IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN 2 Klaten: Wujud Nyata Komitmen Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman

Dalam upaya memperkuat komitmen terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan, SMAN 2 Klaten menggelar kegiatan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti dengan tema “Sosialisasi Penanggulangan dan Pencegahan Kekerasan pada Satuan Pendidikan”. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari implementasi kebijakan nasional tentang pencegahan kekerasan di satuan pendidikan, sekaligus menjadi langkah nyata sekolah dalam menciptakan budaya positif di lingkungan belajar. Narasumber dalam kegiatan ini adalah Ketua Solo Bersimfoni yang juga menjadi Fasilitator Nasional (Fasnas) Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si.
Kegiatan IHT ini terbagi menjadi dua sesi, yaitu sesi untuk siswa dan guru, dengan total peserta yang cukup besar. Pada sesi pertama, peserta terdiri atas 60 siswa, yang meliputi 19 siswa laki-laki dan 41 siswa perempuan. Sesi ini difokuskan pada peningkatan pemahaman siswa mengenai berbagai bentuk kekerasan di lingkungan sekolah, baik kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis, serta cara melaporkannya melalui mekanisme yang benar. Para siswa diajak untuk aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, dan menyusun komitmen bersama dalam menjaga lingkungan sekolah agar terbebas dari segala bentuk kekerasan.

Sesi kedua diikuti oleh 49 guru dan tenaga kependidikan, dengan komposisi 18 laki-laki dan 31 perempuan. Dalam sesi ini, para pendidik diberikan pembekalan mengenai langkah-langkah penanganan kasus kekerasan, termasuk sistem pelaporan internal, pendampingan psikologis, serta peran guru dalam menciptakan iklim sekolah yang aman. Guru diharapkan tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pelindung dan pembimbing bagi siswa yang mungkin mengalami kekerasan atau pelecehan dalam bentuk apa pun.
Tujuan utama kegiatan ini adalah membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan untuk melaporkan serta merespons kasus kekerasan, sekaligus mendorong partisipasi aktif seluruh komunitas sekolah dalam membangun budaya anti kekerasan. Melalui pelatihan ini, seluruh warga sekolah diharapkan memiliki kesadaran dan keberanian untuk bertindak ketika melihat atau mengalami kekerasan, serta saling mendukung dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif.

Plt. Kepala SMAN 2 Klaten, Dra. Eny Sulistiyawati, menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini dan berharap agar seluruh peserta dapat mengimplementasikan hasil pelatihan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
“Kami berharap melalui kegiatan IHT Sekolah Adipangastuti ini, seluruh warga sekolah semakin menyadari pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Kesadaran terhadap berbagai jenis kekerasan dan dampaknya harus ditingkatkan, agar tidak ada lagi ruang bagi kekerasan di sekolah kita,” ujar Kepala Sekolah dalam pesannya.

Kegiatan IHT ini menegaskan komitmen SMAN 2 Klaten dalam menjalankan perannya sebagai sekolah yang peduli terhadap keselamatan dan kesejahteraan seluruh warganya. Dengan kolaborasi antara guru, siswa, dan pihak sekolah, diharapkan tercipta budaya sekolah yang inklusif, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sesuai dengan nilai hasthalaku.
Melalui IHT Sekolah Adipangastuti, SMAN 2 Klaten tidak hanya memperkuat kapasitas warganya dalam menangani kasus kekerasan, tetapi juga meneguhkan diri sebagai pelopor dalam mewujudkan satuan pendidikan yang benar-benar aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.
