Tag: belajar hasthalaku

  • IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Randublatung: Wujud Nyata Komitmen Sekolah dalam Pembentukan Karakter Hasthalaku

    IHT Sekolah Adipangastuti SMAN 1 Randublatung: Wujud Nyata Komitmen Sekolah dalam Pembentukan Karakter Hasthalaku

    RandublatRandublatung, 26 Agustus 2025 — SMAN 1 Randublatung kembali menunjukkan komitmennya sebagai Sekolah Adipangastuti dengan menggelar In House Training (IHT) bertema “Penguatan Nilai-Nilai Hasthalaku dan Pengimbasan Pembelajaran Mendalam” yang dilaksanakan di lapangan dan aula sekolah. Kegiatan ini dilakukan dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) dalam periode Bridging Fund.

    Kegiatan ini terbagi menjadi dua, yang pertama pemaparan materi hasthalaku kepada seluruh siswa di lapangan, dan yang kedua pemaparan tentang Sekolah Adipangastuti kepada seluruh guru SMAN 1 Randublatung. Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, dan Kepala SMAN 1 Randublatung, Ibu Siti Hamamatul Mar’ati, S.Si. Kehadiran Solo Bersimfoni sebagai narasumber menjadi momen penting karena merupakan kali Solo Bersimfoni diundang secara resmi oleh sekolah sejak SMAN 1 Randublatung ditetapkan sebagai Sekolah Adipangastuti pada tahun 2024 di hadapan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

    Kepala SMAN 1 Randublatung, menyampaikan bahwa IHT ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk mengimplementasikan nilai-nilai hasthalaku dalam Sekolah Adipangastuti secara menyeluruh, tidak hanya dalam pembelajaran, namun juga dalam budaya dan keseharian warga sekolah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengimplementasikan nilai hasthalaku sebagai penguatan karakter yang menjadi poin penting dalam pembelajaran mendalam.

    “Pembentukan karakter menjadi hal yang utama dalam pembelajaran mendalam, dengan penguatan nilai hasthalaku kepada bapak/ibu guru dan juga siswa, harapannya karakter hasthalaku itu terbentuk dan bisa diimbaskan ke ruang kelas saat pembelajaran mendalam,” ujar beliau.

    Rencana dan Implementasi

    Sebagai bagian dari tindak lanjut program Adipangastuti, SMAN 1 Randublatung telah menyusun berbagai rencana aksi, di antaranya:

    • Pembentukan Tim Penanganan Kekerasan di Sekolah untuk mencegah baik sebelum terjadi atau pengulangan kekerasan di kalangan siswa.
    • Pemberian pemahaman mengenai Sekolah Adipangastuti serta nilai hasthalaku ke sekolah sekitar SMAN 1 Randublatung.
    • Pembentukan Tim Sekolah Adipangastuti yang melibatkan siswa, dan guru.
    • Pembuatan Tulisan dan Puisi bertema Hasthalaku

    Kegiatan IHT kali ini menjadi awal dari rangkaian pelatihan dan pendampingan yang akan dilakukan sepanjang tahun ajaran 2025/2026.

    Keberlanjutan dan Harapan

    SMAN 1 Randublatung berkomitmen menjaga keberlanjutan program Adipangastuti dengan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sekolah sekitar, serta memperkuat peran serta siswa dalam menciptakan iklim sekolah yang sehat dan bebas kekerasan.

    “Harapan kami, SMAN 1 Randublatung menjadi sekolah yang berkarakter, dalam hal ini adalah karakter hasthalaku,” imbuh Kepala Sekolah.

    Dengan semangat kolaborasi dan pembentukan karakter hasthalaku, SMAN 1 Randublatung terus melangkah sebagai pelopor pendidikan yang mengutamakan perdamaian untuk melindungi setiap siswanya.

     

  • SMAN 1 Cepu Resmi Menjadi Sekolah Adipangastuti:  Gelar In House Trainning Perdana untuk Penguatan Nilai Hasthalaku

    SMAN 1 Cepu Resmi Menjadi Sekolah Adipangastuti: Gelar In House Trainning Perdana untuk Penguatan Nilai Hasthalaku

    Cepu, 14 Agustus 2025 – SMAN 1 Cepu menggelar In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti pada Kamis (14/8) sebagai langkah awal dalam mengimplementasikan nilai-nilai Hasthalaku ke dalam model pembelajaran sekolah. Kegiatan ini merupakan bagian dari kick off program Sekolah Adipangastuti, sekaligus menandai peresmian SMAN 1 Cepu sebagai salah satu sekolah Adipangastuti baru di Kabupaten Blora. Kegiatan ini dilakukan dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) dalam periode Bridging Fund.

    IHT yang bertempat di aula utama SMAN 1 Cepu ini dihadiri oleh jajaran guru dan tenaga kependidikan. Acara ini menghadirkan narasumber M Farid Sunarto dan Didik Prasetyanto, Ketua dan Direktur Operasional Solo Bersimfoni. Mereka menjelaskan tentang pengembangan pendidikan karakter berbasis budaya hasthalaku. Dalam materinya, beliau menekankan pentingnya menggunakan metode ‘brokoli dalam pasta’ untuk mengedukasi siswa tentang pentingnya pelestarian identitas budaya, dalam hal ini hasthalaku, untuk pembentukan karakter siswa.

    “Hasthalaku bukan sekadar delapan nilai moral, tapi fondasi hidup bersama yang relevan pada anak Generasi Z. Sekolah harus menjadi tempat terbaik untuk menanamkan nilai-nilai itu sejak dini,” tegas Pak Farid dalam sesi diskusi interaktif.

    Kepala SMAN 1 Cepu, Ibu Bekti Ratna Timur Astuti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa bergabungnya SMAN 1 Cepu sebagai Sekolah Adipangastuti adalah wujud komitmen untuk memajukan pendidikan yang berkarakter dan berakar kuat pada budaya lokal.

    “Kami percaya pendidikan tidak cukup hanya membekali siswa dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian yang luhur, toleran, dan bangga terhadap budaya sendiri. Hasthalaku akan membentuk siswa yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter yang baik,” ujar beliau.

    Sebagai bagian dari peresmian program, dilakukan pula penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara SMAN 1 Cepu dengan Solo Bersimfoni yang diwakilkan oleh Ketua Solo Bersimfoni dan Kepala SMAN 1 Cepu. Program ini diketahui oleh Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Provinsi Jawa Tengah. Penandatanganan ini menjadi simbol komitmen jangka panjang selama empat tahun untuk menerapkan nilai-nilai Hasthalaku dalam aktivitas sekolah.

    Dengan IHT ini, SMAN 1 Cepu menegaskan arah barunya sebagai sekolah yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga menjadi pelopor dalam membangun pendidikan berbasis nilai dan budaya, sesuai semangat Sekolah Adipangastuti.

     

    Tia Brizantiana

    Program Officer Solo Bersimfoni

  • Tunas Harmoni Solo Sukses Selenggarakan Zero Waste Journey di Loji Gandrung

    Tunas Harmoni Solo Sukses Selenggarakan Zero Waste Journey di Loji Gandrung

    Pada Sabtu 15 Maret 2025, Tunas Harmoni Solo sukses menyelenggarakan sebuah acara bertajuk Zero Waste Journey dengan tema “EcoVisit dan Workshop Pengelolaan Sampah di Solo” yang berlangsung di Loji Gandrung, Solo. Acara ini diikuti oleh 31 peserta dari berbagai organisasi lintas agama dan komunitas yang sangat antusias untuk belajar lebih dalam tentang pengelolaan sampah dan pentingnya menerapkan konsep zero waste dalam kehidupan sehari-hari.

    Acara dimulai dengan doa bersama lintas agama serta pengenalan antara panitia dan peserta yang disambut hangat di Loji Gandrung. Kemudian pemberian materi FEEL oleh Sapto Purnama, Kepala Subbag TU UPTD Pengelolaan TPA Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta. Sapto menjelaskan bahwa setiap harinya ada sekitar 390 ton sampah yang dikirim ke TPA Putri Cempo.

    Setelah itu dilanjutkan dengan IMAGINE EcoVisit ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, yang terletak di Mojosongo, Jebres, Solo. Para peserta diangkut menggunakan Batik Solo Trans (BST) yang disediakan oleh panitia, memberikan kesempatan bagi peserta untuk merasakan pengalaman bertransportasi umum sembari menuju Lokasi yang menjadi bagian penting dari kegiatan ini.

    Di TPA Putri Cempo, para peserta diajak untuk melihat langsung bagaimana pengelolaan sampah dilakukan di sana. Kemudian sampah ini dipilah dan diolah pada Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang sudah beroperasi sejak tahun 2023.

     

    Setelah kunjungan ke TPA, kegiatan berlanjut dengan pemberian materi DO mengenai solusi semu pengelolaan sampah oleh Marbani dari Ecobhinneka Solo. Marbani mengajak peserta membongkar mitos dan mendorong perubahan nyata dalam pengelolaan sampah, terutama sampah plastik. Dampak negatif plastik juga terjadi sebelum plastik dikonsumsi, karena produksi plastik juga mencemari lingkungan. Narasi semu tentang pengelolaan sampah plastik yang baik bukanlah sebuah solusi. Edukasi pentingnya mengurangi penggunaan plastik alih-alih mengelolanya adalah hal penting agar ada solusi nyata dan tidak menimbulkan masalah yang lain.

    Tak hanya teori, peserta juga diberikan kesempatan untuk belajar membuat pupuk kompos menggunakan compost bag dengan arahan Prasetianingsih Soewarno, Penyuluh Lingkungan Ahli Muda DLH Kota Surakarta, dan Marantika Soloningtyas, TKPK DLH Kota Surakarta. Sesi ini diharapkan agar peserta memahami cara mengelola sampah organik di rumah dan atau organisasi mereka. Melalui proses composting yang tepat, sampah organik dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung penghijauan di rumah sehingga mendukung konsep zero waste yang berkelanjutan.

    Setelah selesai materi dan praktek, dilakukan sesi SHARE dimana panitia mengajak peserta untuk berbagi pengetahuan dan rencana aksi bersama masing-masing komunitas. Beberapa peserta membagikan kebiasaan zero waste yang sudah dilakukan seperti selalu membawa tumbler dan kantong belanja. Peserta lain juga berencana melakukan composting di rumah dan komunitasnya.

    Acara ditutup dengan sesi buka puasa bersama setelah serangkaian kegiatan, tak lupa foto bersama untuk mengabadikan kegiatan antara peserta, panitia dan pemateri. Sesi buka puasa bersama dilakukan dengan konsep zero waste, yaitu setiap peserta membawa tumbler masing-masing serta tidak menggunakan alat makan sekali pakai. Di akhir acara, setiap peserta diberikan bibit tanaman sebagai bentuk komitmen untuk bersama-sama merawat lingkungan dan dibuktikan dengan tumbuhnya bibit tanaman tersebut.

    Acara ini merupakan kelanjutan dari kegiatan National Training/Capacity Building: Religious and Interfaith Engagement to Manage Enviromental Risks pada bulan Februari lalu di Bandung oleh Peace Generation Bandung. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Kementerian PPN/Bappenas bersama the Foreign, Commonwealth, and Development Office of the UK Government (FCDO) dalam pelaksanaan program pembangunan rendah karbon (Low Carbon Development Initiative/LCDI) Fase 2 Tak hanya di Solo, Tunas Harmoni juga dilaksanakan di Bandung, Pekanbaru, Mataram, dan Medan. Selain peserta dari organisasi keagamaan dan organisasi pemuda, kegiatan ini juga melibatkan pemangku kebijakan seperti DLH. Untuk kegiatan Tunas Harmoni Solo, tim panita berasal dari Solo Bersimfoni, Ecobhinneka, DLH Kota Surakarta dan Pelita.

    Acara Zero Waste Journey ini menandakan langkah positif dalam mengedukasi masyarakat Solo mengenai pentingnya mengurangi dan mengelola sampah sebagai bagian dari penerapan gaya hidup zero waste. Melalui inisiatif seperti ini, Tunas Harmoni Solo telah membuka ruang bagi masyarakat untuk berkontribusi langsung dalam mengurangi dampak sampah terhadap bumi. Ketua Koordinator Tunas Harmoni Solo, Risca Dj, mengingatkan bahwa bumi itu hanya satu sehingga setiap individu berperan penting untuk melestarikannya. “Kita hanya punya satu bumi, jadi mulai sekarang, yuk kita berkomitmen menjaga lingkungan dengan sepenuh hati agar tetap lestari dan pulih dari kerusakan yang telah terjadi agar bisa memberikan kehidupan bagi semua makhluk”, tambah Risca.

    Penulis: Tia Brizantiana – Program Officer

  • CITA RASA SOLO DALAM PEMBELAJARAN PRAKTIK PERHOTELAN

    CITA RASA SOLO DALAM PEMBELAJARAN PRAKTIK PERHOTELAN

    Seperti kita ketahui bersama bahwa Merdeka Belajar yang diimplementasikan di Indonesia saat ini merupakan konsep pembelajaran yang mengutamakan pengembangan kompetensi siswa. Hal ini diupayakan melalui pembelajaran yang berbasis keterampilan (skill-based learning) dan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk dapat terhubung dengan dunia kerja dan masyarakat serta dapat mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja yang andal dan kompeten. Namun berjalannya sistem pendidikan yang dinamis dalam pengembangan dan implementasinya senantiasa tak luput dari permasalahan. Masalah yang dihadapi saat ini terkait generasi muda yang sangat adaptif dengan kemajuan teknologi akan tetapi kurang mengenal potensi lokal dan budaya bangsa sendiri.

    Para remaja dari kalangan generasi Z merupakan digital natives yang sangat akrab dengan teknologi. Mereka memiliki akses pengetahuan dan kecenderungan meniru budaya dari luar negeri lebih cepat dibanding budayanya sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa sebanyak 60% siswa SMA di Indonesia tidak mengenal tarian daerah atau kesenian tradisional dari daerah mereka. Beberapa penyebabnya antara lain minimnya kurikulum pendidikan yang menekankan pada pengenalan dan pengembangan budaya lokal di sekolah. Sebagai hasilnya, siswa tidak mendapatkan pemahaman yang memadai tentang budaya lokal mereka. Pengaruh globalisasi yang semakin kuat, termasuk media sosial juga memengaruhi minat dan gaya hidup siswa, serta membuat mereka lebih tertarik pada budaya populer luar negeri.

    Distorsi persepsi terhadap budaya bangsa berpotensi membahayakan karena memunculkan  stereotipe dan prasangka yang tidak akurat terhadap budaya sendiri. Selain itu para remaja tersebut akan kehilangan rasa bangga terhadap budayanya dan berakibat hilangnya identitas diri sebagai bangsa Indonesia. Kesenjangan budaya antara generasi muda dan generasi tua dapat berdampak negatif pada harmoni dalam hubungan sosial di masyarakat.  Lebih jauh lagi dampak dari itu adalah generasi akan kehilangan warisan budaya sehingga tidak bisa meninggalkan warisan tersebut untuk anak cucu mereka kelak. Dari segi ekonomi hal ini bahkan memberi dampak buruk yaitu hilangnya peluang untuk mengembangkan industri pariwisata budaya sehingga berdampak pula pada pertumbuhan ekonomi lokal. Kurangnya pemahaman tentang nilai dan norma budaya lokal juga dapat memengaruhi perilaku siswa terhadap orang lain dan sekitarnya. Hal ini menyebabkan terjadinya  penurunan karakter bahkan degradasi moral. Masalah tersebut tentu perlu mendapat perhatian serius terutama dari para pendidik untuk lebih sadar akan pentingnya mengenalkan kearifan lokal kepada siswanya. Upaya ini dapat dilakukan melalui proses internalisasi budaya dalam pembelajaran sehingga akan lebih mudah diiterima oleh siswa.

    SMKN 7 Surakarta merupakan salah satu sekolah pusat keunggulan (center of excellence) yang memiliki visi terwujudnya siswa yang beriman dan bertaqwa, cerdas, kreatif, berjiwa literat, peduli dan berbudaya lingkungan. Salah satu kompetensi keahlian yang dimiliki oleh SMKN 7 Surakarta adalah Perhotelan. Mata pelajaran konsentrasi di fase F dalam kurikulum merdeka yang dipelajari para siswa pada kompetensi keahlian ini diantaranya adalah Food and Beverages Service (F and B Service). Siswa yang ingin mengembangkan karier di bidang perhotelan, khususnya di bagian makanan dan minuman tentunya sangat membutuhkan skill di bidang ini. Para siswa dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam hal penyajian beserta pelayanan makanan dan minuman di hotel, restoran, kafe, dan tempat makan lainnya. Mata pelajaran ini juga mencakup keterampilan komunikasi, kerja sama tim, dan manajemen waktu yang merupakan bagian penting dari pengembangan kecakapan interpersonal siswa. Praktik pembelajaran F and B Service memberikan kesempatan yang luas kepada para siswa untuk menggali potensi dan kreativitas mereka secara merdeka. Tujuan yang diharapkan adalah tewujudnya visi dan misi Merdeka Belajar.

    Salah satu karakteristik dari konsep Merdeka Belajar tersebut adalah pembelajaran kontekstual (contextual Learning). Dalam konteks kearifan lokal pada pembelajaran kontekstual siswa berlatih membangun pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berhubungan dengan kearifan lokal di daerahnya. Pengenalan kearifan lokal dapat diintegrasikan dalam pengembangan kompetensi siswa di berbagai bidang, salah satunya bidang perhotelan. Di bidang tersebut kearifan lokal dapat diaplikasikan dalam pengembangan teknologi dan bisnis, seperti pengembangan produk yang mengangkat kearifan lokal. SMKN 7 Surakarta telah melakukan praktik baik pembelajaran F and B Service yang diampu oleh guru mapel, Eka Sugiyanti, S.Pd. Pembelajaran kontekstual berbasis proyek dalam mata pelajaran F and B Service dilakukan untuk  meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam penyajian dan pelayanan makanan di hotel. Integrasi pembelajaran ini dilakukan dengan mengandalkan unsur kearifan lokal kota Solo sebagai materi proyek. Siswa secara berkelompok membuat proyek penyajian makanan yang kental dengan nuansa budaya Solo. Ciri khas Solo yang ditonjolkan seperti menu yang disajikan, desain interior ruangan, iringan musik, alat penyajian maupun tampilan busana dan asesoris yang dikenakan siswa yang mengandung unsur budaya Solo. Begitu juga dengan tata krama saat menyajikan makanan kepada tamu terinspirasi dari budaya perilaku masyarakat Solo yang penuh kesopanan. Aneka menu mulai dari appetizer, main course hingga dessert disajikan dengan menampilkan kuliner khas kota Solo. Makanan seperti selat solo, pecel atau gudeg dan klepon disajikan dengan tetap menggunakan Standar Operating Procedure (SOP) yang berlaku di hotel khususnya pada departemen F and B Service. Siswa menampilkan karya proyeknya dengan mengundang para guru sebagai tamu sekaligus penilai hasil proyek mereka.

    Pelaksanaan pembelajaran proyek ini diharapkan dapat memperkuat pengalaman belajar siswa, memberikan kesempatan luas kepada mereka untuk mengembangkan berbagai keterampilan. Keterampilan tersebut antara lain kecakapan dalam mencari informasi, mengembangkan kreativitas, bekerja dalam kelompok, mengomunikasikan ide-ide, dan menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang ditentukan. Selain itu, proyek ini menuntut siswa untuk menggali unsur kearifan lokal kota Solo sehingga dapat memperkuat rasa kecintaan mereka terhadap warisan budaya lokal. Hal tersebut tentunya akan menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya melestarikan dan mempromosikan kearifan lokal sebagai bagian dari industri perhotelan.

     

    Penulis: Asri Pujihastuti-Guru SMKN 7 Surakarta

    artikel ini sudah tayang di Solopos tanggal 10 April 2023

  • KEPALA PUSPEKA APRESIASI KERJA SOLO BERSIMFONI DAN MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI

    KEPALA PUSPEKA APRESIASI KERJA SOLO BERSIMFONI DAN MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI

    Jakarta 5/4/2023. Dalam rangka penyusunan modul P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam kurikulum merdeka yang tengah disusun, Solo Bersimfoni melakukan audiensi kepada Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Ibu Rusprita Putri Utami, di Kantor Puspeka Kemendikbud Ristek, Gedung C Lantai 18, Kemendikbud Ristek, Senayan, Jakarta.

    Selaku Kepala Puspeka, Ibu Rusprita sangat mengapresiasi langkah Solo Bersimfoni dalam upaya implementasi kurikulum berbasis projek, khususnya tematik Bhineka Tunggal Ika melalui program Sekolah Adipangastuti. Sekolah Adipangastuti melakukan pendekatan yang sangat khas yaitu nilai budaya lokal yang dinamakan hasthalaku atau delapan perilaku yaitu gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor dan tepa selira.

     

    Lebih lanjut, Ibu Rusprita menjelaskan bahwa Kemendikbud Ristek RI, khususnya Puspeka, mendapatkan mandat terkait penguatan Profil Pelajar Pancasila dan juga pencegahan kekerasan pada satuan pendidikan, meliputi perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi atau yang kerap disebut Tiga Dosa Pendidikan.

    Puspeka sendiri berkomitmen melakukan penguatan karakter peserta didik yang beracuan pada enam Profil Pelajar Pancasila yang saat ini terus digalakkan. Begitu juga dengan Solo Bersimfoni terus mempromosikan pesan perdamaian dan toleransi melalui model sekolah Adipangastuti dan juga modul P5 khususnya berbasis projek tema Bhinneka Tunggal Ika yang diintegrasikan dengan Perpres No 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE).

     

    Sebagai bentuk dukungan dan kerja,sama, Solo Bersimfoni diberikan kesempatan turut membantu Kemendikbud Ristek RI dalam penyusunan Buku Saku Profil Pelajar Pancasila. Buku saku ini nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu sumber bacaaan untuk meningkatkan pemahaman terkait Profil Pelajar Pancasila kepada guru, tenaga kependidikan, orang tua, siswa, dan masyarakat umum.

     

  • Dukungan Pemprov Jateng dalam Implementasi Sekolah Adipangastuti

    Dukungan Pemprov Jateng dalam Implementasi Sekolah Adipangastuti

    Rabu, 4 Januari 2023 telah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangkaian penyusunan Modul Panduan Kurikulum P5 Berbasis Projek Sekolah Adipangastuti di Olifant Resto, Semarang. Dalam kegiatan ini hadir Kabid Pembinaan SMA Disdikbud Provinsi Jateng, Bapak Syamsudin Isnaini, S.STP., SH., Tim Pengembang Kurikulum Disdik Jateng yang juga Kepala SMAN 1 Semarang, Dr Kusno, M.Pd., Analis Ahli Madya Biro Kesra Provinsi Jateng, Ibu Woro Boedi Sayekti, SH, MM., serta Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jateng.

    Dalam kegiatan FGD ini Bapak Arief Rahmawan, M.Pd., Wakil Kepala Kesiswaan SMAN 1 Gemolong, yang merupakan salah satu tim penyusun modul panduan menjadi narasumber dalam menjelaskan draf modul panduan yang telah disusun. Beliau menerangkan bahwa modul yang disusun ada dua, yaitu modul bagi guru dan siswa. Dalam modul dimasukkan dimensi Pancasila dengan menggunakan topik yang disesuaikan dengan dimensi kearifan lokal dan Bhineka Tunggal Ika yang sesuai dengan hasil Rancangan Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah Pada Terorisme (RAN PE). “Modul berisikan narasi-narasi kontra yang menyenangan kemudian di akhir akan ada projek kolaborasi oleh siswa dengan tujuan menyesuaikan tujuan RAN PE di pendidikan”, jelas Pak Arief.

    Pak Syamsudin dalam tanggapannya menyatakan bahwa Dinas Pendidikan secara penuh mendukung program yang akan dilakukan oleh Solo Bersimfoni. “Tim Pengembangan Kurikulum dari dinas akan ikut mendampingi dalam penyusunan modul ini agar modul yang dihasilkan lebih mudah diterapkan di sekolah”, lanjutnya. Selain itu akan dilakukan sinergi antara Dinas Pendidikan, Bappeda dan Kesbangpol serta memungkinkan dilaksanakannya kolaborasi dengan Biro Kesra dalam implementasi Sekolah Adipangastuti tahun 2023 di Provinsi Jawa Tengah setelah modul panduan pengembangan P5 kurikulum berbasis projek ini selesai disusun. Harapannya dengan adanya dukungan dari dinas, maka guru-guru SMA di Jawa Tengah akan mendapatkan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan.

    Tim pengembang kurikulum Disdik Provinsi Jateng, Bapak Kusno, selain memastikan modul panduan kurikulum dapat diterapkan dengan baik juga siap membantu dalam mensosialisasikan penerapam Sekolah Adipangastuti. Tinjauan dari modul tersebut dinilai menjadi pemantik di tingkat sekolah untuk melaksanakan program secara soft tapi berhasil sesuai sasaran. “Usia remaja kini perlu membicarakan tentang toleransi yang tidak perlu dibenturkan dengan substansi agama, sehingga agar menarik perlu menggunakan nilai-nilai kearifan lokal”, ungkapnya. Masukan dari Bapak Kusno, dalam pengenalan awal modul diperlukan narasi tentang hasthalaku. Seperti mengambil dalam P5 yaitu tema Bangunlah Jiwa dan Raga dengan mengemukakan aspek intoleransi, radikalisme, NAPZA, Kekerasan Seksual, dan lainnya dengan penggunaan narasi yang diperhalus. Selain itu, moderasi beragama diterjemahkan menjadi sebuah aktivitas kegiatan.

    Biro Kesra Provinsi Jateng juga mendukung penyusunan modul panduan ini. Masukan dari Ibu Woro bahwa diperlukan penambahan dimensi dalam ranah kepemudaan dan kebudayaan. “Pendekatan yang kami lakukan melalui unsur kebudayaan”, lanjutnya. Pak Budi Martono, SH, MM, Analis Ahli Muda Biro Kesra provinsi Jateng, mengatakan bahwa isu radikalisme dan nasionalisme juga dapat dilakukan secara online melalui kampanye di media sosial agar sesuai dengan sasaran yaitu anak muda.

    Bapak Ardian dari Bidang Perlindungan Anak DP3AP2KB Provinsi Jateng mengatakan dukungannya, “Saya senang dengan adanya modul panduan ini, karena sasaran dalam pencegahan terorisme selama ini adalah orang dewasa, sedangkan modul ini sasarannya adalah anak-anak hingga remaja”. Selain pencegahan, stigmatisasi untuk anak-anak dari keluarga teorisme juga perlu menjadi salah satu poin untuk menghindari tindakan bullying. Perlu dilakukan elaborasi antara berbagai pihak untuk menciptakan sekolah yang aman dan damai. “Bisa dilakukan pemilihan agen perubahan dari siswa, karena mereka adalah influencer yang masif terutama di media sosial”, ungkapnya. Ibu Nichola Ester dari Bidang Pemberdayaan Perempuan DP3AP2KB Provinsi Jateng mengatakan bahwa untuk modul panduan yang disusun dibuat interaktif seperti menggunakan permainan online yang berisi pengetahuan serta dibuat aktivitas dengan tujuan agar anak tertarik. “Penjelasan mengenai mengenal kesetaraan gender dan adanya kepercayaan seperti penghayat perlu dimasukkan untuk meminimalisir perilaku bullying”, lanjutnya.

    Dalam kegiatan ini kemudian dirumuskan bahwa dimensi yang akan dimasukkan yang semula ada dua menjadi tiga, yaitu Kearifan Lokal, Bhineka Tunggal Ika dan Bangunlah Jiwa dan Raga. Harapannya dengan menambahkan satu dimensi yaitu Bangunlah Jiwa dan Raganya dapat meningkatkan rasa nasionalisme siswa yang kemudian mencegah terjadinya tindakan radikalisme.

     

    Penulis: Tia Brizantiana-Program Officer

  • K-POP DAN EKSISTENSI BUDAYA JAWA

    K-POP DAN EKSISTENSI BUDAYA JAWA

    Di era digital saat ini banyak fenomena yang membuka mata kita bahwa ternyata Indonesia juga menjadi sorotan dunia. Remaja Indonesia yang menjadi pengguna aktif media sosial telah menjadi target market yang menjanjikan bagi pasar industri ekonomi kreatif negara-negara lain, tak terkecuali Korea.
    Berbicara tentang kontribusi masyarakat Indonesia sebagai konsumen industri hiburan Korea, rilis data dari Twitter Indonesia melaporkan bahwa percakapan dengan tema K-Pop telah mencapai 7,5 miliar tweet selama periode Juli 2020 hingga Juli 2021. Angka tersebut merupakan capaian rekor tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya Indonesia berada di posisi teratas sebagai negara dengan volume tweet dan jumlah unique authors terbanyak di Twitter yang memperbincangkan tentang K-Pop. Unique Authors merupakan akun-akun yang aktif mengamplifikasi kampanye melalui penggunaan tanda pagar (hashtag) bukan hanya audiens yang aktif membuat cuitan atau menyimak tema yang diperbincangkan di Twitter. Indonesia juga merupakan salah satu dari lima negara penyumbang tweet tertinggi di dunia tentang K-Pop diantara ke empat negara lain yaitu Filipina, Thailand, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Peluang ini dimanfaatkan banyak E-commerce dari Indonesia yang menggandeng para influencer dan artis K-Pop menjadi brand ambassador mereka. Para artis K-Pop dan influencer ini diharapkan dapat memberi pengaruh terhadap konsumen yang rata-rata berasal dari para milenial dan generasi Z atau para pecinta K-Pop (K-POPers).

    Salah satu fenomena yang kita temui di akhir Januari 2022 lalu saat jagad maya dihebohkan dengan kemunculan video berdurasi pendek yang memperlihatkan tiga orang personel boyband NCT yaitu Mark, Jaemin dan Jisung sedang menari. Melihat artis K-Pop menari tentunya bukanlah hal aneh, namun yang membuat netizen khususnya warga Indonesia merasa terkejut adalah lagu yang mengiringi tarian mereka bukanlah lagu Korea seperti biasa melainkan lagu dangdut asli Indonesia yang berbahasa Jawa. Ketiga personel NCT tersebut menirukan gerakan tarian atau koreografi yang beberapa waktu lalu menjadi tren para pengguna media sosial di Indonesia. Lagu berjudul berjudul “Mendung Tanpo Udan” yang dinyanyikan oleh Ndarboy Genk merupakan salah satu lagu dangdut berbahasa Jawa yang memang asyik dan enak didengar. Ndarboy Genk sendiri adalah sebuah proyek solo dari seorang musisi Yogyakarta bernama Helarius Daru Indrajaya. Sedangkan pencipta lagu tersebut adalah seorang seniman Bernama Kukuh Prasetya Kudamai. Deretan komentar seperti “NCT melokal!” mewarnai unggahan video tarian (dance) dari Boy Band Korea tersebut. Semula banyak orang mengira video tersebut adalah hasil editan. Namun netizen kaget sekaligus bangga karena video yang menggunakan latar lagu Indonesia tersebut diunggah di akun media sosial resmi NCT Dream. Tentunya momen dance cover Mendung Tanpo Udan oleh NCT ini adalah sebuah refleksi bagi kita akan besarnya potensi pengaruh budaya Jawa yang kita miliki di kancah dunia. Bahkan Korean wave yang dikenal secara global pun terinspirasi dengan budaya Jawa.

    Jika kita menilik perjalanan masa lalu yang dialami negara Korea dan Indonesia, keduanya memiliki latar belakang pembentukan budaya yang sangat berbeda. Banyak pondasi yang membentuk budaya Korea hingga menjadi seperti sekarang ini, salah satunya adalah pengalaman pahit Korea yang pernah dijajah oleh negara Jepang pada Perang Dunia II. Setelah Korea Selatan merdeka, maka mereka tidak mau menginfiltrasi budaya dari dua negara yang menghimpitnya yaitu Jepang dan Tiongkok. Mereka melakukan pendekatan yang sama sekali baru dengan membangun kebudayaan mereka sendiri dari nol. Berbeda dengan Korea, budaya Jawa telah terbentuk sejak zaman kerajaan, bahkan menjadi cikal bakal peradaban dunia. Manusia purba paling maju yaitu Homo Soloensis yang pertama kali menggunakan peralatan dan perkakas dari serpihan batu ditemukan di Jawa Tengah tepatnya di tepi Bengawan Solo, Sangiran dan Sragen. Selain itu di bidang Sastra, keraton Kasunanan Solo telah melahirkan pujangga besar Ronggowarsito yang hingga kini diwariskan kepada para penerusnya. Di bidang industri, Jawa Tengah juga menjadi pusatnya sejak zaman kolonial dengan berdirinya 296 pabrik gula besar yang beroperasi di wilayah tersebut..

    Aset peninggalan budaya yang telah diwariskan sejak zaman dahulu bukan hanya dalam bentuk fisik namun juga berupa budaya perilaku. Perilaku masyarakat Jawa yang sarat nilai karakter yang baik sebagai jati diri bangsa hendaknya terus dijaga dan dilekatkan kepada generasi muda melalui berbagai media. Salah satu upaya mengenalkan kembali budaya adiluhung Jawa dilakukan oleh organisasi Solo Bersimfoni. Organisasi yang digerakkan oleh para tokoh dan agen anak muda Solo ini mengangkat budaya Hasthalaku yaitu delapan sikap perilaku masyarakat Jawa yang terdiri dari Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Pangerten dan Tepa selira. Ke-8 perilaku yang menjadi budaya sejak zaman nenek moyang masyarakat Jawa ini masih sangat relevan untuk diimplementasikan di masa sekarang. Dengan Hasthalaku maka harmoni kebhinekaan dan persatuan antar budaya dapat diorkestrasikan menjadi sebuah simfoni yang selaras dan mengikuti dinamika perkembangan zaman. Di bidang Pendidikan pada kurikulum paradigma baru, salah satu unsur Hasthalaku yaitu Gotong royong menjadi bagian dari dimensi Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila sendiri merupakan perwujudan dari pelajar Indonesia yang memiliki semangat belajar sepanjang hayat, memiliki kompetensi global, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di mana terdapat enam dimensi komponennya antara lain beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Pemerintah melalui Kemdikbud juga telah memfasilitasi dengan berbagai program, salah satunya adalah program Belajar Bersama Maestro dimana para pelajar dapat bertatap muka dan belajar langsung dari para maestro seni dan budaya serta terlibat langsung dalam proses kreatif dan keseharian para seniman dan budayawan. Sehingga dalam proses tersebut para pelajar mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup yang berharga dan diharapkan mampu membentuk dan memperkuat jati diri pelajar sebagai penentu karakter bangsa di masa yang akan datang.

    Dengan melihat Kembali potensi yang dimiliki masyarakat Jawa dan kekayaan budaya yang dimilikinya, maka budaya Jawa akan tetap eksis bahkan dapat bersaing dengan negara-negara lainnya. Meskipun derasnya arus globalisasi seperti merebaknya budaya K-Pop atau Korean Wave tidak dapat kita bendung. Budaya luar akan menambah khasanah dan inspirasi kita dalam berkarya, namun pengetahuan dan ketrampilan global yang dimiliki para generasi muda akan tetap selaras dengan budayanya sebagai jati diri bangsa yang tidak akan tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi. Setiap tempat dapat menjadi pusat budaya. Budaya adalah ekosistem yang dapat menumbuhkan berbagai aspek kehidupan lainnya seperti ekonomi, politik dan sosial dengan baik. Kolaborasi dari berbagai unsur dapat saling mengisi sehingga menguatkan keberadaan budaya Jawa yang kita miliki. Pemerintah dengan kebijakannya, masyarakat khususnya generasi muda dengan kreatifitasnya dapat menunjukkan kecintaan pada budaya sendiri melalui berbagai platform media sosial sebagai katalisator yang menjembatani konektivitas dengan bangsa lain, sehingga budaya Jawa dapat dikenal dan bersaing secara global dan tak kalah eksis dengan budaya Korea.

    Penulis: Asri Pujihastuti, S.Pd. (Guru SMKN 7 Surakarta dan Sahabat Simfoni)

  • MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA

    MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA

    Pandemi yang kita hadapi saat ini telah membawa berbagai permasalahan pelik dalam dunia pendidikan. Siswa menjadi salah satu unsur dalam sistem pendidikan yang terdampak oleh pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan (daring). Banyaknya tugas yang menumpuk menjadikan mereka merasa stress dan kelelahan dalam mengejar deadline. Belum lagi tugas-tugas tersebut diberikan oleh banyak guru mapel dan harus diselesaikan dalam waktu yang singkat. Persoalan lainnya adalah kurangnya interaksi guru dan murid dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang membuat murid merasa jenuh serta tidak memiliki gairah dalam belajar. Ini tentu menjadi sebuah hal yang kontradiktif ketika saat ini program merdeka belajar tengah menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan kita. Di mana konsep merdeka belajar adalah agar murid merasa bahagia dalam menempuh pendidikan. Namun kenyataannya justru murid merasa terbelenggu dengan proses belajar itu sendiri.

    Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 13-20 April 2020 lalu, dari 1.700 responden sebanyak 77,8% memiliki kesulitan berupa tugas yang menumpuk. Sedangkan 37,1% responden mengeluhkan tugas dari guru dengan waktu pengerjaan yang sempit sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan. Responden tersebut merupakan gabungan siswa dari jenjang TK sampai SMA/sederajat yang tersebar di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota di Indonesia. Responden sebesar 79,9% mengatakan bahwa interaksi murid dan guru sangatlah minim. Interaksi dalam PJJ hanya berlangsung saat guru memberikan dan menagih tugas saja. Sedangkan 87,2% murid menyatakan bentuk interaksi yang paling sering dilakukan adalah melalui percakapan via aplikasi online chat yang masih kurang efektif sebagai sarana komunikasi antara guru dan murid. Tentu bisa dibayangkan bagaimana tekanan yang dirasakan oleh murid untuk menyelesaikan tugas yang sangat banyak. Mereka seharusnya dapat menyerap ilmu yang diberikan guru dengan optimal tetapi justru kehabisan waktu dan energi hanya untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum tentu mereka pahami.

    Sebagai seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saya sendiri merasakan problem tersebut. Kondisi yang saya amati dalam proses belajar mengajar di sekolah pada umumnya belum mencerminkan apa yang menjadi tujuan konsep belajar Kurikulum Paradigma Baru, yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid. Guru seharusnya dapat memberikan keleluasaan kepada murid untuk belajar dengan menyenangkan tanpa tekanan. Penggunaan Learning Management System (LMS) yang kurang optimal tidak bisa memberikan ruang terjadinya interaksi dua arah antara guru dan murid. Kebanyakan guru hanya mengunggah materi dan tugas di platform Google Classroom yang harus diselesaikan oleh murid secara mandiri. Sebagian besar guru tidak memberikan kesempatan siswa untuk berkonsultasi terkait tugas mereka ketika mengalami kendala. Beberapa murid bahkan mencari jalan pintas dengan menyalin pekerjaan temannya, namun tidak memahami materi yang diajarkan. Banyak murid kesusahan karena tugas yang menumpuk. Guru pun tak kalah susah dengan pelaporan jurnal dan administrasi yang cukup merepotkan. Pada akhirnya yang terjadi adalah proses pembelajaran yang hanya sekedar menjadi sebuah aktivitas untuk menggugurkan kewajiban, tetapi kurang bermakna.

    Pembelajaran daring sampai saat ini masih dijalani oleh guru dan murid meskipun Pembelajaran tatap Muka (PTM) sebagian sudah mulai dilakukan. Guru dituntut agar lebih kreatif dalam mengelola kelas, melakukan inovasi dan mengembangkan metode mengajar sehingga kelas lebih interaktif. Proses pembelajaran hendaknya dikondisikan agar membuat siswa lebih terlibat secara penuh. Tatap maya dengan memanfaatkan aplikasi seperti Google Meet dan Zoom dapat dilakukan untuk mewadahi siswa dalam menyampaikan ide-idenya. Fitur Share Screen dalam aplikasi video conference dapat dioptimalkan untuk memberi kesempatan pada siswa dalam menyampaikan paparan materi secara menarik menggunakan bahasanya sendiri. Aplikasi yang mendukung pembelajaran secara visual seperti Canva juga bisa menjadi pilihan dalam membuat presentasi yang menarik sehingga pembelajaran di kelas berlangsung seru dan asyik.

    Murid perlu diberi kesempatan untuk mengekspresikan bagaimana suasana hatinya pada saat pembelajaran dan memberi umpan balik kepada guru. Ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi papan tulis virtual seperti mentimeter, padlet atau jamboard. Selain menjalin komunikasi dua arah, kegiatan menyenangkan semacam ini juga penting sebagai refleksi dan evaluasi guru dalam menjalankan tugas mengajarnya. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru. Guru hanyalah fasilitator dan pelayan murid yang menunjukkan sikap among, serta mendengar apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan muridnya. Jika diibaratkan sebuah gambar, maka para murid ini memiliki garis-garis tipis yang harus ditebalkan oleh guru dengan memberikan penguatan dan bimbingan dalam proses belajar.

    Sudah saatnya seorang guru mampu menjalankan perannya sebagai pendidik untuk memberikan  pembelajaran yang bermakna. Guru hendaknya bisa membuat para murid menikmati dan mencintai proses belajar dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Sumber daya yang ada dapat dioptimalkan dalam berinovasi. Guru hendaknya terus melakukan refleksi dan evaluasi diri. Hal ini penting bagi perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Perlu disadari bahwa murid merupakan individu dengan karakter yang unik dan potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mereka juga memiliki kebutuhan yang beragam karena berangkat dari berbagai latar belakang. Pembelajaran yang menyenangkan akan membuat kelas maya dipenuhi dengan senyum dari wajah-wajah ceria seperti yang kita dambakan. Merdeka belajar bukan hanya sekedar angan-angan,  namun dapat kita wujudkan dengan melakukan perubahan.

     

    Penulis : Asri Pujihastuti,S.Pd.
    Sahabat Simfoni dan Guru SMKN 7 Surakarta

    Pernah dimuat di Koran Solo
    Tanggal : Sabtu, 7 Desember 2021

  • LAUNCHING ONLINE IMPLEMENTASI  MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI TAHUN 2021

    LAUNCHING ONLINE IMPLEMENTASI MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI TAHUN 2021

    Jumat, 30 Juli 2021 Solo Bersimfoni melaksanakan kegiatan Launching Online Implementasi Model Sekolah Adipangastuti Tahap III Tahun 2021. Acara ini  dilaksanakan selama satu jam, mulai pukul 13.00-14.00 WIB melalui Zoom Cloud Meeting. Acara dihadiri oleh Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Bapak Eris Yunianto, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jateng, Bapak Nasikin, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Jateng, Bapak Sunarno dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jateng, Bapak Suratno, Perwakilan Komisi E DPRD Jawa Tengah, Muhammad Zein, Tim Ahli DPRD Provinsi Jawa Tengah, Bapak Huntal Hutapea, Kepala Kesbangpol Kota Surakarta, Bapak Indradi, Kepala Bidang Sosial, Budaya dan Pemerintahan BAPPPEDA Kota Surakarta, Ibu Sumilir Wijayanti serta sekolah adipangastuti tahap pertama, kedua dan ketiga.

    Model Sekolah Adipangastuti adalah sekolah toleransi berbasis budaya yang sudah diterapkan selama dua tahap yaitu tahun 2019 dan tahun 2020. Pada tahun 2019, ada dua sekolah pilot project implementasi yaitu SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Yang kemudian pada tahun 2020 dikembangkan ke lima sekolah dengan lingkup Soloraya yaitu di SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen. Selanjutnya, pada tahun 2021 dilaksanakan tahap III implementasi model sekolah di SMAN 1 Karanganyar dan SMAN 2 Boyolali yang akan dijalankan selama 6 bulan sejak  Juli-Desember 2021. Program dan luaran pada masing-masing sekolah akan disesuaikan dengan kebijakan masing-masing sekolah.

    Pada tahap III ini, Solo Bersimfoni bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, dalam hal ini melalui Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah V Provinsi Jawa Tengah, Nasikin, S.Stp.,M.Kom. dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VI, Drs Sunarno, M.Pd. yang telah memberikan dukungan penuh dengan mengeluarkan surat rekomendasi untuk penerapan Sekolah Adipangastuti di masing-masing sekolah naungannya.

    Model Sekolah Adipangastuti berisi mengenai program progam untuk mengajarkan pendidikan karakter hasthalaku dengan target ada tiga, yaitu Literasi dan Digitalisasi dengan cara budaya literasi tema hasthalaku dikemas sedemikian rupa agar remaja milenial sekolah SMA/SMK model adipangastuti tertarik untuk membangun tema-tema kebaikan yang dapat didistribusikan secara digital, misalnya video, film, blog, content creator, novel, komik dan sebagainya. Yang kedua adalah branding sekolah dengan nilai hasthalaku. Kegiatan branding hasthalaku di sekolah diharapkan menghasilkan tampilan fisik sekolah yang mengkampanyekan nilai-nilai hasthalaku. Berupa poster, leaflet, mading, hiasan sekolah, tagline, dan sebagainya. Kemudian adalah peningkatan kapasitas media sosial sekolah. Penguatan platform digital seperti Website sekolah, pengelolaan sosial media sekolah seperti Youtube, FB, IG, Twitter, dan sebagainya.

                Acara ini dimulai dengan laporan kegiatan oleh M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni yang kemudian sambutan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V, VI dan VII Provinsi Jawa Tengah dan diakhiri dengan pembukaan Program Sekolah Adipangastuti Tahap III Tahun 2021 oleh Bapak Eris Yunianto. Beliau mengatakan, “Saya sangat mengapresiasi Solo Bersimfoni yang telah tergerak dan bergerak dalam membumikan nilai-nilai kearifan lokal hasthalaku kepada pelajar SMA di wilayah Soloraya berbasis teknologi informasi”.

    Tujuan Kegiatan Launching Online Implementasi Model Sekolah Adipangstuti Tahun 2021 ini sebagai kick off dilaksanakannya implementasi Sekolah Adipangastuti Tahap III di SMAN 1 Karanganyar dan SMAN 2 Boyolali, yang telah berkomitmen dengan adanya persetujuan MoU yang telah disepakati bersama antara Solo Bersimfoni dan masing-masing sekolah. Yang mana mereka akan kreatif dan inovatif berkomitmen mengembangkan nilai-nilai budaya lokal Hasthalaku selama enam bulan. Yang terakhir untuk mendorong  penerapan nilai-nilai budaya lokal hasthalaku sebagai upaya pembangunan toleransi, perdamaian dan keberagaman.

     

    Penulis: Tia Brizantiana

  • Ada Hasthalaku dalam Film You and I

    Ada Hasthalaku dalam Film You and I

    Apakah kalian sudah menonton Film You and I garapan sutradara Fanny Chotimah dan diproduseri oleh KawanKawan Media? Kalau sudah, mari kita tersenyum mengenang Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. Jika belum, mari menonton di Bioskop Online*. Cukup dengan sepuluh ribu rupiah, kita bisa merasakan bagaimana rasa saling cinta yang ada pada kedua sahabat tersebut bercampur dengan rasa haru,  membuncah dan meninggalkan rasa menyenangkan setelah menonton film ini. Hangat sampai ke hati.

    Film You and I berhasil menyabet berbagai penghargaan, diantaranya Asian Perspective Award dari 12th DMZ International Documentary Film Festival, Official Selection di Asian Vision dari Singapore International Film Festival 2020 dan Next:Wave Award di CPH:DOX International Film Festival di Denmark 2021. Selain itu di dalam negeri film ini memenangkan Film Dokumenter Panjang Terbaik dari Festival Flm Indonesia 2020 dan Piala Maya 9.

    Film dokumenter berdurasi 72 menit ini bercerita tentang kisah Kusdalini dan Kaminah di masa tua. Pemeran utamanya adalah mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Awal mula diceritakan bagaimana mereka bertemu yang kemudian menjadi sahabat tak terpisahkan sampai maut menjemput.

     

    Diceritakan saat masih belia, mereka bertemu di penjara pada tahun 1965 sebagai tahanan politik. Ketika Kusdalini keluar dari penjara tahun 1967, setiap hari dia mengunjungi Kaminah meski sempat ditakut-takuti oleh petugas penjara. Kaminah keluar dari penjara pada tahun 1972. Saat dia keluar, keluarga menolaknya. Apa yang kemudian terjadi padanya?

    Berlokasi di Solo, proses pengambilan video memakan waktu cukup lama, yaitu empat tahun dari 2016 sampai 2020. Fanny Chotimah mengatakan, “Awalnya kami tidak langsung melakukan take video, setiap hari saya dan tim ke rumah mereka hanya untuk mengobrol agar suasana menjadi menyenangkan.” Sungguh suatu pangerten yang luar biasa, bukan?

    Kalau diperhatikan, banyak nilai hasthalaku yang ada dalam film ini. Bagaimana guyub rukun mereka tampak dari dialog “We only have each other” yang sangat mendebarkan hati. Tetangga sekitar mereka pun selalu bergotong royong membantu setiap ada kesulitan, seperti saat mengganti atap rumah maupun mengantar ke Rumah Sakit saat Mbah Kus menurun kesehatannya dan harus dirawat inap.

    Bagaimana pangerten yang ada pada keduanya, untuk selalu menemani dalam suka dan duka. Bagaimana teman-teman mereka tetap grapyak semanak bersilaturahmi setiap bulan, meski sudah tak muda lagi. Orang-orang ini sungguh bisa disebut sebagai agen hasthalaku. Tak hanya sebagai teori tetapi juga praktek nyata sehari-hari.

    Hasthalaku adalah nilai budaya baik yang sewajarnya diterapkan dalam keseharian semua orang diusia berapapun. Jika Mbah Kam dan Mbah Kus saja bisa, anak muda tentunya harus bisa.

     

    Selamat menghabiskan waktu berdua dengan bahagia di atas sana, Mbah Kam dan Mbah Kus.

    Dengan penuh cinta,

    Solo Bersimfoni

     

    Penulis : Tia Brizantiana