Blog

K-POP DAN EKSISTENSI BUDAYA JAWA

Di era digital saat ini banyak fenomena yang membuka mata kita bahwa ternyata Indonesia juga menjadi sorotan dunia. Remaja Indonesia yang menjadi pengguna aktif media sosial telah menjadi target market yang menjanjikan bagi pasar industri ekonomi kreatif negara-negara lain, tak terkecuali Korea. Berbicara tentang kontribusi masyarakat Indonesia sebagai konsumen industri hiburan Korea, rilis data dari Twitter Indonesia melaporkan bahwa percakapan dengan tema K-Pop telah mencapai 7,5 miliar tweet selama periode Juli 2020 hingga Juli 2021. Angka tersebut merupakan capaian rekor tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya Indonesia berada di posisi teratas sebagai negara dengan volume tweet dan jumlah unique authors terbanyak di Twitter yang memperbincangkan tentang K-Pop. Unique Authors merupakan akun-akun yang aktif mengamplifikasi kampanye melalui penggunaan tanda pagar (hashtag) bukan hanya audiens yang aktif membuat cuitan atau menyimak tema yang diperbincangkan di Twitter. Indonesia juga merupakan salah satu dari lima negara penyumbang tweet tertinggi di dunia tentang K-Pop diantara ke empat negara lain yaitu Filipina, Thailand, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Peluang ini dimanfaatkan banyak E-commerce dari Indonesia yang menggandeng para influencer dan artis K-Pop menjadi brand ambassador mereka. Para artis K-Pop dan influencer ini diharapkan dapat memberi pengaruh terhadap konsumen yang rata-rata berasal dari para milenial dan generasi Z atau para pecinta K-Pop (K-POPers). Salah satu fenomena yang kita temui di akhir Januari 2022 lalu saat jagad maya dihebohkan dengan kemunculan video berdurasi pendek yang memperlihatkan tiga orang personel boyband NCT yaitu Mark, Jaemin dan Jisung sedang menari. Melihat artis K-Pop menari tentunya bukanlah hal aneh, namun yang membuat netizen khususnya warga Indonesia merasa terkejut adalah lagu yang mengiringi tarian mereka bukanlah lagu Korea seperti biasa melainkan lagu dangdut asli Indonesia yang berbahasa Jawa. Ketiga personel NCT tersebut menirukan gerakan tarian atau koreografi yang beberapa waktu lalu menjadi tren para pengguna media sosial di Indonesia. Lagu berjudul berjudul “Mendung Tanpo Udan” yang dinyanyikan oleh Ndarboy Genk merupakan salah satu lagu dangdut berbahasa Jawa yang memang asyik dan enak didengar. Ndarboy Genk sendiri adalah sebuah proyek solo dari seorang musisi Yogyakarta bernama Helarius Daru Indrajaya. Sedangkan pencipta lagu tersebut adalah seorang seniman Bernama Kukuh Prasetya Kudamai. Deretan komentar seperti “NCT melokal!” mewarnai unggahan video tarian (dance) dari Boy Band Korea tersebut. Semula banyak orang mengira video tersebut adalah hasil editan. Namun netizen kaget sekaligus bangga karena video yang menggunakan latar lagu Indonesia tersebut diunggah di akun media sosial resmi NCT Dream. Tentunya momen dance cover Mendung Tanpo Udan oleh NCT ini adalah sebuah refleksi bagi kita akan besarnya potensi pengaruh budaya Jawa yang kita miliki di kancah dunia. Bahkan Korean wave yang dikenal secara global pun terinspirasi dengan budaya Jawa. Jika kita menilik perjalanan masa lalu yang dialami negara Korea dan Indonesia, keduanya memiliki latar belakang pembentukan budaya yang sangat berbeda. Banyak pondasi yang membentuk budaya Korea hingga menjadi seperti sekarang ini, salah satunya adalah pengalaman pahit Korea yang pernah dijajah oleh negara Jepang pada Perang Dunia II. Setelah Korea Selatan merdeka, maka mereka tidak mau menginfiltrasi budaya dari dua negara yang menghimpitnya yaitu Jepang dan Tiongkok. Mereka melakukan pendekatan yang sama sekali baru dengan membangun kebudayaan mereka sendiri dari nol. Berbeda dengan Korea, budaya Jawa telah terbentuk sejak zaman kerajaan, bahkan menjadi cikal bakal peradaban dunia. Manusia purba paling maju yaitu Homo Soloensis yang pertama kali menggunakan peralatan dan perkakas dari serpihan batu ditemukan di Jawa Tengah tepatnya di tepi Bengawan Solo, Sangiran dan Sragen. Selain itu di bidang Sastra, keraton Kasunanan Solo telah melahirkan pujangga besar Ronggowarsito yang hingga kini diwariskan kepada para penerusnya. Di bidang industri, Jawa Tengah juga menjadi pusatnya sejak zaman kolonial dengan berdirinya 296 pabrik gula besar yang beroperasi di wilayah tersebut.. Aset peninggalan budaya yang telah diwariskan sejak zaman dahulu bukan hanya dalam bentuk fisik namun juga berupa budaya perilaku. Perilaku masyarakat Jawa yang sarat nilai karakter yang baik sebagai jati diri bangsa hendaknya terus dijaga dan dilekatkan kepada generasi muda melalui berbagai media. Salah satu upaya mengenalkan kembali budaya adiluhung Jawa dilakukan oleh organisasi Solo Bersimfoni. Organisasi yang digerakkan oleh para tokoh dan agen anak muda Solo ini mengangkat budaya Hasthalaku yaitu delapan sikap perilaku masyarakat Jawa yang terdiri dari Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Pangerten dan Tepa selira. Ke-8 perilaku yang menjadi budaya sejak zaman nenek moyang masyarakat Jawa ini masih sangat relevan untuk diimplementasikan di masa sekarang. Dengan Hasthalaku maka harmoni kebhinekaan dan persatuan antar budaya dapat diorkestrasikan menjadi sebuah simfoni yang selaras dan mengikuti dinamika perkembangan zaman. Di bidang Pendidikan pada kurikulum paradigma baru, salah satu unsur Hasthalaku yaitu Gotong royong menjadi bagian dari dimensi Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila sendiri merupakan perwujudan dari pelajar Indonesia yang memiliki semangat belajar sepanjang hayat, memiliki kompetensi global, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di mana terdapat enam dimensi komponennya antara lain beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Pemerintah melalui Kemdikbud juga telah memfasilitasi dengan berbagai program, salah satunya adalah program Belajar Bersama Maestro dimana para pelajar dapat bertatap muka dan belajar langsung dari para maestro seni dan budaya serta terlibat langsung dalam proses kreatif dan keseharian para seniman dan budayawan. Sehingga dalam proses tersebut para pelajar mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup yang berharga dan diharapkan mampu membentuk dan memperkuat jati diri pelajar sebagai penentu karakter bangsa di masa yang akan datang. Dengan melihat Kembali potensi yang dimiliki masyarakat Jawa dan kekayaan budaya yang dimilikinya, maka budaya Jawa akan tetap eksis bahkan dapat bersaing dengan negara-negara lainnya. Meskipun derasnya arus globalisasi seperti merebaknya budaya K-Pop atau Korean Wave tidak dapat kita bendung. Budaya luar akan menambah khasanah dan inspirasi kita dalam berkarya, namun pengetahuan dan ketrampilan global yang dimiliki para generasi muda akan tetap selaras dengan budayanya sebagai jati diri bangsa yang tidak akan tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi. Setiap tempat dapat menjadi pusat budaya. Budaya adalah ekosistem yang dapat menumbuhkan berbagai aspek kehidupan lainnya seperti ekonomi, politik dan sosial dengan baik. Kolaborasi dari berbagai unsur dapat saling mengisi sehingga menguatkan keberadaan budaya Jawa yang kita miliki. Pemerintah dengan kebijakannya, masyarakat khususnya generasi muda dengan kreatifitasnya

K-POP DAN EKSISTENSI BUDAYA JAWA Read More »

MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA

Pandemi yang kita hadapi saat ini telah membawa berbagai permasalahan pelik dalam dunia pendidikan. Siswa menjadi salah satu unsur dalam sistem pendidikan yang terdampak oleh pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan (daring). Banyaknya tugas yang menumpuk menjadikan mereka merasa stress dan kelelahan dalam mengejar deadline. Belum lagi tugas-tugas tersebut diberikan oleh banyak guru mapel dan harus diselesaikan dalam waktu yang singkat. Persoalan lainnya adalah kurangnya interaksi guru dan murid dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang membuat murid merasa jenuh serta tidak memiliki gairah dalam belajar. Ini tentu menjadi sebuah hal yang kontradiktif ketika saat ini program merdeka belajar tengah menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan kita. Di mana konsep merdeka belajar adalah agar murid merasa bahagia dalam menempuh pendidikan. Namun kenyataannya justru murid merasa terbelenggu dengan proses belajar itu sendiri. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 13-20 April 2020 lalu, dari 1.700 responden sebanyak 77,8% memiliki kesulitan berupa tugas yang menumpuk. Sedangkan 37,1% responden mengeluhkan tugas dari guru dengan waktu pengerjaan yang sempit sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan. Responden tersebut merupakan gabungan siswa dari jenjang TK sampai SMA/sederajat yang tersebar di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota di Indonesia. Responden sebesar 79,9% mengatakan bahwa interaksi murid dan guru sangatlah minim. Interaksi dalam PJJ hanya berlangsung saat guru memberikan dan menagih tugas saja. Sedangkan 87,2% murid menyatakan bentuk interaksi yang paling sering dilakukan adalah melalui percakapan via aplikasi online chat yang masih kurang efektif sebagai sarana komunikasi antara guru dan murid. Tentu bisa dibayangkan bagaimana tekanan yang dirasakan oleh murid untuk menyelesaikan tugas yang sangat banyak. Mereka seharusnya dapat menyerap ilmu yang diberikan guru dengan optimal tetapi justru kehabisan waktu dan energi hanya untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum tentu mereka pahami. Sebagai seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saya sendiri merasakan problem tersebut. Kondisi yang saya amati dalam proses belajar mengajar di sekolah pada umumnya belum mencerminkan apa yang menjadi tujuan konsep belajar Kurikulum Paradigma Baru, yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid. Guru seharusnya dapat memberikan keleluasaan kepada murid untuk belajar dengan menyenangkan tanpa tekanan. Penggunaan Learning Management System (LMS) yang kurang optimal tidak bisa memberikan ruang terjadinya interaksi dua arah antara guru dan murid. Kebanyakan guru hanya mengunggah materi dan tugas di platform Google Classroom yang harus diselesaikan oleh murid secara mandiri. Sebagian besar guru tidak memberikan kesempatan siswa untuk berkonsultasi terkait tugas mereka ketika mengalami kendala. Beberapa murid bahkan mencari jalan pintas dengan menyalin pekerjaan temannya, namun tidak memahami materi yang diajarkan. Banyak murid kesusahan karena tugas yang menumpuk. Guru pun tak kalah susah dengan pelaporan jurnal dan administrasi yang cukup merepotkan. Pada akhirnya yang terjadi adalah proses pembelajaran yang hanya sekedar menjadi sebuah aktivitas untuk menggugurkan kewajiban, tetapi kurang bermakna. Pembelajaran daring sampai saat ini masih dijalani oleh guru dan murid meskipun Pembelajaran tatap Muka (PTM) sebagian sudah mulai dilakukan. Guru dituntut agar lebih kreatif dalam mengelola kelas, melakukan inovasi dan mengembangkan metode mengajar sehingga kelas lebih interaktif. Proses pembelajaran hendaknya dikondisikan agar membuat siswa lebih terlibat secara penuh. Tatap maya dengan memanfaatkan aplikasi seperti Google Meet dan Zoom dapat dilakukan untuk mewadahi siswa dalam menyampaikan ide-idenya. Fitur Share Screen dalam aplikasi video conference dapat dioptimalkan untuk memberi kesempatan pada siswa dalam menyampaikan paparan materi secara menarik menggunakan bahasanya sendiri. Aplikasi yang mendukung pembelajaran secara visual seperti Canva juga bisa menjadi pilihan dalam membuat presentasi yang menarik sehingga pembelajaran di kelas berlangsung seru dan asyik. Murid perlu diberi kesempatan untuk mengekspresikan bagaimana suasana hatinya pada saat pembelajaran dan memberi umpan balik kepada guru. Ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi papan tulis virtual seperti mentimeter, padlet atau jamboard. Selain menjalin komunikasi dua arah, kegiatan menyenangkan semacam ini juga penting sebagai refleksi dan evaluasi guru dalam menjalankan tugas mengajarnya. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru. Guru hanyalah fasilitator dan pelayan murid yang menunjukkan sikap among, serta mendengar apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan muridnya. Jika diibaratkan sebuah gambar, maka para murid ini memiliki garis-garis tipis yang harus ditebalkan oleh guru dengan memberikan penguatan dan bimbingan dalam proses belajar. Sudah saatnya seorang guru mampu menjalankan perannya sebagai pendidik untuk memberikan  pembelajaran yang bermakna. Guru hendaknya bisa membuat para murid menikmati dan mencintai proses belajar dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Sumber daya yang ada dapat dioptimalkan dalam berinovasi. Guru hendaknya terus melakukan refleksi dan evaluasi diri. Hal ini penting bagi perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Perlu disadari bahwa murid merupakan individu dengan karakter yang unik dan potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mereka juga memiliki kebutuhan yang beragam karena berangkat dari berbagai latar belakang. Pembelajaran yang menyenangkan akan membuat kelas maya dipenuhi dengan senyum dari wajah-wajah ceria seperti yang kita dambakan. Merdeka belajar bukan hanya sekedar angan-angan,  namun dapat kita wujudkan dengan melakukan perubahan.   Penulis : Asri Pujihastuti,S.Pd. Sahabat Simfoni dan Guru SMKN 7 Surakarta Pernah dimuat di Koran Solo Tanggal : Sabtu, 7 Desember 2021

MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA Read More »

Bhinneka Bertaut: Versi Anak Muda Solo

Jumat, 10 September 2021 telah dilaksanakan kegiatan virtual Bhinneka Bertaut: Versi Anak Muda Solo. Kegiatan ini diinisiasi oleh Kantor Berita Radio, KBR, bekerja sama dengan Solo Radio dan didukung oleh Solo Bersimfoni. Selama satu jam tiga puluh menit, tiga narasumber bercerita mengenai bagaimana dan mengapa anak muda harus terlibat dalam keberagaman, tidak sekadar dipajang saja.

Bhinneka Bertaut: Versi Anak Muda Solo Read More »

ADIPANGASTUTI

  Tahun ajaran baru dimulai tengah bulan juli. Pandemi malah kian menjadi. Pembelajaran yang sedianya akan dilaksanakan tatap muka terbatas urung dilaksanakan. Sejak belajar dari rumah digulirkan muncul kekhawatiran tentang bagaimana pendidikan karakter anak terbentuk. Sebab sekolah tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan sekolah adalah tempat bertumbuh anak-anak, tempat mereka bersosialisasi, tempat menempa karakter diri. Peran keluarga memang jadi dominan saat pembelajaran dari rumah dilaksanakan, namun sejak dahulu tak pernah ada sekolah untuk menjadi orang tua. Diskusi tentang mendidik anak memang banyak dipaparkan para ahli dan disimak orang tua yang peduli. Tingkat kepedulian orang tua untuk mencari ilmu mendidik anak, belum diketahui seberapa besar. Mau tidak mau sekolah menjadi harapan untuk mendidik tidak sekedar mengajar. Pencapaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan bisa diukur dengan kuis. Ketercapaian peserta didik dalam menguasai materi sesuai kurikulum nisa ditempuh dengan pola pengajaran daring saat ini. Ketika tehnologi telah sedemikian mendukung pembelajaran dari rumah, guru tetap bisa asyik menyampaikan materi sesuai kurikulum. Guru bisa mengadakan ulangan selayaknya dulu tatap muka. Guru bisa mengukur kemampuan siswa dengan perwujudan nilai yang akhirnya tersaji di rapot. Untuk pendidikan karakternya bagaimana? Setiap guru pastinya menyampaikan tentang karakter yang baik. Dalam kegiatan mengajar mereka, pasti terselip nasehat tentang kebaikan. Lalu keefektivan dari pendidikan karakter yang tersirat ini bisa dilihat dari apa? Suatu kali saat menjadi pembicara pada bincang-bincang tentang persiapan pembelajaran daring tahun lalu, ada pertanyaan mengelitik. Bila pembelajaran daring  pendidikan karakter disampaikan bagaimana agar efektif. Jangankan daring saat tatap muka saja saya bingung ketika ditanya tentang tolak ukur keberhasilan dari pendidikan karakter yang disampaikan. Karena tidak mudah mengukur apakah sikap siswa baik atau tidak. Penilaian sikap memang dilakukan, namun saya hanya mencatat anak yang berkelakuan menonjol. Unggul dalam kebaikanya, sebagai contoh tanpa diminta ada anak yang maju membersihkan papan tulis. Menonjol dalam keusilanya, sebagai contoh tiba-tiba anak ini main bola di kelas padahal ada guru mengajar di kelas. Namun kekhususan ini bagi saya terlalu dangkal untuk dijadikan bahan penilaian. Karena bisa saja anak yang membersihkan papan tulis memang hari itu dia piket dan bertugas membersihkan papan tulis, sedang yang menyapu pagi hari dan siang sepulang sekolah anak yang lain yang tidak sempat saya lihat. Demikian sebaliknya, siswa yang tiba-tiba bermain saat pelajaran jangan-jangan dia memang tipikal belajar kinestetik, yang harusnya ini bisa menjadi refleksi guru dalam mengajar bukan menjadi tersangka kegaduhan kelas, lalu diberi nilai buruk pada sikap. Membentuk karakter peserta didik melalui pendidikan karakter mulai digaungkan tahun 2011 sepuluh tahun berlalu dan saya masih gamang tentang karakter bagaimana yang harusnya dimiliki oleh anak. Karena pada awalnya kementrian pendidikan merumuskan karakter yang terintegrasi ke mata pelajaran yaitu  (1) Religius, (2) Kejujuran, (3) Kecerdasan, (4) Ketangguhan, (5) Kedemokratisan, (6) Kepedulian, (7) Kemandirian, (8) Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, (9) Keberanian mengambil risiko, (10) Berorientasi pada tindakan, (11) Berjiwa kepemimpinan, (12) Kerja keras, (13) Tanggung jawab, (14) Gaya hidup sehat, (15) Kedisiplinan, (16) Percaya diri, (17) Keingintahuan, (18) Cinta ilmu, (19) Kesadaran akan hak dan kewajiban diri (20) Kepatuhan terhadap aturan-aturan sosial, (21) Menghargai karya dan prestasi orang lain, (22) Kesantunan, (23) Nasionalisme, (24) Menghargai keberagaman (Pendidikan Karakter Menurut Kemendikbud (Telaah Pemikiran atas Kemendikbud) ,Achmad Dahlan Muchtar, Aisyah Suryani,  Jurnal Pendidikan – Vol 3 No. 2 (2019)) terlalu banyak yang harus dimasukan dalam mata pelajaran ini tidak hanya membingungkan peserta didik namun juga guru yang harus mengintegrasikan karakter ini masuk dalam pembelajaran Penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas presiden Joko Widodo dan wapres Jusuf kala. Dalam nawa cita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Kementerian  Pendidikan dan kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016. Setahun berselang kemdikbud menyederhanakan kembali karakter yang berjumlah lebih dari dua puluh itu menjadi lima karakter utama yaitu, religius,nasionalis, integritas, mandiri, gotong royong. Pelaksanaan tetaplah tidak sederhana, karena berbagai upaya telah dilakukan sekolah dalam penguatan pendidikan karakter namun masih adanya pelaku kejahatan dari pelajar ini menjadi catatan tersendiri. Sudah efektifkah pendidikan karakter yang dilakukan di sekolah. Karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik watak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Nilai karakter yang dirumuskan oleh Kementerian Pendidikan adalah nilai karakter yang umum untuk seluruh daerah di Indonesia. Bila karakter adalah nilai khas, apakah tidak lebih baik bila nilai karakter diambil dari daerah masing-masing. Karena setiap daerah memiliki potensi dan memiliki kearifan lokal. Surakarta merupakan kota Budaya di Jawa Tengah, memiliki banyak sekali kearifan lokal yang bisa diintegrasikan untuk pendidikan karakter. Pengintegrasian dari budaya setempat tentu lebih mudah karena orang tua dan peserta didik tumbuh dan berkembang di lingkungan setempat. Namun formulasi yang bagaimana agar kearifan lokal ini bisa menjadi pendidikan karakter. Sebuah terobosan dilakukan oleh perkumpulan Solo Bersimfoni, setelah melalui kajian panjang sejak tahun 2018 tercetuslah ide tentang Sekolah Adipangastuti. Sekolah adipangastuti berbeda dengan program yang ada yang menjadikan sekolah sebagai sasaran program. Bila di program yang lain guru terbebani untuk memasukan program pada administrasi pembelajaran. Sekolah Adipangastuti tidak demikian, yang diutamakan justru kepada peserta didik. Bagaimana peserta didik bisa memahami hasthalaku yang menjadi ruh dari program sekolah adipangastuti. Pemahaman yang didapat peserta didik justru didapat dari media kekinian, juga penyampaian oleh teman dalam bentuk grafis dan audiovisual. Pada awalnya warga sekolah diberikan penjelasan tentang hasthalaku, yaitu delapan nilai karakter yang bersumber dari budaya jawa, gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, tepa selira, andhap asor. Produk nyata dari sekolah adipangastuti adalah literasi dan publikasi. Semua warga sekolah tahu nantinya kita akan membuat sesuatu berdasarkan pemahaman kita tentang hasthalaku. Guru dengan suka rela menjadikan hasthalaku sebagai tema dalam kegiatan mengajarnya, secara tidak langsung guru mengintegrasikan kepada pembelajaran. Pada pelajaran bahasa hasthalaku ini menjadi tema untuk siswa berkarya. Sebelum mereka menulis pasti mereka akan mencari tahu lebih dalam tentang tema yang disodorkan guru, ini adalah langkah yang baik untuk mengajak siswa mengenal budaya dan nilai karakter yang baik. Pada pelajaran seni hasthalaku juga menjadi tema, ketika anak berkarya dia mengaplikasikan pengetahuan, pengalaman dan nilai karakter yang disajikan. Karena berasal dari kearifan lokal

ADIPANGASTUTI Read More »

MENGAPA ORANG INDONESIA SUKA INTERNET?

Pertama, internet menyampaikan informasi dengan sangat cepat. Kedua, internet membuat semua orang saling terhubung, mendekatkan yang jauh tanpa batas negara dan waktu. Ketiga, biaya internet relatif murah. Kesiapan Indonesia atas hadirnya perkembangan internet salah satunya ditandai dengan peluncuran Program Indonesia Makin Cakap Digital 2021 yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, serta perwakilan Pimpinan Daerah di seluruh Indonesia pada 20 Mei 2021di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. Berdasarkan We Are Social terdapat 175,4 juta pengguna internet di Indonesia pada 2020 dan terhitung per Januari 2021 terdapat 202,6 juta pengguna internet. Artinya pada saat kamu membaca tulisan ini, pengguna internet di Indonesia akan terus mengalami lompatan tinggi. Internet tidak bisa lepas dari kehadiran media sosial yang sangat digandrungi oleh masyarakat. Terbukti dengan adanya 170 juta pengguna sosial media di Indonesia per Januari 2021. Bagaimana dengan jumlah pengguna media sosial tahun 2022 nanti? Kalian pasti bisa membayangkannya. Perkembangan internet dan media sosial juga tak luput dari warganet yang mempunyai dua sisi. Bicara soal kekuatan warganet Indonesia tentu kita semua sudah paham betul berbagai fenomena pelanggaran di internet dan media sosial hingga akhirnya dalam Digital Civility Index (DCI), warganet Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara sebagai pengguna media sosial yang paling tidak sopan di wilayah tersebut[1] sepanjang 2020. Penelitian tersebut membuktikan bahwa etika bermedia sosial perlu dipegang teguh oleh setiap masyarakat terutama para netizen Indonesia saat berseluncur di internet. Internet sangat bermanfaat jika digunakan secara positif dan maksimal. Memang benar apa yang ditawarkan oleh Internet salah satunya adalah kebebasan tapi bukan tak ada batasnya. Siapa yang membatasi? Ya kita sendiri sebagai penggunanya dengan menggunakan etika dalam bermedia sosial. Kita coba ingat lagi ke belakang, pada saat tim Indonesia dipaksa mundur dari All England 2021 yang kemudian disusul dengan serbuan netizen Indonesia ke akun media sosial BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia). Ada lagi peristiwa saat Dewa Kipas menang melawan GothamChess pada pertandingan catur online di platform Chess.com, yang menyebabkan fans dari Gothamchess tidak terima dan ditanggapi dengan serbuan komentar jahat dari warganet Indonesia di akun media sosial Gothamchess. Dua kasus tersebut menjadikan pemakluman bahwa netizen Indonesia masuk urutan terbawah. Berbagai contoh di atas membuktikan bahwa akses informasi yang sangat cepat tidak diimbangi dengan literasi digital. Berita yang diterima langsung ditelan mentah-mentah tanpa disaring terlebih dahulu. Saat berselancar di internet, kita harus menerapkan nilai hasthalaku seperti pangerten dengan memberikan komentar yang baik pada postingan orang lain, sehingga juga akan mendapatkan respon baik dari pemilik konten. Dengan memilih kata-kata yang baik, maka nilai guyub rukun akan selalu terjaga. Selain itu, nilai lembah manah juga harus diterapkan untuk membuat orang lain nyaman. Contohnya dengan menghindari membuat kegaduhan dengan orang lain di media sosial. Jika berbeda pendapat dengan orang lain di media sosial, hendaknya menyelesaikan dengan baik dan sebaiknya tidak dalam forum yang bisa dibaca publik. Marilah bergotong royong menyebarkan konten positif seperti donasi, bukan malah gotong royong yang bikin emosi. Etika, tata krama dan sopan santun di dunia nyata semestinya juga berlaku di dunia maya meskipun hal itu tidak tertulis.   Penulis : Burhanudin Fajri [1] https://indonesiabaik.id/infografis/benarkah-netizen-indonesia-paling-tak-sopan-se-asia

MENGAPA ORANG INDONESIA SUKA INTERNET? Read More »

Ada Hasthalaku dalam Film You and I

Apakah kalian sudah menonton Film You and I garapan sutradara Fanny Chotimah dan diproduseri oleh KawanKawan Media? Kalau sudah, mari kita tersenyum mengenang Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. Jika belum, mari menonton di Bioskop Online*. Cukup dengan sepuluh ribu rupiah, kita bisa merasakan bagaimana rasa saling cinta yang ada pada kedua sahabat tersebut bercampur dengan rasa haru,  membuncah dan meninggalkan rasa menyenangkan setelah menonton film ini. Hangat sampai ke hati. Film You and I berhasil menyabet berbagai penghargaan, diantaranya Asian Perspective Award dari 12th DMZ International Documentary Film Festival, Official Selection di Asian Vision dari Singapore International Film Festival 2020 dan Next:Wave Award di CPH:DOX International Film Festival di Denmark 2021. Selain itu di dalam negeri film ini memenangkan Film Dokumenter Panjang Terbaik dari Festival Flm Indonesia 2020 dan Piala Maya 9. Film dokumenter berdurasi 72 menit ini bercerita tentang kisah Kusdalini dan Kaminah di masa tua. Pemeran utamanya adalah mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Awal mula diceritakan bagaimana mereka bertemu yang kemudian menjadi sahabat tak terpisahkan sampai maut menjemput.   Diceritakan saat masih belia, mereka bertemu di penjara pada tahun 1965 sebagai tahanan politik. Ketika Kusdalini keluar dari penjara tahun 1967, setiap hari dia mengunjungi Kaminah meski sempat ditakut-takuti oleh petugas penjara. Kaminah keluar dari penjara pada tahun 1972. Saat dia keluar, keluarga menolaknya. Apa yang kemudian terjadi padanya? Berlokasi di Solo, proses pengambilan video memakan waktu cukup lama, yaitu empat tahun dari 2016 sampai 2020. Fanny Chotimah mengatakan, “Awalnya kami tidak langsung melakukan take video, setiap hari saya dan tim ke rumah mereka hanya untuk mengobrol agar suasana menjadi menyenangkan.” Sungguh suatu pangerten yang luar biasa, bukan? Kalau diperhatikan, banyak nilai hasthalaku yang ada dalam film ini. Bagaimana guyub rukun mereka tampak dari dialog “We only have each other” yang sangat mendebarkan hati. Tetangga sekitar mereka pun selalu bergotong royong membantu setiap ada kesulitan, seperti saat mengganti atap rumah maupun mengantar ke Rumah Sakit saat Mbah Kus menurun kesehatannya dan harus dirawat inap. Bagaimana pangerten yang ada pada keduanya, untuk selalu menemani dalam suka dan duka. Bagaimana teman-teman mereka tetap grapyak semanak bersilaturahmi setiap bulan, meski sudah tak muda lagi. Orang-orang ini sungguh bisa disebut sebagai agen hasthalaku. Tak hanya sebagai teori tetapi juga praktek nyata sehari-hari. Hasthalaku adalah nilai budaya baik yang sewajarnya diterapkan dalam keseharian semua orang diusia berapapun. Jika Mbah Kam dan Mbah Kus saja bisa, anak muda tentunya harus bisa.   Selamat menghabiskan waktu berdua dengan bahagia di atas sana, Mbah Kam dan Mbah Kus. Dengan penuh cinta, Solo Bersimfoni   Penulis : Tia Brizantiana

Ada Hasthalaku dalam Film You and I Read More »

MANA BUDAYA KITA

MANA BUDAYA KITA

Indonesia memiliki budaya yang beragam. Tiap propinsi memiliki budaya masing-masing. Jawa tengah yang terdiri dari 35 kabupaten/kota tentu memiliki 35 kekhasan daerah masing-masing. Kekayaan budaya yang kita miliki tak perlu diragukan lagi. Bila ingin mengadakan dialog pengembangan perbedaan dan keragaman budaya kita tidak akan kekurangan bahan obrolan saat mengulik budaya di sekitar kita. Untuk bisa berdialog tentang keragaman tentunya kita harus memahami budaya kita sendiri, budaya dimana kita berpijak atau budaya dimana kita terlahir. Pemahaman tentang kebudayaan sendiri sayangnya hanya terhenti pada seremonial, nilai budaya yang lebih banyak tersembunyi pada lambang-lambang benda yang digunakan saat upacara adat masih tersimpan belum banyak diketahui. Penjagaan budaya saat ini dilakukan dengan berbagai cara. Namun cara yang ditempuh sepertinya belum menyentuh generasi muda untuk mencintai budaya sendiri. Hal ini tampak dari minimnya kunjungan ke museum sebagai salah satu sumber belajar budaya. Narasi yang dicetuskan anak-anak milenial masih sedikit yang mengulik secara mendalam tentang kebudayaan sendiri.  Di tempat saya mengajar ekstrakurikuler budaya jepang lebih diminati dari pada ekstra kurikuler karawitan atau tari tradisional jawa. Sebuah ironi karena kita berada di jantung pusat kebudayaan jawa, dan mereka memilih mengikuti ekstrakurikuler budaya negara lain. Kita tidak begitu saja menyalahkan mereka, mereka berbuat seperti itu karena sungguh mereka tidak tahu betapa menariknya kebudayaan kita. Media berpengaruh besar kepada ketertarikan seseorang. Saat ini media lebih memilih menampilkan drama dari belahan dunia lain dibanding mengangkat cerita asli dari kebudayaan sendiri. Pada pelajaran yang mereka dapat di sekolah mereka hanya mendapatkan cerita monoton yang diulang sejak SD hingga ia besar. Tentunya kaum milienial itu akan bosan, mereka juga tidak memiliki referensi lain tentang cerita asli Indonesia. Perlu berbagai pendekatan agar milenial ini kembali mencintai budaya sendiri, mereka bukan tidak cinta hanya tidak tahu. Semacam tak kenal maka tak sayang, seperti itulah generasi muda pada budayanya. Bagaimana mereka akan sayang, kenalpun mereka tidak.  Mereka butuh pengenalan dengan cara mereka, cara yang mereka suka bukan cara kita generasi pendahulu, yang kadang langsung menilai bahwa anak-anak muda sekarang tak tahu adat. Kita lupa bila yang menyebabkan mereka tak tahu adat adalah generasi sebelumnya yang tidak mentranfer pengetahuan tentang kebudayaan kepada generasi muda. Kebudayaan kita termasuk budaya yang maju, kebudayan kita memiliki aksara sebagai wujud dari kemajuan literasi mereka pada zaman dahulu. Puisi tertua pun ditemukan di negri kita. Betapa ini bukti bahwa nenek moyang kita sungguh luar biasa. Bila kita perhatikan candi Borobudur kita akan merenung tentang kehebatan nenek moyang kita, pada abad ke 8 sudah bisa membuat bangunan begitu megah. Candi Prambanan yang dibangun pada abad ke 9 juga sangat indah dan megah, sayangnya generasi muda pada awal pengenalan mereka pada candi prambanan adalah cerita tentang kesaktian Bandung Bandawasa yang sanggup membuat candi dalam waktu semalam. Cerita hebat ini nyatanya membagi mereka menjadi dua kubu, kubu yang terkagum-kagum dan sangat mempercayai cerita itu lalu beranggapan betapa saktinya orang dahulu dan kita yang sekarang tidak mungkin bisa seperti mereka. Kubu yang satu adalah kubu yang tidak bisa percaya cerita semacam itu, lalu menganggap cerita itu adalah hayalan, lebih parahnya ada yang menganggap bila kebudayaan kita lebih dekat dengan hal yang tak masuk diakal maka tinggalkan saja. Sangat sedikit yang berpikir mengapa dulu nenek moyang kita begitu hebat bisa membuat bangunan megah, tehnologi apa yang mereka gunakan, bagaimana cara berpikirnya hingga bisa tercipta kemegahan itu. Pemikiran generasi muda itu timbul dari umpan yang kita berikan. Dua pertiga naskah jawa kuno masih ada di Belanda menjadikan kita berpikir bila sebenarnya kebudayaan kita sangat menarik. Kolonial pada waktu itu berusaha menjauhkan kita pada budaya sendiri agar kita tak punya jati diri sehingga mudah untuk dipengaruhi. Silahkan baca cerita-cerita pada zaman dahulu tentang penggambaran  orang desa. Orang desa digambarkan sebagai orang yang malas, bodoh. Pengambaran ini melekat sehingga kita mengasosiakan orang desa seperti gambaran para penulis itu. Cara ini efektif mengirim anak-anak muda pergi ke kota enggan membangun desa, meninggalkan kebudayaanya. Kondisi ini yang sedang terjadi pada generasi muda. Apabila kita terus membiarkan hal ini berlanjut tidak ada upaya mendekatkan kebudayaan sendiri pada generasi muda, kasihan mereka akan kehilangan jati diri. Pelestarian kebudayaan daerah mestinya secara menyeluruh tidak hanya tampak luarnya saja. Pertunjukan-pertunjukan kebudayaan daerah digelar secara spektakuler namun nilai- nilai kebudayaan yang melatari kesenian daerah itu muncul tidak dikelola dengan baik. Generasi yang terbiasa melihat permukaan suatu masalah pada akhirnya hanya akan melanjutkan pertunjukan sebagi rutinitas tanpa makna. Tentulah berbeda bila ada pemahaman mendalam terhadap pagelaran maka generasi penerus akan mencintai budaya dengan hati, pikir dan inderanya. Media digital dan social media yang saat ini sangat digemari anak muda mestinya dimanfaatkan untuk mengenalkan generasi muda kepada budayanya. Setelah Konggres Aksara Jawa di Yogyakarta maret kemarin, pengenalan aksara jawa untuk pengetikan di HP mulai dilakukan. Ini salah satu upaya untuk mengenlkan aksara jawa pada generasi pemegang gawai. Adanya organisasi masyarakat yang intens memproduksi konten bersumber dari budaya jawa juga sebagai upaya untuk mengenalkan kebudayaan jawa kepada generasi muda. Solo Bersimfoni, salah satu organisasi yang mengangkat nilai budaya jawa untuk kaum milenial, aktif sekali memproduksi konten medsos bertajuk Hasthalaku, Nilai- nilai tersebut adalah guyub rukun , gotong royong, tepa selira, , ewuh pekewuh, pangerten, grapyak semanak, lembah manah, andhap asor.  Guyub rukun secara bahasa berasal dari kata berguyub yang bermakna berkumpul, berkelompok, yang dapat bermakna pula sebagai rukun. Guyub sendiri dapat bermakna kebersamaan sedangkan rukun bermakna keselarasan, kehidupan tanpa adanya perselisihan, pertikaian dan konflik. Apabila digabungkan maka istilah guyub rukun merupakan sebuah kondisi situasi yang damai, selarah tanpa adanya pertikaian yang dijaga secara bersama-sama. Konsep guyub rukun dalam jawa yang dipaparkan oleh Suseno merujuk pada kata rukun yang berarti keselarasan, keadaan yang damai, suka bekerja sama, saling membantu, saling menerima dalam suasana tenang dan sepakat. Rukun adalah keadaan ideal yang diharapkan dapat dipertahankan daam kehidupan sosial. Masyarakat jawa memandang, permasalahan tidak terletak pada penciptaan keadaan keselarasan sosial melainkan lebih kepada tidak menganggu keselarasan yang sudah ada. Budaya jawa mengenal pepatah rukun agawe santosa crah agawe bubrah yang bermakna bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmoni antar sesama. Guyub rukun digambarkan sebagai situasi ideal dimana masyarakat hidup dalam keharmonisan, bukan karena

MANA BUDAYA KITA Read More »

Sebuah Model 
PEMBELAJARAN TOLERANSI 
YANG MENARIK UNTUK DISIMAK


SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN TOLERANSI YANG MENARIK UNTUK DISIMAK

Pernahkah anda merasa ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk kehidupan kota besar dan pergi ke tempat yang lebih tenang dan damai? Tempat kehidupan masyarakat yang rukun dan masih didominasi oleh nilai-nilai lama, budaya luhur, toleransi serta sikap menjaga keberasamaan. Anda bisa menemukannya dalam lingkungan Sekolah Adipangastuti-sekolah toleransi berbasis budaya-, sebuah hunian ramah untuk proses pembelajaran bagi warganya. Warga sekolah Adipangastuti akan membuat anda berpikir, orang-orang seperti inilah yang anda inginkan sebagai tetangga di lingkungan tersebut. Sekolah Adipangastuti adalah sebuah model sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan toleransi pada kalangan remaja khususnya pelajar. Model sekolah ini menerapkan budaya lokal dalam sistem sekolah dengan melakukan internalisasi nilai-nilai yang disebut hasthalaku ke dalam kegiatan pembelajaran siswa secara tidak mengikat, fleksibel dan luwes. Target dari sekolah ini menjadikan peserta didik lebih toleran dan mempunyai identitas budaya hasthalaku. Bila pendidikan disebut sebagai usaha untuk menghasilkan peserta didik yang cerdas dan berperilaku berbudi, maka seluruh rangkaian proses pembelajaran adalah  hasil dari pengetahuan (knowledge) dan pengalaman (experience). Cerdas dapat ditempuh melalui pembelajaran teoritis di ruang kelas, sementara moral atau perilaku berkaitan dengan nilai (value) yang lebih dipertimbangkan sebagai emotive berdasarkan pada ekspresi dan rasa.  Model sekolah Adipangastuti lebih cenderung hadir sebagai pembelajaran moral atau perilaku yang mengandalkan pengalaman  langsung dalam penerapan nilai-nilai. Program-program dalam model Sekolah Adipangastuti nyaris semuanya disusun berdasarkan kesepakatan guru, siswa dan tim pendamping program yang disesuaikan agar sejalan dengan program sekolah. Sehingga kegiatan-kegiatan yang lahir adalah hasil keinginan bersama yang memungkinkan terjadinya penjelajahan atau eksplorasi kegiatan dengan asyik dan leluasa. Kegiatan model sekolah adipangastuti berbasis pada pengembangan literasi, branding dan digitalisasi. Literasi digital mengarah pada pencarian berita dan konfirmasi dengan prinsip anti hoaks (berita bohong) dan ujaran kebencian. Pelatihan penggunaan beragam platform teknologi digital sebagai penunjang pembelajaran. Menarasikan Hasthalaku dalam bentuk tulisan (seperti; artikel populer, cerita fiksi, blog, naskah pementasan teater, sampai penerbitan buku), dalam bentuk gambar (seperti; poster, postingan media sosial, dan banner), dalam bentuk video (seperti; ilustrasi, pentas teater, film pendek, dan podcast),  serta dalam bentuk media kreatif lainnya. Selain itu, kegiatan yang berkaitan dengan sosial media pun tak kalah mendapat perhatian. Mengingat, penggunaan sosial media sekarang ini sudah menjadi suatu kebutuhan, maka online behavior sangat diperlukan. Bagaimana cara menyampaikan narasi di media sosial, bagaimana agar guru maupun siswa bisa membuat konten yang berfokus pada pendidikan karakter,  juga bagaimana mengukur seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan dari unggahan di media sosial melalui komentar (comment), penyebaran (share), dan reaksi (like). Program didesain dekat dan relevan dengan kehidupan siswa. Juga sebagai follow up dari pemberdayaan potensi seperti organisasi/ekstrakulikuler siswa. Berhadapan atas dunia di sekitarnya, menyebabkan siswa berupaya lebih lanjut mengeksplorasi lewat tindakan atau bahasa narasi. Sebuah model yang sederhana dan langsung. Indikator adanya kegiatan belajar adalah adanya perubahan tingkah laku, perubahan pola pikir, dan perubahan sikap. Sejalan dengan hal tersebut, model sekolah Adipangastuti berfokus pada capaian hasil perubahan daripada knowledge (kondisi sadar akan nilai-nilai hasthalaku), skill (kemampuan warga sekolah menggunakan beragam media/platform dalam menyebarkan konten tematik hasthalaku pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)), attitudes (menyikapi perasaan atau emosi terhadap seseorang atau sesuatu dari perspektif/sudut pandang nilai hasthalaku), habits (pengamalan nilai hasthalaku dalam perilaku yang berulang dan konsisten). Thomas Lickona dalam buku Mendidik untuk Membentuk karakter (2016) mengatakan, “Guru yang baik bukan hanya menentukan standar yang tinggi; mereka pun membantu siswanya membuat standar tersebut menjadi milik mereka.” Dengan menjadikan nilai-nilai hasthalaku yang kaya akan muatan toleransi sebagai standar perilaku bersama, maka akan tercipta kondisi KBM menjadi kondusif. Hal ini dikarenakan semua warga sekolah menjaga budaya toleransi dan memelihara nilai-nilai budaya lokal. Sehingga mampu menghindari atau meminimalisir resiko dampak perubahan sosial atau perilaku menyimpang yang bertentangan dengan aturan hukum, nilai religi dan norma sosial di lingkungan sekolah. Sebagai penutup, saya menukil perkataan Theodore Roosevelt untuk menunjukkan betapa pentingnya pendidikan moral perilaku terutama toleransi dalam menjaga kebersamaan, “Mendidik seseorang hanya untuk berpikir dengan akal tanpa disertai pendidikan moral berarti membangun suatu ancaman dalam kehidupan bermasyarakat.”   Penulis : Gilar Prasetio Sahabat Simfoni dan Pendamping Sekolah Adipangastuti

SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN TOLERANSI YANG MENARIK UNTUK DISIMAK Read More »

film Legowo

Legowo, Sebuah Karya Tentang Menerima

Solo Bersimfoni bekerja sama dengan Teater Brastomolo membuat karya film pendek yang berjudul “Legowo”. Karya ini ditayangkan pada acara Jateng Edu Fest yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation pada Rabu, 21 April 2021. Berlangsung secara online, Jateng Edu Fest dihadiri oleh Nadiem Makariem, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah serta Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation. Sekolah Adipangastuti tak hanya hadir sebagai undangan, tetapi juga diberi kesempatan untuk melakukan pertunjukan dan diwakilkan oleh SMAN 1 Gemolong dengan pemutaran film pendek. Karya ini disutradarai oleh Alif Aji Ramadhana yang merupakan Ketua Teater Brastomolo sekaligus penulis naskah. “Skenario kami kerjakan bersama, tetapi memang saya yang banyak memberikan masukan dan gambaran tentang bagaimana film ini ingin disampaikan kepada penonton,” kata Alif. Film Legowo bercerita tentang bagaimana stigma menempel pada seorang anak karena sikapnya bermasalah di sekolah. Yang tidak dipahami banyak orang, bahwa anak tersebut mempunyai latar belakang yang cukup sulit untuk ukuran seusianya. “Film ini ingin menyampaikan jangan menilai seseorang dari penampilannya saja”, lanjut Alif. Ada dua tokoh pemain yang menonjol dalam film ini, yaitu Subhi (diperankan oleh Dzaky Subhi) dan Bu Yuli (diperankan oleh Grissa Yulianingrum). Keduanya sudah terbiasa melakukan pentas teater, bahkan Dzaky sudah pernah bermain dalam film pendek sebelumnya. Meskipun waktu cukup singkat, reading naskah tetap dilakukan untuk menghayati peran antar pemain. Dzaky bercerita “Reading dilakukan selama empat hari, cukup singkat jika dibandingkan persiapan pentas teater”. Grissa pun mengatakan bahwa bermain film adalah salah satu cita-citanya, “Senang sekali akhirnya bisa tercapai karena Solo Bersimfoni”. Teater Brastomolo adalah salah satu ekstra kurikuler (ekskul) di SMAN 1 Gemolong Sragen yang sudah banyak mengeluarkan karya, baik internal sekolah sampai nasional. Ekskul yang sudah terbentuk sejak tahun 2001 ini bahkan sudah beberapa kali mendapatkan juara. Pada Maret 2020, mereka memperoleh dua penghargaan sekaligus, yaitu juara pertama monolog tingkat SMA se-Indonesia dalam ARTEFAC UNS dan juara kedua monolog dalam Lomba FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) se-Jawa Tengah. Sebelumnya, pada Februari 2020 mereka mendapatkan tiga kemenangan sekaligus yaitu juara kedua, artis terbaik dan penata artistik terbaik dalam FDRR (Festival Drama Realis Remaja) se-Soloraya di UNISRI. Beranggotakan kurang lebih 65 siswa dari SMAN 1 Gemolong, Teater Brastomolo tak hanya menjadi ekskul sekolah tetapi juga sebagai proses belajar berorganisasi bagi anggotanya. Brastomolo berasal dari dua kata yaitu brasto (melawan) dan molo (keburukan) yang berarti melawan keburukan atau hal yang negatif. Dalam hal ini membersihkan diri melalui budaya. Semua anggotanya belajar, berproses dan berkarya lewat budaya. “Anggota teater belajar mulai dari satu fase ke fase lain, semua berproses dan pasti ada manfaat dari tiap prosesnya” kata Ismail, Wakil Ketua II Teater Brastomolo. Sejak pandemi, kegiatan dari teater menjadi sangat terbatas, tidak ada pentas produksi yang dipertunjukkan secara langsung. Kegiatan ini diganti dengan pembuatan video teater yang diunggah di akun YouTube Teater Brastomolo. Selain itu, pelantikan dan serah terima jabatan pengurus tahun 2020/2021 pun harus dilakukan secara luring terbatas dan daring. Sebelumnya, kegiatan ini menjadi ajang temu kangen antara alumni dan anggota. “Kita harus mencari pengalaman bukan pengalaman yang mencari kita, contohnya kerja sama dengan Solo Bersimfoni ini,” lanjut Ismail. Lomba yang biasanya diikuti pun hampir semua tidak dilaksanakan sampai catur wulan pertama tahun 2021 ini, sehingga pengurus berencana melakukan kegiatan untuk anggota baru pada pertengahan tahun 2021. “Kegiatan ini dilakukan agar anggota yang belum pernah mengikuti lomba dapat terlatih fisik dan mentalnya untuk keberlanjutan organisasi Teater Brastomolo,” ujar Raffi, Wakil Ketua I Teater Brastomolo. Apalagi anggota baru biasanya melatih mental dan fisik melalui berbagai lomba dan juga diklat yang mana mereka menampilkan pentas produksi. “Biasanya dalam pentas pada diklat akan dipilih aktris dan aktor terbaik, tetapi untuk tahun ini tidak ada,” lanjut Raffi. Salah satu alasan anggota ingin menjadi bagian dari Teater Brastomolo adalah supaya bisa mengikuti pentas produksi, bisa mendapatkan pengalaman di masa remaja dan juga belajar berorganisasi. “Dalam teater itu nggak ada yang nggak bisa, tetapi belum bisa,” kata Ismail. Pembuatan Film Legowo merupakan program keberlanjutan Sekolah Adipangastuti. Meskipun program di sekolah sudah selesai per Desember 2020, hubungan baik antara Solo Bersimfoni dan SMAN 1 Gemolong melalui Teater Brastomolo tetap terjalin dengan baik di dalam dan di luar sekolah. “Senang sekali dengan adanya Sekolah Adipangastuti bisa bikin film Legowo,” ujar Subhi. Harapannya, akan ada lagi kolaborasi dan kerja sama antara SMAN 1 Gemolong, baik melalui Teater Brastomolo maupun ekskul lainnya sebagai salah satu cara mengapresiasi karya anak muda. “Stigma. Sebuah penghakiman kepada seseorang tanpa pembelaan diri. Apakah kita semua akan semudah itu melekatkan stigma negatif kepada seseorang hanya karena dia berbeda dengan kebanyakan orang? Apakah menilai seseorang dari luarnya adalah suatu hal yang bisa diwajarkan? Memberikan stigma sama dengan memberikan hukuman tanpa banding.” Legowo – 2021   #SalamBudaya #SalamToleransi #MariKitaBersimfoni Penulis : Tia Brizantiana

Legowo, Sebuah Karya Tentang Menerima Read More »

Milenial dan Benteng Penangkal Radikalisme

Hari-hari kelabu menutup bulan Maret 2021. Saat masyarakat muslim di Indonesia tengah bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadan, kita dikejutkan oleh peristiwa memilukan sekaligus memalukan. Sebuah bom meledak di gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan di Minggu pagi yang cerah, saat para jemaat gereja sedang khusyu’ menjalankan ibadah. Kejadian ini sungguh memilukan karena hingga kini masih saja terjadi aksi kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa dan banyaknya orang terluka. Namun kejadian ini juga memalukan, karena hampir di setiap kejadian bom bunuh diri si pelaku membawa atribut yang kental dengan identitas seorang muslim. Meski banyak narasi mengatakan bahwa teroris bukan Islam dan tidak memiliki sangkut paut dengan agama manapun, namun seperti sudah menjadi stigma di mata masyarakat bahwa para pelaku bom bunuh diri adalah mereka yang melakukan aksinya dengan membawa misi jihad.

Milenial dan Benteng Penangkal Radikalisme Read More »