Tag: gubenur jawa tengah

  • Gubernur Jateng: Mengukuhan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri “Wanita Indonesia Wanita Tangguh”

    Gubernur Jateng: Mengukuhan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri “Wanita Indonesia Wanita Tangguh”

    Pengukuhan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri

    “Wanita Indonesia Wanita Tangguh”

    Kerjasama:

    Yayasan Gema Salam dan Solo Bersimfoni

     

    Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P telah mengukuhkan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri pada hari Jumat tanggal 16 September 2022 di Hotel Grand Sae Surakarta. Pengukuhan ini juga dihadiri oleh Walikota Surakarta, Komandan Densus 88 AT Polri, Komandan Kodim 0735, Kapolres Kota Surakarta, Dinas Koperasi Provinsi Jawa Tengah, Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Surakarta, Kesbangpol Kota Surakarta, BAPAS Kota Surakarta, Dinas Sosial Kota Surakarta, Kapolsek Kecamatan Banjarsari, Ketua Kadin Solo dan Perkumpulan Solo Bersimfoni.

    Dalam sambutan dan arahannya, Gubernur Jawa Tengah mengatakan akan dukungannya terhadap terbentuknya koperasi ini, sebagai wujud pesan perdamaian dan gotong royong. Beliau juga mengatakan ucapan terima kasihnya kepada Ketua Solo bersimfoni atas bantuannya dalam pembentukan koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri.

    Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri merupakan koperasi yang dibentuk atas kerja sama antara Yayasan Gema Salam dan Perkumpulan Solo Bersimfoni. Koperasi ini beranggotakan istri-istri eks narapidana teroris (napiter) yang merupakan istri dari mitra Yayasan Gema Salam. Sesuai dengan taglinenya yaitu “Wanita Indonesia Wanita Tangguh”, pembentukan koperasi ini sebagai pemberdayaan perempuan bagi para istri dalam penguatan ekonomi khususnya kelembagaan usaha yaitu pembentukan koperasi bagi istri eks napiter di Provinsi Jawa Tengah. Kadensus 88 AT Polri, Irjen. Pol. Marthinus Hukom, S.I.K., M.Si., berkata, “Perempuan adalah dasar dari pendidikan anak, sehingga seorang ibu harus bisa berkembang.”

    Kegiatan tersebut menjadi salah satu strategi pendekatan reintegrasi eks napiter khususnya dari kalangan perempuan agar memiliki akses yang lebih luas terkait dengan pemasaran produk barang dan jasa yang dihasilkan dari keluarga eks napiter. Di samping itu, adanya kelembagaan koperasi menjadi wadah dan pintu masuk bagi berbagai peluang dan bantuan pihak-pihak terkait, baik Non-Goverment Organization (NGO) maupun pemerintah untuk membantu dan mempercepat pemulihan ekonomi dalam proses reintegrasi eks napiter di tengah-tengah masyarakat.

     

    Peserta Diklatkop berfoto bersama dengan pemateri 

    Sebelum pengukuhan, telah dilaksanakan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Perkoperasian (DIKLATKOP) bagi para pengurus dan anggota koperasi. Maksud dari kegiatan ini adalah meningkatkan wawasan dan keahlian tentang manajemen perkoperasian dan membentuk wadah kelembagaan koperasi bagi istri eks napiter di Provinsi Jawa Tengah serta memberikan akses pembiayaan dan pasar untuk produk barang/jasa yang dihasilkan keluarga eks napiter tersebut.

    Program ini merupakan implementasi dari kebijakan Pemerintah Republik Indonesia tentang Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang mengarah pada terorisme (Perpres Nomor 7 Tahun 2021) khususnya Pilar 1 yang terdiri dari pencegahan (Kesiap-siagaan, kontra radikalisasi dan deradikalisasi).

     

     

     

     

     

    Penulis: Tia Brizantiana-Program Officer Solo Bersimfoni

  • “KONTRIBUSI REMAJA MILENIAL untuk PENGUATAN KEBANGSAAN  melalui PENERAPAN NILAI-NILAI HASTHALAKU”

    “KONTRIBUSI REMAJA MILENIAL untuk PENGUATAN KEBANGSAAN melalui PENERAPAN NILAI-NILAI HASTHALAKU”

    Webinar Wisuda Program Sekolah Adipangastuti

    Kamis, 17 Desember 2020

    Pada tanggal 17 Desember 2020, Solo Bersimfoni menyelenggarakan wisuda Program Sekolah Adipangastuti secara daring dengan tema “Kontribusi Remaja Milenial untuk Penguatan Kebangsaan melalui Penerapan Nilai-Nilai Hasthalaku”. Adipangastuti adalah model sekolah toleransi berbasis budaya yang sudah diterapkan selama dua tahap yaitu tahun 2019 dan 2020 dan di tahap ini telah dilakukan selama bulan Juli-Desember 2020. Bapak Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. hadir sebagai pembicara dalam kegiatan ini sekaligus untuk mengukuhkan lima sekolah percontohan di Solo Raya sebagai Sekolah Adipangastuti.

    Kegiatan diikuti oleh sekiranya 1466 guru dan siswa dari sekolah percontohan Adipangastuti periode 2019 di Kota Solo yaitu SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta serta tiga sekolah tambahan di periode 2020 di Solo Raya yaitu SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen. Turut hadir Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VI Provinsi Jawa Tengah, Suratno, S.Pd., M.Pd., dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII, Suyanta, S.Pd., M.Pd. yang telah memberikan dukungan penuh sejak awal penerapan model Sekolah Adipangastuti serta para relawan Sahabat Simfoni yang selama ini mendampingi implementasi program-program Sekolah Adipangastuti.

     

    Bapak Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. hadir sebagai pembicara.

    Dalam pengantarnya Ketua Solo Bersimfoni M. Farid Sunarto menyebutkan bahwa model Sekolah Adipangastuti berisi pendidikan karakter hasthalaku[1] dengan budaya literasi yang dikemas secara menarik bagi remaja milenial. Tema-tema kebaikan kemudian didistribusikan secara digital lewat video, film, blog, konten, podcast, novel, komik dan lainnya. Tak kalah penting adalah branding sekolah untuk mengkampanyekan nilai-nilai hasthalaku melalui poster, leaflet, majalah dinding, hiasan sekolah dan tagline karya guru serta siswa. Peningkatan kapasitas media sosial serta penguatan platform digital juga dilakukan sehingga website dan media sosial sekolah seperti Youtube, FB, IG, Twitter dapat menyuarakan nilai-nilai hasthalaku. “Apalagi terjadinya pandemi Covid-19 telah memaksa siswa dan guru untuk lebih melek digital maka nilai-nilai hasthalaku menjadi sangat penting untuk dipahami dan dilakukan oleh generasi muda agar tercipta toleransi, perdamaian, dan menghargai keberagaman di mana saja termasuk di dunia maya,” kata Farid.

     

    Dalam kegiatan Bapak Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. ini sekaligus mengukuhkan lima model Sekolah Adipangastuti

    Bapak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan materi menarik berkaitan dengan tantangan berat yang dihadapi generasi muda di era disruptif ini. “Kita harus terbiasa untuk menerima perbedaan sejak dini,” ucapnya sambil menceritakan pentingnya tata krama dalam bermedia sosial dan rasa tanggung jawab ketika menyebarkan sebuah informasi. “Jika hasthalaku dapat benar-benar diterapkan di setiap sekolah saya yakin tidak akan ada lagi perundungan dan permusuhan,” tambahnya.

     

    Antusiasme para peserta Webinar Wisuda Program Sekolah Adipangastuti

    Webinar ditutup dengan pengukuhan lima sekolah percontohan menjadi Sekolah Adipangastuti oleh Bapak Gubernur. “Nilai-nilai hasthalaku harus ditularkan kepada sekolah-sekolah di wilayah lain, dan itu hanya bisa dilakukan apabila konsepnya dipahami serta diinternalisasi oleh setiap warga sekolah Adipangastuti sehingga akhirnya menjadi budaya yang terbukti baik dan bisa dicontoh.”

    Program Sekolah Adipangastuti yang terselenggara atas dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice 2 (AIPJ2) ini direncanakan untuk dua sekolah baru di lingkup Solo Raya pada tahun 2021. Harapannya, program ini juga bisa diterapkan pada sekolah lain di Jawa Tengah.

     

    Ditulis oleh: Tia Brizantiana

    [1] Pendekatan budaya dan perilaku yang dikembangkan Solo Bersimfoni menjadikan aspek budaya Jawa (Solo) menjadi instrumen utama dan sebuah model untuk mengubah perilaku intoleran menjadi perilaku yang toleran dan cinta damai. (https://solobersimfoni.org/?page_id=415)

  • Hasthalaku Di Rumah Aja

    Hasthalaku Di Rumah Aja

    Tantangan terbesar bagi orang yang terbiasa beraktivitas di luar rumah seperti pekerja dan pelajar adalah harus berlama-lama di rumah. Tidak boleh keluar, interaksi fisik dan sosial yang dibatasi – hanya dengan lingkup terkecil kita. Keluarga. Hal yang lebih menantang adalah ketika harus bekerja atau menyelesaikan tugas berbarengan dengan momong anak, bersih-bersih rumah, atau berbagi laptop atau rebutan koneksi internet dengan kakak/adik. Jika tidak dikelola dengan baik, berdamai dengan keadaan dan menjaga kewarasan, bukan tidak mungkin manusia kembali menjadi homo homini lupus – manusia adalah mangsa manusia yang lain.

     

    “Manusia itu adalah apa yang bersiapa dan siapa yang berapa”. Ke-siapa-an manusia diuraikan dalam rumusannya “manusia adalah makluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya”. […] manusia sebagai subjek atau persona yang sadar. Tanpa kesadaran manusia tidak mampu berhadapan dengan dirinya sendiri, apalagi menyadari berada dalam dunia” (Prof. Dr. N. Drijarkara, Percikan Filsafat, 1978).

     

    Bukankah homo homini socius – manusia yang berguna bagi manusia yang lain sebagai makhluk sosial berkedudukan jauh lebih baik dimata semua agama, suku, dan golongan? Menjadikan manusia sebagai manusia sebagaimana adanya dalam tatanan Jawa disebut dengan nguwongke uwong. Budaya Jawa mengenal pepatah rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah yang berarti bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmonisasi antar sesama.

     

    Hasthalaku merupakan generalisasi beberapa nilai budaya Jawa yang sangat erat dengan kehidupan saat ini. Demikian juga pada masa-masa berat ini. Pandemi COVID-19 dapat memberikan peluang bagi kita untuk belajar berbagai hal baru atau lama yang dapat dilakukan dari rumah dengan orang-orang terdekat kita. Memulai dari hal-hal kecil. Saling memahami peran anggota keluarga, membagi waktu antara pekerjaan kantor atau sekolah dengan pekerjaan rumah tangga. Memanfaatkan waktu untuk bercerita dan bercengkerama, lepas dari gawai yang menghubungkan dunia maya. Dan lain sebagainya.

     

    Demikian juga kegiatan penggalangan dana (fundraising) secara online untuk membantu pengadaan alat pelindung diri (APD) misalnya, merupakan istilah modern yang menggunakan konsep gotong royong sebagai kristalisasi nilai hasthalaku. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia merupakan bentuk solidaritas sosial. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang didalamnya kaya akan nilai edukatif. Tak ayal, survey yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia merupakan sebuah keniscayaan. Urip Iku Urup (Hidup itu adalah nyala, manuisa hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitarnya)

     

    Maka dari itu sangat penting untuk dapat tepa selira, saling menghargai serta memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah oleh adanya perbedaan-perbedaan, tidak termakan berita bohong atau hoaks. Dengan selalu mencari tahu kebenaran dan keabsahan berita sebelum kita sebar-luaskan kembali. Saring sebelum Sharing, karena Sharing is Caring.

     

    Sikap saling menghargai, saling pengertian, saling sapa, saling bantu, dan saling menghormati seperti yang ada pada hasthalaku yang dimulai dari rumah ini, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dikembangkan dan dilaksanakan secara kontinyu kan membawa kerukunan, ketenangan, dan perdamaian dimulai dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Dengan kata lain, selama manusia hidup di dunia haruslah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan benci. Memayu hayuning bawana, ambrastha dur angkara.

     

    Penulis: Khresna Bayu Sangka

     

  • Fragmen Hasthalaku Di Depan Gubernur Jawa Tengah

    Fragmen Hasthalaku Di Depan Gubernur Jawa Tengah

    Murid-murid memasuki kelas. Bapak guru pun mulai menerangkan pelajaran, tetapi mereka tidak mendengarkan perkataan bapak guru namun sibuk ber-wefie bahkan mengajak bapak guru untuk wefie bersama-sama.

    Sepenggal cerita di atas menjadi pembuka pementasan fragmen persembahan Sahabat Simfoni pada acara Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) Provinsi Jawa Tengah pada hari Kamis tanggal 17 Oktober 2019 di UTC Convention Hotel Semarang. Tema FORKOPIMDA kali ini adalah Komitmen Bersama Menjaga Jawa Tengah Tetap Guyub, Toleran, Aman dan Tenteram. Rapat koordinasi ini dilakukan untuk menyikapi beberapa berita yang menyedihkan akhir-akhir ini, seperti adanya anak-anak yang masuk Rumah Sakit Jiwa karena kecanduan gawai.

    Fragmen sepuluh  menit tersebut membuka acara yang dihadiri antara lain oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. “Fragmen tadi bagus sekali, menggambarkan bagaimana anak sekolah mengajak gurunya wefie dan tidak hormat kepada gurunya, kemudian menyadari kesalahan sendiri dan mencari solusi dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka”. Fragmen yang dilakukan oleh Sabahat Simfoni, yaitu relawan dari Solo Bersimfoni yang menjadi kepanjangan tangan untuk menyebarkan hasthalaku, menjadi penting karena memberikan contoh yang nyata mengenai sikap dan perilaku tidak baik di kalangan remaja. Dengan pementasan fragmen ini, Solo Bersimfoni mempunyai harapan agar hasthalaku lebih dikenal lagi bahkan di Jawa Tengah.

    Ganjar Pranowo juga menjelaskan bahwa kini banyak sekali kegiatan positif bagi siswa-siswi SMA dan mahasiswa yang bisa memupuk jiwa toleransi seperti forum anak yang sudah mulai rutin dilakukan di setiap daerah dan didukung oleh UNICEF. Ada juga program “Sehari Bersama Gubernur” yang bertujuan agar orang di luar pemerintahan bisa melihat persoalan di masyarakat secara langsung, serta dapat memberikan ide dan aspirasi untuk masalah yang ada. Hal ini juga disepakati oleh Rektor UNDIP, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H.,M.Hum, “Anak-anak muda harus bisa memilih dan memilah kegiatan yang positif bagi dirinya”.

    Pangdam IV Diponegoro, Mayjen Mochamad Effendi juga menambahkan bahwa kita semua sebagai WNI memiliki warna dan mempunyai kewajiban yang sama yaitu menciptakan suasana damai. “Contoh nyatanya adalah kita mengumpulkan semua di sini dengan latar belakang yang berbeda-beda. Seperti yang disampaikan oleh adik-adik dalam fragmen dari Solo Bersimfoni, meskipun kita berbeda tetapi kita punya rasa untuk mempersatukan Indonesia”, ungkapnya. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bahu-membahu. Kondisi harmonis dan rukun ini tidak dibangun oleh satu orang saja tetapi banyak orang, semua lapisan masyarakat turut berpartisipasi dalam menjaga keharmonisan.

    Terakhir, Ganjar Pranowo mengingatkan kepada hadirin terutama anak-anak muda tentang komitmen mereka dalam menjaga kerukunan dan perilaku di Jawa Tengah dan Indonesia. Tentu saja komitmen bersama ini harus terus dipegang agar terjalin rasa saling menjaga perilaku dan menjaga kata-kata demi kedamaian bersama.

    #MariKitaBersimfoni

    #MariMenjagaToleransiUntukNegeri