Author: admin

  • SMAN 1 Cepu Resmi Menjadi Sekolah Adipangastuti:  Gelar In House Trainning Perdana untuk Penguatan Nilai Hasthalaku

    SMAN 1 Cepu Resmi Menjadi Sekolah Adipangastuti: Gelar In House Trainning Perdana untuk Penguatan Nilai Hasthalaku

    Cepu, 14 Agustus 2025 – SMAN 1 Cepu menggelar In House Training (IHT) Sekolah Adipangastuti pada Kamis (14/8) sebagai langkah awal dalam mengimplementasikan nilai-nilai Hasthalaku ke dalam model pembelajaran sekolah. Kegiatan ini merupakan bagian dari kick off program Sekolah Adipangastuti, sekaligus menandai peresmian SMAN 1 Cepu sebagai salah satu sekolah Adipangastuti baru di Kabupaten Blora. Kegiatan ini dilakukan dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3) dalam periode Bridging Fund.

    IHT yang bertempat di aula utama SMAN 1 Cepu ini dihadiri oleh jajaran guru dan tenaga kependidikan. Acara ini menghadirkan narasumber M Farid Sunarto dan Didik Prasetyanto, Ketua dan Direktur Operasional Solo Bersimfoni. Mereka menjelaskan tentang pengembangan pendidikan karakter berbasis budaya hasthalaku. Dalam materinya, beliau menekankan pentingnya menggunakan metode ‘brokoli dalam pasta’ untuk mengedukasi siswa tentang pentingnya pelestarian identitas budaya, dalam hal ini hasthalaku, untuk pembentukan karakter siswa.

    “Hasthalaku bukan sekadar delapan nilai moral, tapi fondasi hidup bersama yang relevan pada anak Generasi Z. Sekolah harus menjadi tempat terbaik untuk menanamkan nilai-nilai itu sejak dini,” tegas Pak Farid dalam sesi diskusi interaktif.

    Kepala SMAN 1 Cepu, Ibu Bekti Ratna Timur Astuti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa bergabungnya SMAN 1 Cepu sebagai Sekolah Adipangastuti adalah wujud komitmen untuk memajukan pendidikan yang berkarakter dan berakar kuat pada budaya lokal.

    “Kami percaya pendidikan tidak cukup hanya membekali siswa dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian yang luhur, toleran, dan bangga terhadap budaya sendiri. Hasthalaku akan membentuk siswa yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter yang baik,” ujar beliau.

    Sebagai bagian dari peresmian program, dilakukan pula penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara SMAN 1 Cepu dengan Solo Bersimfoni yang diwakilkan oleh Ketua Solo Bersimfoni dan Kepala SMAN 1 Cepu. Program ini diketahui oleh Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Provinsi Jawa Tengah. Penandatanganan ini menjadi simbol komitmen jangka panjang selama empat tahun untuk menerapkan nilai-nilai Hasthalaku dalam aktivitas sekolah.

    Dengan IHT ini, SMAN 1 Cepu menegaskan arah barunya sebagai sekolah yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga menjadi pelopor dalam membangun pendidikan berbasis nilai dan budaya, sesuai semangat Sekolah Adipangastuti.

     

    Tia Brizantiana

    Program Officer Solo Bersimfoni

  • Tunas Harmoni Solo Sukses Selenggarakan Zero Waste Journey di Loji Gandrung

    Tunas Harmoni Solo Sukses Selenggarakan Zero Waste Journey di Loji Gandrung

    Pada Sabtu 15 Maret 2025, Tunas Harmoni Solo sukses menyelenggarakan sebuah acara bertajuk Zero Waste Journey dengan tema “EcoVisit dan Workshop Pengelolaan Sampah di Solo” yang berlangsung di Loji Gandrung, Solo. Acara ini diikuti oleh 31 peserta dari berbagai organisasi lintas agama dan komunitas yang sangat antusias untuk belajar lebih dalam tentang pengelolaan sampah dan pentingnya menerapkan konsep zero waste dalam kehidupan sehari-hari.

    Acara dimulai dengan doa bersama lintas agama serta pengenalan antara panitia dan peserta yang disambut hangat di Loji Gandrung. Kemudian pemberian materi FEEL oleh Sapto Purnama, Kepala Subbag TU UPTD Pengelolaan TPA Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta. Sapto menjelaskan bahwa setiap harinya ada sekitar 390 ton sampah yang dikirim ke TPA Putri Cempo.

    Setelah itu dilanjutkan dengan IMAGINE EcoVisit ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, yang terletak di Mojosongo, Jebres, Solo. Para peserta diangkut menggunakan Batik Solo Trans (BST) yang disediakan oleh panitia, memberikan kesempatan bagi peserta untuk merasakan pengalaman bertransportasi umum sembari menuju Lokasi yang menjadi bagian penting dari kegiatan ini.

    Di TPA Putri Cempo, para peserta diajak untuk melihat langsung bagaimana pengelolaan sampah dilakukan di sana. Kemudian sampah ini dipilah dan diolah pada Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang sudah beroperasi sejak tahun 2023.

     

    Setelah kunjungan ke TPA, kegiatan berlanjut dengan pemberian materi DO mengenai solusi semu pengelolaan sampah oleh Marbani dari Ecobhinneka Solo. Marbani mengajak peserta membongkar mitos dan mendorong perubahan nyata dalam pengelolaan sampah, terutama sampah plastik. Dampak negatif plastik juga terjadi sebelum plastik dikonsumsi, karena produksi plastik juga mencemari lingkungan. Narasi semu tentang pengelolaan sampah plastik yang baik bukanlah sebuah solusi. Edukasi pentingnya mengurangi penggunaan plastik alih-alih mengelolanya adalah hal penting agar ada solusi nyata dan tidak menimbulkan masalah yang lain.

    Tak hanya teori, peserta juga diberikan kesempatan untuk belajar membuat pupuk kompos menggunakan compost bag dengan arahan Prasetianingsih Soewarno, Penyuluh Lingkungan Ahli Muda DLH Kota Surakarta, dan Marantika Soloningtyas, TKPK DLH Kota Surakarta. Sesi ini diharapkan agar peserta memahami cara mengelola sampah organik di rumah dan atau organisasi mereka. Melalui proses composting yang tepat, sampah organik dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung penghijauan di rumah sehingga mendukung konsep zero waste yang berkelanjutan.

    Setelah selesai materi dan praktek, dilakukan sesi SHARE dimana panitia mengajak peserta untuk berbagi pengetahuan dan rencana aksi bersama masing-masing komunitas. Beberapa peserta membagikan kebiasaan zero waste yang sudah dilakukan seperti selalu membawa tumbler dan kantong belanja. Peserta lain juga berencana melakukan composting di rumah dan komunitasnya.

    Acara ditutup dengan sesi buka puasa bersama setelah serangkaian kegiatan, tak lupa foto bersama untuk mengabadikan kegiatan antara peserta, panitia dan pemateri. Sesi buka puasa bersama dilakukan dengan konsep zero waste, yaitu setiap peserta membawa tumbler masing-masing serta tidak menggunakan alat makan sekali pakai. Di akhir acara, setiap peserta diberikan bibit tanaman sebagai bentuk komitmen untuk bersama-sama merawat lingkungan dan dibuktikan dengan tumbuhnya bibit tanaman tersebut.

    Acara ini merupakan kelanjutan dari kegiatan National Training/Capacity Building: Religious and Interfaith Engagement to Manage Enviromental Risks pada bulan Februari lalu di Bandung oleh Peace Generation Bandung. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Kementerian PPN/Bappenas bersama the Foreign, Commonwealth, and Development Office of the UK Government (FCDO) dalam pelaksanaan program pembangunan rendah karbon (Low Carbon Development Initiative/LCDI) Fase 2 Tak hanya di Solo, Tunas Harmoni juga dilaksanakan di Bandung, Pekanbaru, Mataram, dan Medan. Selain peserta dari organisasi keagamaan dan organisasi pemuda, kegiatan ini juga melibatkan pemangku kebijakan seperti DLH. Untuk kegiatan Tunas Harmoni Solo, tim panita berasal dari Solo Bersimfoni, Ecobhinneka, DLH Kota Surakarta dan Pelita.

    Acara Zero Waste Journey ini menandakan langkah positif dalam mengedukasi masyarakat Solo mengenai pentingnya mengurangi dan mengelola sampah sebagai bagian dari penerapan gaya hidup zero waste. Melalui inisiatif seperti ini, Tunas Harmoni Solo telah membuka ruang bagi masyarakat untuk berkontribusi langsung dalam mengurangi dampak sampah terhadap bumi. Ketua Koordinator Tunas Harmoni Solo, Risca Dj, mengingatkan bahwa bumi itu hanya satu sehingga setiap individu berperan penting untuk melestarikannya. “Kita hanya punya satu bumi, jadi mulai sekarang, yuk kita berkomitmen menjaga lingkungan dengan sepenuh hati agar tetap lestari dan pulih dari kerusakan yang telah terjadi agar bisa memberikan kehidupan bagi semua makhluk”, tambah Risca.

    Penulis: Tia Brizantiana – Program Officer

  • INTEGRASI HASTHALAKU DALAM P5 KEARIFAN LOKAL SEBAGAI PENGUAT  IDENTITAS BUDAYA

    INTEGRASI HASTHALAKU DALAM P5 KEARIFAN LOKAL SEBAGAI PENGUAT IDENTITAS BUDAYA

    Identitas budaya, penting tidak, sih?

    Sebut saja Raden, kebiasaannya yang suka menyendiri ini kerap membuat orang enggan untuk mengajaknya berinteraksi. Asik bermain gawai saat diajak mengobrol, hanya  berdeham ketika ada teman yang menyapa dengan senyuman, bahkan ketika hendak  melewati guru pun ia tak mengucap kalimat permisi. Terkesan individualis, bolak-balik ia  ditegur untuk memperbaiki sikap dan lebih terbuka. Coba kalian bayangkan, ketika memiliki  teman sepertinya, apa yang akan kalian rasakan? 

    Tak jarang, pada masa kini, Sebagian besar siswa merasa berat untuk sekedar mengucap kata maaf, terimakasih, dan meminta tolong. Tersenyum saat bertemu dengan teman pun mereka tak mau, apalagi menunduk ketika melewati orang yang lebih tua dari mereka. Padahal sikap sederhana seperti inilah yang menjadi bentuk penerapan nilai-nilai kesantunan dalam diri seseorang. Namun, sayangnya degradasi identitas budaya ini terjadi secara massif. Sebuah riset berjudul “Pandangan Pemuda terhadap Pentingnya Tata Krama dan Budaya Pendidikan Anak Usia Dini” dimana respondennya merupakan remaja di kisaran usia 17-19 tahun memberikan Gambaran mengenai dekadensi identitas budaya ini. Dalam penilitian tersebut, tergambar bahwa 31,1% pelajar jarang mencium tangan orang yang lebih tua, 46,6% jarang membungkukkan badan ketika lewat di depan orang yang lebih tua, bahkan sejumlah 6,7% menyatakan tidak pernah. Lalu 66,7% mengaku sering melihat para pelajar berkata kotor atau kasar, dan 51% pelajar tidak lagi menggunakan kata “permisi” ketika melewati seseorang.

    Pandemi, bagaimanapun, telah mengubah banyak hal. Profesor Yuval Noah Harari dalam essainya berjudul “The World after Coronavirus” yang diterbitkan di Majalah Financial Times menggambarkan saat ini umat manusia berada dalam laboratorium sosial berskala besar. Semua berada pada situasi darurat yang menuntut respon perubahan yang serba cepat. Upaya besar-besaran dalam penanggulangan wabah kemudian berimbas pula pada permasalahan interaksi sosial. Tuntutan isolasi menjadikan manusia terklasifikasi sesuai dengan bias yang bersumber dari pola pikir mereka. Pola pikir itu sendiri terbentuk dari hasil dogma-dogma dan skemata yang sudah ditanamkan jauh sebelum pandemi ini terjadi. Kurangnya interaksi sosial tersebut mengakibatkan kurangnya dialektika dan kemampuan nalar kritis remaja di masa pandemi yang kemudian berpengaruh pada krisis jati diri. Mulai lunturnya jati diri di kalangan pelajar ini berimbas terhadap penurunan pemahaman akan identitas nasional dan budaya bangsa indonesia. Sumarsono (2000:2) menjelaskan bahwa kondisi ini akan mempengaruhi struktur dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia, serta akan mempengaruhi pula dalam pola pikir, sikap dan tindakan Identitas budaya diartikan sebagai suatu ciri berupa budaya yang membedakan suatu bangsa atau kelompok masyarakat dengan kelompok yang lainnya. Identitas budaya inilah yang akan menjadi sebuah penanda yang melekat pada suatu bangsa sehingga dapat menjadi pembeda. Identitas ini adalah landasan negara dan alat untuk mempersatukan bangsa. Tanpa adanya identitas nasional negara, suatu bangsa pastinya akan sulit untuk dipersatukan dan berjalan bersama. Identitas ini tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai budaya serta adat istiadat masyarakat. Esensi identitas budaya dapat dilihat pada kondisi kondisi seperti nilai-nilai etika, moral, maupun kebiasaan masyarakat yang sudah berlaku secara turun temurun.

    Globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi menjadi salah satu katalis dekadensi identitasi budaya di kalangan remaja. Dasim Budimansyah (2010: 1) menjelaskan bahwa globalisasi menjadikan kalangan muda bangsa Indonesia lebih tertarik pada budaya baru yang ditawarkan oleh budaya luar sekolah dibandingkan dengan budaya Indonesia yang ditanamkan di sekolah. Banyak dari kalangan generasi muda yang menganggap bahwa budaya Barat lebih terkesan modern, menyebabkan mereka cenderung lebih memilih untuk mengikuti dan menirunya dibanding dengan budaya bangsa sendiri. Misalnya pada cara bersikap, berpakaian, berbicara, hingga pola dan gaya hidup. Ini terjadi karena mereka lebih menyukai hal-hal yang bersifat kekinian dan sangat bergantung pada internet. Padahal, perkembangan teknologi mempunyai kelemahan yaitu kurangnya pemahaman terhadap diegetika sehingga menimbulkan perilaku menyimpang yang dapat berujung pada merosotnya moralitas bangsa (Budi Ismanto et al., 2022).

    Di tengah kekhawatiran akan dekadensi moral dan identitas budaya di kalangan remaja ini, Program Sekolah Adipangastuti memberikan konsepsi konkret mengenai bagaimana seharusnya pendidikan karakter itu dilakukan. Melalui penerapan Hastalaku, yang bersumber pada kearifan budaya Jawa yang luhur. Program ini bergerak sebagai benteng dari maraknya 3 dosa besar pendidikan dan pencegahan akan lunturnya identitas budaya indonesia.

    Sejalan dengan Program Sekolah Adipangastuti, SMA Negeri 2 Slawi kemudian mengintegrasikan program Hastalaku dalam kurikulum P5 Kearifan Lokal yang berfokus pada pengembangan karakter dan nilai-nilai budaya. Pembelajaran P5 ini kemudian mengusung tema: “Menelusur Kearifan Budaya Tegalan” pada siswa kelas XI. Fokus projek ini adalah pada penelusuran dan pendokumentasian nilai-nilai luhur budaya lokal yang terwujud dalam ragam kesenian, upacara adat, tradisi, maupun kuliner. Setiap kelompok siswa ditugaskan melakukan penelusuran dan pendokumentasian elemen-elemen kearifan lokal dari komunitas mereka—mulai dari ritual adat, kuliner, kesenian, dan budaya luhur dalam lingkup lokal Tegal. Tidak hanya belajar tentang sejarah dan budaya mereka, tetapi juga bagaimana menerapkannya dalam konteks kehidupan modern.

    Kearifan lokal merujuk pada pengetahuan, praktik, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh komunitas lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Teori dan konsep mengenai kearifan lokal melibatkan berbagai disiplin ilmu, termasuk antropologi, sosiologi, dan pendidikan. Daryono (2009) dalam bukunya berjudul Kearifan Lokal dan Konservasi Sumber Daya Alam mengemukakan bahwa kearifan lokal mencakup pengetahuan dan praktik yang telah berkembang dalam masyarakat sebagai hasil dari interaksi antara komunitas dengan lingkungan mereka. Kearifan ini berfungsi untuk mengelola sumber daya alam, menjaga keharmonisan sosial, dan melestarikan budaya lokal. Integrasi nilai Hastalaku dalam pembelajaran P5 Kearifan Lokal sebagai sarana penguatan identitas budaya siswa, SMA Negeri 2 Slawi kemudian mengambil beberapa langkah. Pertama, melibatkan semua pihak terkait—termasuk guru, siswa, dan komunitas lokal—dalam merancang dan melaksanakan program pembelajaran yang mengintegrasikan Hastalaku. Kedua, sekolah menyelenggarakan workshop, seminar, atau kunjungan ke komunitas lokal untuk memberikan pengalaman langsung dan memperdalam pemahaman siswa tentang budaya mereka. Siswa juga diajak untuk terlibat dalam proyek berbasis kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka, seperti penelitian atau pembuatan karya seni tradisional, pembuatan buku, serta pembuatan film dokumenter. Terakhir, evaluasi berkala terhadap program ini dilakukan untuk mengidentifikasi keberhasilan dan area yang memerlukan perbaikan.

    Para siswa secara berkelompok kemudian memilih objek studinya dalam bentuk yang  berbeda-beda. Beberapa memilih untuk mempelajari seni tari tradisional Tegal yang ikonik  seperti Tari Topeng Endel, menelusuri khazanah kuliner Tegal yang khas, mengunjungi  pengrajin batik lokal, mengamati proses membatik, bahkan mencoba teknik-teknik tersebut.  Seni wayang yang terekam dengan rapi di Museum Wayang Ki Enthus pun tidak luput dari  pengamatan siswa. Lalu siswa juga menghidupkan kembali ragam permainan tradisional,  menelusuri tradisi ziarah kubur, serta mengunjungi situs-situs bersejarah seperti makam  tokoh sejarah, pabrik gula jaman Belanda, serta situs arkeologi. 

    Produk siswa kemudian dipamerkan pada saat gelar karya yang dilakukan secara  langsung di lobi sekolah maupun secara virtual di kanal Youtube Media Center SMAN 2  Slawi. Pameran ini tidak hanya menampilkan produk-produk yang mereka buat, tetapi juga  cerita-cerita yang mereka kumpulkan tentang makna dan pentingnya setiap elemen budaya.  Para siswa nantinya akan berbagi pengetahuan baru dengan bangga, disaksikan oleh para  guru serta orang tua. Menjadi bukti integrasi program Hastalaku dalam P5 Kearifan Lokal  telah berhasil menghidupkan semangat dan identitas budaya di kalangan siswa. 

     

    Sumber:

    Dasim Budimansyah. (2010). Tantangan globalisasi terhadap pembinaan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air di sekolah.  Jurnal Penelitian Pendidikan, 11, 1. 

    Islam, Sultan Nazmi Chairul, dkk. (2021). Pandangan Pemuda terhadap Pentingnya Tata Krama dan Budaya Pendidikan Anak Usia Dini.  Jurnal Dinamika Sosial Budaya, Vol . 23, No.2, Desember 2021, pp 292 – 299. 

    Sumarsono. (2000). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Lembaga Ketahanan Nasional.

     

    Ditulis oleh: Nadzifah Varda Munandar – SMAN 2 SLAWI

     

  • Menjadi Pelapor dan Pelopor Anti-Bullying

    Menjadi Pelapor dan Pelopor Anti-Bullying

    Di sebuah kota kecil di pesisir Jawa Tengah berdiri sebuah sekolah menengah atas, sebut saja SMAN 2 Rembang. SMAN 2 Rembang atau yang biasa dijuluki dengan nama SMADA dikenal bukan hanya karena prestasi akademiknya, tetapi juga karena reputasinya sebagai sekolah yang menjunjung tinggi integritas. Dengan bangunan modern nan sederhana yang dikelilingi pepohonan rindang, sekolah ini selalu tampak asri dan sejuk. Setiap pagi, siswa-siswi berjalan masuk dengan rapi, menyapa satu sama lain dan para guru dengan senyuman tulusnya, mencerminkan budaya saling menghormati yang sudah mendarah daging di lingkungan sekolah.

    Di kelas XI-2 smada, terdapat satu siswa yang selalu menjadi pusat perhatian. Ia adalah Kanaya Yudistia. Teman-teman disekolah memanggilnya Naya. Setiap hari, Naya datang ke sekolah dengan barang-barang dari merk terkenal, tas mahal, dan aksesoris yang selalu menarik perhatian. Ia selalu terlihat rapi dan glamor, seolah-olah setiap hari adalah kesempatan untuk menunjukkan betapa banyaknya barang-barang mahal yang ia miliki.

    Teman-temannya sering memperhatikan Naya dari jauh, kagum dan sedikit iri dengan penampilannya yang selalu sempurna. Saat istirahat, Naya sering bercerita tentang barang-barang barunya. “Aku baru pulang dari Jakarta, beli tas ini langsung dari butik aslinya,” katanya sambil menunjukkan tas bermerek yang berkilauan. Teman-temannya mendengarkan dengan penuh minat, meskipun beberapa dari mereka merasa Naya terlalu berlebihan dalam memamerkan kekayaannya.

    Selain penampilannya, Naya juga suka memamerkan gaya hidup mewahnya melalui media sosial. Setiap akhir pekan, ia mengunggah foto-foto di restoran mahal, hotel berbintang, atau perjalanan ke luar negeri. Foto-fotonya selalu dipenuhi dengan pujian dan komentar dari teman- temannya, yang semakin memperkuat citra Naya sebagai anak dari keluarga kaya raya.

    Suatu hari, saat pulang sekolah, salah satu teman dekatnya Naya tidak sengaja melihatnya turun dari angkutan umum di sebuah gang kecil. Rasa penasaran membuat Teman dekatnya mengikuti Naya dari kejauhan. Ia kaget ketika melihat Naya masuk ke sebuah rumah yang tampak sederhana dan jauh dari kesan mewah yang selama ini ditampilkan.

    Setelah diselidiki oleh beberapa temannya, Naya ternyata menyimpan rapat sebuah rahasia. Keluarga Naya sebenarnya hidup pas-pasan. Orang tua Naya bekerja keras hanya untuk mencukupi kebutuhan dasar. Barang-barang mewah yang sering Naya pamerkan adalah hasil dari meminjam, membeli tiruan, atau terkadang hanya sekadar cerita yang dilebih-lebihkan.

    Kabar tentang Naya yang berpura-pura kaya menyebar dengan cepat. Anak-anak di sekolah mulai menertawakan Naya dan menyebutnya “Gaya elit ekonomi sulit.” Setiap hari dia mengalami ejekan dan olok-olok dari teman-temannya. “Eh, Naya! Sepatu mahalnya mana? Kok kamu naik angkot?” ujar salah satu anak dengan nada mengejek. Di kelas, Naya mulai merasa terasing. Teman-temannya menjauhinya. “Eh, Naya, jam tangan kamu berapa sih harganya? Kayaknya lebih murah dari jajan kita sehari-hari,” kata seorang anak sambil tertawa. Naya merasa malu dan tersinggung.

    Meski sulit, Naya memutuskan untuk menghadapi situasi tersebut dengan keberanian. Ia berdiri di depan teman-temannya dan mengatakan, “Aku minta maaf karena telah berpura-pura selama ini. Aku hanya ingin diterima, tapi aku sadar ini bukan cara yang benar.” Setelah pengakuan, teman-teman Naya malah menjauhinya dan semakin mengolok-olok.

     

    Awal Mula Gerakan “Pelapor dan Pelopor Anti-Bullying”

    Kaila, sebagai salah satu siswa di SMADA, awalnya hanya menonton. Kaila tahu apa yang terjadi, tapi ia merasa takut untuk bertindak. Hingga suatu hari, ketika Kaila melihat Naya menangis di sudut lapangan karena diejek habis-habisan, ia merasa harus melakukan sesuatu. Kaila tidak bisa hanya menjadi penonton lagi.

    Setelah kejadian itu, Kaila memberanikan diri untuk melaporkan kejadian bullying tersebut kepada guru bimbingan dan konseling. Kaila menceritakan semua yang telah terjadi pada Naya, bagaimana dia diperlakukan tidak adil oleh sekelompok siswa. Guru BK mendengarkan dengan serius dan berjanji akan mengambil tindakan tegas.

    Tak hanya itu, Kaila memutuskan untuk menjadi pelopor gerakan anti-bullying di sekolah. Kaila mengajak teman-teman yang peduli untuk membentuk kelompok yang memberikan dukungan kepada Naya dan anak-anak lain yang mungkin menjadi korban. Kaila mulai mensosialisasikam dan menyebarkan pesan tentang pentingnya menghormati satu sama lain, mengadakan diskusi, dan konselor sebaya di SMADA.

     

    Apasih “Pelapor dan Pelopor anti-Bullying” itu?

    Pelapor Anti-bullying adalah seseorang berperan aktif dalam melaporkan atau menginformasikan tindakan bullying yang mereka saksikan atau ketahui. Sedangkan, Pelopor anti- bullying adalah seseorang atau kelompok yang menjadi penggerak atau inisiator dalam upaya melawan bullying. Mereka mengambil langkah-langkah proaktif untuk mencegah, mengatasi, dan menyadarkan masyarakat tentang dampak negatif bullying. Sebagai pelopor, mereka sering memimpin gerakan atau kampanye untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman, inklusif, dan bebas dari tindakan perundungan.

     

    Peran “Pelapor dan Pelopor Anti-Bullying”

    Peran Pelapor Anti-Bullying adalah melaporkan seseorang yang melakukan tindakan bullying kepada pihak berwenang dengan tujuan menghentikan atau mencegah kejadian tersebut. Pelapor bertindak sebagai saksi yang berani angkat suara untuk melindungi korban dan memastikan masalah ini ditangani dengan serius. Contoh peran pelapor anti-bullying: siswa yang melaporkan kejadian bullying kepada guru atau konselor di sekolah. Jadi, pelapor anti-bullying berperan dalam mendeteksi dan melaporkan kasus-kasus bullying.

    Peran Pelopor anti-Bullying adalah menggerakkan dan memulai upaya melawan bullying secara proaktif. Mereka memimpin kampanye, kegiatan, atau gerakan yang bertujuan untuk mencegah bullying dan menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif. Pelopor anti-bullying berperan sebagai agen perubahan yang menginspirasi orang lain untuk melawan bullying. Contoh peran pelopor anti-bullying: organisasi yang merancang program anti-bullying dan memberikan pelatihan untuk guru atau siswa tentang cara mencegah perundungan. Jadi, pelopor anti-bullying berperan sebagai penggerak utama dalam upaya menciptakan perubahan positif dan pencegahan bullying.

     

    Dampak “Menjadi Pelapor dan Pelopor Anti-Bullying”

    Dengan gerakan pelapor dan pelopor anti-bullying berarti SMADA telah menerapkan prinsip “Hasthalaku” yaitu Guyub Rukun. Prinsip guyub rukun menekankan pada keharmonisan, kebersamaan, dan sikap saling menghormati dalam kelompok atau masyarakat. Upaya anti- bullying bertujuan untuk mencegah tindakan yang merusak hubungan sosial, seperti intimidasi atau pelecehan, serta mempromosikan lingkungan yang aman, damai, dan penuh dukungan. Dengan mendorong perilaku anti-bullying, SMADA berkontribusi pada terciptanya keharmonisan dan solidaritas dalam komunitas, yang sejalan dengan nilai guyub rukun.

    Dengan adanya gerakan ini, kasus bullying di SMADA berkurang drastis, dan suasana di sekolah menjadi lebih hangat dan saling mendukung. Dari data yang diperoleh, terlihat bahwa penerapan tindakan pelapor dan pelopor bullying secara signifikan mengurangi jumlah kasus bullying dari waktu ke waktu. Jika sebelum adanya tindakan 0,5% dari 396 siswa terlibat dalam kasus bullying. Dengan penerapan tindakan pelapor dan pelopor bullying, terlihat bahwa jumlah kasus bullying mengalami penurunan yang signifikan, dari sekitar 2 kasus menjadi 0 dalam tiga bulan. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan ini efektif dalam menekan tindakan bullying di SMADA. Banyak siswa yang sebelumnya diam, kini mulai berani angkat bicara dan menjadi pelapor bullying. Lebih dari itu, gerakan anti-bullying telah membentuk budaya baru di SMADA seperti budaya empati, saling menghargai, dan keberanian untuk menegakkan kebenaran.

    Kisah Kaila menginspirasi banyak orang bahwa usia bukanlah penghalang untuk melakukan perubahan. Dengan hati yang penuh keberanian, ia memulai gerakan yang kini memberikan dampak besar pada sekolahnya dan lingkungannya. Kaila telah membuktikan bahwa kita semua bisa menjadi pelapor dan pelopor anti-bullying. Melalui aksi nyata, ia telah membantu menciptakan dunia yang lebih aman dan penuh kasih, di mana setiap orang merasa dihargai. Kaila bukan hanya anak biasa, ia adalah pahlawan muda yang telah menginspirasi banyak orang untuk berani melawan ketidakadilan dan menciptakan perubahan positif.

     

    Hentikan kekerasan, sebarkan kebaikan Anti bullying, ciptakan kedamaian!

     

    Ditulis oleh : Sefi Oktavia – SMAN 2 REMBANG

  • Gelar Karya Sekolah Adipangastuti; Praktik Baik Hasthalaku di 63 SMA se-Jawa Tengah

    Gelar Karya Sekolah Adipangastuti; Praktik Baik Hasthalaku di 63 SMA se-Jawa Tengah

    Pada Kamis 24 Oktober 2024, Solo Bersimfoni mengadakan kegiatan Gelar Karya Program Sekolah Adipangastuti yang diikuti oleh 63 SMA di Jawa Tengah di SMAN 1 Semarang. Gelar Karya ini dilaksanakan sebagai apresiasi kepada SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti sejak tahun 2019 s/d 2024.

    Kegiatan diawali dengan pembukaan yaitu laporan oleh Direktur Eksekutif Solo Bersimfoni, Bapak M Farid Sunarto, S.Pd., M.Si, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Ibu Afnia Sari dari Australia Indonesia Partnership for Justice 2 (AIPJ2) dan pembukaan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Ibu Dr Uswatun Hasanah, S.Pd., M.Pd., serta Keynote Speaker dari Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikbudristek RI, Bapak Indra Budi Setiawan.

    Program Sekolah Adipangastuti adalah program yang diinisiasi oleh Solo Bersimfoni didukung oleh Puspeka Kemendikbudristek, Bappenas, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemerintah Australia melalui program AIPJ2. Landasan program ini adalah implementasi Perpres No. 7/2021 tentang RAN PE, khususnya Pilar Pencegahan subprogram kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan yaitu mengintegrasikan kurikulum SMA dengan RAN PE. Program ini bertujuan untuk membangun toleransi dan perdamaian dengan membangun nasionalisme kebangsaan menggunakan nilai-nilai budaya lokal.

    Direktur Eksekutif Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto mengatakan “Program Sekolah Adipangastuti berlandaskan pada kebijakan Kemendikbudristek, khususnya Puspeka dalam pembentukan karakter Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) projek tematik dan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP).”  Lebih lanjut Farid menyampaikan bahwa program ini menjadi contoh praktik baik yang harapannya bisa mempengaruhi sekolah lain.

    Kegiatan Gelar Karya Sekolah Adipangastuti dilaksanakan untuk berbagi praktik baik implementasi Sekolah Adipangastuti kepada sekolah pelaksana lainnya. Kegiatan ini menampilkan pertunjukan praktek baik terpilih dari SMA Program Sekolah Adipangastuti, pameran praktik baik program, lokakarya optimalisasi input praktik baik Sekolah Adipangastuti di Platform Nasional PVE KHUB. Kegiatan terakhir tersebut dipandu oleh tim K-HUB dari Peace Generation Indonesia.

     

    Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Ibu Dr Uswatun Hasanah, S.Pd., M.Pd., menyampaikan dukungannya baik secara pribadi maupun kelembagaan terhadap pelaksanaan Program Sekolah Adipangastuti di 63 SMA se-Jawa Tengah. Beliau mengatakan bahwa dengan pelaksanaan Sekolah Adipangastuti, sekolah akan diuntungkan karena membantu implementasi Permendikbud No 46 Tahun 2023 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan. “Semoga hasthalaku bisa diimplementasikan tidak hanya menjadi hafalan”, tambahnya. Ibu Uswatun juga menyampaikan pesan dari Bapak Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (Purn) Drs. Nana Sudjana A.S., M.M, yang berhalangan hadir dan menitipkan doa semoga agenda hari ini diberi kelancaran.

    Sebagai Keynote Speaker mewakili Kepala Puspeka Kemendikbudristek RI, Bapak Indra Budi Setiawan, yang bertugas mengawal modul pencegahan kekerasan seksual di sekolah, mengatakan bahwa keragaman budaya Indonesia yang memiliki lebih dari tiga ratus suku bangsa bisa menjadi potensi perbedaan dan menyebabkan pergesekan bahkan intoleransi. Intoleransi ini juga terjadi di lingkungan pendidikan, oleh karena itu ditetapkan Tiga Dosa Besar Pendidikan yaitu intoleransi, kekerasan seksual dan perundungan. Kemudian Puspeka dibentuk untuk mengawal penguatan Profil Pelajar Pancasila serta penanganan dan pencegahan isu kekerasan. Selain itu juga mencakup topik inklusivitas dan kesetaraan gender, yang kesemuanya berkaitan dengan apa yang sudah dilakukan pada Sekolah Adipangastuti. Harapannya, satuan pendidikan menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua orang, baik tenaga pendidik, guru dan siswa. “Hasthalaku bisa menjadi salah satu cara pencegahan kekerasan di sekolah”, lanjutnya.

    Dalam Gelar Karya juga menampilkan pentas pertunjukan terpilih dari empat belas SMA pelaksana Sekolah Adipangastuti, yaitu Tari Silakupang dari SMAN 3 Pemalang, Pantomim Teater Brastomolo dari SMAN 1 Gemolong, Macapat Adipangastuti dari SMAN 1 Wonogiri, Tari Hasthalaku Ambrastha Angkawa dari SMAN 1 Kebumen, lagu Satu Hati Bertoleransi dari SMAN 1 Semarang, Tari Kreasi 3G LEPAT dari SMAN 3 Boyolali, Mars Adipangastuti dari SMAN 3 Sragen, Tari Tradisional dari SMAN 6 Surakarta, Tari Kreasi dari SMAN 1 Sragen, Tari Panjisaka dari SMAN 1 Purwanegara, Tari Topeng Brebes dari SMAN 1 Losari, Tari Martani dari SMAN 1 Bawang, tari Gumregahing Kelir ing Angkoso dari SMAN 1 Karangkobar dan Tari Kapuk Karaban dari SMA Muhammadiyah 1 Pati. Selain itu, juga diumumkan pemenang lomba menyambut Gelar Karya yaitu Lomba Artikel, Lomba Video Reels, Lomba Film dan Lomba Konten Feed Instagram.

    Sekolah Adipangastuti adalah sekolah toleran berbasis budaya hasthalaku yaitu delapan nilai perilaku budaya lokal yang terdiri dari Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Ewuh Pekewuh, Pangerten, Andhap Asor dan Tepa Selira. Program ini telah diimplementasikan pada 63 SMA se-Jawa Tengah sebagai program ko-kurikuler dan kurikulum merdeka berbasis projek tematik, dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Tema yang diangkat tiap sekolah berbeda-beda, antara lain: bangunlah jiwa raganya, bhineka tunggal ika, kearifan lokal dan suara demokrasi dengan mengakomodasi pengetahuan literasi, digitalisasi, media sosial, serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang adaptif dengan Era 4.0.

    Program Sekolah Adipangastuti Lanjutan (2024/2029)

    Setelah 2024, Program Sekolah Adipangastuti akan terbagi dalam lima program:

    1. Program cakap digital melalui empat pilar, yaitu digital skills, digital culture, digital ethics dan digital safety.
    2. Program optimalisasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan Artificial Intelligence yang mendukung pembelajaran dan tugas-tugas perkantoran sekolah.
    3. Program Ketrampilan TPPK (Tim Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan) atau PPKSP sesuai Permendikbudristek No. 46/2023.
    4. Program implementasi budaya hasthalaku di sekolah melalui pendekatan “brokoli dalam pasta” yang mendorong literasi dan digitalisasi.
    5. Meningkatkan engagement praktik baik tiap sekolah dalam platform jaringan media nasional melalui Knowledge Hub (K-Hub) Peace Gen Indonesia dan I-KHub BNPT.

     

    Ditulis oleh : Tia Brizantiana

  • Ketika Budaya Ewuh Pekewuh Mulai Pudar di Tengah Kemajuan Zaman

    Ketika Budaya Ewuh Pekewuh Mulai Pudar di Tengah Kemajuan Zaman

    Di tengah kemajuan zaman, budaya atau kebiasaan yang biasa dilakukan di kehidupan sehari-hari mulai pudar. Misalnya, budaya “ewuh pekewuh”. Contoh sederhananya, dahulu kita biasa menunjukkan rasa hormat dengan menyapa guru ketika bertemu di koridor atau saat masuk kelas. Hal ini menjadi bentuk menghargai terhadap guru. Namun seiring berjalannya waktu, banyak siswa yang memilih untuk lewat begitu saja tanpa mengucapkan salam atau sekadar menyapa.

    Ewuh pekewuh adalah salah satu konsep budaya Jawa yang mencerminkan nilai-nilai saling menghormati dan menjaga perasaan orang lain. Secara harfiah, “ewuh” berarti sungkan atau tidak enak, dan “pekewuh” berarti beban atau kendala. Jadi, “ewuh pekewuh” mengacu pada perasaan tidak enak hati atau segan karena adanya rasa hormat yang mendalam terhadap orang lain. Istilah ini menggambarkan perasaan yang sangat spesifik dalam budaya Jawa yaitu rasa sungkan atau segan untuk bertindak secara terang-terangan, terutama ketika tindakan tersebut bisa menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Lantas, mengapa sikap “ewuh pekewuh” yang dulu sangat dijunjung tinggi, kini mulai pudar di tengah kemajuan zaman?

    Sebuah video beredar di media sosial yang memperlihatkan aksi tidak sopan tiga remaja perempuan terhadap seorang lansia. Seperti diwartakan indozone.id (06/04/2021), terlihat tiga remaja perempuan sedang membuat konten TikTok dengan menggunakan sound mengenai binatang. Dalam video itu ketiga remaja perempuan beberapa kali memperlihatkan seorang wanita tua yang ada di belakang mereka dengan diiringi sebuah lagu, seolah-olah menunjukkan bahwa wanita tua itu adalah binatang yang disebutkan dalam lagu tersebut. Namun, wanita tua yang diduga memiliki kelainan mental itu terlihat tidak mengerti dengan apa yang dilakukan ketiga remaja tersebut. Sontak video tersebut viral di media sosial dan menuai beragam kecaman dari para netizen yang melihat kelakuan tiga remaja itu.

    Hal tersebut tidak mencerminkan sikap ewuh pekewuh yang merupakan sikap saling menghormati terhadap orang lain, terlebih kepada orang yang lebih tua. Di era modern, dengan semakin terbukanya masyarakat dan meningkatnya interaksi antar budaya, konsep ewuh pekewuh ini tentunya sering menghadapi tantangan. Padahal ewuh pekewuh sangat penting dalam menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat. Dengan adanya rasa ewuh pekewuh, orang cenderung lebih berhati-hati dalam berperilaku, sehingga dapat mencegah konflik.

    Ewuh pekewuh dulunya merupakan suatu kebiasaan dalam masyarakat Indonesia, khususnya dalam budaya Jawa. Sikap ini mencerminkan penghormatan, kehati-hatian, dan kesopanan dalam berinteraksi dengan orang lain. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, beberapa nilai dan kebiasaan tradisional, termasuk ewuh pekewuh, mulai pudar.

    Globalisasi, media sosial, dan perubahan generasi merupakan beberapa penyebab pudarnya budaya ewuh pekewuh. Nilai-nilai universal sering kali menggantikan norma-norma lokal. Platform media sosial mempercepat penyebaran informasi dan interaksi yang dapat menyebabkan perubahan cara orang untuk berkomunikasi. Generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan yang lebih modern mungkin lebih menekankan pada keterbukaan dalam berkomunikasi, walaupun dengan orang yang lebih tua.

    Bukan hanya itu, penyebab hilangnya budaya ewuh pekewuh juga bisa terjadi karena faktor internal, salah satunya yaitu pergaulan bebas. Dalam lingkungan pergaulan bebas, norma-norma tradisional dan sopan santun sering kali tidak diutamakan. Orang mungkin merasa lebih bebas untuk berbicara atau bertindak tanpa memperhatikan dampaknya terhadap orang lain, yang mengabaikan prinsip-prinsip ewuh pekewuh. Pergaulan bebas sering kali mengarah pada interaksi yang kurang memperhatikan etika dan sopan santun. Dengan demikian, pergaulan bebas bisa mempengaruhi cara orang berinteraksi dan mengurangi budaya yang mengutamakan sikap sopan santun dan perhatian terhadap perasaan orang lain.

    Dampak dari hilangnya budaya ewuh pekewuh dapat berupa perpecahan, konflik, kemunduran bangsa, hingga retaknya persatuan bangsa. Rasa tidak saling menghargai dan menghormati dapat menimbulkan perpecahan dan intoleransi. Perpecahan ini bisa merambat ke hal-hal yang lebih besar jika tidak diselesaikan dengan baik. Konflik terjadi dikarenakan tidak adanya rasa saling menghormati yang menyebabkan permusuhan, pertentangan, dan konflik. Sikap memandang masyarakat dan kebudayaan sendiri lebih baik dapat mendorong konflik antarkelompok dan kemunduran suatu bangsa dan negara. Tidak adanya sikap toleransi dan menghargai perbedaan antar masyarakat dapat menjadi sumber perpecahan dan retaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Walaupun terlihat simple, ewuh pekewuh memiliki dampak yang cukup besar. Sebaliknya, jika kita menerapkan sikap ewuh pekewuh atau saling menghormati, dapat menciptakan keharmonisan yang memberikan banyak manfaat, baik bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan.

    Namun, ewuh pekewuh tentunya memiliki sisi negatif. Rasa sungkan yang berlebihan dapat menghambat komunikasi yang terbuka dan jujur. Hal ini bisa menyebabkan orang menyimpan perasaan atau pendapat mereka sendiri karena takut menyinggung perasaan orang lain. Maka dari itu, penting bagi generasi muda untuk memahami dan menghargai konsep ewuh pekewuh, akan tetapi juga bijaksana dalam menerapkannya. Menghormati perasaan orang lain adalah hal yang baik, namun juga perlu diimbangi dengan kemampuan untuk berbicara jujur dan efektif dalam beberapa situasi. Di dunia yang terus berkembang, menjaga nilai-nilai budaya seperti ewuh pekewuh sambil tetap terbuka terhadap perubahan adalah kunci mempertahankan identitas dan harmoni sosial.

    Oleh: Febrianika Safara Karim SMA Muhammadiyah 1 Pati

    Juara Ketiga Lomba Artikel Gelar Karya Sekolah Adipangastuti se-Jawa Tengah 2024

  • BHINEKA TUNGGAL IKA ADALAH KITA (MERAJUT PERSATUAN DENGAN BENANG HASTHALAKU)

    BHINEKA TUNGGAL IKA ADALAH KITA (MERAJUT PERSATUAN DENGAN BENANG HASTHALAKU)

    “Bhineka Tunggal Ika bukan hanya semboyan, tetapi sebuah komitmen untuk hidup berdampingan dengan damai. Mari kita wujudkan bersama dengan hasthalaku.”

    Menjadi wali kelas X atau kelas 1 SMA adalah salah satu ujian kesabaran sesungguhnya bagi seorang guru SMA. Juni 2022 awal tahun pelajaran baru, saya diberi tugas tambahan menjadi wali kelas lebih tepatnya menjadi wali kelas X. Saya yang terbiasa menjadi wali kelas XII atau kelas XI sontak mengeluh dalam hati “Lah malah dadi wali kelas X ki pie ngko”. Pada akhirnya saya memilih tersenyum alih-alih menangis menerima tugas tambahan menjadi wali kelas X yang bisa dipastikan akan banyak cerita selama setahun kedepan.

    Menjadi Istimewa: Agama, Usia dan Suku

    Benar dugaan saya sebelumnya, cerita akan banyak muncul di kelas. Kelas X yang saya dampingi adalah kelas “istimewa”. Saya menyebutnya demikian karena beberapa hal. Pertama, sebagian besar masuk melalui Zonasi Khusus. Selain berasal dari kecamatan yang tidak ada SMA/K Negeri, salah satu syaratnya adalah usia yang lebih tua dibandingkan pendaftar lainnya.  Di kelas saya, lima dari 35 murid berusia tujuh belas tahun, sedangkan rata-rata usia murid pada kelas X adalah lima belas sampai enam belas tahun. Perbedaan usia ini membawa cerita seru.

    Yang kedua, jika kelas lain paling banyak terdapat dua agama, di kelas ini menganut lima agama. Terdiri dari 14 bergama Islam, 11 beragama Kristen, 8 beragama Katholik, dan sisanya masing-masing satu murid beragama Hindu dan Budha. Perbedaan agama ini membawa warna tersendiri di kelas.

    Perbedaan usia dan agama ternyata saling bertaut dengan perbedaan latar belakang dari masing-masing murid di kelas. Tidak perlu banyak waktu sampai saya mengetahui latar belakang beberapa murid-murid di kelas saya. Sebagaian besar murid saya berasal dari suku jawa tapi yang menarik ada murid saya berasal dari Bali dan sengaja datang ke Sragen untuk bersekolah di SMA Juara. Beberapa murid lainnya memiliki latar belakang keluarga dari Indonesia Timur. Perbedaan latar belakang keluarga dari tiap murid ini juga membawa keistimewaan bagi kelas saya.

    Aku, Kamu, Dia adalah Kita.

    Sik bentar jangan diputuskan dulu, lha wong dia gak dari Jawa kan gak paham Hasthalaku itu apa, masa mau dijadikan  sama wakil kelas kita  buat ikut Mbak Mas SMA Juara yang nanti bakalan jadi duta Hasthalaku!”

    “Kalau yang calon satunya juga kayaknya gak meyakinkan deh, kan dia juga gak terlalu tinggi….ehem agak pendek gak sih dia?”

    Heleh apa kamu bisa?!”

    “Aku gak yakin juga kamu bisa!”

    “sstttt….sudah lah dari  kita ini diskusi cari solusi bukan malah saling berselisih gini!”

    Sejenak saya mendengar perdebatan dari depan ruang kelas, saya yakin perdebatan yang terjadi pasti sudah cukup lama. Begitu saya membuka pintu ruang kelas suasana kelas menjadi hening. Berpura-pura tidak mendengarkan apa yang telah terjadi barusan, saya menyapa mereka dan bersiap untuk memulai sesi pendampingan Wali Kelas, kegiatan rutin setiap Jumat.

    Saat akan dimulai sesi pendampingan, Celine si ketua kelas meminta ijin menyampaikan perihal perselisihan yang terjadi pagi tadi. Saya menyimak semua informasi dari Celine dan memberikan waktu bagi dia untuk menyampiakan semua data dan fakta apa yang terjadi di kelas.

    Sebentar lagi akan ada kegiatan tahunan di SMA Juara dengan berbagai perlombaan dan kejuaraan dimana salah satunya adalah pemilihan Mbak dan Mas SMA Juara sebagai Duta Hasthalaku. Celine mengungkapkan bagaimana perselisihan yang terjadi di kelas tentang siapa yang layak untuk mewakili kelas dalam pemilihan Mbak dan Mas SMA Juara. Terdapat beberapa kandidat, tetapi hampir satu minggu belum ada titik temu siapa yang akan mewakili kelas bahkan berujung kepada kondisi kelas yang tidak nyaman karena adanya perselisihan

    Setelah Celine selesai menyampaikan informasi kelas, dilanjutkan Al, teman kelas yang lain berpendapat bahwa sebaiknya yang berasal dari Jawa saja yang mewakili Mbak dan Mas SMA Juara. “Hasthalaku kan falsafah Jawa jadi yang lebih paham orang Jawa”, tambahnya. Pendapat Al dibantah oleh Ella yang mengatakan meski hasthalaku berasal dari falsafah Jawa tapi nilai-nilai hasthalaku itu universal dan tidak khusus hanya bagi orang Jawa saja. Pernyataan Ella diaminkan oleh hampir sebagian besar murid di kelas. Resti mengatakan waktunya menunjukkan kalau kelas ini sudah benar-benar menerapkan nilai hasthalaku. “Nilai-nilai hasthalaku yang menjadikan kita kuat dalam perbedaan”, tambahnya.

    Saya mengambil alih pembicaraan dan diskusi menarik mereka karena waktu pembinaan wali kelas hanya 30 menit. Saya bertanya kepada murid-murid di kelas bagaimana kesimpulannya. Resti menjawab bahwa dia dan teman-teman di kelas akan bergotong royong mempersiapkan sebaik mungkin untuk mengikuti rangkaian kegiatan perlombaan sekolah. Resti murid yang dewasa dalam usia dan pemikiran dibandingkan teman lainnya di kelas. Dia mengajak teman sekelas untuk bersama-sama mempersiapkan untuk mengikuti perlombaan dan pemilihan Mas dan Mbak SMA Juara sebaik mungkin.  Di akhir diskusi, Resti menyampaikan kata-kata yang menyentuh hati saya dan murid-murid lainnya. “Sudahi tentang Aku, Kamu dan Dia karena sekarang adalah waktunya untuk Kita”, katanya sembari menutup diskusi.

    Indonesia dan Es Krim

    Senin, akhir bulan Mei, saya mengajak kelas saya untuk belajar Sejarah. Kebetulan materi akhir semester adalah tentang asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia. Saya mengajak mereka untuk belajar bagaimana Indonesia dengan letak geografis yang strategis membawa pengaruh terhadap jalur perdagangan dan hal ini berdampak bagi perkembangnya kebudayaan yang sangat beragam. Proses interaksi antar berbagai kelompok etnis, agama dan budaya di Indonesia membentuk Indonesia menjadi negara yang unik.

    Saya menyampaikan dengan perumpaan yang sederhana bagi mereka, bahwa kondisi Indonesia seperti es krim dengan rasa yang bermacam-macam yang kemudian meleleh dan menyatu dalam sebuah wadah. Es krim adalah kelompok etnis, agama, budaya dan wadahnya adalah Indonesia.

    Secara berkelompok saya meminta mereka untuk mempelajari tentang bagaimana akhirnya Indonesia bisa bertahan dengan keragaman identitas mulai dari sebelum kemerdekaan sampai pada masa sekarang. Di akhir sesi pembelajaran, saya meminta refleksi dari siswa tentang pembelajaran yang telah mereka lakukan.

    Celine dengan semangat menjadi perwakilan kelas berpendapat bahwa perbedaan yang ada di Indonesia dijaga dengan baik sehingga meski rawan konflik, Indonesia masih bisa bersatu sampai sekarang. “Kayak di kelas ini meski berbeda agama, beda suku tapi bisa menjaga dengan baik saling pengertian selalu bergotong royong meski kadang konflik juga ada”, katanya. Celine juga mengatakan bahwa sikap saling mengerti, saling guyup rukun dan selalu bergotong royong yang membuat kelas ini bisa menang, “Perwakilan kelas kita terpilih jadi Mbak SMA Juara meski bukan orang jawa”, tambahnya.

    Di akhir pembelajaran, saya mengajak semua murid untuk menyimpulkan bahwa keberagaman adalah sebuah keniscayaan karena setiap manusia itu unik. Menghargai perbedaan adalah sebuah kewajiban kita sebagai menusia untuk memanusiakan manusia. Dengan nilai-nilai hasthalaku kita rajut perbedaan itu menjadi indah. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekedar semboyan tapi Bhineka Tunggal Ika adalah Kita.

    Penulis: Atik Dwi Kurniasih – Waka Kesiswaan SMAN 3 Sragen

    Juara Kedua Lomba Artikel Gelar Karya Sekolah Adipangastuti Tahun 2024

  • Implementasi Budaya Hasthalaku dalam Program Penguatan Pendidikan Karakter (Pendikar) di SMA Negeri 2 Slawi

    Implementasi Budaya Hasthalaku dalam Program Penguatan Pendidikan Karakter (Pendikar) di SMA Negeri 2 Slawi

    Saya berdiri di depan kelas, melihat wajah-wajah para siswa yang sepertinya berada jauh dari jangkauan saya, meskipun mereka duduk hanya beberapa meter di depan. Senyum, sapaan hangat yang dulu saya temui setiap pagi, kini terasa seperti kenangan jauh. Para siswa datang ke sekolah dengan kepala tertunduk, mata mereka sibuk pada layar ponsel, jarang ada yang menyapa, bahkan sekadar melempar senyuman. Budaya yang dulu kami junjung tinggi, senyum, salam, sapa, perlahan menghilang.

    Pandemi telah mengubah banyak hal. Sekolah dibuka kembali setelah sekian lama ditutup, dan kami berharap bahwa interaksi sosial dan kehangatan yang dulu terjalin akan kembali. Namun, kenyataan berkata lain. Bukannya semakin akrab, mereka justru semakin menjauh satu sama lain. Mata mereka tidak lagi bertemu saat bicara, sapaan yang dulu ringan terlontar sekarang jarang terdengar. Awalnya, kami mengira itu hanya sementara, bahwa keadaan akan kembali normal. Tapi semakin lama, saya menyadari sesuatu yang lebih mendalam telah berubah. Kebiasaan saling peduli dan interaksi yang tulus perlahan terkikis, digantikan oleh dunia maya yang begitu mendominasi kehidupan mereka.

    Di lingkungan rumah, para orang tua tidak jarang bercerita, dengan nada prihatin, bahwa anak-anak mereka tak lagi menunjukkan rasa hormat yang sama seperti dulu. Anak-anak lebih sering mengurung diri di kamar, sibuk dengan ponsel dan internet. Kalimat “monggo, nderek langkung,” atau “matur nuwun” seakan menjadi kalimat asing. Padahal, dalam budaya Jawa, nilai-nilai kesopanan ini adalah pilar yang mengikat kita sebagai masyarakat yang penuh tata krama.

    Menurut Taryati et al (1995:71), tata krama atau sopan santun adalah suatu cara aturan yang diwariskan dan berkembang di dalam budaya masyarakat yang dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain untuk menjalin keakraban, saling pengertian, dan saling menghormati sesuai dengan adat yang telah ditetapkan. Dalam sebuah penelitian berjudul “Pandangan Pemuda terhadap Pentingnya Tata Krama dan Budaya Pendidikan Anak Usia Dini”, diperoleh gambaran yang cenderung mengarah pada penurunan kualitas penghayatan dan penerapan tata krama dalam keseharian pemuda. Dari responden dengan rentang usia 16-19 tahun, diperoleh data bahwa pada studi kasus mlaku mbungkuk ketika lewat di depan orang yang lebih tua, 46,7% remaja menjawab “kadang-kadang” dan bahkan 6,7% diantaranya menjawab “tidak pernah”. Demikian pula pada studi kasus dimana para responden diminta untuk memberikan pendapatnya mengenai seberapa sering mereka melihat para pelajar yang selalu mengucapkan permisi ketika melewati seseorang, responden mengaku jarang dan hanya kadang-kadang melihat kebiasaan seorang pelajar yang mengucapkan permisi. Lalu pada studi kasus dimana responden diminta pendapat mengenai seberapa sering mereka melihat para pelajar yang sering berkata kotor atau kasar. Berdasarkan hasil kuesioner dapat diketahui bahwa mayoritas responden mengaku sering melihat para pelajar berkata kotor atau kasar. Gambaran penilitian ini menjadi kekhawatiran bersama mengenai terkikisnya karakter positif di kalangan pelajar.

    Mengapa fenomena ini bisa terjadi?

    Menurut Setiawan (2010), terdapat dua faktor yang menjadi penyebab remaja melakukan penyimpangan perilaku kesopanan tersebut, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri remaja tersebut, yaitu remaja yang sangat ingin diperhatikan sehingga melakukan hal apapun untuk mencapai tujuannya bahkan hal tersebut cenderung menyimpang dari perilaku kesopanan yang terjadi di masyarakat. Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar remaja itu sendiri, seperti faktor dari lingkungan sosial, orang tua, dan sekolah. Namun, jika dicermati lebih mendalam, faktor terbesar yang mempengaruhi perubahan perilaku remaja adalah pesatnya perkembangan teknologi infomasi. Wahyudi dan Sukmawati (2014) menyatakan bahwa perkembangan teknologi juga mempengaruhi nilai-nilai budaya yang dipercaya oleh masyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Salah satunya ialah menyebabkan pudarnya perilaku kesopanan pada kalangan remaja akibat masuknya pengaruh budaya asing melalui media informasi yang diakses oleh remaja di internet, salah satu contohnya ialah penggunaan bahasa gaul dari budaya asing yang tidak jarang didengar melalui media informasi kemudian diterapkan oleh remaja terhadap lingkungannya serta adanya kecenderungan minat dari remaja untuk meniru segala sesuatu yang dilihatnya dari tokoh masyarakat yang mereka suka tanpa membedakan mana perilaku yang baik atau buruk dalam penerapan perilaku kesopanan di lingkungannya. Budaya asing ini lalu diadopsi oleh para remaja tanpa ada penyaringan terlebih dahulu, lalu mengadaptasinya pada kehidupan sehari-hari tanpa memilah mana yang sesuai ataupun tidak sesuai dengan perilaku kesopanan yang ada di Indonesia.

    Pesatnya kemajuan teknologi dan siginfikannya perkembangan zaman ini juga memunculkan fenomena generation-gap yang membuat usaha mengembalikan remaja pada norma kesopanan menjadi tidak mudah. Meminjam istilah Prof Abdullah Padang dalam refleksi kritisnya “MENGAPA ANAK MILENIAL BERTINDAK BEGITU DI SEKOLAH?”, ada gap-mindset yang membentang di antara guru (dan orang tua) dan anak didik yang membuat seringnya muncul konflik yang “ada-ada saja. Ada skema kognisi yang meleset. Misal, skema guru tentang bentuk murid itu bulat, membuat murid yang muncul dengan bentuk kotak, atau segitiga, atau hexagon, adalah anomali. Respon yang muncul sama-sama defensif. Dan ketika anak berani bersuara untuk menunjukkan bahwa ia segitiga, karena yang dia lihat adalah menjadi-bukan-bulat-itu-boleh-saja dan ada beragam bentuk lain di luar sana, justru mendapat penolakan dari orang dewasa yang tetep kekeuh pada skema bulatnya. Akhirnya tanggapan yang sering muncul justru, “Anak jaman sekarang memang begitu, tidak tahu adat”. Sedangkan pertanyaan anak tentang “Kok gitu sih?” hampir tidak pernah dijawab sama sekali.

    Ernest Hemingway dalam memoar A Moveable Feast berkata bahwa yang tua akan dieleminasi yang muda. Pola ini terjadi hampir di setiap zaman. Namun para pendidik seharusnya dan selamanya berada diantaranya. Guru dan orang tua harus mengambil peran ditengah sebagai jembatan penghubung bagi generasi muda yang powerful tapi gegabah ini untuk meniti jalan menjadi pribadi dewasa yang terdidik.

    Mungkin guru sudah kalah informatif dibanding google, kalah luas pergaulan dari Instagram, dan kalah aktual dari twitter. Tapi pendidik punya sesuatu yang tidak mungkin digantikan teknologi: sentuhan. Sentuhan lembut lewat teladan, gesture, dan dialog yang setara akan bermakna mendalam bagi generasi yang terlalu kenyang informasi ini. Maka, program Penguatan Pendidikan Karakter (Pendikar) menjadi relevan untuk dilakukan. Program ini menjadi program wajib tahunan di SMA Negeri 2 Slawi pasca-pandemi. Sejalan dengan penerapan Kurikulum Merdeka dimana sekolah ini menjadi piloting Sekolah Penggerak. Di tahun ketiga pelaksanaan Pendikar ini, kami mengintegrasikan nilai hasthalaku ke dalam rangkaian kegiatan dimana Sekolah Adipangastuti menjadi branding unggulan SMA Negeri 2 Slawi. Nilai hasthalaku ini relevan dan urgen untuk diimplementasikan dalam kegiatan berkelanjutan yang bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik yang sesuai dengan visi sekolah melalui aktivitas yang menguatkan bounding antara peserta didik dan guru maupun seluruh warga sekolah.

    Pendikar ini menekankan pada bounding  antara siswa dengan guru, siswa dengan warga sekolah , dan siswa terhadap sesamanya yang dimulai sejak kelas X. Bounding dan sentuhan ini penting untuk menjadi pintu masuk paling awal bagi penanaman dan pembiasaan karakter positif pada siswa. Implementasi nilai-nilai hasthalaku ini dilakukan mulai dari masa Pra-Pendikar dimana siswa dikondisikan untuk terbiasa senyum, salam, sapa ketika berpapasan. Pembiasaan ini dimulai sejak masuk pintu gerbang sekolah dimana siswa disambut oleh guru dan kakak kelas dari PKS, OSIS, dan MPK untuk bersalaman dan saling menyapa. Kemudian, setiap kelas X dikondisikan dalam sebuah projek bersama yang mengharuskan mereka berkreasi dan berkolaborasi sebagai sebuah teamwork untuk dapat menyelasikan tugas yang diberikan. Tugas tersebut berupa pembuatan atribut kelas, yel-yel, duta hasthalaku, komitmen kelas, ornamen kelas, konten video, dan pentas seni yang semuanya bertema hasthalaku. Tugas ini diselesaikan dalam tempo kurang dari 2 minggu di jam reguler P5 setiap harinya, waktu yang dikondisikan singkat agar memancing problem solving dan dinamika kelompok di kelas. Selanjutnya, puncak Pendikar selama dua hari satu malam di sekolah merupakan momen inagurasi yang semakin memantapkan proses pembentukan karakter ini. Kegiatan ini diisi oleh guru, OSIS, alumni, dan TNI dengan desain materi berupa inspirasi alumni, komitmen diri, dinamika kelompok, bela negara, pentas seni, refleksi, dan outbond. Selama kegiatan berlangsung, siswa wajib memakai atribut hasthalaku yang dikreasikan kelasnya, yel-yel, kemudian pentas seni bertema hasthalaku. Persiapan yang singkat nyatanya tidak menjadi penghalang bagi kreatifitas siswa. Kegiatan dapat terlaksana dengan baik, setiap kelas menampilkan kreativitas dan kolaborasi yang solid. Sikap dan karakter positif mulai ditunjukkan dengan masif. Seusai kegiatan, budaya positif hasthalaku yang dibudidayakan melalui Pendikar ini perlahan kembali membumi di SMA Negeri 2 Slawi.

    Penulis: Slasi Widasmara, S.Pd. – Pengajar SMAN 2 Slawi

    Juara Pertama Lomba Artikel Gelar Karya Sekolah Adipangastuti se Jawa Tengah Tahun 2024

     

    Sumber:

    Islam, Sultan Nazmi Chairul, dkk. (2021). Pandangan Pemuda terhadap Pentingnya Tata Krama dan Budaya Pendidikan Anak Usia Dini. Jurnal Dinamika Sosial Budaya, Vol . 23, No.2, Desember 2021, pp 292 – 299.

    Setiawan, H. 2010. Identifikasi Faktor-Faktor Penyimpangan Norma Kesopanan di Kalangan Remaja. Skripsi.

    Taryati, dkk. (1995). Pembinaan Budaya dalam Lingkungan Keluarga. Jakarta: DEPDIKBUD.

    Wahyudi, H. S. Sukmawati, M. P. 2014. Teknologi dan Kehidupan Masyarakat. Jurnal Analisa Sosiologi, 3(1).

  • Kerja Sama Pemerintah dan Masyarakat untuk Menekan Perkawinan Anak di Wonosobo

    Kerja Sama Pemerintah dan Masyarakat untuk Menekan Perkawinan Anak di Wonosobo

    Pada hari Senin 29 April 2024, Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Penguatan Implementasi Pergub No 67 Tahun 2023 tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Pelayanan Kepemudaan Provinsi Jateng pada eks Karesidenan Kedu di Kantor Disporapar Kota Magelang. Kegiatan ini difasilitasi oleh Solo Bersimfoni.

    Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang hadir dari eks Karesidenan Kedu yaitu Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, dan Kabupaten Wonosobo. Tim Penyusun RAD, Dr. Yasser Wahyuddin, ST., MT., Msc. dan Kasi Kemitraan dan Kelembagaan Pemuda Disporapar Provinsi Jawa Tengah, Makmur Effendy S.Pd., MM, menjadi narasumber dalam kegiatan ini.

    Tingginya angka kelahiran erat kaitannya dengan usia perkawinan pertama kali dan faktor ekonomi serta pendidikan keluarga. Hal ini menjadi faktor utama yang menyebabkan tingginya perkawinan usia anak di Kabupaten Wonosobo. Oleh karenanya, hal ini menjadi pembahasan pada sosialisasi, yaitu domain Kesehatan dan Kesejahteraan.

    Beberapa langkah serius pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam mencegah perkawinan anak adalah terbitnya Peraturan Bupati Wonosobo Nomor 34 Tahun 2019 tentang Strategi Penanggulangan Perkawinan Usia Anak di Kabupaten Wonosobo. Peraturan ini dikeluarkan karena pada tahun 2018 angka perkawinan usia anak di anak di Kabupaten Wonosobo menyentuh angka 2109. Hal ini menjadi landasan DPPKBPPA Kabupaten Wonosobo mengisiniasi dibentuknya Pergub ini dan disahkan setahun kemudian.

    DPPKBPPA Kabupaten Wonosobo juga membentuk Penguatan Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja sebagai salah satu program pelayanan informasi dan konseling tentang pendewasaan usia perkawinan, fungsi keluarga, informasi dan konseling seksualitas. Selain itu juga membentuk Forum Anak Kreatif Wonosobo (FORKOS) untuk menampung aspirasi anak di Wonosobo agar tercipta anak cerdas, berwawasan, kreatif dan berakhlak mulia.

    Duta Generasi Berencana (Genre) dilibatkan pada kegiatan dinas sebagai role model anak muda Kabupaten Wonosobo agar terwujud zero tolerance khususnya pada pernikahan dini, seks sebelum menikah dan NAPZA. Dinas juga menyediakan layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) sebagai upaya optimalisasi fungsi keluarga, yang mana perlindungan perempuan dan anak menjadi acuan penting dalam penyelenggaraan keluarga sejahtera.

    Selain itu juga dibentuk Program percepatan dan penurunan stunting di Wonosobo dengan program Wonosobo Hebat Atasi Stunting sehari dua butir telur. Dengan slogan selalu pantau tumbuh kembang, Awasi, dan Jaga Kesehatannya, Semangat Pola Asuhnya (SOBO HEBAT SEDULUR SELAWASE) dan SOBO-PAKU ANTING.

    Selain program dari pemerintah kabupaten, upaya dalam mendukung kesehatan ibu dan anak di setiap desa di Kabupaten Wonosobo mempunyai praktik baiknya sendiri. Sebagai contoh di Desa Lengkong yang memiliki dana sosial untuk kesehatan warga, dana yang terkumpul digunakan untuk membantu warga sesuai kebutuhannya seperti biaya pengobatan warga yang sakit serta biaya ibu melahirkan yang tidak memiliki BPJS kesehatan.

    Program yang dilakukan oleh DPPKBPPPA Kabupaten Wonosobo juga berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial. Hal ini sebagai wujud sinergi dan kolaborasi antar stakeholder untuk menuntaskan permasalahan pemuda sebagaimana tertuang dalam Pergub No 67 Tahun 2023 tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Pelayanan Kepemudaan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2023-2026.

    “Ayo nikmati prosesnya sebagai remaja, kejarlah cita-citamu setinggi-tingginya, gapailah mimpimu sampai kamu dapat. Semoga remaja Wonosobo semakin berencana, semoga  remaja dan anak-anak di kabupaten Wonosobo tidak akan ada lagi yang banyak terjerumus ke dalam perkawinan anak, tidak terjerumus pergaulan bebas, dan juga tidak terjerumus kedalam narkoba. Jauhi hal-hal negatif tersebut Insya Allah Wonosobo dan Indonesia kedepan akan semakin jaya”, Ibu Kepala DPPKBPPPA Kabupaten Wonosobo, Dyah Retno Sulistyowati, S.STP memberikan pesan untuk pemuda di Kabupaten Wonosobo.

    Ditulis oleh : Tia Brizantiana

  • Pentingnya Pelayanan Kepemudaan untuk Menaikkan IPP Jateng

    Pentingnya Pelayanan Kepemudaan untuk Menaikkan IPP Jateng

    Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah telah melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi dan Tindak Lanjut Implementasi Rencana Aksi Daerah (RAD) Pelayanan Kepemudaan Tahun 2024 dalam Penyusunan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) di Provinsi Jawa Tengah di Grand Master Hotel Grobogan selama dua hari pada Rabu s/d Kamis, 21-22 Agustus 2024. Kegiatan ini didukung oleh Solo Bersimfoni.

    Selain sebagai evaluasi, kegiatan ini dilaksanakan untuk mengawal finalisasi data yang nantinya akan digunakan sebagai acuan penyusunan (IPP) Jawa Tengah. IPP yang merupakan indikator untuk melihat wajah pembangunan kepemudaan diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dalam mengevaluasi efektivitas kebijakan dan program pelayanan kepemudaan, baik di tingkat nasional maupun daerah.

    FGD dilaksanakan setelah satu semester pengesahan Pergub No 67 Tahun 2023 tentang RAD Pelayanan Kepemudaan Provinsi Jawa Tengah tahun 2023-2026. Peserta adalah 35 (tiga puluh lima) Dinas Kepemudaan yang ada di Kabupaten/Kota se Provinsi Jawa Tengah serta Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang diwakilkan oleh KNPI. Kegiatan ini dibuka oleh Ibu Ir Siti Moelyatmi Bernandetta, M.Si Kabid Kepemudaan Disporapar Jawa Tengah. Beliau mengatakan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan masukan dari OPD sebagai salah satu cara untuk menaikkan IPP Provinsi Jawa Tengah. Karena untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, dibutuhkan kerja sama serta persamaan visi dan persepsi bagaimana menyusun IPP sebagai tolak ukur dan melihat gambaran upaya kepemudaan fokus pada 5 (lima) domain dalam RAD Pelayanan Kepemudaan.

    Berdasarkan data perhitungan IPP Jawa Tengah tahun 2023 oleh Kemenpora, ada 2 (dua) domain yang mengalami kenaikan yaitu Domain Kesehatan dan Kesejahteraan serta Domain Partisipasi dan Kepemimpinan. Sedangkan 3 (tiga) domain lainnya yaitu Domain Pendidikan, Domain Kesempatan dan Lapangan Kerja, dan Domain Gender dan Diskriminasi masih stagnan sehingga menjadi tugas bersama untuk menaikkan angkanya.

    Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengumpulkan data OPD dan OKP terkait yang sudah mengimplementasikan Pergub tersebut, baik berupa kegiatan, program ataupun aturan. Selain itu juga sebagai contoh praktik baik kepada OPD dan OKP yang sedang menyusun atau bahkan belum mengimplementasikan Pergub tersebut.

    Huntal Hutapea dalam paparannya menyambut baik segala pertemuan lintas OPD dan OKP, “Semakin banyak pertemuan, akan semakin baik untuk menyadarkan pentingnya pelayanan kepemudaan kepada OPD dan OKP.” Ujarnya. Dalam pembangunan IPP, dibutuhkan kolaborasi antar pihak baik dinas maupun pemerintah. “Sudah tidak jaman lagi untuk berkompetisi, saatnya sekarang untuk berkolaborasi.” Tambahnya.

    Salah satu yang dibutuhkan supaya implementasi RAD Pelayanan Kepemudaan dapat berjalan dengan baik adalah pembentukan tim koordinasi RAD yang disahkan melalui SK, sebagai upaya pelaksanaan 5 (lima) domain dikarenakan tidak semua domain ada di bawah Disporapar. Hal ini sesuai dengan Perpres No 43 Tahun 2022 tentang Penguatan Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Pemuda. Hal ini sesuai yang dipaparkan oleh Bapak Nanang Dwi Saputro, SE salah satu narasumber dari BAPPEDA Jawa Tengah.

    Harapannya setelah kegiatan ini dapat memberikan gambaran bagaimana menyusun IPP Jawa Tengah sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah di Kabupaten/Kota. Hal ini yang diungkapkan oleh Bapak Friendy Hadi Irmansyah, S.H dari Biro Hukum SETDA Jawa Tengah dalam paparannya.

    Ditulis oleh : Tia Brizantiana