Tag: sekolah adipangastuti

  • Wakil Duta Besar Australia Berkunjung ke Sekolah Adipangastuti

    Wakil Duta Besar Australia Berkunjung ke Sekolah Adipangastuti

    Pada hari Senin, 24 Oktober 2022 SMAN 1 Surakarta mendapatkan kunjungan dari Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bapak Steve Scott. Kunjungan ini dalam rangka melihat keberhasilan implementasi Sekolah Adipangastuti di SMAN 1 Surakarta. Dalam kegiatan ini hadir juga kepala sekolah dari model Sekolah Adipangastuti tahun 2019, 2020 dan 2021 yaitu SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 3 Sragen, SMAN 1 Gemolong, SMAN 2 Boyolali dan SMAN 1 Karanganyar.

    Dalam sambutannya, Kepala SMAN 1 Surakarta Bapak Yusmar Setyobudi mengatakan bahwa program Sekolah Adipangastuti telah mendukung pengembangan karakter siswa SMAN 1 Surakarta melalui hasthalaku. “Kami sangat berterima kasih kepada Solo Bersimfoni atas kerja samanya dalam pembentukan karakter siswa di sini.”, lanjutnya.

    Sekolah Adipangastuti

    Sekolah Adipangastuti

    Cerita implementasi Sekolah Adipangastuti di sekolah lain pun dibagikan oleh para kepala sekolah, guru serta siswa. Kepala SMAN 6 Surakarta, Bapak Munarso dan Kepala SMAN 2 Boyolali, Bapak Teguh Rahayu Slamet, menyampaikan apresiasi atas acara yang menjadikannya makin bersemangat dan terinspirasi untuk melaksanakan program Sekolah Adipangastuti selanjutnya. “Hasthalaku membentuk generasi muda untuk memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap keberagaman, mampu hidup bersama dengan damai bersama seluruh umat manusia”, kata Bapak Munarso. Sementara SMAN 2 Boyolali berencana menerapkan lanjutan program Sekolah Adipangastuti yang salah satunya mengusung topik anti radikalisme, dengan penyesuaian kegiatan OSIS dan anggaran sekolah.

    Sekolah Adipangastuti

    Kepala SMAN 1 Karanganyar, Ibu Suliyastuti merasakan manfaat yang besar dari program Sekolah Adipangastuti dalam hal penerapan nilai-nilai hasthalaku di kalangan warga sekolah sehingga berharap agar silaturahmi semakin erat dan kerja sama yang terjalin semakin kuat. Hal ini juga dikatakan oleh Kepala SMAN 1 Kartasura, Ibu Hastuti, “Sangat bagus Wakil Duta Besar Australia mengapresiasi pelaksanaan hasthalaku untuk pembentukan karakter peserta didik.”

    Kepala SMAN 3 Sragen, Bapak Sukarno, juga mengatakan bahwa beliau sangat berharap dapat selalu bekerja sama dengan Solo Bersimfoni dalam pengembangan karakter siswa. “Sekolah Adipangastuti sesuai dengan kurikulum merdeka P5 yang sedang dilakukan oleh SMAN 3 Sragen, oleh karena itu kami akan selalu menerapkan program Sekolah Adipangastuti di sekolah kami.” Sementara itu Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMAN 1 Gemolong, Bapak Arief Rahmawan menceritakan tentang rasa bangga dan senangnya bisa berjumpa dengan Wakil Duta Besar Australia. “Senang sekali bahwa cerita kami dapat didengar oleh Wakil Duta Besar Australia. Saya dapat menangkap pesan dan perhatian yang teramat besar tentang pendidikan dan kebudayaan, dari keseriusannya menyimak paparan dari teman-teman Solo Bersimfoni dan anak-anak SMAN 1 Surakarta,” paparnya.

    Olyvia Natasya Suryaningtyas, murid kelas XII MIPA 5, yang berkesempatan berbagi cerita mengatakan bahwa dia merasa bangga karena hasthalaku semakin dikenal apalagi melihat antusiasnya tim dari Kedutaan Australia tentang hasil langsung implementasi Sekolah Adipangastuti. Begitu pula dengan Noorman Adi, murid kelas X MIPA 3. “Saya senang berkesempatan bertemu dengan wakil duta besar Australia dan mengenalkan Sekolah Adipangastuti kepada beliau,” ujarnya.

    Sekolah Adipangastuti

    Sekolah Adipangastuti

    Dukungan dari Wakil Duta Besar Australia, Stephen Scott, terhadap pelaksanaan Sekolah Adipangastuti ini nampak dari kesan yang disampaikan, “Saya pikir itu fantastis. Kami sangat senang bermitra dengan Solo Bersimfoni untuk mempromosikan pesan perdamaian dan toleransi. Ini adalah pesan-pesan yang penting bagi semua siswa, baik mereka di Indonesia maupun di Australia.”

    Di akhir acara, Wakil Duta Besar Australia berkesempatan berkeliling lingkungan sekolah untuk melihat hasil langsung implementasi model Sekolah Adipangastuti. “Kami melihat mereka merangkul delapan nilai inti Adipangastuti yaitu hasthalaku, hal ini yang saya pikir akan membuat Indonesia tetap baik di masa depan. Nilai-nilai itulah yang akan membuat masyarakat ini menjadi masyarakat yang kuat dan inklusif, yang merangkul orang-orang dari semua lapisan masyarakat. Itulah yang akan membuat bangsa ini kuat dan maju seperti yang kita lihat Indonesia lakukan hari ini dan kami benar-benar senang memainkan peran yang sangat kecil di dalamnya.”

    Menariknya, semua Sekolah Adipangastuti mendapatkan satu tanda mata dari Wakil Duta Besar Australia, yaitu sebuah bola. Arief Rahmawan mengatakan “Saya bangga dan berterima kasih atas pemberian bola sebagai wujud tali asih kepada kami.”

     

    Penulis: Tia Brizantiana-Program Officer

  • Gubernur Jateng: Mengukuhan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri “Wanita Indonesia Wanita Tangguh”

    Gubernur Jateng: Mengukuhan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri “Wanita Indonesia Wanita Tangguh”

    Pengukuhan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri

    “Wanita Indonesia Wanita Tangguh”

    Kerjasama:

    Yayasan Gema Salam dan Solo Bersimfoni

     

    Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P telah mengukuhkan Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri pada hari Jumat tanggal 16 September 2022 di Hotel Grand Sae Surakarta. Pengukuhan ini juga dihadiri oleh Walikota Surakarta, Komandan Densus 88 AT Polri, Komandan Kodim 0735, Kapolres Kota Surakarta, Dinas Koperasi Provinsi Jawa Tengah, Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Surakarta, Kesbangpol Kota Surakarta, BAPAS Kota Surakarta, Dinas Sosial Kota Surakarta, Kapolsek Kecamatan Banjarsari, Ketua Kadin Solo dan Perkumpulan Solo Bersimfoni.

    Dalam sambutan dan arahannya, Gubernur Jawa Tengah mengatakan akan dukungannya terhadap terbentuknya koperasi ini, sebagai wujud pesan perdamaian dan gotong royong. Beliau juga mengatakan ucapan terima kasihnya kepada Ketua Solo bersimfoni atas bantuannya dalam pembentukan koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri.

    Koperasi Srikandi Gema Salam Mandiri merupakan koperasi yang dibentuk atas kerja sama antara Yayasan Gema Salam dan Perkumpulan Solo Bersimfoni. Koperasi ini beranggotakan istri-istri eks narapidana teroris (napiter) yang merupakan istri dari mitra Yayasan Gema Salam. Sesuai dengan taglinenya yaitu “Wanita Indonesia Wanita Tangguh”, pembentukan koperasi ini sebagai pemberdayaan perempuan bagi para istri dalam penguatan ekonomi khususnya kelembagaan usaha yaitu pembentukan koperasi bagi istri eks napiter di Provinsi Jawa Tengah. Kadensus 88 AT Polri, Irjen. Pol. Marthinus Hukom, S.I.K., M.Si., berkata, “Perempuan adalah dasar dari pendidikan anak, sehingga seorang ibu harus bisa berkembang.”

    Kegiatan tersebut menjadi salah satu strategi pendekatan reintegrasi eks napiter khususnya dari kalangan perempuan agar memiliki akses yang lebih luas terkait dengan pemasaran produk barang dan jasa yang dihasilkan dari keluarga eks napiter. Di samping itu, adanya kelembagaan koperasi menjadi wadah dan pintu masuk bagi berbagai peluang dan bantuan pihak-pihak terkait, baik Non-Goverment Organization (NGO) maupun pemerintah untuk membantu dan mempercepat pemulihan ekonomi dalam proses reintegrasi eks napiter di tengah-tengah masyarakat.

     

    Peserta Diklatkop berfoto bersama dengan pemateri 

    Sebelum pengukuhan, telah dilaksanakan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Perkoperasian (DIKLATKOP) bagi para pengurus dan anggota koperasi. Maksud dari kegiatan ini adalah meningkatkan wawasan dan keahlian tentang manajemen perkoperasian dan membentuk wadah kelembagaan koperasi bagi istri eks napiter di Provinsi Jawa Tengah serta memberikan akses pembiayaan dan pasar untuk produk barang/jasa yang dihasilkan keluarga eks napiter tersebut.

    Program ini merupakan implementasi dari kebijakan Pemerintah Republik Indonesia tentang Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang mengarah pada terorisme (Perpres Nomor 7 Tahun 2021) khususnya Pilar 1 yang terdiri dari pencegahan (Kesiap-siagaan, kontra radikalisasi dan deradikalisasi).

     

     

     

     

     

    Penulis: Tia Brizantiana-Program Officer Solo Bersimfoni

  • K-POP DAN EKSISTENSI BUDAYA JAWA

    K-POP DAN EKSISTENSI BUDAYA JAWA

    Di era digital saat ini banyak fenomena yang membuka mata kita bahwa ternyata Indonesia juga menjadi sorotan dunia. Remaja Indonesia yang menjadi pengguna aktif media sosial telah menjadi target market yang menjanjikan bagi pasar industri ekonomi kreatif negara-negara lain, tak terkecuali Korea.
    Berbicara tentang kontribusi masyarakat Indonesia sebagai konsumen industri hiburan Korea, rilis data dari Twitter Indonesia melaporkan bahwa percakapan dengan tema K-Pop telah mencapai 7,5 miliar tweet selama periode Juli 2020 hingga Juli 2021. Angka tersebut merupakan capaian rekor tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya Indonesia berada di posisi teratas sebagai negara dengan volume tweet dan jumlah unique authors terbanyak di Twitter yang memperbincangkan tentang K-Pop. Unique Authors merupakan akun-akun yang aktif mengamplifikasi kampanye melalui penggunaan tanda pagar (hashtag) bukan hanya audiens yang aktif membuat cuitan atau menyimak tema yang diperbincangkan di Twitter. Indonesia juga merupakan salah satu dari lima negara penyumbang tweet tertinggi di dunia tentang K-Pop diantara ke empat negara lain yaitu Filipina, Thailand, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Peluang ini dimanfaatkan banyak E-commerce dari Indonesia yang menggandeng para influencer dan artis K-Pop menjadi brand ambassador mereka. Para artis K-Pop dan influencer ini diharapkan dapat memberi pengaruh terhadap konsumen yang rata-rata berasal dari para milenial dan generasi Z atau para pecinta K-Pop (K-POPers).

    Salah satu fenomena yang kita temui di akhir Januari 2022 lalu saat jagad maya dihebohkan dengan kemunculan video berdurasi pendek yang memperlihatkan tiga orang personel boyband NCT yaitu Mark, Jaemin dan Jisung sedang menari. Melihat artis K-Pop menari tentunya bukanlah hal aneh, namun yang membuat netizen khususnya warga Indonesia merasa terkejut adalah lagu yang mengiringi tarian mereka bukanlah lagu Korea seperti biasa melainkan lagu dangdut asli Indonesia yang berbahasa Jawa. Ketiga personel NCT tersebut menirukan gerakan tarian atau koreografi yang beberapa waktu lalu menjadi tren para pengguna media sosial di Indonesia. Lagu berjudul berjudul “Mendung Tanpo Udan” yang dinyanyikan oleh Ndarboy Genk merupakan salah satu lagu dangdut berbahasa Jawa yang memang asyik dan enak didengar. Ndarboy Genk sendiri adalah sebuah proyek solo dari seorang musisi Yogyakarta bernama Helarius Daru Indrajaya. Sedangkan pencipta lagu tersebut adalah seorang seniman Bernama Kukuh Prasetya Kudamai. Deretan komentar seperti “NCT melokal!” mewarnai unggahan video tarian (dance) dari Boy Band Korea tersebut. Semula banyak orang mengira video tersebut adalah hasil editan. Namun netizen kaget sekaligus bangga karena video yang menggunakan latar lagu Indonesia tersebut diunggah di akun media sosial resmi NCT Dream. Tentunya momen dance cover Mendung Tanpo Udan oleh NCT ini adalah sebuah refleksi bagi kita akan besarnya potensi pengaruh budaya Jawa yang kita miliki di kancah dunia. Bahkan Korean wave yang dikenal secara global pun terinspirasi dengan budaya Jawa.

    Jika kita menilik perjalanan masa lalu yang dialami negara Korea dan Indonesia, keduanya memiliki latar belakang pembentukan budaya yang sangat berbeda. Banyak pondasi yang membentuk budaya Korea hingga menjadi seperti sekarang ini, salah satunya adalah pengalaman pahit Korea yang pernah dijajah oleh negara Jepang pada Perang Dunia II. Setelah Korea Selatan merdeka, maka mereka tidak mau menginfiltrasi budaya dari dua negara yang menghimpitnya yaitu Jepang dan Tiongkok. Mereka melakukan pendekatan yang sama sekali baru dengan membangun kebudayaan mereka sendiri dari nol. Berbeda dengan Korea, budaya Jawa telah terbentuk sejak zaman kerajaan, bahkan menjadi cikal bakal peradaban dunia. Manusia purba paling maju yaitu Homo Soloensis yang pertama kali menggunakan peralatan dan perkakas dari serpihan batu ditemukan di Jawa Tengah tepatnya di tepi Bengawan Solo, Sangiran dan Sragen. Selain itu di bidang Sastra, keraton Kasunanan Solo telah melahirkan pujangga besar Ronggowarsito yang hingga kini diwariskan kepada para penerusnya. Di bidang industri, Jawa Tengah juga menjadi pusatnya sejak zaman kolonial dengan berdirinya 296 pabrik gula besar yang beroperasi di wilayah tersebut..

    Aset peninggalan budaya yang telah diwariskan sejak zaman dahulu bukan hanya dalam bentuk fisik namun juga berupa budaya perilaku. Perilaku masyarakat Jawa yang sarat nilai karakter yang baik sebagai jati diri bangsa hendaknya terus dijaga dan dilekatkan kepada generasi muda melalui berbagai media. Salah satu upaya mengenalkan kembali budaya adiluhung Jawa dilakukan oleh organisasi Solo Bersimfoni. Organisasi yang digerakkan oleh para tokoh dan agen anak muda Solo ini mengangkat budaya Hasthalaku yaitu delapan sikap perilaku masyarakat Jawa yang terdiri dari Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Pangerten dan Tepa selira. Ke-8 perilaku yang menjadi budaya sejak zaman nenek moyang masyarakat Jawa ini masih sangat relevan untuk diimplementasikan di masa sekarang. Dengan Hasthalaku maka harmoni kebhinekaan dan persatuan antar budaya dapat diorkestrasikan menjadi sebuah simfoni yang selaras dan mengikuti dinamika perkembangan zaman. Di bidang Pendidikan pada kurikulum paradigma baru, salah satu unsur Hasthalaku yaitu Gotong royong menjadi bagian dari dimensi Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila sendiri merupakan perwujudan dari pelajar Indonesia yang memiliki semangat belajar sepanjang hayat, memiliki kompetensi global, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di mana terdapat enam dimensi komponennya antara lain beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Pemerintah melalui Kemdikbud juga telah memfasilitasi dengan berbagai program, salah satunya adalah program Belajar Bersama Maestro dimana para pelajar dapat bertatap muka dan belajar langsung dari para maestro seni dan budaya serta terlibat langsung dalam proses kreatif dan keseharian para seniman dan budayawan. Sehingga dalam proses tersebut para pelajar mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup yang berharga dan diharapkan mampu membentuk dan memperkuat jati diri pelajar sebagai penentu karakter bangsa di masa yang akan datang.

    Dengan melihat Kembali potensi yang dimiliki masyarakat Jawa dan kekayaan budaya yang dimilikinya, maka budaya Jawa akan tetap eksis bahkan dapat bersaing dengan negara-negara lainnya. Meskipun derasnya arus globalisasi seperti merebaknya budaya K-Pop atau Korean Wave tidak dapat kita bendung. Budaya luar akan menambah khasanah dan inspirasi kita dalam berkarya, namun pengetahuan dan ketrampilan global yang dimiliki para generasi muda akan tetap selaras dengan budayanya sebagai jati diri bangsa yang tidak akan tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi. Setiap tempat dapat menjadi pusat budaya. Budaya adalah ekosistem yang dapat menumbuhkan berbagai aspek kehidupan lainnya seperti ekonomi, politik dan sosial dengan baik. Kolaborasi dari berbagai unsur dapat saling mengisi sehingga menguatkan keberadaan budaya Jawa yang kita miliki. Pemerintah dengan kebijakannya, masyarakat khususnya generasi muda dengan kreatifitasnya dapat menunjukkan kecintaan pada budaya sendiri melalui berbagai platform media sosial sebagai katalisator yang menjembatani konektivitas dengan bangsa lain, sehingga budaya Jawa dapat dikenal dan bersaing secara global dan tak kalah eksis dengan budaya Korea.

    Penulis: Asri Pujihastuti, S.Pd. (Guru SMKN 7 Surakarta dan Sahabat Simfoni)

  • MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA

    MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA

    Pandemi yang kita hadapi saat ini telah membawa berbagai permasalahan pelik dalam dunia pendidikan. Siswa menjadi salah satu unsur dalam sistem pendidikan yang terdampak oleh pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan (daring). Banyaknya tugas yang menumpuk menjadikan mereka merasa stress dan kelelahan dalam mengejar deadline. Belum lagi tugas-tugas tersebut diberikan oleh banyak guru mapel dan harus diselesaikan dalam waktu yang singkat. Persoalan lainnya adalah kurangnya interaksi guru dan murid dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang membuat murid merasa jenuh serta tidak memiliki gairah dalam belajar. Ini tentu menjadi sebuah hal yang kontradiktif ketika saat ini program merdeka belajar tengah menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan kita. Di mana konsep merdeka belajar adalah agar murid merasa bahagia dalam menempuh pendidikan. Namun kenyataannya justru murid merasa terbelenggu dengan proses belajar itu sendiri.

    Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 13-20 April 2020 lalu, dari 1.700 responden sebanyak 77,8% memiliki kesulitan berupa tugas yang menumpuk. Sedangkan 37,1% responden mengeluhkan tugas dari guru dengan waktu pengerjaan yang sempit sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan. Responden tersebut merupakan gabungan siswa dari jenjang TK sampai SMA/sederajat yang tersebar di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota di Indonesia. Responden sebesar 79,9% mengatakan bahwa interaksi murid dan guru sangatlah minim. Interaksi dalam PJJ hanya berlangsung saat guru memberikan dan menagih tugas saja. Sedangkan 87,2% murid menyatakan bentuk interaksi yang paling sering dilakukan adalah melalui percakapan via aplikasi online chat yang masih kurang efektif sebagai sarana komunikasi antara guru dan murid. Tentu bisa dibayangkan bagaimana tekanan yang dirasakan oleh murid untuk menyelesaikan tugas yang sangat banyak. Mereka seharusnya dapat menyerap ilmu yang diberikan guru dengan optimal tetapi justru kehabisan waktu dan energi hanya untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum tentu mereka pahami.

    Sebagai seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saya sendiri merasakan problem tersebut. Kondisi yang saya amati dalam proses belajar mengajar di sekolah pada umumnya belum mencerminkan apa yang menjadi tujuan konsep belajar Kurikulum Paradigma Baru, yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid. Guru seharusnya dapat memberikan keleluasaan kepada murid untuk belajar dengan menyenangkan tanpa tekanan. Penggunaan Learning Management System (LMS) yang kurang optimal tidak bisa memberikan ruang terjadinya interaksi dua arah antara guru dan murid. Kebanyakan guru hanya mengunggah materi dan tugas di platform Google Classroom yang harus diselesaikan oleh murid secara mandiri. Sebagian besar guru tidak memberikan kesempatan siswa untuk berkonsultasi terkait tugas mereka ketika mengalami kendala. Beberapa murid bahkan mencari jalan pintas dengan menyalin pekerjaan temannya, namun tidak memahami materi yang diajarkan. Banyak murid kesusahan karena tugas yang menumpuk. Guru pun tak kalah susah dengan pelaporan jurnal dan administrasi yang cukup merepotkan. Pada akhirnya yang terjadi adalah proses pembelajaran yang hanya sekedar menjadi sebuah aktivitas untuk menggugurkan kewajiban, tetapi kurang bermakna.

    Pembelajaran daring sampai saat ini masih dijalani oleh guru dan murid meskipun Pembelajaran tatap Muka (PTM) sebagian sudah mulai dilakukan. Guru dituntut agar lebih kreatif dalam mengelola kelas, melakukan inovasi dan mengembangkan metode mengajar sehingga kelas lebih interaktif. Proses pembelajaran hendaknya dikondisikan agar membuat siswa lebih terlibat secara penuh. Tatap maya dengan memanfaatkan aplikasi seperti Google Meet dan Zoom dapat dilakukan untuk mewadahi siswa dalam menyampaikan ide-idenya. Fitur Share Screen dalam aplikasi video conference dapat dioptimalkan untuk memberi kesempatan pada siswa dalam menyampaikan paparan materi secara menarik menggunakan bahasanya sendiri. Aplikasi yang mendukung pembelajaran secara visual seperti Canva juga bisa menjadi pilihan dalam membuat presentasi yang menarik sehingga pembelajaran di kelas berlangsung seru dan asyik.

    Murid perlu diberi kesempatan untuk mengekspresikan bagaimana suasana hatinya pada saat pembelajaran dan memberi umpan balik kepada guru. Ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi papan tulis virtual seperti mentimeter, padlet atau jamboard. Selain menjalin komunikasi dua arah, kegiatan menyenangkan semacam ini juga penting sebagai refleksi dan evaluasi guru dalam menjalankan tugas mengajarnya. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru. Guru hanyalah fasilitator dan pelayan murid yang menunjukkan sikap among, serta mendengar apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan muridnya. Jika diibaratkan sebuah gambar, maka para murid ini memiliki garis-garis tipis yang harus ditebalkan oleh guru dengan memberikan penguatan dan bimbingan dalam proses belajar.

    Sudah saatnya seorang guru mampu menjalankan perannya sebagai pendidik untuk memberikan  pembelajaran yang bermakna. Guru hendaknya bisa membuat para murid menikmati dan mencintai proses belajar dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Sumber daya yang ada dapat dioptimalkan dalam berinovasi. Guru hendaknya terus melakukan refleksi dan evaluasi diri. Hal ini penting bagi perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Perlu disadari bahwa murid merupakan individu dengan karakter yang unik dan potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mereka juga memiliki kebutuhan yang beragam karena berangkat dari berbagai latar belakang. Pembelajaran yang menyenangkan akan membuat kelas maya dipenuhi dengan senyum dari wajah-wajah ceria seperti yang kita dambakan. Merdeka belajar bukan hanya sekedar angan-angan,  namun dapat kita wujudkan dengan melakukan perubahan.

     

    Penulis : Asri Pujihastuti,S.Pd.
    Sahabat Simfoni dan Guru SMKN 7 Surakarta

    Pernah dimuat di Koran Solo
    Tanggal : Sabtu, 7 Desember 2021

  • LAUNCHING ONLINE IMPLEMENTASI  MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI TAHUN 2021

    LAUNCHING ONLINE IMPLEMENTASI MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI TAHUN 2021

    Jumat, 30 Juli 2021 Solo Bersimfoni melaksanakan kegiatan Launching Online Implementasi Model Sekolah Adipangastuti Tahap III Tahun 2021. Acara ini  dilaksanakan selama satu jam, mulai pukul 13.00-14.00 WIB melalui Zoom Cloud Meeting. Acara dihadiri oleh Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Bapak Eris Yunianto, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jateng, Bapak Nasikin, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Jateng, Bapak Sunarno dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jateng, Bapak Suratno, Perwakilan Komisi E DPRD Jawa Tengah, Muhammad Zein, Tim Ahli DPRD Provinsi Jawa Tengah, Bapak Huntal Hutapea, Kepala Kesbangpol Kota Surakarta, Bapak Indradi, Kepala Bidang Sosial, Budaya dan Pemerintahan BAPPPEDA Kota Surakarta, Ibu Sumilir Wijayanti serta sekolah adipangastuti tahap pertama, kedua dan ketiga.

    Model Sekolah Adipangastuti adalah sekolah toleransi berbasis budaya yang sudah diterapkan selama dua tahap yaitu tahun 2019 dan tahun 2020. Pada tahun 2019, ada dua sekolah pilot project implementasi yaitu SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Yang kemudian pada tahun 2020 dikembangkan ke lima sekolah dengan lingkup Soloraya yaitu di SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen. Selanjutnya, pada tahun 2021 dilaksanakan tahap III implementasi model sekolah di SMAN 1 Karanganyar dan SMAN 2 Boyolali yang akan dijalankan selama 6 bulan sejak  Juli-Desember 2021. Program dan luaran pada masing-masing sekolah akan disesuaikan dengan kebijakan masing-masing sekolah.

    Pada tahap III ini, Solo Bersimfoni bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, dalam hal ini melalui Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah V Provinsi Jawa Tengah, Nasikin, S.Stp.,M.Kom. dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VI, Drs Sunarno, M.Pd. yang telah memberikan dukungan penuh dengan mengeluarkan surat rekomendasi untuk penerapan Sekolah Adipangastuti di masing-masing sekolah naungannya.

    Model Sekolah Adipangastuti berisi mengenai program progam untuk mengajarkan pendidikan karakter hasthalaku dengan target ada tiga, yaitu Literasi dan Digitalisasi dengan cara budaya literasi tema hasthalaku dikemas sedemikian rupa agar remaja milenial sekolah SMA/SMK model adipangastuti tertarik untuk membangun tema-tema kebaikan yang dapat didistribusikan secara digital, misalnya video, film, blog, content creator, novel, komik dan sebagainya. Yang kedua adalah branding sekolah dengan nilai hasthalaku. Kegiatan branding hasthalaku di sekolah diharapkan menghasilkan tampilan fisik sekolah yang mengkampanyekan nilai-nilai hasthalaku. Berupa poster, leaflet, mading, hiasan sekolah, tagline, dan sebagainya. Kemudian adalah peningkatan kapasitas media sosial sekolah. Penguatan platform digital seperti Website sekolah, pengelolaan sosial media sekolah seperti Youtube, FB, IG, Twitter, dan sebagainya.

                Acara ini dimulai dengan laporan kegiatan oleh M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni yang kemudian sambutan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V, VI dan VII Provinsi Jawa Tengah dan diakhiri dengan pembukaan Program Sekolah Adipangastuti Tahap III Tahun 2021 oleh Bapak Eris Yunianto. Beliau mengatakan, “Saya sangat mengapresiasi Solo Bersimfoni yang telah tergerak dan bergerak dalam membumikan nilai-nilai kearifan lokal hasthalaku kepada pelajar SMA di wilayah Soloraya berbasis teknologi informasi”.

    Tujuan Kegiatan Launching Online Implementasi Model Sekolah Adipangstuti Tahun 2021 ini sebagai kick off dilaksanakannya implementasi Sekolah Adipangastuti Tahap III di SMAN 1 Karanganyar dan SMAN 2 Boyolali, yang telah berkomitmen dengan adanya persetujuan MoU yang telah disepakati bersama antara Solo Bersimfoni dan masing-masing sekolah. Yang mana mereka akan kreatif dan inovatif berkomitmen mengembangkan nilai-nilai budaya lokal Hasthalaku selama enam bulan. Yang terakhir untuk mendorong  penerapan nilai-nilai budaya lokal hasthalaku sebagai upaya pembangunan toleransi, perdamaian dan keberagaman.

     

    Penulis: Tia Brizantiana

  • MENGAPA ORANG INDONESIA SUKA INTERNET?

    MENGAPA ORANG INDONESIA SUKA INTERNET?

    Pertama, internet menyampaikan informasi dengan sangat cepat. Kedua, internet membuat semua orang saling terhubung, mendekatkan yang jauh tanpa batas negara dan waktu. Ketiga, biaya internet relatif murah. Kesiapan Indonesia atas hadirnya perkembangan internet salah satunya ditandai dengan peluncuran Program Indonesia Makin Cakap Digital 2021 yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, serta perwakilan Pimpinan Daerah di seluruh Indonesia pada 20 Mei 2021di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta.

    Berdasarkan We Are Social terdapat 175,4 juta pengguna internet di Indonesia pada 2020 dan terhitung per Januari 2021 terdapat 202,6 juta pengguna internet. Artinya pada saat kamu membaca tulisan ini, pengguna internet di Indonesia akan terus mengalami lompatan tinggi. Internet tidak bisa lepas dari kehadiran media sosial yang sangat digandrungi oleh masyarakat. Terbukti dengan adanya 170 juta pengguna sosial media di Indonesia per Januari 2021. Bagaimana dengan jumlah pengguna media sosial tahun 2022 nanti? Kalian pasti bisa membayangkannya.

    Perkembangan internet dan media sosial juga tak luput dari warganet yang mempunyai dua sisi. Bicara soal kekuatan warganet Indonesia tentu kita semua sudah paham betul berbagai fenomena pelanggaran di internet dan media sosial hingga akhirnya dalam Digital Civility Index (DCI), warganet Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara sebagai pengguna media sosial yang paling tidak sopan di wilayah tersebut[1] sepanjang 2020.

    Penelitian tersebut membuktikan bahwa etika bermedia sosial perlu dipegang teguh oleh setiap masyarakat terutama para netizen Indonesia saat berseluncur di internet. Internet sangat bermanfaat jika digunakan secara positif dan maksimal. Memang benar apa yang ditawarkan oleh Internet salah satunya adalah kebebasan tapi bukan tak ada batasnya. Siapa yang membatasi? Ya kita sendiri sebagai penggunanya dengan menggunakan etika dalam bermedia sosial.

    Kita coba ingat lagi ke belakang, pada saat tim Indonesia dipaksa mundur dari All England 2021 yang kemudian disusul dengan serbuan netizen Indonesia ke akun media sosial BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia). Ada lagi peristiwa saat Dewa Kipas menang melawan GothamChess pada pertandingan catur online di platform Chess.com, yang menyebabkan fans dari Gothamchess tidak terima dan ditanggapi dengan serbuan komentar jahat dari warganet Indonesia di akun media sosial Gothamchess. Dua kasus tersebut menjadikan pemakluman bahwa netizen Indonesia masuk urutan terbawah. Berbagai contoh di atas membuktikan bahwa akses informasi yang sangat cepat tidak diimbangi dengan literasi digital. Berita yang diterima langsung ditelan mentah-mentah tanpa disaring terlebih dahulu.

    Saat berselancar di internet, kita harus menerapkan nilai hasthalaku seperti pangerten dengan memberikan komentar yang baik pada postingan orang lain, sehingga juga akan mendapatkan respon baik dari pemilik konten. Dengan memilih kata-kata yang baik, maka nilai guyub rukun akan selalu terjaga. Selain itu, nilai lembah manah juga harus diterapkan untuk membuat orang lain nyaman. Contohnya dengan menghindari membuat kegaduhan dengan orang lain di media sosial. Jika berbeda pendapat dengan orang lain di media sosial, hendaknya menyelesaikan dengan baik dan sebaiknya tidak dalam forum yang bisa dibaca publik. Marilah bergotong royong menyebarkan konten positif seperti donasi, bukan malah gotong royong yang bikin emosi. Etika, tata krama dan sopan santun di dunia nyata semestinya juga berlaku di dunia maya meskipun hal itu tidak tertulis.

     

    Penulis : Burhanudin Fajri

    [1] https://indonesiabaik.id/infografis/benarkah-netizen-indonesia-paling-tak-sopan-se-asia

  • Ada Hasthalaku dalam Film You and I

    Ada Hasthalaku dalam Film You and I

    Apakah kalian sudah menonton Film You and I garapan sutradara Fanny Chotimah dan diproduseri oleh KawanKawan Media? Kalau sudah, mari kita tersenyum mengenang Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. Jika belum, mari menonton di Bioskop Online*. Cukup dengan sepuluh ribu rupiah, kita bisa merasakan bagaimana rasa saling cinta yang ada pada kedua sahabat tersebut bercampur dengan rasa haru,  membuncah dan meninggalkan rasa menyenangkan setelah menonton film ini. Hangat sampai ke hati.

    Film You and I berhasil menyabet berbagai penghargaan, diantaranya Asian Perspective Award dari 12th DMZ International Documentary Film Festival, Official Selection di Asian Vision dari Singapore International Film Festival 2020 dan Next:Wave Award di CPH:DOX International Film Festival di Denmark 2021. Selain itu di dalam negeri film ini memenangkan Film Dokumenter Panjang Terbaik dari Festival Flm Indonesia 2020 dan Piala Maya 9.

    Film dokumenter berdurasi 72 menit ini bercerita tentang kisah Kusdalini dan Kaminah di masa tua. Pemeran utamanya adalah mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Awal mula diceritakan bagaimana mereka bertemu yang kemudian menjadi sahabat tak terpisahkan sampai maut menjemput.

     

    Diceritakan saat masih belia, mereka bertemu di penjara pada tahun 1965 sebagai tahanan politik. Ketika Kusdalini keluar dari penjara tahun 1967, setiap hari dia mengunjungi Kaminah meski sempat ditakut-takuti oleh petugas penjara. Kaminah keluar dari penjara pada tahun 1972. Saat dia keluar, keluarga menolaknya. Apa yang kemudian terjadi padanya?

    Berlokasi di Solo, proses pengambilan video memakan waktu cukup lama, yaitu empat tahun dari 2016 sampai 2020. Fanny Chotimah mengatakan, “Awalnya kami tidak langsung melakukan take video, setiap hari saya dan tim ke rumah mereka hanya untuk mengobrol agar suasana menjadi menyenangkan.” Sungguh suatu pangerten yang luar biasa, bukan?

    Kalau diperhatikan, banyak nilai hasthalaku yang ada dalam film ini. Bagaimana guyub rukun mereka tampak dari dialog “We only have each other” yang sangat mendebarkan hati. Tetangga sekitar mereka pun selalu bergotong royong membantu setiap ada kesulitan, seperti saat mengganti atap rumah maupun mengantar ke Rumah Sakit saat Mbah Kus menurun kesehatannya dan harus dirawat inap.

    Bagaimana pangerten yang ada pada keduanya, untuk selalu menemani dalam suka dan duka. Bagaimana teman-teman mereka tetap grapyak semanak bersilaturahmi setiap bulan, meski sudah tak muda lagi. Orang-orang ini sungguh bisa disebut sebagai agen hasthalaku. Tak hanya sebagai teori tetapi juga praktek nyata sehari-hari.

    Hasthalaku adalah nilai budaya baik yang sewajarnya diterapkan dalam keseharian semua orang diusia berapapun. Jika Mbah Kam dan Mbah Kus saja bisa, anak muda tentunya harus bisa.

     

    Selamat menghabiskan waktu berdua dengan bahagia di atas sana, Mbah Kam dan Mbah Kus.

    Dengan penuh cinta,

    Solo Bersimfoni

     

    Penulis : Tia Brizantiana

  • Mengusung Literasi dan Digitalisasi Hasthalaku,  M Farid Sunarto Solo Bersimfoni menjadi Local Champion KemKominfo RI 2021

    Mengusung Literasi dan Digitalisasi Hasthalaku, M Farid Sunarto Solo Bersimfoni menjadi Local Champion KemKominfo RI 2021

    Selasa, 18 Mei 2021, M Farid Sunarto bersama tim Solo Bersimfoni mengadakan audiensi dengan Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, di Balaikota Surakarta.  Farid melaporkan kesiapannya menjadi salah satu Local Champion diantara dua puluh Local Champion terpilih oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (Kominfo RI) terkait “Indonesia Makin Cakap Digital 2021”. Pada Kamis, 20 Mei 2021 Farid akan memperoleh penghargaan dari Menteri Kominfo RI di hadapan Presiden RI Ir H. Joko Widodo di Gelora Bung Karno, Jakarta.

    Pencapaian M. Farid Sunarto memperoleh penghargaan Local Champion Indonesia Makin Cakap Digital 2021 lantaran bersama Solo Bersimfoni telah menarasikan toleransi dan perdamaian bagi remaja Generasi Z  dengan menggunakan budaya lokal Solo yang dinamakan hasthalaku. Hasthalaku terdiri dari gotong royong, grapyak semanak, guyub rukun, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor dan tepa selira.

     

    Ketua Solo Bersimfoni memberikan kenang-kenangan berupa kaos Hasthalaku kepada Walikota Surakarta Gibran Rakabuming

    Dalam mengkampanyekan hasthalaku, Solo Bersimfoni melakukan beberapa hal. Pertama mencetak lebih dari seratus relawan yang disebut sebagai Sahabat Simfoni melalui Training of Trainers (ToT). Sahabat Simfoni kemudian berkembang dan membentuk Agen Simfoni Bersatu (ASB). Yang kedua, Solo Bersimfoni melakukan advokasi regulasi kepemudaan di Kota Surakarta dengan memasukkan hasthalaku pada pasal 11 Perwali No.49/2019 Kota Surakarta tentang Penyadaran, Pengembangan dan Pemberdayaan Kepemudaan sebagai salah satu ciri pemuda Kota Surakarta. Disamping itu Solo Bersimfoni turut mengadvokasi regulasi provinsi dengan keluarnya Perda Provinsi Jawa Tengah No. 4/2021 tentang pembangunan dan pengembangan kepemudaan. Kemudian yang ketiga, Solo Bersimfoni menciptakan Model Sekolah Adipangstuti, sebuah model sekolah yang dimasukkan ke sekolah formal dengan menerapkan program berbasis hasthalaku. Tahun 2020 Solo Bersimfoni telah mengimplementasikan Model Sekolah Adipangastuti di wilayah Soloraya yaitu : di SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 1 Gemolong dan SMAN 3 Sragen. Pada tahun 2021, model sekolah ini akan diterapkan di SMAN 2 Boyolali dan SMAN 1 Karanganyar. Strategi Model Sekolah Adipangastuti adalah pada literasi dan digitalisasi yang kreatif dan inovatif. Untuk melacak jejak digital program tersebut, dapat menggunakan keyword google : hasthalaku, adipangastuti dan solo bersimfoni.

     

    Apa yang Solo Bersimfoni lakukan sesuai dengan tujuan dari kegiatan Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital 2021”. Penerapan hasthalaku sebaiknya juga dilakukan dalam daring selain luring. Hasthalaku dalam ber-Media Sosial bisa disebut sebagai penerapan literasi digital yang baik. Pentingnya literasi digital kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama anak muda, menjadi urgensi sebagai peningkatan kemampuan kognitif SDM agar ketrampilannya tidak sebatas mengoperasikan gawai.

    Sementara itu, bersamaan dengan kegiatan Indonesia Makin Cakap Digital 2021 di Jakarta, ada dua kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu Peluncuran Kegiatan Literasi Digital di 514 kabupaten/kota dan juga Kelas Cakap Digital secara luring yang dilakukan di dua puluh kota terpilih sebagai kota satelit yang telah mencapai indeks literasi digital antara 3,00-4,02, yaitu Jakarta Pusat, Tangerang Selatan, Kota Bandung, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Kupang, Aceh, Belitung, Batam, Padang, Palembang, Pontianak, palangkaraya, Palu, Kendari, Gorontalo, Ambon dan Jayapura.

    Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Kamis-Jumat, 20-21 Mei 2021. Dengan target lima puluh peserta luring pada masing-masing kota dan 514.000 peserta daring, harapannya dapat menjadi amunisi untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi transformasi digital pada era revolusi industri saat ini. Kegiatan Literasi Digital di 514 Kabupaten/Kota di Indonesia akan dilakukan dari Mei sampai dengan Desember 2021 dengan target 12,5 juta masyarakat Indonesia akan terpapar literasi digital.

    Sementara itu, salah satu kegiatan  Kementerian Kominfo di Surakarta dilaksanakan tanggal 20 dan 21 Mei 2021 di Alila Hotel Solo, dilaksanakan Pelatihan Kelas Digital Marketing yang diikuti tiga puluh peserta, untuk menguasai dasar konten marketing dan digital marketing, tip and trik e-commerce, dan cara membuat website eksis.

     

    Penulis: Tia Brizantiana

  • Legowo, Sebuah Karya Tentang Menerima

    Legowo, Sebuah Karya Tentang Menerima

    film Legowo

    Solo Bersimfoni bekerja sama dengan Teater Brastomolo membuat karya film pendek yang berjudul “Legowo”. Karya ini ditayangkan pada acara Jateng Edu Fest yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation pada Rabu, 21 April 2021. Berlangsung secara online, Jateng Edu Fest dihadiri oleh Nadiem Makariem, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah serta Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation.


    Sekolah Adipangastuti tak hanya hadir sebagai undangan, tetapi juga diberi kesempatan untuk melakukan pertunjukan dan diwakilkan oleh SMAN 1 Gemolong dengan pemutaran film pendek. Karya ini disutradarai oleh Alif Aji Ramadhana yang merupakan Ketua Teater Brastomolo sekaligus penulis naskah. “Skenario kami kerjakan bersama, tetapi memang saya yang banyak memberikan masukan dan gambaran tentang bagaimana film ini ingin disampaikan kepada penonton,” kata Alif.


    Film Legowo bercerita tentang bagaimana stigma menempel pada seorang anak karena sikapnya bermasalah di sekolah. Yang tidak dipahami banyak orang, bahwa anak tersebut mempunyai latar belakang yang cukup sulit untuk ukuran seusianya. “Film ini ingin menyampaikan jangan menilai seseorang dari penampilannya saja”, lanjut Alif.


    Ada dua tokoh pemain yang menonjol dalam film ini, yaitu Subhi (diperankan oleh Dzaky Subhi) dan Bu Yuli (diperankan oleh Grissa Yulianingrum). Keduanya sudah terbiasa melakukan pentas teater, bahkan Dzaky sudah pernah bermain dalam film pendek sebelumnya. Meskipun waktu cukup singkat, reading naskah tetap dilakukan untuk menghayati peran antar pemain. Dzaky bercerita “Reading dilakukan selama empat hari, cukup singkat jika dibandingkan persiapan pentas teater”. Grissa pun mengatakan bahwa bermain film adalah salah satu cita-citanya, “Senang sekali akhirnya bisa tercapai karena Solo Bersimfoni”.


    Teater Brastomolo adalah salah satu ekstra kurikuler (ekskul) di SMAN 1 Gemolong Sragen yang sudah banyak mengeluarkan karya, baik internal sekolah sampai nasional. Ekskul yang sudah terbentuk sejak tahun 2001 ini bahkan sudah beberapa kali mendapatkan juara. Pada Maret 2020, mereka memperoleh dua penghargaan sekaligus, yaitu juara pertama monolog tingkat SMA se-Indonesia dalam ARTEFAC UNS dan juara kedua monolog dalam Lomba FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) se-Jawa Tengah. Sebelumnya, pada Februari 2020 mereka mendapatkan tiga kemenangan sekaligus yaitu juara kedua, artis terbaik dan penata artistik terbaik dalam FDRR (Festival Drama Realis Remaja) se-Soloraya di UNISRI.


    Beranggotakan kurang lebih 65 siswa dari SMAN 1 Gemolong, Teater Brastomolo tak hanya menjadi ekskul sekolah tetapi juga sebagai proses belajar berorganisasi bagi anggotanya. Brastomolo berasal dari dua kata yaitu brasto (melawan) dan molo (keburukan) yang berarti melawan keburukan atau hal yang negatif. Dalam hal ini membersihkan diri melalui budaya. Semua anggotanya belajar, berproses dan berkarya lewat budaya. “Anggota teater belajar mulai dari satu fase ke fase lain, semua berproses dan pasti ada manfaat dari tiap prosesnya” kata Ismail, Wakil Ketua II Teater Brastomolo.


    Sejak pandemi, kegiatan dari teater menjadi sangat terbatas, tidak ada pentas produksi yang dipertunjukkan secara langsung. Kegiatan ini diganti dengan pembuatan video teater yang diunggah di akun YouTube Teater Brastomolo. Selain itu, pelantikan dan serah terima jabatan pengurus tahun 2020/2021 pun harus dilakukan secara luring terbatas dan daring. Sebelumnya, kegiatan ini menjadi ajang temu kangen antara alumni dan anggota. “Kita harus mencari pengalaman bukan pengalaman yang mencari kita, contohnya kerja sama dengan Solo Bersimfoni ini,” lanjut Ismail.


    Lomba yang biasanya diikuti pun hampir semua tidak dilaksanakan sampai catur wulan pertama tahun 2021 ini, sehingga pengurus berencana melakukan kegiatan untuk anggota baru pada pertengahan tahun 2021. “Kegiatan ini dilakukan agar anggota yang belum pernah mengikuti lomba dapat terlatih fisik dan mentalnya untuk keberlanjutan organisasi Teater Brastomolo,” ujar Raffi, Wakil Ketua I Teater Brastomolo. Apalagi anggota baru biasanya melatih mental dan fisik melalui berbagai lomba dan juga diklat yang mana mereka menampilkan pentas produksi. “Biasanya dalam pentas pada diklat akan dipilih aktris dan aktor terbaik, tetapi untuk tahun ini tidak ada,” lanjut Raffi.


    Salah satu alasan anggota ingin menjadi bagian dari Teater Brastomolo adalah supaya bisa mengikuti pentas produksi, bisa mendapatkan pengalaman di masa remaja dan juga belajar berorganisasi. “Dalam teater itu nggak ada yang nggak bisa, tetapi belum bisa,” kata Ismail.


    Pembuatan Film Legowo merupakan program keberlanjutan Sekolah Adipangastuti. Meskipun program di sekolah sudah selesai per Desember 2020, hubungan baik antara Solo Bersimfoni dan SMAN 1 Gemolong melalui Teater Brastomolo tetap terjalin dengan baik di dalam dan di luar sekolah. “Senang sekali dengan adanya Sekolah Adipangastuti bisa bikin film Legowo,” ujar Subhi. Harapannya, akan ada lagi kolaborasi dan kerja sama antara SMAN 1 Gemolong, baik melalui Teater Brastomolo maupun ekskul lainnya sebagai salah satu cara mengapresiasi karya anak muda.


    “Stigma. Sebuah penghakiman kepada seseorang tanpa pembelaan diri. Apakah kita semua akan semudah itu melekatkan stigma negatif kepada seseorang hanya karena dia berbeda dengan kebanyakan orang? Apakah menilai seseorang dari luarnya adalah suatu hal yang bisa diwajarkan? Memberikan stigma sama dengan memberikan hukuman tanpa banding.” Legowo – 2021

     

    #SalamBudaya

    #SalamToleransi

    #MariKitaBersimfoni

    Penulis : Tia Brizantiana

  • “KONTRIBUSI REMAJA MILENIAL untuk PENGUATAN KEBANGSAAN  melalui PENERAPAN NILAI-NILAI HASTHALAKU”

    “KONTRIBUSI REMAJA MILENIAL untuk PENGUATAN KEBANGSAAN melalui PENERAPAN NILAI-NILAI HASTHALAKU”

    Webinar Wisuda Program Sekolah Adipangastuti

    Kamis, 17 Desember 2020

    Pada tanggal 17 Desember 2020, Solo Bersimfoni menyelenggarakan wisuda Program Sekolah Adipangastuti secara daring dengan tema “Kontribusi Remaja Milenial untuk Penguatan Kebangsaan melalui Penerapan Nilai-Nilai Hasthalaku”. Adipangastuti adalah model sekolah toleransi berbasis budaya yang sudah diterapkan selama dua tahap yaitu tahun 2019 dan 2020 dan di tahap ini telah dilakukan selama bulan Juli-Desember 2020. Bapak Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. hadir sebagai pembicara dalam kegiatan ini sekaligus untuk mengukuhkan lima sekolah percontohan di Solo Raya sebagai Sekolah Adipangastuti.

    Kegiatan diikuti oleh sekiranya 1466 guru dan siswa dari sekolah percontohan Adipangastuti periode 2019 di Kota Solo yaitu SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta serta tiga sekolah tambahan di periode 2020 di Solo Raya yaitu SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen. Turut hadir Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VI Provinsi Jawa Tengah, Suratno, S.Pd., M.Pd., dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII, Suyanta, S.Pd., M.Pd. yang telah memberikan dukungan penuh sejak awal penerapan model Sekolah Adipangastuti serta para relawan Sahabat Simfoni yang selama ini mendampingi implementasi program-program Sekolah Adipangastuti.

     

    Bapak Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. hadir sebagai pembicara.

    Dalam pengantarnya Ketua Solo Bersimfoni M. Farid Sunarto menyebutkan bahwa model Sekolah Adipangastuti berisi pendidikan karakter hasthalaku[1] dengan budaya literasi yang dikemas secara menarik bagi remaja milenial. Tema-tema kebaikan kemudian didistribusikan secara digital lewat video, film, blog, konten, podcast, novel, komik dan lainnya. Tak kalah penting adalah branding sekolah untuk mengkampanyekan nilai-nilai hasthalaku melalui poster, leaflet, majalah dinding, hiasan sekolah dan tagline karya guru serta siswa. Peningkatan kapasitas media sosial serta penguatan platform digital juga dilakukan sehingga website dan media sosial sekolah seperti Youtube, FB, IG, Twitter dapat menyuarakan nilai-nilai hasthalaku. “Apalagi terjadinya pandemi Covid-19 telah memaksa siswa dan guru untuk lebih melek digital maka nilai-nilai hasthalaku menjadi sangat penting untuk dipahami dan dilakukan oleh generasi muda agar tercipta toleransi, perdamaian, dan menghargai keberagaman di mana saja termasuk di dunia maya,” kata Farid.

     

    Dalam kegiatan Bapak Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. ini sekaligus mengukuhkan lima model Sekolah Adipangastuti

    Bapak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan materi menarik berkaitan dengan tantangan berat yang dihadapi generasi muda di era disruptif ini. “Kita harus terbiasa untuk menerima perbedaan sejak dini,” ucapnya sambil menceritakan pentingnya tata krama dalam bermedia sosial dan rasa tanggung jawab ketika menyebarkan sebuah informasi. “Jika hasthalaku dapat benar-benar diterapkan di setiap sekolah saya yakin tidak akan ada lagi perundungan dan permusuhan,” tambahnya.

     

    Antusiasme para peserta Webinar Wisuda Program Sekolah Adipangastuti

    Webinar ditutup dengan pengukuhan lima sekolah percontohan menjadi Sekolah Adipangastuti oleh Bapak Gubernur. “Nilai-nilai hasthalaku harus ditularkan kepada sekolah-sekolah di wilayah lain, dan itu hanya bisa dilakukan apabila konsepnya dipahami serta diinternalisasi oleh setiap warga sekolah Adipangastuti sehingga akhirnya menjadi budaya yang terbukti baik dan bisa dicontoh.”

    Program Sekolah Adipangastuti yang terselenggara atas dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice 2 (AIPJ2) ini direncanakan untuk dua sekolah baru di lingkup Solo Raya pada tahun 2021. Harapannya, program ini juga bisa diterapkan pada sekolah lain di Jawa Tengah.

     

    Ditulis oleh: Tia Brizantiana

    [1] Pendekatan budaya dan perilaku yang dikembangkan Solo Bersimfoni menjadikan aspek budaya Jawa (Solo) menjadi instrumen utama dan sebuah model untuk mengubah perilaku intoleran menjadi perilaku yang toleran dan cinta damai. (https://solobersimfoni.org/?page_id=415)