GOTONG ROYONG LAWAN CORONA

Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental

Sesuai amanat yang tertuang pada Perwali No. 49 tahun 2019 dengan tujuan membentuk karakter pemuda di kota Surakarta melalui Hasthalaku. Solo Bersimfoni bekerjasama dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia mengadakan kegiatan yang mengajak remaja milenial untuk menerapkan nilai-nilai Hasthalaku untuk mewujudkan Indonesia Bersatu. Hal ini sebagai langkah kongkrit upaya pemerintah dalam Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda serta keterlibatan masyarakat sipil. Program ini dinamakan Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Podcast Cuap Cuap Relasi, Seminar Karakter Hasthalaku dan Bedah Film Toleransi bertema Hasthalaku. Podcast Cuap Cuap Relasi (Remaja Toleransi) dilakukan Sembilan kali dengan masing-masing tema : Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Ewuh Pekewuh, Pangerten, Andhap Asor, Tepa Selira dan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Narasumber yang mengisi kegiatan ini adalah Dispora Kota Surakarta yaitu Kepala Kepemudaan, Nico Agus Putranto, dan Kasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan, Zufar Sasongko. Sedangkan Sahabat Simfoni, yang merupakan relawan serta kepanjangan tangan dari Solo Bersimfoni, juga menjadi narasumber kegiatan ini. Dalam Podcast bertema GNRM, perwakilan dari Kemenko PMK RI hadir yaitu Bayu Priyo Jatmiko. Sembilan podcast telah diupload pada YouTube Channel Solo Bersimfoni mulai tanggal 23 sampai dengan 30 November 2020. Seminar Karakter Hasthalaku dengan tema Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Remaja Milenial yang Bersumber dari Nilai Budaya Lokal secara daring telah terlaksana dengan lancar dan dihadiri oleh total 700 peserta baik dari zoom meeting maupun live streaming channel YouTube Solo Bersimfoni. Peserta merupakan siswa dan siswi Model Sekolah Adipangastuti yang sedang diterapkan pada lima sekolah di Soloraya yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong. Kegiatan ini dimulai dengan laporan kegiatan oleh M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni kepada Kemenko PMK RI melalui R. Alfredo Sani F selaku Asisten Deputi Revolusi Mental Kemenko PMK RI. Dalam kesempatan ini, Pak Alfredo juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini berada di bonus demografi, yaitu pemuda yang masuk usia produktif lebih banyak daripada yang masuk usia non produktif, sehingga kita perlu menyiapkan pemuda dengan membangun karakter hasthalaku yang sangat relevan di era sekarang. Narasumber kegiatan Seminar berjumlah empat orang yang merupakan pemerhati pemuda dan pemangku jabatan di Pemerintahan Kota Surakarta. Yang pertama adalah Waskito Widi Wardojo, S.S., M.A. yang merupakan dosen Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS memberikan materi dengan tema Internalisasi Nilai Nilai Karakter Hasthalaku. Kemudian yang kedua adalah Indradi AP, S.H., M.M selaku Kepala Kesbangpol Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Peran Organisasi pemuda dalam Pengembangan Karakter Hasthalaku Remaja Milenial. Yang ketiga adalah Dr. agus Setyo Utomo, S.E., M.Si., Ak. CA, C.Pa. yang merupakan aktifis pemuda dan Kepala Markas PMI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Merawat Persatuan dalam Semangat Kemanusiaan. Serta yang terakhir adalah Bambang Nugroho selaku Ketua KNPI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Semangat Pemuda dalam Mewujudkan Indonesia Bersatu. Pada kegiatan yang ketiga, yaitu Bedah Film Toleransi bertemakan Hasthalaku telah terlaksana dengan baik dan lancar pada hari Selasa tanggal 24 Desember 2020 di Graha Solo Raya pukul 13.00 – 15.00 WIB. Film yang diputar ada lima film yaitu Sepatu, Coba Peka, Second Change, Semanak dan Nggak Kenal Agama. Tiga film diantaranya adalah pemenang lomba pembuatan film pendek program Sekolah Adipangastuti tahun 2019 di SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 110 peserta dari OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Kota Surakarta. OKP yang hadir dari HIPMI, Suara Muda Solo, PRRBM, HMI, TAD, KNPI, PT HKTI, PMII, Banser, PMR Markas, JCI, IMM, IPNU, KAMMI, dan KTI. Sedangkan OPD yang hadir dari Bapppeda, Departemen Agama dan Kesbangpol Kota Surakarta. Kegiatan ini diawali oleh pesan dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII, Suyanta, S.Pd., M.Pd, agar seluruh peserta selalu melakukan protokol kesehatan untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19 di Soloraya. Beliau juga mengatakan bahwa sesuai pemuda, selain harus memiliki kemampuan berkompetisi juga harus memiliki karakter yang bagus agar dapat sukses di masa depan. Narasumber kegiatan Bedah Film ini ada tiga orang yaitu pemeran Film Semanak, Katira dan El Alimudin, serta sutradara Film Sepatu, Muhammad Anis. Tujuan umum kegiatan ini adalah untuk menanamkan karakter bangsa guna mewujudkan Indonesia Bersatu bersama Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui identitas budaya yang terdapat pada Perwali Nomor 49 Tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan yang disebut hasthalaku bagi remaja milenial di Kota Surakarta.       link berita: https://revolusimental.go.id/kabar-masyarakat/detail-suara-kita?url=pengembangan-karakter-remaja-milenial-di-kota-surakarta-tahun-2020-program-gerakan-nasional-revolusi-mental-kerjasama-solo-bersimfoni-dan-kemenko-pmk-r

Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental Read More »

Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya

Oleh: M Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni Social distancing sampai kapan? Anda terus mendengar orang-orang mengatakan social distancing atau jarak sosial, tetapi apa artinya itu? Jangan berharap itu menjadi istilah yang hilang dalam waktu dekat. Pikirkan itu lebih seperti physical distancing atau jarak fisik. Dalam bentuk yang paling sederhana, menjauhkan sosial, berarti menjaga jarak yang aman antara Anda dan orang-orang di sekitar Anda. WHO mengatakan ini adalah salah satu cara efektif yang membantu memperlambat penyebaran COVID-19 dan mengontrol kapasitas medis dan rumah sakit. Tidak percaya? coba pertimbangkan kasus ini, ketika virus H1N1 mulai menyebar di Meksiko, pemerintah menutup sekolah dan merekomendasikan jarak sosial. The National Institute of Health menyebutkan bahwa langkah-langkah ini bisa memotong tingkat penularan sebesar 37 persen dan membantu rumah sakit menangani volume pasien sedikit lebih mudah. Tidak meyakinkan?  ini contoh lain di Amerika, Kota St. Louis memberlakukan beberapa langkah jarak sosial pada tahun 1918 setelah Perang Dunia Pertama untuk mencegah penyebaran influenza (flu, keluarga virus yang berbeda dari COVID-19) yang menutup sekolah, gereja, dan teater, sama seperti yang kita lakukan sekarang. Tercatat 1700 orang meninggal karena flu di St. Louis. Sedangkan Philadelphia tidak memaksakan tindakan yang sama pada saat itu, dan jumlah korban meninggal mencapai 16.000 orang. Tim medis dan rumah sakit di Philadelpia pada saat itu melaporkan bahwa mereka tidak dapat menampung semua pasien. Nah, terkait pencegahan penularan COVID-19, beberapa kepala daerah mengambil preventif untuk mengatur warganya. Walikota Surakarta Fx Hadi Rudyatmo sendiri memperpanjang status Kejadian Luar Biasa (KLB) COVID-19 hingga 13 April 2020 mendatang. Bahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menetapkan status tanggap darurat bencana COVID-19 untuk provinsi Jawa Tengah hingga 29 Mei 2020. Artinya bahwa masih cukup lama masyarakat harus bersabar dan menahan diri tidak keluar rumah, mengontrol anak-anak tetap di rumah, membatasi pergerakan sosial semua orang, baik di tempat-tempat peribadatan, kegiatan hajatan, pertemuan komunitas dan sebagainya. Bahkan Kapolri telah memberikan larangan yang berdampak penghentian paksa kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang. Ini semua akan membantu membatasi penyebaran COVID-19 dan mengendalikan kapasitas medis dan rumah sakit dalam menangani pasien. Tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan penularan COVID-19 di Indonesia ini akan terkendali. Prof. Dr. Sutanto Sastraredja, DEA pakar matematika UNS dalam channel YouTube memberi pernyataan mengejutkan setelah melakukan simulasi menggunakan persamaan deferensial matematika berdasarkan kecepatan bertambahnya kasus COVID-19 di Indonesia selama ini. Menurutnya, COVID-19 diprediksi bisa hilang di Indonesia pada 10 Juni 2020 asalkan pemerintah mau melakukan karantina total atau lockdown, namun jika tidak, Indonesia bisa jatuh dalam fase di mana penyebaran COVID-19 sulit dikendalikan setelah 10 Juni 2020. Disamping itu, saat ini juga ada yang menggambarkan situasinya dimana Indonesia seperti mangkok raksasa yang di dalamnya terdapat banyak orang sehat yang terus bergerak dan mereka bercampur dengan orang terinfeksi COVID-19 dan hindden carrier yang belum sempat dikarantina. Akibatnya bisa saja prediksi dan simulasi matematis Prof Dr Sutanto akan terjadi.  Menjaga Kurva Landai Seperti diketahui, tenaga medis merupakan garda terdepan dalam penanganan COVID-19. Resiko besar sepanjang waktu berada di hadapan mereka. Semua pasien yang memeriksakan kesehatannya memiliki resiko menularkan, baik sebagai pasien terinfeksi maupun sebagai hidden carrier COVID-19. Mengutip akun instagram @ikatandokterindonesia, sampai saat ini diketahui 10 dokter telah meninggal di tengah pandemi yang melanda Indonesia. Beberapa karena terpapar, namun terdapat juga yang meninggal karena kelelahan dengan perjuangannya. Kondisi tenaga medis yang kewalahan dan alat perlindungan yang sangat kurang bukan rahasia lagi. Ini membuat para tenaga medis baik dokter, perawat, penyuluh, yang berada di garda terdepan berisiko terpapar COVID-19 dan membuat tenaga semakin terbatas. Dalam situasi seperti ini, kita berharap tim medis dan rumah sakit dalam kondisi tetap prima. Masyarakat ikut berpartisipasi menekan penularan COVID-19 dan tetap berada dalam kemampuan pengelolaan tim medis/rumah sakit. Perhatikan garis horizontal yang merupakan kapasitas rumah sakit dan tenaga medis, jika jumlah kasus melebihi kemampuan tenaga medis/rumah sakit, maka pasien akan bertebaran di luar sana. Nah, bayangkan jika pasien rumah sakit tidak terkendali, jumlahnya melebihi kapasitas tim medis dan rumah sakit, maka akan banyak di temukan pasien terlantar dan tidak diisolasi, mereka berada di luar sana, menularkan kepada orang yang sehat karena interaksi yang tidak terkontrol. Sistem layanan kesehatan memiliki kapasitas maksimal, seperti kapasitas ICU, kapasitas IGD, jumlah dokter, perawat dan tim medis lainnya. Terlihat pada berbagai pengalaman kasus di seluruh dunia, tanpa langkah-langkah pembatasan dan pengendalian, kasus positif yang memerlukan penanganan intensif dapat melebihi kapasitas sistem layanan kesehatan. Ketika sistem layanan kesehatan terbebani di luar kapasitas kondisi pasien akan memburuk dan dapat menyebabkan tingkat kematian naik. Keterlambatan melakukan langkah-langkah pembatasan dini juga dapat menurunkan kapasitas system layanan kesehatan. Hal ini terjadi saat para petugas kesehatan tidak dapat bekerja karena ikut tertular penyakit atau karena kelelahan.  Maka menjadi sangat penting untuk menahan kurva jumlah pasien terpapar agar tetap selandai mungkin. Semakin awal dan ketat pembatasan social distancing dilakukan maka kasus akan semakin terdistribusikan dan kurva semakin landai, sehingga tidak membuat lebih banyak orang gagal mendapatkan perawatan yang diperlukan. Dukung Mengamankan Kapasitas Medis Masyarakat tidak sulit berpartisipasi aktif memberikan dukungan kepada tim medis dan Rumah Sakit agar tetap bisa melandaikan kurva aman. Cukup tinggal di rumah dan ikuti anjuran pemerintah, social distancing/physical distancing, WFH, cuci tangan, makan makanan yang sehat, berjemur selama 15 menit pada jam 10.00 wib dan menjaga jarak sosial. Semudah itukah? Ternyata nggak mudah juga. Sebagian masyarakat kita bandel, tetap beraktifitas seperti biasa dan meremehkan situasi ini karena alasan jenuh dan bosan di rumah. Kita semua diminta untuk bersabar menghadapi situasi yang dianggap jenuh dan membosankan ini. Coba sedikit saya kasih gambaran kejadian nyata. Kisah 33 orang penambang yang terisolasi 700 m di bawah tanah selama 69 hari. Kisahnya difilmkan dan masih bisa ditonton gratis di channel youtube ada subtitle Indonesia dengan judul “The 33”. Saat runtuhnya tambang tembaga-emas San José dekat Copiapó, Chili, pada 5 Agustus 2010, praktis mengisolasi 33 pria di bawah tanah. Para penambang terjebak di kedalaman 700 meter (2300 ft) dan berjarak 5 kilometer (3 mil) dari pintu masuk tambang, mengikuti putaran dan belokan menuju pintu masuk tambang. Terisolasi di bawah tanah selama 69 hari, mereka berada dalam situasi yang benar-benar kritis, tidak memiliki sumber pangan yang cukup, tidak mempunyai akses, satu-satunya jalur telah tambang

Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya Read More »

Hasthalaku Di Rumah Aja

Tantangan terbesar bagi orang yang terbiasa beraktivitas di luar rumah seperti pekerja dan pelajar adalah harus berlama-lama di rumah. Tidak boleh keluar, interaksi fisik dan sosial yang dibatasi – hanya dengan lingkup terkecil kita. Keluarga. Hal yang lebih menantang adalah ketika harus bekerja atau menyelesaikan tugas berbarengan dengan momong anak, bersih-bersih rumah, atau berbagi laptop atau rebutan koneksi internet dengan kakak/adik. Jika tidak dikelola dengan baik, berdamai dengan keadaan dan menjaga kewarasan, bukan tidak mungkin manusia kembali menjadi homo homini lupus – manusia adalah mangsa manusia yang lain.   “Manusia itu adalah apa yang bersiapa dan siapa yang berapa”. Ke-siapa-an manusia diuraikan dalam rumusannya “manusia adalah makluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya”. […] manusia sebagai subjek atau persona yang sadar. Tanpa kesadaran manusia tidak mampu berhadapan dengan dirinya sendiri, apalagi menyadari berada dalam dunia” (Prof. Dr. N. Drijarkara, Percikan Filsafat, 1978).   Bukankah homo homini socius – manusia yang berguna bagi manusia yang lain sebagai makhluk sosial berkedudukan jauh lebih baik dimata semua agama, suku, dan golongan? Menjadikan manusia sebagai manusia sebagaimana adanya dalam tatanan Jawa disebut dengan nguwongke uwong. Budaya Jawa mengenal pepatah rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah yang berarti bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmonisasi antar sesama.   Hasthalaku merupakan generalisasi beberapa nilai budaya Jawa yang sangat erat dengan kehidupan saat ini. Demikian juga pada masa-masa berat ini. Pandemi COVID-19 dapat memberikan peluang bagi kita untuk belajar berbagai hal baru atau lama yang dapat dilakukan dari rumah dengan orang-orang terdekat kita. Memulai dari hal-hal kecil. Saling memahami peran anggota keluarga, membagi waktu antara pekerjaan kantor atau sekolah dengan pekerjaan rumah tangga. Memanfaatkan waktu untuk bercerita dan bercengkerama, lepas dari gawai yang menghubungkan dunia maya. Dan lain sebagainya.   Demikian juga kegiatan penggalangan dana (fundraising) secara online untuk membantu pengadaan alat pelindung diri (APD) misalnya, merupakan istilah modern yang menggunakan konsep gotong royong sebagai kristalisasi nilai hasthalaku. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia merupakan bentuk solidaritas sosial. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang didalamnya kaya akan nilai edukatif. Tak ayal, survey yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia merupakan sebuah keniscayaan. Urip Iku Urup (Hidup itu adalah nyala, manuisa hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitarnya)   Maka dari itu sangat penting untuk dapat tepa selira, saling menghargai serta memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah oleh adanya perbedaan-perbedaan, tidak termakan berita bohong atau hoaks. Dengan selalu mencari tahu kebenaran dan keabsahan berita sebelum kita sebar-luaskan kembali. Saring sebelum Sharing, karena Sharing is Caring.   Sikap saling menghargai, saling pengertian, saling sapa, saling bantu, dan saling menghormati seperti yang ada pada hasthalaku yang dimulai dari rumah ini, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dikembangkan dan dilaksanakan secara kontinyu kan membawa kerukunan, ketenangan, dan perdamaian dimulai dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Dengan kata lain, selama manusia hidup di dunia haruslah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan benci. Memayu hayuning bawana, ambrastha dur angkara.   Penulis: Khresna Bayu Sangka  

Hasthalaku Di Rumah Aja Read More »