Author name: admin

Meriahkan Car Free Day dengan Petisi Dukungan Terhadap RAN PE

Masih ingat dengan Hasthalaku on The Street? Kegiatan ini adalah salah satu acara seru yang diatur dan dimeriahkan oleh sahabat simfoni. Sudah sangat lama kegiatan ini tidak dilaksanakan, apalagi sejak pandemi Covid-19 yang mengakibatkan semua kegiatan di ruang publik dihentikan. Pada minggu 17 Juli 2022 kemarin, kegiatan ini kembali diadakan di car free day (CFD) Kota Surakarta, tepatnya di depan toko elektronik Semeru Ngarsopuro. Dalam kegiatan ini, Solo Bersimfoni mengajak masyarakat untuk membubuhkan tanda tangannya sebagai dukungan dalam Implementasi Pepres No. 7 Tahun 2021 tentang Implementasi Rancangan Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) di Provinsi Jawa Tengah. Pembubuhan tanda tangan ini sebagai awal pelaksanaan program Solo Bersimfoni yaitu mendukung pemerintah daerah dalam pelaksanaan RAN PE melalui pendampingan Peraturan Gubernur (Pergub) Preventing Violent Ekstremism (PVE) dan pengarusutamaan intoleransi di kalangan pemuda di Provinsi Jawa Tengah.     Ketua Solo Bersimfoni, M. Farid Sunarto, membuka acara yang kemudian dilanjutkan sambutan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Surakarta, Drs Aryo Widyandoko, MH. Setelahnya mereka melakukan pembubuhan tanda tangan pada petisi sebagai bentuk dukungannya. Selain pembubuhan petisi tanda tangan, acara ini juga dimeriahkan oleh fragmen dan penampilan dari mitra serta Sekolah Adipagastuti. Mitra yang terlibat yaitu PeaceGeneration Chapter Solo dan Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM) Kota Surakarta serta Sekolah Adipangastuti yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 1 Karanganyar, SMAN 1 Gemolong dan SMAN 3 Sragen. Penampilan dari Sekolah Adipangastuti sebagian besar merupakan hasil langsung dari pelaksanaan program Sekolah Adipangastuti seperti menyanyikan mars adipangastuti dan membacakan geguritan serta puisi berbahasa Indonesia dan Inggris. Selain itu, beberapa siswa dari SMAN 6 Surakarta dan siswa serta mahasiswa magang Solo Bersimfoni juga ikut terlibat dalam fragmen.   Tak lupa, ada permainan boardgames hasthalaku dan juga boardgames peacegen digelar pada kegiatan ini. Dengan mengajak masyarakat yang hadir dan mampir, harapannya mereka dapat belajar hasthalaku dan 12 nilai perdamaian peacegen dengan menyenangkan. Semoga kegiatan Hasthalaku on The Street dapat dilakukan kembali dengan mengajak lebih banyak mitra dan makin menggaungkan nilai toleransi pada masyarakat terutama anak muda di Kota Solo sampai ke Jawa Tengah.   Penulis: Tia Brizantiana – Program Officer

Meriahkan Car Free Day dengan Petisi Dukungan Terhadap RAN PE Read More »

Hasthalaku memperoleh restu GKR Pakubuwono XIII

Selasa, 10 Mei 2022, M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni berkesempatan memaparkan nilai-nilai budaya Jawa Hasthalaku kepada Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pakubuwono XIII. Kesempatan ini bertempat di Joglo ndalem Kanjeng Pangeran Sri Haryanto Hadinagoro.  GKR Pakubuwono XIII menyimak paparan tentang Hasthalaku yang merupakan warisan nilai-nilai luhur Kraton Kasunanan Surakarta. Hasthalaku merupakan delapan nilai perilaku hasil riset dari tim Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Hasthalaku terdiri dari gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor dan tepa selira.

Hasthalaku memperoleh restu GKR Pakubuwono XIII Read More »

perempuan solo raya

Perempuan Soloraya dalam Pusaran Terorisme

Tulisan ini menguak bagaimana perjuangan perempuan istri para narapidana kasus terorisme (Napiter) berjuang setelah suaminya ditangkap. Tidak sedikit perempuan yang tidak tahu-menahu aktivitas suaminya. Mereka tidak menyangka perubahan positif yang dialami sang suami justru berakhir pada jerat jaringan terorisme.   Kisah Ani, Istri Seorang Napiter bernama Mardi Ruang tamu itu terlihat begitu sederhana. Tak ada hiasan yang terpasang di dindingnya, hanya ada sejumlah kursi kayu yang ditata menempel ke dinding berwarna krem. Warung makan yang berada di bagian sisi depan rumah sedang tutup, karena sedang bulan puasa. Dari lubang pintu, aku bisa melihat pengunjung supermarket yang terletak tepat di samping rumah, datang dan pergi. Aku sempat kesulitan menemukan rumah ini. Google maps yang dikirim Pak Mardi (bukan nama sebenarnya) sang pemilik rumah melalui pesan WhatsApp ternyata kurang akurat. Penulisan alamat juga terbalik antara RT dan RWnya. Hal ini cukup membuatku bingung hingga harus tersesat cukup lama sebelum akhirnya berhasil menemukan rumah yang sebenarnya terletak tepat di pinggir jalan raya. Oleh Pak Mardi aku dikenalkan kepada istrinya, Ani, juga bukan nama sebenarnya. Setelah tak lama saling mengenal, obrolan tentang keterlibatan Mardi dalam jaringan terorisme pun terus mengalir. Mardi yang saat ini berusia 50 Tahun, bergabung ke dalam kelompok yang bernama Azam Dakwah Center (ADC) yang dulu bermarkas di Ngruki, Sukoharjo. Menurut informasi dari Mardi, ADC berafilisiasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Ia ditangkap pada 2017 terkait kasus bom molotov di Solo Baru, Sukoharjo. Sebenarnya serangan bom molotov ini bisa dikatakan gagal. Sehingga tidak banyak orang yang tau. Namun, belakangan polisi berhasil mengendus adanya keterkaitan antara kasus ini dari hasil pengembangan kasus teroris di Bekasi. Menurut polisi kelompok ini antara lain bertanggung-jawab atas pengeboman di Kawasan Sarinah pada Januari 2016 dan serangan bom molotov di Solo Baru Sukoharjo. Menurut pengakuan Ani, dia tidak tau menau mengenai keterlibatan suaminya dalam serangan bom molotov itu. Pada saat terjadinya penyerangan, Pak Mardi bercerita tentang perannya sebagai pengawas yaitu bertugas untuk mengamankan dan memantau lokasi pengeboman. Ani mengisahkan, keterlibatan suaminya dengan kelompok teroris ini bermula saat ia bergabung dengan sebuah kelompok pengajian. Awalnya Ani menyambut gembira perubahan positif yang dialami suaminya. Namun, belakangan baru ia tahu kalau ternyata sang suami bergabung dengan kelompok garis keras. “Ya saya sih mendukung, Mbak, kalau suami itu rajin sholat dan pengajian. Dulu waktu muda suami saya tuh gangster, Mbak. Setelah menikah pun sholatnya masih bolong-bolong. Kalau saya ajak sholat pasti jawabannya iya nitip aja gitu. Dari yang seperti itu terus berubah drastis mau sholat dan ngaji saya seneng, Mbak. Cuma ya nggak tau kalau ternyata ngajinya di tempat yang salah,” terang Ani. Suatu sore hari Pak Mardi pamit pergi ke masjid untuk menunaikan sholat ashar berjamaah. Namun ternyata sampai malam tiba bahkan hingga keesokan harinya dia tidak kunjung pulang. Ani pontang-panting mencari informasi tentang keberadaan suaminya. Berbagai tempat yang biasa disinggahi suaminya ia datangi tapi hasilnya nihil. Hingga keesokan paginya, Ani memutuskan untuk mendatangi kantor kelurahan untuk melaporkan suaminya yang tidak kunjung pulang. Baru ketika itu Ani tahu jika suaminya ditangkap oleh Densus 88 Antiteror karena diduga terlibat aksi terorisme. Ani menyayangkan sikap Densus 88 yang tidak memberitahu pihak keluarga saat penangkapan, “Saya udah bingung suami posisinya di mana, Mbak, kok ya tidak ada pemberitahuan ke rumah dan keluarga dulu kalau ada penangkapan gitu,” keluhnya Siang hari sepulang dari kelurahan, rumah Ani didatangi oleh petugas Densus 88. Mereka datang dengan didampingi petugas dari kelurahan untuk menggeledah seisi rumah Mardi. Saat penggeledahan, Ani meminta agar rumahnya tidak diobrak-abrik dan semua barang dirapikan kembali ke keadaan semula. Dalam penggeledahan itu, petugas menyita dua alat bukti yaitu Al-Qur’an dan buku catatan Pak Mardi selama mengikuti pengajian. “Saya nggak habis pikir lho, Mbak, masa’ alat buktinya Al-Qur’an. Iya Al-Qur’an yang biasa kita baca itu!” ucapnya masygul. Setelah Mardi ditangkap, kini tanggung jawab ekonomi rumah tangga berpindah sepenuhnya ke pundak Ani. Ia yang semula seorang ibu rumah tangga kini harus menjadi tulang punggung keluarga dan bertindak sebagai bapak sekaligus ibu bagi ketiga anaknya. Kegalauan Ani makin menjadi, karena anak sulungnya akan melangsungkan pernikahan pada bulan April 2018, padahal Mardi ditangkap pada Desember 2017 atau hanya beberapa bulan sebelum pernikahan itu berlangsung. Setelah melalui perundingan yang panjang antara kedua keluarga, akhirnya diputuskan untuk memajukan tanggal pernikahan menjadi Januari 2018. Dari pihak keluarga laki-laki tidak mempermasalahkan meskipun calon mempelai perempuan adalah anak dari tersangka teroris. Karena Mardi sedang mendekam di penjara, posisinya sebagai wali akhirnya digantikan oleh adik laki-laki Ani. Ani melakukan segala upaya agar roda ekonomi keluarganya tetap berjalan dan untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya. Seperti membuat keset dan mengontrakkan sepetak rumah untuk dibuat ruko. Awalnya Ani memiliki usaha warung makan, tetapi tak lama setelah Mardi ditangkap, tak sedikit masyarakat yang menjauhi dan menghindari Ani dan keluarganya. Kondisi ini membuat Ani khawatir dagangannya tidak laku sehingga ia memutuskan untuk menutup warungnya. Setelah menutup warung makannya, Ani lantas beralih profesi dan bekerja membuat keset. Dari pekerjaan ini ia bisa mengantungi Rp 75 ribu sehari. “Ya lumayan, Mbak, itu biasanya saya nargetin sehari harus dapat segini supaya dapat Rp. 75.000 perhari. Gimanapun caranya saya coba selesaikan, Mbak. Kalau belum selesai ya saya lembur sampai gak tidur. Demi anak-anak.” imbuhnya. Beban Ani sedikit berkurang, karena tak lama kemudian ada yang berminat mengontrak ruko di samping rumahnya untuk dijadikan toko kelontong. Ini karena Ani mematok harga miring atau di bawah harga rata-rata meski lokasi tanahnya sangat strategis dan berada di pinggir jalan raya. “Kan kemarin banyak orang-orang yang menjauhi kita, Mbak, makanya saya tawarkan harga rendah. Alhamdulillahnya yang nyewa mau kita mintain uangnya di awal. Jadi sangat membantu,” ujar Ani tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Dan kini ia akhirnya menekuni usaha yang pernah dirintisnya dahulu yakni membuka warung makan di depan rumahnya. Modal usaha warung makan ini ia dapatkan dari bantuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). “Setelah Bapak bebas pada 2020, kemudian mendapatkan pembinaan dari BNPT dan dimodali sebesar Rp 5 juta untuk modal usaha,” ujar Ani. Usaha ini dipilih, karena dia memang memiliki kemampuan dalam bidang memasak, akhirnya diputuskan untuk membuka warung makan kembali. Munculnya stigma negatif setelah Mardi ditangkap tak hanya mempengaruhi sepinya pengunjung

Perempuan Soloraya dalam Pusaran Terorisme Read More »

Anak Muda Bicara Toleransi: Tak Semua Warung Harus Tutup di Bulan Ramadhan

Tak semua warung harus tutup di bulan Ramadhan. Ini dilakukan untuk memberikan kesempatan buat orang lain yang sedang tak puasa, atau orang yang memang tak melakukan puasa untuk membeli makanan. Saya menyukai semboyan Hasthalaku, yaitu menempatkan orang lain sebagai ‘diriku’, dengan ini maka kita bisa saling memberikan ruang bagi yang lain   Konde, The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia dan Peace Innovation Academy selama bulan Ramadhan menyajikan Edisi Khusus Ramadhan: berupa artikel tentang makna toleransi bagi anak muda. Artikel ini sebagai bagian untuk mengajak anak muda merawat Keberagaman, Perempuan dan Perdamaian. Ini adalah cerita refleksi saya selama bulan Ramadhan: saya selalu bertanya-tanya, mengapa warung-warung makan tidak diizinkan untuk buka selama bulan Ramadhan? Coba simak informasi ini: Majelis Ulama Indonesia (MUI ) Bekasi menghimbau warganya untuk menutup warung makan selama Ramadhan. Menanggapi hal ini, MUI Pusat menyatakan bahwa warung makan tidak diharuskan tutup selama bulan Ramadhan. Lalu ada tanggapan berbeda-beda yang datang dari tokoh masyarakat dari beragam latar belakang. Mari kita coba renungkan bersama.  Saat Ramadhan, tak semua orang melakukan puasa. Mereka yang non muslim maupun Muslim yang berhalangan untuk berpuasa karena sakit, haid, nifas atau sedang bepergian, dibolehkan untuk tidak berpuasa. Jadi kalau semua warung tutup, orang-orang ini akan kesulitan membeli makanan. Tak hanya itu, dari sisi ekonomi pedagang, juga akan timbul pertanyaan: bagaimana nasib para penjual makanan warungan? Siapa yang akan menanggung biaya hidup mereka selama bulan Ramadhan? Lagipula, berpuasa tak sekadar menahan lapar dan haus. Definisi puasa dalam Islam adalah menahan lapar, minum dan segala hawa nafsu dari subuh hingga Maghrib. Jadi puasa juga tentang menahan hawa nafsu dari segala godaan untuk berbuat tidak baik, seperti berbohong, berbuat jahat, menahan amarah maupun syahwat. Tidak makan dan tidak minum bisa dikatakan poin terendah dari puasa. Jika untuk hal inipun kita tidak bisa menahan, bagaimana bisa menahan hal lain yang jauh lebih sulit? Omong-omong tentang puasa, saya jadi teringat tentang hasthalaku, atau delapan perilaku yang merupakan nilai-nilai budaya Jawa. Hasthalaku terdiri dari sikap gotong royong (saling membantu), grapyak semanak (ramah tamah), guyub rukun (kerukunan), lembah manah (rendah hati), ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), andhap ashor (berbudi luhur), dan tepa slira (tenggang rasa). Sebenarnya nilai-nilai ini sudah lama menjadi laku keseharian orang Jawa khususnya di Solo dan sekitarnya. Namun, perlahan nilai-nilai ini tergerus oleh perkembangan jaman dan gempuran budaya luar. Ketika konservatisme beragama dan intoleransi terasa kian menguat seperti sekarang, slogan Solo Bersimfoni coba kembali menggaungkan nilai-nilai hasthalaku menjadi dasar perilaku anak muda di Solo Raya, Kota Solo, Jawa Tengah. Saat mendapatkan pelatihan tentang hasthalaku pada akhir Maret lalu, saya berpikir, mungkin polemik tentang harus tutup tidaknya warung makan saat Ramadhan ini tak bakal muncul jika hasthalaku diterapkan. Hasthalaku dapat dijadikan sebagai pendekatan budaya dan perilaku untuk mengubah perilaku intoleran menjadi perilaku yang toleran dan cinta damai. Saat bulan Ramadan ini, penting bagi kita menerapkan sikap ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), dan tepa slira (tenggang rasa). Sebagai orang Indonesia yang heterogen berbagai agama, implementasi ketiga nilai ini menjadi sangat penting. Ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), dan tepa slira (tenggang rasa) merupakan ketiga poin Hasthalaku yang tidak terpisahkan, ketiganya saling berhubungan erat. Melihat beberapa masalah yang kadang muncul saat bulan Ramadhan tiba, maka sikap saling menghargai dan menghormati diantara orang yang berpuasa dan tidak berpuasa ini dibutuhkan. Jika hal tersebut terjadi maka terwujudlah toleransi. Islam adalah agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam) yang tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk mengontrol orang lain demi kepentingannya sendiri. Islam tidak mengajarkan umatnya melarang orang lain berjualan mencari rezeki hanya agar kita tidak tergoda. Jika kita memiliki sikap ewuh pekewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), dan tepa slira (tenggang rasa) maka akan terwujud masyarakat yang damai dan saling mengerti satu sama lain. Bagi yang berpuasa, tidak membatasi dan tidak mengharuskan orang lain untuk mengikuti apa yang dilakukannya. Pun sebaliknya, bagi yang tidak berpuasa juga bisa menahan diri untuk tidak menggoda temannya yang berpuasa. Tidak makan di tempat terbuka, pedagang makanan juga harus menutupi makanan dagangannya dengan tirai, ini adalah wujud sikap saling menghormati itu.   Menghargai Orang Lain dengan sikap Lembah Manah Saat Ramadan berlalu sikap ewuh pakewuh, tepa selira dan pangerten tetap harus dijalankan. Komunikasi dengan empati terwujud dalam nilai-nilai pangerten, grapyak semanak dan tepa selira. Dengan nilai pangerten dan tepa selira kita mampu mengedepankan rasa bagaimana menjadi orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Grapyak semanak atau sikap ramah terhadap orang lain dapat menumbuhkan kedekatan dan menjadikan kita lebih banyak mendengar keluhan orang lain daripada memaksa mereka mendengarkan kita. Kita akan menjadi orang yang berjasa, menjadi pendengar yang baik dan mampu memberikan ketenangan pada orang lain. Melindungi orang lain merupakan sikap seorang pahlawan. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus menghargai orang lain dengan sikap lembah manah, ewuh-pekewuh, dan andhap asor. Dalam menjaga hubungan sosial dengan orang lain sikap lembah manah, ewuh-pekewuh dan andhap asor memiliki peran yang sangat penting. Sikap rendah hati direfleksikan dalam tutur kata yang sopan, sikap yang lembut, menekankan tata krama, berbicara dengan nada yang baik dan kata-kata yang enak didengar. Kita bisa saja berbeda pendapat, tapi tak harus menggunakan kata-kata kasar apalagi saling menghujat. Selain itu kita juga harus dapat menyesuaikan kondisi dan situasi yang sedang dialami oleh orang-orang di sekitar kita. Manusia sebagai makhluk sosial harus dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar dengan baik. Sikap andhap asor diperlukan agar manusia dapat menjadi seseorang yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Sikap yang terkandung dalam nilai-nilai hasthalaku mencerminkan budi pekerti luhur dan jiwa melayani dan berkorban untuk orang lain. Saat ini kita tak perlu mengangkat senjata untuk berjuang melawan penjajah. Implementasi nilai-nilai hasthalaku akan mengikis sikap intoleransi. Hasthalaku akan menempatkan orang lain sebagai ‘diriku’ yang lain. Dia tidak akan berlaku semena-mena dan akan memperlakukan orang lain sebagaimana dirinya ingin diperlakukan. Karena, pada dasarnya, manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri atau hidup hanya dengan kelompoknya sendiri. Apalagi Indonesia telah mengatur kebebasan beragama dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 29 Ayat 2 berbunyi, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Dengan catatan bahwa tidak mengganggu dan membatasi aktivitas umat beragama lain.   Penulis: ROUDHOTUL JANNAH Mahasiswa Magister Interdisiplinary Islamic Studies

Anak Muda Bicara Toleransi: Tak Semua Warung Harus Tutup di Bulan Ramadhan Read More »

simfoni academy

SIMFONI ACADEMY; DARI SAHABAT UNTUK SAHABAT

Pada akhir Oktober, Sabtu-Minggu 26-27 Maret 2022, Solo Bersimfoni telah melaksanakan kegiatan Simfoni Academy yang merupakan rangkaian akhir open recruitmen Sahabat Simfoni yang baru. Kegiatan ini diselenggarakan selama dua hari secara hybrid (campuran daring dan luring). Jumlah pesertanya adalah sepuluh orang yang merupakan para pemuda dari Soloraya. Sebelumnya, setiap peserta sudah diseleksi melalui tahap pre-test, membuat karya bertema “Toleransi bagi Saya” dalam bentuk tulisan/visual dan atau audio visual, serta terakhir mengikuti tes wawancara.

SIMFONI ACADEMY; DARI SAHABAT UNTUK SAHABAT Read More »

K-POP DAN EKSISTENSI BUDAYA JAWA

Di era digital saat ini banyak fenomena yang membuka mata kita bahwa ternyata Indonesia juga menjadi sorotan dunia. Remaja Indonesia yang menjadi pengguna aktif media sosial telah menjadi target market yang menjanjikan bagi pasar industri ekonomi kreatif negara-negara lain, tak terkecuali Korea. Berbicara tentang kontribusi masyarakat Indonesia sebagai konsumen industri hiburan Korea, rilis data dari Twitter Indonesia melaporkan bahwa percakapan dengan tema K-Pop telah mencapai 7,5 miliar tweet selama periode Juli 2020 hingga Juli 2021. Angka tersebut merupakan capaian rekor tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya Indonesia berada di posisi teratas sebagai negara dengan volume tweet dan jumlah unique authors terbanyak di Twitter yang memperbincangkan tentang K-Pop. Unique Authors merupakan akun-akun yang aktif mengamplifikasi kampanye melalui penggunaan tanda pagar (hashtag) bukan hanya audiens yang aktif membuat cuitan atau menyimak tema yang diperbincangkan di Twitter. Indonesia juga merupakan salah satu dari lima negara penyumbang tweet tertinggi di dunia tentang K-Pop diantara ke empat negara lain yaitu Filipina, Thailand, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Peluang ini dimanfaatkan banyak E-commerce dari Indonesia yang menggandeng para influencer dan artis K-Pop menjadi brand ambassador mereka. Para artis K-Pop dan influencer ini diharapkan dapat memberi pengaruh terhadap konsumen yang rata-rata berasal dari para milenial dan generasi Z atau para pecinta K-Pop (K-POPers). Salah satu fenomena yang kita temui di akhir Januari 2022 lalu saat jagad maya dihebohkan dengan kemunculan video berdurasi pendek yang memperlihatkan tiga orang personel boyband NCT yaitu Mark, Jaemin dan Jisung sedang menari. Melihat artis K-Pop menari tentunya bukanlah hal aneh, namun yang membuat netizen khususnya warga Indonesia merasa terkejut adalah lagu yang mengiringi tarian mereka bukanlah lagu Korea seperti biasa melainkan lagu dangdut asli Indonesia yang berbahasa Jawa. Ketiga personel NCT tersebut menirukan gerakan tarian atau koreografi yang beberapa waktu lalu menjadi tren para pengguna media sosial di Indonesia. Lagu berjudul berjudul “Mendung Tanpo Udan” yang dinyanyikan oleh Ndarboy Genk merupakan salah satu lagu dangdut berbahasa Jawa yang memang asyik dan enak didengar. Ndarboy Genk sendiri adalah sebuah proyek solo dari seorang musisi Yogyakarta bernama Helarius Daru Indrajaya. Sedangkan pencipta lagu tersebut adalah seorang seniman Bernama Kukuh Prasetya Kudamai. Deretan komentar seperti “NCT melokal!” mewarnai unggahan video tarian (dance) dari Boy Band Korea tersebut. Semula banyak orang mengira video tersebut adalah hasil editan. Namun netizen kaget sekaligus bangga karena video yang menggunakan latar lagu Indonesia tersebut diunggah di akun media sosial resmi NCT Dream. Tentunya momen dance cover Mendung Tanpo Udan oleh NCT ini adalah sebuah refleksi bagi kita akan besarnya potensi pengaruh budaya Jawa yang kita miliki di kancah dunia. Bahkan Korean wave yang dikenal secara global pun terinspirasi dengan budaya Jawa. Jika kita menilik perjalanan masa lalu yang dialami negara Korea dan Indonesia, keduanya memiliki latar belakang pembentukan budaya yang sangat berbeda. Banyak pondasi yang membentuk budaya Korea hingga menjadi seperti sekarang ini, salah satunya adalah pengalaman pahit Korea yang pernah dijajah oleh negara Jepang pada Perang Dunia II. Setelah Korea Selatan merdeka, maka mereka tidak mau menginfiltrasi budaya dari dua negara yang menghimpitnya yaitu Jepang dan Tiongkok. Mereka melakukan pendekatan yang sama sekali baru dengan membangun kebudayaan mereka sendiri dari nol. Berbeda dengan Korea, budaya Jawa telah terbentuk sejak zaman kerajaan, bahkan menjadi cikal bakal peradaban dunia. Manusia purba paling maju yaitu Homo Soloensis yang pertama kali menggunakan peralatan dan perkakas dari serpihan batu ditemukan di Jawa Tengah tepatnya di tepi Bengawan Solo, Sangiran dan Sragen. Selain itu di bidang Sastra, keraton Kasunanan Solo telah melahirkan pujangga besar Ronggowarsito yang hingga kini diwariskan kepada para penerusnya. Di bidang industri, Jawa Tengah juga menjadi pusatnya sejak zaman kolonial dengan berdirinya 296 pabrik gula besar yang beroperasi di wilayah tersebut.. Aset peninggalan budaya yang telah diwariskan sejak zaman dahulu bukan hanya dalam bentuk fisik namun juga berupa budaya perilaku. Perilaku masyarakat Jawa yang sarat nilai karakter yang baik sebagai jati diri bangsa hendaknya terus dijaga dan dilekatkan kepada generasi muda melalui berbagai media. Salah satu upaya mengenalkan kembali budaya adiluhung Jawa dilakukan oleh organisasi Solo Bersimfoni. Organisasi yang digerakkan oleh para tokoh dan agen anak muda Solo ini mengangkat budaya Hasthalaku yaitu delapan sikap perilaku masyarakat Jawa yang terdiri dari Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Pangerten dan Tepa selira. Ke-8 perilaku yang menjadi budaya sejak zaman nenek moyang masyarakat Jawa ini masih sangat relevan untuk diimplementasikan di masa sekarang. Dengan Hasthalaku maka harmoni kebhinekaan dan persatuan antar budaya dapat diorkestrasikan menjadi sebuah simfoni yang selaras dan mengikuti dinamika perkembangan zaman. Di bidang Pendidikan pada kurikulum paradigma baru, salah satu unsur Hasthalaku yaitu Gotong royong menjadi bagian dari dimensi Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila sendiri merupakan perwujudan dari pelajar Indonesia yang memiliki semangat belajar sepanjang hayat, memiliki kompetensi global, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di mana terdapat enam dimensi komponennya antara lain beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Pemerintah melalui Kemdikbud juga telah memfasilitasi dengan berbagai program, salah satunya adalah program Belajar Bersama Maestro dimana para pelajar dapat bertatap muka dan belajar langsung dari para maestro seni dan budaya serta terlibat langsung dalam proses kreatif dan keseharian para seniman dan budayawan. Sehingga dalam proses tersebut para pelajar mendapatkan pengalaman dan pelajaran hidup yang berharga dan diharapkan mampu membentuk dan memperkuat jati diri pelajar sebagai penentu karakter bangsa di masa yang akan datang. Dengan melihat Kembali potensi yang dimiliki masyarakat Jawa dan kekayaan budaya yang dimilikinya, maka budaya Jawa akan tetap eksis bahkan dapat bersaing dengan negara-negara lainnya. Meskipun derasnya arus globalisasi seperti merebaknya budaya K-Pop atau Korean Wave tidak dapat kita bendung. Budaya luar akan menambah khasanah dan inspirasi kita dalam berkarya, namun pengetahuan dan ketrampilan global yang dimiliki para generasi muda akan tetap selaras dengan budayanya sebagai jati diri bangsa yang tidak akan tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi. Setiap tempat dapat menjadi pusat budaya. Budaya adalah ekosistem yang dapat menumbuhkan berbagai aspek kehidupan lainnya seperti ekonomi, politik dan sosial dengan baik. Kolaborasi dari berbagai unsur dapat saling mengisi sehingga menguatkan keberadaan budaya Jawa yang kita miliki. Pemerintah dengan kebijakannya, masyarakat khususnya generasi muda dengan kreatifitasnya

K-POP DAN EKSISTENSI BUDAYA JAWA Read More »

Muslimah Milenial Reformis Solo Gelar Acara Peluncuran Buku dan Forum Lintas Iman

Minggu, 5 Desember 2021 telah berlangsung acara Launching dan Kongkow Milenial Reformis #2 yang membedah buku antologi tulisan berjudul “Wajah Damai Milenial Reformis: Gerakan Kece Menebar Keadilan Gender untuk Indonesia Maju” di Warteg Bolodewe, Manahan. Acara ini sukses terselenggara berkat dukungan dari media partner yaitu Solo Bersimfoni, Peace Generation, PMII, HMI, IMM dan Pemuda Lintas Iman Surakarta. Para penulis buku merupakan alumni Pelatihan Milenial Reformis yang diselenggarakan oleh Yayasan Mulia Raya selama Bulan Maret-September 2021 di enam kota yakni Jakarta, Yogyakarta, Tasikmalaya, Solo, Bandung dan Sidoarjo. Buku karya peserta pelatihan tersebut kemudian diluncurkan dan dibedah secara bertahap di enam kota, Solo salah satunya. Acara peluncuran buku yang diinisiasi oleh Muslimah Milenial Reformis Solo dan didukung oleh Yayasan Mulia Raya ini mengusung tema “The Spirit of Milenial: Pasrtisipasi generasi Muda dalam Aksi Sosial dan Menjaga Kerukunan Umat Beragama”. Merujuk pada tema utama yang diangkat, Muslimah Milenial Reformis Solo mendatangkan tiga narasumber yang pakar pada bidangnya, di antaranya adalah Prof. Musdah Mulia, M.A. selaku founder Yayasan Mulia Raya dan aktivis hak asasi perempuan. Milenial Reformis Solo juga mendatangkan Denok Marty Astuti, S.E., (aktivis lingkungan dan Ketua Komunitas Bank Sampah Kerja Nyata Solo Raya) dan Mokhamad Zainal Anwar, S.H.I., M.S.I. (Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan/LP2M UIN Surakarta). Musdah Mulia, dalam pemaparan materi pertama menjelaskan mengapa seorang muslimah, ia menjelaskan bahwa muslimah bermakna perempuan aktif dan dinamis yang senantiasa berupaya merajut damai sesuai tuntunan al-Qur’an dan sunnah. Kemudian mengapa milenial? Karena generasi milenial sebagai sumber daya potensial, di sisi lain justru menjadi kelompok yang paling rentan terpapar hoax, sehingga perlu diadakan upaya-upaya sosialisasi dan pendidikan anti hoax bagi kelompok ini. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa sesungguhnya kata reformis ini adalah terjemahan dari kata Bahasa Arab yakni muslihah yang seakar dengan kata shalihah, dapat berarti perempuan aktif, teguh melakukan upaya-upaya reformasi demi memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, keluarga dan masyarakat demi terwujudnya baldatun thayyibah wa rabbun ghafur. Pada titik inilah kemudian Muslimah Milenial Reformis menemukan titik peran strategisnya sebagai agen perubahan yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman dan kemaslahatan. Musdah Mulia menambahkan bahwa dalam buku ini merefleksikan tiga pesan moral Milenial Reformis, pertama, pentingnya milenial memperkuat kesadaran spiritualitas, kemanusiaan dan kebangsaan guna mengasah empati kemanusiaan serta membebaskan masyarakat dari jebakan fundamentalisme dan radikalisme yang menjadi akar dari aksi-aksi intoleran hingga aksi teror yang merugikan manusia. Kedua, pentingnya milenial menguasai literasi digital agar mampu memanfaatkan media sosial secara cerdas dan bijak sebagai sarana edukasi dan penyebaran nilai-nilai keberagamaan yang ramah. Milenial juga sudah seyogyanya menjadikan media sosial sebagai wadah mengampanyekan konten-konten terkait isu keadilan gender, isu kebangsaan, isu perawatan lingkungan serta meng-counter narasi hoax sehingga masyarakat terhindar dari kejahatan hoax dan fitnah. Ketiga, pentingnya milenial membekali diri dengan pengetahuan, wawasan serta keterampilan yang bermanfaat agar dapat mandiri, kreatif, produktif dan aktif dalam gerakan-gerakan sosial kemanusiaan. Dalam pemaparan materi kedua, Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan/LP2M UIN Surakarta, Zainal Anwar mengatakan bahwa di luar sana masih banyak pemuda yang memiliki bibit cara pandang yang cenderung radikal. Ia menyampaikan bahwa beberapa pemuda memiliki pandangan bahwa tidak perlu mengikuti Pancasila, meskipun cara pandang seperti ini tergolong minoritas. Oleh karenanya, ia mengapresiasi kemunculan Muslimah Milenial Reformis karena Milenial Reformis sebagai pionir anak muda yang speak up mengenai isu-isu sosial, kebangsaan, kesetaraan, dan lain-lain. Moderasi beragama harus lebih digalakkan lagi di kalangan milenial. Berlanjut ke pemaparan materi ketiga yang disampaikan oleh Denok Marty Astuti sebagai seorang aktivis lingkungan Ketua Komunitas Bank Sampah Kerja Nyata Solo Raya. Ia menyampaikan bahwasanya membincang isu lingkungan, sesungguhnya adalah tentang hal-hal sederhana yang lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Membincang isu lingkungan, tidak selalu harus membahas hal-hal rumit semacam perubahan iklim, kepunahan satwa atau fauna tertentu dan hal ‘berat’ lainnya. Namun, berbicara mengenai isu lingkungan adalah berbicara tentang ruang di mana kita hidup di dalamnya. Ia menjelaskan lebih jauh jika sudah saatnya milenial berkontribusi secara aktif dalam pengelolaan sampah. Tak menutup kemungkinan di masa depan, terbukanya lapangan pekerjaan baru seperti tukang sampah intelektual, seorang tukang sampah yang mengelola sampah menjadi suatu hal yang lebih maslahat dalam ceruk-ceruk gerakan kolektif akar rumput yang dapat diinisiasi oleh anak muda. Persoalan sampah bukan hanya persoalan umat Islam atau umat Katolik saja tapi urusan & tanggung jawab semua umat manusia. Pengelolaan sampah tidak mengenal agama, karena baik yang Konghucu, Kristen, Katolik, Islam, Hindu atau Buddha sekalipun akan tidak berdaya jika dihadapkan dengan bencana alam akibat kecerobohan manusia dalam mengelola sampah dan limbah. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada kekerasan di antara sesama manusia, pun juga terhadap lingkungan hidup. Muslimah Milenial Reformis sebagai salah satu agen dan promotor toleransi, telah membuktikan komitmennya dengan menghadirkan pemuda lintas agama dan para pemuka agama di wilayah Soloraya. Selain itu, Muslimah Milenial Reformis juga memadukan unsur kesenian tradisional, modern dan juga tarian sufi dalam rangkaian acara. Dalam hal ini, unsur kesenian tradisional terwakilkan dengan penampilan Tari Bambang Cakil oleh Komunitas Akusara Art Surakarta. Unsur kesenian modern nampak dalam penampilan istimewa dari Boys Accoustic Surakarta. Sementara tarian sufi atau whirling dervishes ditampilkan oleh Sirod Tasawuf Psikoterapi UIN Raden Mas Said Surakarta. Perpaduan tiga kesenian ini membentuk suatu harmoni yang menambah semarak acara. Di akhir sesi, moderator acara menyampaikan kesimpulan dari pemaparan masing-masing narasumber bahwa milenial harus memperkuat dan menguasai literasi keagamaan, literasi lingkungan hingga literasi digital demi mewujudkan masyarakat unggul dalam menjalankan fitrah manusia sebagai khalifah fil ardh yang menjaga serta merawat Planet Bumi melalui gerakan dan aksi-aksi sosial kemasyarakatan. [Lutfi Maulida, Muslimah Milenial Reformis Soloraya]

Muslimah Milenial Reformis Solo Gelar Acara Peluncuran Buku dan Forum Lintas Iman Read More »

MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA

Pandemi yang kita hadapi saat ini telah membawa berbagai permasalahan pelik dalam dunia pendidikan. Siswa menjadi salah satu unsur dalam sistem pendidikan yang terdampak oleh pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan (daring). Banyaknya tugas yang menumpuk menjadikan mereka merasa stress dan kelelahan dalam mengejar deadline. Belum lagi tugas-tugas tersebut diberikan oleh banyak guru mapel dan harus diselesaikan dalam waktu yang singkat. Persoalan lainnya adalah kurangnya interaksi guru dan murid dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang membuat murid merasa jenuh serta tidak memiliki gairah dalam belajar. Ini tentu menjadi sebuah hal yang kontradiktif ketika saat ini program merdeka belajar tengah menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan kita. Di mana konsep merdeka belajar adalah agar murid merasa bahagia dalam menempuh pendidikan. Namun kenyataannya justru murid merasa terbelenggu dengan proses belajar itu sendiri. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 13-20 April 2020 lalu, dari 1.700 responden sebanyak 77,8% memiliki kesulitan berupa tugas yang menumpuk. Sedangkan 37,1% responden mengeluhkan tugas dari guru dengan waktu pengerjaan yang sempit sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan. Responden tersebut merupakan gabungan siswa dari jenjang TK sampai SMA/sederajat yang tersebar di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota di Indonesia. Responden sebesar 79,9% mengatakan bahwa interaksi murid dan guru sangatlah minim. Interaksi dalam PJJ hanya berlangsung saat guru memberikan dan menagih tugas saja. Sedangkan 87,2% murid menyatakan bentuk interaksi yang paling sering dilakukan adalah melalui percakapan via aplikasi online chat yang masih kurang efektif sebagai sarana komunikasi antara guru dan murid. Tentu bisa dibayangkan bagaimana tekanan yang dirasakan oleh murid untuk menyelesaikan tugas yang sangat banyak. Mereka seharusnya dapat menyerap ilmu yang diberikan guru dengan optimal tetapi justru kehabisan waktu dan energi hanya untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum tentu mereka pahami. Sebagai seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saya sendiri merasakan problem tersebut. Kondisi yang saya amati dalam proses belajar mengajar di sekolah pada umumnya belum mencerminkan apa yang menjadi tujuan konsep belajar Kurikulum Paradigma Baru, yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid. Guru seharusnya dapat memberikan keleluasaan kepada murid untuk belajar dengan menyenangkan tanpa tekanan. Penggunaan Learning Management System (LMS) yang kurang optimal tidak bisa memberikan ruang terjadinya interaksi dua arah antara guru dan murid. Kebanyakan guru hanya mengunggah materi dan tugas di platform Google Classroom yang harus diselesaikan oleh murid secara mandiri. Sebagian besar guru tidak memberikan kesempatan siswa untuk berkonsultasi terkait tugas mereka ketika mengalami kendala. Beberapa murid bahkan mencari jalan pintas dengan menyalin pekerjaan temannya, namun tidak memahami materi yang diajarkan. Banyak murid kesusahan karena tugas yang menumpuk. Guru pun tak kalah susah dengan pelaporan jurnal dan administrasi yang cukup merepotkan. Pada akhirnya yang terjadi adalah proses pembelajaran yang hanya sekedar menjadi sebuah aktivitas untuk menggugurkan kewajiban, tetapi kurang bermakna. Pembelajaran daring sampai saat ini masih dijalani oleh guru dan murid meskipun Pembelajaran tatap Muka (PTM) sebagian sudah mulai dilakukan. Guru dituntut agar lebih kreatif dalam mengelola kelas, melakukan inovasi dan mengembangkan metode mengajar sehingga kelas lebih interaktif. Proses pembelajaran hendaknya dikondisikan agar membuat siswa lebih terlibat secara penuh. Tatap maya dengan memanfaatkan aplikasi seperti Google Meet dan Zoom dapat dilakukan untuk mewadahi siswa dalam menyampaikan ide-idenya. Fitur Share Screen dalam aplikasi video conference dapat dioptimalkan untuk memberi kesempatan pada siswa dalam menyampaikan paparan materi secara menarik menggunakan bahasanya sendiri. Aplikasi yang mendukung pembelajaran secara visual seperti Canva juga bisa menjadi pilihan dalam membuat presentasi yang menarik sehingga pembelajaran di kelas berlangsung seru dan asyik. Murid perlu diberi kesempatan untuk mengekspresikan bagaimana suasana hatinya pada saat pembelajaran dan memberi umpan balik kepada guru. Ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi papan tulis virtual seperti mentimeter, padlet atau jamboard. Selain menjalin komunikasi dua arah, kegiatan menyenangkan semacam ini juga penting sebagai refleksi dan evaluasi guru dalam menjalankan tugas mengajarnya. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru. Guru hanyalah fasilitator dan pelayan murid yang menunjukkan sikap among, serta mendengar apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan muridnya. Jika diibaratkan sebuah gambar, maka para murid ini memiliki garis-garis tipis yang harus ditebalkan oleh guru dengan memberikan penguatan dan bimbingan dalam proses belajar. Sudah saatnya seorang guru mampu menjalankan perannya sebagai pendidik untuk memberikan  pembelajaran yang bermakna. Guru hendaknya bisa membuat para murid menikmati dan mencintai proses belajar dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Sumber daya yang ada dapat dioptimalkan dalam berinovasi. Guru hendaknya terus melakukan refleksi dan evaluasi diri. Hal ini penting bagi perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Perlu disadari bahwa murid merupakan individu dengan karakter yang unik dan potensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mereka juga memiliki kebutuhan yang beragam karena berangkat dari berbagai latar belakang. Pembelajaran yang menyenangkan akan membuat kelas maya dipenuhi dengan senyum dari wajah-wajah ceria seperti yang kita dambakan. Merdeka belajar bukan hanya sekedar angan-angan,  namun dapat kita wujudkan dengan melakukan perubahan.   Penulis : Asri Pujihastuti,S.Pd. Sahabat Simfoni dan Guru SMKN 7 Surakarta Pernah dimuat di Koran Solo Tanggal : Sabtu, 7 Desember 2021

MENDAMBA WAJAH-WAJAH CERIA DI KELAS MAYA Read More »

Bhinneka Bertaut: Versi Anak Muda Solo

Jumat, 10 September 2021 telah dilaksanakan kegiatan virtual Bhinneka Bertaut: Versi Anak Muda Solo. Kegiatan ini diinisiasi oleh Kantor Berita Radio, KBR, bekerja sama dengan Solo Radio dan didukung oleh Solo Bersimfoni. Selama satu jam tiga puluh menit, tiga narasumber bercerita mengenai bagaimana dan mengapa anak muda harus terlibat dalam keberagaman, tidak sekadar dipajang saja.

Bhinneka Bertaut: Versi Anak Muda Solo Read More »

ADIPANGASTUTI

  Tahun ajaran baru dimulai tengah bulan juli. Pandemi malah kian menjadi. Pembelajaran yang sedianya akan dilaksanakan tatap muka terbatas urung dilaksanakan. Sejak belajar dari rumah digulirkan muncul kekhawatiran tentang bagaimana pendidikan karakter anak terbentuk. Sebab sekolah tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan sekolah adalah tempat bertumbuh anak-anak, tempat mereka bersosialisasi, tempat menempa karakter diri. Peran keluarga memang jadi dominan saat pembelajaran dari rumah dilaksanakan, namun sejak dahulu tak pernah ada sekolah untuk menjadi orang tua. Diskusi tentang mendidik anak memang banyak dipaparkan para ahli dan disimak orang tua yang peduli. Tingkat kepedulian orang tua untuk mencari ilmu mendidik anak, belum diketahui seberapa besar. Mau tidak mau sekolah menjadi harapan untuk mendidik tidak sekedar mengajar. Pencapaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan bisa diukur dengan kuis. Ketercapaian peserta didik dalam menguasai materi sesuai kurikulum nisa ditempuh dengan pola pengajaran daring saat ini. Ketika tehnologi telah sedemikian mendukung pembelajaran dari rumah, guru tetap bisa asyik menyampaikan materi sesuai kurikulum. Guru bisa mengadakan ulangan selayaknya dulu tatap muka. Guru bisa mengukur kemampuan siswa dengan perwujudan nilai yang akhirnya tersaji di rapot. Untuk pendidikan karakternya bagaimana? Setiap guru pastinya menyampaikan tentang karakter yang baik. Dalam kegiatan mengajar mereka, pasti terselip nasehat tentang kebaikan. Lalu keefektivan dari pendidikan karakter yang tersirat ini bisa dilihat dari apa? Suatu kali saat menjadi pembicara pada bincang-bincang tentang persiapan pembelajaran daring tahun lalu, ada pertanyaan mengelitik. Bila pembelajaran daring  pendidikan karakter disampaikan bagaimana agar efektif. Jangankan daring saat tatap muka saja saya bingung ketika ditanya tentang tolak ukur keberhasilan dari pendidikan karakter yang disampaikan. Karena tidak mudah mengukur apakah sikap siswa baik atau tidak. Penilaian sikap memang dilakukan, namun saya hanya mencatat anak yang berkelakuan menonjol. Unggul dalam kebaikanya, sebagai contoh tanpa diminta ada anak yang maju membersihkan papan tulis. Menonjol dalam keusilanya, sebagai contoh tiba-tiba anak ini main bola di kelas padahal ada guru mengajar di kelas. Namun kekhususan ini bagi saya terlalu dangkal untuk dijadikan bahan penilaian. Karena bisa saja anak yang membersihkan papan tulis memang hari itu dia piket dan bertugas membersihkan papan tulis, sedang yang menyapu pagi hari dan siang sepulang sekolah anak yang lain yang tidak sempat saya lihat. Demikian sebaliknya, siswa yang tiba-tiba bermain saat pelajaran jangan-jangan dia memang tipikal belajar kinestetik, yang harusnya ini bisa menjadi refleksi guru dalam mengajar bukan menjadi tersangka kegaduhan kelas, lalu diberi nilai buruk pada sikap. Membentuk karakter peserta didik melalui pendidikan karakter mulai digaungkan tahun 2011 sepuluh tahun berlalu dan saya masih gamang tentang karakter bagaimana yang harusnya dimiliki oleh anak. Karena pada awalnya kementrian pendidikan merumuskan karakter yang terintegrasi ke mata pelajaran yaitu  (1) Religius, (2) Kejujuran, (3) Kecerdasan, (4) Ketangguhan, (5) Kedemokratisan, (6) Kepedulian, (7) Kemandirian, (8) Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, (9) Keberanian mengambil risiko, (10) Berorientasi pada tindakan, (11) Berjiwa kepemimpinan, (12) Kerja keras, (13) Tanggung jawab, (14) Gaya hidup sehat, (15) Kedisiplinan, (16) Percaya diri, (17) Keingintahuan, (18) Cinta ilmu, (19) Kesadaran akan hak dan kewajiban diri (20) Kepatuhan terhadap aturan-aturan sosial, (21) Menghargai karya dan prestasi orang lain, (22) Kesantunan, (23) Nasionalisme, (24) Menghargai keberagaman (Pendidikan Karakter Menurut Kemendikbud (Telaah Pemikiran atas Kemendikbud) ,Achmad Dahlan Muchtar, Aisyah Suryani,  Jurnal Pendidikan – Vol 3 No. 2 (2019)) terlalu banyak yang harus dimasukan dalam mata pelajaran ini tidak hanya membingungkan peserta didik namun juga guru yang harus mengintegrasikan karakter ini masuk dalam pembelajaran Penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas presiden Joko Widodo dan wapres Jusuf kala. Dalam nawa cita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Kementerian  Pendidikan dan kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016. Setahun berselang kemdikbud menyederhanakan kembali karakter yang berjumlah lebih dari dua puluh itu menjadi lima karakter utama yaitu, religius,nasionalis, integritas, mandiri, gotong royong. Pelaksanaan tetaplah tidak sederhana, karena berbagai upaya telah dilakukan sekolah dalam penguatan pendidikan karakter namun masih adanya pelaku kejahatan dari pelajar ini menjadi catatan tersendiri. Sudah efektifkah pendidikan karakter yang dilakukan di sekolah. Karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik watak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Nilai karakter yang dirumuskan oleh Kementerian Pendidikan adalah nilai karakter yang umum untuk seluruh daerah di Indonesia. Bila karakter adalah nilai khas, apakah tidak lebih baik bila nilai karakter diambil dari daerah masing-masing. Karena setiap daerah memiliki potensi dan memiliki kearifan lokal. Surakarta merupakan kota Budaya di Jawa Tengah, memiliki banyak sekali kearifan lokal yang bisa diintegrasikan untuk pendidikan karakter. Pengintegrasian dari budaya setempat tentu lebih mudah karena orang tua dan peserta didik tumbuh dan berkembang di lingkungan setempat. Namun formulasi yang bagaimana agar kearifan lokal ini bisa menjadi pendidikan karakter. Sebuah terobosan dilakukan oleh perkumpulan Solo Bersimfoni, setelah melalui kajian panjang sejak tahun 2018 tercetuslah ide tentang Sekolah Adipangastuti. Sekolah adipangastuti berbeda dengan program yang ada yang menjadikan sekolah sebagai sasaran program. Bila di program yang lain guru terbebani untuk memasukan program pada administrasi pembelajaran. Sekolah Adipangastuti tidak demikian, yang diutamakan justru kepada peserta didik. Bagaimana peserta didik bisa memahami hasthalaku yang menjadi ruh dari program sekolah adipangastuti. Pemahaman yang didapat peserta didik justru didapat dari media kekinian, juga penyampaian oleh teman dalam bentuk grafis dan audiovisual. Pada awalnya warga sekolah diberikan penjelasan tentang hasthalaku, yaitu delapan nilai karakter yang bersumber dari budaya jawa, gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, tepa selira, andhap asor. Produk nyata dari sekolah adipangastuti adalah literasi dan publikasi. Semua warga sekolah tahu nantinya kita akan membuat sesuatu berdasarkan pemahaman kita tentang hasthalaku. Guru dengan suka rela menjadikan hasthalaku sebagai tema dalam kegiatan mengajarnya, secara tidak langsung guru mengintegrasikan kepada pembelajaran. Pada pelajaran bahasa hasthalaku ini menjadi tema untuk siswa berkarya. Sebelum mereka menulis pasti mereka akan mencari tahu lebih dalam tentang tema yang disodorkan guru, ini adalah langkah yang baik untuk mengajak siswa mengenal budaya dan nilai karakter yang baik. Pada pelajaran seni hasthalaku juga menjadi tema, ketika anak berkarya dia mengaplikasikan pengetahuan, pengalaman dan nilai karakter yang disajikan. Karena berasal dari kearifan lokal

ADIPANGASTUTI Read More »