Author name: admin

LAUNCHING ONLINE IMPLEMENTASI MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI TAHUN 2021

Jumat, 30 Juli 2021 Solo Bersimfoni melaksanakan kegiatan Launching Online Implementasi Model Sekolah Adipangastuti Tahap III Tahun 2021. Acara ini  dilaksanakan selama satu jam, mulai pukul 13.00-14.00 WIB melalui Zoom Cloud Meeting. Acara dihadiri oleh Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Bapak Eris Yunianto, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jateng, Bapak Nasikin, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Jateng, Bapak Sunarno dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jateng, Bapak Suratno, Perwakilan Komisi E DPRD Jawa Tengah, Muhammad Zein, Tim Ahli DPRD Provinsi Jawa Tengah, Bapak Huntal Hutapea, Kepala Kesbangpol Kota Surakarta, Bapak Indradi, Kepala Bidang Sosial, Budaya dan Pemerintahan BAPPPEDA Kota Surakarta, Ibu Sumilir Wijayanti serta sekolah adipangastuti tahap pertama, kedua dan ketiga. Model Sekolah Adipangastuti adalah sekolah toleransi berbasis budaya yang sudah diterapkan selama dua tahap yaitu tahun 2019 dan tahun 2020. Pada tahun 2019, ada dua sekolah pilot project implementasi yaitu SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Yang kemudian pada tahun 2020 dikembangkan ke lima sekolah dengan lingkup Soloraya yaitu di SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen. Selanjutnya, pada tahun 2021 dilaksanakan tahap III implementasi model sekolah di SMAN 1 Karanganyar dan SMAN 2 Boyolali yang akan dijalankan selama 6 bulan sejak  Juli-Desember 2021. Program dan luaran pada masing-masing sekolah akan disesuaikan dengan kebijakan masing-masing sekolah. Pada tahap III ini, Solo Bersimfoni bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, dalam hal ini melalui Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah V Provinsi Jawa Tengah, Nasikin, S.Stp.,M.Kom. dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VI, Drs Sunarno, M.Pd. yang telah memberikan dukungan penuh dengan mengeluarkan surat rekomendasi untuk penerapan Sekolah Adipangastuti di masing-masing sekolah naungannya. Model Sekolah Adipangastuti berisi mengenai program progam untuk mengajarkan pendidikan karakter hasthalaku dengan target ada tiga, yaitu Literasi dan Digitalisasi dengan cara budaya literasi tema hasthalaku dikemas sedemikian rupa agar remaja milenial sekolah SMA/SMK model adipangastuti tertarik untuk membangun tema-tema kebaikan yang dapat didistribusikan secara digital, misalnya video, film, blog, content creator, novel, komik dan sebagainya. Yang kedua adalah branding sekolah dengan nilai hasthalaku. Kegiatan branding hasthalaku di sekolah diharapkan menghasilkan tampilan fisik sekolah yang mengkampanyekan nilai-nilai hasthalaku. Berupa poster, leaflet, mading, hiasan sekolah, tagline, dan sebagainya. Kemudian adalah peningkatan kapasitas media sosial sekolah. Penguatan platform digital seperti Website sekolah, pengelolaan sosial media sekolah seperti Youtube, FB, IG, Twitter, dan sebagainya.             Acara ini dimulai dengan laporan kegiatan oleh M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni yang kemudian sambutan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V, VI dan VII Provinsi Jawa Tengah dan diakhiri dengan pembukaan Program Sekolah Adipangastuti Tahap III Tahun 2021 oleh Bapak Eris Yunianto. Beliau mengatakan, “Saya sangat mengapresiasi Solo Bersimfoni yang telah tergerak dan bergerak dalam membumikan nilai-nilai kearifan lokal hasthalaku kepada pelajar SMA di wilayah Soloraya berbasis teknologi informasi”. Tujuan Kegiatan Launching Online Implementasi Model Sekolah Adipangstuti Tahun 2021 ini sebagai kick off dilaksanakannya implementasi Sekolah Adipangastuti Tahap III di SMAN 1 Karanganyar dan SMAN 2 Boyolali, yang telah berkomitmen dengan adanya persetujuan MoU yang telah disepakati bersama antara Solo Bersimfoni dan masing-masing sekolah. Yang mana mereka akan kreatif dan inovatif berkomitmen mengembangkan nilai-nilai budaya lokal Hasthalaku selama enam bulan. Yang terakhir untuk mendorong  penerapan nilai-nilai budaya lokal hasthalaku sebagai upaya pembangunan toleransi, perdamaian dan keberagaman.   Penulis: Tia Brizantiana

LAUNCHING ONLINE IMPLEMENTASI MODEL SEKOLAH ADIPANGASTUTI TAHUN 2021 Read More »

MENGAPA ORANG INDONESIA SUKA INTERNET?

Pertama, internet menyampaikan informasi dengan sangat cepat. Kedua, internet membuat semua orang saling terhubung, mendekatkan yang jauh tanpa batas negara dan waktu. Ketiga, biaya internet relatif murah. Kesiapan Indonesia atas hadirnya perkembangan internet salah satunya ditandai dengan peluncuran Program Indonesia Makin Cakap Digital 2021 yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, serta perwakilan Pimpinan Daerah di seluruh Indonesia pada 20 Mei 2021di Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. Berdasarkan We Are Social terdapat 175,4 juta pengguna internet di Indonesia pada 2020 dan terhitung per Januari 2021 terdapat 202,6 juta pengguna internet. Artinya pada saat kamu membaca tulisan ini, pengguna internet di Indonesia akan terus mengalami lompatan tinggi. Internet tidak bisa lepas dari kehadiran media sosial yang sangat digandrungi oleh masyarakat. Terbukti dengan adanya 170 juta pengguna sosial media di Indonesia per Januari 2021. Bagaimana dengan jumlah pengguna media sosial tahun 2022 nanti? Kalian pasti bisa membayangkannya. Perkembangan internet dan media sosial juga tak luput dari warganet yang mempunyai dua sisi. Bicara soal kekuatan warganet Indonesia tentu kita semua sudah paham betul berbagai fenomena pelanggaran di internet dan media sosial hingga akhirnya dalam Digital Civility Index (DCI), warganet Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara sebagai pengguna media sosial yang paling tidak sopan di wilayah tersebut[1] sepanjang 2020. Penelitian tersebut membuktikan bahwa etika bermedia sosial perlu dipegang teguh oleh setiap masyarakat terutama para netizen Indonesia saat berseluncur di internet. Internet sangat bermanfaat jika digunakan secara positif dan maksimal. Memang benar apa yang ditawarkan oleh Internet salah satunya adalah kebebasan tapi bukan tak ada batasnya. Siapa yang membatasi? Ya kita sendiri sebagai penggunanya dengan menggunakan etika dalam bermedia sosial. Kita coba ingat lagi ke belakang, pada saat tim Indonesia dipaksa mundur dari All England 2021 yang kemudian disusul dengan serbuan netizen Indonesia ke akun media sosial BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia). Ada lagi peristiwa saat Dewa Kipas menang melawan GothamChess pada pertandingan catur online di platform Chess.com, yang menyebabkan fans dari Gothamchess tidak terima dan ditanggapi dengan serbuan komentar jahat dari warganet Indonesia di akun media sosial Gothamchess. Dua kasus tersebut menjadikan pemakluman bahwa netizen Indonesia masuk urutan terbawah. Berbagai contoh di atas membuktikan bahwa akses informasi yang sangat cepat tidak diimbangi dengan literasi digital. Berita yang diterima langsung ditelan mentah-mentah tanpa disaring terlebih dahulu. Saat berselancar di internet, kita harus menerapkan nilai hasthalaku seperti pangerten dengan memberikan komentar yang baik pada postingan orang lain, sehingga juga akan mendapatkan respon baik dari pemilik konten. Dengan memilih kata-kata yang baik, maka nilai guyub rukun akan selalu terjaga. Selain itu, nilai lembah manah juga harus diterapkan untuk membuat orang lain nyaman. Contohnya dengan menghindari membuat kegaduhan dengan orang lain di media sosial. Jika berbeda pendapat dengan orang lain di media sosial, hendaknya menyelesaikan dengan baik dan sebaiknya tidak dalam forum yang bisa dibaca publik. Marilah bergotong royong menyebarkan konten positif seperti donasi, bukan malah gotong royong yang bikin emosi. Etika, tata krama dan sopan santun di dunia nyata semestinya juga berlaku di dunia maya meskipun hal itu tidak tertulis.   Penulis : Burhanudin Fajri [1] https://indonesiabaik.id/infografis/benarkah-netizen-indonesia-paling-tak-sopan-se-asia

MENGAPA ORANG INDONESIA SUKA INTERNET? Read More »

Ada Hasthalaku dalam Film You and I

Apakah kalian sudah menonton Film You and I garapan sutradara Fanny Chotimah dan diproduseri oleh KawanKawan Media? Kalau sudah, mari kita tersenyum mengenang Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. Jika belum, mari menonton di Bioskop Online*. Cukup dengan sepuluh ribu rupiah, kita bisa merasakan bagaimana rasa saling cinta yang ada pada kedua sahabat tersebut bercampur dengan rasa haru,  membuncah dan meninggalkan rasa menyenangkan setelah menonton film ini. Hangat sampai ke hati. Film You and I berhasil menyabet berbagai penghargaan, diantaranya Asian Perspective Award dari 12th DMZ International Documentary Film Festival, Official Selection di Asian Vision dari Singapore International Film Festival 2020 dan Next:Wave Award di CPH:DOX International Film Festival di Denmark 2021. Selain itu di dalam negeri film ini memenangkan Film Dokumenter Panjang Terbaik dari Festival Flm Indonesia 2020 dan Piala Maya 9. Film dokumenter berdurasi 72 menit ini bercerita tentang kisah Kusdalini dan Kaminah di masa tua. Pemeran utamanya adalah mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Awal mula diceritakan bagaimana mereka bertemu yang kemudian menjadi sahabat tak terpisahkan sampai maut menjemput.   Diceritakan saat masih belia, mereka bertemu di penjara pada tahun 1965 sebagai tahanan politik. Ketika Kusdalini keluar dari penjara tahun 1967, setiap hari dia mengunjungi Kaminah meski sempat ditakut-takuti oleh petugas penjara. Kaminah keluar dari penjara pada tahun 1972. Saat dia keluar, keluarga menolaknya. Apa yang kemudian terjadi padanya? Berlokasi di Solo, proses pengambilan video memakan waktu cukup lama, yaitu empat tahun dari 2016 sampai 2020. Fanny Chotimah mengatakan, “Awalnya kami tidak langsung melakukan take video, setiap hari saya dan tim ke rumah mereka hanya untuk mengobrol agar suasana menjadi menyenangkan.” Sungguh suatu pangerten yang luar biasa, bukan? Kalau diperhatikan, banyak nilai hasthalaku yang ada dalam film ini. Bagaimana guyub rukun mereka tampak dari dialog “We only have each other” yang sangat mendebarkan hati. Tetangga sekitar mereka pun selalu bergotong royong membantu setiap ada kesulitan, seperti saat mengganti atap rumah maupun mengantar ke Rumah Sakit saat Mbah Kus menurun kesehatannya dan harus dirawat inap. Bagaimana pangerten yang ada pada keduanya, untuk selalu menemani dalam suka dan duka. Bagaimana teman-teman mereka tetap grapyak semanak bersilaturahmi setiap bulan, meski sudah tak muda lagi. Orang-orang ini sungguh bisa disebut sebagai agen hasthalaku. Tak hanya sebagai teori tetapi juga praktek nyata sehari-hari. Hasthalaku adalah nilai budaya baik yang sewajarnya diterapkan dalam keseharian semua orang diusia berapapun. Jika Mbah Kam dan Mbah Kus saja bisa, anak muda tentunya harus bisa.   Selamat menghabiskan waktu berdua dengan bahagia di atas sana, Mbah Kam dan Mbah Kus. Dengan penuh cinta, Solo Bersimfoni   Penulis : Tia Brizantiana

Ada Hasthalaku dalam Film You and I Read More »

MANA BUDAYA KITA

MANA BUDAYA KITA

Indonesia memiliki budaya yang beragam. Tiap propinsi memiliki budaya masing-masing. Jawa tengah yang terdiri dari 35 kabupaten/kota tentu memiliki 35 kekhasan daerah masing-masing. Kekayaan budaya yang kita miliki tak perlu diragukan lagi. Bila ingin mengadakan dialog pengembangan perbedaan dan keragaman budaya kita tidak akan kekurangan bahan obrolan saat mengulik budaya di sekitar kita. Untuk bisa berdialog tentang keragaman tentunya kita harus memahami budaya kita sendiri, budaya dimana kita berpijak atau budaya dimana kita terlahir. Pemahaman tentang kebudayaan sendiri sayangnya hanya terhenti pada seremonial, nilai budaya yang lebih banyak tersembunyi pada lambang-lambang benda yang digunakan saat upacara adat masih tersimpan belum banyak diketahui. Penjagaan budaya saat ini dilakukan dengan berbagai cara. Namun cara yang ditempuh sepertinya belum menyentuh generasi muda untuk mencintai budaya sendiri. Hal ini tampak dari minimnya kunjungan ke museum sebagai salah satu sumber belajar budaya. Narasi yang dicetuskan anak-anak milenial masih sedikit yang mengulik secara mendalam tentang kebudayaan sendiri.  Di tempat saya mengajar ekstrakurikuler budaya jepang lebih diminati dari pada ekstra kurikuler karawitan atau tari tradisional jawa. Sebuah ironi karena kita berada di jantung pusat kebudayaan jawa, dan mereka memilih mengikuti ekstrakurikuler budaya negara lain. Kita tidak begitu saja menyalahkan mereka, mereka berbuat seperti itu karena sungguh mereka tidak tahu betapa menariknya kebudayaan kita. Media berpengaruh besar kepada ketertarikan seseorang. Saat ini media lebih memilih menampilkan drama dari belahan dunia lain dibanding mengangkat cerita asli dari kebudayaan sendiri. Pada pelajaran yang mereka dapat di sekolah mereka hanya mendapatkan cerita monoton yang diulang sejak SD hingga ia besar. Tentunya kaum milienial itu akan bosan, mereka juga tidak memiliki referensi lain tentang cerita asli Indonesia. Perlu berbagai pendekatan agar milenial ini kembali mencintai budaya sendiri, mereka bukan tidak cinta hanya tidak tahu. Semacam tak kenal maka tak sayang, seperti itulah generasi muda pada budayanya. Bagaimana mereka akan sayang, kenalpun mereka tidak.  Mereka butuh pengenalan dengan cara mereka, cara yang mereka suka bukan cara kita generasi pendahulu, yang kadang langsung menilai bahwa anak-anak muda sekarang tak tahu adat. Kita lupa bila yang menyebabkan mereka tak tahu adat adalah generasi sebelumnya yang tidak mentranfer pengetahuan tentang kebudayaan kepada generasi muda. Kebudayaan kita termasuk budaya yang maju, kebudayan kita memiliki aksara sebagai wujud dari kemajuan literasi mereka pada zaman dahulu. Puisi tertua pun ditemukan di negri kita. Betapa ini bukti bahwa nenek moyang kita sungguh luar biasa. Bila kita perhatikan candi Borobudur kita akan merenung tentang kehebatan nenek moyang kita, pada abad ke 8 sudah bisa membuat bangunan begitu megah. Candi Prambanan yang dibangun pada abad ke 9 juga sangat indah dan megah, sayangnya generasi muda pada awal pengenalan mereka pada candi prambanan adalah cerita tentang kesaktian Bandung Bandawasa yang sanggup membuat candi dalam waktu semalam. Cerita hebat ini nyatanya membagi mereka menjadi dua kubu, kubu yang terkagum-kagum dan sangat mempercayai cerita itu lalu beranggapan betapa saktinya orang dahulu dan kita yang sekarang tidak mungkin bisa seperti mereka. Kubu yang satu adalah kubu yang tidak bisa percaya cerita semacam itu, lalu menganggap cerita itu adalah hayalan, lebih parahnya ada yang menganggap bila kebudayaan kita lebih dekat dengan hal yang tak masuk diakal maka tinggalkan saja. Sangat sedikit yang berpikir mengapa dulu nenek moyang kita begitu hebat bisa membuat bangunan megah, tehnologi apa yang mereka gunakan, bagaimana cara berpikirnya hingga bisa tercipta kemegahan itu. Pemikiran generasi muda itu timbul dari umpan yang kita berikan. Dua pertiga naskah jawa kuno masih ada di Belanda menjadikan kita berpikir bila sebenarnya kebudayaan kita sangat menarik. Kolonial pada waktu itu berusaha menjauhkan kita pada budaya sendiri agar kita tak punya jati diri sehingga mudah untuk dipengaruhi. Silahkan baca cerita-cerita pada zaman dahulu tentang penggambaran  orang desa. Orang desa digambarkan sebagai orang yang malas, bodoh. Pengambaran ini melekat sehingga kita mengasosiakan orang desa seperti gambaran para penulis itu. Cara ini efektif mengirim anak-anak muda pergi ke kota enggan membangun desa, meninggalkan kebudayaanya. Kondisi ini yang sedang terjadi pada generasi muda. Apabila kita terus membiarkan hal ini berlanjut tidak ada upaya mendekatkan kebudayaan sendiri pada generasi muda, kasihan mereka akan kehilangan jati diri. Pelestarian kebudayaan daerah mestinya secara menyeluruh tidak hanya tampak luarnya saja. Pertunjukan-pertunjukan kebudayaan daerah digelar secara spektakuler namun nilai- nilai kebudayaan yang melatari kesenian daerah itu muncul tidak dikelola dengan baik. Generasi yang terbiasa melihat permukaan suatu masalah pada akhirnya hanya akan melanjutkan pertunjukan sebagi rutinitas tanpa makna. Tentulah berbeda bila ada pemahaman mendalam terhadap pagelaran maka generasi penerus akan mencintai budaya dengan hati, pikir dan inderanya. Media digital dan social media yang saat ini sangat digemari anak muda mestinya dimanfaatkan untuk mengenalkan generasi muda kepada budayanya. Setelah Konggres Aksara Jawa di Yogyakarta maret kemarin, pengenalan aksara jawa untuk pengetikan di HP mulai dilakukan. Ini salah satu upaya untuk mengenlkan aksara jawa pada generasi pemegang gawai. Adanya organisasi masyarakat yang intens memproduksi konten bersumber dari budaya jawa juga sebagai upaya untuk mengenalkan kebudayaan jawa kepada generasi muda. Solo Bersimfoni, salah satu organisasi yang mengangkat nilai budaya jawa untuk kaum milenial, aktif sekali memproduksi konten medsos bertajuk Hasthalaku, Nilai- nilai tersebut adalah guyub rukun , gotong royong, tepa selira, , ewuh pekewuh, pangerten, grapyak semanak, lembah manah, andhap asor.  Guyub rukun secara bahasa berasal dari kata berguyub yang bermakna berkumpul, berkelompok, yang dapat bermakna pula sebagai rukun. Guyub sendiri dapat bermakna kebersamaan sedangkan rukun bermakna keselarasan, kehidupan tanpa adanya perselisihan, pertikaian dan konflik. Apabila digabungkan maka istilah guyub rukun merupakan sebuah kondisi situasi yang damai, selarah tanpa adanya pertikaian yang dijaga secara bersama-sama. Konsep guyub rukun dalam jawa yang dipaparkan oleh Suseno merujuk pada kata rukun yang berarti keselarasan, keadaan yang damai, suka bekerja sama, saling membantu, saling menerima dalam suasana tenang dan sepakat. Rukun adalah keadaan ideal yang diharapkan dapat dipertahankan daam kehidupan sosial. Masyarakat jawa memandang, permasalahan tidak terletak pada penciptaan keadaan keselarasan sosial melainkan lebih kepada tidak menganggu keselarasan yang sudah ada. Budaya jawa mengenal pepatah rukun agawe santosa crah agawe bubrah yang bermakna bahwa kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmoni antar sesama. Guyub rukun digambarkan sebagai situasi ideal dimana masyarakat hidup dalam keharmonisan, bukan karena

MANA BUDAYA KITA Read More »

Sebuah Model 
PEMBELAJARAN TOLERANSI 
YANG MENARIK UNTUK DISIMAK


SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN TOLERANSI YANG MENARIK UNTUK DISIMAK

Pernahkah anda merasa ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk kehidupan kota besar dan pergi ke tempat yang lebih tenang dan damai? Tempat kehidupan masyarakat yang rukun dan masih didominasi oleh nilai-nilai lama, budaya luhur, toleransi serta sikap menjaga keberasamaan. Anda bisa menemukannya dalam lingkungan Sekolah Adipangastuti-sekolah toleransi berbasis budaya-, sebuah hunian ramah untuk proses pembelajaran bagi warganya. Warga sekolah Adipangastuti akan membuat anda berpikir, orang-orang seperti inilah yang anda inginkan sebagai tetangga di lingkungan tersebut. Sekolah Adipangastuti adalah sebuah model sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan toleransi pada kalangan remaja khususnya pelajar. Model sekolah ini menerapkan budaya lokal dalam sistem sekolah dengan melakukan internalisasi nilai-nilai yang disebut hasthalaku ke dalam kegiatan pembelajaran siswa secara tidak mengikat, fleksibel dan luwes. Target dari sekolah ini menjadikan peserta didik lebih toleran dan mempunyai identitas budaya hasthalaku. Bila pendidikan disebut sebagai usaha untuk menghasilkan peserta didik yang cerdas dan berperilaku berbudi, maka seluruh rangkaian proses pembelajaran adalah  hasil dari pengetahuan (knowledge) dan pengalaman (experience). Cerdas dapat ditempuh melalui pembelajaran teoritis di ruang kelas, sementara moral atau perilaku berkaitan dengan nilai (value) yang lebih dipertimbangkan sebagai emotive berdasarkan pada ekspresi dan rasa.  Model sekolah Adipangastuti lebih cenderung hadir sebagai pembelajaran moral atau perilaku yang mengandalkan pengalaman  langsung dalam penerapan nilai-nilai. Program-program dalam model Sekolah Adipangastuti nyaris semuanya disusun berdasarkan kesepakatan guru, siswa dan tim pendamping program yang disesuaikan agar sejalan dengan program sekolah. Sehingga kegiatan-kegiatan yang lahir adalah hasil keinginan bersama yang memungkinkan terjadinya penjelajahan atau eksplorasi kegiatan dengan asyik dan leluasa. Kegiatan model sekolah adipangastuti berbasis pada pengembangan literasi, branding dan digitalisasi. Literasi digital mengarah pada pencarian berita dan konfirmasi dengan prinsip anti hoaks (berita bohong) dan ujaran kebencian. Pelatihan penggunaan beragam platform teknologi digital sebagai penunjang pembelajaran. Menarasikan Hasthalaku dalam bentuk tulisan (seperti; artikel populer, cerita fiksi, blog, naskah pementasan teater, sampai penerbitan buku), dalam bentuk gambar (seperti; poster, postingan media sosial, dan banner), dalam bentuk video (seperti; ilustrasi, pentas teater, film pendek, dan podcast),  serta dalam bentuk media kreatif lainnya. Selain itu, kegiatan yang berkaitan dengan sosial media pun tak kalah mendapat perhatian. Mengingat, penggunaan sosial media sekarang ini sudah menjadi suatu kebutuhan, maka online behavior sangat diperlukan. Bagaimana cara menyampaikan narasi di media sosial, bagaimana agar guru maupun siswa bisa membuat konten yang berfokus pada pendidikan karakter,  juga bagaimana mengukur seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan dari unggahan di media sosial melalui komentar (comment), penyebaran (share), dan reaksi (like). Program didesain dekat dan relevan dengan kehidupan siswa. Juga sebagai follow up dari pemberdayaan potensi seperti organisasi/ekstrakulikuler siswa. Berhadapan atas dunia di sekitarnya, menyebabkan siswa berupaya lebih lanjut mengeksplorasi lewat tindakan atau bahasa narasi. Sebuah model yang sederhana dan langsung. Indikator adanya kegiatan belajar adalah adanya perubahan tingkah laku, perubahan pola pikir, dan perubahan sikap. Sejalan dengan hal tersebut, model sekolah Adipangastuti berfokus pada capaian hasil perubahan daripada knowledge (kondisi sadar akan nilai-nilai hasthalaku), skill (kemampuan warga sekolah menggunakan beragam media/platform dalam menyebarkan konten tematik hasthalaku pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)), attitudes (menyikapi perasaan atau emosi terhadap seseorang atau sesuatu dari perspektif/sudut pandang nilai hasthalaku), habits (pengamalan nilai hasthalaku dalam perilaku yang berulang dan konsisten). Thomas Lickona dalam buku Mendidik untuk Membentuk karakter (2016) mengatakan, “Guru yang baik bukan hanya menentukan standar yang tinggi; mereka pun membantu siswanya membuat standar tersebut menjadi milik mereka.” Dengan menjadikan nilai-nilai hasthalaku yang kaya akan muatan toleransi sebagai standar perilaku bersama, maka akan tercipta kondisi KBM menjadi kondusif. Hal ini dikarenakan semua warga sekolah menjaga budaya toleransi dan memelihara nilai-nilai budaya lokal. Sehingga mampu menghindari atau meminimalisir resiko dampak perubahan sosial atau perilaku menyimpang yang bertentangan dengan aturan hukum, nilai religi dan norma sosial di lingkungan sekolah. Sebagai penutup, saya menukil perkataan Theodore Roosevelt untuk menunjukkan betapa pentingnya pendidikan moral perilaku terutama toleransi dalam menjaga kebersamaan, “Mendidik seseorang hanya untuk berpikir dengan akal tanpa disertai pendidikan moral berarti membangun suatu ancaman dalam kehidupan bermasyarakat.”   Penulis : Gilar Prasetio Sahabat Simfoni dan Pendamping Sekolah Adipangastuti

SEBUAH MODEL PEMBELAJARAN TOLERANSI YANG MENARIK UNTUK DISIMAK Read More »

Mengusung Literasi dan Digitalisasi Hasthalaku, M Farid Sunarto Solo Bersimfoni menjadi Local Champion KemKominfo RI 2021

Selasa, 18 Mei 2021, M Farid Sunarto bersama tim Solo Bersimfoni mengadakan audiensi dengan Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, di Balaikota Surakarta.  Farid melaporkan kesiapannya menjadi salah satu Local Champion diantara dua puluh Local Champion terpilih oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (Kominfo RI) terkait “Indonesia Makin Cakap Digital 2021”. Pada Kamis, 20 Mei 2021 Farid akan memperoleh penghargaan dari Menteri Kominfo RI di hadapan Presiden RI Ir H. Joko Widodo di Gelora Bung Karno, Jakarta. Pencapaian M. Farid Sunarto memperoleh penghargaan Local Champion Indonesia Makin Cakap Digital 2021 lantaran bersama Solo Bersimfoni telah menarasikan toleransi dan perdamaian bagi remaja Generasi Z  dengan menggunakan budaya lokal Solo yang dinamakan hasthalaku. Hasthalaku terdiri dari gotong royong, grapyak semanak, guyub rukun, lembah manah, ewuh pekewuh, pangerten, andhap asor dan tepa selira.   Dalam mengkampanyekan hasthalaku, Solo Bersimfoni melakukan beberapa hal. Pertama mencetak lebih dari seratus relawan yang disebut sebagai Sahabat Simfoni melalui Training of Trainers (ToT). Sahabat Simfoni kemudian berkembang dan membentuk Agen Simfoni Bersatu (ASB). Yang kedua, Solo Bersimfoni melakukan advokasi regulasi kepemudaan di Kota Surakarta dengan memasukkan hasthalaku pada pasal 11 Perwali No.49/2019 Kota Surakarta tentang Penyadaran, Pengembangan dan Pemberdayaan Kepemudaan sebagai salah satu ciri pemuda Kota Surakarta. Disamping itu Solo Bersimfoni turut mengadvokasi regulasi provinsi dengan keluarnya Perda Provinsi Jawa Tengah No. 4/2021 tentang pembangunan dan pengembangan kepemudaan. Kemudian yang ketiga, Solo Bersimfoni menciptakan Model Sekolah Adipangstuti, sebuah model sekolah yang dimasukkan ke sekolah formal dengan menerapkan program berbasis hasthalaku. Tahun 2020 Solo Bersimfoni telah mengimplementasikan Model Sekolah Adipangastuti di wilayah Soloraya yaitu : di SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 1 Gemolong dan SMAN 3 Sragen. Pada tahun 2021, model sekolah ini akan diterapkan di SMAN 2 Boyolali dan SMAN 1 Karanganyar. Strategi Model Sekolah Adipangastuti adalah pada literasi dan digitalisasi yang kreatif dan inovatif. Untuk melacak jejak digital program tersebut, dapat menggunakan keyword google : hasthalaku, adipangastuti dan solo bersimfoni.   Apa yang Solo Bersimfoni lakukan sesuai dengan tujuan dari kegiatan Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital 2021”. Penerapan hasthalaku sebaiknya juga dilakukan dalam daring selain luring. Hasthalaku dalam ber-Media Sosial bisa disebut sebagai penerapan literasi digital yang baik. Pentingnya literasi digital kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama anak muda, menjadi urgensi sebagai peningkatan kemampuan kognitif SDM agar ketrampilannya tidak sebatas mengoperasikan gawai. Sementara itu, bersamaan dengan kegiatan Indonesia Makin Cakap Digital 2021 di Jakarta, ada dua kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu Peluncuran Kegiatan Literasi Digital di 514 kabupaten/kota dan juga Kelas Cakap Digital secara luring yang dilakukan di dua puluh kota terpilih sebagai kota satelit yang telah mencapai indeks literasi digital antara 3,00-4,02, yaitu Jakarta Pusat, Tangerang Selatan, Kota Bandung, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Kupang, Aceh, Belitung, Batam, Padang, Palembang, Pontianak, palangkaraya, Palu, Kendari, Gorontalo, Ambon dan Jayapura. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Kamis-Jumat, 20-21 Mei 2021. Dengan target lima puluh peserta luring pada masing-masing kota dan 514.000 peserta daring, harapannya dapat menjadi amunisi untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi transformasi digital pada era revolusi industri saat ini. Kegiatan Literasi Digital di 514 Kabupaten/Kota di Indonesia akan dilakukan dari Mei sampai dengan Desember 2021 dengan target 12,5 juta masyarakat Indonesia akan terpapar literasi digital. Sementara itu, salah satu kegiatan  Kementerian Kominfo di Surakarta dilaksanakan tanggal 20 dan 21 Mei 2021 di Alila Hotel Solo, dilaksanakan Pelatihan Kelas Digital Marketing yang diikuti tiga puluh peserta, untuk menguasai dasar konten marketing dan digital marketing, tip and trik e-commerce, dan cara membuat website eksis.   Penulis: Tia Brizantiana

Mengusung Literasi dan Digitalisasi Hasthalaku, M Farid Sunarto Solo Bersimfoni menjadi Local Champion KemKominfo RI 2021 Read More »

film Legowo

Legowo, Sebuah Karya Tentang Menerima

Solo Bersimfoni bekerja sama dengan Teater Brastomolo membuat karya film pendek yang berjudul “Legowo”. Karya ini ditayangkan pada acara Jateng Edu Fest yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation pada Rabu, 21 April 2021. Berlangsung secara online, Jateng Edu Fest dihadiri oleh Nadiem Makariem, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah serta Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation. Sekolah Adipangastuti tak hanya hadir sebagai undangan, tetapi juga diberi kesempatan untuk melakukan pertunjukan dan diwakilkan oleh SMAN 1 Gemolong dengan pemutaran film pendek. Karya ini disutradarai oleh Alif Aji Ramadhana yang merupakan Ketua Teater Brastomolo sekaligus penulis naskah. “Skenario kami kerjakan bersama, tetapi memang saya yang banyak memberikan masukan dan gambaran tentang bagaimana film ini ingin disampaikan kepada penonton,” kata Alif. Film Legowo bercerita tentang bagaimana stigma menempel pada seorang anak karena sikapnya bermasalah di sekolah. Yang tidak dipahami banyak orang, bahwa anak tersebut mempunyai latar belakang yang cukup sulit untuk ukuran seusianya. “Film ini ingin menyampaikan jangan menilai seseorang dari penampilannya saja”, lanjut Alif. Ada dua tokoh pemain yang menonjol dalam film ini, yaitu Subhi (diperankan oleh Dzaky Subhi) dan Bu Yuli (diperankan oleh Grissa Yulianingrum). Keduanya sudah terbiasa melakukan pentas teater, bahkan Dzaky sudah pernah bermain dalam film pendek sebelumnya. Meskipun waktu cukup singkat, reading naskah tetap dilakukan untuk menghayati peran antar pemain. Dzaky bercerita “Reading dilakukan selama empat hari, cukup singkat jika dibandingkan persiapan pentas teater”. Grissa pun mengatakan bahwa bermain film adalah salah satu cita-citanya, “Senang sekali akhirnya bisa tercapai karena Solo Bersimfoni”. Teater Brastomolo adalah salah satu ekstra kurikuler (ekskul) di SMAN 1 Gemolong Sragen yang sudah banyak mengeluarkan karya, baik internal sekolah sampai nasional. Ekskul yang sudah terbentuk sejak tahun 2001 ini bahkan sudah beberapa kali mendapatkan juara. Pada Maret 2020, mereka memperoleh dua penghargaan sekaligus, yaitu juara pertama monolog tingkat SMA se-Indonesia dalam ARTEFAC UNS dan juara kedua monolog dalam Lomba FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) se-Jawa Tengah. Sebelumnya, pada Februari 2020 mereka mendapatkan tiga kemenangan sekaligus yaitu juara kedua, artis terbaik dan penata artistik terbaik dalam FDRR (Festival Drama Realis Remaja) se-Soloraya di UNISRI. Beranggotakan kurang lebih 65 siswa dari SMAN 1 Gemolong, Teater Brastomolo tak hanya menjadi ekskul sekolah tetapi juga sebagai proses belajar berorganisasi bagi anggotanya. Brastomolo berasal dari dua kata yaitu brasto (melawan) dan molo (keburukan) yang berarti melawan keburukan atau hal yang negatif. Dalam hal ini membersihkan diri melalui budaya. Semua anggotanya belajar, berproses dan berkarya lewat budaya. “Anggota teater belajar mulai dari satu fase ke fase lain, semua berproses dan pasti ada manfaat dari tiap prosesnya” kata Ismail, Wakil Ketua II Teater Brastomolo. Sejak pandemi, kegiatan dari teater menjadi sangat terbatas, tidak ada pentas produksi yang dipertunjukkan secara langsung. Kegiatan ini diganti dengan pembuatan video teater yang diunggah di akun YouTube Teater Brastomolo. Selain itu, pelantikan dan serah terima jabatan pengurus tahun 2020/2021 pun harus dilakukan secara luring terbatas dan daring. Sebelumnya, kegiatan ini menjadi ajang temu kangen antara alumni dan anggota. “Kita harus mencari pengalaman bukan pengalaman yang mencari kita, contohnya kerja sama dengan Solo Bersimfoni ini,” lanjut Ismail. Lomba yang biasanya diikuti pun hampir semua tidak dilaksanakan sampai catur wulan pertama tahun 2021 ini, sehingga pengurus berencana melakukan kegiatan untuk anggota baru pada pertengahan tahun 2021. “Kegiatan ini dilakukan agar anggota yang belum pernah mengikuti lomba dapat terlatih fisik dan mentalnya untuk keberlanjutan organisasi Teater Brastomolo,” ujar Raffi, Wakil Ketua I Teater Brastomolo. Apalagi anggota baru biasanya melatih mental dan fisik melalui berbagai lomba dan juga diklat yang mana mereka menampilkan pentas produksi. “Biasanya dalam pentas pada diklat akan dipilih aktris dan aktor terbaik, tetapi untuk tahun ini tidak ada,” lanjut Raffi. Salah satu alasan anggota ingin menjadi bagian dari Teater Brastomolo adalah supaya bisa mengikuti pentas produksi, bisa mendapatkan pengalaman di masa remaja dan juga belajar berorganisasi. “Dalam teater itu nggak ada yang nggak bisa, tetapi belum bisa,” kata Ismail. Pembuatan Film Legowo merupakan program keberlanjutan Sekolah Adipangastuti. Meskipun program di sekolah sudah selesai per Desember 2020, hubungan baik antara Solo Bersimfoni dan SMAN 1 Gemolong melalui Teater Brastomolo tetap terjalin dengan baik di dalam dan di luar sekolah. “Senang sekali dengan adanya Sekolah Adipangastuti bisa bikin film Legowo,” ujar Subhi. Harapannya, akan ada lagi kolaborasi dan kerja sama antara SMAN 1 Gemolong, baik melalui Teater Brastomolo maupun ekskul lainnya sebagai salah satu cara mengapresiasi karya anak muda. “Stigma. Sebuah penghakiman kepada seseorang tanpa pembelaan diri. Apakah kita semua akan semudah itu melekatkan stigma negatif kepada seseorang hanya karena dia berbeda dengan kebanyakan orang? Apakah menilai seseorang dari luarnya adalah suatu hal yang bisa diwajarkan? Memberikan stigma sama dengan memberikan hukuman tanpa banding.” Legowo – 2021   #SalamBudaya #SalamToleransi #MariKitaBersimfoni Penulis : Tia Brizantiana

Legowo, Sebuah Karya Tentang Menerima Read More »

Milenial dan Benteng Penangkal Radikalisme

Hari-hari kelabu menutup bulan Maret 2021. Saat masyarakat muslim di Indonesia tengah bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadan, kita dikejutkan oleh peristiwa memilukan sekaligus memalukan. Sebuah bom meledak di gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan di Minggu pagi yang cerah, saat para jemaat gereja sedang khusyu’ menjalankan ibadah. Kejadian ini sungguh memilukan karena hingga kini masih saja terjadi aksi kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa dan banyaknya orang terluka. Namun kejadian ini juga memalukan, karena hampir di setiap kejadian bom bunuh diri si pelaku membawa atribut yang kental dengan identitas seorang muslim. Meski banyak narasi mengatakan bahwa teroris bukan Islam dan tidak memiliki sangkut paut dengan agama manapun, namun seperti sudah menjadi stigma di mata masyarakat bahwa para pelaku bom bunuh diri adalah mereka yang melakukan aksinya dengan membawa misi jihad.

Milenial dan Benteng Penangkal Radikalisme Read More »

perwali

ORGANISASI PEMUDA DI SOLO KINI MILIKI ACUAN BERKEGIATAN

Pada 17 Februari 2021, Bapppeda (Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah) Kota Surakarta telah melaksanakan kegiatan peluncuran dan sosialisasi Rancangan Aksi Daerah (RAD) tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan Kota Surakarta di Ruang Rapat A Bapppeda Surakarta. Kegiatan yang diikuti oleh perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Surakarta ini disusul dengan kegiatan serupa pada 26 Februari 2021 dengan menghadirkan peserta dari Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Kota Surakarta di Kusuma Sahid Prince Hotel Surakarta.

ORGANISASI PEMUDA DI SOLO KINI MILIKI ACUAN BERKEGIATAN Read More »

PERDA KEPEMUDAAN, HADIAH ISTIMEWA BAGI PEMUDA JATENG

Pada akhir Januari 2021 pemuda di Jawa Tengah patut bergembira karena memperoleh hadiah istimewa berupa disahkannya Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2021 tentang Pembangunan dan Pengembangan Kepemudaan di Provinsi Jawa Tengah. Regulasi ini memberikan arah pembangunan pemuda, keterlibatan perangkat daerah, kegiatan dan alokasi anggaran. Artinya banyak peran pemuda yang akan disokong oleh pemerintah daerah sesuai dengan amanat Perda tersebut. Disebutkan dalam UU RI Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, pemuda adalah Warga Negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enak belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Kegembiraan itu terpancar dalam sambutan Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Abdul Hamid S.Pdi, saat memberikan arahan dalam sosialisasi Perda No. 4 Tahun 2021 bersama perwakilan organisasi masyarakat dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) di Hotel Amanda Hills Bandungan, Kabupaten Semarang pada Minggu 13 Februari 2021. Dia berharap, pemuda di Jawa Tengah menyambut gembira dan turut berpartisipasi aktif dalam mengawal arah pembangunan kepemudaan, karena masih ada amanat regulasi sebagai turunan perda tersebut yang harus dikawal dan dikritisi sebelum ditetapkan menjadi kebijakan operasional. Sementara itu, Huntal Hutapea SAP, M.Si., M.Ed. selaku Tim Ahli Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah mengatakan bahwa dalam regulasi perda tersebut mengamanatkan sebelas kebijakan yang masih menjadi PR bersama. Salah satunya adalah regulasi mengenai perlindungan pemuda, yang di dalamnya termasuk pembangunan toleransi dan perdamaian serta tindakan menangkal ekstremisme dan radikalisme. Dalam paparannya, Huntal menjelaskan bahwa pelayanan pemberdayaan kepada organisasi kepemudaan dilaksanakan dalam bentuk peningkatan pemahaman nilai-nilai kebangsaan dan budaya lokal, peningkatan kualitas organisasi dan kaderisasi. Dalam hal ini, pemuda mempunyai tugas sebagai kekuatan moral, kontrol sosial dan agen perubahan seperti yang telah dilakukan Sahabat Simfoni dalam kampanye nilai hasthalaku untuk mereduksi intoleransi. Pentingnya Regulasi Kepemudaan Sementara itu, ketua Solo Bersimfoni M Farid Sunarto yang bertindak selaku fasilitator dalam kegiatan ini mengatakan bahwa organisasinya peduli terhadap peran pemuda dalam membangun semangat kebersamaan, perdamaian dan toleransi. Maka semangat ini juga harus dimasukkan dalam pasal-pasal regulasi yang lebih spesifik sehingga kesebelas amanah Perda ini akan menjadi acuan bagi pasal-pasal yang menarasikan perdamaian, toleransi dan menangkal radikalisme dan terorisme. Sebelumnya dalam sesi Podcast wawancara di Youtube Channel Solo Bersimfoni, Abdul Hamid S.Pdi menjelaskan bahwa Perda Provinsi Jawa Tengah tentang Pembangunan dan Pemberdayaan Kepemudaan ini dibentuk dengan tujuan agar negara hadir dalam pengelolaan kepemudaan. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk turut serta dalam proses pembangunan daerah, produktif dalam skala dan bidang masing-masing. “Minimal mereka bisa masuk dalam menyukseskan program pemerintah daerah. Untuk itu, pemerintah harus hadir dalam membuat aturan bagi kepemudaan.” tambahnya. Dibutuhkan partisipasi semua pihak untuk terus menjalankan amanat perda ini, karena keterbatasan alokasi sumber daya dari eksekutif maupun legislatif dalam menindaklanjuti amanat perda tersebut. Oleh karena itu, partisipasi dan dukungan ormas seperti Solo Bersimfoni menjadi sangat penting, dengan mengambil peran strategis agar percepatan regulasi bagi kepemudaa memiliki payung hukum yang lebih jelas, khususnya terkait penyadaran bahaya intoleransi dan radikalisme,” tukasnya. *Komisi E yang membidangi Kesra meliputi hak dasar masyarakat yaitu pendidikan, kesehatan, sosial, perencanaan, perempuan dan anak, kesehatan, pemuda dan olahraga. Penulis : Tia Brizantiana

PERDA KEPEMUDAAN, HADIAH ISTIMEWA BAGI PEMUDA JATENG Read More »