STRATEGI MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI PEMBERLAKUAN SISTEM ZONASI

Deskripsi Pemberlakuan Sistem Zonasi di SMAN 1 Surakarta Sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta telah di berlakukan sejak dua tahun terakhir ini. Sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Nomor 421/07651 tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Provinsi Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2019/2020, seleksi PPDB SMA dilaksanakan melalui tiga jalur, yaitu jalur zonasi, jalur prestasi, dan jalur perpindahan orang tua atau wali. Hanya saja, perbedaannya adalah pada tahun pertama, sistem zonasi yang diterapkan menggunakan cakupan wilayah Kecamatan dengan sistem pemeringkatan masih menggunakan nilai UN SMP. pada tahun kedua, cakupan wilayah yang digunakan berubah menjadi wilayah Desa atau Kelurahan dalam jarak terdekat dengan satuan Pendidikan tanpa menggunakan pemeringkatan nilai UN SMP dalam proses seleksi. Melalui petunjuk teknis (juknis) PPDB tahun 2019/2020 tersebut, calon peserta yang wajib diterima melalui jalur zonasi adalah calon peserta didik yang berdomisili pada jarak Desa atau Kelurahan terdekat dalam zona sekolah paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima. Domisili calon peserta didik ini berdasarkan alamat pada kartu keluarga atau Surat Keterangan domisili dari RT/RW yang dilegalisir oleh Lurah/Kades setempat, yang diterbitkan paling singkat 6 bulan sebelum pelaksanaan PPDB. Dimana kuota 90% jalur zonasi ini sudah termasuk bagi peserta didik dari keluarga ekonomi tidak mampu atau Gakin (Keluarga Miskin) dengan proporsi jalur zona 70% dan jalur Gakin 20%. Kuota10% sisanya dibagi menjadi 5% jalur prestasi dalam zona dan 5% jalur prestasi luar zona. Hal ini karena kuota jalur perpindahan orang tua/wali di SMAN 1 Surakarta tidak terpenuhi 5%, sehingga kuota jalur orang tua/wali tersebut dialihkan ke dalam jalur prestasi. Hasthalaku Sebagai Program Penanaman Nilai di Sekolah Manajemen sekolah di SMAN 1 Surakarta yang terdiri dari berbagai unsur seperti siswa, guru, kepala sekolah, dan komite sekolah telah menentukan beberapa strategi akibat  Perubahan-perubahan yang muncul pasca pemberlakuan sistem zonasi. Dalam kaitannya untuk menghadapi perubahan budaya sekolah, melalui kerja sama dengan Solo Bersimfoni dan beberapa dosen dari Universitas Sebelas Maret (UNS), SMAN 1 Surakarta bersama dengan SMAN 6 Surakarta ditunjuk sebagai pilotting project yang menerapkan program hasthalaku di sekolah. Oleh karena itu, SMAN 1 Surakarta termasuk sekolah Adipangastuti yang mengimplementasikan program hasthalaku. Program hasthalaku tersebut merupakan bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) siswa. Sekolah tidak hanya berperan sebagai sarana lembaga untuk mentransfer ilmu pengetahuan, namun juga mendidik dan membentuk karakter siswa melalui nilai-nilai yang ditanamkan dalam hasthalaku tersebut. Nilai-nilai itu meliputi tepa selira (tenggang rasa), pangerten (saling menghargai), lembah manah (rendah hati), guyub rukun (kerukunan), gotong royong (saling membantu), grapyak semanak (ramah tamah), ewuh pakewuh (saling menghargai), dan andhap asor (berbudi luhur). Nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, misalnya ketika siswa bertemu gurunya menunduk, masuk kelas harus mengetuk pintu, salam terlebih dahulu, cara berbicara, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terus-menerus dibiasakan dan tidak dapat dilakukan oleh satu orang, semua warga sekolah turut bersama-sama terlibat dalam mengimplementasikan hasthalaku. Menurut Ketua komunitas Solo Bersimfoni, Solo Bersimfoni menjadikan hasthalaku sebagai sebuah identitas gerakan yang bersumber dari budaya lokal, sehingga hal ini mendorong anak-anak muda untuk bersikap wong jawa ora ilang jawane.Inovasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai upaya mempertahankan budaya sekolah. Inovasi yang dilakukan dalam program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga menjadi strategi sekolah dalam menghadapi perubahan budaya sekolah yang terjadi. GLS yang awalnya hanya dilakukan sebatas kegiatan literasi 15 menit sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai, mulai tahun pelajaran 2019/2020 koordinator GLS di SMAN 1 Surakarta melakukan beberapa gebrakan untuk program ini. Inovasi yang dilakukan adalah dalam satu minggu, terdapat beberapa kegiatan yang berusaha dibiasakan oleh sekolah kepada para siswa. Pada hari senin, terdapat kegiatan senin presrasi dan literasi bahasa. Senin Prestasi ditujukan kepada siswa kelas XII dengan melakukan Try Out (TO) rutin untuk persiapan UTBK khusus. Kegiatan literasi bahasa dilakukan oleh siswa kelas X dan XII dengan cara berpidato dalam bahasa Inggris setelah upacara bendera. Pada hari selasa sampai dengan hari kamis, terdapat literasi keagamaan. Setiap 15 menit pertama sebelum KBM dimulai, siswa yang beragama Islam melakukan tadarus di kelas, kemudian bagi siswa yang beragama Kristen melakukan kebaktian, sedangkan bagi siswa yang beragama Katolik, Hindu, dan Budha melakukan diskusi bersama di ruang agama masing-masing. Setiap hari jum’at minggu pertama, kegiatan yang dilakukan dibagi menjadi jum’at bersih, jum’at religi, dan jum’at sehat. Setiap jum’at minggu kedua terdapat kegiatan Jum’at Beraksi. Pada minggu pertama, jum’at bersih dilakukan oleh siswa kelas X yang bergotong royong membersihkan sekolah dengan membawa alat-alat kebersihan. Jumat religi dilaksanakan oleh siswa kelas XI dengan mengikuti pengajian di aula sekolah, sementara yang non islam beribadah di ruang ibadah masing-masing. Jum’at sehat ditujukan kepada siswa kelas XII yang melakukan kegiatan senam di lapangan. Seluruh kegiatan yang ada pada hari jum’at minggu pertama tersebut dilakukan secara bergantian atau rolling per angkatan. Kegiatan yang dilakukan pada minggu kedua, yaitu jum’at beraksi dilakukan dengan cara berpendapat kritis melalui tulisan. Siswa kelas XII di instruksikan untuk membaca novel kemudian menulisnya dalam bentuk resensi yang di jilid dan dijadikan buku-buku kumpulan resensi novel. Sedangkan untuk siswa kelas X dan kelas XI membuat jurnal baca dari buku-buku (non pelajaran) yang sudah mereka baca. Seluruh tulisan mereka diberlakukan plagiarism checked untuk menghindari kecurang-kecurangan yang dilakukan oleh siswa. Pemberlakuan plagiarism checked yang dilakukan oleh sekolah bertujuan agar siswa dapat bersikap jujur dan berkompetisi dengan cara yang sehat. Sekolah merupakan lembaga pendidikan dengan salah satu tujuannya adalah mensosialisasikan generasi muda menjadi anggota masyarakat untuk dijadikan tempat pembelajaran, mendapatkan pengetahuan, perubahan perilaku, dan penguasaan tata nilai. Dalam pandangan struktural fungsional, masyarakat dilihat sebagai suatu sistem sosial yang terdiri atas unsur-unsur atau elemenelemen yang saling berkaitan. Perubahan yang terjadi pada suatu unsur atau elemen tertentu, akan berdampak pada perubahan unsur atau elemen lainnya. Pandangan ini juga  menekankan pada peran dan fungsi struktur sosial yang menitikberatkan pada konsensus atau kesepakatan bersama dalam masyarakat (Maunah, 2016, p. 159). Begitu halnya ketika sistem zonasi sebagai sebuah sistem yang baru diterapkan dalam dunia pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan seperti SMAN 1 Surakarta yang memiliki struktur organisasi di dalamnya diketahui telah mendapatkan pengaruh atas pemberlakuan sistem zonasi yang berdampak pada beberapa perubahan dan proses adaptasi untuk

STRATEGI MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI PEMBERLAKUAN SISTEM ZONASI Read More »