Author: admin

  • Riset Dampak Sekolah Adipangastuti: Kolaborasi Memperkuat Implementasi

    Riset Dampak Sekolah Adipangastuti: Kolaborasi Memperkuat Implementasi

    Rabu, 26 November 2025 – Solo Bersimfoni (SB) melaksanakan kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Pemaparan Hasil Riset Sekolah Adipangastuti (SA) tahun 2025 menghadirkan beragam pandangan dari guru, pengelola program, hingga perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Dipandu oleh pemaparan hasil riset dari Okta Hadi Nurcahyono dan Khresna Bayu Sangka, diskusi berlangsung intens dan produktif, menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat nilai hasthalaku dan keberlanjutan SA di sekolah-sekolah.

    Sebanyak sembilan SMA pelaksana SA yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Mojolaban, SMA Muhammadiyah 1 Surakarta, SMAN 1 Karanganyar, SMAN 1 Gemolong, SMAN 1 Wonogiri, SMAN 2 Klaten dan SMAN 2 Boyolali hadir pada kegiatan ini. Setelah pemaparan hasil riset, semua sekolah memberikan masukan agar pelaksanaan SA ke depan lebih baik.

    Atik Astrini dari SMAN 6 Surakarta, mengungkapkan harapan dilaksanakannya berbagai kegiatan, agar semangat warga sekolah selalu terjaga dalam implementasi SA. Selain itu, beberapa sekolah juga sudah memasukkan Hasthalaku pada program rutin, seperti SMAN 2 Boyolali yang melakukan berbagi praktik inovatif. Yoko Supriyanto, menjelaskan bahwa hasthalaku diimplementasikan dalam poster seni rupa, artikel kokurikuler, mural di setiap kelas, dan lingkungan. Sekolah juga mengadakan pemilihan Duta Adipangastuti. Menariknya, sebagian besar program dapat dijalankan dengan biaya minimal. Namun ia menilai siswa baru lebih mengenal Adipangastuti sebagai identitas visual unik dibanding hasthalaku, sehingga diperlukan penguatan pemahaman.

    Tantangan Implementasi Sekolah Adipangastuti

    Harjanti dari SMAN 2 Klaten menegaskan bahwa SA berjalan baik, sekolah mengagendakan satu kegiatan SA per tahun dan mengundang narasumber dari SB. Munculnya tantangan baru adalah beberapa guru pension, sehingga perlu sosialisasi dan pemahaman SA Kembali untuk menjaga konsistensi branding hasthalaku.

    Hal serupa disampaikan Novi Fajar dari SMAN 1 Wonogiri, yang menyebutkan bahwa SA masih berjalan meski tidak semassif ketika masih ada Mangement Information System (MIS) Sekolah Adipangastuti. Ia menilai bahwa indikator keberhasilan akan membuat program SA lebih terarah. Eka Candra dari SMAN 1 Karanganyar sebagai penerus pelaksana SA di sekolah menambahkan bahwa meski MIS bisa dilaksanakan tanpa anggaran besar, yang diperlukan adalah fasilitasi kreativitas melalui indikator yang lebih beragam. Menurutnya, meski beberapa sekolah mengalami pergantian kepala, implementasi SA tetap berjalan dengan baik asalkan tim pelaksana solid dan sejalan dengan visi misi sekolah.

    Pembiasaan Nilai, Ruang Ekspresi, dan Karakter Siswa

    Amelia Puspitasari dari Cabang Dinas Wilayah V mengapresiasi atmosfer positif SA yang membuat guru aktif berbagi praktik baik. Hasthalaku dianggap mampu membentuk karakter jika dijalankan dengan keteladanan dan konsistensi. Sementara itu, Sigid Susilo dari Cabang Dinas Wilayah VI menyoroti tantangan menyampaikan nilai hasthalaku kepada Gen Z yang memiliki bahasa berbeda. Ia menekankan pentingnya memberi ruang ekspresi agar motivasi siswa tetap tinggi.

    Penguatan karakter juga menjadi fokus Suparmi dari SMAN 1 Mojolaban yang memasukkan anti-bullying ke dalam program SA. Sekolahnya mengembangkan podcast pendidikan serta e-magazine bulanan melalui ekskul LIMO (Literasi Essamo). Harapannya adanya monitoring dan evaluasi implementasi SA yang sistematis, sehingga memicu sekolah untuk melaksanakan SA dengan maksimal. Sularsih dari SMA Muhammadiyah 1 Surakarta menambahkan bahwa kegiatan seperti FGD menjadi sarana memahami keberagaman implementasi SA sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk tampil.

    Sumaryono dari SMAN 1 Gemolong) mengusulkan agar hasthalaku diperkenalkan sejak jenjang SMP. Sementara Swastiko dari SMAN 1 Surakarta menekankan perlunya standarisasi konten website Adipangastuti agar informasi lebih tertata, konsisten, dan mudah diakses.

    Pada bagian pemaparan riset, Okta Hadi menyampaikan bahwa hasil implementasi SA secara umum sudah baik. Namun ia menegaskan bahwa hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi Solo Bersimfoni untuk terus berinovasi, terutama dalam menjaga keberlanjutan dan relevansi program.

    Sekolah Adipangastuti sebagai Gerakan Bersama

    Dari komentar peserta, Okta Hadi melihat potensi SA untuk dilombakan karena setiap sekolah memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. M Farid Sunarto, Ketua Solo Bersimfoni, menambahkan bahwa penguatan SA terbukti menjadi benteng pencegahan kekerasan di sekolah.

    FGD ini menegaskan bahwa keberhasilan Sekolah Adipangastuti tidak hanya bergantung pada satu komponen, tetapi kolaborasi, strategi, konsistensi, dan inovasi bersama. Dengan beragam masukan konstruktif, SA diharapkan semakin matang dan berdampak bagi pembentukan karakter siswa di masa depan.

  • Hasthalaku di Era Deep Learning: Catatan Saya dari Diseminasi Sekolah Adipangastuti 2025

    Hasthalaku di Era Deep Learning: Catatan Saya dari Diseminasi Sekolah Adipangastuti 2025

    Laporan M. Farid Sunarto – Ketua Solo Bersimfoni & Co-Founder Program Sekolah Adipangastuti

     

    Program Sekolah Adipangastuti Mau Dikemanakan?

    Rabu, 26 November 2025, bertempat di Meeting Room Modjola Café di Mojolaban Sukoharjo menjadi lokasi pertemuan diseminasi hasil penelitian yang dihadiri Cabang Dinas V, VI, dan VII Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah serta perwakilan dari 67 SMA pelaksana Program Sekolah Adipangastuti di Provinsi Jawa Tengah. Forum ini untuk mencermati temuan hasil penelitian tim UNS oleh Khresna Bayu Sangka dan Okta Hadi Nurcahyono. Pertemuan ini tidak hanya memaparkan hasil penelitian, tetapi juga menjadi ajang evaluasi substansi program, identifikasi masalah lapangan, serta perumusan strategi yang lebih relevan untuk konteks pendidikan saat ini.

    Sebagai Ketua Solo Bersimfoni sekaligus Co-Founder Program Sekolah Adipangastuti, saya membuka diskusi dengan menekankan urgensi adaptasi program terhadap perubahan kebijakan nasional. Pergeseran dari P5 menuju pendekatan kokurikuler dan Deep Learning Approach menuntut setiap sekolah untuk melakukan penyesuaian metode implementasi nilai-nilai Hasthalaku.

    Beberapa poin penting yang dibahas dalam pembuka pertemuan antara lain: bagaimana memastikan keberlanjutan nilai Hasthalaku dalam struktur kurikulum yang berubah; perlunya peningkatan kapasitas guru untuk menghadapi tuntutan digitalisasi; kesiapan sekolah dalam merespons perubahan kebijakan pusat secara sistematis; dan pentingnya dukungan kelembagaan, khususnya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan pemerintah provinsi Jawa Tengah.

    Dalam forum ini saya menegaskan bahwa konsistensi program tidak cukup hanya bertumpu pada praktik yang telah berjalan. Diperlukan pembaruan konsep, penguatan kapasitas, dan sinkronisasi kebijakan agar Sekolah Adipangastuti tetap relevan serta dapat memperluas dampaknya.

    Temuan Lapangan: Hasthalaku Menjadi Identitas Baru Sekolah

    Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai Hasthalaku yang terdiri dari gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, andhap asor, dan tepa selira, telah membentuk habitus baru di sekolah-sekolah. Banyak guru menyampaikan bahwa siswa kini lebih reflektif, lebih terbuka dalam berdialog, dan memiliki kepekaan sosial yang lebih baik melalui kegiatan literasi dan digitalisasi. Juga memperkaya konten praktik baik di media sosial seperti ruang podcast, TikTok sekolah, mading digital, hingga proyek observasi sosial.

    Yang menjadi kabar baiknya adalah, meskipun program yang dilead dalam MIS Adipangastuti telah berakhir, namun kegiatan literasi masih berjalan secara mandiri, tanda bahwa nilai-nilai ini tidak berhenti sebagai proyek, tetapi tumbuh menjadi budaya. Beberapa sekolah adipangastuti juga meningkatkan kapasitas guru dalam membangun kecakapan narasi dan literasi dengan pendekatan teknologi dan AI.

    Namun demikian, saya juga mencatat tantangan yang mengemuka: keterbatasan waktu guru pembimbing adipangastuti, masuknya siswa baru yang belum tersosialisasi program adipangastuti, serta fasilitasi kecakapan teknologi dan AI yang belum merata. Semua ini menjadi pekerjaan bersama jika kita ingin program ini bertahan dan berkembang.

    Gelombang Perubahan Nasional: Saat Pendidikan Nilai Budaya Jawa Hasthalaku Harus Menyelaraskan Irama Baru

    Perubahan kebijakan pendidikan nasional yang kini beralih dari fokus Projek Profil Pelajar Pancasila (P5) menuju pendekatan Deep Learning dan 8 Dimensi Profil Lulusan menciptakan dinamika baru bagi 67 SMA pelaksana program adipangastuti di Jawa Tengah.

    Saya menyoroti perubahan ini, dahulu P5 menjadi panggung besar implementasi nilai karakter, kini sekolah harus menenun pendidikan karakter ke dalam kokurikuler yang dikehendaki pemerintah melalui tiga strategi utama: (1) integrasi antarmapel, (2) Gerakan 7 Kebijakan Anak Hebat Indonesia (G7KAIH), dan (3) strategi proyek kokurikuler lainnya.

    Dalam konteks itu, nilai-nilai Hasthalaku tidak boleh sekadar dipindahkan bentuknya. Ia harus diinterpretasi ulang, dirumuskan ulang, dan diiterasikan ulang ke dalam struktur baru yang menuntut kolaborasi lintas mata pelajaran, kreativitas guru, serta keberanian sekolah untuk bereksperimen.

    Saya menegaskan, “Kita tidak sedang memindahkan wadah, tetapi sedang menciptakan dapur baru. Dan dapur baru membutuhkan resep baru.”

    Dengan perubahan menuju 8 dimensi lulusan, sekolah kini menghadapi tantangan baru: bagaimana memastikan bahwa nilai budaya lokal tetap menjadi DNA pembentukan karakter peserta didik ketika indikator dan kerangka nasional berubah total. Di sinilah pentingnya peran Program Sekolah Adipangastuti sebagai model pendidikan berbasis budaya Jawa yang lentur, mampu menyesuaikan diri, tetapi tetap teguh pada jati dirinya.

    “Brokoli dalam Pasta”: Metafora Baru Pendidikan Karakter Jawa

    Pada sesi pemantik diskusi, saya memperkenalkan metafora yang menjadi arah baru program Adipangastuti: Hasthalaku adalah brokoli. Teknologi adalah pasta. Brokoli itu sayuran bernutrisi baik, tetapi anak muda tidak selalu tertarik makan sayur brokoli. Pasta disukai para gen z dan gen alfa, dimaknai lezat, modern, dan mudah diterima. “Maka tugas kita adalah menyajikan ‘brokoli dalam pasta’ nilai budaya dikemas dalam teknologi yang digemari generasi masa kini.”

    Pendidik tidak boleh takut pada teknologi. AI bukan ancaman; ia adalah assistant intelligence yang dapat membantu guru merumuskan narasi pembelajaran, menganalisis karakter siswa, dan menyajikan materi secara personal. Di luar negeri, AI telah digunakan sebagai personalisasi AI, sebuah model AI yang disesuaikan dengan karakter, interest dan gaya belajar setiap siswa. Di Indonesia, kita harus berani melompat. Tidak cukup berjalan mengikuti perubahan, kita harus berlari mengejar relevansi.

    Komitmen Program Sekolah Adipangastuti: Merajut Budaya Lokal dan Teknologi Terkini

    Dalam sesi akhir diseminasi, saya menyampaikan komitmen strategis Solo Bersimfoni untuk membawa Program Sekolah Adipangastuti memasuki fase baru, fase yang bukan lagi berfokus pada mempertahankan program, tetapi mengonsolidasikan identitasnya sebagai model pendidikan budaya-modern yang canggih dan relevan.

    Pertama, kami berkomitmen merancang ulang modul Adipangastuti agar selaras dengan tiga strategi kokurikuler dan 8 profil lulusan. Bukan sekadar menyesuaikan, tetapi memformulasikan ulang agar nilai Hasthalaku tampil lebih kuat, lebih kontekstual, dan lebih mudah diterapkan lintas mata pelajaran.

    Kedua, peningkatan kapasitas digital literasi guru menjadi prioritas mutlak. Para guru perlu memasuki ranah baru: AI dan Asisten AI untuk pembelajaran, pembuatan konten kreatif yang berkelas, manajemen branding digital, serta keterampilan berpikir kritis tingkat lanjut yang dapat mentransformasikan ruang kelas menjadi ruang eksplorasi. Guru tidak lagi hanya sebagai pengajar, tetapi arsitek pengalaman belajar.

    Ketiga, kami akan mengembangkan ekosistem sekolah yang lebih modern adaptif dengan implementasi teknologi yang membantu pembelajaran: studio podcast, tim ekstra kurikuler adipangastuti, pemanfaatan AI dan asisten AI, hingga ruang-ruang kreatif bagi siswa untuk membangun identitas karakter melalui teknologi.

    Saya menutup sesi tersebut dengan pemikiran yang sangat saya yakini: “Budaya memberikan akar, teknologi memberikan sayap. Bila keduanya dirajut bersama, kita akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi berkarakter, kreatif, dan berdaya saing global. Hasthalaku bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah bahasa karakter masa depan, selama kita berani menyajikannya dengan cara baru.”

    Komitmen ini tidak hanya dibangun oleh Solo Bersimfoni, tetapi juga oleh para kepala sekolah, guru, Cabdin, dan seluruh ekosistem pendidikan Jawa Tengah. Bersama-sama, kita menulis babak baru: babak ketika nilai Jawa tidak lagi berjalan di belakang perkembangan zaman, tetapi berjalan bersisian, bahkan memimpin.

  • Menggali Kearifan Lokal Solo Melalui Pelatihan Penulisan Feature;  Kegiatan Projek Kokurikuler Kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2025/2026

    Menggali Kearifan Lokal Solo Melalui Pelatihan Penulisan Feature; Kegiatan Projek Kokurikuler Kelas X SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2025/2026

    Kearifan lokal bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas yang menuntun generasi muda memahami akar budaya mereka. Dengan semangat itulah SMA Negeri 1 Surakarta menyelenggarakan kegiatan Projek Kokurikuler bertema Kearifan Lokal untuk siswa kelas X tahun pelajaran 2025/2026. Salah satu rangkaian penting dalam kegiatan ini adalah Pelatihan Penulisan Artikel Feature, sebuah bekal yang dirancang untuk mengajak siswa mengenal, merasakan, dan menuliskan kembali kekayaan budaya Solo dan sekitarnya. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 13 November 2025 di Aula SMAN 1 Surakarta.

    Pelatihan ini dilaksanakan sebagai langkah awal sebelum siswa terjun langsung melakukan kunjungan lapangan. Para peserta dibimbing untuk memahami dasar-dasar penulisan feature, jenis tulisan yang ringan, luwes, serta dekat dengan gaya komunikasi generasi sekarang, namun tetap mampu menyampaikan pesan mendalam. Feature dipilih karena mampu menjembatani pengalaman nyata di lapangan dengan gaya bertutur yang personal dan menggugah.

    Solo, atau Surakarta, merupakan kota dengan kekayaan budaya yang adi luhung. Hamparan bangunan bersejarah, pusat kerajinan, pertunjukan seni tradisi, hingga ragam makanan khas menjadi laboratorium budaya yang sangat kaya untuk dieksplorasi oleh siswa. Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengenal kembali ruang-ruang kota yang mungkin selama ini mereka lewati tanpa menyadari nilai historis dan filosofisnya.

    Dalam pengantar kegiatan, Penanggung Jawab Kokurikuler SMA Negeri 1 Surakarta, Ibu Arni Ferra Sinatra, S.Pd., M.Pd., menegaskan pentingnya keterampilan menulis bagi generasi muda. “Menulis merupakan sebuah keterampilan yang sangat mendukung kesuksesan siswa di masa depan. Dengan mengenal kearifan lokal, siswa diharapkan dapat memiliki jati diri yang kuat dan mengakar pada budayanya sendiri,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa penulisan feature mampu mendekatkan tema besar mengenai budaya ini dengan cara yang lebih hangat dan relevan bagi siswa.

     

    Kegiatan pembekalan ini mendatangkan narasumber dari Solo Bersimfoni, Tia Brizantiana. Dalam paparannya, Tia menekankan bahwa tulisan feature berisi tak hanya 5W dan 1 H, tetapi juga kisah di dalam kisah. “Tulisan feature menggunakan detail naratif yang membangkitkan empati. Tulisan ini bersikat ringan, tidak selalu terkait dengan berita penting atau terbaru,” lanjut Tia.

    Rangkaian kegiatan siswa dirancang untuk menyentuh berbagai aspek kearifan lokal Solo, seperti bangunan bersejarah, makanan khas, pertunjukan tradisional, dan pusat kerajinan. Tiap kelompok akan diajak mengunjungi keempat aspek di atas. Untuk bangunan bersejarah, tak hanya Keraton Kasunanan Surakarta atau Pura Mangkunegaran, siswa juga boleh memilih mengunjungi bangunan bersejarah lain seperti Loji Gandung, Gedung Bank Indonesia maupun Hotel Cakra yang ternyata memiliki sejarah penting di Solo. Kampung Batik Laweyan dan Kauman bisa dikunjungi sebagai pusat kerajinan, jika siswa tertarik pada alat music, bisa berkunjung ke Sentra Kerajinan Gitar Baki yang berada di Sukoharjo.

    Pertunjukan budaya seperti Wayang Wong Sriwedari, Sendratari Ramayana Balekambang, atau rumah budaya seperti Rumah Budaya Kratonan dan Semarak Candra Kirana yang juga mengadakan pertunjukan seni sesekali. Tidak kalah menarik, ragam kuliner khas Solo seperti nasi liwet, cabuk rambak, dan tahu kupat, dapat menjadi bahan tulisan feature yang menggugah, karena setiap hidangan memuat cerita masyarakat yang melestarikannya.

    Kegiatan ini bukan hanya bertujuan menghasilkan tulisan, melainkan membangun kesadaran budaya. Dengan terjun ke lapangan, mewawancarai pelaku budaya, dan merasakan langsung pengalaman kota, siswa diharapkan mampu menyusun tulisan yang kaya detail dan menggambarkan makna budaya secara mendalam.

    Ibu Ferra menutup sesi pembekalan dengan pesan reflektif: “Mengenal kekayaan kearifan lokal dan menuliskannya merupakan sebuah upaya untuk merawat warisan leluhur.” Sejalan dengan itu, Tia Brizantiana mengingatkan bahwa generasi muda adalah penjaga kesinambungan budaya. Tulisan mereka dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

    Melalui kegiatan projek kokurikuler ini, SMA Negeri 1 Surakarta berharap siswa dapat mengembangkan literasi, kreativitas, dan kepekaan budaya. Lebih dari itu, mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tidak tercerabut dari akar, serta mampu menceritakan kekayaan Solo kepada dunia melalui tulisan-tulisan yang hidup, menarik, dan bermakna.

  • Peningkatan Kompetensi Digital melalui IHT SMAN 1 Sumberlawang bersama Solo Bersimfoni

    Peningkatan Kompetensi Digital melalui IHT SMAN 1 Sumberlawang bersama Solo Bersimfoni

    SMAN 1 Sumberlawang terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui penguatan kompetensi digital bagi siswa maupun guru. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan In House Training (IHT) yang menghadirkan narasumber Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si. Kegiatan IHT ini dilaksanakan sebanyak dua kali dengan sasaran peserta yang berbeda yaitu guru dan siswa, tetapi tetap berfokus pada pemanfaatan teknologi digital dalam dunia pendidikan.

    Kegiatan pertama pada Selasa, 11 November 2025, diikuti oleh siswa perwakilan ekstrakurikuler dari berbagai bidang. Mengusung tema “Pemanfaatan Platform Digital untuk Pembelajaran”, sesi ini bertujuan membekali para siswa agar mampu mengoptimalkan teknologi sebagai alat pendukung belajar sekaligus media publikasi kegiatan positif mereka. Dalam pemaparannya, M. Farid Sunarto menjelaskan berbagai platform digital yang dapat dimanfaatkan, mulai dari aplikasi berbagi dokumen, media presentasi kreatif, platform manajemen kegiatan, hingga media sosial sebagai wadah publikasi kegiatan sekolah.

    Para peserta yang merupakan siswa aktif dari berbagai organisasi dan ekstrakurikuler tampak sangat antusias mengikuti sesi ini. Mereka diajak memahami cara menggunakan teknologi secara efektif, kreatif, dan tetap etis. Digitalisasi, menurut narasumber, bukan hanya kebutuhan, tetapi juga peluang bagi generasi muda untuk terus berkembang. Kegiatan positif yang dilakukan siswa dapat dipublikasikan dengan cara yang lebih menarik sehingga mampu memberikan inspirasi bagi warga sekolah lainnya. Hal ini sejalan dengan tujuan sekolah untuk menciptakan generasi yang berdaya saing dan peka terhadap perkembangan zaman.

    Kegiatan IHT kedua ditujukan pada guru dengan tema “Meningkatkan Kompetensi Literasi Digital untuk Guru” yang dikemas dalam pelatihan berjudul “Guru Cerdas Digital”. Melalui pelatihan ini, guru-guru SMAN 1 Sumberlawang dibimbing untuk memahami lebih jauh penggunaan teknologi dalam kegiatan administratif, pembuatan media ajar interaktif, hingga pengelolaan kelas digital. Narasumber menekankan bahwa literasi digital kini menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki pendidik untuk mendukung efektivitas proses pembelajaran.

    Para guru sangat antusias mengikuti pelatihan ini karena materi yang diberikan benar-benar aplikatif dan relevan dengan tugas mereka sehari-hari. Dengan penguasaan teknologi yang lebih baik, guru dapat menyampaikan materi pelajaran secara lebih menarik, menciptakan interaksi yang lebih dinamis, dan mengelola administrasi pembelajaran dengan lebih efisien. Peserta menyampaikan bahwa pelatihan literasi digital ini sangat bermanfaat dan membantu mereka meningkatkan kualitas kerja serta memberikan pengalaman baru dalam mengimplementasikan strategi pembelajaran berbasis digital.

     

    Selain memberikan manfaat bagi guru, literasi digital ini juga memberikan dampak langsung bagi siswa. Dengan meningkatnya kompetensi digital pendidik, proses pembelajaran pun menjadi lebih mudah, menarik, dan relevan bagi perkembangan kemampuan digital siswa. Para peserta pelatihan menegaskan bahwa digitalisasi sangat membantu siswa dalam mengembangkan kompetensinya, terutama dalam mengelola informasi dan mempublikasikan kegiatan positif sekolah.

    Kepala SMAN 1 Sumberlawang, Dra. Suranti Tri Umiatsih, M.Eng., menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini dapat diagendakan setiap tahun sebagai upaya mengembangkan kompetensi seluruh warga sekolah. Pendidikan berbasis digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menyiapkan generasi yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Melalui kegiatan IHT ini, SMAN 1 Sumberlawang kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan tuntutan zaman.

  • Pembekalan Peserta Pemilihan Putra Putri Smansa Solo (SWARNADIPA) 2025: Menanamkan Hasthalaku di Dunia Online dan Offline

    Pembekalan Peserta Pemilihan Putra Putri Smansa Solo (SWARNADIPA) 2025: Menanamkan Hasthalaku di Dunia Online dan Offline

    Pemilihan Putra Putri Smansa Solo (SWARNADIPA) 2025 kembali hadir sebagai wadah yang menampilkan bakat, kecerdasan, dan kepemimpinan siswa SMA Negeri 1 Surakarta. Mengusung slogan SMANSA’s World of Radiant Youth, ajang ini menjadi panggung bagi generasi muda yang siap memancarkan keemasan dalam karakter, wawasan, serta perilaku digital. Rangkaian kegiatan pembekalan peserta dilaksanakan pada Selasa, 11 November 2025, setelah proses belajar mengajar selesai, dan sepenuhnya diselenggarakan oleh OSIS SMAN 1 Surakarta. Adapun peran guru hadir hanya pada tahap penjurian, guna memastikan objektivitas dan kualitas penilaian.

    Pembekalan ini mengundang narasumber dari Solo Bersimfoni, Tia Brizantiana. Materi dimulai dengan pendalaman Hasthalaku, delapan nilai luhur budaya Jawa yaitu gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor, dan tepa selira. Nilai-nilai ini tidak hanya menjadi pedoman etika, tetapi juga dasar pembentukan pribadi yang berintegritas. Para peserta diajak memahami bahwa seorang Putra Putri Smansa merupakan representasi sekolah yang harus mampu menjadi teladan dalam tutur kata, sikap sosial, serta penghormatan kepada sesama. Dengan Hasthalaku, karakter anggun dan berwibawa dapat tumbuh secara alami.

    Materi kemudian dilanjutkan dengan literasi digital, sebuah kompetensi penting di era modern. Peserta dibekali kemampuan menilai, memilah, dan mengolah informasi secara kritis agar tidak mudah terjebak pada informasi palsu maupun provokatif. Mereka juga diajak memahami jejak digital, etika bermedia, serta bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana berkarya, berkomunikasi, dan menginspirasi. Literasi digital menjadi fondasi bagi peserta untuk tampil cerdas dan berwawasan luas.

    Bagian terakhir pembekalan menyoroti keamanan digital. Materi ini mencakup perlindungan data pribadi, ancaman siber, keamanan akun, hingga risiko penyalahgunaan informasi. Melalui pemahaman ini, peserta diharapkan mampu menjaga diri di ruang digital sekaligus mempertahankan citra positif sebagai figur publik sekolah. Kesadaran akan keamanan digital menjadi bekal penting di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

    Dengan rangkaian pembekalan yang komprehensif ini, SWARNADIPA 2025 berupaya mencetak generasi muda yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter kuat dan cakap dalam menghadapi tantangan era digital. Melalui perpaduan nilai Hasthalaku dan kecakapan digital, para peserta diharapkan mampu memancarkan semangat Radiant Youth dan menjadi kebanggaan Smansa Solo.

  • IHT SMAN 1 Gemolong: Mewujudkan Ruang Maya yang Sehat melalui Literasi Digital, Etika Bermedia Sosial, dan Gerakan Anti-Perundungan

    IHT SMAN 1 Gemolong: Mewujudkan Ruang Maya yang Sehat melalui Literasi Digital, Etika Bermedia Sosial, dan Gerakan Anti-Perundungan

    Dalam menghadapi tantangan era digital yang semakin kompleks, SMAN 1 Gemolong mengadakan kegiatan In House Training (IHT) dengan tema “Mewujudkan Ruang Maya yang Sehat melalui Literasi Digital, Etika Bermedia Sosial, dan Gerakan Anti-Perundungan.” Kegiatan ini dilaksanakan dua kali, yaitu pada Senin, 10 November 2025 dengan peserta para guru, serta pada Selasa, 11 November 2025 dengan peserta siswa.

    IHT tersebut menghadirkan narasumber M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si., Ketua Solo Bersimfoni. Melalui kegiatan ini, SMAN 1 Gemolong berupaya membekali seluruh warga sekolah dengan pemahaman yang komprehensif tentang pentingnya beretika di ruang digital sekaligus mencegah maraknya perundungan (bullying) yang kerap muncul, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

    Hari Pertama: Guru dan Tantangan Literasi Digital di Era AI

    Sesi pertama pada Senin, 10 November 2025 diikuti oleh seluruh guru SMAN 1 Gemolong. Selain membahas literasi digital dan etika bermedia sosial, kegiatan ini juga menambahkan materi khusus mengenai Artificial Intelligence (AI) dan pemanfaatannya dalam dunia pendidikan.

    Plt. Kepala SMAN 1 Gemolong, Dra. Suranti Tri Utmiasih, M.Eng., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari agenda peningkatan kompetensi dan kualitas guru.

    “Ya, intinya kami memang mengagendakan yang pertama itu peningkatan kompetensi dan kualitas guru. Di zaman sekarang ini guru harus melek teknologi untuk pembelajarannya. Anak-anak generasi sekarang, generasi Z, sudah sangat dekat dengan teknologi. Jadi guru pun harus bisa mengikuti,” ujar beliau.

    Beliau juga menekankan bahwa penguasaan teknologi, termasuk pemanfaatan AI, akan sangat membantu guru dalam perencanaan pembelajaran serta dalam menciptakan media belajar yang lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa.

    “Dengan adanya pelatihan penggunaan AI dan sebagainya itu sangat-sangat membantu sekali untuk Bapak Ibu Guru dalam perencanaan pembelajaran. Media-media pembelajarannya menjadi lebih menarik dan menyenangkan untuk anak-anak,” tambahnya.

    Melalui materi ini, para guru diharapkan tidak hanya mampu menggunakan teknologi sebagai alat bantu, tetapi juga dapat menanamkan nilai-nilai etis kepada siswa agar lebih bijak dalam menggunakan media digital.

    Hari Kedua: Siswa dan Gerakan Anti-Perundungan

    Kegiatan hari kedua, Selasa, 11 November 2025, diikuti oleh seluruh siswa SMAN 1 Gemolong. Pada kesempatan ini, narasumber mengajak peserta memahami lebih dalam tentang bahaya perundungan (bullying), terutama yang terjadi di media sosial. Melalui diskusi dan simulasi, siswa diajak mengenali berbagai bentuk perundungan, dampaknya terhadap korban, serta langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menanganinya.

    Kepala Sekolah menegaskan bahwa kegiatan ini penting agar siswa tidak hanya sadar hukum, tetapi juga memiliki empati dan tanggung jawab sosial.

    “Hari kedua ini kan terkait dengan sosialisasi pencegahan dan bagaimana penindakan kalau terjadi bullying. Anak-anak harus tahu supaya mereka itu paling tidak bisa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka jadi lebih paham, lebih mengerti, harapannya agar anak-anak di sekolah ini terhindar dari tiga dosa besar dalam pendidikan, salah satunya adalah perundungan,” jelasnya.

    Beliau juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya kasus kekerasan dan perundungan yang viral di media sosial.

    “Kalau kita lihat di medsos itu mengerikan ya, bullying dan kekerasan di mana-mana. Harapan saya anak-anak paham dan terhindar dari hal-hal seperti itu,” pungkasnya.

    Menumbuhkan Budaya Digital yang Sehat

    Melalui pelaksanaan IHT ini, SMAN 1 Gemolong menunjukkan komitmennya dalam membentuk ekosistem pendidikan yang adaptif, beretika, dan aman di era digital. Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang kesadaran dalam berperilaku di ruang maya.

    Dengan sinergi antara guru yang melek teknologi dan siswa yang beretika dalam bermedia sosial, diharapkan sekolah dapat menjadi ruang yang bebas dari perundungan serta menjadi pelopor gerakan digital well-being di lingkungan pendidikan.

    Kegiatan IHT ini bukan sekadar pelatihan, tetapi juga langkah nyata SMAN 1 Gemolong dalam menyiapkan generasi cerdas digital, generasi yang mampu berpikir kritis, berempati, dan berakhlak mulia di tengah derasnya arus teknologi.

  • Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Tindak Kekerasan di SMAN 1 Wonogiri

    Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Tindak Kekerasan di SMAN 1 Wonogiri

    Sebagai upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari tindak kekerasan, SMAN 1 Wonogiri mengadakan kegiatan Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Tindak Kekerasan. Kegiatan ini diikuti oleh 180 siswa kelas X dan XI serta difasilitasi langsung oleh Fasilitator Nasional Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang juga Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si.. Sosialisasi ini menjadi langkah konkret sekolah dalam menanamkan nilai-nilai empati, menghargai perbedaan, serta memperkuat komitmen bersama untuk menciptakan sekolah yang ramah dan berkarakter.

    Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman langsung kepada siswa mengenai berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan, baik kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis, serta dampak negatif yang ditimbulkannya bagi korban, pelaku, maupun komunitas sekolah secara keseluruhan. Melalui pemaparan dan contoh kasus nyata, siswa diajak untuk lebih peka terhadap tindakan-tindakan yang termasuk kategori kekerasan dan pentingnya mencegah hal tersebut sejak dini.

    Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Dengan pendekatan tatap muka yang komunikatif dan interaktif, fasilitator memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan situasi yang mungkin terjadi di lingkungan mereka. Suasana diskusi yang terbuka membantu siswa memahami bahwa pencegahan kekerasan bukan hanya tanggung jawab guru atau pihak sekolah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah.

    Materi sosialisasi juga mencakup informasi dan prosedur penanganan tindak kekerasan sesuai mekanisme kerja TPPK di satuan pendidikan. Siswa diperkenalkan pada langkah-langkah pelaporan jika mereka mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan, termasuk kepada siapa laporan disampaikan dan bagaimana tindak lanjut dilakukan secara profesional dan sesuai prosedur. Hal ini penting agar setiap siswa merasa terlindungi dan tahu bahwa sekolah memiliki sistem yang jelas untuk menangani setiap laporan kekerasan.

    Salah satu bagian menarik dari kegiatan ini adalah dialog terbuka antara siswa dan fasilitator nasional TPPK. Melalui sesi tanya jawab dan simulasi situasi nyata, peserta belajar memahami cara merespons situasi kekerasan dengan bijak, mendukung teman yang menjadi korban, serta tidak menjadi bagian dari tindakan yang memperburuk keadaan. Pendekatan partisipatif ini juga menumbuhkan sikap empati, saling menghargai, dan tanggung jawab sosial antar siswa.

    Kepala SMAN 1 Wonogiri, Drs. Susilo Joko Raharjo, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan harapan besar dari kegiatan ini. Beliau berharap agar seluruh siswa memahami cara mencegah tindak kekerasan dan mampu menanganinya sesuai prosedur jika sudah terjadi, sehingga tidak ada lagi kasus yang diabaikan atau diselesaikan secara keliru. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat iklim kebhinekaan dan keberagaman di lingkungan sekolah, di mana setiap siswa, tanpa memandang latar belakangnya, merasa aman dan dihargai.

    “Solo Bersimfoni sebagai Lembaga yang memproyeksikan toleransi dan anti radikalisme dengan hasthalakunya, yang diimplementasikan di SMAN 1 Wonogiri dengan tujuan agar siswa memahami jenis-jenis pencegahan kekerasan di sekolah”, tambah beliau.

    Dengan terselenggaranya sosialisasi ini, SMAN 1 Wonogiri berkomitmen untuk terus mengembangkan budaya sekolah yang positif, ramah, dan bebas dari kekerasan. Sinergi antara siswa, guru, dan TPPK menjadi modal penting untuk mewujudkan sekolah yang benar-benar menjadi tempat tumbuh kembang yang sehat bagi generasi muda.

  • IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN 2 Klaten: Wujud Nyata Komitmen Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman

    IHT Sekolah Adipangastuti di SMAN 2 Klaten: Wujud Nyata Komitmen Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman

    Dalam upaya memperkuat komitmen terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan, SMAN 2 Klaten menggelar kegiatan In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti dengan tema “Sosialisasi Penanggulangan dan Pencegahan Kekerasan pada Satuan Pendidikan”. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari implementasi kebijakan nasional tentang pencegahan kekerasan di satuan pendidikan, sekaligus menjadi langkah nyata sekolah dalam menciptakan budaya positif di lingkungan belajar. Narasumber dalam kegiatan ini adalah Ketua Solo Bersimfoni yang juga menjadi Fasilitator Nasional (Fasnas) Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), M. Farid Sunarto, S.Pd., M.Si.

    Kegiatan IHT ini terbagi menjadi dua sesi, yaitu sesi untuk siswa dan guru, dengan total peserta yang cukup besar. Pada sesi pertama, peserta terdiri atas 60 siswa, yang meliputi 19 siswa laki-laki dan 41 siswa perempuan. Sesi ini difokuskan pada peningkatan pemahaman siswa mengenai berbagai bentuk kekerasan di lingkungan sekolah, baik kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis, serta cara melaporkannya melalui mekanisme yang benar. Para siswa diajak untuk aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, dan menyusun komitmen bersama dalam menjaga lingkungan sekolah agar terbebas dari segala bentuk kekerasan.

    Sesi kedua diikuti oleh 49 guru dan tenaga kependidikan, dengan komposisi 18 laki-laki dan 31 perempuan. Dalam sesi ini, para pendidik diberikan pembekalan mengenai langkah-langkah penanganan kasus kekerasan, termasuk sistem pelaporan internal, pendampingan psikologis, serta peran guru dalam menciptakan iklim sekolah yang aman. Guru diharapkan tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pelindung dan pembimbing bagi siswa yang mungkin mengalami kekerasan atau pelecehan dalam bentuk apa pun.

    Tujuan utama kegiatan ini adalah membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan untuk melaporkan serta merespons kasus kekerasan, sekaligus mendorong partisipasi aktif seluruh komunitas sekolah dalam membangun budaya anti kekerasan. Melalui pelatihan ini, seluruh warga sekolah diharapkan memiliki kesadaran dan keberanian untuk bertindak ketika melihat atau mengalami kekerasan, serta saling mendukung dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif.

    Plt. Kepala SMAN 2 Klaten, Dra. Eny Sulistiyawati, menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini dan berharap agar seluruh peserta dapat mengimplementasikan hasil pelatihan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

    “Kami berharap melalui kegiatan IHT Sekolah Adipangastuti ini, seluruh warga sekolah semakin menyadari pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Kesadaran terhadap berbagai jenis kekerasan dan dampaknya harus ditingkatkan, agar tidak ada lagi ruang bagi kekerasan di sekolah kita,” ujar Kepala Sekolah dalam pesannya.

    Kegiatan IHT ini menegaskan komitmen SMAN 2 Klaten dalam menjalankan perannya sebagai sekolah yang peduli terhadap keselamatan dan kesejahteraan seluruh warganya. Dengan kolaborasi antara guru, siswa, dan pihak sekolah, diharapkan tercipta budaya sekolah yang inklusif, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sesuai dengan nilai hasthalaku.

    Melalui IHT Sekolah Adipangastuti, SMAN 2 Klaten tidak hanya memperkuat kapasitas warganya dalam menangani kasus kekerasan, tetapi juga meneguhkan diri sebagai pelopor dalam mewujudkan satuan pendidikan yang benar-benar aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.

  • UNTUK KAMU YANG MASIH NIREMPATI: BELAJAR DARI TANTE SHARON

    UNTUK KAMU YANG MASIH NIREMPATI: BELAJAR DARI TANTE SHARON

    Sudah lima belas hari berlalu sejak kasus meninggalnya Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Universitas Udayana. Peristiwa ini diwarnai isu perundungan dan perilaku nirempati dari beberapa mahasiswa yang terekam dalam tangkapan layar di grup percakapan yang kemudian memicu kemarahan publik di media sosial. Namun, di tengah gejolak tersebut, Ibunda Timothy, Tante Sharon, justru memancarkan keteladanan luar biasa: welas asih dan empati yang melampaui kesedihannya sendiri.

    Sikap mulia Tante Sharon bukan hanya cermin dari kemuliaan seorang ibu, tetapi juga kritik tajam terhadap kondisi masyarakat yang mulai kehilangan empati, khususnya di ruang digital. Empati yang ditunjukkan Tante Sheren ini menjadi panggilan moral bagi kita semua untuk merenungkan makna sejati dari empati.

    Empati Sejati Melampaui Penderitaan Pribadi

    Tante Sharon memilih jalan pengampunan daripada hukuman atau balas dendam. Tindakannya mencerminkan sikap welas asih yang jauh melampaui kebencian terhadap orang yang telah menyakiti anaknya. Alih-alih menghukum, beliau memutuskan untuk menganggap pelaku yang terlibat dalam perundungan kepada anaknya sebagai “anak baru” yang harus dipantau. Hal ini merupakan sikap welas asih dari Tante Sheren dengan memperlakukan pelaku sebagai individu yang melakukan kesalahan sesaat dan berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Pelaku tidak dilihat sebagai musuh, melainkan sebagai orang yang membutuhkan arah yang benar.

    Selain itu, Tante Sharon juga memberikan syarat “wajib lapor” kepada beberapa pelaku untuk mengedukasi dan membantu mereka berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ini adalah langkah untuk membentuk integritas dan tanggung jawab dalam diri mereka, sekaligus membawa semangat Timothy dalam hidup mereka. Hal ini bisa disebut sebagai kehangatan di tengah kehancuran. Alih alih melampiaskan amarah saat bertemu dengan pelaku, tante Sheren memilih untuk merangkul dan memberikan nasihat yang baik.

    Sikap Tante Sharon yang penuh welas asih ini mengkritik budaya nirempati yang semakin merajalela, terutama di dunia maya. Kasus ini menunjukkan bagaimana perundungan daring bisa berkembang begitu cepat, dengan individu yang merundung korban tanpa mengetahui siapa mereka sebenarnya. Tante Sheren mengungkapkan bahwa sebagian besar pelaku perundungan daring bahkan tidak mengenal Timothy secara pribadi.

    Perbedaan antara sikap welas asih seorang ibu yang berduka dan konten perundungan yang penuh hinaan menjadi panggilan bagi kita semua untuk melakukan introspeksi. Tragedi ini mengingatkan kita betapa mudahnya kehilangan empati saat berinteraksi, baik di kampus maupun di media sosial.

    Mengubah Duka Menjadi Perbaikan Sistem

    Tante Sharon tidak hanya menunjukkan empati melalui kata-kata, tetapi juga dengan langkah konkret untuk memperbaiki sistem yang ada, yaitu fokus pada kebijakan nasional dan mendorong konseling proaktif.

    Pertama, Tante menyerukan agar pihak kampus dan kementerian terkait berkolaborasi dalam membenahi pendidikan moral, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Beliau menyadari bahwa perundungan adalah masalah nasional yang tidak bisa diselesaikan hanya di tingkat perguruan tinggi. Kedua, beliau mendorong agar layanan konseling kampus lebih proaktif, untuk memastikan bahwa tidak ada mahasiswa yang merasa sendirian atau tertekan. Ini adalah langkah konkret untuk mendukung kesehatan mental mahasiswa dan mencegah tragedi serupa di masa depan.

    Hasthalaku: Pilar Karakter Bangsa yang Relevan di Era Digital

    Dalam nilai Hasthalaku, ada nilai-nilai seperti Tepa Selira (tenggang rasa dan empati) dan Andhap Asor (bersikap berbudi luhur dan tidak angkuh). Tante Sheren menunjukkan Tepa Selira dengan memberikan tenggang rasa kepada mereka yang terlibat dalam perundungan, bahkan ketika mereka adalah pelaku yang telah menyakiti anaknya. Andhap Asor, atau rendah hati, juga terlihat jelas dalam dirinya. Meskipun ia sedang dilanda kesedihan yang mendalam, Tante Sheren tetap bersikap rendah hati dan berbudi luhur, tidak terjerumus dalam kebencian atau balas dendam.

    Melalui penerapan nilai-nilai Hasthalaku ini, Tante Sharon memberi teladan hidup yang berharga bagi kita semua. Ia mengajarkan bahwa empati, kasih sayang, dan kebijaksanaan adalah kekuatan terbesar yang bisa mengubah dunia, khususnya dalam menghadapi tragedi.

    Tante Sharon telah memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Di tengah kesedihan yang luar biasa, beliau memilih untuk mengutamakan welas asih, memberi kesempatan kedua, dan dan berharap ada perbaikan sistem. Tragedi Timothy harus menjadi titik balik bagi kita untuk menghentikan budaya nirempati dan membangun masyarakat yang lebih berempati, dimulai dari keluarga, lingkungan pendidikan, dan ruang digital kita.

    Melalui keteladanan Tante Sharon, kita diajak untuk menumbuhkan empati dalam setiap langkah kita. Tidak hanya dalam keluarga, tetapi juga di media sosial dan masyarakat luas. Mari kita jadikan tragedi ini sebagai momentum moral untuk menciptakan dunia yang lebih baik, lebih peduli, dan penuh kasih sayang.

    Sumber:
    Video Podcast
    https://www.youtube.com/watch?v=UjmR0DgqIgA&t=168s&pp=ygUNZGVubnkgc3VtYXJnbw%3D%3D

    Berita
    https://regional.kompas.com/read/2025/10/28/15515761/belajar-rendah-hati-dari-ibunda-timothy?page=all

    https://www.suara.com/lifestyle/2025/10/25/111923/sosok-ibu-timothy-anugerah-besar-hati-maafkan-pembully-anaknya-ternyata-seorang-pengajar

  • Webinar Sebar Kawruh #4 Bersama BNPT RI: Membangun Generasi Damai dan Toleran di Sekolah

    Webinar Sebar Kawruh #4 Bersama BNPT RI: Membangun Generasi Damai dan Toleran di Sekolah

    Solo, 24 Oktober 2025 – Dalam upaya memperkuat nilai-nilai toleransi dan mencegah potensi kekerasan di kalangan pelajar, kegiatan Webinar Sebar Kawruh #4 kembali digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat, 24 Oktober 2025 pukul 09.30 WIB. Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Prof. Irfan Idris, M.A., serta dibuka oleh Prof. Agung Nur Probohudono, Ph.D., aktivis dari Solo Bersimfoni.

    Webinar kali ini mengangkat tema “Pencegahan Kekerasan dan Intoleransi pada SMA di Jawa Tengah”, yang relevan dengan meningkatnya perhatian terhadap dinamika sosial di kalangan remaja, khususnya di lingkungan sekolah menengah. Tema ini menjadi bagian dari komitmen bersama antara BNPT RI dan Solo Bersimfoni untuk memperkuat peran pendidikan dalam membentuk karakter siswa yang berwawasan kebangsaan, berempati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

    Membangun Ketahanan Pelajar dari Intoleransi dan Kekerasan

    Dalam paparannya, Prof. Irfan Idris menekankan bahwa apa yang sudah dilakukan Solo Bersimfoni sudah sesuai dengan amanat RANPE yang dijalankan oleh BNPT dalam hal ini mengedepankan pencegahan kekerasan. Beliau juga menjelaskan bahwa pencegahan kekerasan dan intoleransi harus dimulai dari lingkungan pendidikan. Sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan nilai-nilai sosial.

    “Remaja SMA adalah generasi yang sedang mencari jati diri. Mereka mudah terpengaruh oleh informasi yang salah jika tidak dibekali pemahaman yang benar tentang kebangsaan, toleransi, dan kemanusiaan,” ujar Prof. Irfan.

    Beliau menambahkan bahwa fenomena intoleransi sering kali bermula dari ketidaktahuan, perbedaan pemahaman agama, maupun pengaruh lingkungan digital. Karena itu, pendidikan karakter dan literasi digital menjadi kunci dalam memperkuat daya tahan siswa terhadap narasi kekerasan atau ideologi ekstrem.

    Selain itu, BNPT RI melalui berbagai program pencegahan berupaya menggandeng sekolah, guru, dan masyarakat untuk membangun jejaring yang solid dalam mendeteksi dini potensi radikalisme. Kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan komunitas seperti Solo Bersimfoni, menjadi bentuk nyata keterlibatan banyak pihak dalam menjaga harmoni sosial.

    Solo Bersimfoni dan Peran Pendidikan Damai

    Sementara itu, Prof. Agung Nur Probohudono dalam sambutannya menyampaikan pentingnya membangun ruang dialog di sekolah agar siswa dapat mengekspresikan perbedaan dengan cara yang sehat dan konstruktif. Salah satu hal yang sudah dilakukan Solo Bersimfoni adalah pelaksanaan Sebar Kawruh sebagai ruang untuk berbagi ilmu, nilai, dan juga pengalaman dalam menyebarkan praktik baik penguatan karakter di Provinsi Jawa Tengah.

    “Cara untuk mencegah kekerasan adalah dengan membangun kesadaran, menguatkan literasi, dan menumbuhkan daya tangkal ekstrimisme melalui pendekatan budaya yaitu hasthalaku, dalam hal ini melalui program Sekolah Adipangastuti,” tambah beliau.

    Melalui Sebar Kawruh ini, peserta, yang terdiri dari guru, siswa, dan tenaga kependidikan dari SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti di Jawa Tengah, diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam lingkungan masing-masing sebagai upaya pencegahan intoleransi dan menumbuhkan harmoni sosial.

    Kami juga berharap, ke depannya, Prof. Irfan dan BNPT bisa terus bekerja sama dengan solo bersimfoni dan juga dengan sekolah adipangastuti di jawa Tengah dalam bentuk edukasi, pendampingan dan kolaborasi lintas sektor.

    Harapan untuk Masa Depan

    Webinar Sebar Kawruh #4 ini menegaskan kembali pentingnya sinergi antara lembaga pemerintah, komunitas, dan masyarakat pendidikan dalam membangun ekosistem sekolah yang aman, damai, dan inklusif.

    Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Irfan Idris di akhir acara:

    “Pencegahan kekerasan dan intoleransi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Kita harus menanamkan nilai damai sejak dini agar generasi muda Indonesia tumbuh menjadi pelindung perdamaian, bukan pelaku kekerasan.”

    Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan SMA-SMA di Jawa Tengah dapat menjadi pelopor dalam mengembangkan pendidikan karakter berbasis toleransi. Webinar Sebar Kawruh #4 menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berbudaya damai, penuh empati, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.