Blog

  • UNTUK KAMU YANG MASIH NIREMPATI: BELAJAR DARI TANTE SHARON

    UNTUK KAMU YANG MASIH NIREMPATI: BELAJAR DARI TANTE SHARON

    Sudah lima belas hari berlalu sejak kasus meninggalnya Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Universitas Udayana. Peristiwa ini diwarnai isu perundungan dan perilaku nirempati dari beberapa mahasiswa yang terekam dalam tangkapan layar di grup percakapan yang kemudian memicu kemarahan publik di media sosial. Namun, di tengah gejolak tersebut, Ibunda Timothy, Tante Sharon, justru memancarkan keteladanan luar biasa: welas asih dan empati yang melampaui kesedihannya sendiri.

    Sikap mulia Tante Sharon bukan hanya cermin dari kemuliaan seorang ibu, tetapi juga kritik tajam terhadap kondisi masyarakat yang mulai kehilangan empati, khususnya di ruang digital. Empati yang ditunjukkan Tante Sheren ini menjadi panggilan moral bagi kita semua untuk merenungkan makna sejati dari empati.

    Empati Sejati Melampaui Penderitaan Pribadi

    Tante Sharon memilih jalan pengampunan daripada hukuman atau balas dendam. Tindakannya mencerminkan sikap welas asih yang jauh melampaui kebencian terhadap orang yang telah menyakiti anaknya. Alih-alih menghukum, beliau memutuskan untuk menganggap pelaku yang terlibat dalam perundungan kepada anaknya sebagai “anak baru” yang harus dipantau. Hal ini merupakan sikap welas asih dari Tante Sheren dengan memperlakukan pelaku sebagai individu yang melakukan kesalahan sesaat dan berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Pelaku tidak dilihat sebagai musuh, melainkan sebagai orang yang membutuhkan arah yang benar.

    Selain itu, Tante Sharon juga memberikan syarat “wajib lapor” kepada beberapa pelaku untuk mengedukasi dan membantu mereka berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ini adalah langkah untuk membentuk integritas dan tanggung jawab dalam diri mereka, sekaligus membawa semangat Timothy dalam hidup mereka. Hal ini bisa disebut sebagai kehangatan di tengah kehancuran. Alih alih melampiaskan amarah saat bertemu dengan pelaku, tante Sheren memilih untuk merangkul dan memberikan nasihat yang baik.

    Sikap Tante Sharon yang penuh welas asih ini mengkritik budaya nirempati yang semakin merajalela, terutama di dunia maya. Kasus ini menunjukkan bagaimana perundungan daring bisa berkembang begitu cepat, dengan individu yang merundung korban tanpa mengetahui siapa mereka sebenarnya. Tante Sheren mengungkapkan bahwa sebagian besar pelaku perundungan daring bahkan tidak mengenal Timothy secara pribadi.

    Perbedaan antara sikap welas asih seorang ibu yang berduka dan konten perundungan yang penuh hinaan menjadi panggilan bagi kita semua untuk melakukan introspeksi. Tragedi ini mengingatkan kita betapa mudahnya kehilangan empati saat berinteraksi, baik di kampus maupun di media sosial.

    Mengubah Duka Menjadi Perbaikan Sistem

    Tante Sharon tidak hanya menunjukkan empati melalui kata-kata, tetapi juga dengan langkah konkret untuk memperbaiki sistem yang ada, yaitu fokus pada kebijakan nasional dan mendorong konseling proaktif.

    Pertama, Tante menyerukan agar pihak kampus dan kementerian terkait berkolaborasi dalam membenahi pendidikan moral, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Beliau menyadari bahwa perundungan adalah masalah nasional yang tidak bisa diselesaikan hanya di tingkat perguruan tinggi. Kedua, beliau mendorong agar layanan konseling kampus lebih proaktif, untuk memastikan bahwa tidak ada mahasiswa yang merasa sendirian atau tertekan. Ini adalah langkah konkret untuk mendukung kesehatan mental mahasiswa dan mencegah tragedi serupa di masa depan.

    Hasthalaku: Pilar Karakter Bangsa yang Relevan di Era Digital

    Dalam nilai Hasthalaku, ada nilai-nilai seperti Tepa Selira (tenggang rasa dan empati) dan Andhap Asor (bersikap berbudi luhur dan tidak angkuh). Tante Sheren menunjukkan Tepa Selira dengan memberikan tenggang rasa kepada mereka yang terlibat dalam perundungan, bahkan ketika mereka adalah pelaku yang telah menyakiti anaknya. Andhap Asor, atau rendah hati, juga terlihat jelas dalam dirinya. Meskipun ia sedang dilanda kesedihan yang mendalam, Tante Sheren tetap bersikap rendah hati dan berbudi luhur, tidak terjerumus dalam kebencian atau balas dendam.

    Melalui penerapan nilai-nilai Hasthalaku ini, Tante Sharon memberi teladan hidup yang berharga bagi kita semua. Ia mengajarkan bahwa empati, kasih sayang, dan kebijaksanaan adalah kekuatan terbesar yang bisa mengubah dunia, khususnya dalam menghadapi tragedi.

    Tante Sharon telah memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Di tengah kesedihan yang luar biasa, beliau memilih untuk mengutamakan welas asih, memberi kesempatan kedua, dan dan berharap ada perbaikan sistem. Tragedi Timothy harus menjadi titik balik bagi kita untuk menghentikan budaya nirempati dan membangun masyarakat yang lebih berempati, dimulai dari keluarga, lingkungan pendidikan, dan ruang digital kita.

    Melalui keteladanan Tante Sharon, kita diajak untuk menumbuhkan empati dalam setiap langkah kita. Tidak hanya dalam keluarga, tetapi juga di media sosial dan masyarakat luas. Mari kita jadikan tragedi ini sebagai momentum moral untuk menciptakan dunia yang lebih baik, lebih peduli, dan penuh kasih sayang.

    Sumber:
    Video Podcast
    https://www.youtube.com/watch?v=UjmR0DgqIgA&t=168s&pp=ygUNZGVubnkgc3VtYXJnbw%3D%3D

    Berita
    https://regional.kompas.com/read/2025/10/28/15515761/belajar-rendah-hati-dari-ibunda-timothy?page=all

    https://www.suara.com/lifestyle/2025/10/25/111923/sosok-ibu-timothy-anugerah-besar-hati-maafkan-pembully-anaknya-ternyata-seorang-pengajar

  • Webinar Sebar Kawruh #4 Bersama BNPT RI: Membangun Generasi Damai dan Toleran di Sekolah

    Webinar Sebar Kawruh #4 Bersama BNPT RI: Membangun Generasi Damai dan Toleran di Sekolah

    Solo, 24 Oktober 2025 – Dalam upaya memperkuat nilai-nilai toleransi dan mencegah potensi kekerasan di kalangan pelajar, kegiatan Webinar Sebar Kawruh #4 kembali digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat, 24 Oktober 2025 pukul 09.30 WIB. Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Prof. Irfan Idris, M.A., serta dibuka oleh Prof. Agung Nur Probohudono, Ph.D., aktivis dari Solo Bersimfoni.

    Webinar kali ini mengangkat tema “Pencegahan Kekerasan dan Intoleransi pada SMA di Jawa Tengah”, yang relevan dengan meningkatnya perhatian terhadap dinamika sosial di kalangan remaja, khususnya di lingkungan sekolah menengah. Tema ini menjadi bagian dari komitmen bersama antara BNPT RI dan Solo Bersimfoni untuk memperkuat peran pendidikan dalam membentuk karakter siswa yang berwawasan kebangsaan, berempati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

    Membangun Ketahanan Pelajar dari Intoleransi dan Kekerasan

    Dalam paparannya, Prof. Irfan Idris menekankan bahwa apa yang sudah dilakukan Solo Bersimfoni sudah sesuai dengan amanat RANPE yang dijalankan oleh BNPT dalam hal ini mengedepankan pencegahan kekerasan. Beliau juga menjelaskan bahwa pencegahan kekerasan dan intoleransi harus dimulai dari lingkungan pendidikan. Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan nilai-nilai sosial.

    “Remaja SMA adalah generasi yang sedang mencari jati diri. Mereka mudah terpengaruh oleh informasi yang salah jika tidak dibekali pemahaman yang benar tentang kebangsaan, toleransi, dan kemanusiaan,” ujar Prof. Irfan.

    Beliau menambahkan bahwa fenomena intoleransi sering kali bermula dari ketidaktahuan, perbedaan pemahaman agama, maupun pengaruh lingkungan digital. Karena itu, pendidikan karakter dan literasi digital menjadi kunci dalam memperkuat daya tahan siswa terhadap narasi kekerasan atau ideologi ekstrem.

    Selain itu, BNPT RI melalui berbagai program pencegahan berupaya menggandeng sekolah, guru, dan masyarakat untuk membangun jejaring yang solid dalam mendeteksi dini potensi radikalisme. Kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan komunitas seperti Solo Bersimfoni, menjadi bentuk nyata keterlibatan banyak pihak dalam menjaga harmoni sosial.

    Solo Bersimfoni dan Peran Pendidikan Damai

    Sementara itu, Prof. Agung Nur Probohudono dalam sambutannya menyampaikan pentingnya membangun ruang dialog di sekolah agar siswa dapat mengekspresikan perbedaan dengan cara yang sehat dan konstruktif. Salah satu hal yang sudah dilakukan Solo Bersimfoni adalah pelaksanaan Sebar Kawruh sebagai ruang untuk berbagi ilmu, nilai, dan juga pengalaman dalam menyebarkan praktik baik penguatan karakter di Provinsi Jawa Tengah.

    “Cara untuk mencegah kekerasan adalah dengan membangun kesadaran, menguatkan literasi, dan menumbuhkan daya tangkal ekstrimisme melalui pendekatan budaya yaitu hasthalaku, dalam hal ini melalui program Sekolah Adipangastuti,” tambah beliau.

    Melalui Sebar Kawruh ini, peserta, yang terdiri dari guru, siswa, dan tenaga kependidikan dari SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah, diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam lingkungan masing-masing sebagai upaya pencegahan intoleransi dan menumbuhkan harmoni sosial.

    Kami juga berharap, ke depannya, Prof. Irfan dan BNPT bisa terus bekerja sama dengan solo bersimfoni dan juga dengan sekolah adipangastuti di jawa Tengah dalam bentuk edukasi, pendampingan dan kolaborasi lintas sektor.

    Harapan untuk Masa Depan

    Webinar Sebar Kawruh #4 ini menegaskan kembali pentingnya sinergi antara lembaga pemerintah, komunitas, dan masyarakat pendidikan dalam membangun ekosistem sekolah yang aman, damai, dan inklusif.

    Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Irfan Idris di akhir acara:

    “Pencegahan kekerasan dan intoleransi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Kita harus menanamkan nilai damai sejak dini agar generasi muda Indonesia tumbuh menjadi pelindung perdamaian, bukan pelaku kekerasan.”

    Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan SMA-SMA di Jawa Tengah dapat menjadi pelopor dalam mengembangkan pendidikan karakter berbasis toleransi. Webinar Sebar Kawruh #4 menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berbudaya damai, penuh empati, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

     

  • IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN 1 Karanganyar: Menguatkan Integrasi Nilai Hasthalaku bersama Solo Bersimfoni

    IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN 1 Karanganyar: Menguatkan Integrasi Nilai Hasthalaku bersama Solo Bersimfoni

    Senin, 20 Oktober 2025, SMAN 1 Karanganyar menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) dengan tema “Sekolah Berintegrasi dengan Nilai Hasthalaku.” Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen sekolah dalam memperkuat budaya karakter dan nilai integritas sebagai bagian dari implementasi program Sekolah Adipangastuti, predikat yang telah disematkan sejak tahun 2021.

    IHT ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X yang menjadi sasaran utama pembinaan karakter sejak dini. Dalam kegiatan ini, para siswa dibekali pemahaman dan penanaman nilai-nilai Hasthalaku, yaitu delapan nilai budaya Jawa yang menjadi karakter siswa dalam Sekolah Adipangastuti, yaitu gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor, dan tepa selira. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi pedoman dalam sikap dan perilaku sehari-hari siswa, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

    Kegiatan IHT ini dihadiri oleh tim Solo Bersimfoni sebagai pemateri. Tim ini dipimpin langsung oleh Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H., selaku Direktur Operasional, yang turut memberikan materi sekaligus membangun interaksi yang inspiratif dengan para peserta.

    Dalam sesi pemaparan, Dr. Didik menekankan pentingnya menjadikan nilai Hasthalaku tidak hanya sebagai slogan, melainkan sebagai gaya hidup yang tercermin dalam perilaku nyata. Ia juga mengajak siswa untuk mengenali tantangan moral di era digital, serta bagaimana nilai integritas dan gotong royong dapat menjadi benteng utama dalam menghadapi pengaruh negatif dari luar.

    “Kami ingin siswa-siswa tidak hanya menghafal nilai-nilai Hasthalaku, tapi bisa memaknai, menerapkan, dan menjadikannya bagian dari identitas diri. Inilah esensi dari sekolah yang berintegrasi,” tutur Dr. Didik dalam salah satu sesi.

    Kepala SMAN 1 Karanganyar, Bapak Sugiharto, S.Pd., M.M., dalam sambutannya juga menyampaikan harapan besar terhadap kegiatan ini. Ia menekankan bahwa pembinaan karakter merupakan pondasi utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara moral dan sosial.

    “Nilai Hasthalaku adalah jiwa dari Sekolah Adipangastuti. Kami berharap siswa semakin memahami dan mengamalkan nilai-nilai ini sebagai dasar integrasi budaya sekolah. Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi proses membentuk peradaban kecil di lingkungan pendidikan,” ujar beliau.

    Melalui kegiatan ini, SMAN 1 Karanganyar menegaskan kesungguhannya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang holistik, berorientasi pada karakter, dan responsif terhadap dinamika zaman. Kolaborasi dengan Solo Bersimfoni menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas pelajar tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga integritas dan kepedulian sosial.

    IHT ini diharapkan menjadi awal yang baik untuk menumbuhkan budaya positif di sekolah, serta memperkuat posisi SMAN 1 Karanganyar sebagai sekolah yang tidak hanya unggul, tetapi juga berkarakter kuat dan berbudaya luhur.

  • SMAN 1 Colomadu Gelar In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti Bersama Solo Bersimfoni

    SMAN 1 Colomadu Gelar In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti Bersama Solo Bersimfoni

    Karanganyar, 3 Oktober 2025 – SMAN 1 Colomadu, Kabupaten Karanganyar, menggelar kegiatan In House Training (IHT) dalam rangka sosialisasi dan implementasi program Sekolah Adipangastuti. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Solo Bersimfoni, dengan ketuanya, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., sebagai pemateri utama.

    Dalam sesi pelatihan, M. Farid Sunarto menyampaikan materi tentang konsep dan implementasi Sekolah Adipangastuti, yang diharapkan dapat menjadi pedoman pelaksanaan di lingkungan SMAN 1 Colomadu. Sekolah Adipangastuti merupakan pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter, budaya lokal, dan kecakapan abad 21 melalui pendekatan bernama brokoli dalam pasta, perpaduan antara budaya dengan teknologi.

    Kegiatan ini menjadi langkah awal penerapan Sekolah Adipangastuti di SMAN 1 Colomadu. Program ini bertujuan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui proses pembelajaran mendalam, sejalan dengan upaya membentuk profil pelajar Pancasila yang utuh dalam 8 dimensi.

    Plt. Kepala SMAN 1 Colomadu, Sukarno, S.Pd., M.Pd., menyampaikan harapannya usai kegiatan sosialisasi ini:

    “Setelah ada sosialisasi Sekolah Adipangastuti di SMAN 1 Colomadu, saya yakin Sekolah Adipangastuti dengan hasthalaku-nya dapat mendukung dalam penguatan karakter pada deep learning menuju 8 dimensi profil lulusan. Hastalaku juga bisa dilaksanakan bersamaan pada aktivitas 7 kebiasaan anak Indonesia Hebat.”

    Lebih lanjut, beliau menegaskan komitmen sekolah untuk mendukung program ini secara berkelanjutan, dengan slogan yang menggugah semangat seluruh warga sekolah:

    “SMA NEGERI 1 Colomadu MANTAP, SEKOLAH ADIPANGASTUTI Selalu di Hati, HASTHALAKU Menyejukkan Qalbu.”

    Dengan dimulainya pelaksanaan Sekolah Adipangastuti, SMAN 1 Colomadu meneguhkan langkah sebagai sekolah

    yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya generasi berkarakter, berbudaya, dan berjiwa Indonesia.

  • Penguatan Peran TPPK Sekolah Adipangastuti: Pelatihan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan

    Penguatan Peran TPPK Sekolah Adipangastuti: Pelatihan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan

    Semarang, 30 September – 1 Oktober 2025 — Dalam upaya memperkuat perlindungan terhadap peserta didik dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan berkarakter, Solo Bersimfoni bekerja sama dengan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah mengadakan Pelatihan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan untuk TPPK pada Sekolah Adipangastuti di Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari di BBPMP Provinsi Jawa Tengah, diikuti oleh 25 Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) dan Kepala Sekolah Adipangastuti dari 12 Cabang Dinas Pendidikan di Jawa Tengah.

    Kegiatan ini diawali dengan laporan dari Direktur Eksekutif Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Pencegahan BNPT RI, Prof. Dr. Irfan Idris, M.A., dan dibuka oleh Kepala Bagian Umum BBPMP Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Adi Hartono, S.E., M.M.. Dalam sambutannya, Prof. Idris mengatakan bahwa kegiatan pelatihan penanganan kekerasan untuk Sekolah Adipangastuti yang dilakukan Solo Bersimfoni merupakan wujud nyata pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ekstremisme (RAN PE) serta Rencana Aksi Daerah Pencegahan Ekstremisme (RAD PE) di Jawa Tengah. “Pada RAN PE jilid 2, ada pilar mengenai perlindungan anak dan perempuan, harapannya Sekolah Adipangastuti hadir sebagai contoh implementasi di satuan pendidikan dan menjadi teladan di seluruh Indonesia,” lanjutnya. Beliau juga mengatakan bahwa guru menjadi garda terdepan dalam membangun budaya damai, menanamkan nilai toleransi, serta mencegah berbagai kekerasan maupun potensi kekerasan di sekolahnya. Sehingga guru harus mendapatkan pemahaman dalam pencegahan dan penanganan kekerasan.

    Selama dua hari, peserta dan observer didampingi oleh dua fasilitator nasional (Fasnas) Penanganan Kekerasan dari Puspeka Kemendikdsmen RI, Ibu Farida Widyawati, S.Kom., M.Si. dan Bapak M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., memberikan 25 JP materi yang dibagi dalam dua kali pertemuan. Pertama, pertemuan daring selama 2 JP dengan pre-test dan materi dasar. Kemudian, pertemuan tatap muka selama 23 JP dengan materi selanjutnya. Semua peserta dari Sekolah Adipangastuti dan observer dari Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, mendapatkan sertifikat sebagai dasar melakukan penanganan dan pencegahan kekerasan di satuan pendidikannya masing-masing. Harapannya, pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk menyelaraskan pemahaman, meningkatkan kapasitas, serta merumuskan langkah-langkah sistematis dalam penanganan kasus kekerasan di lingkungan sekolah.

    Peserta dari 12 Cabang Dinas, Hadir sebagai Representasi Komitmen Bersama

    Sebanyak 12 Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah hadir dan terlibat sebagai observer, memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan pelatihan. Kehadiran Cabdin menjadi sinyal kuat adanya keseriusan dari berbagai lini untuk menjadikan Sekolah Adipangastuti sebagai pelopor sekolah ramah anak dan bebas kekerasan.

    Sekolah yang menjadi peserta pelatihan adalah SMAN 1 Bergas Kab. Semarang, SMAN 1 Mranggen Kab. Demak, SMAN 1 Batangan Kab. Pati, SMA Muhammadiyah 1 Pati, SMAN 1 Geyer Kab. Grobogan, SMAN 1 Randublatung dan SMAN 1 Cepu dari Kab. Blora, SMAN 2 Salatiga, SMAN 1 Gemolong Kab. Sragen, SMAN 1 Sragen, SMAN 1 Sukodono Kab. Sragen, SMAN 1 Wonogiri, SMAN 1 Sumberlawang Kab. Sragen, SMAN 1 Karanganyar, SMAN 1 Mojolaban Kab. Sukoharjo, SMAN 1 Parakan Kab. Temanggung, SMAN 1 Dukun Kab. Magelang, SMAN 1 Wadaslintang Kab. Wonosobo, SMAN 1 Karangkobar Kab. Banjarnegara, SMAN 1 Losari Kab. Brebes, SMAN 1 Tegal, SMAN 3 Pemalang, SMAN 1 Bawang Kab. Batang, dan SMAN 1 Gemuh Kab. Kendal.

    Dalam kegiatan pelatihan ini, peserta dan observer mendapatkan penguatan dalam tiga aspek utama. Pertama, pemahaman regulasi dan peran TPPK. Sesi ini menjelaskan tugas dan tanggung jawab TPPK berdasarkan regulasi terbaru, termasuk Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023. Peserta diajak memahami prosedur pelaporan, perlindungan korban, serta pentingnya membangun sistem pelaporan yang aman dan terpercaya di sekolah. Kedua, simulasi penanganan kasus dan mediasi. Pada sesi ini, peserta melakukan studi kasus dan simulasi penanganan kekerasan, baik kekerasan verbal, fisik, seksual, maupun perundungan. Sesi ini mengasah sensitivitas dan keterampilan komunikasi peserta dalam menangani situasi krisis secara bijak, cepat, dan berpihak pada korban. Ketiga, strategi pencegahan dan budaya sekolah positif. Sesi terakhir ini mengajak diskusi kelompok, peserta merumuskan strategi pencegahan berbasis budaya sekolah yang berlandaskan nilai-nilai Hasthalaku, karakter inti Sekolah Adipangastuti. Pencegahan tidak hanya dimaknai sebagai larangan, tetapi dibangun melalui keteladanan, komunikasi terbuka, dan partisipasi semua pihak, termasuk siswa.

    Peran kepala sekolah sebagai pengarah dan penanggung jawab utama di satuan pendidikan menjadi sorotan penting. Dalam pelatihan ini, kepala sekolah didorong untuk tidak hanya mendukung TPPK, tetapi juga membangun sistem perlindungan anak sebagai bagian dari manajemen sekolah secara menyeluruh.

    Sekolah Aman, Anak Terlindungi

    Di akhir kegiatan, seluruh peserta diajak berdiskusi untuk membuat kesimpulan apa saja materi yang sudah diberikan dan bisa disampaikan ke sekolah masing-masing. Sehingga, pelatihan ini bisa menjadi dasar yang bagus untuk sekolah melakukan pencegahan kekerasan dan jika terjadi kekerasan, penangannya dilakukan dengan baik dan memberikan ruang aman dan nyaman bagi korban. Sebagai tindak lanjut sistemik, Cabang Dinas juga menyatakan komitmen untuk melakukan pendampingan dan monitoring berkala terhadap pelaksanaan TPPK di sekolah-sekolah Adipangastuti.

    Kegiatan pelatihan ini ditutup oleh Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H.. Beliau mengucapkan terima kasih atas partisipasi peserta dan observer dalam rangkaian pelatihan ini, dimulai dari pelatihan secara daring sampai pelatihan tatap muka selama dua hari. Harapannya, peserta dapat melakukan pelatihan dan sosialisasi pada sekolah masing-masing tentang materi yang sudah diterima.

    Pelatihan ini menjadi bagian penting dari upaya menjadikan Sekolah Adipangastuti bukan hanya sebagai sekolah yang berkarakter, tetapi juga sebagai ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Dukungan dari fasilitator nasional, keterlibatan kepala sekolah, serta sinergi lintas Cabdin menjadi kunci sukses keberlanjutan gerakan perlindungan anak di satuan pendidikan. Dengan semangat kolaboratif ini, diharapkan seluruh Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah dapat menjadi teladan dalam menciptakan budaya sekolah yang aman, nyaman dan sehat bagi seluruh warga sekolahnya.

     

  • Menumbuhkan Karakter dan Praktik Baik di Era Digital: IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN 11 Semarang

    Menumbuhkan Karakter dan Praktik Baik di Era Digital: IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN 11 Semarang

    Semarang, 29 September 2025 — SMAN 11 Semarang kembali menegaskan perannya sebagai sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai inklusivitas dan toleransi melalui kegiatan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti yang dilaksanakan pada Senin, 29 September 2025, bertempat di ruang meeting sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan siswa dan anggota OSIS yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman serta pengamalan hasthalaku dan keberagaman yang menjadi inti dari Sekolah Adipangastuti. Kegiatan ini bertujuan tidak hanya untuk memperkuat pemahaman siswa tentang nilai-nilai Hasthalaku, tetapi juga untuk melatih keterampilan melalui produksi konten positif di media sosial.

    Sebelum kegiatan dimulai, Bapak Sae Panggalih, PJ Sekolah Adipangastuti SMAN 11 Semarang, beserta Denok dan Kenang Kota Semarang, siswa yang menjadi Duta Wisata Kota Semarang, menyampirkan batik hasil karya siswa kepada Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H. dan Finance and Contract Treasurer, Risca Dj., S.E., M.Ak., kemudian mengajak tim Solo Bersimfoni berkeliling lingkungan sekolah untuk melihat berbagai aktivitas yang menggambarkan keberagaman seperti pembuatan batik perpaduan budaya di Semarang, melihat hasil karya siswa dalam program Sekolah Adipangastuti serta mengunjungi Mini Museum Adipangastuti yang berada di perpustakaan. Menariknya, Museum Adipangastuti adalah hasil karya siswa angkatan sebelumnya, yang bertujuan untuk mengenal budaya Semarangan yang beragam. Dalam mini museum terdapat penjelasan mengenai ikon budaya masyarakat, pembagian budaya berkultur agraris dan maritim, serta budaya khusus Kawasan wilayah kampung batik semarangan di Bubakan.

    Implementasi Hasthalaku: Praktik Baik untuk Menghargai Keberagaman

    SMAN 11 Semarang telah menyandang predikat Sekolah Adipangastuti sejak tahun 2024, dan dikenal aktif mengimplementasikan berbagai program yang mendukung lingkungan sekolah yang ramah anak, bebas kekerasan, serta menghargai perbedaan. Keunikan SMAN 11 Semarang terletak pada lingkungan geografis dan sosialnya; sekolah ini berada di kawasan yang dikelilingi oleh rumah ibadah dari berbagai agama, menjadikannya contoh nyata kehidupan harmonis dalam keberagaman.

    Kegiatan IHT dimulai dengan pembukaan oleh Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H., sekaligus mengisi materi awal tentang pendalaman makna hasthalaku, delapan nilai karakter utama yang menjadi ruh dari Program Sekolah Adipangastuti. Para peserta diajak untuk mengidentifikasi bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah maupun di luar sekolah. Melalui diskusi interaktif, siswa menyadari bahwa nilai-nilai Hasthalaku tidak bersifat abstrak atau kuno, namun sangat kontekstual dan dibutuhkan dalam dinamika sosial modern, termasuk di ruang digital.

    Materi berikutnya disampaikan oleh Program Officer Solo Bersimfoni, Ridwan Rivaldi Sukma dan Tia Brizantiana, mengajak peserta untuk melihat bagaimana nilai-nilai Hasthalaku bisa hadir di dunia digital. Dalam era banjir informasi dan maraknya konten negatif, siswa diajak untuk lebih berhati-hati di dunia digital dan dapat menjadi agen perubahan positif dengan menghadirkan narasi yang membangun dan mencerminkan nilai karakter baik.

    Kemudian materi selanjutnya adalah mengenai konten praktik baik hasthalaku, yang disampaikan oleh Creative and Design Officer Solo Bersimfoni, Burhanudin Fajri. Mereka dibimbing untuk merancang konten sederhana namun bermakna yang bisa diunggah ke platform media sosial sekolah seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Kegiatan diakhiri dengan praktik membuat storyline konten. Setiap kelompok siswa menyusun alur cerita sederhana berdasarkan satu nilai Hasthalaku yang mereka pilih, kemudian mengembangkan ide tersebut menjadi konsep konten yang siap diproduksi. Proses ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif.

     

    Harapan dan Keberlanjutan

    Ke depan, SMAN 11 Semarang akan terus memperluas program Sekolah Adipangastuti dengan menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga, serta mengembangkan pendekatan yang lebih inovatif dalam pendidikan karakter dan budaya damai. Melalui semangat Adipangastuti yang hidup dalam praktik sehari-hari, SMAN 11 Semarang terus bergerak menjadi sekolah yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menjadi contoh nyata keberagaman itu .

  • Berbagi Praktik Baik Sekolah Adipangastuti: Inovasi, Kolaborasi, dan Transformasi Pendidikan Karakter

    Berbagi Praktik Baik Sekolah Adipangastuti: Inovasi, Kolaborasi, dan Transformasi Pendidikan Karakter

    Hotel Asia, 25 September 2025 – Sekolah Adipangastuti di bawah naungan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V, VI, dan VII Provinsi Jawa Tengah berkumpul dalam Focus Group Discussion (FGD) Riset Dampak Sekolah Adipangastuti Tahun 2025 untuk berdiskusi dalam mencari bentuk praktik baik Sekolah Adipangastuti. Kegiatan ini merupakan rangkaian riset dan evaluasi serta menjadi ruang refleksi bersama atas implementasi program Sekolah Adipangastuti yang telah berjalan sejak 2019. Dalam kegiatan ini, dipaparkan berbagai capaian, inovasi, tantangan, hingga usulan strategis untuk keberlanjutan program di masa depan.

     

    Kegiatan FGD dibuka oleh Direktur Eksekutif Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., Beliau berterima kasih atas partisipasi dari sekolah dan dukungan dari Dinas Pendidikan Jawa Tengah, dalam hal ini melalui Cabang Dinas Wilayah, terkait pelaksanaan Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah. Dalam laporan evaluasi yang dipaparkan oleh Khresna Bayu Sangka, Ph.D., Direktur Riset Solo Bersimfoni, dan Dr. (Cand.) Okta Hadi Nurcahyono, tim riset Solo Bersimfoni, disebutkan bahwa sebanyak 1.941 responden telah memberikan umpan balik terhadap program ini. Salah satu temuan penting adalah tingginya minat siswa terhadap topik P5 seperti kewirausahaan, kearifan lokal, dan nilai-nilai Hasthalaku, meskipun posisi Sekolah Adipangastuti masih berada di urutan ke-8 dalam prioritas persepsi siswa. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan komunikasi dan penyelarasan implementasi program dengan minat siswa.

    Branding Hasthalaku dan Efektivitas Media Sosial

    Salah satu aspek penting yang banyak dibahas adalah branding dan publikasi program melalui media sosial sekolah. Pengalaman dari berbagai sekolah menunjukkan beragam praktik menarik. Di SMAN 6 Surakarta mengusung nilai hasthalaku dalam partisipasi siswa di ajang beauty pageant. Selain itu, branding sekolah menarik kunjungan dari luar daerah seperti SMAN di Balikpapan. Namun, keterlibatan siswa dalam manajemen media sosial masih menjadi tantangan.

    SMAN 1 Karanganyar mengungkapkan transformasi besar setelah program Adipangastuti. Sekolah kini memiliki media center dan aktif di Instagram dan TikTok, dengan pelibatan siswa yang mulai ditingkatkan. Inovasi yang sama dilakukan di SMAN 1, 2, dan 3 Sragen dengan program podcast sebagai sarana komunikasi nilai dan identitas sekolah. Hasilnya pun membanggakan, sekolah mendapatkan juara berbagai lomba literasi tingkat provinsi hingga nasional.

    SMAN 2 Klaten menambahkan bahwa pelatihan media sosial sangat dibutuhkan agar siswa dapat menghasilkan konten yang konsisten dan berkualitas. Kegiatan literasi seperti pembuatan konten video dan poster sudah berjalan bahkan selama liburan sekolah.

    Penggunaan media sosial dinilai positif oleh warga sekolah maupun masyarakat sekitar. SMAN 1 Jatisrono melaporkan bahwa program jurnalistik dan pemanfaatan media sosial memberi dampak signifikan pada keterlibatan siswa. Sementara itu, SMAN 1 Gemolong mencatat bahwa branding Adipangastuti lebih mudah dikenal dibanding Hasthalaku, menunjukkan perlunya penyegaran atau penguatan komunikasi tentang nilai-nilai inti Hasthalaku.

    Pengembangan Literasi dan Pembelajaran Proyek

    Sesi ini menyoroti keberlanjutan praktik literasi dan pembelajaran berbasis proyek. Seperti di SMAN 1 Wonogiri menjalankan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dan mading tematik berbasis Hasthalaku, meskipun penerbitan buku mengalami stagnasi. Sedangkan di SMAN 1 Karanganyar memanfaatkan website untuk publikasi hasil literasi siswa, meski masih mencari bentuk evaluasi yang ideal.

    SMAN 6 Surakarta menerapkan program Jumat Siti Sekar Mayang, di mana siswa berbagi pengalaman tentang Hasthalaku sebagai bagian dari penguatan literasi personal. SMAN 1 Surakarta, yang sudah menghasilkan 4 (empat) buku selama program Sekolah Adipangastuti, menjalankan program literasi dalam tiga tahap dengan pendekatan kontekstual dan berbasis komunitas. Ini mencakup wawancara lapangan dan refleksi kritis, yang terintegrasi dengan mata pelajaran.

    SMAN 3 Sragen membuat program baru yang diberi nama Gamalae, yang bertujuan untuk pembentukan perilaku dan karakter siswa sebagai wujud visi FiveBer. Program ini menggabungkan literasi, tanggung jawab lingkungan, dan kedalaman pembelajaran.

    Inovasi Kolaboratif dan Dukungan

    Kegiatan kolaboratif di berbagai sekolah menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus didukung semua pihak. Seperti yang sudah dilakukan pada SMAN 2 Boyolali dan SMAN 1 Kartasura yang mengembangkan ketoprak dan mars dalam Bahasa Jawa sebagai bentuk pelestarian budaya. SMAN 1 Mojolaban aktif dengan podcast mingguan, bulletin LIMO, dan kampanye anti-bullying bersama Yayasan Kakak Surakarta.

    Kepala SMAN Karangpandan, yang sebelumnya adalah Kepala SMAN 1 Karanganyar, mengadopsi program sekolah sebelumnya seperti membuat taman Hasthalaku, senin literasi-numerasi, serta membangun media center. Dalam diskusi, SMA Muhammadiyah 1 Surakarta menunjukkan bahwa nilai hasthalaku dapat bersinergi dengan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Sedangkan di SMAN 1 Sumberlawang berfokus pada pembelajaran mendalam berbasis 7 kebiasaan anak hebat serta pelatihan guru dalam penguatan critical thinking.

    Dari sisi kebijakan dan regulasi, Cabang Dinas Wilayah V dan VI menyatakan apresiasi terhadap inovasi yang telah dilakukan oleh sekolah-sekolah. Ke depan, diharapkan program Adipangastuti dapat secara resmi masuk ke dalam struktur kokurikuler sekolah pada tahun 2026. Pertemuan semacam ini dinilai sangat penting sebagai wadah saling belajar dan berbagi antar sekolah.

    Menyemai Karakter, Menumbuhkan Harapan

    Pertemuan di Hotel Asia ini menegaskan bahwa Program Sekolah Adipangastuti tidak hanya tentang serangkaian kegiatan, tetapi tentang pembentukan karakter yang kontekstual, kolaboratif, dan berkelanjutan. Dari pengembangan media sosial, literasi, seni budaya, hingga kolaborasi lintas stakeholder, Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah telah menunjukkan bahwa pendidikan karakter bisa menjadi jiwa dari proses pembelajaran.

    Tantangan tentu masih ada seperti konsistensi pelaksanaan, pengelolaan SDM, evaluasi program, hingga kebutuhan pelatihan lanjutan. Namun dengan semangat berbagi praktik baik dan saling menguatkan, Program Sekolah Adipangastuti diyakini akan terus tumbuh sebagai fondasi pendidikan masa depan yang lebih manusiawi, berbudaya, dan bermakna.

  • Pembiasaan dan Teladan di SMAN 3 Sragen; Membangun Sekolah Berkarakter Melalui Program Adipangastuti

    Pembiasaan dan Teladan di SMAN 3 Sragen; Membangun Sekolah Berkarakter Melalui Program Adipangastuti

    SMAN 3 Sragen mulai mengimplementasikan Program Sekolah Adipangastuti sejak tahun 2020. Menurut Ibu Atik Dwi Kurniasih, Waka Kesiswaan dan PJ Sekolah Adipangastuti, program ini tidak serta-merta berjalan mulus di awal. Namun, berkat komitmen seluruh elemen sekolah, dari guru, siswa, hingga kepala sekolah, Program Adipangastuti perlahan menunjukkan hasil nyata. Fokus utama dari program ini adalah membentuk karakter siswa melalui pembiasaan dan teladan. Hal ini diceritakan beliau dalam kegiatan Sebar Kawruh #3 pada Jumat, 26 September 2025 pukul 09.00 WIB secara online melalui zoom meeting.

    Sebar Kawruh merupakan program Solo Bersimfoni yang bertujuan untuk berbagi praktik baik implementasi Sekolah Adipangastuti yang dapat digunakan sebagai studi tiru pelaksanaan di sekolah lain. Sejumlah 39 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru dan siswa Sekolah Adipangastuti hadir secara online dalam kegiatan ini.

    Sebar Kawruh #3 kali ini dibuka oleh Direktur Operasional Solo Bersimfoni, Dr. Didik Prasetyanto, S.E., M.H.. Beliau menyampaikan bahwa Sebar Kawruh ini bertujuan untuk menghadirkan harmoni antara pendidikan, nilai budaya dan penguatan karakter bangsa. Harapannya, gaung Sekolah Adipangastuti selalu menggema, tak hanya di awal tapi selalu konsisten dan berkesinambungan.

    Ibu Atik menceritakan, selama pelaksanaan Program Adipangastuti, SMAN 3 Sragen melakukan internalisasi nilai hasthalaku dalam pembelajaran dan pembiasaan, serta membuat kegiatan siswa dalam hal pencegahan bullying, pencegahan intoleransi, serta pencegahan tindakan kekerasan di satuan pendidikan. Seperti halnya sekolah lain, SMAN 3 Sragen juga membuat branding hasthalaku di ruang kelas, ruang guru serta lingkungan sekolah.

    Praktik Baik dalam Pembelajaran

    Salah satu hasil langsung adalah dibuatnya lagu sekolah Adi Pangastuti oleh guru yang dinyanyikan oleh siswa. Hal ini menjadi Istimewa karena tidak ada mata pelajaran seni musik di sekolah. Kegiatan pembelajaran berpikir kritis yang sudah dilakukan adalah FGD Penguatan Implementasi Nilai-Nilai Hasthalaku Dalam Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme di SMAN 3 Sragen dengan melibatkan siswa, guru serta orang tua/wali murid, Rapat Koordinasi OSIS dan MPK membahas implementasi nilai-nilai hasthalaku di lingkungan sekolah, penyusunan rencana kerja OSIS bidang jurnalistik dalam sosalisasi nilai-nilai hasthalaku bagi warga sekolah melalui berbagai macam media, diskusi siswa mempersiapkan gelar karya P5 dengan tema “Bhineka Tunggal Ika”, dan Kegiatan Gelar Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tema “Bhineka Tunggal Ika”.

    Selain itu, SMAN 3 Sragen secara konsisten mendapatkan penghargaan terkait literasi saat pelaksanaan Sekolah Adipangastuti, yang pertama adalah mendapatkan penghargaan Capaian Literasi Terbaik Sekolah Adipangastuti se Jawa Tengah tahun 2023 dan Juara 2 Lomba Artikel Adipangastuti Award 2024 se Jawa Tengah. Projek literasi yang dilakukan sekolah adalah mading dengan konten hasthalaku dan profil pelajar Pancasila, serta pembuatan buku antologi.

    Keberhasilan program ini tidak lepas dari kerja sama yang baik dengan berbagai pihak eksternal. Selain dengan Solo Bersimfoni, SMAN 3 Sragen juga menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah, yaitu Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sragen untuk memberikan materi cakap digital dengan tema cerdas dan bijak ber media sosial kepada anggota OSIS dan tim jurnalistik sekolah.

    Rencana Ke Depan: Menguatkan dan Mengembangkan

    Melihat dampak positif yang dirasakan, SMAN 3 Sragen berkomitmen untuk terus mengembangkan Program Sekolah Adipangastuti. Rencana jangka panjangnya adalah mencetak generasi unggul; bagaimana sekolah adipangastut dapat menghidupkan nilai hasthalaku. Beberapa kuncinya adalah (1) kolaboratif, bukan individualis, (2) empatik, bukan apatis, (3) rendah hati, bukan arogan, (4) toleran, b bukan ekslusif, dan (5) menjadi solusi, bukan sumber masalah. Kelima hal ini dimasukkan dalam kegiatan yg direncanakan seperti integrasi dalam kurikulum dan pembelajaran di kelas, pembiasaan dalam interaksi sehari-hari, serta kokurikuler sebagai laboratorium karakter.

    Program Sekolah Adipangastuti di SMAN 3 Sragen adalah bukti nyata bahwa pendidikan karakter dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dan berdampak. Dengan dukungan seluruh warga sekolah, komunitas, dan stakeholder, SMAN 3 Sragen terus melangkah menjadi sekolah yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga bijak dalam nilai dan tindakan.

  • Provokasi Jalanan dan Keteladanan Nabi; Saatnya Belajar Menahan Diri

    Provokasi Jalanan dan Keteladanan Nabi; Saatnya Belajar Menahan Diri

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan hanya seremoni kelahiran, tetapi sebagai momentum refleksi moral. Rasulullah lahir dan hidup di tengah masyarakat yang keras, penuh konflik, serta ketidakadilan. Namun beliau tidak pernah memilih jalan provokasi atau kekerasan. Jalan yang ditempuh adalah kesabaran, doa, kasih sayang, dan strategi penuh hikmah. Teladan inilah yang relevan untuk direnungkan di tengah kondisi bangsa hari ini.

    Belakangan, kita menyaksikan gelombang demonstrasi yang dipicu berbagai isu, termasuk fenomena “17+8 Tuntutan Rakyat”. Gerakan ini terdiri dari 17 tuntutan jangka pendek yang diminta dipenuhi dalam sepekan, dan 8 tuntutan jangka panjang dengan tenggat satu tahun. Poin-poinnya beragam: pembatalan kenaikan tunjangan DPR, penghentian kekerasan aparat, pembebasan demonstran yang ditahan, reformasi Polri dan TNI, hingga pengesahan RUU Perampasan Aset.¹ ²

    Tuntutan tersebut lahir dari kegelisahan publik atas ketidakadilan dan represi, yang diperparah oleh tragedi kemanusiaan. Nama Affan Kurniawan, pengemudi ojek daring berusia 21 tahun, menjadi simbol luka sosial setelah ia tewas terlindas kendaraan taktis Brimob jenis Rimueng di depan Gedung DPR/MPR Jakarta pada 28 Agustus 2025. Affan terjatuh ketika hendak mengambil ponsel, lalu terlindas rantis Brimob yang melaju di tengah kerumunan. Peristiwa ini terekam video, menyulut kecaman keras, serta memicu gelombang solidaritas dari komunitas ojek daring dan publik luas.³

    Luka semacam ini membuat tuntutan rakyat semakin mendesak. Namun, persoalan muncul ketika aspirasi sah mudah sekali ditunggangi provokasi. Alih-alih mempercepat perubahan, provokasi justru mengaburkan tujuan, menebar kericuhan, dan melemahkan solidaritas rakyat.

    Di titik inilah, teladan Nabi menjadi relevan. Rasulullah mengajarkan bahwa perjuangan besar memerlukan jeda. Jeda bukan berarti berhenti, melainkan menahan emosi, menyaring informasi, serta menyiapkan strategi yang lebih matang. Tanpa jeda, aspirasi rakyat hanya meledak sesaat lalu padam tanpa hasil nyata.

    Selain itu, kita perlu meneguhkan semangat “warga jaga warga”. Solidaritas sosial adalah benteng agar masyarakat tidak mudah dipecah belah. Ketika rakyat saling menjaga, saling peduli, dan saling mengingatkan, ruang provokasi semakin sempit. Sebaliknya, jika solidaritas rapuh, pihak berkepentingan akan mudah menyusup.

    Di ranah budaya, gagasan Hasthalaku yang digagas Solo Bersimfoni sangat relevan. Hasthalaku berasal dari kata hastha (delapan) dan laku (perilaku), berisi delapan nilai luhur budaya Jawa: gotong royong, grapyak semanak (ramah tamah), guyub rukun (kerukunan), lembah manah (rendah hati), ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), andhap asor (berbudi luhur), serta tepa selira (tenggang rasa). Jika nilai-nilai ini dihidupkan, aspirasi rakyat dapat disuarakan tanpa kehilangan martabat, dan demonstrasi tak harus berujung anarki.

    Bangsa ini tidak boleh terjebak dalam spiral provokasi jalanan. Aspirasi rakyat, termasuk tuntutan 17+8, sah dan harus didengar. Namun jalan yang ditempuh mesti beradab, strategis, dan bermartabat. Momentum Maulid Nabi mengingatkan kita bahwa perubahan sejati lahir dari kesabaran, jeda, dan persatuan.

    Provokasi adalah jalan buntu. Yang dibutuhkan adalah kekuatan rakyat yang solid dan berlandaskan nilai luhur. Panjang umur perjuangan.

    Referensi:

    ¹ Tirto.id. (2025, 3 September). Isi 17+8 Tuntutan Rakyat yang Disuarakan dalam Aksi Demonstrasi.

    ² CNN Indonesia. (2025, 4 September). Mengurai Tuntutan Rakyat 17+8, Dari Tunjangan DPR hingga UU Perampasan Aset.

    ³ Tempo.co. (2025, 29 Agustus). Affan Kurniawan Tewas Dilindas Mobil Brimob Karena Terjatuh Saat Ambil Ponsel.

    Detik.com. (2025, 30 Agustus). Kasus Ojol Affan Tewas Dilindas Rantis Brimob Dilimpahkan ke Bareskrim.

    Solo Bersimfoni. (2020). Makna Hasthalaku: Delapan Laku Hidup Luhur untuk Membangun Harmoni.

  • Solo Bersimfoni Audiensi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah: Sinergi Penguatan Karakter melalui Program Sekolah Adipangastuti

    Solo Bersimfoni Audiensi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah: Sinergi Penguatan Karakter melalui Program Sekolah Adipangastuti

    Semarang, 2 September 2025 — Solo Bersimfoni melakukan audiensi resmi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah (Disdikbud Jateng), untuk menyampaikan laporan pelaksanaan program, serta menjajaki kolaborasi lebih lanjut dalam penguatan karakter dan perlindungan peserta didik melalui Program Sekolah Adipangastuti. Kegiatan ini dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) melalui program Bridging Fund.

    Kegiatan audiensi ini berlangsung di Aula C kantor Disdikbud Jateng dan diterima oleh Bidang Pembinaan Kebudayaan dan Bidang Pembinaan SMA beserta timnya. Dalam kesempatan ini, Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., dan Diektur Program Solo Bersimfoni, Prof. Agung Nur Probohudono, Ph.D., memaparkan kiprah lembaga dalam mendampingi sekolah-sekolah di Jawa Tengah sejak 2019, khususnya dalam isu-isu strategis seperti pencegahan kekerasan di sekolah, pengembangan karakter siswa, penguatan nilai keberagaman, serta pembangunan budaya sekolah yang ramah dan inklusif.

    Pelaporan dan Rencana Kolaborasi

    Solo Bersimfoni menyampaikan berbagai capaian program sampai akhir 2025, mulai dari implementasi Program Sekolah Adipangastuti di 67 Sekolah Menengah di Jawa Tengah dan beberapa advokasi kebijakan kepemudaan di tingkat kota sampai provinsi. Selain itu, Solo Bersimfoni juga menyampaikan program yang akan dilakukan sampai akhir tahun 2025 terkait pelaksanaan Program Sekolah Adipangastuti hingga pelatihan Duta Sekolah Adipangastuti sebagai kepanjangan tangan menyebarkan hasthalaku di lingkungan sekolah. Solo Bersimfoni juga menekankan pentingnya pendekatan yang partisipatif dan berbasis komunitas sekolah, agar program tidak hanya bersifat simbolis, tetapi menyentuh keseharian peserta didik dan tenaga pendidik.

    Sebagai tindak lanjut program, Solo Bersimfoni mengajukan dua inisiatif utama yang memerlukan dukungan Dinas:

    1. Pelatihan TPPK (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan) di sekolah-sekolah Adipangastuti se-Jawa Tengah, untuk memperkuat kapasitas tim dalam mencegah, menangani, dan melaporkan kekerasan di lingkungan sekolah secara efektif.
    2. Program “Sebar Kawruh Sekolah Adipangastuti”, yang akan menjadi ajang pembelajaran dan inspirasi bagi siswa dan guru, serta menghadirkan Kepala Dinas sebagai narasumber utama untuk memberikan materi tentang “Pembentukan Karakter Pelajar Jawa Tengah yang Berbudaya dan Berintegritas.”

    Dukungan dan Harapan

    Menanggapi pemaparan tersebut, Sulistiono, S.Sn., Subkor Sejarah dan Tradisi Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Jateng memberikan apresiasi atas konsistensi dan kepedulian Solo Bersimfoni dalam mendampingi sekolah-sekolah di Jawa Tengah, khususnya dalam isu-isu yang sering kali dianggap sensitif namun sangat penting untuk ditangani bersama.

    Beliau memaparkan kegiatan Bidang Pembinaan Kebudayaan yang bisa dikolaborasikan dengan Solo Bersimfoni di semester akhir 2025, seperti penanaman watak dan budi pekerti sejak dini, napak tilas mengikuti jejak kepahlawanan, kemah budaya, serta gelar budaya. Semua kegiatan ini berkaitan dengan pembentukan karakter siswa.
    Sumaryati, S.E., M.Si., analis peserta didik yang mewakili Bidang Pembinaan SMA, juga menyampaikan terima kasih dan dukungannya terhadap program Solo Bersimfoni, baik yang sudah dilakukan maupun yang sedang direncanakan. Selain itu, beliau menyampaikan tentang kegiatan Bidang Pembinaan SMA yang terkait dengan pengembangan karakter dan bisa dikolaborasikan dengan Solo Bersimfoni, seperti In House Training (IHT) Pendidikan Karakter dan Musyawarah Kerja Forum OSIS Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah.

    Penutup

    Audiensi ini menjadi langkah strategisdalam memperkuat kolaborasi antara lembaga masyarakat dan pemerintah daerah, khususnya dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi dan berkarakter. Solo Bersimfoni dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah sepakat untuk terus menjalin komunikasi dan mempersiapkan agenda bersama yang berdampak luas dan berkelanjutan.

    “Dengan Sekolah Adipangastuti, harapannya siswa tidak hanya lulus dengan nilai yang baik, tetapi juga bisa menjadi agen perubahan melalui karakter hasthalaku,” – Prof Agung Nur Probohudono, Ph.D.