Tag: solo bersimfoni

  • Legowo, Sebuah Karya Tentang Menerima

    Legowo, Sebuah Karya Tentang Menerima

    film Legowo

    Solo Bersimfoni bekerja sama dengan Teater Brastomolo membuat karya film pendek yang berjudul “Legowo”. Karya ini ditayangkan pada acara Jateng Edu Fest yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation pada Rabu, 21 April 2021. Berlangsung secara online, Jateng Edu Fest dihadiri oleh Nadiem Makariem, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah serta Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation.


    Sekolah Adipangastuti tak hanya hadir sebagai undangan, tetapi juga diberi kesempatan untuk melakukan pertunjukan dan diwakilkan oleh SMAN 1 Gemolong dengan pemutaran film pendek. Karya ini disutradarai oleh Alif Aji Ramadhana yang merupakan Ketua Teater Brastomolo sekaligus penulis naskah. “Skenario kami kerjakan bersama, tetapi memang saya yang banyak memberikan masukan dan gambaran tentang bagaimana film ini ingin disampaikan kepada penonton,” kata Alif.


    Film Legowo bercerita tentang bagaimana stigma menempel pada seorang anak karena sikapnya bermasalah di sekolah. Yang tidak dipahami banyak orang, bahwa anak tersebut mempunyai latar belakang yang cukup sulit untuk ukuran seusianya. “Film ini ingin menyampaikan jangan menilai seseorang dari penampilannya saja”, lanjut Alif.


    Ada dua tokoh pemain yang menonjol dalam film ini, yaitu Subhi (diperankan oleh Dzaky Subhi) dan Bu Yuli (diperankan oleh Grissa Yulianingrum). Keduanya sudah terbiasa melakukan pentas teater, bahkan Dzaky sudah pernah bermain dalam film pendek sebelumnya. Meskipun waktu cukup singkat, reading naskah tetap dilakukan untuk menghayati peran antar pemain. Dzaky bercerita “Reading dilakukan selama empat hari, cukup singkat jika dibandingkan persiapan pentas teater”. Grissa pun mengatakan bahwa bermain film adalah salah satu cita-citanya, “Senang sekali akhirnya bisa tercapai karena Solo Bersimfoni”.


    Teater Brastomolo adalah salah satu ekstra kurikuler (ekskul) di SMAN 1 Gemolong Sragen yang sudah banyak mengeluarkan karya, baik internal sekolah sampai nasional. Ekskul yang sudah terbentuk sejak tahun 2001 ini bahkan sudah beberapa kali mendapatkan juara. Pada Maret 2020, mereka memperoleh dua penghargaan sekaligus, yaitu juara pertama monolog tingkat SMA se-Indonesia dalam ARTEFAC UNS dan juara kedua monolog dalam Lomba FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) se-Jawa Tengah. Sebelumnya, pada Februari 2020 mereka mendapatkan tiga kemenangan sekaligus yaitu juara kedua, artis terbaik dan penata artistik terbaik dalam FDRR (Festival Drama Realis Remaja) se-Soloraya di UNISRI.


    Beranggotakan kurang lebih 65 siswa dari SMAN 1 Gemolong, Teater Brastomolo tak hanya menjadi ekskul sekolah tetapi juga sebagai proses belajar berorganisasi bagi anggotanya. Brastomolo berasal dari dua kata yaitu brasto (melawan) dan molo (keburukan) yang berarti melawan keburukan atau hal yang negatif. Dalam hal ini membersihkan diri melalui budaya. Semua anggotanya belajar, berproses dan berkarya lewat budaya. “Anggota teater belajar mulai dari satu fase ke fase lain, semua berproses dan pasti ada manfaat dari tiap prosesnya” kata Ismail, Wakil Ketua II Teater Brastomolo.


    Sejak pandemi, kegiatan dari teater menjadi sangat terbatas, tidak ada pentas produksi yang dipertunjukkan secara langsung. Kegiatan ini diganti dengan pembuatan video teater yang diunggah di akun YouTube Teater Brastomolo. Selain itu, pelantikan dan serah terima jabatan pengurus tahun 2020/2021 pun harus dilakukan secara luring terbatas dan daring. Sebelumnya, kegiatan ini menjadi ajang temu kangen antara alumni dan anggota. “Kita harus mencari pengalaman bukan pengalaman yang mencari kita, contohnya kerja sama dengan Solo Bersimfoni ini,” lanjut Ismail.


    Lomba yang biasanya diikuti pun hampir semua tidak dilaksanakan sampai catur wulan pertama tahun 2021 ini, sehingga pengurus berencana melakukan kegiatan untuk anggota baru pada pertengahan tahun 2021. “Kegiatan ini dilakukan agar anggota yang belum pernah mengikuti lomba dapat terlatih fisik dan mentalnya untuk keberlanjutan organisasi Teater Brastomolo,” ujar Raffi, Wakil Ketua I Teater Brastomolo. Apalagi anggota baru biasanya melatih mental dan fisik melalui berbagai lomba dan juga diklat yang mana mereka menampilkan pentas produksi. “Biasanya dalam pentas pada diklat akan dipilih aktris dan aktor terbaik, tetapi untuk tahun ini tidak ada,” lanjut Raffi.


    Salah satu alasan anggota ingin menjadi bagian dari Teater Brastomolo adalah supaya bisa mengikuti pentas produksi, bisa mendapatkan pengalaman di masa remaja dan juga belajar berorganisasi. “Dalam teater itu nggak ada yang nggak bisa, tetapi belum bisa,” kata Ismail.


    Pembuatan Film Legowo merupakan program keberlanjutan Sekolah Adipangastuti. Meskipun program di sekolah sudah selesai per Desember 2020, hubungan baik antara Solo Bersimfoni dan SMAN 1 Gemolong melalui Teater Brastomolo tetap terjalin dengan baik di dalam dan di luar sekolah. “Senang sekali dengan adanya Sekolah Adipangastuti bisa bikin film Legowo,” ujar Subhi. Harapannya, akan ada lagi kolaborasi dan kerja sama antara SMAN 1 Gemolong, baik melalui Teater Brastomolo maupun ekskul lainnya sebagai salah satu cara mengapresiasi karya anak muda.


    “Stigma. Sebuah penghakiman kepada seseorang tanpa pembelaan diri. Apakah kita semua akan semudah itu melekatkan stigma negatif kepada seseorang hanya karena dia berbeda dengan kebanyakan orang? Apakah menilai seseorang dari luarnya adalah suatu hal yang bisa diwajarkan? Memberikan stigma sama dengan memberikan hukuman tanpa banding.” Legowo – 2021

     

    #SalamBudaya

    #SalamToleransi

    #MariKitaBersimfoni

    Penulis : Tia Brizantiana

  • ORGANISASI PEMUDA DI SOLO KINI MILIKI ACUAN BERKEGIATAN

    ORGANISASI PEMUDA DI SOLO KINI MILIKI ACUAN BERKEGIATAN

    Pada 17 Februari 2021, Bapppeda (Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah) Kota Surakarta telah melaksanakan kegiatan peluncuran dan sosialisasi Rancangan Aksi Daerah (RAD) tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan Kota Surakarta di Ruang Rapat A Bapppeda Surakarta. Kegiatan yang diikuti oleh perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Surakarta ini disusul dengan kegiatan serupa pada 26 Februari 2021 dengan menghadirkan peserta dari Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Kota Surakarta di Kusuma Sahid Prince Hotel Surakarta. (more…)

  • Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental

    Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental

    Sesuai amanat yang tertuang pada Perwali No. 49 tahun 2019 dengan tujuan membentuk karakter pemuda di kota Surakarta melalui Hasthalaku. Solo Bersimfoni bekerjasama dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia mengadakan kegiatan yang mengajak remaja milenial untuk menerapkan nilai-nilai Hasthalaku untuk mewujudkan Indonesia Bersatu. Hal ini sebagai langkah kongkrit upaya pemerintah dalam Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda serta keterlibatan masyarakat sipil. Program ini dinamakan Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Podcast Cuap Cuap Relasi, Seminar Karakter Hasthalaku dan Bedah Film Toleransi bertema Hasthalaku.

    Podcast Cuap Cuap Relasi (Remaja Toleransi) dilakukan Sembilan kali dengan masing-masing tema : Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Ewuh Pekewuh, Pangerten, Andhap Asor, Tepa Selira dan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Narasumber yang mengisi kegiatan ini adalah Dispora Kota Surakarta yaitu Kepala Kepemudaan, Nico Agus Putranto, dan Kasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan, Zufar Sasongko. Sedangkan Sahabat Simfoni, yang merupakan relawan serta kepanjangan tangan dari Solo Bersimfoni, juga menjadi narasumber kegiatan ini. Dalam Podcast bertema GNRM, perwakilan dari Kemenko PMK RI hadir yaitu Bayu Priyo Jatmiko. Sembilan podcast telah diupload pada YouTube Channel Solo Bersimfoni mulai tanggal 23 sampai dengan 30 November 2020.

    Seminar Karakter Hasthalaku dengan tema Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Remaja Milenial yang Bersumber dari Nilai Budaya Lokal secara daring telah terlaksana dengan lancar dan dihadiri oleh total 700 peserta baik dari zoom meeting maupun live streaming channel YouTube Solo Bersimfoni. Peserta merupakan siswa dan siswi Model Sekolah Adipangastuti yang sedang diterapkan pada lima sekolah di Soloraya yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong.

    Kegiatan ini dimulai dengan laporan kegiatan oleh M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni kepada Kemenko PMK RI melalui R. Alfredo Sani F selaku Asisten Deputi Revolusi Mental Kemenko PMK RI. Dalam kesempatan ini, Pak Alfredo juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini berada di bonus demografi, yaitu pemuda yang masuk usia produktif lebih banyak daripada yang masuk usia non produktif, sehingga kita perlu menyiapkan pemuda dengan membangun karakter hasthalaku yang sangat relevan di era sekarang.

    Narasumber kegiatan Seminar berjumlah empat orang yang merupakan pemerhati pemuda dan pemangku jabatan di Pemerintahan Kota Surakarta. Yang pertama adalah Waskito Widi Wardojo, S.S., M.A. yang merupakan dosen Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS memberikan materi dengan tema Internalisasi Nilai Nilai Karakter Hasthalaku. Kemudian yang kedua adalah Indradi AP, S.H., M.M selaku Kepala Kesbangpol Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Peran Organisasi pemuda dalam Pengembangan Karakter Hasthalaku Remaja Milenial. Yang ketiga adalah Dr. agus Setyo Utomo, S.E., M.Si., Ak. CA, C.Pa. yang merupakan aktifis pemuda dan Kepala Markas PMI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Merawat Persatuan dalam Semangat Kemanusiaan. Serta yang terakhir adalah Bambang Nugroho selaku Ketua KNPI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Semangat Pemuda dalam Mewujudkan Indonesia Bersatu.

    Pada kegiatan yang ketiga, yaitu Bedah Film Toleransi bertemakan Hasthalaku telah terlaksana dengan baik dan lancar pada hari Selasa tanggal 24 Desember 2020 di Graha Solo Raya pukul 13.00 – 15.00 WIB. Film yang diputar ada lima film yaitu Sepatu, Coba Peka, Second Change, Semanak dan Nggak Kenal Agama. Tiga film diantaranya adalah pemenang lomba pembuatan film pendek program Sekolah Adipangastuti tahun 2019 di SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 110 peserta dari OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Kota Surakarta. OKP yang hadir dari HIPMI, Suara Muda Solo, PRRBM, HMI, TAD, KNPI, PT HKTI, PMII, Banser, PMR Markas, JCI, IMM, IPNU, KAMMI, dan KTI. Sedangkan OPD yang hadir dari Bapppeda, Departemen Agama dan Kesbangpol Kota Surakarta.

    Kegiatan ini diawali oleh pesan dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII, Suyanta, S.Pd., M.Pd, agar seluruh peserta selalu melakukan protokol kesehatan untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19 di Soloraya. Beliau juga mengatakan bahwa sesuai pemuda, selain harus memiliki kemampuan berkompetisi juga harus memiliki karakter yang bagus agar dapat sukses di masa depan. Narasumber kegiatan Bedah Film ini ada tiga orang yaitu pemeran Film Semanak, Katira dan El Alimudin, serta sutradara Film Sepatu, Muhammad Anis.

    Tujuan umum kegiatan ini adalah untuk menanamkan karakter bangsa guna mewujudkan Indonesia Bersatu bersama Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui identitas budaya yang terdapat pada Perwali Nomor 49 Tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan yang disebut hasthalaku bagi remaja milenial di Kota Surakarta.

     

     

     

    link berita:

    https://revolusimental.go.id/kabar-masyarakat/detail-suara-kita?url=pengembangan-karakter-remaja-milenial-di-kota-surakarta-tahun-2020-program-gerakan-nasional-revolusi-mental-kerjasama-solo-bersimfoni-dan-kemenko-pmk-r

  • Agen Simfoni Bersatu, dari Sahabat untuk Sahabat.

    Agen Simfoni Bersatu, dari Sahabat untuk Sahabat.

    Sahabat Simfoni merupakan perpanjangan tangan dari Solo Bersimfoni untuk menyebarkan toleransi melalui nilai-nilai hasthalaku kepada masyarakat di Kota Solo, terutama generasi muda. Sudah kurang lebih tiga tahun Sahabat Simfoni menemani Solo Bersimfoni yang diawali dengan Training of Trainers yang sudah dilakukan dalam empat angkatan.

    Dalam berkegiatan, Sahabat Simfoni melakukan berbagai cara untuk menyebarkan hasthalaku seperti Simfoni Goes to School, Hasthalaku on the Street, Simfoni Class, pementasan Fragmen Hasthalaku dan tak lupa kampanye di media sosial mereka. Tentu saja kegiatan yang mereka lakukan disesuaikan dengan tren yang sedang terjadi di kalangan anak muda, apalagi Sahabat Simfoni juga merupakan bagian dari pemuda.

    Dalam masa pandemi, kegiatan yang dilakukan secara bertatap muka dijadwalkan ulang bahkan dibatalkan atau diubah dengan metode online. Hal ini mengingat naiknya penderita Covid-19 di Indonesia yang bahkan per akhir Januari 2021 sudah melebihi dari satu juta kasus.

    Simfoni Goes to School dilakukan pada program literasi dan ekstra kurikuler pramuka di SMAN 1 Surakarta. Disini Sahabat Simfoni membuat materi hasthalaku seperti video YouTube yang kemudian diberikan kepada siswa. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Sekolah Adipangastuti, sekolah toleransi berbasis budaya yang diinisiasi oleh Solo Bersimfoni untuk mereduksi intoleransi di kalangan pemuda Soloraya. Bahkan pada tanggal 17 Desember 2020 telah dikukuhkan lima Sekolah Adipangastuti yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

    Fragmen hasthalaku merupakan salah satu cara sahabat simfoni untuk menyebarkan toleransi dengan cara yang menarik dan menyentil berbagai isu intoleransi. Mereka pun pernah menampilkan fragmen di depan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam kegiatan Forkopimda Provinsi Jawa Tengah “Komitmen Bersama Menjaga Jawa Tengah Tetap Guyub, Toleran, Aman dan Tenteram” di Gedung  UTC Convention Hotel, Semarang pada kamis, 17 Oktober 2019.

    Organisasi Sahabat Simfoni : Agen Simfoni Bersatu

    Awalnya, Sahabat Simfoni hanya dibentuk dari alumni kegiatan ToT saja. Namun semakin lama, banyak anak muda yang tertarik menjadi bagian dari Solo Bersimfoni dan menjadi Sahabat Simfoni walau tidak pernah mengikuti ToT. Untuk menampung keinginan ini, Sahabat Simfoni berinisiasi untuk membentuk organisasi sahabat simfoni yang dinamakan Agen Simfoni Bersatu (ASB).

    Pada Jumat tanggal 29 Januari 2021, ASB melakukan peluncuran pembentukan organisasi di Ruang Hasthalaku Solo Bersimfoni bertepatan dengan acara Kenduri Perdamaian dimana Sahabat Simfoni berkontribusi menggelar pentas fragmen hasthalaku bertema keberagaman. Dengan durasi kurang lebih lima menit, sahabat simfoni ingin mengambarkan bagaimana stigma ras bisa dicegah dengan menerapkan nilai hasthalaku. Tanggapan dari peserta Kenduri Perdamaian pun sangat positif, salah satunya berkata bahwa Kampung Damai, yang merupakan nama kampung dalam fragmen, harus menjadi gerakan yang nyata.

    “Bersama dengan tulus dan tanpa rasa curiga menjadi kekuatan di akar rumput agar masyarakat bisa saling gotong royong dan tepa selira” – Andi Kristanto

    “Pelagi berwarna-warni yang membuat jadi indah” – Puji Yanti Ordiyasa.

    Harapan dibentuknya organisasi ini agar Sahabat Simfoni dapat saling belajar, berbagi dan juga mengembangkan diri baik di kalangan sahabat sendiri maupun dari orang lain. Selanjutnya dengan adanya ASB, Sahabat Simfoni dapat belajar mengelola organisasi dari membuat program kegiatan sampai pelaksanaan dengan semangat hasthalaku. Dengan membuat program kegiatan sendiri, mereka akan menjangkau dan mendapatkan jaringan serta pengalaman yang lebih luas.

    #KitaBersamaKarenaKitaBerbeda

    #MariKitaBersimfoni

    Penulis : Tia Brizantiana

     

  • PILKADA dan HASTHALAKU

    PILKADA dan HASTHALAKU

    Pemilihan umum telah memanggil kita
    S’luruh rakyat menyambut gembira
    Hak demokrasi Pancasila
    Hikmah Indonesia merdeka

    Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya
    Pengemban AMPERA yang setia
    Di bawah Undang-undang Dasar 45
    Kita menuju ke Pemilihan Umum

    Lirik Mars Pemilu  karya Mochtar Embut di atas mungkin sedikit asing di telinga para milenial. Lagu yang sebelum era reformasi selalu menggema menjelang Pemilihan Umum, satu-satunya rujukan memilih anggota dewan dan majelis perwakilan yang kemudian akan memilih presiden sebagai mandataris yaitu penerima mandat dan perintah undang-undang. Saat itu, gubernur dan bupati atau walikota dipilih berdasarkan kesepakatan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Waktu itu, pemilihan langsung tidak dikenal, ciri khas pemerintahan sentralistik.

    Peraturan perundang-undangan berganti, sistem desentralisasi diterapkan untuk meningkatkan kredibilitas pemerintah. Dimulailah sebuah sistem pemilihan pimpinan daerah dari putera daerah yang diharapkan dapat menjembatani keinginan rakyat menuju tata kelola pemerintahan yang baik dan kemajuan daerah. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA atau PEMILUKADA) dilakukan secara simultan di seluruh wilayah Indonesia melalui pemilihan kepala daerah langsung.

    Kembali kepada lirik lagu di atas, bagi saya lagu ini sangat fenomenal bahkan masih terngiang sampai sekarang. Pada tahun 1998, grup musik Slank  pernah mengaransemen ulang lagu tersebut dengan sentuhan rock and roll, dengan harapan menggaet pemilih pemula untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Terulang diputar dan digelorakan setiap PEMILU berlangsung. Tidak tahu mengapa, apakah karena PILKADA yang sifatnya sangat lokal, atau karena tidak dikemas oleh musisi terkenal, sehingga tidak ada lagu, mars, jingle yang monumental untuk mensukseskan perhelatan ini. Atau malah sudah ada lirik lagu pilkada dengan lirik tarik sis.. semongko..? Entahlah.

    Secara kuantitas, partisipasi pemilih tercapai. Sayangnya, pesan dalam lirik lagu tersebut – memilih pemimpin sebagai pengemban atau sulih suara atas AMPERA (amanat penderitaan rakyat), yang merupakan slogan yang sering dipakai oleh Sukarno yang mengilhami perjuangan para founding fathers ketika memimpin negara ini untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama, sangat mungkin belum tercapai.

    Tahun ini, PILKADA serentak diselenggarakan pada tanggal 9 Desember 2020 yang kebetulan diperingati juga sebagai Hari Anti Korupsi Se-Dunia (HAKORDIA). Hal ini mungkin menjadikan para pasangan calon berfikir ulang untuk mengusung visi dan misi tentang pemberantasan korupsi sebagai dagangan politiknya. Berbagai pesan moral dan harapan tinggi mencuat supaya pemilihan kepala daerah ini mampu mendapatkan pemimpin terbaik. Pemimpin seperti lagu di atas. Dengan suasana pandemi yang kita tidak tahu kapan berakhir ini, muncul berbagai drama PILKADA di seluruh Indonesia. Mulai dari isu oligarki, kekerabatan, inkompetensi, protokol kesehatan, kotak kosong, dan lain sebagainya.

    Kesuksesan PILKADA dapat dijadikan parameter ketercapaian proses demokratisasi di daerah. Proses yang berjalan seiring dengan kedewasaan masyarakat bersama serangkaian variabel di dalamnya. Kedewasaan dalam berpikir dan bertindak sesuai dengan kata hati, dengan menjunjung tinggi nilai hasthalaku untuk menjaga toleransi. Penyebaran isu SARA dan politik uang demi kepentingan tertentu adalah kejahatan yang luar biasa yang harus dihindari, sehingga siapapun yang menang dalam kontestasi ini diharapkan mampu mengakomodir kepentingan semua elemen masyarakat. Kelompok yang dianggap termajinalkan harus tetap diperhatikan. Pun untuk praktik diskriminasi terhadap aliran, kelompok, atau partai yang berbeda yang digunakan sebagai pemicu kepentingan politik praktis saja.

    Siapapun yang terpilih dalam kontestasi ini, adalah hasil kontribusi kita. Konsekuensi dari pilihan yang harus dilaksanakan. Mari kita jadikan perhelatan PILKADA ini sebagai implementasi tepa selira, pangerten dan guyub rukun dalam hasthalaku untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga.

    Tarik sis semongko.

    Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya
    Pengemban AMPERA yang setia
    Di bawah Undang-undang Dasar 45
    Kita menuju ke Pemilihan Kepala Daerah..

     

    Penulis : Khresna Bayu Sangka

  • STRATEGI MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI PEMBERLAKUAN SISTEM ZONASI

    STRATEGI MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI PEMBERLAKUAN SISTEM ZONASI

    Deskripsi Pemberlakuan Sistem Zonasi di SMAN 1 Surakarta

    Sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta telah di berlakukan sejak dua tahun terakhir ini. Sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Nomor 421/07651 tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Provinsi Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2019/2020, seleksi PPDB SMA dilaksanakan melalui tiga jalur, yaitu jalur zonasi, jalur prestasi, dan jalur perpindahan orang tua atau wali. Hanya saja, perbedaannya adalah pada tahun pertama, sistem zonasi yang diterapkan menggunakan cakupan wilayah Kecamatan dengan sistem pemeringkatan masih menggunakan nilai UN SMP. pada tahun kedua, cakupan wilayah yang digunakan berubah menjadi wilayah Desa atau Kelurahan dalam jarak terdekat dengan satuan Pendidikan tanpa menggunakan pemeringkatan nilai UN SMP dalam proses seleksi. Melalui petunjuk teknis (juknis) PPDB tahun 2019/2020 tersebut, calon peserta yang wajib diterima melalui jalur zonasi adalah calon peserta didik yang berdomisili pada jarak Desa atau Kelurahan terdekat dalam zona sekolah paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima. Domisili calon peserta didik ini berdasarkan alamat pada kartu keluarga atau Surat Keterangan domisili dari RT/RW yang dilegalisir oleh Lurah/Kades setempat, yang diterbitkan paling singkat 6 bulan sebelum pelaksanaan PPDB. Dimana kuota 90% jalur zonasi ini sudah termasuk bagi peserta didik dari keluarga ekonomi tidak mampu atau Gakin (Keluarga Miskin) dengan proporsi jalur zona 70% dan jalur Gakin 20%. Kuota10% sisanya dibagi menjadi 5% jalur prestasi dalam zona dan 5% jalur prestasi luar zona. Hal ini karena kuota jalur perpindahan orang tua/wali di SMAN 1 Surakarta tidak terpenuhi 5%, sehingga kuota jalur orang tua/wali tersebut dialihkan ke dalam jalur prestasi.

    Hasthalaku Sebagai Program Penanaman Nilai di Sekolah

    Manajemen sekolah di SMAN 1 Surakarta yang terdiri dari berbagai unsur seperti siswa, guru, kepala sekolah, dan komite sekolah telah menentukan beberapa strategi akibat  Perubahan-perubahan yang muncul pasca pemberlakuan sistem zonasi. Dalam kaitannya untuk menghadapi perubahan budaya sekolah, melalui kerja sama dengan Solo Bersimfoni dan beberapa dosen dari
    Universitas Sebelas Maret (UNS), SMAN 1 Surakarta bersama dengan SMAN 6 Surakarta ditunjuk sebagai pilotting project yang menerapkan program hasthalaku di sekolah. Oleh karena itu, SMAN 1 Surakarta termasuk sekolah Adipangastuti yang mengimplementasikan program hasthalaku. Program hasthalaku tersebut merupakan bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
    siswa. Sekolah tidak hanya berperan sebagai sarana lembaga untuk mentransfer ilmu pengetahuan, namun juga mendidik dan membentuk karakter siswa melalui nilai-nilai yang ditanamkan dalam hasthalaku tersebut. Nilai-nilai itu meliputi tepa selira (tenggang rasa), pangerten (saling menghargai), lembah manah (rendah hati), guyub rukun (kerukunan), gotong royong (saling membantu), grapyak semanak (ramah tamah), ewuh pakewuh (saling menghargai), dan andhap asor (berbudi luhur). Nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, misalnya ketika siswa bertemu gurunya menunduk, masuk kelas harus mengetuk pintu, salam terlebih dahulu, cara berbicara, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terus-menerus dibiasakan dan tidak dapat dilakukan oleh satu orang, semua warga sekolah turut bersama-sama terlibat dalam mengimplementasikan hasthalaku. Menurut Ketua komunitas Solo Bersimfoni, Solo Bersimfoni menjadikan hasthalaku sebagai sebuah identitas gerakan yang bersumber dari budaya lokal, sehingga hal ini mendorong anak-anak muda untuk bersikap wong jawa ora ilang jawane.Inovasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai upaya mempertahankan budaya sekolah. Inovasi yang dilakukan dalam program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga menjadi strategi sekolah dalam menghadapi perubahan budaya sekolah yang terjadi. GLS yang awalnya hanya dilakukan sebatas kegiatan literasi 15 menit sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai, mulai tahun pelajaran 2019/2020 koordinator GLS di SMAN 1 Surakarta melakukan beberapa gebrakan untuk program ini. Inovasi yang dilakukan adalah dalam satu minggu, terdapat beberapa kegiatan yang berusaha dibiasakan oleh sekolah kepada para siswa.

    Pada hari senin, terdapat kegiatan senin presrasi dan literasi bahasa. Senin Prestasi ditujukan kepada siswa kelas XII dengan melakukan Try Out (TO) rutin untuk persiapan UTBK khusus.
    Kegiatan literasi bahasa dilakukan oleh siswa kelas X dan XII dengan cara berpidato dalam bahasa Inggris setelah upacara bendera. Pada hari selasa sampai dengan hari kamis, terdapat literasi keagamaan. Setiap 15 menit pertama sebelum KBM dimulai, siswa yang beragama Islam melakukan tadarus di kelas, kemudian bagi siswa yang beragama Kristen melakukan kebaktian, sedangkan bagi siswa yang beragama Katolik, Hindu, dan Budha melakukan diskusi bersama di ruang agama masing-masing. Setiap hari jum’at minggu pertama, kegiatan yang dilakukan dibagi menjadi jum’at bersih, jum’at religi, dan jum’at sehat. Setiap jum’at minggu kedua terdapat kegiatan Jum’at Beraksi. Pada minggu pertama, jum’at bersih dilakukan oleh siswa kelas X yang bergotong royong membersihkan sekolah dengan membawa alat-alat kebersihan. Jumat religi dilaksanakan oleh siswa kelas XI dengan mengikuti pengajian di aula sekolah, sementara yang non islam beribadah di ruang ibadah masing-masing. Jum’at sehat ditujukan kepada siswa kelas XII yang melakukan kegiatan senam di lapangan. Seluruh kegiatan yang ada pada hari jum’at minggu pertama tersebut dilakukan secara bergantian atau rolling per angkatan. Kegiatan yang dilakukan pada minggu kedua, yaitu jum’at beraksi dilakukan dengan cara berpendapat kritis melalui tulisan. Siswa kelas XII di instruksikan untuk membaca novel kemudian menulisnya dalam bentuk resensi yang di jilid dan dijadikan buku-buku kumpulan resensi novel. Sedangkan untuk siswa kelas X dan kelas XI membuat jurnal baca dari buku-buku (non pelajaran) yang sudah mereka baca. Seluruh tulisan mereka diberlakukan plagiarism checked untuk menghindari kecurang-kecurangan yang dilakukan oleh siswa. Pemberlakuan plagiarism checked yang dilakukan oleh sekolah bertujuan agar siswa dapat bersikap jujur dan berkompetisi dengan cara yang sehat.

    Sekolah merupakan lembaga pendidikan dengan salah satu tujuannya adalah mensosialisasikan generasi muda menjadi anggota masyarakat untuk dijadikan tempat pembelajaran, mendapatkan pengetahuan, perubahan perilaku, dan penguasaan tata nilai. Dalam pandangan struktural fungsional, masyarakat dilihat sebagai suatu sistem sosial yang terdiri atas unsur-unsur atau elemenelemen yang saling berkaitan. Perubahan yang terjadi pada suatu unsur atau elemen tertentu, akan berdampak pada perubahan unsur atau elemen lainnya. Pandangan ini juga  menekankan pada peran dan fungsi struktur sosial yang menitikberatkan pada konsensus atau kesepakatan bersama dalam masyarakat (Maunah, 2016, p. 159). Begitu halnya ketika sistem zonasi sebagai sebuah sistem yang baru diterapkan dalam dunia pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan seperti SMAN 1 Surakarta yang memiliki struktur organisasi di dalamnya diketahui telah mendapatkan pengaruh atas pemberlakuan sistem zonasi yang berdampak pada beberapa perubahan dan proses adaptasi untuk mempertahankan struktur tersebut. Istilah struktur sosial dalam hal ini digunakan untuk menunjukkan jaringan yang kompleks dalam hubungan sosial (Radcliffe-Brown, 1952, p. 188). Jaringan yang terbentuk dalam struktur manajemen sekolah di SMAN 1 Surakarta tersusun atas berbagai unsur atau elemen yang saling berhubungan dan memiliki keterkaitan. Elemen-elemen tersebut antara lain terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, siswa, serta komite sekolah. Setiap elemen dalam struktur tersebut memiliki peran dan fungsi sesuai dengan statusnya masing-masing. Kepala sekolah dalam hal ini berperan sebagai manajer sekolah yang bertugas untuk mengkoordinasikan seluruh elemen dalam struktur manajemen sekolah agar berjalan dan bekerja sesuai dengan fungsinya, misalnya ketika pemberlakuan sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta mengakibatkan perubahan budaya sekolah dan pola pembelajaran yang ada, maka kepala sekolah sebagai komando bersama dengan wakil kepala sekolah, guru, atau bahkan dapat membentuk hubungan maupun jaringan sosial yang lebih luas kepada komite sekolah serta pihak eksternal untuk menentukan langkah-langkah atau strategi dalam menghadapi perubahan atas pemberlakuan sistem zonasi tersebut. Jika dalam penelitian yang dilakukan oleh Chan, et al. (2019) tentang sistem zonasi mengungkapkan bahwa terdapat dampak positif dan negatif dari sistem zonasi terhadap penerimaan peserta didik baru. Dimana dampak positifnya adalah menghilangkan label sekolah favorit dan non favorit, serta dampak negatifnya adalah sulitnya bagi wali murid untuk mendaftarkan anaknya di sekolah karena pandaftaran yang dilaksanakan secara online, sehingga terkesan rumit. Secara lebih spesifik penelitian ini menunjukkan bahwa sistem zonasi juga berdampak pada perubahan-perubahan yang terjadi di sekolah. Perubahan tersebut meliputi perubahan budaya sekolah dan pola pembelajaran.

    Hasthalaku sebagai salah satu langkah sekolah untuk menghadapi perubahan budaya sekolah muncul karena jaringan kerjasama yang dibangun antara SMAN 1 Surakarta dengan beberapa pihak eksternal seperti Solo Bersimfoni dan Universitas Sebelas Maret. Dalam menjalin kerjasama tersebut, wakil kepala sekolah bidang kehumasan juga berperan penting sebagai gerbang fasilitator yang menghubungkan sekolah dengan pihak eksternal. Jika salah satu elemen atau unsur dalam struktur manajemen sekolah tersebut tidak berfungsi, maka akan mempengaruhi kondisi struktur yang ada secara keseluruhan. Proses penanaman nilai-nilai dalam hasthalaku tidak akan berhasil jika siswa tidak mengetahui dan menerapkan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan seharihari di sekolah. Pembiasaan tentang nilai-nilai dalam hasthalaku yang secara terus menerus dilakukan juga tidak akan bertahan lama jika guru tidak mencerminkan perilaku yang sesuai dengan hasthalaku tersebut. Selain hasthalaku, inovasi yang dilakukan SMAN 1 Surakarta terhadap program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga dapat dilihat sebagai bagian dari strategi sekolah dalam
    mempertahankan budaya sekolah. Budaya dalam pandangan Radcliffe-Brown (1952) dilihat sebagai mekanisme adaptif yang membuat manusia atau elemen-elemen dalam manajemen sekolah mampu menjaga kehidupan sosial sebagai suatu komunitas yang teratur. Mekanisme adaptif yang dilakukan oleh SMAN 1 Surakarta juga berkaitan dengan adanya perubahan pola pembelajaran setelah sistem zonasi diterapkan. Guru mengubah pola pembelajaran dan melakukan adaptasi sesuai dengan kultur kelas dengan masing-masing siswa yang memiliki keberagaman sifat, karakter, dan kemampuan dalam menyerap materi pembelajaran. Hal ini dapat dilihat sebagai fungsi yang dimiliki oleh seseorang dengan status sebagai guru. Guru memiliki peranan yang dimainkan atau kontribusi yang diberikan dalam proses pembelajaran demi keberjalanan struktur tersebut. Berbagai strategi yang dilakukan oleh manajemen sekolah dalam menghadapi pemberlakuan
    sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta tersebut terbentuk berdasarkan konsensus atau kesepakatan bersama dengan elemen-elemen manajemen sekolah yang ada. Konsensus itulah yang mengintegrasikan warga sekolah dalam struktur sosial yang lebih mapan sehingga tercipta keteraturan. Melalui perspektif struktural fungsional, disini kita dapat melihat jika masyarakat dalam suatu struktur sosial mengalami perubahan, maka akan muncul cara atau strategi yang berkembang secara lebih baik untuk mengatasi perubahan tersebut (Maunah, 2016, p. 160).

     

    Ditulis oleh : Ya Shinta Dewi Wahyuni; Nurhadi Nurhadi; Okta Hadi Nurcahyono

    Klik dibawah untuk melihat selengkapnya

    Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan Volume 8, No. 2, September 2020 (124-136)

     

  • Keberagaman Adalah KehendakNya

    Keberagaman Adalah KehendakNya

    Negara harus hadir untuk memberikan rasa tenteram,

    Negara harus hadir untuk membangun kerukunan,

    Negara harus hadir untuk membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    (Ustad Dian Nafi – Pemimpin Ponpes Al Muayyad Surakarta)

    Sudah sebulan yang lalu, tepatnya Sabtu tanggal 8 Agustus 2020, warga Solo merasakan keresahan akibat terjadinya tindakan intoleransi kepada salah satu warganya yang sedang melakukan hajatan. Pelaku dan rombongannya beranggapan bahwa empunya hajatan melakukan perbuatan yang dilarang agama dan tidak sesuai dengan ajaran agama, bahkan dianggap sesat.

    Pemberitaan di media online Kumparan (08/08/2020) menjelaskan bahwa sekelompok massa mendatangi lokasi korban dan memaksa tuan rumah untuk membubarkan acara keluarga tersebut. Sejumlah mobil dirusak, tiga orang terluka akibat pukulan massa dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Miris, mereka melakukan penyerangan sembari meneriakkan takbir dan kalimat yang mengancam nyawa sesama dengan dalih agama. Ironisnya, kejadian ini tidak bisa dihentikan oleh pihak kepolisian. Keluarga yang melakukan hajatan midodareni pun harus membubarkan diri.

    Multikulturalisme di Kota Solo dengan banyaknya suku dan ras yang tinggal di sana menjadikannya khas dan unik, namun masih sering dijumpai tindakan intoleransi seperti kejadian di atas. Peristiwa ini menambah catatan buruk tindakan intoleransi di Indonesia, khususnya Solo, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan Hasthalaku.

    Keberagaman Adalah Anugerah

    Ustad Dian Nafi, pemimpin Ponpes Al Muayyad Surakarta sekaligus penggiat toleransi di Kota Solo beranggapan bahwa peristiwa itu merupakan tindakan intoleran, kekerasan dan penistaan kepada hak sesama warga negara. Baginya, kejadian tersebut merupakan tindakan yang tidak disertai dengan pengetahuan yang cukup alias tindakan yang bodoh, oleh karenanya harus dihentikan.

    Salah satu cara menjadi warga yang baik adalah taat kepada hukum dengan cara yang berkeluhuran dan berkeadilan. “Solo haruslah kita anggap sebagai anugerah Allah. Maka bersyukurlah kita menjadi bagian dari kota Solo, berterima kasihlah kepada Allah dan juga kepada para pendahulu yang memperjuangkan Kota Solo Ini menjadi kota yang baik kita tinggali,” ujar Ustad Dian.

    Kepala Kesbangpol Solo, Indradi, mengatakan bahwa kejadian tersebut tidak seharusnya terjadi.  “Masyarakat diharapkan mengecek dahulu kebenaran sebuah cerita yang beredar dan memicu keresahan. Sehingga bila ada perbedaan pendapat dan pandangan dapat diselesaikan dengan cara yang baik dan bijak, dengan mengedepankan musyawarah mufakat dan menghargai hukum yang berlaku.” Beliau juga berharap seluruh pihak bersama dengan pemerintah untuk selalu menjaga kondisi damai di wilayah Kota Solo.

    Ustad Dian berpesan agar kita semua dapat bersyukur, “Kita berharap anak muda dan masyarakat Solo tidak mudah terpancing emosi dan terutama dapat menjadi penerus yang baik dan menyebarkan kebaikan di masyarakat.”

    Kebersamaan dalam Keberagaman

    Ustad Dian juga menambahkan bahwa kita semua harus belajar mengenai keberagaman, “Kita sering menganggap sesuatu ada sebagaimana ia ada dan tidak menjadikannya menjadi bahan pelajaran. Apa saja yang ada dan berbeda perlu untuk kita pelajari.” Beliau juga mengatakan tentang pentingnya silaturahmi, saling belajar saling mengetahui, yang bertujuan membangun pemahaman dalam keberagaman.

    Masyarakat Kota Solo diharapkan untuk membiasakan diri berpikir jernih, selalu menggunakan akal dan nurani dalam bertindak. Apalagi sebagai warga masyarakat yang sama-sama memiliki hak untuk hidup secara damai dan rukun di Kota Surakarta seharusnya saling menjaga tepa selira. Jangan sampai tindakan intoleransi yang terjadi menjadikan warganya tidak krasan tinggal di Solo karena dirasa tidak bisa mengembangkan diri serta menggali sumber daya untuk kesejahteraan bagi diri sendiri dan sekitar.

    Keberagaman adalah kehendak-Nya. Tidak dapat kita pungkiri adanya fakta bahwa keberagaman adalah nyata dan merupakan bagian dari takdir-Nya. Sebagai manusia yang baik dan berakal budi, tentu sebaiknya kita dapat menerima perbedaan dengan lapang dada. Menghormati perbedaan dengan bersikap hasthalaku yaitu pangerten dan tepa selira menjadikan guyub rukun terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Kebersamaan dalam persamaan merupakan hal yang biasa, sebaliknya kebersamaan dalam keberagaman merupakan hal yang perlu kita pupuk bersama-sama.

    Melihat fakta di atas, Solo Bersimfoni tentu saja mengecam segala tindakan intoleransi yang terjadi khususnya di Kota Solo. Sebagai organisasi yang bergerak dalam isu toleransi, rasanya sangat menyesakkan ketika mendengar salah satu warga Kota Solo mengalami tindakan intoleransi. Kami akan terus mendukung pihak kepolisian dalam mengusut dan menghukum para pelaku sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku di Negara Indonesia.

    Kami juga meminta pemerintah daerah di Soloraya untuk memberikan jaminan perlindungan kepada masyarakat minoritas agar dapat berkegiatan dengan aman dan damai serta mengajak tokoh pemuda, organisasi masyarakat sipil, dan tokoh lintas agama di Soloraya untuk saling berpegangan tangan dalam menjaga dan menggaungkan toleransi di Soloraya agar keharmonisan dalam keberagaman selalu terjaga dan tidak ada peristiwa seperti ini lagi.

    Marilah kita bersama-sama menyebarkan kebaikan dan mengedukasi diri sendiri serta lingkungan agar tidak mudah terpancing dengan berita atau informasi yang belum tentu benar dan jelas asal mulanya. Serta selalu menjaga silaturahmi agar Soloraya menjadi kota yang senantiasa aman dan damai.

     

    Penulis : Tia Brizantiana

  • Belajar Dari Tilik : Gotong Royong Itu Susah

    Belajar Dari Tilik : Gotong Royong Itu Susah

    Banyak hal menarik, paling tidak dari sudut pandang saya, atas viralnya film pendek “Tilik”. Sebuah film yang mengangkat fenomena kearifan lokal masyarakat Jawa (dari tepa selira, ewuh pakewuh, pangerten, lembah manah, andhap asor, guyub rukun, grapyak semanak, dan gotong royong), biasanya terjadi di pedesaan, pada umumnya. Tilik adalah kebiasaan berbondong-bondong menengok tetangga sakit yang dirawat di rumah sakit, dengan bersama-sama urunan menyewa mobil untuk pergi bersama.

    Sutradara film ini berhasil mengacak-acak perasaan dan emosi penontonnya. Wahyu Agung Prasetyo, sutradara film ini, sukses membuat karya dengan skenario plot twist yang menaikkan adrenalin dan kemudian mencabiknya dalam hitungan detik saja diakhir cerita. Film ini menceritakan dengan sangat nyata tentang realita sosial yang sering kali muncul di masyarakat bahwa dalam sebuah kelompok sosial ada orang-orang yang berbagi peran sesuai kapasitasnya. Ada tukang kompor-yang memulai pembicaraan-, ada biang gosip-yang darinya muncul berbagai asumsi, persepsi dan narasi-, tak lupa peran waton suloyo, sok alim, blak-blakan, sampai pahlawan kesiangan-yang sering kadang blunder juga-. Dalam film ini, Bu Tejo (diperankan oleh Siti Fauziah) dimunculkan sebagai center of gravity untuk menunjukkan beberapa satir yang lekat dalam kehidupan kita sehari-hari.

    • Ghibah
      Atau disebut rasan-rasan dalam bahasa Jawa. Banyak orang senang melakukan hal satu ini. Biasanya yang menjadi bahan ghibah adalah isu-isu up to date tentu saja disertai bumbu penyedap layaknya micin dengan takaran yang lebih banyak  daripada faktanya. Perilaku julid, kepo, nyinyir berjamaah menjadikan gossip-
      digosok makin sip- ini menjadi semakin renyah dan menyenangkan jika dibawakan oleh sumber yang kredibel, baik secara intelektual ataupun sosial. Prinsip mana hadap juga diterapkan dalam penyampaiannya, tidak peduli waktu, tempat dan suasana. Asal ada umpan lezat, langsung saja disamber dengan cepat.
    • Internet
      Menurut kabar pesbuk, menurut sher-sheran wasap, menurut yutub. Ketiga hal ini seolah-olah telah menjadi rujukan utama sebuah kebenaran. Pesan moral yang ingin disampaikan film ini adalah sikap untuk selalu waspada dan melek terhadap informasi yang bersliweran dan tak jelas juntrungannya. Dengan kata lain, literasi informasinya harus baik supaya tidak menjadi hoaks.
    • Korupsi
      Penyuapan menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 1980 dinyatakan sebagai,tindakan “memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang
      menyangkut kepentingan umum”; juga “menerima sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum”. Salah satu adegan dalam film ini memberikan kritik sosial dengan menceritakan bagaimana korupsi level embyeh-embyeh yang jamak dan sering kali ditemui pada setiap perhelatan pemilihan umum kepala daerah dengan level terendah sampai tertinggi sekalipun.
    • Intimidasi
      Pungutan, pajak, retribusi, denda dan sejenisnya adalah hal yang sangat sulit untuk diikhlaskan bagi sebagian masyarakat. Diperlukan kebesaran hati untuk menerima kenyataan bahwa kita wajib membayar semua hal itu, atas tindakan dan atau kepemilikan kita. Hla sayangnya, beberapa orang melakukan tindakan dengan berbagai cara untuk menghindari kewajiban ini. Film Tilik bisa menggambarkan bagaimana ‘ganasnya’ Bu Tejo yang rela nyokot pak Polisi jika harus kena tilang. Dalam hal ini ancaman verbal dan non-verbal menjadi senjata ampuh.
    • Simplifikasi
      Menggampangkan. Penggunaan moda angkutan yang tidak pada peruntukannya. Yang menjadi hal unik dalam film ini adalah penggunaan truk sebagai moda transportasi. Kenapa pakai truk..? Sesederhana ya karena tidak ada mobil lain yang bisa ngangkut orang sebanyak itu, dan juga diceritakan bahwa semua bis sewaan full karena dadakan. Sering kali kita lihat dijalan bagaimana moda transportasi yang secara keamanan dan ijinnya melenceng. Misalnya mobil bak terbuka seperti truk atau pick-up bahkan sepur kelinci acap kali digunakan sebagai moda angkutan massa. Prinsipnya, sing penting guyub, dan tahu kabar dari sang sakit dengan mata
      kepala sendiri. Sekaligus piknik tipis-tipis.
    • Seksis
      Wanita di berbagai kalangan sering dilihat sebagai sosok yang mengutamakan 3B (Brain, Behavior and Beauty), akan tetapi B yang terakhir lah yang paling sering dijadikan referensi utama. Sampai Gotrek saja bilang kalau Dian yang maju nyalon lurah, pasti semua bapak-bapak milih dia. Pun demikian sesama perempuan, mengakui bahwa kecantikan Dian menjadi ancaman bagi pasangan mereka.
    • Gotong royong itu susah
      Ringan sama dijinjing, Berat sama dipikul. Mobil mogok silakan didorong sendiri. Tentu saja untuk sesuatu yang dirasakan bukan menjadi tupoksinya. Sekali lagi pada adegan ini Bu Tejo berhasil melengkapi diri sebagai tokoh antagonis yang paripurna. Disaat orang-orang sibuk mendorong truk yang mogok, Bu Tejo bersedekap dengan santai melenggang kangkung, tentu saja ditemani Bu Tri yang berperan sebagai tukang nambah-nambahi panas.

    Terlepas dari segala macam kontroversi yang muncul. Film pendek ini adalah cerminan dari kehidupan sehari-hari kita. Diperlukan pikiran terbuka dan lapang dada untuk mengkomentarinya. Setiap orang dan netizen yang budiman dan maha benar pun memiliki sudut pandang berdasarkan pengalaman dan pengatahuan yang berbeda

    Jadi bagaimana dengan kita..? Apakah kita sudah berhastha laku..?

     

    Penulis : Khresna Bayu Sangka

     

  • Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya

    Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya

    Oleh: M Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni

    Social distancing sampai kapan?

    Anda terus mendengar orang-orang mengatakan social distancing atau jarak sosial, tetapi apa artinya itu? Jangan berharap itu menjadi istilah yang hilang dalam waktu dekat. Pikirkan itu lebih seperti physical distancing atau jarak fisik. Dalam bentuk yang paling sederhana, menjauhkan sosial, berarti menjaga jarak yang aman antara Anda dan orang-orang di sekitar Anda. WHO mengatakan ini adalah salah satu cara efektif yang membantu memperlambat penyebaran COVID-19 dan mengontrol kapasitas medis dan rumah sakit.

    Tidak percaya? coba pertimbangkan kasus ini, ketika virus H1N1 mulai menyebar di Meksiko, pemerintah menutup sekolah dan merekomendasikan jarak sosial. The National Institute of Health menyebutkan bahwa langkah-langkah ini bisa memotong tingkat penularan sebesar 37 persen dan membantu rumah sakit menangani volume pasien sedikit lebih mudah. Tidak meyakinkan?  ini contoh lain di Amerika, Kota St. Louis memberlakukan beberapa langkah jarak sosial pada tahun 1918 setelah Perang Dunia Pertama untuk mencegah penyebaran influenza (flu, keluarga virus yang berbeda dari COVID-19) yang menutup sekolah, gereja, dan teater, sama seperti yang kita lakukan sekarang. Tercatat 1700 orang meninggal karena flu di St. Louis. Sedangkan Philadelphia tidak memaksakan tindakan yang sama pada saat itu, dan jumlah korban meninggal mencapai 16.000 orang. Tim medis dan rumah sakit di Philadelpia pada saat itu melaporkan bahwa mereka tidak dapat menampung semua pasien.

    Nah, terkait pencegahan penularan COVID-19, beberapa kepala daerah mengambil preventif untuk mengatur warganya. Walikota Surakarta Fx Hadi Rudyatmo sendiri memperpanjang status Kejadian Luar Biasa (KLB) COVID-19 hingga 13 April 2020 mendatang. Bahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menetapkan status tanggap darurat bencana COVID-19 untuk provinsi Jawa Tengah hingga 29 Mei 2020. Artinya bahwa masih cukup lama masyarakat harus bersabar dan menahan diri tidak keluar rumah, mengontrol anak-anak tetap di rumah, membatasi pergerakan sosial semua orang, baik di tempat-tempat peribadatan, kegiatan hajatan, pertemuan komunitas dan sebagainya. Bahkan Kapolri telah memberikan larangan yang berdampak penghentian paksa kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang. Ini semua akan membantu membatasi penyebaran COVID-19 dan mengendalikan kapasitas medis dan rumah sakit dalam menangani pasien.

    Tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan penularan COVID-19 di Indonesia ini akan terkendali. Prof. Dr. Sutanto Sastraredja, DEA pakar matematika UNS dalam channel YouTube memberi pernyataan mengejutkan setelah melakukan simulasi menggunakan persamaan deferensial matematika berdasarkan kecepatan bertambahnya kasus COVID-19 di Indonesia selama ini. Menurutnya, COVID-19 diprediksi bisa hilang di Indonesia pada 10 Juni 2020 asalkan pemerintah mau melakukan karantina total atau lockdown, namun jika tidak, Indonesia bisa jatuh dalam fase di mana penyebaran COVID-19 sulit dikendalikan setelah 10 Juni 2020. Disamping itu, saat ini juga ada yang menggambarkan situasinya dimana Indonesia seperti mangkok raksasa yang di dalamnya terdapat banyak orang sehat yang terus bergerak dan mereka bercampur dengan orang terinfeksi COVID-19 dan hindden carrier yang belum sempat dikarantina. Akibatnya bisa saja prediksi dan simulasi matematis Prof Dr Sutanto akan terjadi. 

    Menjaga Kurva Landai

    Seperti diketahui, tenaga medis merupakan garda terdepan dalam penanganan COVID-19. Resiko besar sepanjang waktu berada di hadapan mereka. Semua pasien yang memeriksakan kesehatannya memiliki resiko menularkan, baik sebagai pasien terinfeksi maupun sebagai hidden carrier COVID-19. Mengutip akun instagram @ikatandokterindonesia, sampai saat ini diketahui 10 dokter telah meninggal di tengah pandemi yang melanda Indonesia. Beberapa karena terpapar, namun terdapat juga yang meninggal karena kelelahan dengan perjuangannya. Kondisi tenaga medis yang kewalahan dan alat perlindungan yang sangat kurang bukan rahasia lagi. Ini membuat para tenaga medis baik dokter, perawat, penyuluh, yang berada di garda terdepan berisiko terpapar COVID-19 dan membuat tenaga semakin terbatas.

    Dalam situasi seperti ini, kita berharap tim medis dan rumah sakit dalam kondisi tetap prima. Masyarakat ikut berpartisipasi menekan penularan COVID-19 dan tetap berada dalam kemampuan pengelolaan tim medis/rumah sakit.

    Perhatikan garis horizontal yang merupakan kapasitas rumah sakit dan tenaga medis, jika jumlah kasus melebihi kemampuan tenaga medis/rumah sakit, maka pasien akan bertebaran di luar sana. Nah, bayangkan jika pasien rumah sakit tidak terkendali, jumlahnya melebihi kapasitas tim medis dan rumah sakit, maka akan banyak di temukan pasien terlantar dan tidak diisolasi, mereka berada di luar sana, menularkan kepada orang yang sehat karena interaksi yang tidak terkontrol.

    Sistem layanan kesehatan memiliki kapasitas maksimal, seperti kapasitas ICU, kapasitas IGD, jumlah dokter, perawat dan tim medis lainnya. Terlihat pada berbagai pengalaman kasus di seluruh dunia, tanpa langkah-langkah pembatasan dan pengendalian, kasus positif yang memerlukan penanganan intensif dapat melebihi kapasitas sistem layanan kesehatan. Ketika sistem layanan kesehatan terbebani di luar kapasitas kondisi pasien akan memburuk dan dapat menyebabkan tingkat kematian naik.

    Keterlambatan melakukan langkah-langkah pembatasan dini juga dapat menurunkan kapasitas system layanan kesehatan. Hal ini terjadi saat para petugas kesehatan tidak dapat bekerja karena ikut tertular penyakit atau karena kelelahan.  Maka menjadi sangat penting untuk menahan kurva jumlah pasien terpapar agar tetap selandai mungkin. Semakin awal dan ketat pembatasan social distancing dilakukan maka kasus akan semakin terdistribusikan dan kurva semakin landai, sehingga tidak membuat lebih banyak orang gagal mendapatkan perawatan yang diperlukan.

    Dukung Mengamankan Kapasitas Medis

    Masyarakat tidak sulit berpartisipasi aktif memberikan dukungan kepada tim medis dan Rumah Sakit agar tetap bisa melandaikan kurva aman. Cukup tinggal di rumah dan ikuti anjuran pemerintah, social distancing/physical distancing, WFH, cuci tangan, makan makanan yang sehat, berjemur selama 15 menit pada jam 10.00 wib dan menjaga jarak sosial. Semudah itukah? Ternyata nggak mudah juga. Sebagian masyarakat kita bandel, tetap beraktifitas seperti biasa dan meremehkan situasi ini karena alasan jenuh dan bosan di rumah.

    Kita semua diminta untuk bersabar menghadapi situasi yang dianggap jenuh dan membosankan ini. Coba sedikit saya kasih gambaran kejadian nyata. Kisah 33 orang penambang yang terisolasi 700 m di bawah tanah selama 69 hari. Kisahnya difilmkan dan masih bisa ditonton gratis di channel youtube ada subtitle Indonesia dengan judul “The 33”. Saat runtuhnya tambang tembaga-emas San José dekat Copiapó, Chili, pada 5 Agustus 2010, praktis mengisolasi 33 pria di bawah tanah. Para penambang terjebak di kedalaman 700 meter (2300 ft) dan berjarak 5 kilometer (3 mil) dari pintu masuk tambang, mengikuti putaran dan belokan menuju pintu masuk tambang. Terisolasi di bawah tanah selama 69 hari, mereka berada dalam situasi yang benar-benar kritis, tidak memiliki sumber pangan yang cukup, tidak mempunyai akses, satu-satunya jalur telah tambang tertutup batu besar yang jatuh. Dan yang terjadi, 33 penambang ini bisa selamat dan dibawa ke permukaan pada 13 Oktober 2010.

    Kisah dramatis tersebut, tentu berbeda jauh dengan kondisi social distancing kita saat ini. Mereka bisa selamat karena sadar dan disiplin berbagi tugas, mengelola logistik yang amat terbatas, membuat program sanitasi, dan lain sebagainya, nyatanya berhasil. Sedangkan kita masih mengeluh dengan jenuh dan bosan ditengah semua kenyamanan yang dimiliki, masih tersedia fasilitas logistik di dapur, memiliki kuota internet untuk mengakses semua informasi dunia luar, hiburan televisi banyak channel, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Setidaknya bagi mereka yang sejatinya benar-benar bisa tetap berada di rumah dan tidak ada yang memaksanya keluar rumah. Situasi social distancing saat ini agak lebih mudah daripada 33 penambang yang dipaksa terisolasi selama 69 hari di kedalaman 700 meter.

    Mari kita lakukan apa yang diperintahkan oleh pemerintah, oleh para pakar kesehatan, oleh petugas keamanan. Perintahnya sederhana, yaitu social distancing atau menjaga jarak sosial, tetap berada di rumah, mencuci tangan, meningkatkan sistem imunitas tubuh dengan makan sehat, olahraga di rumah, berjemur dan work from home sebagainya. Ini hal penting sekali. Sekali lagi, ini bukan lagi masalah politik, saat ini cuma soal kesehatan dan kemanusiaan.

    Tulisan ini pernah dimuat di harian Solopos pada tanggal 11 April 2020 dengan judul “Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya”

  • Hasthalaku Di Rumah Aja

    Hasthalaku Di Rumah Aja

    Tantangan terbesar bagi orang yang terbiasa beraktivitas di luar rumah seperti pekerja dan pelajar adalah harus berlama-lama di rumah. Tidak boleh keluar, interaksi fisik dan sosial yang dibatasi – hanya dengan lingkup terkecil kita. Keluarga. Hal yang lebih menantang adalah ketika harus bekerja atau menyelesaikan tugas berbarengan dengan momong anak, bersih-bersih rumah, atau berbagi laptop atau rebutan koneksi internet dengan kakak/adik. Jika tidak dikelola dengan baik, berdamai dengan keadaan dan menjaga kewarasan, bukan tidak mungkin manusia kembali menjadi homo homini lupus – manusia adalah mangsa manusia yang lain.

     

    “Manusia itu adalah apa yang bersiapa dan siapa yang berapa”. Ke-siapa-an manusia diuraikan dalam rumusannya “manusia adalah makluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya”. […] manusia sebagai subjek atau persona yang sadar. Tanpa kesadaran manusia tidak mampu berhadapan dengan dirinya sendiri, apalagi menyadari berada dalam dunia” (Prof. Dr. N. Drijarkara, Percikan Filsafat, 1978).

     

    Bukankah homo homini socius – manusia yang berguna bagi manusia yang lain sebagai makhluk sosial berkedudukan jauh lebih baik dimata semua agama, suku, dan golongan? Menjadikan manusia sebagai manusia sebagaimana adanya dalam tatanan Jawa disebut dengan nguwongke uwong. Budaya Jawa mengenal pepatah rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah yang berarti bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmonisasi antar sesama.

     

    Hasthalaku merupakan generalisasi beberapa nilai budaya Jawa yang sangat erat dengan kehidupan saat ini. Demikian juga pada masa-masa berat ini. Pandemi COVID-19 dapat memberikan peluang bagi kita untuk belajar berbagai hal baru atau lama yang dapat dilakukan dari rumah dengan orang-orang terdekat kita. Memulai dari hal-hal kecil. Saling memahami peran anggota keluarga, membagi waktu antara pekerjaan kantor atau sekolah dengan pekerjaan rumah tangga. Memanfaatkan waktu untuk bercerita dan bercengkerama, lepas dari gawai yang menghubungkan dunia maya. Dan lain sebagainya.

     

    Demikian juga kegiatan penggalangan dana (fundraising) secara online untuk membantu pengadaan alat pelindung diri (APD) misalnya, merupakan istilah modern yang menggunakan konsep gotong royong sebagai kristalisasi nilai hasthalaku. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia merupakan bentuk solidaritas sosial. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang didalamnya kaya akan nilai edukatif. Tak ayal, survey yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia merupakan sebuah keniscayaan. Urip Iku Urup (Hidup itu adalah nyala, manuisa hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitarnya)

     

    Maka dari itu sangat penting untuk dapat tepa selira, saling menghargai serta memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah oleh adanya perbedaan-perbedaan, tidak termakan berita bohong atau hoaks. Dengan selalu mencari tahu kebenaran dan keabsahan berita sebelum kita sebar-luaskan kembali. Saring sebelum Sharing, karena Sharing is Caring.

     

    Sikap saling menghargai, saling pengertian, saling sapa, saling bantu, dan saling menghormati seperti yang ada pada hasthalaku yang dimulai dari rumah ini, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dikembangkan dan dilaksanakan secara kontinyu kan membawa kerukunan, ketenangan, dan perdamaian dimulai dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Dengan kata lain, selama manusia hidup di dunia haruslah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan benci. Memayu hayuning bawana, ambrastha dur angkara.

     

    Penulis: Khresna Bayu Sangka