perempuan solo raya

Perempuan Soloraya dalam Pusaran Terorisme

Tulisan ini menguak bagaimana perjuangan perempuan istri para narapidana kasus terorisme (Napiter) berjuang setelah suaminya ditangkap. Tidak sedikit perempuan yang tidak tahu-menahu aktivitas suaminya. Mereka tidak menyangka perubahan positif yang dialami sang suami justru berakhir pada jerat jaringan terorisme.   Kisah Ani, Istri Seorang Napiter bernama Mardi Ruang tamu itu terlihat begitu sederhana. Tak ada hiasan yang terpasang di dindingnya, hanya ada sejumlah kursi kayu yang ditata menempel ke dinding berwarna krem. Warung makan yang berada di bagian sisi depan rumah sedang tutup, karena sedang bulan puasa. Dari lubang pintu, aku bisa melihat pengunjung supermarket yang terletak tepat di samping rumah, datang dan pergi. Aku sempat kesulitan menemukan rumah ini. Google maps yang dikirim Pak Mardi (bukan nama sebenarnya) sang pemilik rumah melalui pesan WhatsApp ternyata kurang akurat. Penulisan alamat juga terbalik antara RT dan RWnya. Hal ini cukup membuatku bingung hingga harus tersesat cukup lama sebelum akhirnya berhasil menemukan rumah yang sebenarnya terletak tepat di pinggir jalan raya. Oleh Pak Mardi aku dikenalkan kepada istrinya, Ani, juga bukan nama sebenarnya. Setelah tak lama saling mengenal, obrolan tentang keterlibatan Mardi dalam jaringan terorisme pun terus mengalir. Mardi yang saat ini berusia 50 Tahun, bergabung ke dalam kelompok yang bernama Azam Dakwah Center (ADC) yang dulu bermarkas di Ngruki, Sukoharjo. Menurut informasi dari Mardi, ADC berafilisiasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Ia ditangkap pada 2017 terkait kasus bom molotov di Solo Baru, Sukoharjo. Sebenarnya serangan bom molotov ini bisa dikatakan gagal. Sehingga tidak banyak orang yang tau. Namun, belakangan polisi berhasil mengendus adanya keterkaitan antara kasus ini dari hasil pengembangan kasus teroris di Bekasi. Menurut polisi kelompok ini antara lain bertanggung-jawab atas pengeboman di Kawasan Sarinah pada Januari 2016 dan serangan bom molotov di Solo Baru Sukoharjo. Menurut pengakuan Ani, dia tidak tau menau mengenai keterlibatan suaminya dalam serangan bom molotov itu. Pada saat terjadinya penyerangan, Pak Mardi bercerita tentang perannya sebagai pengawas yaitu bertugas untuk mengamankan dan memantau lokasi pengeboman. Ani mengisahkan, keterlibatan suaminya dengan kelompok teroris ini bermula saat ia bergabung dengan sebuah kelompok pengajian. Awalnya Ani menyambut gembira perubahan positif yang dialami suaminya. Namun, belakangan baru ia tahu kalau ternyata sang suami bergabung dengan kelompok garis keras. “Ya saya sih mendukung, Mbak, kalau suami itu rajin sholat dan pengajian. Dulu waktu muda suami saya tuh gangster, Mbak. Setelah menikah pun sholatnya masih bolong-bolong. Kalau saya ajak sholat pasti jawabannya iya nitip aja gitu. Dari yang seperti itu terus berubah drastis mau sholat dan ngaji saya seneng, Mbak. Cuma ya nggak tau kalau ternyata ngajinya di tempat yang salah,” terang Ani. Suatu sore hari Pak Mardi pamit pergi ke masjid untuk menunaikan sholat ashar berjamaah. Namun ternyata sampai malam tiba bahkan hingga keesokan harinya dia tidak kunjung pulang. Ani pontang-panting mencari informasi tentang keberadaan suaminya. Berbagai tempat yang biasa disinggahi suaminya ia datangi tapi hasilnya nihil. Hingga keesokan paginya, Ani memutuskan untuk mendatangi kantor kelurahan untuk melaporkan suaminya yang tidak kunjung pulang. Baru ketika itu Ani tahu jika suaminya ditangkap oleh Densus 88 Antiteror karena diduga terlibat aksi terorisme. Ani menyayangkan sikap Densus 88 yang tidak memberitahu pihak keluarga saat penangkapan, “Saya udah bingung suami posisinya di mana, Mbak, kok ya tidak ada pemberitahuan ke rumah dan keluarga dulu kalau ada penangkapan gitu,” keluhnya Siang hari sepulang dari kelurahan, rumah Ani didatangi oleh petugas Densus 88. Mereka datang dengan didampingi petugas dari kelurahan untuk menggeledah seisi rumah Mardi. Saat penggeledahan, Ani meminta agar rumahnya tidak diobrak-abrik dan semua barang dirapikan kembali ke keadaan semula. Dalam penggeledahan itu, petugas menyita dua alat bukti yaitu Al-Qur’an dan buku catatan Pak Mardi selama mengikuti pengajian. “Saya nggak habis pikir lho, Mbak, masa’ alat buktinya Al-Qur’an. Iya Al-Qur’an yang biasa kita baca itu!” ucapnya masygul. Setelah Mardi ditangkap, kini tanggung jawab ekonomi rumah tangga berpindah sepenuhnya ke pundak Ani. Ia yang semula seorang ibu rumah tangga kini harus menjadi tulang punggung keluarga dan bertindak sebagai bapak sekaligus ibu bagi ketiga anaknya. Kegalauan Ani makin menjadi, karena anak sulungnya akan melangsungkan pernikahan pada bulan April 2018, padahal Mardi ditangkap pada Desember 2017 atau hanya beberapa bulan sebelum pernikahan itu berlangsung. Setelah melalui perundingan yang panjang antara kedua keluarga, akhirnya diputuskan untuk memajukan tanggal pernikahan menjadi Januari 2018. Dari pihak keluarga laki-laki tidak mempermasalahkan meskipun calon mempelai perempuan adalah anak dari tersangka teroris. Karena Mardi sedang mendekam di penjara, posisinya sebagai wali akhirnya digantikan oleh adik laki-laki Ani. Ani melakukan segala upaya agar roda ekonomi keluarganya tetap berjalan dan untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya. Seperti membuat keset dan mengontrakkan sepetak rumah untuk dibuat ruko. Awalnya Ani memiliki usaha warung makan, tetapi tak lama setelah Mardi ditangkap, tak sedikit masyarakat yang menjauhi dan menghindari Ani dan keluarganya. Kondisi ini membuat Ani khawatir dagangannya tidak laku sehingga ia memutuskan untuk menutup warungnya. Setelah menutup warung makannya, Ani lantas beralih profesi dan bekerja membuat keset. Dari pekerjaan ini ia bisa mengantungi Rp 75 ribu sehari. “Ya lumayan, Mbak, itu biasanya saya nargetin sehari harus dapat segini supaya dapat Rp. 75.000 perhari. Gimanapun caranya saya coba selesaikan, Mbak. Kalau belum selesai ya saya lembur sampai gak tidur. Demi anak-anak.” imbuhnya. Beban Ani sedikit berkurang, karena tak lama kemudian ada yang berminat mengontrak ruko di samping rumahnya untuk dijadikan toko kelontong. Ini karena Ani mematok harga miring atau di bawah harga rata-rata meski lokasi tanahnya sangat strategis dan berada di pinggir jalan raya. “Kan kemarin banyak orang-orang yang menjauhi kita, Mbak, makanya saya tawarkan harga rendah. Alhamdulillahnya yang nyewa mau kita mintain uangnya di awal. Jadi sangat membantu,” ujar Ani tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Dan kini ia akhirnya menekuni usaha yang pernah dirintisnya dahulu yakni membuka warung makan di depan rumahnya. Modal usaha warung makan ini ia dapatkan dari bantuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). “Setelah Bapak bebas pada 2020, kemudian mendapatkan pembinaan dari BNPT dan dimodali sebesar Rp 5 juta untuk modal usaha,” ujar Ani. Usaha ini dipilih, karena dia memang memiliki kemampuan dalam bidang memasak, akhirnya diputuskan untuk membuka warung makan kembali. Munculnya stigma negatif setelah Mardi ditangkap tak hanya mempengaruhi sepinya pengunjung

Perempuan Soloraya dalam Pusaran Terorisme Read More »