Tag: solo bersimfoni

  • Pembiasaan dan Teladan di SMAN 3 Sragen; Membangun Sekolah Berkarakter Melalui Program Adipangastuti

    Pembiasaan dan Teladan di SMAN 3 Sragen; Membangun Sekolah Berkarakter Melalui Program Adipangastuti

    SMAN 3 Sragen mulai mengimplementasikan Program Sekolah Adipangastuti sejak tahun 2020. Menurut Ibu Atik Dwi Kurniasih, Waka Kesiswaan dan PJ Sekolah Adipangastuti, program ini tidak serta-merta berjalan mulus di awal. Namun, berkat komitmen seluruh elemen sekolah, dari guru, siswa, hingga kepala sekolah, Program Adipangastuti perlahan menunjukkan hasil nyata. Fokus utama dari program ini adalah membentuk karakter siswa melalui pembiasaan dan teladan. Hal ini diceritakan beliau dalam kegiatan Sebar Kawruh #3 pada Jumat, 26 September 2025 pukul 09.00 WIB secara online melalui zoom meeting.

    Sebar Kawruh merupakan program Solo Bersimfoni yang bertujuan untuk berbagi praktik baik implementasi Sekolah Adipangastuti yang dapat digunakan sebagai studi tiru pelaksanaan di sekolah lain. Sejumlah 39 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru dan siswa Sekolah Adipangastuti hadir secara online dalam kegiatan ini.

    Sebar Kawruh #3 kali ini dibuka oleh Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H.. Beliau menyampaikan bahwa Sebar Kawruh ini bertujuan untuk menghadirkan harmoni antara pendidikan, nilai budaya dan penguatan karakter bangsa. Harapannya, gaung Sekolah Adipangastuti selalu menggema, tak hanya di awal tapi selalu konsisten dan berkesinambungan.

    Ibu Atik menceritakan, selama pelaksanaan Program Adipangastuti, SMAN 3 Sragen melakukan internalisasi nilai hasthalaku dalam pembelajaran dan pembiasaan, serta membuat kegiatan siswa dalam hal pencegahan bullying, pencegahan intoleransi, serta pencegahan tindakan kekerasan di satuan pendidikan. Seperti halnya sekolah lain, SMAN 3 Sragen juga membuat branding hasthalaku di ruang kelas, ruang guru serta lingkungan sekolah.

    Praktik Baik dalam Pembelajaran

    Salah satu hasil langsung adalah dibuatnya lagu sekolah Adi Pangastuti oleh guru yang dinyanyikan oleh siswa. Hal ini menjadi Istimewa karena tidak ada mata pelajaran seni musik di sekolah. Kegiatan pembelajaran berpikir kritis yang sudah dilakukan adalah FGD Penguatan Implementasi Nilai-Nilai Hasthalaku Dalam Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme di SMAN 3 Sragen dengan melibatkan siswa, guru serta orang tua/wali murid, Rapat Koordinasi OSIS dan MPK membahas implementasi nilai-nilai hasthalaku di lingkungan sekolah, penyusunan rencana kerja OSIS bidang jurnalistik dalam sosalisasi nilai-nilai hasthalaku bagi warga sekolah melalui berbagai macam media, diskusi siswa mempersiapkan gelar karya P5 dengan tema “Bhineka Tunggal Ika”, dan Kegiatan Gelar Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tema “Bhineka Tunggal Ika”.

    Selain itu, SMAN 3 Sragen secara konsisten mendapatkan penghargaan terkait literasi saat pelaksanaan Sekolah Adipangastuti, yang pertama adalah mendapatkan penghargaan Capaian Literasi Terbaik Sekolah Adipangastuti se Jawa Tengah tahun 2023 dan Juara 2 Lomba Artikel Adipangastuti Award 2024 se Jawa Tengah. Projek literasi yang dilakukan sekolah adalah mading dengan konten hasthalaku dan profil pelajar Pancasila, serta pembuatan buku antologi.

    Keberhasilan program ini tidak lepas dari kerja sama yang baik dengan berbagai pihak eksternal. Selain dengan Solo Bersimfoni, SMAN 3 Sragen juga menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah, yaitu Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sragen untuk memberikan materi cakap digital dengan tema cerdas dan bijak ber media sosial kepada anggota OSIS dan tim jurnalistik sekolah.

    Rencana Ke Depan: Menguatkan dan Mengembangkan

    Melihat dampak positif yang dirasakan, SMAN 3 Sragen berkomitmen untuk terus mengembangkan Program Sekolah Adipangastuti. Rencana jangka panjangnya adalah mencetak generasi unggul; bagaimana sekolah adipangastut dapat menghidupkan nilai hasthalaku. Beberapa kuncinya adalah (1) kolaboratif, bukan individualis, (2) empatik, bukan apatis, (3) rendah hati, bukan arogan, (4) toleran, b bukan ekslusif, dan (5) menjadi solusi, bukan sumber masalah. Kelima hal ini dimasukkan dalam kegiatan yg direncanakan seperti integrasi dalam kurikulum dan pembelajaran di kelas, pembiasaan dalam interaksi sehari-hari, serta kokurikuler sebagai laboratorium karakter.

    Program Sekolah Adipangastuti di SMAN 3 Sragen adalah bukti nyata bahwa pendidikan karakter dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dan berdampak. Dengan dukungan seluruh warga sekolah, komunitas, dan stakeholder, SMAN 3 Sragen terus melangkah menjadi sekolah yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga bijak dalam nilai dan tindakan.

  • Solo Bersimfoni Audiensi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah: Sinergi Penguatan Karakter melalui Program Sekolah Adipangastuti

    Solo Bersimfoni Audiensi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah: Sinergi Penguatan Karakter melalui Program Sekolah Adipangastuti

    Semarang, 2 September 2025 — Solo Bersimfoni melakukan audiensi resmi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah (Disdikbud Jateng), untuk menyampaikan laporan pelaksanaan program, serta menjajaki kolaborasi lebih lanjut dalam penguatan karakter dan perlindungan peserta didik melalui Program Sekolah Adipangastuti. Kegiatan ini dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) melalui program Bridging Fund.

    Kegiatan audiensi ini berlangsung di Aula C kantor Disdikbud Jateng dan diterima oleh Bidang Pembinaan Kebudayaan dan Bidang Pembinaan SMA beserta timnya. Dalam kesempatan ini, Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., dan Diektur Program Solo Bersimfoni, Prof. Agung Nur Probohudono, Ph.D., memaparkan kiprah lembaga dalam mendampingi sekolah-sekolah di Jawa Tengah sejak 2019, khususnya dalam isu-isu strategis seperti pencegahan kekerasan di sekolah, pengembangan karakter siswa, penguatan nilai keberagaman, serta pembangunan budaya sekolah yang ramah dan inklusif.

    Pelaporan dan Rencana Kolaborasi

    Solo Bersimfoni menyampaikan berbagai capaian program sampai akhir 2025, mulai dari implementasi Program Sekolah Adipangastuti di 67 Sekolah Menengah di Jawa Tengah dan beberapa advokasi kebijakan kepemudaan di tingkat kota sampai provinsi. Selain itu, Solo Bersimfoni juga menyampaikan program yang akan dilakukan sampai akhir tahun 2025 terkait pelaksanaan Program Sekolah Adipangastuti hingga pelatihan Duta Sekolah Adipangastuti sebagai kepanjangan tangan menyebarkan hasthalaku di lingkungan sekolah. Solo Bersimfoni juga menekankan pentingnya pendekatan yang partisipatif dan berbasis komunitas sekolah, agar program tidak hanya bersifat simbolis, tetapi menyentuh keseharian peserta didik dan tenaga pendidik.

    Sebagai tindak lanjut program, Solo Bersimfoni mengajukan dua inisiatif utama yang memerlukan dukungan Dinas:

    1. Pelatihan TPPK (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan) di sekolah-sekolah Adipangastuti se-Jawa Tengah, untuk memperkuat kapasitas tim dalam mencegah, menangani, dan melaporkan kekerasan di lingkungan sekolah secara efektif.
    2. Program “Sebar Kawruh Sekolah Adipangastuti”, yang akan menjadi ajang pembelajaran dan inspirasi bagi siswa dan guru, serta menghadirkan Kepala Dinas sebagai narasumber utama untuk memberikan materi tentang “Pembentukan Karakter Pelajar Jawa Tengah yang Berbudaya dan Berintegritas.”

    Dukungan dan Harapan

    Menanggapi pemaparan tersebut, Sulistiono, S.Sn., Subkor Sejarah dan Tradisi Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Jateng memberikan apresiasi atas konsistensi dan kepedulian Solo Bersimfoni dalam mendampingi sekolah-sekolah di Jawa Tengah, khususnya dalam isu-isu yang sering kali dianggap sensitif namun sangat penting untuk ditangani bersama.

    Beliau memaparkan kegiatan Bidang Pembinaan Kebudayaan yang bisa dikolaborasikan dengan Solo Bersimfoni di semester akhir 2025, seperti penanaman watak dan budi pekerti sejak dini, napak tilas mengikuti jejak kepahlawanan, kemah budaya, serta gelar budaya. Semua kegiatan ini berkaitan dengan pembentukan karakter siswa.
    Sumaryati, S.E., M.Si., analis peserta didik yang mewakili Bidang Pembinaan SMA, juga menyampaikan terima kasih dan dukungannya terhadap program Solo Bersimfoni, baik yang sudah dilakukan maupun yang sedang direncanakan. Selain itu, beliau menyampaikan tentang kegiatan Bidang Pembinaan SMA yang terkait dengan pengembangan karakter dan bisa dikolaborasikan dengan Solo Bersimfoni, seperti In House Training (IHT) Pendidikan Karakter dan Musyawarah Kerja Forum OSIS Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah.

    Penutup

    Audiensi ini menjadi langkah strategisdalam memperkuat kolaborasi antara lembaga masyarakat dan pemerintah daerah, khususnya dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi dan berkarakter. Solo Bersimfoni dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah sepakat untuk terus menjalin komunikasi dan mempersiapkan agenda bersama yang berdampak luas dan berkelanjutan.

    “Dengan Sekolah Adipangastuti, harapannya siswa tidak hanya lulus dengan nilai yang baik, tetapi juga bisa menjadi agen perubahan melalui karakter hasthalaku,” – Prof Agung Nur Probohudono, Ph.D.

  • SMAN 1 Surakarta Teguhkan Komitmen Sekolah Adipangastuti lewat “Smansa Berbhineka” bersama Solo Bersimfoni

    SMAN 1 Surakarta Teguhkan Komitmen Sekolah Adipangastuti lewat “Smansa Berbhineka” bersama Solo Bersimfoni

    Surakarta, 28 Agustus 2025 — SMAN 1 Surakarta kembali mengukuhkan komitmennya sebagai Sekolah Adipangastuti dalam kegiatan kokurikuler bertema “Smansa Berbhineka: Penguatan Konsep Keberagaman” yang digelar pada Kamis, 28 Agustus 2025, bertempat di aula sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan menjadi bagian dari rangkaian program penguatan budaya sekolah yang ramah, inklusif, dan berkarakter. Kegiatan ini merupakan dukungan dari Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) melalui program Bridging Fund.

    Dalam kegiatan ini, Solo Bersimfoni kembali dipercaya sebagai narasumber utama. Kolaborasi antara SMAN 1 Surakarta dan Solo Bersimfoni bukanlah hal baru. Lembaga ini telah rutin diundang dalam berbagai kegiatan sekolah, termasuk pada masa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dilaksanakan pada awal tahun ajaran 2025/2026. Kehadiran mereka membawa perspektif yang kuat tentang keberagaman, toleransi, dan upaya pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah.

    Sebagai salah satu sekolah pertama di Jawa Tengah yang menyandang predikat Sekolah Adipangastuti sejak tahun 2019, SMAN 1 Surakarta konsisten menanamkan nilai-nilai hasthalaku yaitu gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor, dan tepa selira. Tema “Smansa Berbhineka” kali ini menjadi penegas bahwa keberagaman bukan hanya dihargai, tetapi juga dirayakan sebagai kekuatan bersama. Kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan kokurikuler untuk kelas X di SMAN 1 Surakarta.

    Kepala SMAN 1 Surakarta yang baru, Dra. Rosa Herawati, M.Pd., yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Tegal yang juga sebagai Sekolah Adipangastuti sejak 2024, menyampaikan bahwa ia membawa semangat keberlanjutan dan inovasi dalam implementasi nilai-nilai Hasthalaku di lingkungan SMAN 1 Surakarta, terutama sebagai pembentukan karakter siswa.

    “Tujuan kegiatan ini sebagai upaya penguatan karakter anak-anak kita, yang sesuai dengan visi dan misi sekolah kami salah satunya adalah berbudi luhur. Dengan kegiatan ini diharapkan anak-anak bisa memahami keberagaman, sehingga mereka bisa menempatkan diri dan bertoleransi di lingkungannya,” ungkap beliau.

    Penguatan Konsep dan Implementasi

    Materi IHT disampaikan dengan pendekatan partisipatif, mengajak siswa untuk berdiskusi, bermain peran, dan merefleksikan nilai-nilai kebhinekaan dalam kehidupan sehari-hari. Solo Bersimfoni membimbing siswa memahami bagaimana stereotip, prasangka, dan diskriminasi bisa muncul, serta bagaimana membangun budaya inklusif di ruang-ruang kelas dan pergaulan.

    Beberapa program Sekolah Adipangastuti yang sudah dilakukan sampai saat ini adalah:

    • Pendidikan Penguatan Karakter dan Gerakan Literasi Sekolah (PPKGLS). Kegiatan ini mengundang narasumber internal dan eksternal.
    • Sapa Anak Setiap Pagi. Bapak/Ibu guru diberi jadwal setiap pagi untuk menyapa anak-anak di gerbang sekolah. Kegiatan ini merupakan bagian dari program 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun).
    • Kegiatan Keagamaan yang dilakukan berbarengan pada minggu pertama setiap bulan, dengan jadwal yang tidak selalu sama selama dua jam pelajaran.
    • Gerakan Digitalisasi Pembelajaran. Siswa dan Guru mendapatkan pembekalan terkait digitalisasi sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, juga diberikan pelatihan tentang pembuatan konten agar semakin banyak praktik baik yang tersebar melalui dunia digital.

    Keberlanjutan dan Harapan

    SMAN 1 Surakarta berkomitmen untuk terus menjadikan nilai-nilai Hasthalaku sebagai nafas dari seluruh aktivitas pendidikan. Dengan kepemimpinan baru dan jejaring kerja sama yang kuat, termasuk bersama Solo Bersimfoni, sekolah berharap bisa menjadi model dalam pengelolaan keberagaman dan pembentukan karakter siswa.

    “Harapan saya, pelaksanaan Sekolah Adipangastuti di SMAN 1 Surakarta sebagai upaya untuk mewujudkan misi sekolah yang tidak hanya menjadi jargon tetapi juga bisa tercapai dengan nyata. Pembentukan karakter menjadi penting sebagai bekal masa depan anak-anak,” ungkap Kepala Sekolah.

  • IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Randublatung: Wujud Nyata Komitmen Sekolah dalam Pembentukan Karakter Hasthalaku

    IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Randublatung: Wujud Nyata Komitmen Sekolah dalam Pembentukan Karakter Hasthalaku

    RandublatRandublatung, 26 Agustus 2025 — SMAN 1 Randublatung kembali menunjukkan komitmennya sebagai Sekolah Adipangastuti dengan menggelar In House Training (IHT) bertema “Penguatan Nilai-Nilai Hasthalaku dan Pengimbasan Pembelajaran Mendalam” yang dilaksanakan di lapangan dan aula sekolah. Kegiatan ini dilakukan dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) dalam periode Bridging Fund.

    Kegiatan ini terbagi menjadi dua, yang pertama pemaparan materi hasthalaku kepada seluruh siswa di lapangan, dan yang kedua pemaparan tentang Sekolah Adipangastuti kepada seluruh guru SMAN 1 Randublatung. Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, dan Kepala SMAN 1 Randublatung, Ibu Siti Hamamatul Mar’ati, S.Si. Kehadiran Solo Bersimfoni sebagai narasumber menjadi momen penting karena merupakan kali Solo Bersimfoni diundang secara resmi oleh sekolah sejak SMAN 1 Randublatung ditetapkan sebagai Sekolah Adipangastuti pada tahun 2024 di hadapan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

    Kepala SMAN 1 Randublatung, menyampaikan bahwa IHT ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk mengimplementasikan nilai-nilai hasthalaku dalam Sekolah Adipangastuti secara menyeluruh, tidak hanya dalam pembelajaran, namun juga dalam budaya dan keseharian warga sekolah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengimplementasikan nilai hasthalaku sebagai penguatan karakter yang menjadi poin penting dalam pembelajaran mendalam.

    “Pembentukan karakter menjadi hal yang utama dalam pembelajaran mendalam, dengan penguatan nilai hasthalaku kepada bapak/ibu guru dan juga siswa, harapannya karakter hasthalaku itu terbentuk dan bisa diimbaskan ke ruang kelas saat pembelajaran mendalam,” ujar beliau.

    Rencana dan Implementasi

    Sebagai bagian dari tindak lanjut program Adipangastuti, SMAN 1 Randublatung telah menyusun berbagai rencana aksi, di antaranya:

    • Pembentukan Tim Penanganan Kekerasan di Sekolah untuk mencegah baik sebelum terjadi atau pengulangan kekerasan di kalangan siswa.
    • Pemberian pemahaman mengenai Sekolah Adipangastuti serta nilai hasthalaku ke sekolah sekitar SMAN 1 Randublatung.
    • Pembentukan Tim Sekolah Adipangastuti yang melibatkan siswa, dan guru.
    • Pembuatan Tulisan dan Puisi bertema Hasthalaku

    Kegiatan IHT kali ini menjadi awal dari rangkaian pelatihan dan pendampingan yang akan dilakukan sepanjang tahun ajaran 2025/2026.

    Keberlanjutan dan Harapan

    SMAN 1 Randublatung berkomitmen menjaga keberlanjutan program Adipangastuti dengan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sekolah sekitar, serta memperkuat peran serta siswa dalam menciptakan iklim sekolah yang sehat dan bebas kekerasan.

    “Harapan kami, SMAN 1 Randublatung menjadi sekolah yang berkarakter, dalam hal ini adalah karakter hasthalaku,” imbuh Kepala Sekolah.

    Dengan semangat kolaborasi dan pembentukan karakter hasthalaku, SMAN 1 Randublatung terus melangkah sebagai pelopor pendidikan yang mengutamakan perdamaian untuk melindungi setiap siswanya.

     

  • SMAN 1 Cepu Resmi Menjadi Sekolah Adipangastuti:  Gelar In House Trainning Perdana untuk Penguatan Nilai Hasthalaku

    SMAN 1 Cepu Resmi Menjadi Sekolah Adipangastuti: Gelar In House Trainning Perdana untuk Penguatan Nilai Hasthalaku

    Cepu, 14 Agustus 2025 – SMAN 1 Cepu menggelar In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti pada Kamis (14/8) sebagai langkah awal dalam mengimplementasikan nilai-nilai Hasthalaku ke dalam model pembelajaran sekolah. Kegiatan ini merupakan bagian dari kick off program Sekolah Adipangastuti, sekaligus menandai peresmian SMAN 1 Cepu sebagai salah satu sekolah Adipangastuti baru di Kabupaten Blora. Kegiatan ini dilakukan dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) dalam periode Bridging Fund.

    IHT yang bertempat di aula utama SMAN 1 Cepu ini dihadiri oleh jajaran guru dan tenaga kependidikan. Acara ini menghadirkan narasumber M Farid Sunarto dan Didik Prasetyanto, Ketua dan Direktur Operasional Solo Bersimfoni. Mereka menjelaskan tentang pengembangan pendidikan karakter berbasis budaya hasthalaku. Dalam materinya, beliau menekankan pentingnya menggunakan metode ‘brokoli dalam pasta’ untuk mengedukasi siswa tentang pentingnya pelestarian identitas budaya, dalam hal ini hasthalaku, untuk pembentukan karakter siswa.

    “Hasthalaku bukan sekadar delapan nilai moral, tapi fondasi hidup bersama yang relevan pada anak Generasi Z. Sekolah harus menjadi tempat terbaik untuk menanamkan nilai-nilai itu sejak dini,” tegas Pak Farid dalam sesi diskusi interaktif.

    Kepala SMAN 1 Cepu, Ibu Bekti Ratna Timur Astuti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa bergabungnya SMAN 1 Cepu sebagai Sekolah Adipangastuti adalah wujud komitmen untuk memajukan pendidikan yang berkarakter dan berakar kuat pada budaya lokal.

    “Kami percaya pendidikan tidak cukup hanya membekali siswa dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian yang luhur, toleran, dan bangga terhadap budaya sendiri. Hasthalaku akan membentuk siswa yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter yang baik,” ujar beliau.

    Sebagai bagian dari peresmian program, dilakukan pula penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara SMAN 1 Cepu dengan Solo Bersimfoni yang diwakilkan oleh Ketua Solo Bersimfoni dan Kepala SMAN 1 Cepu. Program ini diketahui oleh Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Provinsi Jawa Tengah. Penandatanganan ini menjadi simbol komitmen jangka panjang selama empat tahun untuk menerapkan nilai-nilai Hasthalaku dalam aktivitas sekolah.

    Dengan IHT ini, SMAN 1 Cepu menegaskan arah barunya sebagai sekolah yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga menjadi pelopor dalam membangun pendidikan berbasis nilai dan budaya, sesuai semangat Sekolah Adipangastuti.

     

    Tia Brizantiana

    Program Officer Solo Bersimfoni

  • Tunas Harmoni Solo Sukses Selenggarakan Zero Waste Journey di Loji Gandrung

    Tunas Harmoni Solo Sukses Selenggarakan Zero Waste Journey di Loji Gandrung

    Pada Sabtu 15 Maret 2025, Tunas Harmoni Solo sukses menyelenggarakan sebuah acara bertajuk Zero Waste Journey dengan tema “EcoVisit dan Workshop Pengelolaan Sampah di Solo” yang berlangsung di Loji Gandrung, Solo. Acara ini diikuti oleh 31 peserta dari berbagai organisasi lintas agama dan komunitas yang sangat antusias untuk belajar lebih dalam tentang pengelolaan sampah dan pentingnya menerapkan konsep zero waste dalam kehidupan sehari-hari.

    Acara dimulai dengan doa bersama lintas agama serta pengenalan antara panitia dan peserta yang disambut hangat di Loji Gandrung. Kemudian pemberian materi FEEL oleh Sapto Purnama, Kepala Subbag TU UPTD Pengelolaan TPA Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta. Sapto menjelaskan bahwa setiap harinya ada sekitar 390 ton sampah yang dikirim ke TPA Putri Cempo.

    Setelah itu dilanjutkan dengan IMAGINE EcoVisit ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, yang terletak di Mojosongo, Jebres, Solo. Para peserta diangkut menggunakan Batik Solo Trans (BST) yang disediakan oleh panitia, memberikan kesempatan bagi peserta untuk merasakan pengalaman bertransportasi umum sembari menuju Lokasi yang menjadi bagian penting dari kegiatan ini.

    Di TPA Putri Cempo, para peserta diajak untuk melihat langsung bagaimana pengelolaan sampah dilakukan di sana. Kemudian sampah ini dipilah dan diolah pada Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang sudah beroperasi sejak tahun 2023.

     

    Setelah kunjungan ke TPA, kegiatan berlanjut dengan pemberian materi DO mengenai solusi semu pengelolaan sampah oleh Marbani dari Ecobhinneka Solo. Marbani mengajak peserta membongkar mitos dan mendorong perubahan nyata dalam pengelolaan sampah, terutama sampah plastik. Dampak negatif plastik juga terjadi sebelum plastik dikonsumsi, karena produksi plastik juga mencemari lingkungan. Narasi semu tentang pengelolaan sampah plastik yang baik bukanlah sebuah solusi. Edukasi pentingnya mengurangi penggunaan plastik alih-alih mengelolanya adalah hal penting agar ada solusi nyata dan tidak menimbulkan masalah yang lain.

    Tak hanya teori, peserta juga diberikan kesempatan untuk belajar membuat pupuk kompos menggunakan compost bag dengan arahan Prasetianingsih Soewarno, Penyuluh Lingkungan Ahli Muda DLH Kota Surakarta, dan Marantika Soloningtyas, TKPK DLH Kota Surakarta. Sesi ini diharapkan agar peserta memahami cara mengelola sampah organik di rumah dan atau organisasi mereka. Melalui proses composting yang tepat, sampah organik dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung penghijauan di rumah sehingga mendukung konsep zero waste yang berkelanjutan.

    Setelah selesai materi dan praktek, dilakukan sesi SHARE dimana panitia mengajak peserta untuk berbagi pengetahuan dan rencana aksi bersama masing-masing komunitas. Beberapa peserta membagikan kebiasaan zero waste yang sudah dilakukan seperti selalu membawa tumbler dan kantong belanja. Peserta lain juga berencana melakukan composting di rumah dan komunitasnya.

    Acara ditutup dengan sesi buka puasa bersama setelah serangkaian kegiatan, tak lupa foto bersama untuk mengabadikan kegiatan antara peserta, panitia dan pemateri. Sesi buka puasa bersama dilakukan dengan konsep zero waste, yaitu setiap peserta membawa tumbler masing-masing serta tidak menggunakan alat makan sekali pakai. Di akhir acara, setiap peserta diberikan bibit tanaman sebagai bentuk komitmen untuk bersama-sama merawat lingkungan dan dibuktikan dengan tumbuhnya bibit tanaman tersebut.

    Acara ini merupakan kelanjutan dari kegiatan National Training/Capacity Building: Religious and Interfaith Engagement to Manage Enviromental Risks pada bulan Februari lalu di Bandung oleh Peace Generation Bandung. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Kementerian PPN/Bappenas bersama the Foreign, Commonwealth, and Development Office of the UK Government (FCDO) dalam pelaksanaan program pembangunan rendah karbon (Low Carbon Development Initiative/LCDI) Fase 2 Tak hanya di Solo, Tunas Harmoni juga dilaksanakan di Bandung, Pekanbaru, Mataram, dan Medan. Selain peserta dari organisasi keagamaan dan organisasi pemuda, kegiatan ini juga melibatkan pemangku kebijakan seperti DLH. Untuk kegiatan Tunas Harmoni Solo, tim panita berasal dari Solo Bersimfoni, Ecobhinneka, DLH Kota Surakarta dan Pelita.

    Acara Zero Waste Journey ini menandakan langkah positif dalam mengedukasi masyarakat Solo mengenai pentingnya mengurangi dan mengelola sampah sebagai bagian dari penerapan gaya hidup zero waste. Melalui inisiatif seperti ini, Tunas Harmoni Solo telah membuka ruang bagi masyarakat untuk berkontribusi langsung dalam mengurangi dampak sampah terhadap bumi. Ketua Koordinator Tunas Harmoni Solo, Risca Dj, mengingatkan bahwa bumi itu hanya satu sehingga setiap individu berperan penting untuk melestarikannya. “Kita hanya punya satu bumi, jadi mulai sekarang, yuk kita berkomitmen menjaga lingkungan dengan sepenuh hati agar tetap lestari dan pulih dari kerusakan yang telah terjadi agar bisa memberikan kehidupan bagi semua makhluk”, tambah Risca.

    Penulis: Tia Brizantiana – Program Officer

  • CITA RASA SOLO DALAM PEMBELAJARAN PRAKTIK PERHOTELAN

    CITA RASA SOLO DALAM PEMBELAJARAN PRAKTIK PERHOTELAN

    Seperti kita ketahui bersama bahwa Merdeka Belajar yang diimplementasikan di Indonesia saat ini merupakan konsep pembelajaran yang mengutamakan pengembangan kompetensi siswa. Hal ini diupayakan melalui pembelajaran yang berbasis keterampilan (skill-based learning) dan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk dapat terhubung dengan dunia kerja dan masyarakat serta dapat mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja yang andal dan kompeten. Namun berjalannya sistem pendidikan yang dinamis dalam pengembangan dan implementasinya senantiasa tak luput dari permasalahan. Masalah yang dihadapi saat ini terkait generasi muda yang sangat adaptif dengan kemajuan teknologi akan tetapi kurang mengenal potensi lokal dan budaya bangsa sendiri.

    Para remaja dari kalangan generasi Z merupakan digital natives yang sangat akrab dengan teknologi. Mereka memiliki akses pengetahuan dan kecenderungan meniru budaya dari luar negeri lebih cepat dibanding budayanya sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa sebanyak 60% siswa SMA di Indonesia tidak mengenal tarian daerah atau kesenian tradisional dari daerah mereka. Beberapa penyebabnya antara lain minimnya kurikulum pendidikan yang menekankan pada pengenalan dan pengembangan budaya lokal di sekolah. Sebagai hasilnya, siswa tidak mendapatkan pemahaman yang memadai tentang budaya lokal mereka. Pengaruh globalisasi yang semakin kuat, termasuk media sosial juga memengaruhi minat dan gaya hidup siswa, serta membuat mereka lebih tertarik pada budaya populer luar negeri.

    Distorsi persepsi terhadap budaya bangsa berpotensi membahayakan karena memunculkan  stereotipe dan prasangka yang tidak akurat terhadap budaya sendiri. Selain itu para remaja tersebut akan kehilangan rasa bangga terhadap budayanya dan berakibat hilangnya identitas diri sebagai bangsa Indonesia. Kesenjangan budaya antara generasi muda dan generasi tua dapat berdampak negatif pada harmoni dalam hubungan sosial di masyarakat.  Lebih jauh lagi dampak dari itu adalah generasi akan kehilangan warisan budaya sehingga tidak bisa meninggalkan warisan tersebut untuk anak cucu mereka kelak. Dari segi ekonomi hal ini bahkan memberi dampak buruk yaitu hilangnya peluang untuk mengembangkan industri pariwisata budaya sehingga berdampak pula pada pertumbuhan ekonomi lokal. Kurangnya pemahaman tentang nilai dan norma budaya lokal juga dapat memengaruhi perilaku siswa terhadap orang lain dan sekitarnya. Hal ini menyebabkan terjadinya  penurunan karakter bahkan degradasi moral. Masalah tersebut tentu perlu mendapat perhatian serius terutama dari para pendidik untuk lebih sadar akan pentingnya mengenalkan kearifan lokal kepada siswanya. Upaya ini dapat dilakukan melalui proses internalisasi budaya dalam pembelajaran sehingga akan lebih mudah diiterima oleh siswa.

    SMKN 7 Surakarta merupakan salah satu sekolah pusat keunggulan (center of excellence) yang memiliki visi terwujudnya siswa yang beriman dan bertaqwa, cerdas, kreatif, berjiwa literat, peduli dan berbudaya lingkungan. Salah satu kompetensi keahlian yang dimiliki oleh SMKN 7 Surakarta adalah Perhotelan. Mata pelajaran konsentrasi di fase F dalam kurikulum merdeka yang dipelajari para siswa pada kompetensi keahlian ini diantaranya adalah Food and Beverages Service (F and B Service). Siswa yang ingin mengembangkan karier di bidang perhotelan, khususnya di bagian makanan dan minuman tentunya sangat membutuhkan skill di bidang ini. Para siswa dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam hal penyajian beserta pelayanan makanan dan minuman di hotel, restoran, kafe, dan tempat makan lainnya. Mata pelajaran ini juga mencakup keterampilan komunikasi, kerja sama tim, dan manajemen waktu yang merupakan bagian penting dari pengembangan kecakapan interpersonal siswa. Praktik pembelajaran F and B Service memberikan kesempatan yang luas kepada para siswa untuk menggali potensi dan kreativitas mereka secara merdeka. Tujuan yang diharapkan adalah tewujudnya visi dan misi Merdeka Belajar.

    Salah satu karakteristik dari konsep Merdeka Belajar tersebut adalah pembelajaran kontekstual (contextual Learning). Dalam konteks kearifan lokal pada pembelajaran kontekstual siswa berlatih membangun pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berhubungan dengan kearifan lokal di daerahnya. Pengenalan kearifan lokal dapat diintegrasikan dalam pengembangan kompetensi siswa di berbagai bidang, salah satunya bidang perhotelan. Di bidang tersebut kearifan lokal dapat diaplikasikan dalam pengembangan teknologi dan bisnis, seperti pengembangan produk yang mengangkat kearifan lokal. SMKN 7 Surakarta telah melakukan praktik baik pembelajaran F and B Service yang diampu oleh guru mapel, Eka Sugiyanti, S.Pd. Pembelajaran kontekstual berbasis proyek dalam mata pelajaran F and B Service dilakukan untuk  meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam penyajian dan pelayanan makanan di hotel. Integrasi pembelajaran ini dilakukan dengan mengandalkan unsur kearifan lokal kota Solo sebagai materi proyek. Siswa secara berkelompok membuat proyek penyajian makanan yang kental dengan nuansa budaya Solo. Ciri khas Solo yang ditonjolkan seperti menu yang disajikan, desain interior ruangan, iringan musik, alat penyajian maupun tampilan busana dan asesoris yang dikenakan siswa yang mengandung unsur budaya Solo. Begitu juga dengan tata krama saat menyajikan makanan kepada tamu terinspirasi dari budaya perilaku masyarakat Solo yang penuh kesopanan. Aneka menu mulai dari appetizer, main course hingga dessert disajikan dengan menampilkan kuliner khas kota Solo. Makanan seperti selat solo, pecel atau gudeg dan klepon disajikan dengan tetap menggunakan Standar Operating Procedure (SOP) yang berlaku di hotel khususnya pada departemen F and B Service. Siswa menampilkan karya proyeknya dengan mengundang para guru sebagai tamu sekaligus penilai hasil proyek mereka.

    Pelaksanaan pembelajaran proyek ini diharapkan dapat memperkuat pengalaman belajar siswa, memberikan kesempatan luas kepada mereka untuk mengembangkan berbagai keterampilan. Keterampilan tersebut antara lain kecakapan dalam mencari informasi, mengembangkan kreativitas, bekerja dalam kelompok, mengomunikasikan ide-ide, dan menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang ditentukan. Selain itu, proyek ini menuntut siswa untuk menggali unsur kearifan lokal kota Solo sehingga dapat memperkuat rasa kecintaan mereka terhadap warisan budaya lokal. Hal tersebut tentunya akan menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya melestarikan dan mempromosikan kearifan lokal sebagai bagian dari industri perhotelan.

     

    Penulis: Asri Pujihastuti-Guru SMKN 7 Surakarta

    artikel ini sudah tayang di Solopos tanggal 10 April 2023

  • KEPALA PUSPEKA APRESIASI KERJA SOLO BERSIMFONI DAN MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI

    KEPALA PUSPEKA APRESIASI KERJA SOLO BERSIMFONI DAN MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI

    Jakarta 5/4/2023. Dalam rangka penyusunan modul P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam kurikulum merdeka yang tengah disusun, Solo Bersimfoni melakukan audiensi kepada Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Ibu Rusprita Putri Utami, di Kantor Puspeka Kemendikbud Ristek, Gedung C Lantai 18, Kemendikbud Ristek, Senayan, Jakarta.

    Selaku Kepala Puspeka, Ibu Rusprita sangat mengapresiasi langkah Solo Bersimfoni dalam upaya implementasi kurikulum berbasis projek, khususnya tematik Bhineka Tunggal Ika melalui program Sekolah Adipangastuti. Sekolah Adipangastuti melakukan pendekatan yang sangat khas yaitu nilai budaya lokal yang dinamakan hasthalaku atau delapan perilaku yaitu gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor dan tepa selira.

     

    Lebih lanjut, Ibu Rusprita menjelaskan bahwa Kemendikbud Ristek RI, khususnya Puspeka, mendapatkan mandat terkait penguatan Profil Pelajar Pancasila dan juga pencegahan kekerasan pada satuan pendidikan, meliputi perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi atau yang kerap disebut Tiga Dosa Pendidikan.

    Puspeka sendiri berkomitmen melakukan penguatan karakter peserta didik yang beracuan pada enam Profil Pelajar Pancasila yang saat ini terus digalakkan. Begitu juga dengan Solo Bersimfoni terus mempromosikan pesan perdamaian dan toleransi melalui model sekolah Adipangastuti dan juga modul P5 khususnya berbasis projek tema Bhinneka Tunggal Ika yang diintegrasikan dengan Perpres No 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE).

     

    Sebagai bentuk dukungan dan kerja,sama, Solo Bersimfoni diberikan kesempatan turut membantu Kemendikbud Ristek RI dalam penyusunan Buku Saku Profil Pelajar Pancasila. Buku saku ini nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu sumber bacaaan untuk meningkatkan pemahaman terkait Profil Pelajar Pancasila kepada guru, tenaga kependidikan, orang tua, siswa, dan masyarakat umum.

     

  • Dukungan Pemprov Jateng dalam Implementasi Sekolah Adipangastuti

    Dukungan Pemprov Jateng dalam Implementasi Sekolah Adipangastuti

    Rabu, 4 Januari 2023 telah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangkaian penyusunan Modul Panduan Kurikulum P5 Berbasis Projek Sekolah Adipangastuti di Olifant Resto, Semarang. Dalam kegiatan ini hadir Kabid Pembinaan SMA Disdikbud Provinsi Jateng, Bapak Syamsudin Isnaini, S.STP., SH., Tim Pengembang Kurikulum Disdik Jateng yang juga Kepala SMAN 1 Semarang, Dr Kusno, M.Pd., Analis Ahli Madya Biro Kesra Provinsi Jateng, Ibu Woro Boedi Sayekti, SH, MM., serta Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jateng.

    Dalam kegiatan FGD ini Bapak Arief Rahmawan, M.Pd., Wakil Kepala Kesiswaan SMAN 1 Gemolong, yang merupakan salah satu tim penyusun modul panduan menjadi narasumber dalam menjelaskan draf modul panduan yang telah disusun. Beliau menerangkan bahwa modul yang disusun ada dua, yaitu modul bagi guru dan siswa. Dalam modul dimasukkan dimensi Pancasila dengan menggunakan topik yang disesuaikan dengan dimensi kearifan lokal dan Bhineka Tunggal Ika yang sesuai dengan hasil Rancangan Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah Pada Terorisme (RAN PE). “Modul berisikan narasi-narasi kontra yang menyenangan kemudian di akhir akan ada projek kolaborasi oleh siswa dengan tujuan menyesuaikan tujuan RAN PE di pendidikan”, jelas Pak Arief.

    Pak Syamsudin dalam tanggapannya menyatakan bahwa Dinas Pendidikan secara penuh mendukung program yang akan dilakukan oleh Solo Bersimfoni. “Tim Pengembangan Kurikulum dari dinas akan ikut mendampingi dalam penyusunan modul ini agar modul yang dihasilkan lebih mudah diterapkan di sekolah”, lanjutnya. Selain itu akan dilakukan sinergi antara Dinas Pendidikan, Bappeda dan Kesbangpol serta memungkinkan dilaksanakannya kolaborasi dengan Biro Kesra dalam implementasi Sekolah Adipangastuti tahun 2023 di Provinsi Jawa Tengah setelah modul panduan pengembangan P5 kurikulum berbasis projek ini selesai disusun. Harapannya dengan adanya dukungan dari dinas, maka guru-guru SMA di Jawa Tengah akan mendapatkan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan.

    Tim pengembang kurikulum Disdik Provinsi Jateng, Bapak Kusno, selain memastikan modul panduan kurikulum dapat diterapkan dengan baik juga siap membantu dalam mensosialisasikan penerapam Sekolah Adipangastuti. Tinjauan dari modul tersebut dinilai menjadi pemantik di tingkat sekolah untuk melaksanakan program secara soft tapi berhasil sesuai sasaran. “Usia remaja kini perlu membicarakan tentang toleransi yang tidak perlu dibenturkan dengan substansi agama, sehingga agar menarik perlu menggunakan nilai-nilai kearifan lokal”, ungkapnya. Masukan dari Bapak Kusno, dalam pengenalan awal modul diperlukan narasi tentang hasthalaku. Seperti mengambil dalam P5 yaitu tema Bangunlah Jiwa dan Raga dengan mengemukakan aspek intoleransi, radikalisme, NAPZA, Kekerasan Seksual, dan lainnya dengan penggunaan narasi yang diperhalus. Selain itu, moderasi beragama diterjemahkan menjadi sebuah aktivitas kegiatan.

    Biro Kesra Provinsi Jateng juga mendukung penyusunan modul panduan ini. Masukan dari Ibu Woro bahwa diperlukan penambahan dimensi dalam ranah kepemudaan dan kebudayaan. “Pendekatan yang kami lakukan melalui unsur kebudayaan”, lanjutnya. Pak Budi Martono, SH, MM, Analis Ahli Muda Biro Kesra provinsi Jateng, mengatakan bahwa isu radikalisme dan nasionalisme juga dapat dilakukan secara online melalui kampanye di media sosial agar sesuai dengan sasaran yaitu anak muda.

    Bapak Ardian dari Bidang Perlindungan Anak DP3AP2KB Provinsi Jateng mengatakan dukungannya, “Saya senang dengan adanya modul panduan ini, karena sasaran dalam pencegahan terorisme selama ini adalah orang dewasa, sedangkan modul ini sasarannya adalah anak-anak hingga remaja”. Selain pencegahan, stigmatisasi untuk anak-anak dari keluarga teorisme juga perlu menjadi salah satu poin untuk menghindari tindakan bullying. Perlu dilakukan elaborasi antara berbagai pihak untuk menciptakan sekolah yang aman dan damai. “Bisa dilakukan pemilihan agen perubahan dari siswa, karena mereka adalah influencer yang masif terutama di media sosial”, ungkapnya. Ibu Nichola Ester dari Bidang Pemberdayaan Perempuan DP3AP2KB Provinsi Jateng mengatakan bahwa untuk modul panduan yang disusun dibuat interaktif seperti menggunakan permainan online yang berisi pengetahuan serta dibuat aktivitas dengan tujuan agar anak tertarik. “Penjelasan mengenai mengenal kesetaraan gender dan adanya kepercayaan seperti penghayat perlu dimasukkan untuk meminimalisir perilaku bullying”, lanjutnya.

    Dalam kegiatan ini kemudian dirumuskan bahwa dimensi yang akan dimasukkan yang semula ada dua menjadi tiga, yaitu Kearifan Lokal, Bhineka Tunggal Ika dan Bangunlah Jiwa dan Raga. Harapannya dengan menambahkan satu dimensi yaitu Bangunlah Jiwa dan Raganya dapat meningkatkan rasa nasionalisme siswa yang kemudian mencegah terjadinya tindakan radikalisme.

     

    Penulis: Tia Brizantiana-Program Officer

  • Hadiah Akhir Tahun; Solo Bersimfoni mendapatkan Anugerah Revolusi Mental (ARM) Tahun 2022

    Hadiah Akhir Tahun; Solo Bersimfoni mendapatkan Anugerah Revolusi Mental (ARM) Tahun 2022

    Rabu, 21 Desember 2022, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI) menggelar Anugerah Revolusi Mental (ARM) Tahun 2022 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Penyerahan ARM dilakukan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin, serta Menko PMK Muhadjir Effendy dan para Koordinator Program Gerakan (KPG), dari Kementerian PAN RB, Kemenko Marves, Kemenko Polhukam, Kemenko Perekonomian, dan Kemendagri. Dalam pagelaran ini, Solo Bersimfoni memperoleh ARM kategori Tokoh Masyarakat dan Lembaga dalam bidang Pendidikan Karakter dan Literasi.

    Anugerah Revolusi Mental 2022 merupakan konfirmasi terhadap usaha dan upaya yang  telah dilakukan oleh Lembaga Pemerintah, Swasta dan Masyarakat atau gerakan komunitas yang melakukan perubahan secara nyata, terukur, inspiratif dan berkelanjutan. Anugerah Revolusi Mental 2022 diberikan kepada semua pihak yang telah berinisiatif dan telah menjadi pelopor perubahan untuk berbagai simpul dan ranah perubahan yang telah dan sedang berlangsung dalam masyarakat, mulai dari birokrasi yang melayani secara prima, sistem pendidikan yang mencetak sumber daya unggul dan berkarakter, sistem ekonomi berkeadilan, serta berbagai inisiatif yang melibatkan para pemangku kepentingan secara bergotong royong untuk mewujudkan perilaku kolektif yang berintegritas dan beretos kerja.

    Pagelaran ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap semua pelaku atau agen perubahan yang mencerminkan Gerakan Nasional Revolusi Mental di seluruh pelosok Nusantara. Sebanyak 40 piala diberikan kepada penerima anugerah yang terbagi menjadi lima kategori. Pertama adalah Kategori Pemerintah Provinsi, kategori kedua adalah Pemerintah Kabupaten/Kota, ketiga adalah Lembaga Mitra GNRM. Keempat adalah kategori Tokoh dan Lembaga dan kelima Kategori Kedermawanan Sosial.

    Wakil Presiden, Ma’ruf Amin berpesan agar gerakan nasional revolusi mental perlu terus dibumikan dalam berbagai kegiatan. “Dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, kita membutuhkan generasi emas yang unggul, berkarakter, berakhlak mulia, dan memiliki wawasan kebangsaan. Oleh sebab itu, saya berpesan kepada seluruh pihak, Gerakan Nasional Revolusi Mental mesti terus dibumikan secara inovatif dalam berbagai kegiatan yang menjangkau generasi muda kita. Jangan lupa terus manfaatkan media sosial dan kanal-kanal digital lainnya agar upaya ini semakin efektif,” kata Ma’ruf.

    Menko PMK, Muhadjir Effendy dalam sambutannya menjelaskan, Revolusi Mental merupakan gerakan seluruh unsur masyarakat Indonesia dengan mengangkat nilai-nilai strategis, yakni nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong. Dia menerangkan, Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) mendorong internalisasi nilai-nilai strategis instrumental revolusi mental pada individu, keluarga, insititusi sosial, masyarakat sampai dengan lembaga-lembaga negara. Hal ini diharapkan dapat mendorong perubahan cara pandang, sikap, perilaku yang berkarakter dan berorientasi pada kemajuan.

    “Revolusi mental harus dimulai dari diri sendiri dan kemudian meluas di lingkungan keluarga, komunitas, masyarakat luas, dan selanjutnya mencakup seluruh komponen bangsa,” ujar Muhadjir dalam acara penghargaan ARM 2022.

    Menko PMK memaparkan, selama 7 tahun terakhir, GNRM telah berkolaborasi dengan aktor pentahelix untuk merubah mental masyarakat menjadi lebih baik. Menurutnya, GNRM telah memberikan berbagai perubahan yang dirasakan oleh masyarakat. Hal ini tercermin dari index capaian revolusi mental (ICRM) tahun 2021 yang menunjukkan peningkatan sebesar 4,46 poin jika dibandingkan ICRM tahun 2018 (ICRM 2018 sebesar 67,01 dan pada 2021 mencapai 70,47).

    “Peningkatan ICRM ini tidak terlepas dari upaya kolaborasi para pemangku kepentingan dalam pelaksanaan gerakan revolusi mental untuk memajukan Indonesia dari tingkat pemerintah pusat sampai di tingkat daerah,” ujarnya.

     

    Pemberian Anugerah Revolusi Mental 2022 kepada Perkumpulan Solo Bersimfoni dari Kriteria Nominasi Lembaga yang berbadan hukum di Indonesia dengan mempertimbangkan berbagai unsur antara lain, Solo Bersimfoni merupakan Non Government Organization (NGO) yang melakukan tindakan yang bersifat fundamental, yaitu upaya Pencegahan radikalisasi yang meliputi membangun kesiapsiagaan, melakukan kontra radikalisasi dan deradikalisasi di kalangan pelajar / remaja; Solo Bersimfoni memberikan perubahan dan dampak positif  terhadap masyarakat, untuk berpartisipasi aktif dalam membangun toleransi dan perdamaian untuk mencegah tindakan kekerasan yang mengarah pada terorisme berbasis kekerasan; serta Solo Bersimfoni menghadirkan ruang-ruang keadilan sosial bagi remaja/pelajar generasi Z dalam bentuk ruang kanal digital, membangun kecakapan digital  dan menyediakan ruang komunal solo bersimfoni.

    Inisiatif Solo Bersimfoni yang bersifat fundamental antara lain bekerja sama dengan UNS melakukan riset untuk menemukan nilai budaya lokal “hasthalaku” (delapan perilaku) yang terdiri dari: gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, andhap ashor dan tepa selira. Hasthalaku telah dimasukkan sebagai  menjadi nilai luhur budaya daerah dan tertuang dalam Perwali Kota Surakarta No. 49 Tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda. Solo Bersimfoni juga menginisiasi regulasi Perda Prov. Jateng No. 4 Tahun 2021 Tentang Pembangunan dan Pengembangan Kepemudaan. Dan saat ini sedang menginisiasi beberapa amanat Perda tersebut dalam bentuk Peraturan Gubernur Provinsi Jateng, khususnya amanat perlindungan dan pemberdayaan pemuda. Selain itu, Solo Bersimfoni menginisiasi Model Sekolah Adipangastuti yang merupakan sebuah program selama 6 (enam) bulan yang dimasukkan ke sekolah formal. Tujuan implementasi model Sekolah Adipangastuti adalah untuk membuat program pencegahan intoleransi dan kekerasan di sekolah dengan pendekatan milenial dan digital. Saat ini Solo Bersimfoni telah mengerjakan kerjasama dengan 7 (tujuh) sekolah formal SMA yang melaksanakan program Sekolah Adipangastuti, dan pada tahun 2023 akan melaksanakan program Sekolah Adipangastuti di 14 (empat belas) sekolah di provinsi jawa tengah.

     

    Penulis: Tia Brizantiana – Program Officer