Tahun ajaran baru dimulai tengah bulan juli. Pandemi malah kian menjadi. Pembelajaran yang sedianya akan dilaksanakan tatap muka terbatas urung dilaksanakan. Sejak belajar dari rumah digulirkan muncul kekhawatiran tentang bagaimana pendidikan karakter anak terbentuk. Sebab sekolah tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan sekolah adalah tempat bertumbuh anak-anak, tempat mereka bersosialisasi, tempat menempa karakter diri. Peran keluarga memang jadi dominan saat pembelajaran dari rumah dilaksanakan, namun sejak dahulu tak pernah ada sekolah untuk menjadi orang tua. Diskusi tentang mendidik anak memang banyak dipaparkan para ahli dan disimak orang tua yang peduli. Tingkat kepedulian orang tua untuk mencari ilmu mendidik anak, belum diketahui seberapa besar. Mau tidak mau sekolah menjadi harapan untuk mendidik tidak sekedar mengajar. Pencapaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan bisa diukur dengan kuis. Ketercapaian peserta didik dalam menguasai materi sesuai kurikulum nisa ditempuh dengan pola pengajaran daring saat ini. Ketika tehnologi telah sedemikian mendukung pembelajaran dari rumah, guru tetap bisa asyik menyampaikan materi sesuai kurikulum. Guru bisa mengadakan ulangan selayaknya dulu tatap muka. Guru bisa mengukur kemampuan siswa dengan perwujudan nilai yang akhirnya tersaji di rapot. Untuk pendidikan karakternya bagaimana? Setiap guru pastinya menyampaikan tentang karakter yang baik. Dalam kegiatan mengajar mereka, pasti terselip nasehat tentang kebaikan. Lalu keefektivan dari pendidikan karakter yang tersirat ini bisa dilihat dari apa? Suatu kali saat menjadi pembicara pada bincang-bincang tentang persiapan pembelajaran daring tahun lalu, ada pertanyaan mengelitik. Bila pembelajaran daring pendidikan karakter disampaikan bagaimana agar efektif. Jangankan daring saat tatap muka saja saya bingung ketika ditanya tentang tolak ukur keberhasilan dari pendidikan karakter yang disampaikan. Karena tidak mudah mengukur apakah sikap siswa baik atau tidak. Penilaian sikap memang dilakukan, namun saya hanya mencatat anak yang berkelakuan menonjol. Unggul dalam kebaikanya, sebagai contoh tanpa diminta ada anak yang maju membersihkan papan tulis. Menonjol dalam keusilanya, sebagai contoh tiba-tiba anak ini main bola di kelas padahal ada guru mengajar di kelas. Namun kekhususan ini bagi saya terlalu dangkal untuk dijadikan bahan penilaian. Karena bisa saja anak yang membersihkan papan tulis memang hari itu dia piket dan bertugas membersihkan papan tulis, sedang yang menyapu pagi hari dan siang sepulang sekolah anak yang lain yang tidak sempat saya lihat. Demikian sebaliknya, siswa yang tiba-tiba bermain saat pelajaran jangan-jangan dia memang tipikal belajar kinestetik, yang harusnya ini bisa menjadi refleksi guru dalam mengajar bukan menjadi tersangka kegaduhan kelas, lalu diberi nilai buruk pada sikap. Membentuk karakter peserta didik melalui pendidikan karakter mulai digaungkan tahun 2011 sepuluh tahun berlalu dan saya masih gamang tentang karakter bagaimana yang harusnya dimiliki oleh anak. Karena pada awalnya kementrian pendidikan merumuskan karakter yang terintegrasi ke mata pelajaran yaitu (1) Religius, (2) Kejujuran, (3) Kecerdasan, (4) Ketangguhan, (5) Kedemokratisan, (6) Kepedulian, (7) Kemandirian, (8) Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, (9) Keberanian mengambil risiko, (10) Berorientasi pada tindakan, (11) Berjiwa kepemimpinan, (12) Kerja keras, (13) Tanggung jawab, (14) Gaya hidup sehat, (15) Kedisiplinan, (16) Percaya diri, (17) Keingintahuan, (18) Cinta ilmu, (19) Kesadaran akan hak dan kewajiban diri (20) Kepatuhan terhadap aturan-aturan sosial, (21) Menghargai karya dan prestasi orang lain, (22) Kesantunan, (23) Nasionalisme, (24) Menghargai keberagaman (Pendidikan Karakter Menurut Kemendikbud (Telaah Pemikiran atas Kemendikbud) ,Achmad Dahlan Muchtar, Aisyah Suryani, Jurnal Pendidikan – Vol 3 No. 2 (2019)) terlalu banyak yang harus dimasukan dalam mata pelajaran ini tidak hanya membingungkan peserta didik namun juga guru yang harus mengintegrasikan karakter ini masuk dalam pembelajaran Penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas presiden Joko Widodo dan wapres Jusuf kala. Dalam nawa cita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Kementerian Pendidikan dan kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016. Setahun berselang kemdikbud menyederhanakan kembali karakter yang berjumlah lebih dari dua puluh itu menjadi lima karakter utama yaitu, religius,nasionalis, integritas, mandiri, gotong royong. Pelaksanaan tetaplah tidak sederhana, karena berbagai upaya telah dilakukan sekolah dalam penguatan pendidikan karakter namun masih adanya pelaku kejahatan dari pelajar ini menjadi catatan tersendiri. Sudah efektifkah pendidikan karakter yang dilakukan di sekolah. Karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik watak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Nilai karakter yang dirumuskan oleh Kementerian Pendidikan adalah nilai karakter yang umum untuk seluruh daerah di Indonesia. Bila karakter adalah nilai khas, apakah tidak lebih baik bila nilai karakter diambil dari daerah masing-masing. Karena setiap daerah memiliki potensi dan memiliki kearifan lokal. Surakarta merupakan kota Budaya di Jawa Tengah, memiliki banyak sekali kearifan lokal yang bisa diintegrasikan untuk pendidikan karakter. Pengintegrasian dari budaya setempat tentu lebih mudah karena orang tua dan peserta didik tumbuh dan berkembang di lingkungan setempat. Namun formulasi yang bagaimana agar kearifan lokal ini bisa menjadi pendidikan karakter. Sebuah terobosan dilakukan oleh perkumpulan Solo Bersimfoni, setelah melalui kajian panjang sejak tahun 2018 tercetuslah ide tentang Sekolah Adipangastuti. Sekolah adipangastuti berbeda dengan program yang ada yang menjadikan sekolah sebagai sasaran program. Bila di program yang lain guru terbebani untuk memasukan program pada administrasi pembelajaran. Sekolah Adipangastuti tidak demikian, yang diutamakan justru kepada peserta didik. Bagaimana peserta didik bisa memahami hasthalaku yang menjadi ruh dari program sekolah adipangastuti. Pemahaman yang didapat peserta didik justru didapat dari media kekinian, juga penyampaian oleh teman dalam bentuk grafis dan audiovisual. Pada awalnya warga sekolah diberikan penjelasan tentang hasthalaku, yaitu delapan nilai karakter yang bersumber dari budaya jawa, gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, tepa selira, andhap asor. Produk nyata dari sekolah adipangastuti adalah literasi dan publikasi. Semua warga sekolah tahu nantinya kita akan membuat sesuatu berdasarkan pemahaman kita tentang hasthalaku. Guru dengan suka rela menjadikan hasthalaku sebagai tema dalam kegiatan mengajarnya, secara tidak langsung guru mengintegrasikan kepada pembelajaran. Pada pelajaran bahasa hasthalaku ini menjadi tema untuk siswa berkarya. Sebelum mereka menulis pasti mereka akan mencari tahu lebih dalam tentang tema yang disodorkan guru, ini adalah langkah yang baik untuk mengajak siswa mengenal budaya dan nilai karakter yang baik. Pada pelajaran seni hasthalaku juga menjadi tema, ketika anak berkarya dia mengaplikasikan pengetahuan, pengalaman dan nilai karakter yang disajikan. Karena berasal dari kearifan lokal