Solo Bersimfoni

Keberagaman Adalah KehendakNya

Negara harus hadir untuk memberikan rasa tenteram, Negara harus hadir untuk membangun kerukunan, Negara harus hadir untuk membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (Ustad Dian Nafi – Pemimpin Ponpes Al Muayyad Surakarta) Sudah sebulan yang lalu, tepatnya Sabtu tanggal 8 Agustus 2020, warga Solo merasakan keresahan akibat terjadinya tindakan intoleransi kepada salah satu warganya yang sedang melakukan hajatan. Pelaku dan rombongannya beranggapan bahwa empunya hajatan melakukan perbuatan yang dilarang agama dan tidak sesuai dengan ajaran agama, bahkan dianggap sesat. Pemberitaan di media online Kumparan (08/08/2020) menjelaskan bahwa sekelompok massa mendatangi lokasi korban dan memaksa tuan rumah untuk membubarkan acara keluarga tersebut. Sejumlah mobil dirusak, tiga orang terluka akibat pukulan massa dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Miris, mereka melakukan penyerangan sembari meneriakkan takbir dan kalimat yang mengancam nyawa sesama dengan dalih agama. Ironisnya, kejadian ini tidak bisa dihentikan oleh pihak kepolisian. Keluarga yang melakukan hajatan midodareni pun harus membubarkan diri. Multikulturalisme di Kota Solo dengan banyaknya suku dan ras yang tinggal di sana menjadikannya khas dan unik, namun masih sering dijumpai tindakan intoleransi seperti kejadian di atas. Peristiwa ini menambah catatan buruk tindakan intoleransi di Indonesia, khususnya Solo, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan Hasthalaku. Keberagaman Adalah Anugerah Ustad Dian Nafi, pemimpin Ponpes Al Muayyad Surakarta sekaligus penggiat toleransi di Kota Solo beranggapan bahwa peristiwa itu merupakan tindakan intoleran, kekerasan dan penistaan kepada hak sesama warga negara. Baginya, kejadian tersebut merupakan tindakan yang tidak disertai dengan pengetahuan yang cukup alias tindakan yang bodoh, oleh karenanya harus dihentikan. Salah satu cara menjadi warga yang baik adalah taat kepada hukum dengan cara yang berkeluhuran dan berkeadilan. “Solo haruslah kita anggap sebagai anugerah Allah. Maka bersyukurlah kita menjadi bagian dari kota Solo, berterima kasihlah kepada Allah dan juga kepada para pendahulu yang memperjuangkan Kota Solo Ini menjadi kota yang baik kita tinggali,” ujar Ustad Dian. Kepala Kesbangpol Solo, Indradi, mengatakan bahwa kejadian tersebut tidak seharusnya terjadi.  “Masyarakat diharapkan mengecek dahulu kebenaran sebuah cerita yang beredar dan memicu keresahan. Sehingga bila ada perbedaan pendapat dan pandangan dapat diselesaikan dengan cara yang baik dan bijak, dengan mengedepankan musyawarah mufakat dan menghargai hukum yang berlaku.” Beliau juga berharap seluruh pihak bersama dengan pemerintah untuk selalu menjaga kondisi damai di wilayah Kota Solo. Ustad Dian berpesan agar kita semua dapat bersyukur, “Kita berharap anak muda dan masyarakat Solo tidak mudah terpancing emosi dan terutama dapat menjadi penerus yang baik dan menyebarkan kebaikan di masyarakat.” Kebersamaan dalam Keberagaman Ustad Dian juga menambahkan bahwa kita semua harus belajar mengenai keberagaman, “Kita sering menganggap sesuatu ada sebagaimana ia ada dan tidak menjadikannya menjadi bahan pelajaran. Apa saja yang ada dan berbeda perlu untuk kita pelajari.” Beliau juga mengatakan tentang pentingnya silaturahmi, saling belajar saling mengetahui, yang bertujuan membangun pemahaman dalam keberagaman. Masyarakat Kota Solo diharapkan untuk membiasakan diri berpikir jernih, selalu menggunakan akal dan nurani dalam bertindak. Apalagi sebagai warga masyarakat yang sama-sama memiliki hak untuk hidup secara damai dan rukun di Kota Surakarta seharusnya saling menjaga tepa selira. Jangan sampai tindakan intoleransi yang terjadi menjadikan warganya tidak krasan tinggal di Solo karena dirasa tidak bisa mengembangkan diri serta menggali sumber daya untuk kesejahteraan bagi diri sendiri dan sekitar. Keberagaman adalah kehendak-Nya. Tidak dapat kita pungkiri adanya fakta bahwa keberagaman adalah nyata dan merupakan bagian dari takdir-Nya. Sebagai manusia yang baik dan berakal budi, tentu sebaiknya kita dapat menerima perbedaan dengan lapang dada. Menghormati perbedaan dengan bersikap hasthalaku yaitu pangerten dan tepa selira menjadikan guyub rukun terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Kebersamaan dalam persamaan merupakan hal yang biasa, sebaliknya kebersamaan dalam keberagaman merupakan hal yang perlu kita pupuk bersama-sama. Melihat fakta di atas, Solo Bersimfoni tentu saja mengecam segala tindakan intoleransi yang terjadi khususnya di Kota Solo. Sebagai organisasi yang bergerak dalam isu toleransi, rasanya sangat menyesakkan ketika mendengar salah satu warga Kota Solo mengalami tindakan intoleransi. Kami akan terus mendukung pihak kepolisian dalam mengusut dan menghukum para pelaku sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku di Negara Indonesia. Kami juga meminta pemerintah daerah di Soloraya untuk memberikan jaminan perlindungan kepada masyarakat minoritas agar dapat berkegiatan dengan aman dan damai serta mengajak tokoh pemuda, organisasi masyarakat sipil, dan tokoh lintas agama di Soloraya untuk saling berpegangan tangan dalam menjaga dan menggaungkan toleransi di Soloraya agar keharmonisan dalam keberagaman selalu terjaga dan tidak ada peristiwa seperti ini lagi. Marilah kita bersama-sama menyebarkan kebaikan dan mengedukasi diri sendiri serta lingkungan agar tidak mudah terpancing dengan berita atau informasi yang belum tentu benar dan jelas asal mulanya. Serta selalu menjaga silaturahmi agar Soloraya menjadi kota yang senantiasa aman dan damai.   Penulis : Tia Brizantiana

Keberagaman Adalah KehendakNya Read More »

SEGO BERKAT, HASTALAKU DAN GAYA HIDUP YANG TERTUKAR

Sego Berkat, Hasthalaku dan Gaya Hidup Yang Tertukar

Sejak pandemi, ada satu fenomena yang merebak di masyarakat yaitu banyaknya orang berbondong-bondong menapaki dunia perniagaan. Dari sekian banyak produk yang ditawarkan  di grup whatsapp saya, salah satu yang saya temui adalah Sego Berkat, kuliner khas Wonogiri yang terdiri dari nasi beserta uborampe-nya yaitu beberapa iris daging sapi, oseng tempe, sambel goreng kentang dan taoge. Makanan ndeso ini mampu menyita perhatian para pecinta kuliner, karena rasa dan aroma nasi (sego) yang khas dibalut daun jati sebagai pembungkusnya. Kuliner klasik nan filosofis ini tiba-tiba menjadi menu hits yang banyak ditawarkan oleh para pedagang baik online maupun offline. Menu ini mampu menembus semua segmen dan lapisan masyarakat, tidak ada sekat sosial yang menjadi penghalang bagi sego berkat untuk mendarat cantik di lidah para pecinta kuliner tradisional. Di daerah saya Wonogiri, sego berkat kerap disajikan ketika ada hajatan di sebuah kampung. Nasi berkat dikirimkan oleh tuan rumah atau orang yang punya hajatan (gawe) kepada tamu dan kanca gawe, yaitu para tetangga dan handai taulan yang membantu (rewang) selama hajatan berlangsung. Rewang adalah istilah untuk kegiatan bantu-membantu antar tetangga kepada yang sedang menyelenggarakan acara hajatan, suatu budaya gotong-royong masyarakat yang sangat kental di daerah pedesaan. Mereka bahu-membahu mencurahkan tenaga dan waktunya demi sang tetangga yang sedang punya gawe. Bukan hanya untuk satu dua hari, hajatan seperti ini bahkan bisa berlangsung selama satu minggu sebelum resepsi diadakan. Mereka memulai pekerjaan dengan menampi beras, mengumpulkan kayu bakar, membuat pagar serta pekerjaan lain untuk mempersiapkan acara spesial si tetangga agar hajatan berjalan dengan lancar. Sego berkat juga mengandung filosofi yang melekat kuat dalam akar budaya masyarakat desa, khususnya Wonogiri. Dalam sebungkus sego berkat tertanam pesan untuk saling berbagi rizki dan bersedekah. Sego berkat juga mengandung simbol solidaritas antar warga yang merupakan implementasi dari nilai-nilai hasthalaku. Hasthalaku adalah delapan tingkah laku yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Jawa.  Sikap ini meliputi : Tepa Selira, Lembah Manah, Andhap Ashor, Grapyak Semanak, Gotong Royong, Guyub Rukun, Ewuh pekewuh dan Pangerten. Sego berkat mampu memecah kebuntuan komunikasi masyarakat yang terpisah oleh perbedaan kasta dan jurang status sosial. Namun kini di desa-desa, sego berkat tak lagi bisa kita temui saat ada hajatan. Si empunya hajat lebih memilih kertas minyak atau tempat nasi dari plastik sebagai alat mengemas makanan yang akan dikirim ke tetangga dan saudara. Selain sulit didapat, daun jati yang dulunya menjadi pembungkus sego berkat kini dinilai kurang praktis dan estetis. Mereka juga merasa seolah tak ketinggalan dengan kemajuan jaman karena menggunakan jenis pembungkus yang baru. Hal ini saya ketahui ketika terlibat perbincangan dengan beberapa warga pada saat saya ikut rewang. Sebaliknya saat ini banyak masyarakat urban justru sedang gencar mengkonsumsi dan memakai produk tradisional sebagai sebuah gaya hidup. Penggunaan atribut bernuansa tradisional juga dipandang sebagai tren. Bukan hanya sego berkat, contoh produk lain yang sering saya temui adalah berbagai makanan olahan dari thiwul (sejenis makanan khas Wonogiri berbahan tepung singkong). Thiwul kini marak ditawarkan oleh produsen makanan, dengan polesan yang lebih modern seperti pilihan varian rasa dan warna yang beraneka rupa. Mereka berusaha mengangkat martabat thiwul yang dikenal sebagai makanan wong ndesa menjadi primadona dalam dunia kuliner. Begitu juga dengan penggunaan pakaian tradisional seperti lurik dan motif jumputan yang saat ini sangat populer bahkan dijadikan sebagai bagian dari seragam kantor. Di masa sekarang ini mengangkat unsur kearifan lokal dipandang sebagai sebuah bentuk gaya hidup yang memiliki nilai tersendiri. Sama halnya dengan perilaku hype yang sering kita temui di masyarakat kelas tertentu yang menggunakan perabotan atau alat-alat penunjang aktivitas sehari-hari yang diklaim eco friendly (ramah lingkungan). Berbeda dengan masyarakat kota berbondong-bondong menerapkan gaya hidup dengan mengangkat unsur kearifan lokal, sebaliknya masyarakat desa kini justru mulai meninggalkan budaya klasik yang dulu menjadi cita rasa khas dan mewarnai kehidupan sosial mereka. Mereka mulai mengganti kebiasaan hidup yang berbau tradisional menjadi lebih modern. Tak bisa dipungkiri arus informasi yang deras dari media sosial telah banyak mengubah gaya hidup masyarakat desa mulai dari fashion, kuliner, hingga tempat nongkrong yang ngehitz. Dari pembicaraan saya melalui telepon dengan salah satu saudara di Wonogiri, saya baru tahu ternyata sekarang  di desa-desa banyak orang yang memiliki usaha jastip (jasa titip). Orang-orang yang sering bepergian ke kota menawarkan jasa untuk membelikan makanan atau barang yang tidak bisa didapatkan di daerah mereka. Dengan tambahan sekian rupiah-biasanya tergantung harga barang yang dititip beli dan jarak lokasi pembelian- sebagai biaya jastip, para pengguna jasa ini sudah bisa mendapatkan barang-barang yang diinginkannya. Sebut saja donat J’Co, burger McD, pempek Nyonya Kamto atau pakaian bermerk terkenal yang hanya ditemui di pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Perubahan gaya hidup masyarakat desa yang beralih menjadi kekota-kotaan ini telah menggerus sedikit demi sedikit budaya lokal yang dulunya begitu kental. Pertukaran gaya hidup antara masyarakat desa dan kota adalah sebuah gejala perilaku sosial yang unik sebagai akibat dari keinginan manusia untuk menjadi bagian kemajuan zaman. Dari sego berkat dan pertukaran gaya hidup ini kita bisa berefleksi bahwa jaman boleh maju, peradaban boleh berubah, namun nilai-nilai Hastalaku tak boleh luntur dari kepribadian kita sebagai bangsa yang berbudaya.       Penulis : Asri Pujihastuti, S.Pd. Sahabat Simfoni dan Guru SMKN 7 Surakarta

Sego Berkat, Hasthalaku dan Gaya Hidup Yang Tertukar Read More »

Belajar Dari Tilik : Gotong Royong Itu Susah

Banyak hal menarik, paling tidak dari sudut pandang saya, atas viralnya film pendek “Tilik”. Sebuah film yang mengangkat fenomena kearifan lokal masyarakat Jawa (dari tepa selira, ewuh pakewuh, pangerten, lembah manah, andhap asor, guyub rukun, grapyak semanak, dan gotong royong), biasanya terjadi di pedesaan, pada umumnya. Tilik adalah kebiasaan berbondong-bondong menengok tetangga sakit yang dirawat di rumah sakit, dengan bersama-sama urunan menyewa mobil untuk pergi bersama. Sutradara film ini berhasil mengacak-acak perasaan dan emosi penontonnya. Wahyu Agung Prasetyo, sutradara film ini, sukses membuat karya dengan skenario plot twist yang menaikkan adrenalin dan kemudian mencabiknya dalam hitungan detik saja diakhir cerita. Film ini menceritakan dengan sangat nyata tentang realita sosial yang sering kali muncul di masyarakat bahwa dalam sebuah kelompok sosial ada orang-orang yang berbagi peran sesuai kapasitasnya. Ada tukang kompor-yang memulai pembicaraan-, ada biang gosip-yang darinya muncul berbagai asumsi, persepsi dan narasi-, tak lupa peran waton suloyo, sok alim, blak-blakan, sampai pahlawan kesiangan-yang sering kadang blunder juga-. Dalam film ini, Bu Tejo (diperankan oleh Siti Fauziah) dimunculkan sebagai center of gravity untuk menunjukkan beberapa satir yang lekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Ghibah Atau disebut rasan-rasan dalam bahasa Jawa. Banyak orang senang melakukan hal satu ini. Biasanya yang menjadi bahan ghibah adalah isu-isu up to date tentu saja disertai bumbu penyedap layaknya micin dengan takaran yang lebih banyak  daripada faktanya. Perilaku julid, kepo, nyinyir berjamaah menjadikan gossip- digosok makin sip- ini menjadi semakin renyah dan menyenangkan jika dibawakan oleh sumber yang kredibel, baik secara intelektual ataupun sosial. Prinsip mana hadap juga diterapkan dalam penyampaiannya, tidak peduli waktu, tempat dan suasana. Asal ada umpan lezat, langsung saja disamber dengan cepat. Internet Menurut kabar pesbuk, menurut sher-sheran wasap, menurut yutub. Ketiga hal ini seolah-olah telah menjadi rujukan utama sebuah kebenaran. Pesan moral yang ingin disampaikan film ini adalah sikap untuk selalu waspada dan melek terhadap informasi yang bersliweran dan tak jelas juntrungannya. Dengan kata lain, literasi informasinya harus baik supaya tidak menjadi hoaks. Korupsi Penyuapan menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 1980 dinyatakan sebagai,tindakan “memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum”; juga “menerima sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum”. Salah satu adegan dalam film ini memberikan kritik sosial dengan menceritakan bagaimana korupsi level embyeh-embyeh yang jamak dan sering kali ditemui pada setiap perhelatan pemilihan umum kepala daerah dengan level terendah sampai tertinggi sekalipun. Intimidasi Pungutan, pajak, retribusi, denda dan sejenisnya adalah hal yang sangat sulit untuk diikhlaskan bagi sebagian masyarakat. Diperlukan kebesaran hati untuk menerima kenyataan bahwa kita wajib membayar semua hal itu, atas tindakan dan atau kepemilikan kita. Hla sayangnya, beberapa orang melakukan tindakan dengan berbagai cara untuk menghindari kewajiban ini. Film Tilik bisa menggambarkan bagaimana ‘ganasnya’ Bu Tejo yang rela nyokot pak Polisi jika harus kena tilang. Dalam hal ini ancaman verbal dan non-verbal menjadi senjata ampuh. Simplifikasi Menggampangkan. Penggunaan moda angkutan yang tidak pada peruntukannya. Yang menjadi hal unik dalam film ini adalah penggunaan truk sebagai moda transportasi. Kenapa pakai truk..? Sesederhana ya karena tidak ada mobil lain yang bisa ngangkut orang sebanyak itu, dan juga diceritakan bahwa semua bis sewaan full karena dadakan. Sering kali kita lihat dijalan bagaimana moda transportasi yang secara keamanan dan ijinnya melenceng. Misalnya mobil bak terbuka seperti truk atau pick-up bahkan sepur kelinci acap kali digunakan sebagai moda angkutan massa. Prinsipnya, sing penting guyub, dan tahu kabar dari sang sakit dengan mata kepala sendiri. Sekaligus piknik tipis-tipis. Seksis Wanita di berbagai kalangan sering dilihat sebagai sosok yang mengutamakan 3B (Brain, Behavior and Beauty), akan tetapi B yang terakhir lah yang paling sering dijadikan referensi utama. Sampai Gotrek saja bilang kalau Dian yang maju nyalon lurah, pasti semua bapak-bapak milih dia. Pun demikian sesama perempuan, mengakui bahwa kecantikan Dian menjadi ancaman bagi pasangan mereka. Gotong royong itu susah Ringan sama dijinjing, Berat sama dipikul. Mobil mogok silakan didorong sendiri. Tentu saja untuk sesuatu yang dirasakan bukan menjadi tupoksinya. Sekali lagi pada adegan ini Bu Tejo berhasil melengkapi diri sebagai tokoh antagonis yang paripurna. Disaat orang-orang sibuk mendorong truk yang mogok, Bu Tejo bersedekap dengan santai melenggang kangkung, tentu saja ditemani Bu Tri yang berperan sebagai tukang nambah-nambahi panas. Terlepas dari segala macam kontroversi yang muncul. Film pendek ini adalah cerminan dari kehidupan sehari-hari kita. Diperlukan pikiran terbuka dan lapang dada untuk mengkomentarinya. Setiap orang dan netizen yang budiman dan maha benar pun memiliki sudut pandang berdasarkan pengalaman dan pengatahuan yang berbeda Jadi bagaimana dengan kita..? Apakah kita sudah berhastha laku..?   Penulis : Khresna Bayu Sangka  

Belajar Dari Tilik : Gotong Royong Itu Susah Read More »

Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya

Oleh: M Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni Social distancing sampai kapan? Anda terus mendengar orang-orang mengatakan social distancing atau jarak sosial, tetapi apa artinya itu? Jangan berharap itu menjadi istilah yang hilang dalam waktu dekat. Pikirkan itu lebih seperti physical distancing atau jarak fisik. Dalam bentuk yang paling sederhana, menjauhkan sosial, berarti menjaga jarak yang aman antara Anda dan orang-orang di sekitar Anda. WHO mengatakan ini adalah salah satu cara efektif yang membantu memperlambat penyebaran COVID-19 dan mengontrol kapasitas medis dan rumah sakit. Tidak percaya? coba pertimbangkan kasus ini, ketika virus H1N1 mulai menyebar di Meksiko, pemerintah menutup sekolah dan merekomendasikan jarak sosial. The National Institute of Health menyebutkan bahwa langkah-langkah ini bisa memotong tingkat penularan sebesar 37 persen dan membantu rumah sakit menangani volume pasien sedikit lebih mudah. Tidak meyakinkan?  ini contoh lain di Amerika, Kota St. Louis memberlakukan beberapa langkah jarak sosial pada tahun 1918 setelah Perang Dunia Pertama untuk mencegah penyebaran influenza (flu, keluarga virus yang berbeda dari COVID-19) yang menutup sekolah, gereja, dan teater, sama seperti yang kita lakukan sekarang. Tercatat 1700 orang meninggal karena flu di St. Louis. Sedangkan Philadelphia tidak memaksakan tindakan yang sama pada saat itu, dan jumlah korban meninggal mencapai 16.000 orang. Tim medis dan rumah sakit di Philadelpia pada saat itu melaporkan bahwa mereka tidak dapat menampung semua pasien. Nah, terkait pencegahan penularan COVID-19, beberapa kepala daerah mengambil preventif untuk mengatur warganya. Walikota Surakarta Fx Hadi Rudyatmo sendiri memperpanjang status Kejadian Luar Biasa (KLB) COVID-19 hingga 13 April 2020 mendatang. Bahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menetapkan status tanggap darurat bencana COVID-19 untuk provinsi Jawa Tengah hingga 29 Mei 2020. Artinya bahwa masih cukup lama masyarakat harus bersabar dan menahan diri tidak keluar rumah, mengontrol anak-anak tetap di rumah, membatasi pergerakan sosial semua orang, baik di tempat-tempat peribadatan, kegiatan hajatan, pertemuan komunitas dan sebagainya. Bahkan Kapolri telah memberikan larangan yang berdampak penghentian paksa kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang. Ini semua akan membantu membatasi penyebaran COVID-19 dan mengendalikan kapasitas medis dan rumah sakit dalam menangani pasien. Tidak ada yang bisa menjamin sampai kapan penularan COVID-19 di Indonesia ini akan terkendali. Prof. Dr. Sutanto Sastraredja, DEA pakar matematika UNS dalam channel YouTube memberi pernyataan mengejutkan setelah melakukan simulasi menggunakan persamaan deferensial matematika berdasarkan kecepatan bertambahnya kasus COVID-19 di Indonesia selama ini. Menurutnya, COVID-19 diprediksi bisa hilang di Indonesia pada 10 Juni 2020 asalkan pemerintah mau melakukan karantina total atau lockdown, namun jika tidak, Indonesia bisa jatuh dalam fase di mana penyebaran COVID-19 sulit dikendalikan setelah 10 Juni 2020. Disamping itu, saat ini juga ada yang menggambarkan situasinya dimana Indonesia seperti mangkok raksasa yang di dalamnya terdapat banyak orang sehat yang terus bergerak dan mereka bercampur dengan orang terinfeksi COVID-19 dan hindden carrier yang belum sempat dikarantina. Akibatnya bisa saja prediksi dan simulasi matematis Prof Dr Sutanto akan terjadi.  Menjaga Kurva Landai Seperti diketahui, tenaga medis merupakan garda terdepan dalam penanganan COVID-19. Resiko besar sepanjang waktu berada di hadapan mereka. Semua pasien yang memeriksakan kesehatannya memiliki resiko menularkan, baik sebagai pasien terinfeksi maupun sebagai hidden carrier COVID-19. Mengutip akun instagram @ikatandokterindonesia, sampai saat ini diketahui 10 dokter telah meninggal di tengah pandemi yang melanda Indonesia. Beberapa karena terpapar, namun terdapat juga yang meninggal karena kelelahan dengan perjuangannya. Kondisi tenaga medis yang kewalahan dan alat perlindungan yang sangat kurang bukan rahasia lagi. Ini membuat para tenaga medis baik dokter, perawat, penyuluh, yang berada di garda terdepan berisiko terpapar COVID-19 dan membuat tenaga semakin terbatas. Dalam situasi seperti ini, kita berharap tim medis dan rumah sakit dalam kondisi tetap prima. Masyarakat ikut berpartisipasi menekan penularan COVID-19 dan tetap berada dalam kemampuan pengelolaan tim medis/rumah sakit. Perhatikan garis horizontal yang merupakan kapasitas rumah sakit dan tenaga medis, jika jumlah kasus melebihi kemampuan tenaga medis/rumah sakit, maka pasien akan bertebaran di luar sana. Nah, bayangkan jika pasien rumah sakit tidak terkendali, jumlahnya melebihi kapasitas tim medis dan rumah sakit, maka akan banyak di temukan pasien terlantar dan tidak diisolasi, mereka berada di luar sana, menularkan kepada orang yang sehat karena interaksi yang tidak terkontrol. Sistem layanan kesehatan memiliki kapasitas maksimal, seperti kapasitas ICU, kapasitas IGD, jumlah dokter, perawat dan tim medis lainnya. Terlihat pada berbagai pengalaman kasus di seluruh dunia, tanpa langkah-langkah pembatasan dan pengendalian, kasus positif yang memerlukan penanganan intensif dapat melebihi kapasitas sistem layanan kesehatan. Ketika sistem layanan kesehatan terbebani di luar kapasitas kondisi pasien akan memburuk dan dapat menyebabkan tingkat kematian naik. Keterlambatan melakukan langkah-langkah pembatasan dini juga dapat menurunkan kapasitas system layanan kesehatan. Hal ini terjadi saat para petugas kesehatan tidak dapat bekerja karena ikut tertular penyakit atau karena kelelahan.  Maka menjadi sangat penting untuk menahan kurva jumlah pasien terpapar agar tetap selandai mungkin. Semakin awal dan ketat pembatasan social distancing dilakukan maka kasus akan semakin terdistribusikan dan kurva semakin landai, sehingga tidak membuat lebih banyak orang gagal mendapatkan perawatan yang diperlukan. Dukung Mengamankan Kapasitas Medis Masyarakat tidak sulit berpartisipasi aktif memberikan dukungan kepada tim medis dan Rumah Sakit agar tetap bisa melandaikan kurva aman. Cukup tinggal di rumah dan ikuti anjuran pemerintah, social distancing/physical distancing, WFH, cuci tangan, makan makanan yang sehat, berjemur selama 15 menit pada jam 10.00 wib dan menjaga jarak sosial. Semudah itukah? Ternyata nggak mudah juga. Sebagian masyarakat kita bandel, tetap beraktifitas seperti biasa dan meremehkan situasi ini karena alasan jenuh dan bosan di rumah. Kita semua diminta untuk bersabar menghadapi situasi yang dianggap jenuh dan membosankan ini. Coba sedikit saya kasih gambaran kejadian nyata. Kisah 33 orang penambang yang terisolasi 700 m di bawah tanah selama 69 hari. Kisahnya difilmkan dan masih bisa ditonton gratis di channel youtube ada subtitle Indonesia dengan judul “The 33”. Saat runtuhnya tambang tembaga-emas San José dekat Copiapó, Chili, pada 5 Agustus 2010, praktis mengisolasi 33 pria di bawah tanah. Para penambang terjebak di kedalaman 700 meter (2300 ft) dan berjarak 5 kilometer (3 mil) dari pintu masuk tambang, mengikuti putaran dan belokan menuju pintu masuk tambang. Terisolasi di bawah tanah selama 69 hari, mereka berada dalam situasi yang benar-benar kritis, tidak memiliki sumber pangan yang cukup, tidak mempunyai akses, satu-satunya jalur telah tambang

Social Distancing, Melandaikan Kurva Bahaya Read More »

“Hasthalaku di Tengah Krisis, Itu Perlu”

“Hasthalaku di Tengah Krisis, Itu Perlu”

The Godfather of Broken Heart, Didi Kempot mengadakan “Konser dari Rumah” yang disiarkan langsung stasiun Kompas TV (Sabtu, 11 April 2020). Acara ini sukses berat menggerakkan para Sobat Ambyar untuk berdonasi yang hasilnya akan digunakan untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid 19. Dari rentang waktu 19.00-22.00WIB, terkumpul donasi Rp 4 miliar lebih. Sungguh nominal yang sangat fantastis. Saking banyaknya penyumbang, server kitabisa.com sebagai platform pengumpulan donasi, sempat bermasalah. Namun saat pengiriman donasi dialihkan ke salah satu rekening bank, wuiihh… wuss wusss wusss uang masuk mengalir. Perhelatan “Konser dari Rumah” ini diselingi pula pesan agar para perantau tidak  mudik ke kampung halaman. Satu imbauan yang dikeluarkan pemerintah untuk menghentikan laju Covid 19. Tak pelak, konser pakdhe-nya Sobat Ambyar ini  mendapat apresiasi langsung dari Presiden Joko Widodo  melalui telewicara jaringan telepon.

“Hasthalaku di Tengah Krisis, Itu Perlu” Read More »

Hasthalaku Di Rumah Aja

Tantangan terbesar bagi orang yang terbiasa beraktivitas di luar rumah seperti pekerja dan pelajar adalah harus berlama-lama di rumah. Tidak boleh keluar, interaksi fisik dan sosial yang dibatasi – hanya dengan lingkup terkecil kita. Keluarga. Hal yang lebih menantang adalah ketika harus bekerja atau menyelesaikan tugas berbarengan dengan momong anak, bersih-bersih rumah, atau berbagi laptop atau rebutan koneksi internet dengan kakak/adik. Jika tidak dikelola dengan baik, berdamai dengan keadaan dan menjaga kewarasan, bukan tidak mungkin manusia kembali menjadi homo homini lupus – manusia adalah mangsa manusia yang lain.   “Manusia itu adalah apa yang bersiapa dan siapa yang berapa”. Ke-siapa-an manusia diuraikan dalam rumusannya “manusia adalah makluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya”. […] manusia sebagai subjek atau persona yang sadar. Tanpa kesadaran manusia tidak mampu berhadapan dengan dirinya sendiri, apalagi menyadari berada dalam dunia” (Prof. Dr. N. Drijarkara, Percikan Filsafat, 1978).   Bukankah homo homini socius – manusia yang berguna bagi manusia yang lain sebagai makhluk sosial berkedudukan jauh lebih baik dimata semua agama, suku, dan golongan? Menjadikan manusia sebagai manusia sebagaimana adanya dalam tatanan Jawa disebut dengan nguwongke uwong. Budaya Jawa mengenal pepatah rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah yang berarti bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmonisasi antar sesama.   Hasthalaku merupakan generalisasi beberapa nilai budaya Jawa yang sangat erat dengan kehidupan saat ini. Demikian juga pada masa-masa berat ini. Pandemi COVID-19 dapat memberikan peluang bagi kita untuk belajar berbagai hal baru atau lama yang dapat dilakukan dari rumah dengan orang-orang terdekat kita. Memulai dari hal-hal kecil. Saling memahami peran anggota keluarga, membagi waktu antara pekerjaan kantor atau sekolah dengan pekerjaan rumah tangga. Memanfaatkan waktu untuk bercerita dan bercengkerama, lepas dari gawai yang menghubungkan dunia maya. Dan lain sebagainya.   Demikian juga kegiatan penggalangan dana (fundraising) secara online untuk membantu pengadaan alat pelindung diri (APD) misalnya, merupakan istilah modern yang menggunakan konsep gotong royong sebagai kristalisasi nilai hasthalaku. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia merupakan bentuk solidaritas sosial. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang didalamnya kaya akan nilai edukatif. Tak ayal, survey yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia merupakan sebuah keniscayaan. Urip Iku Urup (Hidup itu adalah nyala, manuisa hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitarnya)   Maka dari itu sangat penting untuk dapat tepa selira, saling menghargai serta memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah oleh adanya perbedaan-perbedaan, tidak termakan berita bohong atau hoaks. Dengan selalu mencari tahu kebenaran dan keabsahan berita sebelum kita sebar-luaskan kembali. Saring sebelum Sharing, karena Sharing is Caring.   Sikap saling menghargai, saling pengertian, saling sapa, saling bantu, dan saling menghormati seperti yang ada pada hasthalaku yang dimulai dari rumah ini, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dikembangkan dan dilaksanakan secara kontinyu kan membawa kerukunan, ketenangan, dan perdamaian dimulai dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Dengan kata lain, selama manusia hidup di dunia haruslah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan benci. Memayu hayuning bawana, ambrastha dur angkara.   Penulis: Khresna Bayu Sangka  

Hasthalaku Di Rumah Aja Read More »

Sekolah di Rumah; Pangerten dengan Keadaan, Pangerten terhadap Sesama

“Nanti kalau sudah masuk sekolah, aku mau bu guru dan temen-temen ke lapangan dulu sebelum masuk kelas, aku mau meluk bu guru dan temen-temen semua. Aku rindu!”, seorang siswi berkata kepada gurunya melalui aplikasi chatting online, setelah satu bulan lamanya diberlakukan School From Home (SFH). Sudah lebih dari satu bulan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada semua jenjang sekolah di Kota Surakarta dilakukan secara daring (online). Ini terkait dengan keputusan Walikota Surakarta Nomor 443.76/28 Tahun 2020 tentang Penetapan Status Kejadian Luar Biasa (KLB) Corona Virus Disease (COVID-19) di Kota Surakarta. Kepwalkot ini berlaku sejak tanggal 13 Maret 2020 sampai dengan dicabutnya penetapan status KLB oleh Walikota Surakarta. Yuliyanti Dewi Untari, guru SMAN 1 Surakarta menceritakan bagaimana anak didiknya sudah menginginkan masuk sekolah lagi seperti biasa. “Salah satu kesulitan siswa adalah tidak bisa menanyakan langsung kepada guru mengenai materi yang belum jelas. Itu membuat mereka tidak paham sepenuhnya dengan materi yang disampaikan.” Selain harus mengajar siswa, mereka juga harus menyediakan waktu untuk menemani anak selama kegiatan SFH. Hal ini juga berlaku bagi para orang tua murid yang melakukan Work From Home (WFH), mereka kesulitan membagi waktu antara bekerja dan menemani anak sekolah di rumah. “Saya melihatnya bukan memberatkan, karena situasi seperti ini seluruh dunia merasakan. Penting untuk kita bersama-sama mencari solusi dan menyelesaikannya dengan baik.”, ujar Atik Astrini, guru sekolah lanjutan di Surakarta ketika ditanya tentang pembelajaran online yang dirasa memberatkan guru dan siswa. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mendapatkan keluhan dari dua siswa sekolah menengah lanjutan di Semarang melalui direct message (DM) pada akun Instagramnya. Mereka bercerita beratnya tugas yang diberikan oleh guru selama SFH karena dirasa merepotkan terutama jika mengharuskan mereka untuk keluar dari rumah. Merespon DM mereka, Ganjar mengundang dua siswa tersebut ke rumah dinasnya untuk dapat berdiskusi. Kemudian dikeluarkanlah Surat Edaran Nomor 443/2/09002 tentang Layanan Penyelenggaraan Layanan Pendidikan dalam Rangka Pencegahan Penularan dan Penyebaran Infeksi Corona Virus Disease (COVID-19) di Jawa Tengah. Dalam surat edaran yang mulai berlaku sejak Senin tanggal 23 Maret 2020 ini dijelaskan bahwa guru dari berbagai jenjang sekolah juga mulai melaksanakan WFH. Ganjar juga menyebutkan agar materi pembelajaran di rumah lebih efektif jika berkaitan dengan COVID-19 supaya tidak memberatkan siswa. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, memberikan catatan agar guru tidak memberikan tugas yang memberatkan siswa, baik dari sisi materi (biaya) maupun cara mengerjakannya. Tugas sebaiknya tidak bersifat kolektif dan tidak ada tuntutan untuk menyelesaikannya karena situasi yang sedang sulit, dan akan lebih baik jika berupa ketrampilan hidup sehari-hari agar siswa mampu bertahan dalam menghadapi situasi pandemi saat ini dan setelahnya. Hasthalaku Dalam Pembelajaran Online Yuliyanti bahkan sudah menggunakan metode ‘siswa mengoreksi tugasnya sendiri’ dalam KBM online, bahkan sebelum SFH. “Sekarang saya juga masih menggunakan metode tersebut. Anak-anak saya beri kunci jawaban untuk mengoreksi tugasnya dan mereka melaporkan kepada saya berapa nilai dari tugas tersebut.” Tentu saja menjadi pertanyaan, apakah siswa bisa dipercaya untuk mengoreksi tugasnya sendiri dan tidak curang. “Saya percaya, karena memang nilai kejujuran sejak awal sudah saya terapkan. Ini juga supaya siswa merasa dipercaya. Hal seperti ini penting dalam perkembangan kepercayaan diri siswa”, tambahnya. Kejujuran adalah ciri dari andhap asor yang merupakan salah satu nilai dalam hasthalaku. Kejujuran dapat membuat orang saling percaya dan meminimalisir konflik sehingga keharmonisan akan terjaga (Modul Hasthalaku Solo Bersimfoni, hal 72). Kejujuran siswa menjadikan pembelajaran semakin menyenangkan dan tidak rawan konflik, karena setiap siswa saling percaya dan tidak ada rasa iri terhadap siswa lain. Tentu saja hal ini akan menjadikan guyub rukun terjaga. Pada kegiatan belajar mengajar online, guru memaksimalkan penggunaan teknologi, namun beberapa guru ada yang kurang menguasainya. Beberapa metode dilakukan oleh guru, seperti menggunakan aplikasi WhatsApp, google classroom, google meet, zoom, dan aplikasi lain. Salah satu yang memberatkan bagi siswa adalah besarnya kuota internet yang harus digunakan dalam kegiatan belajar mengajar secara online. Pembelajaran online juga membuat guru harus beradaptasi dan berinovasi dalam penggunaan berbagai media dalam pemberian materi kepada siswa. Hal ini dilakukan agar materi tetap menarik dan tidak membosankan bagi siswa. Seorang guru di SMKN 7 Surakarta, Asri Pujihastuti berkata, “Memang kendala bertatap muka dan online akan berbeda, tetapi saya jadi belajar menggunakan banyak aplikasi, seperti google sites, google classroom, menggunakan absensi di google form kemudian video conference melalui google meet atau zoom. Guru menjadi melek teknologi.  Sebenarnya dulu juga bisa menggunakan tetapi mungkin dirasa tidak perlu karena pembelajarannya secara tatap muka.” Siswa juga diharapkan untuk selalu mengikuti pelajaran meskipun secara online. Dibutuhkan rasa pangerten dari siswa agar KBM online berjalan dengan baik. Pangerten dalam Bahasa Indonesia berarti pengertian atau peka terhadap kondisi sesama (Modul Hasthalaku Solo Bersimfoni, hal 61). Siswa dan guru diharapkan dapat saling menghargai pada saat keadaan yang sulit karena pandemi COVID-19. “Video conference memang belum saya gunakan, karena tidak semua anak didik saya mempunyai fasilitas untuk dapat mengaksesnya, seperti keterbatasan gadget dan juga sinyal karena tidak semua siswa tinggal di kota. Beberapa siswa yang tinggal di pelosok tentu saja kesulitan mendapatkan sinyal. Juga ada keluhan tentang besarnya kuota (internet) yang dihabiskan.”, tambah Yuliyanti. Atik bercerita, “Banyak sekali cerita sedih terkait pembelajaran online ini, banyak siswa yang tidak memiliki smartphone, atau meminjam milik mamanya sehingga harus menunggu mamanya pulang kerja, ada yang nitip teman, jadi siswa pun kadang sedih saat mendengarkan cerita temannya.” Atik pun menyadari hal ini dan berusaha agar tugas yang diberikan tidak memberatkan siswa. “Pertama anak (merasa) happy dalam keadaan seperti ini, kedua bagaimana materi sampai ke siswa. Jadi untuk tugas, (biasanya) saya memberikan waktu satu minggu untuk mengumpulkan.” Karena keterbatasan fasilitas yang dipunyai siswa, salah satu sekolah memberikan pinjaman smartphone kepada siswa yang memang membutuhkan dan ada inisiatif untuk memberikan kuota kepada siswa yang kurang mampu dengan menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Pembelajaran online sebenarnya bukan hal yang baru dalam KBM. Sebelum KLB, beberapa guru juga melakukan pembelajaran online jika tidak bisa bertatap muka dengan siswa. Seperti saat guru melakukan program akselerasi di kota lain, atau juga pada saat siswa melakukan on the job training. “Dulu kecepatan internet belum seperti sekarang, tetapi respon dari siswa tergolong cepat. Saat itu saya menggunakan e-mail, jadi tugas siswa dikirimkan kepada saya setiap hari

Sekolah di Rumah; Pangerten dengan Keadaan, Pangerten terhadap Sesama Read More »

Lawan Hoaks Covid-19 Dengan Hasthalaku Bermedsos

Kita semua mengetahui himbauan dari pemerintah untuk tidak panik dalam menghadapi pandemi COVID-19. Ketika awal masuknya virus ini ke Indonesia, masyarakat berbondong-bondong memborong bahan makanan yang ada di supermarket, menimbun masker dan kawan-kawannya. Contoh diatas adalah bentuk kepanikan dari masyarakat yang terjadi karena hoaks yang beredar. Di tengah upaya pemerintah dalam menghadapi pandemi COVID-19 agar tidak terus menyebar, masih ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang menyebarkan berita palsu (hoaks) seputar COVID-19. Kominfo mengindentifikasi pada Selasa, 18 Maret 2020 ada 250 konten hoaks dan disinformasi yang berkaitan dengan pandemi COVID-19. Seluruh konten hoaks tersebut tersebar di platform media sosial khususnya di aplikasi WhatsApp yang notabene berisi grup keluarga dengan latar belakang yang bermacam-macam. Berbagai narasi yang menyesatkan lalu-lalang hampir setiap hari di linimasa media sosial kita tentang isu seputar COVID-19. Sebagian besar diantaranya merupakan berita palsu yang tidak jelas sumbernya sehingga sulit untuk diketahui kebenarannya. Banyaknya hoaks juga berdampak menurunkan rasa percaya masyarakat terhadap otoritas kesehatan dan pemerintah, sehingga masyarakat melakukan aksi penyembuhan dengan caranya sendiri. Sebagian besar cara penyembuhan pun juga mereka dapatkan melalui linimasa yang belum jelas kebenarannya. Pada keadaan seperti ini kita semestinya bergotong-royong untuk melawan hoaks yang kian meresahkan masyarakat. Contoh langkah yang bisa kita lakukan ialah tidak langsung percaya dan menyebarkan berita tentang pandemi COVID-19 yang kita baca di media sosial. Atau saat ingin memberikan informasi trik atau cara menangkal virus COVID-19 pastikan benar berasal dari sumber yang terpercaya dan beritanya bisa dipertanggungjawabkan, seperti media massa mainstream, website resmi Kementerian Kesehatan, WHO, serta pihak terpercaya lainnya. Di Indonesia sendiri ada Dewan Pers yang merilis daftar lembaga-lembaga resmi yang telah terdaftar. Selain itu ada pula sertifikasi IFCN atau International Fact Checking Network yang dikeluarkan oleh Poynter, sekolah jurnalis di Florida, Amerika Serikat. Sudah ada lima media/platform Indonesia yang mendapat sertifikasi ini, antara lain liputan6.com, Kompas.com, Tirto.id, Tempo.co dan Mafindo. Beberapa kelompok masyarakat sipil di berbagai daerah pun sudah bergerak menangkal hoaks. Mereka saling bekerjasama membuka pengaduan masyarakat, saling tukar informasi, berdiskusi, dan melakukan verifikasi hoaks yang beredar di masyarakat. Badan kesehatan dunia, World Health Organisation (WHO) sebenarnya telah menjalin kerjasama dengan WhatsApp dengan membentuk akun untuk melayani pertanyaan publik tentang seputar COVID-19 melalui chatbot. Akun chatbot ini memiliki nama resmi ‘COVID19.go.id’ dan memiliki tanda centang warna hijau sebagai bukti akun telah terverifikasi. Kita hanya perlu menambahkan kontak nomor +6281133399000 di ponsel. Secara otomatis aplikasi atau situs WhatsApp akan membuka jendela percakapan dengan chatbot tersebut. Kita juga bisa mengakses chatbot  untuk informasi resmi dan benar tentang Covid-19 atau website yang disedikan oleh Pemprov Jateng, https://corona.jatengprov.go.id/ atau Home – Covid19.go.id. Saluran itu diharapkan bisa menjadi kanal informasi publik yang valid dan terpercaya mengenai COVID-19. Hentikan pemberitaan yang membuat gaduh dan suasana mencekam, seperti gencarnya pemberitaan jumlah korban COVID-19 karena akan berdampak terhadap kondisi pikiran kita. Kondisi pikiran yang panik dan kalut akan berpengaruh terhadap keadaan fisik dan menurunkan imunitas tubuh kita. Selama keadaan masih seperti ini, pastikan asupan makanan yang sehat, mendapatkan paparan cahaya matahari setiap pagi, cukup 10 menit saja, serta pikiran dan hati yang bahagia. Ketiga hal tersebut mampu menaikkan daya tahan tubuh. Tidak perlu melakukan pencegahan yang ekstrim atau memborong segala macam kebutuhan. Secukupnya saja. Jika memiliki rejeki berlebih, bolehlah kita memberikan dana bantuan kepada yang membutuhkan. Sharing is caring. Ingat, waspada boleh, panik jangan. Kita lawan Covid-19 dengan gotong royong, guyub rukun, dan pangerten. Penulis: Burhanudin Fajri  

Lawan Hoaks Covid-19 Dengan Hasthalaku Bermedsos Read More »

WABAH COVID-19, ANTARA JARAK FISIK DAN SOLIDARITAS SOSIAL

Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial

Wabah COVID-19 telah mengubah wajah dunia sejak World Health Organization (WHO) menetapkannya sebagai pandemi global pada  Kamis, 12 Maret 2020. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia, dan bisa menyerang siapa saja. Virus yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 ini dapat menular dengan cepat. Saat artikel ini ditulis COVID-19 telah menyebar ke 196 negara di luar Cina, termasuk Indonesia. Dari website covid19.go.id per 27 Maret 2020  pukul 12:00 WIB terdapat 893 kasus yang telah terkonfirmasi dan 780 dalam perawatan. Sejak tanggal 27 Maret 2020 pun telah mulai berkembang di Provinsi Jawa Tengah yang hingga hari ini tercatat mencapai 40 pasien positif termasuk kota Solo, Jawa Tengah. Pemerintah Kota Surakarta saat ini tengah  berupaya untuk memutus rantai wabah ini dengan melakukan langkah tegas. Setelah menyatakan ada dua pasien positif corona dirawat di RSUD dr Moewardi dan salah satunya meninggal dunia, jumlah yang tertular diperkirakan akan terus meningkat. Di tengah kegaduhan akibat pandemi Covid-19, pemerintah kota Surakarta menetapkan status ini menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Selain meniadakan sejumlah potensi keramaian, Pemkot Surakarta juga meliburkan kegiatan belajar mengajar siswa TK sampai SMA dan sederajat selama 14 hari ke depan sejak tanggal 14 Maret 2020. Para siswa diminta untuk belajar di rumah, sebagai upaya pencegahan meluasnya penyebaran virus COVID-19. Selain itu, sejumlah tempat wisata di Kota Solo juga mulai ditutup. Jarak Fisik dan Solidaritas Sosial Masyarakat dunia pun, termasuk warga negara Indonesia, dihimbau untuk membantu memutus penyebaran virus dengan melakukan social distancing atau menjaga jarak sosial.  Sejak Jumat 20 Maret 2020 WHO resmi menggantikan istilah social distancing menjadi physical distancing atau menjaga jarak fisik. Istilah ini dilakukan guna mencegah konotasi yang tidak diinginkan. Ditakutkan manusia menjaga jarak sosialnya sehingga merasa khawatir untuk melakukan interaksi sosial. Padahal interaksi sosial sangatlah penting untuk mengalahkan COVID-19 yang juga penting mengurangi konsekuensi negatif dalam langkah-langkah pengendalian pandemi. Pada situasi keadaan pandemi seperti ini kita mesti mengurangi interaksi fisik, tidak membuat keramaian, dan tidak datang ke pusat keramaian. Kita diharuskan berkegiatan di rumah saja, tidak bertemu saudara dan teman-teman di luar rumah, tidak mengadakan perhelatan dan kumpul-kumpul. Namun bukan berarti kita membatasi solidaritas sosial. Di tengah himbauan untuk #dirumahaja banyak sekali saudara kita yang tidak memungkinkan untuk tinggal di rumah karena kebutuhan mencari sesuap nasi, juga kehilangan pekerjaan karena usaha yang mempekerjakannya terpaksa tutup. Atau bahkan menjadi garda terdepan dalam mengurusi para pasien di fasilitas kesehatan: para dokter, perawat, pembersih di rumah sakit, sopir ambulans, dan tenaga medis lainnya. Baru-baru ini muncul banyak relawan dan gerakan sosial di Indonesia yang gotong royong bergerak dan mengumpulkan donasi untuk dibelikan alat pelindung diri bagi tenaga medis, masker untuk dibagikan pada masyarakat rentan, bahkan sembako untuk dibagikan kepada mereka yang kehilangan pekerjaan. Para influencer dan masyarakat umum bergerak untuk kerja solidaritas itu. Ya, itulah makna sesungguhnya dari social solidarity, bukan social distancing. Cara-cara ini bisa kita lakukan sebagai usaha untuk pangerten terhadap keadaan. Selain itu, sebagai warga negara yang baik, kita juga harus menghargai keputusan dari Presiden Joko Widodo untuk dapat belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah. Selain pangerten terhadap keadaan kita juga perlu pangerten terhadap orang-orang yang masih tetap harus bekerja di luar sana sebagai garda terdepan pemulihan kesehatan dan keadaan. Penulis : Burhanudin Fajri

Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial Read More »

SOLO BERSIMFONI

Kiat Solo Bersimfoni Bersama Dirjen Pothan Kemhan, Dalam Membentuk Karakter Bela Negara

Solo Bersimfoni berkesempatan mengisi acara Seminar Nasional Pendidikan Karakter bersama dengan Prof. Ir. Bondan Tiara Tiara Sofyan, M.Si, Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, dan Dr. Izza Mafruhah, S.E.,M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS. Acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret pada 15 Februari 2020 tersebut diikuti kurang lebih 400 peserta. Peserta seminar memenuhi aula FEB UNS sekitar 400 peserta. Dekan FEB UNS , Prof. Djoko Suhardjanto yang secara langsung membuka acara tersebut mengharapkan dengan adanya Seminar Nasional Pendidikan Karakter ini para narasumber mampu membekali pengetahuan, pemahaman bagi generasi muda tentang pentingnya kesadaran bela negara sehingga terhindar dari paham-paham radikal yang sangat merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa. “Metode penyebaran paham radikal sudah tidak zamannya menggunakan kekerasan bahkan senjata lagi, tetapi saat ini telah menggunakan cara yang lebih mengikuti perkembangan” jelas Prof Bondan. Prof. Ir. Bondan Tiara Tiara Sofyan, menegaskan bahwa Dalam penyebaran paham radikal saat ini telah mengikuti perkembangan zaman dan sudah tidak lagi menggunakan senjata. Ada beberapa cara yang  digunakan untuk menyebarkan paham-paham radikal,  diantaranya adalah brain washing atau cuci otak dengan cara memberikan pemahaman merubah ideologi, provokasi dan  separatis. Atau dengan menggaungkan isu-isu yang sehingga menimbulkan perpecahan. Terlebih sekarang ini Ideologi Pancasila sering dibenturkan dengan agama ataupun dengan kitab suci dan ujungnya untuk menguasai Indonesia. “baru-baru ini Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah membuat peraturan UU No. 23 Tahun 2019 Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan Negara, mohon doa nya semoga kami bisa segera mengimplementasikan Undang-undang ini dengan baik” ungkap Prof Bondan. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia saat ini tengah berupaya untuk mengatasi hal tersebut dengan memberikan pembekalan tentang bela negara seperti perubahan/penguatan karakter bangsa dan UU No. 23 Tahun 2019 Pengelolaan Sumber Daya Nasional Untuk Pertahanan Negara yang baru disahkan menjadi bukti tekad pemerintah dalam memperkuat pertahanan Indonesia. Prof. Bondan saat memberikan materi kepada para peserta Prof Bondan juga menambahkan bahwa membangun kesadaran berbangsa dan bernegara bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan membangun dialog atau komunikasi, pendidikan, dan seni budaya. Solo Bersimfoni juga disinggung oleh Prof Bondan bagaimana Solo Bersimfoni membangun kesadaran berbangsa dan bernegara dengan pendekatan budaya jawa atau yang dikenal dengan Hasthalaku untuk menghindarai kekerasan. Sementara itu, M. Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni mengatakan bahwa pemuda solo harus memiliki karakter budaya yang kuat, mempunyai nilai toleransi dan juga keberagaman dalam bermasyarakat, dan saat ini Pemerintah Kota Solo telah membuat Peraturan Walikota Surakarta Nomor 49 tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda yang tentu menaruh harapan dengan Perwali hak dan kewajiban pemuda dapat berkesempatan melestarikan, mengembangkan hingga memperoleh pendampingan/pembinaan yang lebih baik. M.Farid Sunarto memberikan penjelasan tentang Hasthalaku dalam bela negara Kemudian Dr. Izza Mafruhah, S.E.,M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS menambahkan bahwa pendidikan karakter merupakan proses belajar secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan menguasai IPTEK saja tidak cukup menjadikan seorang pelajar menjadi manusia. Kemampuan sosialisasi dan religiusitas sebagai bagian IMTAQ yang baik adalah pelengkap yang menyempurnakan seorang pelajar. Berpendidikan karakter berarti seseorang tidak hanya memiliki intelektual yang baik, tapi juga memiliki emosi serta tingkat spiritual yang baik. Penulis : Burhanudin Fajri  

Kiat Solo Bersimfoni Bersama Dirjen Pothan Kemhan, Dalam Membentuk Karakter Bela Negara Read More »