Blog

“Hasthalaku di Tengah Krisis, Itu Perlu”

“Hasthalaku di Tengah Krisis, Itu Perlu”

The Godfather of Broken Heart, Didi Kempot mengadakan “Konser dari Rumah” yang disiarkan langsung stasiun Kompas TV (Sabtu, 11 April 2020). Acara ini sukses berat menggerakkan para Sobat Ambyar untuk berdonasi yang hasilnya akan digunakan untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid 19. Dari rentang waktu 19.00-22.00WIB, terkumpul donasi Rp 4 miliar lebih. Sungguh nominal yang sangat fantastis. Saking banyaknya penyumbang, server kitabisa.com sebagai platform pengumpulan donasi, sempat bermasalah. Namun saat pengiriman donasi dialihkan ke salah satu rekening bank, wuiihh… wuss wusss wusss uang masuk mengalir. Perhelatan “Konser dari Rumah” ini diselingi pula pesan agar para perantau tidak  mudik ke kampung halaman. Satu imbauan yang dikeluarkan pemerintah untuk menghentikan laju Covid 19. Tak pelak, konser pakdhe-nya Sobat Ambyar ini  mendapat apresiasi langsung dari Presiden Joko Widodo  melalui telewicara jaringan telepon.

“Hasthalaku di Tengah Krisis, Itu Perlu” Read More »

Hasthalaku Di Rumah Aja

Tantangan terbesar bagi orang yang terbiasa beraktivitas di luar rumah seperti pekerja dan pelajar adalah harus berlama-lama di rumah. Tidak boleh keluar, interaksi fisik dan sosial yang dibatasi – hanya dengan lingkup terkecil kita. Keluarga. Hal yang lebih menantang adalah ketika harus bekerja atau menyelesaikan tugas berbarengan dengan momong anak, bersih-bersih rumah, atau berbagi laptop atau rebutan koneksi internet dengan kakak/adik. Jika tidak dikelola dengan baik, berdamai dengan keadaan dan menjaga kewarasan, bukan tidak mungkin manusia kembali menjadi homo homini lupus – manusia adalah mangsa manusia yang lain.   “Manusia itu adalah apa yang bersiapa dan siapa yang berapa”. Ke-siapa-an manusia diuraikan dalam rumusannya “manusia adalah makluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya”. […] manusia sebagai subjek atau persona yang sadar. Tanpa kesadaran manusia tidak mampu berhadapan dengan dirinya sendiri, apalagi menyadari berada dalam dunia” (Prof. Dr. N. Drijarkara, Percikan Filsafat, 1978).   Bukankah homo homini socius – manusia yang berguna bagi manusia yang lain sebagai makhluk sosial berkedudukan jauh lebih baik dimata semua agama, suku, dan golongan? Menjadikan manusia sebagai manusia sebagaimana adanya dalam tatanan Jawa disebut dengan nguwongke uwong. Budaya Jawa mengenal pepatah rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah yang berarti bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmonisasi antar sesama.   Hasthalaku merupakan generalisasi beberapa nilai budaya Jawa yang sangat erat dengan kehidupan saat ini. Demikian juga pada masa-masa berat ini. Pandemi COVID-19 dapat memberikan peluang bagi kita untuk belajar berbagai hal baru atau lama yang dapat dilakukan dari rumah dengan orang-orang terdekat kita. Memulai dari hal-hal kecil. Saling memahami peran anggota keluarga, membagi waktu antara pekerjaan kantor atau sekolah dengan pekerjaan rumah tangga. Memanfaatkan waktu untuk bercerita dan bercengkerama, lepas dari gawai yang menghubungkan dunia maya. Dan lain sebagainya.   Demikian juga kegiatan penggalangan dana (fundraising) secara online untuk membantu pengadaan alat pelindung diri (APD) misalnya, merupakan istilah modern yang menggunakan konsep gotong royong sebagai kristalisasi nilai hasthalaku. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia merupakan bentuk solidaritas sosial. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang didalamnya kaya akan nilai edukatif. Tak ayal, survey yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara paling dermawan di dunia merupakan sebuah keniscayaan. Urip Iku Urup (Hidup itu adalah nyala, manuisa hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitarnya)   Maka dari itu sangat penting untuk dapat tepa selira, saling menghargai serta memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah oleh adanya perbedaan-perbedaan, tidak termakan berita bohong atau hoaks. Dengan selalu mencari tahu kebenaran dan keabsahan berita sebelum kita sebar-luaskan kembali. Saring sebelum Sharing, karena Sharing is Caring.   Sikap saling menghargai, saling pengertian, saling sapa, saling bantu, dan saling menghormati seperti yang ada pada hasthalaku yang dimulai dari rumah ini, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Nilai yang dikembangkan dan dilaksanakan secara kontinyu kan membawa kerukunan, ketenangan, dan perdamaian dimulai dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Dengan kata lain, selama manusia hidup di dunia haruslah mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan benci. Memayu hayuning bawana, ambrastha dur angkara.   Penulis: Khresna Bayu Sangka  

Hasthalaku Di Rumah Aja Read More »

Sekolah di Rumah; Pangerten dengan Keadaan, Pangerten terhadap Sesama

“Nanti kalau sudah masuk sekolah, aku mau bu guru dan temen-temen ke lapangan dulu sebelum masuk kelas, aku mau meluk bu guru dan temen-temen semua. Aku rindu!”, seorang siswi berkata kepada gurunya melalui aplikasi chatting online, setelah satu bulan lamanya diberlakukan School From Home (SFH). Sudah lebih dari satu bulan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada semua jenjang sekolah di Kota Surakarta dilakukan secara daring (online). Ini terkait dengan keputusan Walikota Surakarta Nomor 443.76/28 Tahun 2020 tentang Penetapan Status Kejadian Luar Biasa (KLB) Corona Virus Disease (COVID-19) di Kota Surakarta. Kepwalkot ini berlaku sejak tanggal 13 Maret 2020 sampai dengan dicabutnya penetapan status KLB oleh Walikota Surakarta. Yuliyanti Dewi Untari, guru SMAN 1 Surakarta menceritakan bagaimana anak didiknya sudah menginginkan masuk sekolah lagi seperti biasa. “Salah satu kesulitan siswa adalah tidak bisa menanyakan langsung kepada guru mengenai materi yang belum jelas. Itu membuat mereka tidak paham sepenuhnya dengan materi yang disampaikan.” Selain harus mengajar siswa, mereka juga harus menyediakan waktu untuk menemani anak selama kegiatan SFH. Hal ini juga berlaku bagi para orang tua murid yang melakukan Work From Home (WFH), mereka kesulitan membagi waktu antara bekerja dan menemani anak sekolah di rumah. “Saya melihatnya bukan memberatkan, karena situasi seperti ini seluruh dunia merasakan. Penting untuk kita bersama-sama mencari solusi dan menyelesaikannya dengan baik.”, ujar Atik Astrini, guru sekolah lanjutan di Surakarta ketika ditanya tentang pembelajaran online yang dirasa memberatkan guru dan siswa. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mendapatkan keluhan dari dua siswa sekolah menengah lanjutan di Semarang melalui direct message (DM) pada akun Instagramnya. Mereka bercerita beratnya tugas yang diberikan oleh guru selama SFH karena dirasa merepotkan terutama jika mengharuskan mereka untuk keluar dari rumah. Merespon DM mereka, Ganjar mengundang dua siswa tersebut ke rumah dinasnya untuk dapat berdiskusi. Kemudian dikeluarkanlah Surat Edaran Nomor 443/2/09002 tentang Layanan Penyelenggaraan Layanan Pendidikan dalam Rangka Pencegahan Penularan dan Penyebaran Infeksi Corona Virus Disease (COVID-19) di Jawa Tengah. Dalam surat edaran yang mulai berlaku sejak Senin tanggal 23 Maret 2020 ini dijelaskan bahwa guru dari berbagai jenjang sekolah juga mulai melaksanakan WFH. Ganjar juga menyebutkan agar materi pembelajaran di rumah lebih efektif jika berkaitan dengan COVID-19 supaya tidak memberatkan siswa. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Jumeri, memberikan catatan agar guru tidak memberikan tugas yang memberatkan siswa, baik dari sisi materi (biaya) maupun cara mengerjakannya. Tugas sebaiknya tidak bersifat kolektif dan tidak ada tuntutan untuk menyelesaikannya karena situasi yang sedang sulit, dan akan lebih baik jika berupa ketrampilan hidup sehari-hari agar siswa mampu bertahan dalam menghadapi situasi pandemi saat ini dan setelahnya. Hasthalaku Dalam Pembelajaran Online Yuliyanti bahkan sudah menggunakan metode ‘siswa mengoreksi tugasnya sendiri’ dalam KBM online, bahkan sebelum SFH. “Sekarang saya juga masih menggunakan metode tersebut. Anak-anak saya beri kunci jawaban untuk mengoreksi tugasnya dan mereka melaporkan kepada saya berapa nilai dari tugas tersebut.” Tentu saja menjadi pertanyaan, apakah siswa bisa dipercaya untuk mengoreksi tugasnya sendiri dan tidak curang. “Saya percaya, karena memang nilai kejujuran sejak awal sudah saya terapkan. Ini juga supaya siswa merasa dipercaya. Hal seperti ini penting dalam perkembangan kepercayaan diri siswa”, tambahnya. Kejujuran adalah ciri dari andhap asor yang merupakan salah satu nilai dalam hasthalaku. Kejujuran dapat membuat orang saling percaya dan meminimalisir konflik sehingga keharmonisan akan terjaga (Modul Hasthalaku Solo Bersimfoni, hal 72). Kejujuran siswa menjadikan pembelajaran semakin menyenangkan dan tidak rawan konflik, karena setiap siswa saling percaya dan tidak ada rasa iri terhadap siswa lain. Tentu saja hal ini akan menjadikan guyub rukun terjaga. Pada kegiatan belajar mengajar online, guru memaksimalkan penggunaan teknologi, namun beberapa guru ada yang kurang menguasainya. Beberapa metode dilakukan oleh guru, seperti menggunakan aplikasi WhatsApp, google classroom, google meet, zoom, dan aplikasi lain. Salah satu yang memberatkan bagi siswa adalah besarnya kuota internet yang harus digunakan dalam kegiatan belajar mengajar secara online. Pembelajaran online juga membuat guru harus beradaptasi dan berinovasi dalam penggunaan berbagai media dalam pemberian materi kepada siswa. Hal ini dilakukan agar materi tetap menarik dan tidak membosankan bagi siswa. Seorang guru di SMKN 7 Surakarta, Asri Pujihastuti berkata, “Memang kendala bertatap muka dan online akan berbeda, tetapi saya jadi belajar menggunakan banyak aplikasi, seperti google sites, google classroom, menggunakan absensi di google form kemudian video conference melalui google meet atau zoom. Guru menjadi melek teknologi.  Sebenarnya dulu juga bisa menggunakan tetapi mungkin dirasa tidak perlu karena pembelajarannya secara tatap muka.” Siswa juga diharapkan untuk selalu mengikuti pelajaran meskipun secara online. Dibutuhkan rasa pangerten dari siswa agar KBM online berjalan dengan baik. Pangerten dalam Bahasa Indonesia berarti pengertian atau peka terhadap kondisi sesama (Modul Hasthalaku Solo Bersimfoni, hal 61). Siswa dan guru diharapkan dapat saling menghargai pada saat keadaan yang sulit karena pandemi COVID-19. “Video conference memang belum saya gunakan, karena tidak semua anak didik saya mempunyai fasilitas untuk dapat mengaksesnya, seperti keterbatasan gadget dan juga sinyal karena tidak semua siswa tinggal di kota. Beberapa siswa yang tinggal di pelosok tentu saja kesulitan mendapatkan sinyal. Juga ada keluhan tentang besarnya kuota (internet) yang dihabiskan.”, tambah Yuliyanti. Atik bercerita, “Banyak sekali cerita sedih terkait pembelajaran online ini, banyak siswa yang tidak memiliki smartphone, atau meminjam milik mamanya sehingga harus menunggu mamanya pulang kerja, ada yang nitip teman, jadi siswa pun kadang sedih saat mendengarkan cerita temannya.” Atik pun menyadari hal ini dan berusaha agar tugas yang diberikan tidak memberatkan siswa. “Pertama anak (merasa) happy dalam keadaan seperti ini, kedua bagaimana materi sampai ke siswa. Jadi untuk tugas, (biasanya) saya memberikan waktu satu minggu untuk mengumpulkan.” Karena keterbatasan fasilitas yang dipunyai siswa, salah satu sekolah memberikan pinjaman smartphone kepada siswa yang memang membutuhkan dan ada inisiatif untuk memberikan kuota kepada siswa yang kurang mampu dengan menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Pembelajaran online sebenarnya bukan hal yang baru dalam KBM. Sebelum KLB, beberapa guru juga melakukan pembelajaran online jika tidak bisa bertatap muka dengan siswa. Seperti saat guru melakukan program akselerasi di kota lain, atau juga pada saat siswa melakukan on the job training. “Dulu kecepatan internet belum seperti sekarang, tetapi respon dari siswa tergolong cepat. Saat itu saya menggunakan e-mail, jadi tugas siswa dikirimkan kepada saya setiap hari

Sekolah di Rumah; Pangerten dengan Keadaan, Pangerten terhadap Sesama Read More »

Lawan Hoaks Covid-19 Dengan Hasthalaku Bermedsos

Kita semua mengetahui himbauan dari pemerintah untuk tidak panik dalam menghadapi pandemi COVID-19. Ketika awal masuknya virus ini ke Indonesia, masyarakat berbondong-bondong memborong bahan makanan yang ada di supermarket, menimbun masker dan kawan-kawannya. Contoh diatas adalah bentuk kepanikan dari masyarakat yang terjadi karena hoaks yang beredar. Di tengah upaya pemerintah dalam menghadapi pandemi COVID-19 agar tidak terus menyebar, masih ada pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang menyebarkan berita palsu (hoaks) seputar COVID-19. Kominfo mengindentifikasi pada Selasa, 18 Maret 2020 ada 250 konten hoaks dan disinformasi yang berkaitan dengan pandemi COVID-19. Seluruh konten hoaks tersebut tersebar di platform media sosial khususnya di aplikasi WhatsApp yang notabene berisi grup keluarga dengan latar belakang yang bermacam-macam. Berbagai narasi yang menyesatkan lalu-lalang hampir setiap hari di linimasa media sosial kita tentang isu seputar COVID-19. Sebagian besar diantaranya merupakan berita palsu yang tidak jelas sumbernya sehingga sulit untuk diketahui kebenarannya. Banyaknya hoaks juga berdampak menurunkan rasa percaya masyarakat terhadap otoritas kesehatan dan pemerintah, sehingga masyarakat melakukan aksi penyembuhan dengan caranya sendiri. Sebagian besar cara penyembuhan pun juga mereka dapatkan melalui linimasa yang belum jelas kebenarannya. Pada keadaan seperti ini kita semestinya bergotong-royong untuk melawan hoaks yang kian meresahkan masyarakat. Contoh langkah yang bisa kita lakukan ialah tidak langsung percaya dan menyebarkan berita tentang pandemi COVID-19 yang kita baca di media sosial. Atau saat ingin memberikan informasi trik atau cara menangkal virus COVID-19 pastikan benar berasal dari sumber yang terpercaya dan beritanya bisa dipertanggungjawabkan, seperti media massa mainstream, website resmi Kementerian Kesehatan, WHO, serta pihak terpercaya lainnya. Di Indonesia sendiri ada Dewan Pers yang merilis daftar lembaga-lembaga resmi yang telah terdaftar. Selain itu ada pula sertifikasi IFCN atau International Fact Checking Network yang dikeluarkan oleh Poynter, sekolah jurnalis di Florida, Amerika Serikat. Sudah ada lima media/platform Indonesia yang mendapat sertifikasi ini, antara lain liputan6.com, Kompas.com, Tirto.id, Tempo.co dan Mafindo. Beberapa kelompok masyarakat sipil di berbagai daerah pun sudah bergerak menangkal hoaks. Mereka saling bekerjasama membuka pengaduan masyarakat, saling tukar informasi, berdiskusi, dan melakukan verifikasi hoaks yang beredar di masyarakat. Badan kesehatan dunia, World Health Organisation (WHO) sebenarnya telah menjalin kerjasama dengan WhatsApp dengan membentuk akun untuk melayani pertanyaan publik tentang seputar COVID-19 melalui chatbot. Akun chatbot ini memiliki nama resmi ‘COVID19.go.id’ dan memiliki tanda centang warna hijau sebagai bukti akun telah terverifikasi. Kita hanya perlu menambahkan kontak nomor +6281133399000 di ponsel. Secara otomatis aplikasi atau situs WhatsApp akan membuka jendela percakapan dengan chatbot tersebut. Kita juga bisa mengakses chatbot  untuk informasi resmi dan benar tentang Covid-19 atau website yang disedikan oleh Pemprov Jateng, https://corona.jatengprov.go.id/ atau Home – Covid19.go.id. Saluran itu diharapkan bisa menjadi kanal informasi publik yang valid dan terpercaya mengenai COVID-19. Hentikan pemberitaan yang membuat gaduh dan suasana mencekam, seperti gencarnya pemberitaan jumlah korban COVID-19 karena akan berdampak terhadap kondisi pikiran kita. Kondisi pikiran yang panik dan kalut akan berpengaruh terhadap keadaan fisik dan menurunkan imunitas tubuh kita. Selama keadaan masih seperti ini, pastikan asupan makanan yang sehat, mendapatkan paparan cahaya matahari setiap pagi, cukup 10 menit saja, serta pikiran dan hati yang bahagia. Ketiga hal tersebut mampu menaikkan daya tahan tubuh. Tidak perlu melakukan pencegahan yang ekstrim atau memborong segala macam kebutuhan. Secukupnya saja. Jika memiliki rejeki berlebih, bolehlah kita memberikan dana bantuan kepada yang membutuhkan. Sharing is caring. Ingat, waspada boleh, panik jangan. Kita lawan Covid-19 dengan gotong royong, guyub rukun, dan pangerten. Penulis: Burhanudin Fajri  

Lawan Hoaks Covid-19 Dengan Hasthalaku Bermedsos Read More »

WABAH COVID-19, ANTARA JARAK FISIK DAN SOLIDARITAS SOSIAL

Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial

Wabah COVID-19 telah mengubah wajah dunia sejak World Health Organization (WHO) menetapkannya sebagai pandemi global pada  Kamis, 12 Maret 2020. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia, dan bisa menyerang siapa saja. Virus yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 ini dapat menular dengan cepat. Saat artikel ini ditulis COVID-19 telah menyebar ke 196 negara di luar Cina, termasuk Indonesia. Dari website covid19.go.id per 27 Maret 2020  pukul 12:00 WIB terdapat 893 kasus yang telah terkonfirmasi dan 780 dalam perawatan. Sejak tanggal 27 Maret 2020 pun telah mulai berkembang di Provinsi Jawa Tengah yang hingga hari ini tercatat mencapai 40 pasien positif termasuk kota Solo, Jawa Tengah. Pemerintah Kota Surakarta saat ini tengah  berupaya untuk memutus rantai wabah ini dengan melakukan langkah tegas. Setelah menyatakan ada dua pasien positif corona dirawat di RSUD dr Moewardi dan salah satunya meninggal dunia, jumlah yang tertular diperkirakan akan terus meningkat. Di tengah kegaduhan akibat pandemi Covid-19, pemerintah kota Surakarta menetapkan status ini menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Selain meniadakan sejumlah potensi keramaian, Pemkot Surakarta juga meliburkan kegiatan belajar mengajar siswa TK sampai SMA dan sederajat selama 14 hari ke depan sejak tanggal 14 Maret 2020. Para siswa diminta untuk belajar di rumah, sebagai upaya pencegahan meluasnya penyebaran virus COVID-19. Selain itu, sejumlah tempat wisata di Kota Solo juga mulai ditutup. Jarak Fisik dan Solidaritas Sosial Masyarakat dunia pun, termasuk warga negara Indonesia, dihimbau untuk membantu memutus penyebaran virus dengan melakukan social distancing atau menjaga jarak sosial.  Sejak Jumat 20 Maret 2020 WHO resmi menggantikan istilah social distancing menjadi physical distancing atau menjaga jarak fisik. Istilah ini dilakukan guna mencegah konotasi yang tidak diinginkan. Ditakutkan manusia menjaga jarak sosialnya sehingga merasa khawatir untuk melakukan interaksi sosial. Padahal interaksi sosial sangatlah penting untuk mengalahkan COVID-19 yang juga penting mengurangi konsekuensi negatif dalam langkah-langkah pengendalian pandemi. Pada situasi keadaan pandemi seperti ini kita mesti mengurangi interaksi fisik, tidak membuat keramaian, dan tidak datang ke pusat keramaian. Kita diharuskan berkegiatan di rumah saja, tidak bertemu saudara dan teman-teman di luar rumah, tidak mengadakan perhelatan dan kumpul-kumpul. Namun bukan berarti kita membatasi solidaritas sosial. Di tengah himbauan untuk #dirumahaja banyak sekali saudara kita yang tidak memungkinkan untuk tinggal di rumah karena kebutuhan mencari sesuap nasi, juga kehilangan pekerjaan karena usaha yang mempekerjakannya terpaksa tutup. Atau bahkan menjadi garda terdepan dalam mengurusi para pasien di fasilitas kesehatan: para dokter, perawat, pembersih di rumah sakit, sopir ambulans, dan tenaga medis lainnya. Baru-baru ini muncul banyak relawan dan gerakan sosial di Indonesia yang gotong royong bergerak dan mengumpulkan donasi untuk dibelikan alat pelindung diri bagi tenaga medis, masker untuk dibagikan pada masyarakat rentan, bahkan sembako untuk dibagikan kepada mereka yang kehilangan pekerjaan. Para influencer dan masyarakat umum bergerak untuk kerja solidaritas itu. Ya, itulah makna sesungguhnya dari social solidarity, bukan social distancing. Cara-cara ini bisa kita lakukan sebagai usaha untuk pangerten terhadap keadaan. Selain itu, sebagai warga negara yang baik, kita juga harus menghargai keputusan dari Presiden Joko Widodo untuk dapat belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah. Selain pangerten terhadap keadaan kita juga perlu pangerten terhadap orang-orang yang masih tetap harus bekerja di luar sana sebagai garda terdepan pemulihan kesehatan dan keadaan. Penulis : Burhanudin Fajri

Wabah Covid-19, Antara Jarak Fisik Dan Solidaritas Sosial Read More »

Solo Bersimfoni

Solo Bersimfoni Kenalkan Hasthalaku Melalui Model Sekolah Adipangastuti

Surakarta, 5 Agustus 2019. Solo Bersimfoni melakukan pertemuan dengan Kepala Cabang VII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah guna menindaklanjuti pertemuan dengan Walikota Surakarta F.X Hadi Rudyatmo di Balaikota Surakarta pada 23 Juli 2019 lalu. Pertemuan dengan Walikota Surakarta tersebut memutuskan dua sekolah, yaitu SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta, untuk menerapkan model Sekolah Adipangastuti. Model sekolah ini bertujuan untuk menerapkan perilaku dan sikap yang berbudaya sesuai nilai-nilai Hasthalaku dari warga sekolah, khususnya siswa-siswi selaku remaja / kelompok milenial. Parameter model Sekolah Adipangastuti diharapkan dapat memberikan panduan pelaksanaan agar lebih terukur dan sistematis, sekaligus dapat dilakukan monitoring dan evaluasi. Ditambah dengan adanya buku panduan dan juga modul Hasthalaku diharapkan dapat memberikan arahan dan penjelasan model Sekolah Adipangastuti. Model sekolah Adipangastuti adalah sebuah model untuk mengintervensi implementasi Hasthalaku atau delapan nilai-nilai budaya Jawa terpilih yaitu : Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Ewuh Pekewuh, Pangerten, Andhap Ashor dan Tepo Seliro di lingkungan sekolah melalui kebijakan pemerintah, dinas terkait dan pemangku sekolah, khususnya sekolah setingkat SMA/SMK. Walikota Surakarta sangat mendukung adanya model Sekolah Adipangastuti ini. Beliau menaruh harapan agar warga Surakarta lebih mengenal gotong royong dan persatuan sebagai Bangsa Indonesia yang tidak pernah memandang suku, ras dan agama dikarenakan adanya model Sekolah Adipangastuti ini. Cabang VII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah akan segera menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan SMAN 1 Surakarta SMAN 6 Surakarta untuk menerapkan model sekolah Adipangastuti sekaligus menyambut baik adanya rencana model sekolah Adipangastuti ini. Penulis: Burhanudin Fajri  

Solo Bersimfoni Kenalkan Hasthalaku Melalui Model Sekolah Adipangastuti Read More »

The Eight Values: Discovering the Unique Identity of Solo Youth

The history of Solo is closely entwined with the history of the Surakarta Sultanate, which followed the Mataram Sultanate. Solo is well-known as a centre of ancient Javanese culture because it has traditionally served as a political hub and centre for development of Javanese traditions.

The Eight Values: Discovering the Unique Identity of Solo Youth Read More »

solo bersimfoni

CEGAH INTOLERANSI, KEMBALI KE HASTHALAKU

Sebut saja namanya Ibu Tika. Guru salah satu SMA di Solo ini sudah lama prihatin melihat kondisi anak didiknya. Mereka seakan melupakan sopan santun. Saat berpapasan dengan guru yang tidak mengajar mereka, tak ada senyum, apalagi sapa. Keprihatinannya makin menjadi, ketika salah satu muridnya, perempuan, berencana tidak lagi meneruskan kuliah. “Saya kan perempuan, perempuan tidak perlu pendidikan tinggi,” begitu ia mengenang jawaban sang murid.

CEGAH INTOLERANSI, KEMBALI KE HASTHALAKU Read More »

MEMUPUK TOLERANSI MELALUI SEKOLAH ADIPANGASTUTI

Surakarta, Kamis 20 Juni 2019. Solo Bersimfoni mengadakan sosialisasi model sekolah Adipangastuti kepada 50 kepala sekolah dan 50 guru SMA/SMK se-Soloraya. Sekolah ini adalah sebuah model sekolah yang menerapkan sikap perilaku bijaksana, baik, lembut dan sabar dengan dengan menekankan nilai-nilai lokal budaya Jawa (Hasthalaku).

MEMUPUK TOLERANSI MELALUI SEKOLAH ADIPANGASTUTI Read More »

HASTHALAKU: Delapan Perilaku, Sebagai Identitas Karakter Pemuda Solo Berwawasan Global

  Jika dilihat dari aspek geografis dan sosial kota Solo yang terkenal dengan budaya jawa, maka hal tersebut yang akan diangkat dijadikan pedoman   Jika dilihat dari aspek geografis dan sosial kota Solo yang terkenal dengan budaya jawa, maka hal tersebut yang akan diangkat dijadikan pedoman untuk mengajarkan masyarakat Solo untuk memberi arah dan orientasi dalam berperilaku. Ungkapan tradisional merupakan bagian dari khasanah folklor. Menurut Danandjaja (1984: 17) folklor perlu dipelajari sebab folklor mengungkapkan baik secara sadar maupun tidak, bagaimana folk pendukungnya itu berpikir. Selain itu folklor juga mengabadikan apa-apa yang dirasakan penting (dalam suatu masa) oleh folk pendukungnya. Carvantes mendevinisikan ungkapan tradisional sebagai kalimat pendek yang disarikan dari pengalaman yang panjang. Sedangkan Berttrand Russel membatasinya sebagai kebijaksanaan orang banyak yang merupakan kecerdasan seorang. Berdasarkan kedua pendapat tersebut Brunvand (Danandjaja, 1984: 28) menyatakan bahwa ungkapan tradisional mempunyai 3 sifat hakiki yang perlu mendapat perhatian, yakni: Harus berupa satu kalimat, ungkapan tidak cukup hanya satu kata tradisional saja Berbentuk standar Harus mempunyai daya hidup tradisi lisan yang dapat dibedakan dari (sekedar) kalimat klise, tulisan yang berbentuk syair, iklan, reportase olah raga, dan sebagainya.   Menurut Bascom (Danandjaja, 1984: 19) kalimat-kalimat stereotipik yang telah membeku itu merupakan kebijaksanaan kolektif yang, disamping mencerminkan angan-angan kolektif, juga berfungsi sebagai alat pendidikan, maupun sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat selalu dipatuhi anggota kolektifnya. Dalam hal ungkapan tradisional Jawa, menurut Suprayitna (1986: 448), sekalipun dewasa ini sudah tidak produktif lagi, tetapi jelas merupakan warisan rokhani yang telah melembaga dalam kehidupan seluruh lapisan folk pendukungnya. Ungkapan tradisional Jawa dibedakan menjadi tiga kelompok, yakni paribasan, bebasan dan saloka. Namun dalam kehidupan sehari-hari, untuk mudahnya hanya disebut paribasan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, yang dimaksud dengan ungkapan tradisional Jawa yakni semacam paribasan, yang bagi masyarakat Jawa merupakan kebijaksanaan lokal (local wisdom) warisan yang dapat dipergunakan sebagai patokan bagi tingkah laku pribadi dan kontrol sosial. Seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman, sering kali ungkapan tradisional tidak relevan lagi untuk diterapkan. Namun demikian sebagai kebijaksanaan (wisdom), ungkapan tradisional mestinya dimaknai secara positif. Saat ini sering kali muncul penggunaan ungkapan tradisional yang disikapi secara negatif sehingga maknanya tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Hal yang demikian inilah yang sebenarnya perlu ditinjau ulang pemaknaannya, meskipun tidak dapat berlaku bagi semua ungkapan tradisional. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya jawa banyak yang mengandung nilai-nilai positif kehidupan. Delapan nilai yang dikembangkan ini disebut sebagai “Hasthalaku Solo” (Hastha = delapan, Laku = nilai perilaku) yakni: Gotong Royong, Grapyak Semanak (ramah tamah), Guyub Rukun (kerukunan), Lembah Manah (rendah hati), Ewuh pekewuh (saling menghormati), Pangerten (saling menghargai), Andhap Asor (berbudi luhur), dan Tepa Slira (tenggang rasa). Delapan nilai tersebut berkaitan erat terhadap nilai-nilai dalam kehidupan yang harmonis dan toleran. Gotong Royong Gotong royong berasal dari bahasa Jawa dari kata gotong yang artinya memikul atau mengangkat dan royong yang artinya bersama-sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gotong royong adalah bekerja bersama-sama secara tolong menolong, bantu membantu. Dalam bahasa Inggris, gotong royong disebut sebagai mutual assistance. Gotong royong merupakan istilah asli Indonesia yang menjadi landasan semangat membangun bangsa. Melalui pidatonya kepada peserta sidang BPUPKI, Presiden Soekarno menyampaikan makna gotong royong sebagai pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, dan perjuangan bantu-membantu bersama. Pada Pancasila, semangat gotong royong tertuang terutama dalam sila ketiga dan sila keempat. Gotong royong sesuai dengan definisi Aristoteles tentang manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan manusia lain. Interaksi yang terjadi antara manusia tersebut diantaranya berbentuk kegotongroyongan. Gotong royong saat ini jarang digunakan masyarakat untuk menyebut kerja sama, mereka lebih sering menggunakan istilah cooperate, sharing, dan lain sebagainya. Padahal, semua kegiatan tersebut merupakan bentuk gotong royong. Sehingga dapat dikatakan bahwa gotong royong tidak lekang oleh perubahan jaman. Kegiatan penggalangan dana (fundraising) untuk membantu korban bencana alam misalnya, merupakan istilah modern yang menggunakan konsep gotong royong. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia merupakan bentuk solidaritas sosial. Sebagai contoh adalah kegiatan bersih desa, kerja bakti, kirab budaya merupakan bentuk kegotongroyongan masyarakat yang sudah dikenal sejak jaman dahulu. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang didalamnya kaya akan nilai edukatif. Koentjaraningrat membagi gotong royong menjadi dua jenis, gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Gotong royong tolong menolong terjadi pada aktivitas pertanian, rumah tangga, hajatan atau pesta, perayaan, serta peristiwa bencana. Gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu yang untuk kepentingan umum seperti bersih desa. Gotong royong mustahil dilakukan jika di dalam diri masyarakat tidak ada rasa empati atau saling mengasihi. Gotong royong perlu tetap dipupuk dan dipelihara sebagai nilai kekayaan bangsa meskipun zaman berkembang secara cepat. Nilai gotong royong ada dalam Pancasila yang didalamnya terkandung nilai kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, serta keadilan sosial. Sejarah gotong royong tidak terlepas dari sejarah Indonesia yang sebagian besar penduduknya petani dan sering melibatkan banyak saduara atau tetangga pada saat menanam padi maupun panen. Beberapa daerah di Jawa misalnya, dikenal istilah sambatan yang sering dijumpai pada orang yang memiliki hajat. Sambatan berasal dari kata sambat yang maknanya meminta pertolongan sehingga melibatkan banyak orang. Ferdinand Tonnies menyebut istilah gotong royong sebagai gemeinschaft karena masyarakat secara bersama-sama dan sukarela melakukan kegiatan untuk tujuan bersama, meskipun kini sudah banyak berubah menjadi tidak lagi secara sukarela. Grapyak Semanak Menurut Baosastra Djawa karya Poerwodarminto, Grapyak artinya seneng aruh-aruh (menyapa) dan semanak berarti hangat dan mudah akrab 1939: 162, 351). Sikap grapyak semanak dapat mencerminkan nilai Pancasila yaitu Sila ke-2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Grapyak dan semanak ditunjukkan dengan kebiasaan untuk menyapa kepada kenalan atau orang yang ditemui. Sikap grapyak semanak adalah sikap pada diri seseorang yang akrab dalam pergaulan seperti suka senyum, sopan serta hormat dalam berkomunikasi, suka menyapa, serta suka membantu tanpa pamrih. Sikap grapyak semanak dapat menjadikan orang yang baru saja ditemui merasa nyaman dan tidak merasa terasing serta dapat membunuh kejenuhan dan memecahkan kekakuan dan kebuntuan komunikasi. Sebagai pribadi yang senang berkelompok dan bersahabat manusia Jawa tidak bisa hidup menyendiri. Mereka bersosialisasi dengan orang lain untuk menjaga kenyamanan hidup. Oleh karena itu, mereka selalu mencoba menambah kerabat atau kenalan dan berusaha mempertahankan kekerabatannya dengan membentuk diri sebagai pribadi yang grapyak dan semanak. Masyarakat yang memegang

HASTHALAKU: Delapan Perilaku, Sebagai Identitas Karakter Pemuda Solo Berwawasan Global Read More »