Tag: toleransi

  • Perempuan Soloraya dalam Pusaran Terorisme

    Perempuan Soloraya dalam Pusaran Terorisme

    Tulisan ini menguak bagaimana perjuangan perempuan istri para narapidana kasus terorisme (Napiter) berjuang setelah suaminya ditangkap. Tidak sedikit perempuan yang tidak tahu-menahu aktivitas suaminya. Mereka tidak menyangka perubahan positif yang dialami sang suami justru berakhir pada jerat jaringan terorisme.

     

    Kisah Ani, Istri Seorang Napiter bernama Mardi

    Ruang tamu itu terlihat begitu sederhana. Tak ada hiasan yang terpasang di dindingnya, hanya ada sejumlah kursi kayu yang ditata menempel ke dinding berwarna krem. Warung makan yang berada di bagian sisi depan rumah sedang tutup, karena sedang bulan puasa. Dari lubang pintu, aku bisa melihat pengunjung supermarket yang terletak tepat di samping rumah, datang dan pergi.

    Aku sempat kesulitan menemukan rumah ini. Google maps yang dikirim Pak Mardi (bukan nama sebenarnya) sang pemilik rumah melalui pesan WhatsApp ternyata kurang akurat. Penulisan alamat juga terbalik antara RT dan RWnya. Hal ini cukup membuatku bingung hingga harus tersesat cukup lama sebelum akhirnya berhasil menemukan rumah yang sebenarnya terletak tepat di pinggir jalan raya.

    Oleh Pak Mardi aku dikenalkan kepada istrinya, Ani, juga bukan nama sebenarnya. Setelah tak lama saling mengenal, obrolan tentang keterlibatan Mardi dalam jaringan terorisme pun terus mengalir.

    Mardi yang saat ini berusia 50 Tahun, bergabung ke dalam kelompok yang bernama Azam Dakwah Center (ADC) yang dulu bermarkas di Ngruki, Sukoharjo. Menurut informasi dari Mardi, ADC berafilisiasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Ia ditangkap pada 2017 terkait kasus bom molotov di Solo Baru, Sukoharjo. Sebenarnya serangan bom molotov ini bisa dikatakan gagal. Sehingga tidak banyak orang yang tau.

    Namun, belakangan polisi berhasil mengendus adanya keterkaitan antara kasus ini dari hasil pengembangan kasus teroris di Bekasi. Menurut polisi kelompok ini antara lain bertanggung-jawab atas pengeboman di Kawasan Sarinah pada Januari 2016 dan serangan bom molotov di Solo Baru Sukoharjo.

    Menurut pengakuan Ani, dia tidak tau menau mengenai keterlibatan suaminya dalam serangan bom molotov itu. Pada saat terjadinya penyerangan, Pak Mardi bercerita tentang perannya sebagai pengawas yaitu bertugas untuk mengamankan dan memantau lokasi pengeboman.

    Ani mengisahkan, keterlibatan suaminya dengan kelompok teroris ini bermula saat ia bergabung dengan sebuah kelompok pengajian. Awalnya Ani menyambut gembira perubahan positif yang dialami suaminya. Namun, belakangan baru ia tahu kalau ternyata sang suami bergabung dengan kelompok garis keras.

    “Ya saya sih mendukung, Mbak, kalau suami itu rajin sholat dan pengajian. Dulu waktu muda suami saya tuh gangster, Mbak. Setelah menikah pun sholatnya masih bolong-bolong. Kalau saya ajak sholat pasti jawabannya iya nitip aja gitu. Dari yang seperti itu terus berubah drastis mau sholat dan ngaji saya seneng, Mbak. Cuma ya nggak tau kalau ternyata ngajinya di tempat yang salah,” terang Ani.
    Suatu sore hari Pak Mardi pamit pergi ke masjid untuk menunaikan sholat ashar berjamaah. Namun ternyata sampai malam tiba bahkan hingga keesokan harinya dia tidak kunjung pulang. Ani pontang-panting mencari informasi tentang keberadaan suaminya. Berbagai tempat yang biasa disinggahi suaminya ia datangi tapi hasilnya nihil.

    Hingga keesokan paginya, Ani memutuskan untuk mendatangi kantor kelurahan untuk melaporkan suaminya yang tidak kunjung pulang. Baru ketika itu Ani tahu jika suaminya ditangkap oleh Densus 88 Antiteror karena diduga terlibat aksi terorisme. Ani menyayangkan sikap Densus 88 yang tidak memberitahu pihak keluarga saat penangkapan,

    “Saya udah bingung suami posisinya di mana, Mbak, kok ya tidak ada pemberitahuan ke rumah dan keluarga dulu kalau ada penangkapan gitu,” keluhnya

    Siang hari sepulang dari kelurahan, rumah Ani didatangi oleh petugas Densus 88. Mereka datang dengan didampingi petugas dari kelurahan untuk menggeledah seisi rumah Mardi. Saat penggeledahan, Ani meminta agar rumahnya tidak diobrak-abrik dan semua barang dirapikan kembali ke keadaan semula.

    Dalam penggeledahan itu, petugas menyita dua alat bukti yaitu Al-Qur’an dan buku catatan Pak Mardi selama mengikuti pengajian.

    “Saya nggak habis pikir lho, Mbak, masa’ alat buktinya Al-Qur’an. Iya Al-Qur’an yang biasa kita baca itu!” ucapnya masygul.

    Setelah Mardi ditangkap, kini tanggung jawab ekonomi rumah tangga berpindah sepenuhnya ke pundak Ani. Ia yang semula seorang ibu rumah tangga kini harus menjadi tulang punggung keluarga dan bertindak sebagai bapak sekaligus ibu bagi ketiga anaknya.

    Kegalauan Ani makin menjadi, karena anak sulungnya akan melangsungkan pernikahan pada bulan April 2018, padahal Mardi ditangkap pada Desember 2017 atau hanya beberapa bulan sebelum pernikahan itu berlangsung. Setelah melalui perundingan yang panjang antara kedua keluarga, akhirnya diputuskan untuk memajukan tanggal pernikahan menjadi Januari 2018.

    Dari pihak keluarga laki-laki tidak mempermasalahkan meskipun calon mempelai perempuan adalah anak dari tersangka teroris. Karena Mardi sedang mendekam di penjara, posisinya sebagai wali akhirnya digantikan oleh adik laki-laki Ani.

    Ani melakukan segala upaya agar roda ekonomi keluarganya tetap berjalan dan untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya. Seperti membuat keset dan mengontrakkan sepetak rumah untuk dibuat ruko. Awalnya Ani memiliki usaha warung makan, tetapi tak lama setelah Mardi ditangkap, tak sedikit masyarakat yang menjauhi dan menghindari Ani dan keluarganya. Kondisi ini membuat Ani khawatir dagangannya tidak laku sehingga ia memutuskan untuk menutup warungnya. Setelah menutup warung makannya, Ani lantas beralih profesi dan bekerja membuat keset. Dari pekerjaan ini ia bisa mengantungi Rp 75 ribu sehari.

    “Ya lumayan, Mbak, itu biasanya saya nargetin sehari harus dapat segini supaya dapat Rp. 75.000 perhari. Gimanapun caranya saya coba selesaikan, Mbak. Kalau belum selesai ya saya lembur sampai gak tidur. Demi anak-anak.” imbuhnya.

    Beban Ani sedikit berkurang, karena tak lama kemudian ada yang berminat mengontrak ruko di samping rumahnya untuk dijadikan toko kelontong. Ini karena Ani mematok harga miring atau di bawah harga rata-rata meski lokasi tanahnya sangat strategis dan berada di pinggir jalan raya.

    “Kan kemarin banyak orang-orang yang menjauhi kita, Mbak, makanya saya tawarkan harga rendah. Alhamdulillahnya yang nyewa mau kita mintain uangnya di awal. Jadi sangat membantu,” ujar Ani tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya.

    Dan kini ia akhirnya menekuni usaha yang pernah dirintisnya dahulu yakni membuka warung makan di depan rumahnya. Modal usaha warung makan ini ia dapatkan dari bantuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

    “Setelah Bapak bebas pada 2020, kemudian mendapatkan pembinaan dari BNPT dan dimodali sebesar Rp 5 juta untuk modal usaha,” ujar Ani.

    Usaha ini dipilih, karena dia memang memiliki kemampuan dalam bidang memasak, akhirnya diputuskan untuk membuka warung makan kembali. Munculnya stigma negatif setelah Mardi ditangkap tak hanya mempengaruhi sepinya pengunjung warung Ani, tetapi juga berpengaruh pada semua aspek kehidupan keluarganya.

    Stigma dari masyarakat ini tak urung membuat tertekan Ani dan anak-anaknya. Sikap anaknya, terutama anak nomor dua berubah jadi pemurung.

    “Anak saya itu yang nomor dua laki-laki, Mbak. Dia emang karakternya pendiam. Kayaknya sih dia tertekan sama stigma-stigma anak teroris. Dia nggak pernah cerita sih tapi saya hanya menyimpulkan dari sikapnya yang semakin tertutup,” tuturnya.

    Diakui, saat awal Mardi ditangkap, stigma negatif dari masyarakat memang sangat kuat, tetapi seiring berjalannya waktu stigma itu perlahan terkikis. Ani sendiri mengaku tak terlalu memikirkan stigma ini, yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya bisa bertahan saat suaminya mendekam di penjara.

    “Saya sih dari awal nggak diambil pusing, Mbak, masalah stigma. Ya wajar aja, siapa sih yang nggak memandang negatif keluarga teroris? Sebab kalau saya terlalu memikirkan, nanti gimana anak-anak saya bisa makan? Saya juga gak boleh terlihat sedih di depan anak-anak. Pokoknya kudu tegar di depan anak-anak itu,” imbuhnya.

    Perlu waktu dan proses yang panjang hingga akhirnya Ani dan keluarganya bisa diterima kembali secara sosial dalam lingkungan masyarakat. Perlu proses negosiasi yang panjang bagi diri sendiri untuk dapat menyesuaikan kepada lingkungan sekitar yang sebelumnya tidak mau memahami dan cenderung menghakimi.

    Warung makan dan sewa tanah inilah yang hingga kini menjadi tempat bagi pasangan Mardi dan Ani menggantungkan ekonomi keluarganya. Selepas keluar dari tahanan, Mardi belum berhasil mendapatkan pekerjaan. Statusnya sebagai eks napiter menyulitkan dia mendapatkan pekerjaan. Sehingga yang bisa dilakukannya adalah membantu istri mengelola warung makan.

    Ani juga aktif berjualan online beberapa produk makanan, seperti cabe kriuk, kue, madu, hingga menerima beberapa pesanan makanan untuk berbagai acara. “Alhamdulillah, banyak yang suka sama masakan saya. Jadi selain ada warung makan juga orang-orang suka pesan buat acara,” ujar Ani.

     

    Kisah Ine, Istri Napiter di Karanganyar

    Ine, demikian perempuan itu menyebutkan namanya saat tangannya menyalami tanganku. Ada ketegasan yang kutangkap dari suara lirihnya. Kerudung lebar berwarna hitam menutupi kepalanya.

    Ine menerimaku di teras depan rumahnya yang asri. Aku sempat satu kali salah rumah sebelum akhirnya berhasil menemukan rumah mungil yang terletak di Kota Karanganyar itu. Angin sepoi dan gemericik kolam mampu mengurangi cuaca terik di siang itu.

    Ine adalah istri Hamdan seorang mantan napiter. Ine mengisahkan, pada tahun 2016 Hamdan ditangkap oleh Densus 88. Ia dituduh membantu menyembunyikan salah satu pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Solo.

    Padahal, sesungguhnya Hamdan tidak tau menau jika teman yang ia bantu adalah pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Solo. Saat itu Hamdan hanya diminta temannya untuk membantu sebuah urusan kerja.

    Hamdan mengakui bahwa dulunya aktif mengikuti kajian secara online melalui handphone. Ia mengikuti kelompok Front Pembela Islam (FPI). Selain itu, ia aktif berteman dengan kelompok yang tergabung dalam organisasi yang memiliki visi misi serupa FPI. Ternyata, salah satu temannya itu adalah pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Solo.

    Tak lama setelah serangan bom bunuh diri di Mapolresta Solo terjadi, polisi langsung mendatangi rumah Hamdan dan menangkapnya. Meski Hamdan mengatakan tidak tahu jika temannya bersembunyi dari pengejaran Densus 88 saat dia bantu untuk berangkat ke Jakarta, tetapi ia tetap ditahan, diadili dan dijatuhi hukuman 3 tahun penjara.

    “Kami sekeluarga kaget, Mbak, kok bisa pak Hamdan ditangkap. Ternyata ketracking turut bantu menyembunyikan. Padahal waktu itu temannya bilang minta tolong supaya dibantu ke Jakarta masalah pekerjaan. Ya suami percaya aja dan kalau bisa bantu memang dibantu suami itu. Namanya sama teman sendiri. Suami juga gak tau tuh kalau ternyata temannya masuk ke dalam jaringan teroris,” terang Ine.

    Selama Hamdan ditahan, tentu korban yang paling terdampak adalah istri dan anak-anak. Mau tidak mau, siap tidak siap Ine harus merangkap posisi menjadi ayah sekaligus ibu bagi keempat anaknya yang masih kecil. Bahkan, ketika Hamdan ditangkap pada tahun 2016, anak bungsunya masih berusia tujuh bulan. Sedangkan anak-anaknya yang lain berada dalam usia sekolah yang membutuhkan biaya tidak sedikit.

    Ine pun harus memutar otak dan banting setir agar bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Berbagai usaha pernah dijalaninya. Mulai dari jualan baju dan mukena, berdagang kue kering hingga kini berjualan coklat karakter. Selain berusaha sendiri, pihak keluarga sesekali juga memberikan bantuan.

    Ine dan keluarganya juga pernah menerima bantuan dari BNPT dan sebuah yayasan yang aktif dalam upaya deradikalisasi.

    “Mereka pernah datang guna memberi bantuan dana sosial sekitar dua sampai tiga kali saja. Kemudian ketika Bapak bebas, petuga BNPT datang lagi untuk memberi modal untuk usaha,” imbuh Ine.

    Ine mengaku beruntung, karena tidak terlalu distigma oleh masyarakat. Stigma datang hanya dari satu-dua tetangganya, itupun hanya terjadi di awal penangkapan Hamdan. Lama-lama stigma itu hilang dan masyarakat capek sendiri.

    Mayoritas tetangga sekitarnya justru bersimpati dan tidak menghakimi. Apalagi memberikan stigma negatif pada keluarganya. Ini karena pasangan ini cukup baik dalam bersosialisasi di masyarakat, dari keluarga juga tidak ada sama sekali penghakiman atau kecaman.

    Dari teman-teman bermain atau sekolah anaknya tidak ada satu pun yang memberi stigma kepada mereka. Hal itu dikarenakan, baik dari pihak keluarga maupun masyarakat tahu bahwa Hamdan sebenarnya tidak terlibat secara langsung dalam jaringan teroris. Hamdan hanya dimanfaatkan oleh temannya untuk melindungi dan menyembunyikan teroris. Namun, dari persidangan Hamdan tetap dijerat pasal menyembunyikan teroris dan divonis hukuman 3 tahun..

     

    Pusaran Terorisme di Solo

    Perjumpaanku dengan Mba Ani dan Mbak Ine berawal dari kunjunganku ke Sekretariat Yayasan Gema Salam, yaitu yayasan yang menaungi eks napiter di kawasan Kota Solo dan sekitarnya atau yang lebih dikenal dengan istilah Soloraya, pada satu malam di penghujung Maret silam.

    Aku sowan ke sana untuk berkenalan dengan pak Mardi dan Hamdan.

    Selama ini sudah banyak ulasan kisah eks napiter khususnya Jaringan Teroris Solo, tetapi masih sedikit yang menuturkan dari perspektif keluarga napiter khususnya istri eks napiter Jaringan Teroris Solo.

    Berdasarkan informasi dari pengurus Yayasan Gema Salam, di Jawa Tengah terdapat sekitar 490 eks napiter. Sebanyak 376 berasal dari wilayah Solo Raya dan 290 di antaranya berasal dari Kota Solo. Sekitar empat puluh orang eks napiter aktif menjadi pengurus Yayasan Gema Salam.

    Yayasan ini bertujuan mendampingi eks napiter dalam upaya deradikalisasi serta merangkul eks napiter supaya dapat diterima kembali di masyarakat. Keluarga, khususnya perempuan istri napiter menjadi target utama dari yayasan ini, karena perempuan lah yang efektif berperan dalam mencegah penyebaran paham radikal dari keluarga. Ketika seseorang sudah telanjur kecemplung dalam jaringan, maka perempuan juga yang diharapkan bisa menjadi benteng terakhir yang memagari

    Solo khususnya Sukoharjo sudah lama dibidik oleh Densus 88, karena menjadi salah satu lokasi penyebaran paham radikal. Penyebaran paham ini dilakukan dalam sel-sel kecil yang kemudian melakukan aksinya sendiri secara terpisah.

    Terakhir, tepatnya pada Rabu (9/3/2022) malam aparat Densus 88 menembak mati seorang dokter berinisial SU di Sukoharjo, Jawa Tengah. SU disebut tak hanya terlibat dalam kelompok ekstremis, tetapi ia memiliki peran penting di Jemaah Islamiyah (JI).

    JI adalah organisasi militan Islam yang sudah sejak lama dituduh berada di belakang serangkaian teror di Indonesia. Kelompok ini dibentuk di Malaysia oleh Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar pada akhir 1980-an dan kemudian berkembang menjadi sel-sel yang tersebar di sejumlah negara di Asia Tenggara.

    Dikutip dari laman Center for International Security and Cooperation (CISAC) Stanford University, JI merupakan pecahan organisasi Darul Islam (DI). Tokoh pendirinya, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir diketahui memiliki latar belakang sebagai aktivis pergerakan Islam.

    Pada masa Orde Baru, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir melarikan diri ke Malaysia. Di sana, mereka mulai membentuk kelompok Islam dan memfasilitasi perjalanan ke Afghanistan bagi muslim di Asia Tenggara yang ingin bergabung melawan Uni Soviet.

    Hingga pertengahan 1990-an, banyak anggota JI yang dilatih di Afghanistan. Organisasi tersebut dilaporkan menerima sumber daya dan nasihat dari kelompok Al-Qaeda. Jamaah Islamiyah juga memiliki hubungan yang kuat dengan Front Pembebasan Islam Moro setelah Abdullah Sungkar berhasil mendirikan kamp pelatihan di Filipina. Setelah reformasi 1998, kelompok ini kembali ke Indonesia. Tidak lama setelah itu, Sungkar meninggal dunia.

    JI bertujuan untuk mendirikan negara Islam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.Pada awalnya, JI menggunakan cara damai dalam mencapai tujuan mereka. Tetapi pada pertengahan tahun 1990-an, mereka mulai mengambil jalan kekerasan untuk mencapai tujuan.

    Di Singapura, Malaysia dan Filipina, pemerintahnya secara aktif mengejar para anggota kelompok ini. Sikap berbeda diambil pemerintah Indonesia. Saat itu pemerintah menolak mengakui ancaman teroris Islam secara nasional.

    Pemerintah juga dituding enggan berkampanye melawan ancaman ini di depan publik mayoritas Islam yang meragukan keberadaan JI.

    Sejumlah teror yang dikaitkan dengan JI antara lain adalah serangkaian pengeboman gereja di Indonesia yang menewaskan 18 orang pada Desember 2000. Kelompok ini juga bertanggung jawab terhadap serangkaian pengeboman di Manila yang menewaskan 22 orang.

    Perempuan Penyemai Perdamaian

    Kisah perempuan dalam pusaran terorisme bukan hanya tentang para istri eks napiter. Ada juga kisah perempuan yang aktif dalam mengkampanyekan toleransi dan menyemai perdamaian di Solo Raya.

    Salah satunya adalah Ninin Karlina, ketua Peacegen Solo. Ia aktif mendapat undangan menjadi narasumber di berbagai acara tentang perdamaian dan dialog lintas agama serta diskusi di polres tentang perdamaian.

    Selain sebagai agen perdamaian, ia merupakan seorang ibu dua anak dan ustadzah di pondok Imam Syuhodo Sukoharjo. Banyak tantangan yang harus dihadapinya dalam mengkampanyekan perdamaian.

    “Agak susah dalam menempatkan diri menjadi beberapa sosok. Aku harus bisa memposisikan kapan aku menjadi agen perdamaian, kapan menjadi ustadzah, kapan menjadi istri, kapan menjadi ibu dan kapan menjadi anak.” ujarnya di penghujung Maret lalu.

    Ninin yang sejak 2018 menjadi Ketua PeaceGeneration Chapter Solo aktif melakukan tindakan mitigasi bencana sosial (konflik) dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan tindakan pencegahan berkembangkan paham radikal. PeaceGeneration merupakan salah satu Non Goverment Organization (NGO) yang memiliki metode penyampaian yang asyik yaitu dua belas nilai perdamaian. Nilai ini diantaranya adalah menerima diri, prasangka, perbedaan etnis, perbedaan agama, perbedaan jenis kelamin, perbedaan status ekonomi, perbedaan kelompok atau geng, keanekaragaman, konflik, menolak kekerasan, mengakui kesalahan, memberi maaf. Dengan cara ini, mereka dapat membumikan nilai-nilai perdamaian dengan cara yang dapat diterima oleh anak muda.

    Hidup dan besar di lingkungan pondok pesantren, Ninin juga sering mendapat stigma seperti perempuan kok keluar kota bahkan keluar pulau tanpa muhrim. Padahal dari suami sendiri sudah setuju dan tidak mempermasalahkan apalagi jika urusannya dengan kebaikan dan orang banyak.

    Tidak sampai di situ saja, Ninin juga sering memperoleh cibiran dari orang-orang sebagai ‘manusia proyek’. Berkecimpungnya di dunia NGO menjadikannya mendapat sebutan seperti itu. Beberapa orang memang memandang NGO hanya bekerja karena proyek. Namun, Ninin berusaha keras untuk tidak terlalu mendengarkan anggapan seperti itu karena akan menghambat usaha-usahanya dalam mengkampanyekan perdamaian dan toleransi.

    Justru stigma-stigma yang timbul dijadikan sebagai pacuan bahwa apa yang dilakukan itu nyata dan konkrit. Sebenarnya Ninin begitu aktif dalam mengkampanyekan perdamaian diawali dari kegelisahannya terhadap kinerja pemerintah yang kurang dalam menjangkau masyarakat khususnya anak muda.

    Pengalaman Ninin merupakan bukti nyata bahwa perempuan memiliki peran yang vital dalam isu perdamaian dan menyebarkan toleransi. Namun, hambatan-hambatan yang dialami perempuan memang kompleks dan cenderung lebih rumit dibandingkan laki-laki sebab kontruksi masyarakat yang masih mendiskreditkan bahwa perempuan yang baik adalah ia yang berada di rumah saja dan melayani suami. Padahal ada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (H.R. Bukhari).

     

    Artikel ini didukung atas kerjasama Konde.co dan The Asian Muslim Network (AMAN) Indonesia dalam program Peace Innovation Academy 2022.

    Penulis: Roudhotul Jannah – Sahabat Simfoni

  • Bhinneka Bertaut: Versi Anak Muda Solo

    Bhinneka Bertaut: Versi Anak Muda Solo

    Jumat, 10 September 2021 telah dilaksanakan kegiatan virtual Bhinneka Bertaut: Versi Anak Muda Solo. Kegiatan ini diinisiasi oleh Kantor Berita Radio, KBR, bekerja sama dengan Solo Radio dan didukung oleh Solo Bersimfoni. Selama satu jam tiga puluh menit, tiga narasumber bercerita mengenai bagaimana dan mengapa anak muda harus terlibat dalam keberagaman, tidak sekadar dipajang saja.

    (more…)

  • SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN TOLERANSI YANG MENARIK UNTUK DISIMAK

    SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN TOLERANSI YANG MENARIK UNTUK DISIMAK

    Pernahkah anda merasa ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk kehidupan kota besar dan pergi ke tempat yang lebih tenang dan damai? Tempat kehidupan masyarakat yang rukun dan masih didominasi oleh nilai-nilai lama, budaya luhur, toleransi serta sikap menjaga keberasamaan. Anda bisa menemukannya dalam lingkungan Sekolah Adipangastuti-sekolah toleransi berbasis budaya-, sebuah hunian ramah untuk proses pembelajaran bagi warganya. Warga sekolah Adipangastuti akan membuat anda berpikir, orang-orang seperti inilah yang anda inginkan sebagai tetangga di lingkungan tersebut.

    Sekolah Adipangastuti adalah sebuah model sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan toleransi pada kalangan remaja khususnya pelajar. Model sekolah ini menerapkan budaya lokal dalam sistem sekolah dengan melakukan internalisasi nilai-nilai yang disebut hasthalaku ke dalam kegiatan pembelajaran siswa secara tidak mengikat, fleksibel dan luwes. Target dari sekolah ini menjadikan peserta didik lebih toleran dan mempunyai identitas budaya hasthalaku.

    Bila pendidikan disebut sebagai usaha untuk menghasilkan peserta didik yang cerdas dan berperilaku berbudi, maka seluruh rangkaian proses pembelajaran adalah  hasil dari pengetahuan (knowledge) dan pengalaman (experience). Cerdas dapat ditempuh melalui pembelajaran teoritis di ruang kelas, sementara moral atau perilaku berkaitan dengan nilai (value) yang lebih dipertimbangkan sebagai emotive berdasarkan pada ekspresi dan rasa.  Model sekolah Adipangastuti lebih cenderung hadir sebagai pembelajaran moral atau perilaku yang mengandalkan pengalaman  langsung dalam penerapan nilai-nilai.

    Program-program dalam model Sekolah Adipangastuti nyaris semuanya disusun berdasarkan kesepakatan guru, siswa dan tim pendamping program yang disesuaikan agar sejalan dengan program sekolah. Sehingga kegiatan-kegiatan yang lahir adalah hasil keinginan bersama yang memungkinkan terjadinya penjelajahan atau eksplorasi kegiatan dengan asyik dan leluasa. Kegiatan model sekolah adipangastuti berbasis pada pengembangan literasi, branding dan digitalisasi.

    Literasi digital mengarah pada pencarian berita dan konfirmasi dengan prinsip anti hoaks (berita bohong) dan ujaran kebencian. Pelatihan penggunaan beragam platform teknologi digital sebagai penunjang pembelajaran. Menarasikan Hasthalaku dalam bentuk tulisan (seperti; artikel populer, cerita fiksi, blog, naskah pementasan teater, sampai penerbitan buku), dalam bentuk gambar (seperti; poster, postingan media sosial, dan banner), dalam bentuk video (seperti; ilustrasi, pentas teater, film pendek, dan podcast),  serta dalam bentuk media kreatif lainnya.

    Selain itu, kegiatan yang berkaitan dengan sosial media pun tak kalah mendapat perhatian. Mengingat, penggunaan sosial media sekarang ini sudah menjadi suatu kebutuhan, maka online behavior sangat diperlukan. Bagaimana cara menyampaikan narasi di media sosial, bagaimana agar guru maupun siswa bisa membuat konten yang berfokus pada pendidikan karakter,  juga bagaimana mengukur seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan dari unggahan di media sosial melalui komentar (comment), penyebaran (share), dan reaksi (like).

    Program didesain dekat dan relevan dengan kehidupan siswa. Juga sebagai follow up dari pemberdayaan potensi seperti organisasi/ekstrakulikuler siswa. Berhadapan atas dunia di sekitarnya, menyebabkan siswa berupaya lebih lanjut mengeksplorasi lewat tindakan atau bahasa narasi. Sebuah model yang sederhana dan langsung.

    Indikator adanya kegiatan belajar adalah adanya perubahan tingkah laku, perubahan pola pikir, dan perubahan sikap. Sejalan dengan hal tersebut, model sekolah Adipangastuti berfokus pada capaian hasil perubahan daripada knowledge (kondisi sadar akan nilai-nilai hasthalaku), skill (kemampuan warga sekolah menggunakan beragam media/platform dalam menyebarkan konten tematik hasthalaku pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)), attitudes (menyikapi perasaan atau emosi terhadap seseorang atau sesuatu dari perspektif/sudut pandang nilai hasthalaku), habits (pengamalan nilai hasthalaku dalam perilaku yang berulang dan konsisten).

    Thomas Lickona dalam buku Mendidik untuk Membentuk karakter (2016) mengatakan, “Guru yang baik bukan hanya menentukan standar yang tinggi; mereka pun membantu siswanya membuat standar tersebut menjadi milik mereka.” Dengan menjadikan nilai-nilai hasthalaku yang kaya akan muatan toleransi sebagai standar perilaku bersama, maka akan tercipta kondisi KBM menjadi kondusif. Hal ini dikarenakan semua warga sekolah menjaga budaya toleransi dan memelihara nilai-nilai budaya lokal. Sehingga mampu menghindari atau meminimalisir resiko dampak perubahan sosial atau perilaku menyimpang yang bertentangan dengan aturan hukum, nilai religi dan norma sosial di lingkungan sekolah.

    Sebagai penutup, saya menukil perkataan Theodore Roosevelt untuk menunjukkan betapa pentingnya pendidikan moral perilaku terutama toleransi dalam menjaga kebersamaan, “Mendidik seseorang hanya untuk berpikir dengan akal tanpa disertai pendidikan moral berarti membangun suatu ancaman dalam kehidupan bermasyarakat.”

     

    Penulis : Gilar Prasetio

    Sahabat Simfoni dan Pendamping Sekolah Adipangastuti

  • Milenial dan Benteng Penangkal Radikalisme

    Milenial dan Benteng Penangkal Radikalisme

    Hari-hari kelabu menutup bulan Maret 2021. Saat masyarakat muslim di Indonesia tengah bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadan, kita dikejutkan oleh peristiwa memilukan sekaligus memalukan. Sebuah bom meledak di gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan di Minggu pagi yang cerah, saat para jemaat gereja sedang khusyu’ menjalankan ibadah. Kejadian ini sungguh memilukan karena hingga kini masih saja terjadi aksi kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa dan banyaknya orang terluka. Namun kejadian ini juga memalukan, karena hampir di setiap kejadian bom bunuh diri si pelaku membawa atribut yang kental dengan identitas seorang muslim. Meski banyak narasi mengatakan bahwa teroris bukan Islam dan tidak memiliki sangkut paut dengan agama manapun, namun seperti sudah menjadi stigma di mata masyarakat bahwa para pelaku bom bunuh diri adalah mereka yang melakukan aksinya dengan membawa misi jihad. (more…)

  • Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental

    Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental

    Sesuai amanat yang tertuang pada Perwali No. 49 tahun 2019 dengan tujuan membentuk karakter pemuda di kota Surakarta melalui Hasthalaku. Solo Bersimfoni bekerjasama dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia mengadakan kegiatan yang mengajak remaja milenial untuk menerapkan nilai-nilai Hasthalaku untuk mewujudkan Indonesia Bersatu. Hal ini sebagai langkah kongkrit upaya pemerintah dalam Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda serta keterlibatan masyarakat sipil. Program ini dinamakan Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Podcast Cuap Cuap Relasi, Seminar Karakter Hasthalaku dan Bedah Film Toleransi bertema Hasthalaku.

    Podcast Cuap Cuap Relasi (Remaja Toleransi) dilakukan Sembilan kali dengan masing-masing tema : Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Ewuh Pekewuh, Pangerten, Andhap Asor, Tepa Selira dan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Narasumber yang mengisi kegiatan ini adalah Dispora Kota Surakarta yaitu Kepala Kepemudaan, Nico Agus Putranto, dan Kasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan, Zufar Sasongko. Sedangkan Sahabat Simfoni, yang merupakan relawan serta kepanjangan tangan dari Solo Bersimfoni, juga menjadi narasumber kegiatan ini. Dalam Podcast bertema GNRM, perwakilan dari Kemenko PMK RI hadir yaitu Bayu Priyo Jatmiko. Sembilan podcast telah diupload pada YouTube Channel Solo Bersimfoni mulai tanggal 23 sampai dengan 30 November 2020.

    Seminar Karakter Hasthalaku dengan tema Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Remaja Milenial yang Bersumber dari Nilai Budaya Lokal secara daring telah terlaksana dengan lancar dan dihadiri oleh total 700 peserta baik dari zoom meeting maupun live streaming channel YouTube Solo Bersimfoni. Peserta merupakan siswa dan siswi Model Sekolah Adipangastuti yang sedang diterapkan pada lima sekolah di Soloraya yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong.

    Kegiatan ini dimulai dengan laporan kegiatan oleh M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni kepada Kemenko PMK RI melalui R. Alfredo Sani F selaku Asisten Deputi Revolusi Mental Kemenko PMK RI. Dalam kesempatan ini, Pak Alfredo juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini berada di bonus demografi, yaitu pemuda yang masuk usia produktif lebih banyak daripada yang masuk usia non produktif, sehingga kita perlu menyiapkan pemuda dengan membangun karakter hasthalaku yang sangat relevan di era sekarang.

    Narasumber kegiatan Seminar berjumlah empat orang yang merupakan pemerhati pemuda dan pemangku jabatan di Pemerintahan Kota Surakarta. Yang pertama adalah Waskito Widi Wardojo, S.S., M.A. yang merupakan dosen Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS memberikan materi dengan tema Internalisasi Nilai Nilai Karakter Hasthalaku. Kemudian yang kedua adalah Indradi AP, S.H., M.M selaku Kepala Kesbangpol Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Peran Organisasi pemuda dalam Pengembangan Karakter Hasthalaku Remaja Milenial. Yang ketiga adalah Dr. agus Setyo Utomo, S.E., M.Si., Ak. CA, C.Pa. yang merupakan aktifis pemuda dan Kepala Markas PMI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Merawat Persatuan dalam Semangat Kemanusiaan. Serta yang terakhir adalah Bambang Nugroho selaku Ketua KNPI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Semangat Pemuda dalam Mewujudkan Indonesia Bersatu.

    Pada kegiatan yang ketiga, yaitu Bedah Film Toleransi bertemakan Hasthalaku telah terlaksana dengan baik dan lancar pada hari Selasa tanggal 24 Desember 2020 di Graha Solo Raya pukul 13.00 – 15.00 WIB. Film yang diputar ada lima film yaitu Sepatu, Coba Peka, Second Change, Semanak dan Nggak Kenal Agama. Tiga film diantaranya adalah pemenang lomba pembuatan film pendek program Sekolah Adipangastuti tahun 2019 di SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 110 peserta dari OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Kota Surakarta. OKP yang hadir dari HIPMI, Suara Muda Solo, PRRBM, HMI, TAD, KNPI, PT HKTI, PMII, Banser, PMR Markas, JCI, IMM, IPNU, KAMMI, dan KTI. Sedangkan OPD yang hadir dari Bapppeda, Departemen Agama dan Kesbangpol Kota Surakarta.

    Kegiatan ini diawali oleh pesan dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII, Suyanta, S.Pd., M.Pd, agar seluruh peserta selalu melakukan protokol kesehatan untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19 di Soloraya. Beliau juga mengatakan bahwa sesuai pemuda, selain harus memiliki kemampuan berkompetisi juga harus memiliki karakter yang bagus agar dapat sukses di masa depan. Narasumber kegiatan Bedah Film ini ada tiga orang yaitu pemeran Film Semanak, Katira dan El Alimudin, serta sutradara Film Sepatu, Muhammad Anis.

    Tujuan umum kegiatan ini adalah untuk menanamkan karakter bangsa guna mewujudkan Indonesia Bersatu bersama Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui identitas budaya yang terdapat pada Perwali Nomor 49 Tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan yang disebut hasthalaku bagi remaja milenial di Kota Surakarta.

     

     

     

    link berita:

    https://revolusimental.go.id/kabar-masyarakat/detail-suara-kita?url=pengembangan-karakter-remaja-milenial-di-kota-surakarta-tahun-2020-program-gerakan-nasional-revolusi-mental-kerjasama-solo-bersimfoni-dan-kemenko-pmk-r

  • Agen Simfoni Bersatu, dari Sahabat untuk Sahabat.

    Agen Simfoni Bersatu, dari Sahabat untuk Sahabat.

    Sahabat Simfoni merupakan perpanjangan tangan dari Solo Bersimfoni untuk menyebarkan toleransi melalui nilai-nilai hasthalaku kepada masyarakat di Kota Solo, terutama generasi muda. Sudah kurang lebih tiga tahun Sahabat Simfoni menemani Solo Bersimfoni yang diawali dengan Training of Trainers yang sudah dilakukan dalam empat angkatan.

    Dalam berkegiatan, Sahabat Simfoni melakukan berbagai cara untuk menyebarkan hasthalaku seperti Simfoni Goes to School, Hasthalaku on the Street, Simfoni Class, pementasan Fragmen Hasthalaku dan tak lupa kampanye di media sosial mereka. Tentu saja kegiatan yang mereka lakukan disesuaikan dengan tren yang sedang terjadi di kalangan anak muda, apalagi Sahabat Simfoni juga merupakan bagian dari pemuda.

    Dalam masa pandemi, kegiatan yang dilakukan secara bertatap muka dijadwalkan ulang bahkan dibatalkan atau diubah dengan metode online. Hal ini mengingat naiknya penderita Covid-19 di Indonesia yang bahkan per akhir Januari 2021 sudah melebihi dari satu juta kasus.

    Simfoni Goes to School dilakukan pada program literasi dan ekstra kurikuler pramuka di SMAN 1 Surakarta. Disini Sahabat Simfoni membuat materi hasthalaku seperti video YouTube yang kemudian diberikan kepada siswa. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Sekolah Adipangastuti, sekolah toleransi berbasis budaya yang diinisiasi oleh Solo Bersimfoni untuk mereduksi intoleransi di kalangan pemuda Soloraya. Bahkan pada tanggal 17 Desember 2020 telah dikukuhkan lima Sekolah Adipangastuti yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

    Fragmen hasthalaku merupakan salah satu cara sahabat simfoni untuk menyebarkan toleransi dengan cara yang menarik dan menyentil berbagai isu intoleransi. Mereka pun pernah menampilkan fragmen di depan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam kegiatan Forkopimda Provinsi Jawa Tengah “Komitmen Bersama Menjaga Jawa Tengah Tetap Guyub, Toleran, Aman dan Tenteram” di Gedung  UTC Convention Hotel, Semarang pada kamis, 17 Oktober 2019.

    Organisasi Sahabat Simfoni : Agen Simfoni Bersatu

    Awalnya, Sahabat Simfoni hanya dibentuk dari alumni kegiatan ToT saja. Namun semakin lama, banyak anak muda yang tertarik menjadi bagian dari Solo Bersimfoni dan menjadi Sahabat Simfoni walau tidak pernah mengikuti ToT. Untuk menampung keinginan ini, Sahabat Simfoni berinisiasi untuk membentuk organisasi sahabat simfoni yang dinamakan Agen Simfoni Bersatu (ASB).

    Pada Jumat tanggal 29 Januari 2021, ASB melakukan peluncuran pembentukan organisasi di Ruang Hasthalaku Solo Bersimfoni bertepatan dengan acara Kenduri Perdamaian dimana Sahabat Simfoni berkontribusi menggelar pentas fragmen hasthalaku bertema keberagaman. Dengan durasi kurang lebih lima menit, sahabat simfoni ingin mengambarkan bagaimana stigma ras bisa dicegah dengan menerapkan nilai hasthalaku. Tanggapan dari peserta Kenduri Perdamaian pun sangat positif, salah satunya berkata bahwa Kampung Damai, yang merupakan nama kampung dalam fragmen, harus menjadi gerakan yang nyata.

    “Bersama dengan tulus dan tanpa rasa curiga menjadi kekuatan di akar rumput agar masyarakat bisa saling gotong royong dan tepa selira” – Andi Kristanto

    “Pelagi berwarna-warni yang membuat jadi indah” – Puji Yanti Ordiyasa.

    Harapan dibentuknya organisasi ini agar Sahabat Simfoni dapat saling belajar, berbagi dan juga mengembangkan diri baik di kalangan sahabat sendiri maupun dari orang lain. Selanjutnya dengan adanya ASB, Sahabat Simfoni dapat belajar mengelola organisasi dari membuat program kegiatan sampai pelaksanaan dengan semangat hasthalaku. Dengan membuat program kegiatan sendiri, mereka akan menjangkau dan mendapatkan jaringan serta pengalaman yang lebih luas.

    #KitaBersamaKarenaKitaBerbeda

    #MariKitaBersimfoni

    Penulis : Tia Brizantiana

     

  • STRATEGI MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI PEMBERLAKUAN SISTEM ZONASI

    STRATEGI MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI PEMBERLAKUAN SISTEM ZONASI

    Deskripsi Pemberlakuan Sistem Zonasi di SMAN 1 Surakarta

    Sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta telah di berlakukan sejak dua tahun terakhir ini. Sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Nomor 421/07651 tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Provinsi Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2019/2020, seleksi PPDB SMA dilaksanakan melalui tiga jalur, yaitu jalur zonasi, jalur prestasi, dan jalur perpindahan orang tua atau wali. Hanya saja, perbedaannya adalah pada tahun pertama, sistem zonasi yang diterapkan menggunakan cakupan wilayah Kecamatan dengan sistem pemeringkatan masih menggunakan nilai UN SMP. pada tahun kedua, cakupan wilayah yang digunakan berubah menjadi wilayah Desa atau Kelurahan dalam jarak terdekat dengan satuan Pendidikan tanpa menggunakan pemeringkatan nilai UN SMP dalam proses seleksi. Melalui petunjuk teknis (juknis) PPDB tahun 2019/2020 tersebut, calon peserta yang wajib diterima melalui jalur zonasi adalah calon peserta didik yang berdomisili pada jarak Desa atau Kelurahan terdekat dalam zona sekolah paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima. Domisili calon peserta didik ini berdasarkan alamat pada kartu keluarga atau Surat Keterangan domisili dari RT/RW yang dilegalisir oleh Lurah/Kades setempat, yang diterbitkan paling singkat 6 bulan sebelum pelaksanaan PPDB. Dimana kuota 90% jalur zonasi ini sudah termasuk bagi peserta didik dari keluarga ekonomi tidak mampu atau Gakin (Keluarga Miskin) dengan proporsi jalur zona 70% dan jalur Gakin 20%. Kuota10% sisanya dibagi menjadi 5% jalur prestasi dalam zona dan 5% jalur prestasi luar zona. Hal ini karena kuota jalur perpindahan orang tua/wali di SMAN 1 Surakarta tidak terpenuhi 5%, sehingga kuota jalur orang tua/wali tersebut dialihkan ke dalam jalur prestasi.

    Hasthalaku Sebagai Program Penanaman Nilai di Sekolah

    Manajemen sekolah di SMAN 1 Surakarta yang terdiri dari berbagai unsur seperti siswa, guru, kepala sekolah, dan komite sekolah telah menentukan beberapa strategi akibat  Perubahan-perubahan yang muncul pasca pemberlakuan sistem zonasi. Dalam kaitannya untuk menghadapi perubahan budaya sekolah, melalui kerja sama dengan Solo Bersimfoni dan beberapa dosen dari
    Universitas Sebelas Maret (UNS), SMAN 1 Surakarta bersama dengan SMAN 6 Surakarta ditunjuk sebagai pilotting project yang menerapkan program hasthalaku di sekolah. Oleh karena itu, SMAN 1 Surakarta termasuk sekolah Adipangastuti yang mengimplementasikan program hasthalaku. Program hasthalaku tersebut merupakan bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
    siswa. Sekolah tidak hanya berperan sebagai sarana lembaga untuk mentransfer ilmu pengetahuan, namun juga mendidik dan membentuk karakter siswa melalui nilai-nilai yang ditanamkan dalam hasthalaku tersebut. Nilai-nilai itu meliputi tepa selira (tenggang rasa), pangerten (saling menghargai), lembah manah (rendah hati), guyub rukun (kerukunan), gotong royong (saling membantu), grapyak semanak (ramah tamah), ewuh pakewuh (saling menghargai), dan andhap asor (berbudi luhur). Nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, misalnya ketika siswa bertemu gurunya menunduk, masuk kelas harus mengetuk pintu, salam terlebih dahulu, cara berbicara, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terus-menerus dibiasakan dan tidak dapat dilakukan oleh satu orang, semua warga sekolah turut bersama-sama terlibat dalam mengimplementasikan hasthalaku. Menurut Ketua komunitas Solo Bersimfoni, Solo Bersimfoni menjadikan hasthalaku sebagai sebuah identitas gerakan yang bersumber dari budaya lokal, sehingga hal ini mendorong anak-anak muda untuk bersikap wong jawa ora ilang jawane.Inovasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai upaya mempertahankan budaya sekolah. Inovasi yang dilakukan dalam program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga menjadi strategi sekolah dalam menghadapi perubahan budaya sekolah yang terjadi. GLS yang awalnya hanya dilakukan sebatas kegiatan literasi 15 menit sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai, mulai tahun pelajaran 2019/2020 koordinator GLS di SMAN 1 Surakarta melakukan beberapa gebrakan untuk program ini. Inovasi yang dilakukan adalah dalam satu minggu, terdapat beberapa kegiatan yang berusaha dibiasakan oleh sekolah kepada para siswa.

    Pada hari senin, terdapat kegiatan senin presrasi dan literasi bahasa. Senin Prestasi ditujukan kepada siswa kelas XII dengan melakukan Try Out (TO) rutin untuk persiapan UTBK khusus.
    Kegiatan literasi bahasa dilakukan oleh siswa kelas X dan XII dengan cara berpidato dalam bahasa Inggris setelah upacara bendera. Pada hari selasa sampai dengan hari kamis, terdapat literasi keagamaan. Setiap 15 menit pertama sebelum KBM dimulai, siswa yang beragama Islam melakukan tadarus di kelas, kemudian bagi siswa yang beragama Kristen melakukan kebaktian, sedangkan bagi siswa yang beragama Katolik, Hindu, dan Budha melakukan diskusi bersama di ruang agama masing-masing. Setiap hari jum’at minggu pertama, kegiatan yang dilakukan dibagi menjadi jum’at bersih, jum’at religi, dan jum’at sehat. Setiap jum’at minggu kedua terdapat kegiatan Jum’at Beraksi. Pada minggu pertama, jum’at bersih dilakukan oleh siswa kelas X yang bergotong royong membersihkan sekolah dengan membawa alat-alat kebersihan. Jumat religi dilaksanakan oleh siswa kelas XI dengan mengikuti pengajian di aula sekolah, sementara yang non islam beribadah di ruang ibadah masing-masing. Jum’at sehat ditujukan kepada siswa kelas XII yang melakukan kegiatan senam di lapangan. Seluruh kegiatan yang ada pada hari jum’at minggu pertama tersebut dilakukan secara bergantian atau rolling per angkatan. Kegiatan yang dilakukan pada minggu kedua, yaitu jum’at beraksi dilakukan dengan cara berpendapat kritis melalui tulisan. Siswa kelas XII di instruksikan untuk membaca novel kemudian menulisnya dalam bentuk resensi yang di jilid dan dijadikan buku-buku kumpulan resensi novel. Sedangkan untuk siswa kelas X dan kelas XI membuat jurnal baca dari buku-buku (non pelajaran) yang sudah mereka baca. Seluruh tulisan mereka diberlakukan plagiarism checked untuk menghindari kecurang-kecurangan yang dilakukan oleh siswa. Pemberlakuan plagiarism checked yang dilakukan oleh sekolah bertujuan agar siswa dapat bersikap jujur dan berkompetisi dengan cara yang sehat.

    Sekolah merupakan lembaga pendidikan dengan salah satu tujuannya adalah mensosialisasikan generasi muda menjadi anggota masyarakat untuk dijadikan tempat pembelajaran, mendapatkan pengetahuan, perubahan perilaku, dan penguasaan tata nilai. Dalam pandangan struktural fungsional, masyarakat dilihat sebagai suatu sistem sosial yang terdiri atas unsur-unsur atau elemenelemen yang saling berkaitan. Perubahan yang terjadi pada suatu unsur atau elemen tertentu, akan berdampak pada perubahan unsur atau elemen lainnya. Pandangan ini juga  menekankan pada peran dan fungsi struktur sosial yang menitikberatkan pada konsensus atau kesepakatan bersama dalam masyarakat (Maunah, 2016, p. 159). Begitu halnya ketika sistem zonasi sebagai sebuah sistem yang baru diterapkan dalam dunia pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan seperti SMAN 1 Surakarta yang memiliki struktur organisasi di dalamnya diketahui telah mendapatkan pengaruh atas pemberlakuan sistem zonasi yang berdampak pada beberapa perubahan dan proses adaptasi untuk mempertahankan struktur tersebut. Istilah struktur sosial dalam hal ini digunakan untuk menunjukkan jaringan yang kompleks dalam hubungan sosial (Radcliffe-Brown, 1952, p. 188). Jaringan yang terbentuk dalam struktur manajemen sekolah di SMAN 1 Surakarta tersusun atas berbagai unsur atau elemen yang saling berhubungan dan memiliki keterkaitan. Elemen-elemen tersebut antara lain terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, siswa, serta komite sekolah. Setiap elemen dalam struktur tersebut memiliki peran dan fungsi sesuai dengan statusnya masing-masing. Kepala sekolah dalam hal ini berperan sebagai manajer sekolah yang bertugas untuk mengkoordinasikan seluruh elemen dalam struktur manajemen sekolah agar berjalan dan bekerja sesuai dengan fungsinya, misalnya ketika pemberlakuan sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta mengakibatkan perubahan budaya sekolah dan pola pembelajaran yang ada, maka kepala sekolah sebagai komando bersama dengan wakil kepala sekolah, guru, atau bahkan dapat membentuk hubungan maupun jaringan sosial yang lebih luas kepada komite sekolah serta pihak eksternal untuk menentukan langkah-langkah atau strategi dalam menghadapi perubahan atas pemberlakuan sistem zonasi tersebut. Jika dalam penelitian yang dilakukan oleh Chan, et al. (2019) tentang sistem zonasi mengungkapkan bahwa terdapat dampak positif dan negatif dari sistem zonasi terhadap penerimaan peserta didik baru. Dimana dampak positifnya adalah menghilangkan label sekolah favorit dan non favorit, serta dampak negatifnya adalah sulitnya bagi wali murid untuk mendaftarkan anaknya di sekolah karena pandaftaran yang dilaksanakan secara online, sehingga terkesan rumit. Secara lebih spesifik penelitian ini menunjukkan bahwa sistem zonasi juga berdampak pada perubahan-perubahan yang terjadi di sekolah. Perubahan tersebut meliputi perubahan budaya sekolah dan pola pembelajaran.

    Hasthalaku sebagai salah satu langkah sekolah untuk menghadapi perubahan budaya sekolah muncul karena jaringan kerjasama yang dibangun antara SMAN 1 Surakarta dengan beberapa pihak eksternal seperti Solo Bersimfoni dan Universitas Sebelas Maret. Dalam menjalin kerjasama tersebut, wakil kepala sekolah bidang kehumasan juga berperan penting sebagai gerbang fasilitator yang menghubungkan sekolah dengan pihak eksternal. Jika salah satu elemen atau unsur dalam struktur manajemen sekolah tersebut tidak berfungsi, maka akan mempengaruhi kondisi struktur yang ada secara keseluruhan. Proses penanaman nilai-nilai dalam hasthalaku tidak akan berhasil jika siswa tidak mengetahui dan menerapkan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan seharihari di sekolah. Pembiasaan tentang nilai-nilai dalam hasthalaku yang secara terus menerus dilakukan juga tidak akan bertahan lama jika guru tidak mencerminkan perilaku yang sesuai dengan hasthalaku tersebut. Selain hasthalaku, inovasi yang dilakukan SMAN 1 Surakarta terhadap program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga dapat dilihat sebagai bagian dari strategi sekolah dalam
    mempertahankan budaya sekolah. Budaya dalam pandangan Radcliffe-Brown (1952) dilihat sebagai mekanisme adaptif yang membuat manusia atau elemen-elemen dalam manajemen sekolah mampu menjaga kehidupan sosial sebagai suatu komunitas yang teratur. Mekanisme adaptif yang dilakukan oleh SMAN 1 Surakarta juga berkaitan dengan adanya perubahan pola pembelajaran setelah sistem zonasi diterapkan. Guru mengubah pola pembelajaran dan melakukan adaptasi sesuai dengan kultur kelas dengan masing-masing siswa yang memiliki keberagaman sifat, karakter, dan kemampuan dalam menyerap materi pembelajaran. Hal ini dapat dilihat sebagai fungsi yang dimiliki oleh seseorang dengan status sebagai guru. Guru memiliki peranan yang dimainkan atau kontribusi yang diberikan dalam proses pembelajaran demi keberjalanan struktur tersebut. Berbagai strategi yang dilakukan oleh manajemen sekolah dalam menghadapi pemberlakuan
    sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta tersebut terbentuk berdasarkan konsensus atau kesepakatan bersama dengan elemen-elemen manajemen sekolah yang ada. Konsensus itulah yang mengintegrasikan warga sekolah dalam struktur sosial yang lebih mapan sehingga tercipta keteraturan. Melalui perspektif struktural fungsional, disini kita dapat melihat jika masyarakat dalam suatu struktur sosial mengalami perubahan, maka akan muncul cara atau strategi yang berkembang secara lebih baik untuk mengatasi perubahan tersebut (Maunah, 2016, p. 160).

     

    Ditulis oleh : Ya Shinta Dewi Wahyuni; Nurhadi Nurhadi; Okta Hadi Nurcahyono

    Klik dibawah untuk melihat selengkapnya

    Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan Volume 8, No. 2, September 2020 (124-136)

     

  • Keberagaman Adalah KehendakNya

    Keberagaman Adalah KehendakNya

    Negara harus hadir untuk memberikan rasa tenteram,

    Negara harus hadir untuk membangun kerukunan,

    Negara harus hadir untuk membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    (Ustad Dian Nafi – Pemimpin Ponpes Al Muayyad Surakarta)

    Sudah sebulan yang lalu, tepatnya Sabtu tanggal 8 Agustus 2020, warga Solo merasakan keresahan akibat terjadinya tindakan intoleransi kepada salah satu warganya yang sedang melakukan hajatan. Pelaku dan rombongannya beranggapan bahwa empunya hajatan melakukan perbuatan yang dilarang agama dan tidak sesuai dengan ajaran agama, bahkan dianggap sesat.

    Pemberitaan di media online Kumparan (08/08/2020) menjelaskan bahwa sekelompok massa mendatangi lokasi korban dan memaksa tuan rumah untuk membubarkan acara keluarga tersebut. Sejumlah mobil dirusak, tiga orang terluka akibat pukulan massa dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Miris, mereka melakukan penyerangan sembari meneriakkan takbir dan kalimat yang mengancam nyawa sesama dengan dalih agama. Ironisnya, kejadian ini tidak bisa dihentikan oleh pihak kepolisian. Keluarga yang melakukan hajatan midodareni pun harus membubarkan diri.

    Multikulturalisme di Kota Solo dengan banyaknya suku dan ras yang tinggal di sana menjadikannya khas dan unik, namun masih sering dijumpai tindakan intoleransi seperti kejadian di atas. Peristiwa ini menambah catatan buruk tindakan intoleransi di Indonesia, khususnya Solo, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan Hasthalaku.

    Keberagaman Adalah Anugerah

    Ustad Dian Nafi, pemimpin Ponpes Al Muayyad Surakarta sekaligus penggiat toleransi di Kota Solo beranggapan bahwa peristiwa itu merupakan tindakan intoleran, kekerasan dan penistaan kepada hak sesama warga negara. Baginya, kejadian tersebut merupakan tindakan yang tidak disertai dengan pengetahuan yang cukup alias tindakan yang bodoh, oleh karenanya harus dihentikan.

    Salah satu cara menjadi warga yang baik adalah taat kepada hukum dengan cara yang berkeluhuran dan berkeadilan. “Solo haruslah kita anggap sebagai anugerah Allah. Maka bersyukurlah kita menjadi bagian dari kota Solo, berterima kasihlah kepada Allah dan juga kepada para pendahulu yang memperjuangkan Kota Solo Ini menjadi kota yang baik kita tinggali,” ujar Ustad Dian.

    Kepala Kesbangpol Solo, Indradi, mengatakan bahwa kejadian tersebut tidak seharusnya terjadi.  “Masyarakat diharapkan mengecek dahulu kebenaran sebuah cerita yang beredar dan memicu keresahan. Sehingga bila ada perbedaan pendapat dan pandangan dapat diselesaikan dengan cara yang baik dan bijak, dengan mengedepankan musyawarah mufakat dan menghargai hukum yang berlaku.” Beliau juga berharap seluruh pihak bersama dengan pemerintah untuk selalu menjaga kondisi damai di wilayah Kota Solo.

    Ustad Dian berpesan agar kita semua dapat bersyukur, “Kita berharap anak muda dan masyarakat Solo tidak mudah terpancing emosi dan terutama dapat menjadi penerus yang baik dan menyebarkan kebaikan di masyarakat.”

    Kebersamaan dalam Keberagaman

    Ustad Dian juga menambahkan bahwa kita semua harus belajar mengenai keberagaman, “Kita sering menganggap sesuatu ada sebagaimana ia ada dan tidak menjadikannya menjadi bahan pelajaran. Apa saja yang ada dan berbeda perlu untuk kita pelajari.” Beliau juga mengatakan tentang pentingnya silaturahmi, saling belajar saling mengetahui, yang bertujuan membangun pemahaman dalam keberagaman.

    Masyarakat Kota Solo diharapkan untuk membiasakan diri berpikir jernih, selalu menggunakan akal dan nurani dalam bertindak. Apalagi sebagai warga masyarakat yang sama-sama memiliki hak untuk hidup secara damai dan rukun di Kota Surakarta seharusnya saling menjaga tepa selira. Jangan sampai tindakan intoleransi yang terjadi menjadikan warganya tidak krasan tinggal di Solo karena dirasa tidak bisa mengembangkan diri serta menggali sumber daya untuk kesejahteraan bagi diri sendiri dan sekitar.

    Keberagaman adalah kehendak-Nya. Tidak dapat kita pungkiri adanya fakta bahwa keberagaman adalah nyata dan merupakan bagian dari takdir-Nya. Sebagai manusia yang baik dan berakal budi, tentu sebaiknya kita dapat menerima perbedaan dengan lapang dada. Menghormati perbedaan dengan bersikap hasthalaku yaitu pangerten dan tepa selira menjadikan guyub rukun terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Kebersamaan dalam persamaan merupakan hal yang biasa, sebaliknya kebersamaan dalam keberagaman merupakan hal yang perlu kita pupuk bersama-sama.

    Melihat fakta di atas, Solo Bersimfoni tentu saja mengecam segala tindakan intoleransi yang terjadi khususnya di Kota Solo. Sebagai organisasi yang bergerak dalam isu toleransi, rasanya sangat menyesakkan ketika mendengar salah satu warga Kota Solo mengalami tindakan intoleransi. Kami akan terus mendukung pihak kepolisian dalam mengusut dan menghukum para pelaku sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku di Negara Indonesia.

    Kami juga meminta pemerintah daerah di Soloraya untuk memberikan jaminan perlindungan kepada masyarakat minoritas agar dapat berkegiatan dengan aman dan damai serta mengajak tokoh pemuda, organisasi masyarakat sipil, dan tokoh lintas agama di Soloraya untuk saling berpegangan tangan dalam menjaga dan menggaungkan toleransi di Soloraya agar keharmonisan dalam keberagaman selalu terjaga dan tidak ada peristiwa seperti ini lagi.

    Marilah kita bersama-sama menyebarkan kebaikan dan mengedukasi diri sendiri serta lingkungan agar tidak mudah terpancing dengan berita atau informasi yang belum tentu benar dan jelas asal mulanya. Serta selalu menjaga silaturahmi agar Soloraya menjadi kota yang senantiasa aman dan damai.

     

    Penulis : Tia Brizantiana

  • Belajar Dari Tilik : Gotong Royong Itu Susah

    Belajar Dari Tilik : Gotong Royong Itu Susah

    Banyak hal menarik, paling tidak dari sudut pandang saya, atas viralnya film pendek “Tilik”. Sebuah film yang mengangkat fenomena kearifan lokal masyarakat Jawa (dari tepa selira, ewuh pakewuh, pangerten, lembah manah, andhap asor, guyub rukun, grapyak semanak, dan gotong royong), biasanya terjadi di pedesaan, pada umumnya. Tilik adalah kebiasaan berbondong-bondong menengok tetangga sakit yang dirawat di rumah sakit, dengan bersama-sama urunan menyewa mobil untuk pergi bersama.

    Sutradara film ini berhasil mengacak-acak perasaan dan emosi penontonnya. Wahyu Agung Prasetyo, sutradara film ini, sukses membuat karya dengan skenario plot twist yang menaikkan adrenalin dan kemudian mencabiknya dalam hitungan detik saja diakhir cerita. Film ini menceritakan dengan sangat nyata tentang realita sosial yang sering kali muncul di masyarakat bahwa dalam sebuah kelompok sosial ada orang-orang yang berbagi peran sesuai kapasitasnya. Ada tukang kompor-yang memulai pembicaraan-, ada biang gosip-yang darinya muncul berbagai asumsi, persepsi dan narasi-, tak lupa peran waton suloyo, sok alim, blak-blakan, sampai pahlawan kesiangan-yang sering kadang blunder juga-. Dalam film ini, Bu Tejo (diperankan oleh Siti Fauziah) dimunculkan sebagai center of gravity untuk menunjukkan beberapa satir yang lekat dalam kehidupan kita sehari-hari.

    • Ghibah
      Atau disebut rasan-rasan dalam bahasa Jawa. Banyak orang senang melakukan hal satu ini. Biasanya yang menjadi bahan ghibah adalah isu-isu up to date tentu saja disertai bumbu penyedap layaknya micin dengan takaran yang lebih banyak  daripada faktanya. Perilaku julid, kepo, nyinyir berjamaah menjadikan gossip-
      digosok makin sip- ini menjadi semakin renyah dan menyenangkan jika dibawakan oleh sumber yang kredibel, baik secara intelektual ataupun sosial. Prinsip mana hadap juga diterapkan dalam penyampaiannya, tidak peduli waktu, tempat dan suasana. Asal ada umpan lezat, langsung saja disamber dengan cepat.
    • Internet
      Menurut kabar pesbuk, menurut sher-sheran wasap, menurut yutub. Ketiga hal ini seolah-olah telah menjadi rujukan utama sebuah kebenaran. Pesan moral yang ingin disampaikan film ini adalah sikap untuk selalu waspada dan melek terhadap informasi yang bersliweran dan tak jelas juntrungannya. Dengan kata lain, literasi informasinya harus baik supaya tidak menjadi hoaks.
    • Korupsi
      Penyuapan menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 1980 dinyatakan sebagai,tindakan “memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang
      menyangkut kepentingan umum”; juga “menerima sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum”. Salah satu adegan dalam film ini memberikan kritik sosial dengan menceritakan bagaimana korupsi level embyeh-embyeh yang jamak dan sering kali ditemui pada setiap perhelatan pemilihan umum kepala daerah dengan level terendah sampai tertinggi sekalipun.
    • Intimidasi
      Pungutan, pajak, retribusi, denda dan sejenisnya adalah hal yang sangat sulit untuk diikhlaskan bagi sebagian masyarakat. Diperlukan kebesaran hati untuk menerima kenyataan bahwa kita wajib membayar semua hal itu, atas tindakan dan atau kepemilikan kita. Hla sayangnya, beberapa orang melakukan tindakan dengan berbagai cara untuk menghindari kewajiban ini. Film Tilik bisa menggambarkan bagaimana ‘ganasnya’ Bu Tejo yang rela nyokot pak Polisi jika harus kena tilang. Dalam hal ini ancaman verbal dan non-verbal menjadi senjata ampuh.
    • Simplifikasi
      Menggampangkan. Penggunaan moda angkutan yang tidak pada peruntukannya. Yang menjadi hal unik dalam film ini adalah penggunaan truk sebagai moda transportasi. Kenapa pakai truk..? Sesederhana ya karena tidak ada mobil lain yang bisa ngangkut orang sebanyak itu, dan juga diceritakan bahwa semua bis sewaan full karena dadakan. Sering kali kita lihat dijalan bagaimana moda transportasi yang secara keamanan dan ijinnya melenceng. Misalnya mobil bak terbuka seperti truk atau pick-up bahkan sepur kelinci acap kali digunakan sebagai moda angkutan massa. Prinsipnya, sing penting guyub, dan tahu kabar dari sang sakit dengan mata
      kepala sendiri. Sekaligus piknik tipis-tipis.
    • Seksis
      Wanita di berbagai kalangan sering dilihat sebagai sosok yang mengutamakan 3B (Brain, Behavior and Beauty), akan tetapi B yang terakhir lah yang paling sering dijadikan referensi utama. Sampai Gotrek saja bilang kalau Dian yang maju nyalon lurah, pasti semua bapak-bapak milih dia. Pun demikian sesama perempuan, mengakui bahwa kecantikan Dian menjadi ancaman bagi pasangan mereka.
    • Gotong royong itu susah
      Ringan sama dijinjing, Berat sama dipikul. Mobil mogok silakan didorong sendiri. Tentu saja untuk sesuatu yang dirasakan bukan menjadi tupoksinya. Sekali lagi pada adegan ini Bu Tejo berhasil melengkapi diri sebagai tokoh antagonis yang paripurna. Disaat orang-orang sibuk mendorong truk yang mogok, Bu Tejo bersedekap dengan santai melenggang kangkung, tentu saja ditemani Bu Tri yang berperan sebagai tukang nambah-nambahi panas.

    Terlepas dari segala macam kontroversi yang muncul. Film pendek ini adalah cerminan dari kehidupan sehari-hari kita. Diperlukan pikiran terbuka dan lapang dada untuk mengkomentarinya. Setiap orang dan netizen yang budiman dan maha benar pun memiliki sudut pandang berdasarkan pengalaman dan pengatahuan yang berbeda

    Jadi bagaimana dengan kita..? Apakah kita sudah berhastha laku..?

     

    Penulis : Khresna Bayu Sangka

     

  • The Eight Values: Discovering the Unique Identity of Solo Youth

    The Eight Values: Discovering the Unique Identity of Solo Youth

    The history of Solo is closely entwined with the history of the Surakarta Sultanate, which followed the Mataram Sultanate. Solo is well-known as a centre of ancient Javanese culture because it has traditionally served as a political hub and centre for development of Javanese traditions. (more…)