tidak membuat keramaian, dan tidak datang ke pusat keramaian. Kita diharuskan berkegiatan di rumah saja, tidak bertemu saudara dan teman-teman di luar rumah, tidak mengadakan perhelatan dan kumpul-kumpul. Namun bukan berarti kita membatasi solidaritas sosial.

    Di tengah himbauan untuk #dirumahaja banyak sekali saudara kita yang tidak memungkinkan untuk tinggal di rumah karena kebutuhan mencari sesuap nasi, juga kehilangan pekerjaan karena usaha yang mempekerjakannya terpaksa tutup. Atau bahkan menjadi garda terdepan dalam mengurusi para pasien di fasilitas kesehatan: para dokter, perawat, pembersih di rumah sakit, sopir ambulans, dan tenaga medis lainnya.

    Baru-baru ini muncul banyak relawan dan gerakan sosial di Indonesia yang gotong royong bergerak dan mengumpulkan donasi untuk dibelikan alat pelindung diri bagi tenaga medis, masker untuk dibagikan pada masyarakat rentan, bahkan sembako untuk dibagikan kepada mereka yang kehilangan pekerjaan. Para influencer dan masyarakat umum bergerak untuk kerja solidaritas itu. Ya, itulah makna sesungguhnya dari social solidarity, bukan social distancing.

    Cara-cara ini bisa kita lakukan sebagai usaha untuk pangerten terhadap keadaan. Selain itu, sebagai warga negara yang baik, kita juga harus menghargai keputusan dari Presiden Joko Widodo untuk dapat belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah.

    Selain pangerten terhadap keadaan kita juga perlu pangerten terhadap orang-orang yang masih tetap harus bekerja di luar sana sebagai garda terdepan pemulihan kesehatan dan keadaan.

    Penulis : Burhanudin Fajri

  • Kiat Solo Bersimfoni Bersama Dirjen Pothan Kemhan, Dalam Membentuk Karakter Bela Negara

    Kiat Solo Bersimfoni Bersama Dirjen Pothan Kemhan, Dalam Membentuk Karakter Bela Negara

    Solo Bersimfoni berkesempatan mengisi acara Seminar Nasional Pendidikan Karakter bersama dengan Prof. Ir. Bondan Tiara Tiara Sofyan, M.Si, Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, dan Dr. Izza Mafruhah, S.E.,M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS. Acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret pada 15 Februari 2020 tersebut diikuti kurang lebih 400 peserta.

    Peserta seminar memenuhi aula FEB UNS sekitar 400 peserta.

    SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN KARAKTER
    Peserta seminar memenuhi aula FEB UNS sekitar 400 peserta

    Dekan FEB UNS , Prof. Djoko Suhardjanto yang secara langsung membuka acara tersebut mengharapkan dengan adanya Seminar Nasional Pendidikan Karakter ini para narasumber mampu membekali pengetahuan, pemahaman bagi generasi muda tentang pentingnya kesadaran bela negara sehingga terhindar dari paham-paham radikal yang sangat merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa.

    “Metode penyebaran paham radikal sudah tidak zamannya menggunakan kekerasan bahkan senjata lagi, tetapi saat ini telah menggunakan cara yang lebih mengikuti perkembangan” jelas Prof Bondan.

    Prof. Ir. Bondan Tiara Tiara Sofyan, menegaskan bahwa Dalam penyebaran paham radikal saat ini telah mengikuti perkembangan zaman dan sudah tidak lagi menggunakan senjata. Ada beberapa cara yang  digunakan untuk menyebarkan paham-paham radikal,  diantaranya adalah brain washing atau cuci otak dengan cara memberikan pemahaman merubah ideologi, provokasi dan  separatis. Atau dengan menggaungkan isu-isu yang sehingga menimbulkan perpecahan. Terlebih sekarang ini Ideologi Pancasila sering dibenturkan dengan agama ataupun dengan kitab suci dan ujungnya untuk menguasai Indonesia.

    “baru-baru ini Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah membuat peraturan UU No. 23 Tahun 2019 Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan Negara, mohon doa nya semoga kami bisa segera mengimplementasikan Undang-undang ini dengan baik” ungkap Prof Bondan.

    Kementerian Pertahanan Republik Indonesia saat ini tengah berupaya untuk mengatasi hal tersebut dengan memberikan pembekalan tentang bela negara seperti perubahan/penguatan karakter bangsa dan UU No. 23 Tahun 2019 Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan Negara yang baru disahkan menjadi bukti tekad pemerintah dalam memperkuat pertahanan Indonesia.

    Prof Bondan Tiara
    Prof. Bondan saat memberikan materi kepada para peserta

    Prof. Bondan saat memberikan materi kepada para peserta

    Prof Bondan juga menambahkan bahwa membangun kesadaran berbangsa dan bernegara bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan membangun dialog atau komunikasi, pendidikan, dan seni budaya. Solo Bersimfoni juga disinggung oleh Prof Bondan bagaimana Solo Bersimfoni membangun kesadaran berbangsa dan bernegara dengan pendekatan budaya jawa atau yang dikenal dengan Hasthalaku untuk menghindarai kekerasan.

    Sementara itu, M. Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni mengatakan bahwa pemuda solo harus memiliki karakter budaya yang kuat, mempunyai nilai toleransi dan juga keberagaman dalam bermasyarakat, dan saat ini Pemerintah Kota Solo telah membuat Peraturan Walikota Surakarta Nomor 49 tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda yang tentu menaruh harapan dengan Perwali hak dan kewajiban pemuda dapat berkesempatan melestarikan, mengembangkan hingga memperoleh pendampingan/pembinaan yang lebih baik.

    Farid Sunarto
    M.Farid Sunarto memberikan penjelasan tentang Hasthalaku dalam bela negara

    M.Farid Sunarto memberikan penjelasan tentang Hasthalaku dalam bela negara

    Kemudian Dr. Izza Mafruhah, S.E.,M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS menambahkan bahwa pendidikan karakter merupakan proses belajar secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan menguasai IPTEK saja tidak cukup menjadikan seorang pelajar menjadi manusia. Kemampuan sosialisasi dan religiusitas sebagai bagian IMTAQ yang baik adalah pelengkap yang menyempurnakan seorang pelajar. Berpendidikan karakter berarti seseorang tidak hanya memiliki intelektual yang baik, tapi juga memiliki emosi serta tingkat spiritual yang baik.

    Penulis : Burhanudin Fajri

     

  • Fragmen Hasthalaku Di Depan Gubernur Jawa Tengah

    Fragmen Hasthalaku Di Depan Gubernur Jawa Tengah

    Murid-murid memasuki kelas. Bapak guru pun mulai menerangkan pelajaran, tetapi mereka tidak mendengarkan perkataan bapak guru namun sibuk ber-wefie bahkan mengajak bapak guru untuk wefie bersama-sama.

    Sepenggal cerita di atas menjadi pembuka pementasan fragmen persembahan Sahabat Simfoni pada acara Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) Provinsi Jawa Tengah pada hari Kamis tanggal 17 Oktober 2019 di UTC Convention Hotel Semarang. Tema FORKOPIMDA kali ini adalah Komitmen Bersama Menjaga Jawa Tengah Tetap Guyub, Toleran, Aman dan Tenteram. Rapat koordinasi ini dilakukan untuk menyikapi beberapa berita yang menyedihkan akhir-akhir ini, seperti adanya anak-anak yang masuk Rumah Sakit Jiwa karena kecanduan gawai.

    Fragmen sepuluh  menit tersebut membuka acara yang dihadiri antara lain oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. “Fragmen tadi bagus sekali, menggambarkan bagaimana anak sekolah mengajak gurunya wefie dan tidak hormat kepada gurunya, kemudian menyadari kesalahan sendiri dan mencari solusi dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka”. Fragmen yang dilakukan oleh Sabahat Simfoni, yaitu relawan dari Solo Bersimfoni yang menjadi kepanjangan tangan untuk menyebarkan hasthalaku, menjadi penting karena memberikan contoh yang nyata mengenai sikap dan perilaku tidak baik di kalangan remaja. Dengan pementasan fragmen ini, Solo Bersimfoni mempunyai harapan agar hasthalaku lebih dikenal lagi bahkan di Jawa Tengah.

    Ganjar Pranowo juga menjelaskan bahwa kini banyak sekali kegiatan positif bagi siswa-siswi SMA dan mahasiswa yang bisa memupuk jiwa toleransi seperti forum anak yang sudah mulai rutin dilakukan di setiap daerah dan didukung oleh UNICEF. Ada juga program “Sehari Bersama Gubernur” yang bertujuan agar orang di luar pemerintahan bisa melihat persoalan di masyarakat secara langsung, serta dapat memberikan ide dan aspirasi untuk masalah yang ada. Hal ini juga disepakati oleh Rektor UNDIP, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H.,M.Hum, “Anak-anak muda harus bisa memilih dan memilah kegiatan yang positif bagi dirinya”.

    Pangdam IV Diponegoro, Mayjen Mochamad Effendi juga menambahkan bahwa kita semua sebagai WNI memiliki warna dan mempunyai kewajiban yang sama yaitu menciptakan suasana damai. “Contoh nyatanya adalah kita mengumpulkan semua di sini dengan latar belakang yang berbeda-beda. Seperti yang disampaikan oleh adik-adik dalam fragmen dari Solo Bersimfoni, meskipun kita berbeda tetapi kita punya rasa untuk mempersatukan Indonesia”, ungkapnya. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bahu-membahu. Kondisi harmonis dan rukun ini tidak dibangun oleh satu orang saja tetapi banyak orang, semua lapisan masyarakat turut berpartisipasi dalam menjaga keharmonisan.

    Terakhir, Ganjar Pranowo mengingatkan kepada hadirin terutama anak-anak muda tentang komitmen mereka dalam menjaga kerukunan dan perilaku di Jawa Tengah dan Indonesia. Tentu saja komitmen bersama ini harus terus dipegang agar terjalin rasa saling menjaga perilaku dan menjaga kata-kata demi kedamaian bersama.

    #MariKitaBersimfoni

    #MariMenjagaToleransiUntukNegeri

  • The Eight Values: Discovering the Unique Identity of Solo Youth

    The Eight Values: Discovering the Unique Identity of Solo Youth

    The history of Solo is closely entwined with the history of the Surakarta Sultanate, which followed the Mataram Sultanate. Solo is well-known as a centre of ancient Javanese culture because it has traditionally served as a political hub and centre for development of Javanese traditions. (more…)

  • Fragmen Solo Bersimfoni Di CFD (Car Free Day)

    Fragmen Solo Bersimfoni Di CFD (Car Free Day)

    Solo, Minggu 28/4/2019, Jl. Slamet Riyadi Kota Solo

    pat di depan Bank BRI Surakarta Jalan Slamet Riyadi Forum Milenial Soloraya (FORMES) menggelar kegiatan #PERCAYAKPU yang dikuti oleh kurang lebih 100 elemen remaja milenial se-Soloraya, serta dihadiri oleh KPU Surakarta dan juga Banwaslu Surakarta. Kegiatan yang dilaksanakan pada saat Car Free Day (CFD) ini dimulai pukul 07.00 – 09.00 WIB.

    (more…)

  • Hastha Laku dalam Video Teaser

    Hastha Laku dalam Video Teaser

    Dihadiri lebih dari 200 peserta dari siswa SMA dan SMK yang ada di Surakarta pertanda acara Deseminasi video teaser bertemakan toleransi  diapresiasi dengan baik oleh warga Kota Solo. Selasa (29/1/2019) Perkumpulan Solo Bersimfoni menyelenggarakan kegiatan deseminasi video teaser bertemakan Toleransi.

    (more…)

  • Pesan Toleransi Untuk Milenial

    Pesan Toleransi Untuk Milenial

    Solobersimfoni.org, Surakarta,- Menyambut perkembangan teknologi yang sangat pesat Solo Bersimfoni Bekerjasama dengan Center for the Study of Islam and Social Transformation (Cisform) mengadakan pemutaran dan diskusi Film bertemakan “Toleransi”.

    (more…)

  • Bullying di Sekolah

    Bullying di Sekolah

    Tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya mengalami bullying di sekolah.  Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan, seyogyanya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk mendapatkan pembinaan pengetahuan dan mental terbaik selain di rumah. (more…)

  • solider.id: Implementasi modul Hastha Laku dalam Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus

    solider.id: Implementasi modul Hastha Laku dalam Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus

    GambarSolider.id, Surakarta- Komunitas Solo Bersimfoni telah menyusun modul Hastha Laku yang memiliki arti delapan laku utama. Penyusunan modul tersebut berangkat dari latar belakang upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan difabel khususnya bidang pendidikan. Serta keberadaan Kota Solo yang didorong untuk menjadi model kota ramah difabel.

    Hastha Laku memiliki delapan prinsip nilai berbudaya dan berkehidupan. Delapan prinsip tersebut adalah Tepa selira (tenggang rasa), lembah manah (rendah hati), andhap asor(berbudi luhur), grapyak semanak (ramah-tamah), gotong-royong, guyub rukun (kerukunan), ewuh pekewuh (saling menghormati)dan pangerten (saling menghargai).

    Delapan nilai tersebut diimplementasikan sebagai bentuk dukungan pemenuhan hak pendidikan, dan meningkatkan martabat serta kesejahteraan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

    Hal tersebut juga diungkapkan Paulina Pannen, Staf Ahli Menteri Bidang Akademik, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) saat seminar bertajuk peningkatan akses dan akseptabilitas bagi difabel di perguruan tinggi pada Kamis, tahun lalu.

    Dari sanalah untuk pertama kalinya pertemuan bagi para guru yang mengajar ABK di sekolah inklusi, Guru Pendamping Khusus (GPK), juga pengajar Sekolah Luar Biasa di Pusat Layanan Autis (PLA) Surakarta diadakan di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Surakarta, Jumat (21/12).

    Didik Prasetyanto perwakilan Solo Bersimfoni menjelaskan, tujuan pertemuan yang akan diadakaan secara rutin ini untuk mendapatkan formulasi dalam pengimplementasian modul Hastha Laku yang telah disusun. Hal ini bertujuan untuk menjaga toleransi dan keberlangsungan perdamian dan keharmonisasian di masyarakat lintas etnis dan agama.

    “Kegiatan ini juga sebagai interaksi dalam dan mengekspresikan pandangan para guru, relawan dan pendamping ABK yang bergerak pada inklusivitas pendidikan tentang pentingnya tolerasni keberagaman. Sehingga akan kita temukan cara yang tepat untuk memberikan kesempatan yang setara bagi anak difabel atau ABK,” jelas Didik Prasetyanto.

    Hasil yang diharapkan dari diskusi terfokus ini adalah para guru, relawan maupun pendamping ABK mengenal konsep Hastha Laku. Serta dapat berbagi pengalaman, mengumpulkan ide dan gagasan dengan ragam sudut pandang dari para peserta. Ide dan gagasan selanjutnya digunakan sebagai acuan untuk melakukan kegiatan selanjutnya terkait menghadapi isu-isu intoleransi di kalangan ABK.

    Dono, salah seorang peserta mengatakan acara diskusi ini penting untuk menjaga reputasi Solo sebagai kota toleransi dan damai.

    “Juga untuk menjaga ABK agar tidak ada lagi perundungan. Upaya mencegah bibit-bibit intoleran, bullying, body shaming, dan sexual harassment bagi ABK,” ujar Dono.

     

    Reporter                     : Puji Astuti

    Editor                          : Robandi

    Link                             : https://www.solider.id/baca/4985-implementasi-modul-hastha-laku-dalam-pembelajaran-anak-berkebutuhan-khusus