Blog

Geliat Sekolah Menanam dan Merawat Benih Perdamaian oleh Solo Bersimfoni dan Peace Generation

Solo Bersimfoni dan Peace Generation menjadi host pada satu sesi diskusi dalam Konferensi WGWC dengan judul Apa Kabar Pendidikan Kita? Geliat Sekolah Menanam dan Merawat Benih Perdamaian pada Senin, 6 Mei 2024 di Ruang Nagamas, Prime Plaza Hotel Purwakarta. Irfan Amalee, co-Founder dan Direktur Peace Generation dan M Farid Sunarto, Direktur Eksekutif Solo Bersimfoni, menjadi narasumber sedangkan Alimul Muniroh, Rektor IAI Tabah serta Fanny Syariful Alam, Koordinator Regional Sekolah Damai Indonesia, menjadi pembahas. Acara ini dimoderatori oleh Lindawati Sumpena, Learning & Product Development Manager Peace Generation. Dalam diskusi ditemukan beberapa tantangan dalam pendidikan yaitu intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme. Hal ini ditemukan dalam ragam riset, misalnya pada riset SETARA Institute (2023) menyebutkan bahwa terdapat peningkatan pelajar dalam kategori intoleran aktif sebanyak dua kali lipat selama tujuh tahun terakhir. Di sisi lain, tantangan polarisasi juga makin nyata dengan berkembangnya media sosial. Polarisasi ini memperkuat kerentanan masyarakat, apalagi jika sebelumnya telah ada prasangka dan tidak adanya ruang perjumpaan untuk membuat kontak bermakna antar identitas yang berbeda.   Selain itu, adanya pengaruh alumni pada pelajar tidak dibarengi dengan mekanisme kontrol dan monitoring dari sekolah sehingga membuat pelajar rentan disusupi paham radikalisme. Bukan hanya pada skeolah menengah, kontrol pencegahan pada siswa PAUD/TA/TK masih belum banyak dilakukan, padahal semakin muda usia anak, semakin mudah dia dimasuki paham radikal. Adanya pemahaman pada sebagian orang tua yang menganggap bahwa sekolah adalah tempat pembentukan karakter secara instan sehingga memberikan beban pengasuhan keseluruhan pada sekolah. Padahal, edukasi seyogyanya dilakukan sebagai sebuah intervensi yang sistemik. Artinya, peran sekolah, keluarga, komunitas, lingkungan pergaulan, dan masyarakat perlu berperan dalam membentuk karakter damai. Contoh yang dilakukan adalah intervensi pendidikan di Yayasan Sukma Bangsa dan Peacesantren Welas Asih. Upaya pemerintah dalam bina damai adalah dengan mengeluarkan isu krusial di dalam pendidikan melalui pernyataan tiga dosa besar di pendidikan, yakni intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual. Selain itu, pemerintah memberikan ruang bagi sekolah untuk dapat menumbuhkan karakter siswa secara kreatif, inovatif, dan terstruktur melalui P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) pada Kurikulum Merdeka di sekolah. Praktik Baik NGO Solo Bersimfoni melakukan praktik baik untuk mempromosikan karakter damai lewat Hasthalaku pada model Sekolah Adipangastuti. Model ini diintegrasikan dengan kebijakan Implementasi Kurikulum Merdeka sebagai ko-kulikuler. Selain itu, upaya tersebut disinergikan dengan implementasi RAN PE. PeaceGeneration Indonesia melakukan praktik baik dalam mempromosikan kontak bermakna antar identitas melalui ruang perjumpaan dan media kreatif. Selain itu, dalam memperluas khazanah pengetahuan dan cerita dalam upaya PCVE, PeaceGen meluncurkan K-Hub PCVE Outlook dengan tema Ensiklopedia Modul Pendidikan Perdamaian di Indonesia. Produk riset kreatif ini mengulas pembelajaran dari 16 modul yang dikembangkan oleh OMS. Salah satu temuan penting dari riset tsb adalah masih minimnya perspektif gender dimasukan dalam modul. Upaya bina damai dilakukan sejalan dengan upaya mempromosikan kesetaraan gender melalui penyediaan bahan ajar (modul) berperspektif gender serta mendorong partisipasi perempuan sebagai juru damai. Beberapa rekomendasi bina damai juga disampaikan oleh peserta, seperti pentingnya melihat upaya bina damai dalam kacamata keadilan sosial, bukan hanya isu keberagaman yang terfragmentasi (beda agama, beda suku, beda identitas lainnya). Kemudian pentingnya membangun upaya bina damai yang menyeluruh melalui pendidikan, tidak hanya di institusi pendidikan formal (sekolah, kampus) namun juga ruang-ruang pendidikan lain seperti keluarga, komunitas, dan masyarakat. Tidak hanya melibatkan aktor guru yang dianggap bersinggungan dengan isu, namun juga guru mata pelajaran lain. Selain itu, upaya NGO dalam bina damai perlu berjalan beriringan dengan pemerintah. Dalam hal kebijakan, telah banyak kebijakan yang diupayakan, peran NGO sentral dalam memastikan penerjemahan dan implementasi konkrit dari kebijakan Pendidikan. Terakhir, pentingnya memasukan perspektif gender dalam penyusunan bahan ajar dan strategi intervensi di lingkungan pendidikan untuk mendorong keterlibatan bermakna perempuan dalam upaya bina damai. Penulis : Tia Brizantiana

Geliat Sekolah Menanam dan Merawat Benih Perdamaian oleh Solo Bersimfoni dan Peace Generation Read More »

Gaung Sekolah Adipangastuti pada SMA di Jawa Tengah

Solo Bersimfoni telah melaksanakan Training of Trainers (ToT) Fasilitasi Sekolah Adipangastuti melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Tema Bhinneka Tunggal Ika dan Bangunlah Jiwa dan Raganya pada Senin sampai Rabu, 27-29 Mei 2024 di Metro Park View Hotel, Kota Lama Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh 61 SMA di Jawa Tengah dan dibuka oleh Ibu Dr Uswatun Hasanah, S.Pd., M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Ibu Uswatun menilai bahwa pendidikan karakter pada siswa penting sebagai salah satu upaya pencegahan kekerasan di sekolah. “Untuk mencegah enam jenis kekerasan di sekolah, pekerjaan rumah terberat pada pendidikan karakter,” lanjut beliau. Enam jenis kekerasan di sekolah yang tercantum dalam Permendikbud No 46 Tahun 2023 yakni kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi dan intoleransi, serta kebijakan yang mengandung kekerasan. Menurut beliau, untuk mewujudkan pendidikan karakter maka harus dimulai dari keteladanan. Dalam hal ini, praktik baik Sekolah Adipangastuti dapat menjadi salah satu keteladanan dalam upaya pencegahan kekerasan, terutama di sekolah. Pada 2022, Jawa Tengah menempati peringkat ketiga nasional dalam jumlah kekerasan di sekolah. Kekerasan yang terjadi di sekolah, khususnya di SMA/ SMK merupakan dampak dari proses yang terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, upaya yang bisa dilakukan SMA/SMK untuk mencegah terjadinya kekerasan di sekolah hanya dengan melakukan pencegahan, terutama dengan praktik budaya positif. Peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah 14 SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti lama dan 47 SMA baru sebagai pengimbasan Sekolah Adipangastuti. Sekolah lama adalah SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 7 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 1 Mojolaban, SMAN 1 Gemolong, SMAN 3 Sragen, SMAN 1 Sumberlawang, SMAN 1 Karanganyar, SMAN 2 Klaten, SMAN 2 Boyolali, SMAN 1 Wonogiri, SMAN 1 Semarang, dan SMAN 1 Ambarawa. Sedangkan sekolah baru adalah SMAN 1 Bergas, SMAN 11 Semarang, SMAN 1 Tengaran, SMAN 2 Ungaran, SMAN 1 Dempet, SMAN 1 Welahan, SMA Muhammadiyah 1 Pati, SMAN 1 Mejobo, SMAN 1 Kudus, SMAN 1 Batangan, SMAN 2 Pati, SMAN 1 Kragan, SMAN 2 Rembang, SMAN 1 Geyer, SMAN 1 Randublatung, SMAN 2 Salatiga, SMAN 1 Boyolali, SMAN 3 Boyolali, SMA Muhammadiyah 1 Klaten, SMAN 1 Jatisrono, SMAN 1 Karangpandan, SMAN 1 Purwantoro, SMAN 1 Sragen, SMAN 2 Sragen, SMAN 1 Tangen, SMA Muhammadiyah 1 Surakarta, SMA Muhammadiyah 1 Muntilan, SMAN 1 Parakan, SMAN 1 Dukun, SMAN 3 Magelang, SMAN 10 Purworejo, SMA Muhammadiyah 1 Wonosobo, SMAN Buluspesantren, SMAN 1 Kebumen, SMAN 1 Purwanegara, SMAN 1 Karangkobar, SMAN 1 Purbalingga, SMAN 1 Wadaslintang, SMAN 1 Wonosobo, SMAN 1 Losari, SMAN 1 Tegal, SMAN 1 Paninggaran, SMAN 3 Pemalang, SMAN 2 Slawi, SMAN 3 Pekalongan, SMAN 1 Bawang dan SMAN 1 Gemuh. Ketua Solo Bersimfoni, M Farid Sunarto, mengatakan bahwa program ini terus berlanjut sebagai upaya untuk memberi contoh budaya baik dalam upaya mencegah intoleransi dan radikalisme di sekolah. Sehingga pengimbasan Sekolah Adipangastuti pada 61 SMA di Jawa Tengah menjadi contoh praktik baik pencegahan kekerasan. Kegiatan ini diisi materi oleh Kepala Dinas Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Tengah, Ibu Dra Retno Sudewi, APT, M.Si., M.M, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, Bapak Haerudin, S.H., M.H., Direktur Peace Generation, Irfan Amalee, Kepala SMAN 1 Semarang, Dr Kusno, S.Pd., M.Si. dan Nabel Muhammad Alimuddin.  Kemudian dilanjutkan dengan Rencana Tindak Lanjut oleh Direktur Program Solo Bersimfoni, Khresna Bayu Sangka, Ph.D. Di akhir acara, dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti dan Ketua Solo Bersimfoni yang kemudian akan diketahui oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I sampai XIII sesuai dengan lokasi sekolah masing-masing. MoU ini berlaku selama lima tahun dengan harapan praktik baik nilai hasthalaku semakin digaungkan pada lingkungan pendidikan di Jawa Tengah. Penulis : Tia Brizantiana

Gaung Sekolah Adipangastuti pada SMA di Jawa Tengah Read More »

patjarmerah Solo: Simpul Kolaborasi dan Gotong Royong Literasi

Kabar bertumbangannya satu per satu toko buku besar di Indonesia memunculkan sejumlah asumsi terkait perkembangan literasi di Indonesia. Tuduhan bahwa minat literasi Indonesia rendah kembali dilontarkan, bersamaan dengan persaingan buku cetak dengan buku elektronik, dan juga pembajakan yang tak kunjung berhasil diatasi. Pada saat kabar itu terdengar dan menjadi pembahasan panas di media sosial, patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara justru mengumumkan mereka akan bergerak menuju Solo. Toko buku mereka pun buka di Pos Bloc Jakarta dan Fabriek Bloc Padang. Mengapa pada saat toko buku-toko buku besar banyak yang gulung tikar, patjarmerah justru tetap bisa berkeliling dan berkembang? “Karena kami dirawat oleh semangat kolaborasi dan gotong royong literasi,” kata Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah. Kesadaran bahwa buku harus dipercakapkan dan harus menciptakan ruang interaksi inklusif adalah salah satu alasan yang mendorong kelahiran patjarmerah. “Kami masih berpegang pada semangat itu. Itu juga masih  menjadi DNA kami.” Kolaborasi dan gotong royong membuat apa-apa yang terasa tidak mungkin menjadi mungkin untuk diwujudkan. Membuat pasar buku dan festival secara berkeliling untuk mendekatkan akses literasi membutuhkan banyak pertaruhan. Beruntungnya, di setiap tempat kami selalu mendapati kawan-kawan yang punya semangat sama, di Solo salah satunya. Solo adalah punya rekam jejak yang panjang, tidak hanya dalam dunia pergerakan, tetapi juga literasi. Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas. “Rekam   jejak   patjarmerah   di   tiap   titiknya   menunjukkan   mereka   punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka   dalam   satu   arena   serta   berkolaborasi,”   kata   Ramdhon.   Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa pondasi  literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari literasi. Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Solo, sehingga mendukung patjarmerah Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, kata Mufti, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif   (cipta),   afektif   (rasa),   dan   psikomotoris   (karsa).   Bagi   Mufti   kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya. “Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat,” katanya. “Dan itu harus diupayakan bersama-sama, beramai-ramai, bergotong royong.” Selain keterlibatan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solo, sejumlah penulis, penerbit, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas-komunitas kreatif di Solo juga turut terlibat. Mereka berkolaborasi dengan penulis, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas dari luar Solo. Ada satu juta buku terbitan lebih dari 100 penerbit di Indonesia, juga lebih dari 100 pembicara pilihan mengisi festival literasi patjarmerah di Solo. “Selain ada Ratih Kumala, Joko Pinurbo, Reda Gaudiamo, Yusi Avianto Pareanom, Ivan Lanin, Martin Suryajaya, Felix K. Nessi, para penulis dan kawan-kawan Solo dari berbagai bidang kreatif pun hadir,” kata Ringgana Wandy Wiguna, salah satu relawan patjarmerah Solo yang bertugas di Divisi Komunikasi. Ia menyebut nama Indah Darmastuti, Yudhi Herwibowo, Panji Sukma, Jungkat-Jungkit, Fanny Chotimah, dan lain-lain. Informasi lengkap terkait acara festival ini bisa dilihat di patjarmerah.com/solo. patjarmerah Solo akan diadakan pada 1-9 Juli 2023 di Ndalem Djojokoesoeman, Gajahan,  Pasar  Kliwon,  Solo. Bangunan ini adalah salah satu cagar budaya yang penting   bagi  Solo  karena  merupakan  bagian  dari  sejarah  perkembangan  Kota Surakarta sebagai Kota Kerajaan Masa Mataram Islam.

patjarmerah Solo: Simpul Kolaborasi dan Gotong Royong Literasi Read More »

Merabai Denyut Literasi Surakarta bersama patjarmerah

Patjarmerah,  Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara yang dijuluki oleh para pencinta buku dan media sebagai sirkus literasi keliling memutuskan singgah di Solo. Gerbang Ndalem Djojokoesoeman di Gajahan, Pasar Kliwon, Solo yang menjadi arena pasar buku dan festival literasi ini akan dibuka pada 1-9 Juli 2023 mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB. Kekayaan narasi dan sejarah panjang Surakarta jugalah yang membuat patjamerah  memilih  mengawali  denyutnya  pada  2023  di  kota  ini.  “Selain sebelum Pandemi kami memang sempat berencana membuat patjarmerah di Solo. Itu sekitar April 2020,” cerita Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah. Solo adalah tempat yang sangat kental dengan budaya literasi dan sangat banyak merekam sejarah terkait jejak penulisan masa lampau. Karya-karya klasik lahir dari Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Di antaranya Yosodipuro yang menulis Serat Wulang Reh, Paku   Buwono   IV   dan   Serat   Wulang   Sunu,   Mangkunegara   IV   menulis   Serat Wedhatama,  Paku  Buwono  V  menulis  Serat  Centhini,  dan  ada  juga  pujangga legendaris  dari  Kota  Solo,  yaitu  Ki  Padmasusastra dan Ronggowarsito. Selain itu, majalah dan surat kabar pertama di Indonesia pun lahir di Solo. “Solo  dengan  semua  ciri  khas  dan  kedenyutannya  menjadi  titik tepat untuk mengawali patjarmerah 2023. Dari titik yang menjadi arena pergerakan inilah, patjarmerah akan bergerak,” sambung Windy. Banyak tokoh penting yang menggencarkan pergerakan datang dari Surakarta. Sebutlah Tjokroaminoto, H. Samanhudi,    dan    Marco    Kartodikromo.    Mereka    mengandalkan    kemampuan tulis-menulisnya di surat kabar dan berbagai macam aksi protes yang digelar dalam rangka ”menuntut persamaan hak bumiputera”. Ada pula Tjipto Mangunkusumo yang mengkritisi sistem feodal. Sarekat Islam dan gerakan Bumi Putera. Denyut Literasi dan Identitas Tempat Denyut dipilih menjadi tema patjarmerah selama 2023. Kata ini menyimbolkan hidup dan upaya untuk terus hidup, termasuk di dunia literasi. Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). “Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat.” Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya. Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan  literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas. “Rekam   jejak   patjarmerah   di   tiap   titiknya   menunjukkan   mereka   punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka   dalam   satu   arena   serta   berkolaborasi,”   kata   Ramdhon.   Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa pondasi  literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari literasi. patjarmerah Solo di Ndalem Djojokoesoeman Semangat kolaborasi dan gotong royong literasi pun masih diusung patjarmerah. Di Solo, selain menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta dan Dinas  Pariwisata  dan  Kebudayaan  Kota  Surakarta,  patjarmerah juga berkolaborasi dengan para pegiat literasi dan komunitas lintas bidang kreatif, di antaranya Difalitera, Sastra Pawon, Kamar Kata, Kembang Gula, Lokananta, termasuk Persis. Komunitas ini akan berkolaborasi dengan jenama-jenama internasional dan nasional, seperti Netflix, Tik Tok, Bioskop Online, Facebook, dan juga para penerbit. Para penulis dan seniman atau pekerja kreatif berbagai bidang juga turut diajak. Di antaranya Jungkat-Jungkit, Soloensis, Soerakarta Walking Tour, Solo Societeit, dan Titi Laras. Pada salah satu sesi, Ngudhar Rasa: Meracik Masa Depan Kuliner Indonesia Lewat Tradisi Pangan, Pura Mangkunegaran bersama Lakoat.Kujawas dari Nusa Tenggara Timur, Bhumi Bhuvana dari Jogja, dan Titi Laras dari Solo akan bertukar rasa dan berbagi cerita. Penulis-penulis Solo–Sanie Kuncoro, Indah Darmastuti, Panji Kusuma, Beri Hanna. Peri Sandi Huizche pun hadir mengisi sesi-sesi di festival, berkolaborasi dengan pembicara-pembicara pilihan lainnya, seperti Joko Pinurbo, Ratih Kumala, Felix, K. Nessi, Yusi Avianto Pareanom, Martin Suryajaya, Reda Gaudiamo, Alexander Thian, Adimas Immanuel, Syahid Muhammad, Andina Dwi Fatma, dan lainnya. Tak ketinggalan penampilan istimewa dari Papermoon Puppet Theatre. Akan ada 1 juta buku dan lebih dari 100 pembicara pilihan hadir di patjarmerah Solo. Ndalem Djojokoesoeman dipilih menjadi arena literasi karena sejarah panjangnya juga. Bangunan cagar budaya yang berdiri pada 1849 merupakan salah satu ndalem pangeran masih utuh di Solo. Bangunan ini dulunya menjadi kediaman raja pada masa Kesunanan Surakarta, khususnya keturunan Paku Buwono X dan Paku Buwono IX.

Merabai Denyut Literasi Surakarta bersama patjarmerah Read More »

CITA RASA SOLO DALAM PEMBELAJARAN PRAKTIK PERHOTELAN

Seperti kita ketahui bersama bahwa Merdeka Belajar yang diimplementasikan di Indonesia saat ini merupakan konsep pembelajaran yang mengutamakan pengembangan kompetensi siswa. Hal ini diupayakan melalui pembelajaran yang berbasis keterampilan (skill-based learning) dan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk dapat terhubung dengan dunia kerja dan masyarakat serta dapat mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja yang andal dan kompeten. Namun berjalannya sistem pendidikan yang dinamis dalam pengembangan dan implementasinya senantiasa tak luput dari permasalahan. Masalah yang dihadapi saat ini terkait generasi muda yang sangat adaptif dengan kemajuan teknologi akan tetapi kurang mengenal potensi lokal dan budaya bangsa sendiri. Para remaja dari kalangan generasi Z merupakan digital natives yang sangat akrab dengan teknologi. Mereka memiliki akses pengetahuan dan kecenderungan meniru budaya dari luar negeri lebih cepat dibanding budayanya sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa sebanyak 60% siswa SMA di Indonesia tidak mengenal tarian daerah atau kesenian tradisional dari daerah mereka. Beberapa penyebabnya antara lain minimnya kurikulum pendidikan yang menekankan pada pengenalan dan pengembangan budaya lokal di sekolah. Sebagai hasilnya, siswa tidak mendapatkan pemahaman yang memadai tentang budaya lokal mereka. Pengaruh globalisasi yang semakin kuat, termasuk media sosial juga memengaruhi minat dan gaya hidup siswa, serta membuat mereka lebih tertarik pada budaya populer luar negeri. Distorsi persepsi terhadap budaya bangsa berpotensi membahayakan karena memunculkan  stereotipe dan prasangka yang tidak akurat terhadap budaya sendiri. Selain itu para remaja tersebut akan kehilangan rasa bangga terhadap budayanya dan berakibat hilangnya identitas diri sebagai bangsa Indonesia. Kesenjangan budaya antara generasi muda dan generasi tua dapat berdampak negatif pada harmoni dalam hubungan sosial di masyarakat.  Lebih jauh lagi dampak dari itu adalah generasi akan kehilangan warisan budaya sehingga tidak bisa meninggalkan warisan tersebut untuk anak cucu mereka kelak. Dari segi ekonomi hal ini bahkan memberi dampak buruk yaitu hilangnya peluang untuk mengembangkan industri pariwisata budaya sehingga berdampak pula pada pertumbuhan ekonomi lokal. Kurangnya pemahaman tentang nilai dan norma budaya lokal juga dapat memengaruhi perilaku siswa terhadap orang lain dan sekitarnya. Hal ini menyebabkan terjadinya  penurunan karakter bahkan degradasi moral. Masalah tersebut tentu perlu mendapat perhatian serius terutama dari para pendidik untuk lebih sadar akan pentingnya mengenalkan kearifan lokal kepada siswanya. Upaya ini dapat dilakukan melalui proses internalisasi budaya dalam pembelajaran sehingga akan lebih mudah diiterima oleh siswa. SMKN 7 Surakarta merupakan salah satu sekolah pusat keunggulan (center of excellence) yang memiliki visi terwujudnya siswa yang beriman dan bertaqwa, cerdas, kreatif, berjiwa literat, peduli dan berbudaya lingkungan. Salah satu kompetensi keahlian yang dimiliki oleh SMKN 7 Surakarta adalah Perhotelan. Mata pelajaran konsentrasi di fase F dalam kurikulum merdeka yang dipelajari para siswa pada kompetensi keahlian ini diantaranya adalah Food and Beverages Service (F and B Service). Siswa yang ingin mengembangkan karier di bidang perhotelan, khususnya di bagian makanan dan minuman tentunya sangat membutuhkan skill di bidang ini. Para siswa dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam hal penyajian beserta pelayanan makanan dan minuman di hotel, restoran, kafe, dan tempat makan lainnya. Mata pelajaran ini juga mencakup keterampilan komunikasi, kerja sama tim, dan manajemen waktu yang merupakan bagian penting dari pengembangan kecakapan interpersonal siswa. Praktik pembelajaran F and B Service memberikan kesempatan yang luas kepada para siswa untuk menggali potensi dan kreativitas mereka secara merdeka. Tujuan yang diharapkan adalah tewujudnya visi dan misi Merdeka Belajar. Salah satu karakteristik dari konsep Merdeka Belajar tersebut adalah pembelajaran kontekstual (contextual Learning). Dalam konteks kearifan lokal pada pembelajaran kontekstual siswa berlatih membangun pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berhubungan dengan kearifan lokal di daerahnya. Pengenalan kearifan lokal dapat diintegrasikan dalam pengembangan kompetensi siswa di berbagai bidang, salah satunya bidang perhotelan. Di bidang tersebut kearifan lokal dapat diaplikasikan dalam pengembangan teknologi dan bisnis, seperti pengembangan produk yang mengangkat kearifan lokal. SMKN 7 Surakarta telah melakukan praktik baik pembelajaran F and B Service yang diampu oleh guru mapel, Eka Sugiyanti, S.Pd. Pembelajaran kontekstual berbasis proyek dalam mata pelajaran F and B Service dilakukan untuk  meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam penyajian dan pelayanan makanan di hotel. Integrasi pembelajaran ini dilakukan dengan mengandalkan unsur kearifan lokal kota Solo sebagai materi proyek. Siswa secara berkelompok membuat proyek penyajian makanan yang kental dengan nuansa budaya Solo. Ciri khas Solo yang ditonjolkan seperti menu yang disajikan, desain interior ruangan, iringan musik, alat penyajian maupun tampilan busana dan asesoris yang dikenakan siswa yang mengandung unsur budaya Solo. Begitu juga dengan tata krama saat menyajikan makanan kepada tamu terinspirasi dari budaya perilaku masyarakat Solo yang penuh kesopanan. Aneka menu mulai dari appetizer, main course hingga dessert disajikan dengan menampilkan kuliner khas kota Solo. Makanan seperti selat solo, pecel atau gudeg dan klepon disajikan dengan tetap menggunakan Standar Operating Procedure (SOP) yang berlaku di hotel khususnya pada departemen F and B Service. Siswa menampilkan karya proyeknya dengan mengundang para guru sebagai tamu sekaligus penilai hasil proyek mereka. Pelaksanaan pembelajaran proyek ini diharapkan dapat memperkuat pengalaman belajar siswa, memberikan kesempatan luas kepada mereka untuk mengembangkan berbagai keterampilan. Keterampilan tersebut antara lain kecakapan dalam mencari informasi, mengembangkan kreativitas, bekerja dalam kelompok, mengomunikasikan ide-ide, dan menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang ditentukan. Selain itu, proyek ini menuntut siswa untuk menggali unsur kearifan lokal kota Solo sehingga dapat memperkuat rasa kecintaan mereka terhadap warisan budaya lokal. Hal tersebut tentunya akan menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya melestarikan dan mempromosikan kearifan lokal sebagai bagian dari industri perhotelan.   Penulis: Asri Pujihastuti-Guru SMKN 7 Surakarta artikel ini sudah tayang di Solopos tanggal 10 April 2023

CITA RASA SOLO DALAM PEMBELAJARAN PRAKTIK PERHOTELAN Read More »

KEPALA PUSPEKA APRESIASI KERJA SOLO BERSIMFONI DAN MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI

Jakarta 5/4/2023. Dalam rangka penyusunan modul P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam kurikulum merdeka yang tengah disusun, Solo Bersimfoni melakukan audiensi kepada Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Ibu Rusprita Putri Utami, di Kantor Puspeka Kemendikbud Ristek, Gedung C Lantai 18, Kemendikbud Ristek, Senayan, Jakarta. Selaku Kepala Puspeka, Ibu Rusprita sangat mengapresiasi langkah Solo Bersimfoni dalam upaya implementasi kurikulum berbasis projek, khususnya tematik Bhineka Tunggal Ika melalui program Sekolah Adipangastuti. Sekolah Adipangastuti melakukan pendekatan yang sangat khas yaitu nilai budaya lokal yang dinamakan hasthalaku atau delapan perilaku yaitu gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor dan tepa selira.   Lebih lanjut, Ibu Rusprita menjelaskan bahwa Kemendikbud Ristek RI, khususnya Puspeka, mendapatkan mandat terkait penguatan Profil Pelajar Pancasila dan juga pencegahan kekerasan pada satuan pendidikan, meliputi perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi atau yang kerap disebut Tiga Dosa Pendidikan. Puspeka sendiri berkomitmen melakukan penguatan karakter peserta didik yang beracuan pada enam Profil Pelajar Pancasila yang saat ini terus digalakkan. Begitu juga dengan Solo Bersimfoni terus mempromosikan pesan perdamaian dan toleransi melalui model sekolah Adipangastuti dan juga modul P5 khususnya berbasis projek tema Bhinneka Tunggal Ika yang diintegrasikan dengan Perpres No 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE).   Sebagai bentuk dukungan dan kerja,sama, Solo Bersimfoni diberikan kesempatan turut membantu Kemendikbud Ristek RI dalam penyusunan Buku Saku Profil Pelajar Pancasila. Buku saku ini nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu sumber bacaaan untuk meningkatkan pemahaman terkait Profil Pelajar Pancasila kepada guru, tenaga kependidikan, orang tua, siswa, dan masyarakat umum.  

KEPALA PUSPEKA APRESIASI KERJA SOLO BERSIMFONI DAN MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI Read More »

Hasthalaku memperoleh restu GKR Pakubuwono XIII

Selasa, 10 Mei 2022, M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni berkesempatan memaparkan nilai-nilai budaya Jawa Hasthalaku kepada Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pakubuwono XIII. Kesempatan ini bertempat di Joglo ndalem Kanjeng Pangeran Sri Haryanto Hadinagoro.  GKR Pakubuwono XIII menyimak paparan tentang Hasthalaku yang merupakan warisan nilai-nilai luhur Kraton Kasunanan Surakarta. Hasthalaku merupakan delapan nilai perilaku hasil riset dari tim Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Hasthalaku terdiri dari gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor dan tepa selira.

Hasthalaku memperoleh restu GKR Pakubuwono XIII Read More »

perempuan solo raya

Perempuan Soloraya dalam Pusaran Terorisme

Tulisan ini menguak bagaimana perjuangan perempuan istri para narapidana kasus terorisme (Napiter) berjuang setelah suaminya ditangkap. Tidak sedikit perempuan yang tidak tahu-menahu aktivitas suaminya. Mereka tidak menyangka perubahan positif yang dialami sang suami justru berakhir pada jerat jaringan terorisme.   Kisah Ani, Istri Seorang Napiter bernama Mardi Ruang tamu itu terlihat begitu sederhana. Tak ada hiasan yang terpasang di dindingnya, hanya ada sejumlah kursi kayu yang ditata menempel ke dinding berwarna krem. Warung makan yang berada di bagian sisi depan rumah sedang tutup, karena sedang bulan puasa. Dari lubang pintu, aku bisa melihat pengunjung supermarket yang terletak tepat di samping rumah, datang dan pergi. Aku sempat kesulitan menemukan rumah ini. Google maps yang dikirim Pak Mardi (bukan nama sebenarnya) sang pemilik rumah melalui pesan WhatsApp ternyata kurang akurat. Penulisan alamat juga terbalik antara RT dan RWnya. Hal ini cukup membuatku bingung hingga harus tersesat cukup lama sebelum akhirnya berhasil menemukan rumah yang sebenarnya terletak tepat di pinggir jalan raya. Oleh Pak Mardi aku dikenalkan kepada istrinya, Ani, juga bukan nama sebenarnya. Setelah tak lama saling mengenal, obrolan tentang keterlibatan Mardi dalam jaringan terorisme pun terus mengalir. Mardi yang saat ini berusia 50 Tahun, bergabung ke dalam kelompok yang bernama Azam Dakwah Center (ADC) yang dulu bermarkas di Ngruki, Sukoharjo. Menurut informasi dari Mardi, ADC berafilisiasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Ia ditangkap pada 2017 terkait kasus bom molotov di Solo Baru, Sukoharjo. Sebenarnya serangan bom molotov ini bisa dikatakan gagal. Sehingga tidak banyak orang yang tau. Namun, belakangan polisi berhasil mengendus adanya keterkaitan antara kasus ini dari hasil pengembangan kasus teroris di Bekasi. Menurut polisi kelompok ini antara lain bertanggung-jawab atas pengeboman di Kawasan Sarinah pada Januari 2016 dan serangan bom molotov di Solo Baru Sukoharjo. Menurut pengakuan Ani, dia tidak tau menau mengenai keterlibatan suaminya dalam serangan bom molotov itu. Pada saat terjadinya penyerangan, Pak Mardi bercerita tentang perannya sebagai pengawas yaitu bertugas untuk mengamankan dan memantau lokasi pengeboman. Ani mengisahkan, keterlibatan suaminya dengan kelompok teroris ini bermula saat ia bergabung dengan sebuah kelompok pengajian. Awalnya Ani menyambut gembira perubahan positif yang dialami suaminya. Namun, belakangan baru ia tahu kalau ternyata sang suami bergabung dengan kelompok garis keras. “Ya saya sih mendukung, Mbak, kalau suami itu rajin sholat dan pengajian. Dulu waktu muda suami saya tuh gangster, Mbak. Setelah menikah pun sholatnya masih bolong-bolong. Kalau saya ajak sholat pasti jawabannya iya nitip aja gitu. Dari yang seperti itu terus berubah drastis mau sholat dan ngaji saya seneng, Mbak. Cuma ya nggak tau kalau ternyata ngajinya di tempat yang salah,” terang Ani. Suatu sore hari Pak Mardi pamit pergi ke masjid untuk menunaikan sholat ashar berjamaah. Namun ternyata sampai malam tiba bahkan hingga keesokan harinya dia tidak kunjung pulang. Ani pontang-panting mencari informasi tentang keberadaan suaminya. Berbagai tempat yang biasa disinggahi suaminya ia datangi tapi hasilnya nihil. Hingga keesokan paginya, Ani memutuskan untuk mendatangi kantor kelurahan untuk melaporkan suaminya yang tidak kunjung pulang. Baru ketika itu Ani tahu jika suaminya ditangkap oleh Densus 88 Antiteror karena diduga terlibat aksi terorisme. Ani menyayangkan sikap Densus 88 yang tidak memberitahu pihak keluarga saat penangkapan, “Saya udah bingung suami posisinya di mana, Mbak, kok ya tidak ada pemberitahuan ke rumah dan keluarga dulu kalau ada penangkapan gitu,” keluhnya Siang hari sepulang dari kelurahan, rumah Ani didatangi oleh petugas Densus 88. Mereka datang dengan didampingi petugas dari kelurahan untuk menggeledah seisi rumah Mardi. Saat penggeledahan, Ani meminta agar rumahnya tidak diobrak-abrik dan semua barang dirapikan kembali ke keadaan semula. Dalam penggeledahan itu, petugas menyita dua alat bukti yaitu Al-Qur’an dan buku catatan Pak Mardi selama mengikuti pengajian. “Saya nggak habis pikir lho, Mbak, masa’ alat buktinya Al-Qur’an. Iya Al-Qur’an yang biasa kita baca itu!” ucapnya masygul. Setelah Mardi ditangkap, kini tanggung jawab ekonomi rumah tangga berpindah sepenuhnya ke pundak Ani. Ia yang semula seorang ibu rumah tangga kini harus menjadi tulang punggung keluarga dan bertindak sebagai bapak sekaligus ibu bagi ketiga anaknya. Kegalauan Ani makin menjadi, karena anak sulungnya akan melangsungkan pernikahan pada bulan April 2018, padahal Mardi ditangkap pada Desember 2017 atau hanya beberapa bulan sebelum pernikahan itu berlangsung. Setelah melalui perundingan yang panjang antara kedua keluarga, akhirnya diputuskan untuk memajukan tanggal pernikahan menjadi Januari 2018. Dari pihak keluarga laki-laki tidak mempermasalahkan meskipun calon mempelai perempuan adalah anak dari tersangka teroris. Karena Mardi sedang mendekam di penjara, posisinya sebagai wali akhirnya digantikan oleh adik laki-laki Ani. Ani melakukan segala upaya agar roda ekonomi keluarganya tetap berjalan dan untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya. Seperti membuat keset dan mengontrakkan sepetak rumah untuk dibuat ruko. Awalnya Ani memiliki usaha warung makan, tetapi tak lama setelah Mardi ditangkap, tak sedikit masyarakat yang menjauhi dan menghindari Ani dan keluarganya. Kondisi ini membuat Ani khawatir dagangannya tidak laku sehingga ia memutuskan untuk menutup warungnya. Setelah menutup warung makannya, Ani lantas beralih profesi dan bekerja membuat keset. Dari pekerjaan ini ia bisa mengantungi Rp 75 ribu sehari. “Ya lumayan, Mbak, itu biasanya saya nargetin sehari harus dapat segini supaya dapat Rp. 75.000 perhari. Gimanapun caranya saya coba selesaikan, Mbak. Kalau belum selesai ya saya lembur sampai gak tidur. Demi anak-anak.” imbuhnya. Beban Ani sedikit berkurang, karena tak lama kemudian ada yang berminat mengontrak ruko di samping rumahnya untuk dijadikan toko kelontong. Ini karena Ani mematok harga miring atau di bawah harga rata-rata meski lokasi tanahnya sangat strategis dan berada di pinggir jalan raya. “Kan kemarin banyak orang-orang yang menjauhi kita, Mbak, makanya saya tawarkan harga rendah. Alhamdulillahnya yang nyewa mau kita mintain uangnya di awal. Jadi sangat membantu,” ujar Ani tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Dan kini ia akhirnya menekuni usaha yang pernah dirintisnya dahulu yakni membuka warung makan di depan rumahnya. Modal usaha warung makan ini ia dapatkan dari bantuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). “Setelah Bapak bebas pada 2020, kemudian mendapatkan pembinaan dari BNPT dan dimodali sebesar Rp 5 juta untuk modal usaha,” ujar Ani. Usaha ini dipilih, karena dia memang memiliki kemampuan dalam bidang memasak, akhirnya diputuskan untuk membuka warung makan kembali. Munculnya stigma negatif setelah Mardi ditangkap tak hanya mempengaruhi sepinya pengunjung

Perempuan Soloraya dalam Pusaran Terorisme Read More »

Anak Muda Bicara Toleransi: Tak Semua Warung Harus Tutup di Bulan Ramadhan

Tak semua warung harus tutup di bulan Ramadhan. Ini dilakukan untuk memberikan kesempatan buat orang lain yang sedang tak puasa, atau orang yang memang tak melakukan puasa untuk membeli makanan. Saya menyukai semboyan Hasthalaku, yaitu menempatkan orang lain sebagai ‘diriku’, dengan ini maka kita bisa saling memberikan ruang bagi yang lain   Konde, The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia dan Peace Innovation Academy selama bulan Ramadhan menyajikan Edisi Khusus Ramadhan: berupa artikel tentang makna toleransi bagi anak muda. Artikel ini sebagai bagian untuk mengajak anak muda merawat Keberagaman, Perempuan dan Perdamaian. Ini adalah cerita refleksi saya selama bulan Ramadhan: saya selalu bertanya-tanya, mengapa warung-warung makan tidak diizinkan untuk buka selama bulan Ramadhan? Coba simak informasi ini: Majelis Ulama Indonesia (MUI ) Bekasi menghimbau warganya untuk menutup warung makan selama Ramadhan. Menanggapi hal ini, MUI Pusat menyatakan bahwa warung makan tidak diharuskan tutup selama bulan Ramadhan. Lalu ada tanggapan berbeda-beda yang datang dari tokoh masyarakat dari beragam latar belakang. Mari kita coba renungkan bersama.  Saat Ramadhan, tak semua orang melakukan puasa. Mereka yang non muslim maupun Muslim yang berhalangan untuk berpuasa karena sakit, haid, nifas atau sedang bepergian, dibolehkan untuk tidak berpuasa. Jadi kalau semua warung tutup, orang-orang ini akan kesulitan membeli makanan. Tak hanya itu, dari sisi ekonomi pedagang, juga akan timbul pertanyaan: bagaimana nasib para penjual makanan warungan? Siapa yang akan menanggung biaya hidup mereka selama bulan Ramadhan? Lagipula, berpuasa tak sekadar menahan lapar dan haus. Definisi puasa dalam Islam adalah menahan lapar, minum dan segala hawa nafsu dari subuh hingga Maghrib. Jadi puasa juga tentang menahan hawa nafsu dari segala godaan untuk berbuat tidak baik, seperti berbohong, berbuat jahat, menahan amarah maupun syahwat. Tidak makan dan tidak minum bisa dikatakan poin terendah dari puasa. Jika untuk hal inipun kita tidak bisa menahan, bagaimana bisa menahan hal lain yang jauh lebih sulit? Omong-omong tentang puasa, saya jadi teringat tentang hasthalaku, atau delapan perilaku yang merupakan nilai-nilai budaya Jawa. Hasthalaku terdiri dari sikap gotong royong (saling membantu), grapyak semanak (ramah tamah), guyub rukun (kerukunan), lembah manah (rendah hati), ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), andhap ashor (berbudi luhur), dan tepa slira (tenggang rasa). Sebenarnya nilai-nilai ini sudah lama menjadi laku keseharian orang Jawa khususnya di Solo dan sekitarnya. Namun, perlahan nilai-nilai ini tergerus oleh perkembangan jaman dan gempuran budaya luar. Ketika konservatisme beragama dan intoleransi terasa kian menguat seperti sekarang, slogan Solo Bersimfoni coba kembali menggaungkan nilai-nilai hasthalaku menjadi dasar perilaku anak muda di Solo Raya, Kota Solo, Jawa Tengah. Saat mendapatkan pelatihan tentang hasthalaku pada akhir Maret lalu, saya berpikir, mungkin polemik tentang harus tutup tidaknya warung makan saat Ramadhan ini tak bakal muncul jika hasthalaku diterapkan. Hasthalaku dapat dijadikan sebagai pendekatan budaya dan perilaku untuk mengubah perilaku intoleran menjadi perilaku yang toleran dan cinta damai. Saat bulan Ramadan ini, penting bagi kita menerapkan sikap ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), dan tepa slira (tenggang rasa). Sebagai orang Indonesia yang heterogen berbagai agama, implementasi ketiga nilai ini menjadi sangat penting. Ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), dan tepa slira (tenggang rasa) merupakan ketiga poin Hasthalaku yang tidak terpisahkan, ketiganya saling berhubungan erat. Melihat beberapa masalah yang kadang muncul saat bulan Ramadhan tiba, maka sikap saling menghargai dan menghormati diantara orang yang berpuasa dan tidak berpuasa ini dibutuhkan. Jika hal tersebut terjadi maka terwujudlah toleransi. Islam adalah agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam) yang tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk mengontrol orang lain demi kepentingannya sendiri. Islam tidak mengajarkan umatnya melarang orang lain berjualan mencari rezeki hanya agar kita tidak tergoda. Jika kita memiliki sikap ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), dan tepa slira (tenggang rasa) maka akan terwujud masyarakat yang damai dan saling mengerti satu sama lain. Bagi yang berpuasa, tidak membatasi dan tidak mengharuskan orang lain untuk mengikuti apa yang dilakukannya. Pun sebaliknya, bagi yang tidak berpuasa juga bisa menahan diri untuk tidak menggoda temannya yang berpuasa. Tidak makan di tempat terbuka, pedagang makanan juga harus menutupi makanan dagangannya dengan tirai, ini adalah wujud sikap saling menghormati itu.   Menghargai Orang Lain dengan sikap Lembah Manah Saat Ramadan berlalu sikap ewuh pakewuh, tepa selira dan pangerten tetap harus dijalankan. Komunikasi dengan empati terwujud dalam nilai-nilai pangerten, grapyak semanak dan tepa selira. Dengan nilai pangerten dan tepa selira kita mampu mengedepankan rasa bagaimana menjadi orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Grapyak semanak atau sikap ramah terhadap orang lain dapat menumbuhkan kedekatan dan menjadikan kita lebih banyak mendengar keluhan orang lain daripada memaksa mereka mendengarkan kita. Kita akan menjadi orang yang berjasa, menjadi pendengar yang baik dan mampu memberikan ketenangan pada orang lain. Melindungi orang lain merupakan sikap seorang pahlawan. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus menghargai orang lain dengan sikap lembah manah, ewuh-pekewuh, dan andhap asor. Dalam menjaga hubungan sosial dengan orang lain sikap lembah manah, ewuh-pekewuh dan andhap asor memiliki peran yang sangat penting. Sikap rendah hati direfleksikan dalam tutur kata yang sopan, sikap yang lembut, menekankan tata krama, berbicara dengan nada yang baik dan kata-kata yang enak didengar. Kita bisa saja berbeda pendapat, tapi tak harus menggunakan kata-kata kasar apalagi saling menghujat. Selain itu kita juga harus dapat menyesuaikan kondisi dan situasi yang sedang dialami oleh orang-orang di sekitar kita. Manusia sebagai makhluk sosial harus dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar dengan baik. Sikap andhap asor diperlukan agar manusia dapat menjadi seseorang yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Sikap yang terkandung dalam nilai-nilai hasthalaku mencerminkan budi pekerti luhur dan jiwa melayani dan berkorban untuk orang lain. Saat ini kita tak perlu mengangkat senjata untuk berjuang melawan penjajah. Implementasi nilai-nilai hasthalaku akan mengikis sikap intoleransi. Hasthalaku akan menempatkan orang lain sebagai ‘diriku’ yang lain. Dia tidak akan berlaku semena-mena dan akan memperlakukan orang lain sebagaimana dirinya ingin diperlakukan. Karena, pada dasarnya, manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri atau hidup hanya dengan kelompoknya sendiri. Apalagi Indonesia telah mengatur kebebasan beragama dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 29 Ayat 2 berbunyi, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Dengan catatan bahwa tidak mengganggu dan membatasi aktivitas umat beragama lain.   Penulis: ROUDHOTUL JANNAH Mahasiswa Magister Interdisiplinary Islamic Studies

Anak Muda Bicara Toleransi: Tak Semua Warung Harus Tutup di Bulan Ramadhan Read More »

simfoni academy

SIMFONI ACADEMY; DARI SAHABAT UNTUK SAHABAT

Pada akhir Oktober, Sabtu-Minggu 26-27 Maret 2022, Solo Bersimfoni telah melaksanakan kegiatan Simfoni Academy yang merupakan rangkaian akhir open recruitmen Sahabat Simfoni yang baru. Kegiatan ini diselenggarakan selama dua hari secara hybrid (campuran daring dan luring). Jumlah pesertanya adalah sepuluh orang yang merupakan para pemuda dari Soloraya. Sebelumnya, setiap peserta sudah diseleksi melalui tahap pre-test, membuat karya bertema “Toleransi bagi Saya” dalam bentuk tulisan/visual dan atau audio visual, serta terakhir mengikuti tes wawancara.

SIMFONI ACADEMY; DARI SAHABAT UNTUK SAHABAT Read More »