Author name: admin

Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental

Sesuai amanat yang tertuang pada Perwali No. 49 tahun 2019 dengan tujuan membentuk karakter pemuda di kota Surakarta melalui Hasthalaku. Solo Bersimfoni bekerjasama dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia mengadakan kegiatan yang mengajak remaja milenial untuk menerapkan nilai-nilai Hasthalaku untuk mewujudkan Indonesia Bersatu. Hal ini sebagai langkah kongkrit upaya pemerintah dalam Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda serta keterlibatan masyarakat sipil. Program ini dinamakan Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah Podcast Cuap Cuap Relasi, Seminar Karakter Hasthalaku dan Bedah Film Toleransi bertema Hasthalaku. Podcast Cuap Cuap Relasi (Remaja Toleransi) dilakukan Sembilan kali dengan masing-masing tema : Gotong Royong, Guyub Rukun, Grapyak Semanak, Lembah Manah, Ewuh Pekewuh, Pangerten, Andhap Asor, Tepa Selira dan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Narasumber yang mengisi kegiatan ini adalah Dispora Kota Surakarta yaitu Kepala Kepemudaan, Nico Agus Putranto, dan Kasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan, Zufar Sasongko. Sedangkan Sahabat Simfoni, yang merupakan relawan serta kepanjangan tangan dari Solo Bersimfoni, juga menjadi narasumber kegiatan ini. Dalam Podcast bertema GNRM, perwakilan dari Kemenko PMK RI hadir yaitu Bayu Priyo Jatmiko. Sembilan podcast telah diupload pada YouTube Channel Solo Bersimfoni mulai tanggal 23 sampai dengan 30 November 2020. Seminar Karakter Hasthalaku dengan tema Pengembangan Nilai-Nilai Karakter Remaja Milenial yang Bersumber dari Nilai Budaya Lokal secara daring telah terlaksana dengan lancar dan dihadiri oleh total 700 peserta baik dari zoom meeting maupun live streaming channel YouTube Solo Bersimfoni. Peserta merupakan siswa dan siswi Model Sekolah Adipangastuti yang sedang diterapkan pada lima sekolah di Soloraya yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong. Kegiatan ini dimulai dengan laporan kegiatan oleh M. Farid Sunarto selaku Ketua Solo Bersimfoni kepada Kemenko PMK RI melalui R. Alfredo Sani F selaku Asisten Deputi Revolusi Mental Kemenko PMK RI. Dalam kesempatan ini, Pak Alfredo juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini berada di bonus demografi, yaitu pemuda yang masuk usia produktif lebih banyak daripada yang masuk usia non produktif, sehingga kita perlu menyiapkan pemuda dengan membangun karakter hasthalaku yang sangat relevan di era sekarang. Narasumber kegiatan Seminar berjumlah empat orang yang merupakan pemerhati pemuda dan pemangku jabatan di Pemerintahan Kota Surakarta. Yang pertama adalah Waskito Widi Wardojo, S.S., M.A. yang merupakan dosen Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS memberikan materi dengan tema Internalisasi Nilai Nilai Karakter Hasthalaku. Kemudian yang kedua adalah Indradi AP, S.H., M.M selaku Kepala Kesbangpol Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Peran Organisasi pemuda dalam Pengembangan Karakter Hasthalaku Remaja Milenial. Yang ketiga adalah Dr. agus Setyo Utomo, S.E., M.Si., Ak. CA, C.Pa. yang merupakan aktifis pemuda dan Kepala Markas PMI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Merawat Persatuan dalam Semangat Kemanusiaan. Serta yang terakhir adalah Bambang Nugroho selaku Ketua KNPI Kota Surakarta memberikan materi dengan tema Semangat Pemuda dalam Mewujudkan Indonesia Bersatu. Pada kegiatan yang ketiga, yaitu Bedah Film Toleransi bertemakan Hasthalaku telah terlaksana dengan baik dan lancar pada hari Selasa tanggal 24 Desember 2020 di Graha Solo Raya pukul 13.00 – 15.00 WIB. Film yang diputar ada lima film yaitu Sepatu, Coba Peka, Second Change, Semanak dan Nggak Kenal Agama. Tiga film diantaranya adalah pemenang lomba pembuatan film pendek program Sekolah Adipangastuti tahun 2019 di SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 110 peserta dari OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Kota Surakarta. OKP yang hadir dari HIPMI, Suara Muda Solo, PRRBM, HMI, TAD, KNPI, PT HKTI, PMII, Banser, PMR Markas, JCI, IMM, IPNU, KAMMI, dan KTI. Sedangkan OPD yang hadir dari Bapppeda, Departemen Agama dan Kesbangpol Kota Surakarta. Kegiatan ini diawali oleh pesan dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII, Suyanta, S.Pd., M.Pd, agar seluruh peserta selalu melakukan protokol kesehatan untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19 di Soloraya. Beliau juga mengatakan bahwa sesuai pemuda, selain harus memiliki kemampuan berkompetisi juga harus memiliki karakter yang bagus agar dapat sukses di masa depan. Narasumber kegiatan Bedah Film ini ada tiga orang yaitu pemeran Film Semanak, Katira dan El Alimudin, serta sutradara Film Sepatu, Muhammad Anis. Tujuan umum kegiatan ini adalah untuk menanamkan karakter bangsa guna mewujudkan Indonesia Bersatu bersama Gerakan Nasional Revolusi Mental Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui identitas budaya yang terdapat pada Perwali Nomor 49 Tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan yang disebut hasthalaku bagi remaja milenial di Kota Surakarta.       link berita: https://revolusimental.go.id/kabar-masyarakat/detail-suara-kita?url=pengembangan-karakter-remaja-milenial-di-kota-surakarta-tahun-2020-program-gerakan-nasional-revolusi-mental-kerjasama-solo-bersimfoni-dan-kemenko-pmk-r

Pengembangan Karakter Remaja Milenial di Kota Surakarta Tahun 2020 Program Gerakan Nasional Revolusi Mental Read More »

Agen Simfoni Bersatu

Agen Simfoni Bersatu, dari Sahabat untuk Sahabat.

Sahabat Simfoni merupakan perpanjangan tangan dari Solo Bersimfoni untuk menyebarkan toleransi melalui nilai-nilai hasthalaku kepada masyarakat di Kota Solo, terutama generasi muda. Sudah kurang lebih tiga tahun Sahabat Simfoni menemani Solo Bersimfoni yang diawali dengan Training of Trainers yang sudah dilakukan dalam empat angkatan. Dalam berkegiatan, Sahabat Simfoni melakukan berbagai cara untuk menyebarkan hasthalaku seperti Simfoni Goes to School, Hasthalaku on the Street, Simfoni Class, pementasan Fragmen Hasthalaku dan tak lupa kampanye di media sosial mereka. Tentu saja kegiatan yang mereka lakukan disesuaikan dengan tren yang sedang terjadi di kalangan anak muda, apalagi Sahabat Simfoni juga merupakan bagian dari pemuda. Dalam masa pandemi, kegiatan yang dilakukan secara bertatap muka dijadwalkan ulang bahkan dibatalkan atau diubah dengan metode online. Hal ini mengingat naiknya penderita Covid-19 di Indonesia yang bahkan per akhir Januari 2021 sudah melebihi dari satu juta kasus. Simfoni Goes to School dilakukan pada program literasi dan ekstra kurikuler pramuka di SMAN 1 Surakarta. Disini Sahabat Simfoni membuat materi hasthalaku seperti video YouTube yang kemudian diberikan kepada siswa. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Sekolah Adipangastuti, sekolah toleransi berbasis budaya yang diinisiasi oleh Solo Bersimfoni untuk mereduksi intoleransi di kalangan pemuda Soloraya. Bahkan pada tanggal 17 Desember 2020 telah dikukuhkan lima Sekolah Adipangastuti yaitu SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Fragmen hasthalaku merupakan salah satu cara sahabat simfoni untuk menyebarkan toleransi dengan cara yang menarik dan menyentil berbagai isu intoleransi. Mereka pun pernah menampilkan fragmen di depan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam kegiatan Forkopimda Provinsi Jawa Tengah “Komitmen Bersama Menjaga Jawa Tengah Tetap Guyub, Toleran, Aman dan Tenteram” di Gedung  UTC Convention Hotel, Semarang pada kamis, 17 Oktober 2019. Organisasi Sahabat Simfoni : Agen Simfoni Bersatu Awalnya, Sahabat Simfoni hanya dibentuk dari alumni kegiatan ToT saja. Namun semakin lama, banyak anak muda yang tertarik menjadi bagian dari Solo Bersimfoni dan menjadi Sahabat Simfoni walau tidak pernah mengikuti ToT. Untuk menampung keinginan ini, Sahabat Simfoni berinisiasi untuk membentuk organisasi sahabat simfoni yang dinamakan Agen Simfoni Bersatu (ASB). Pada Jumat tanggal 29 Januari 2021, ASB melakukan peluncuran pembentukan organisasi di Ruang Hasthalaku Solo Bersimfoni bertepatan dengan acara Kenduri Perdamaian dimana Sahabat Simfoni berkontribusi menggelar pentas fragmen hasthalaku bertema keberagaman. Dengan durasi kurang lebih lima menit, sahabat simfoni ingin mengambarkan bagaimana stigma ras bisa dicegah dengan menerapkan nilai hasthalaku. Tanggapan dari peserta Kenduri Perdamaian pun sangat positif, salah satunya berkata bahwa Kampung Damai, yang merupakan nama kampung dalam fragmen, harus menjadi gerakan yang nyata. “Bersama dengan tulus dan tanpa rasa curiga menjadi kekuatan di akar rumput agar masyarakat bisa saling gotong royong dan tepa selira” – Andi Kristanto “Pelagi berwarna-warni yang membuat jadi indah” – Puji Yanti Ordiyasa. Harapan dibentuknya organisasi ini agar Sahabat Simfoni dapat saling belajar, berbagi dan juga mengembangkan diri baik di kalangan sahabat sendiri maupun dari orang lain. Selanjutnya dengan adanya ASB, Sahabat Simfoni dapat belajar mengelola organisasi dari membuat program kegiatan sampai pelaksanaan dengan semangat hasthalaku. Dengan membuat program kegiatan sendiri, mereka akan menjangkau dan mendapatkan jaringan serta pengalaman yang lebih luas. #KitaBersamaKarenaKitaBerbeda #MariKitaBersimfoni Penulis : Tia Brizantiana  

Agen Simfoni Bersatu, dari Sahabat untuk Sahabat. Read More »

Tepa Selira, Milik Anak atau Orang Tua?

Tepa Selira, Milik Anak atau Orang Tua?

Sebuah gambar muncul di layar gawai saya saat membuka status whatsapp teman yang juga berprofesi sebagai guru. Gambar berbentuk piagam elektronik tersebut berhasil menyita perhatian saya. “Piagam Penghargaan diberikan kepada seluruh orang tua/wali murid sebagai Guru Terbaik dalam mendampingi belajar Ananda tercinta di rumah selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), semoga menjadi amal kebaikan untuk kita semua. Setiap kita adalah guru, Setiap rumah menjadi sekolah”.

Tepa Selira, Milik Anak atau Orang Tua? Read More »

“KONTRIBUSI REMAJA MILENIAL untuk PENGUATAN KEBANGSAAN melalui PENERAPAN NILAI-NILAI HASTHALAKU”

Webinar Wisuda Program Sekolah Adipangastuti Kamis, 17 Desember 2020 Pada tanggal 17 Desember 2020, Solo Bersimfoni menyelenggarakan wisuda Program Sekolah Adipangastuti secara daring dengan tema “Kontribusi Remaja Milenial untuk Penguatan Kebangsaan melalui Penerapan Nilai-Nilai Hasthalaku”. Adipangastuti adalah model sekolah toleransi berbasis budaya yang sudah diterapkan selama dua tahap yaitu tahun 2019 dan 2020 dan di tahap ini telah dilakukan selama bulan Juli-Desember 2020. Bapak Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. hadir sebagai pembicara dalam kegiatan ini sekaligus untuk mengukuhkan lima sekolah percontohan di Solo Raya sebagai Sekolah Adipangastuti. Kegiatan diikuti oleh sekiranya 1466 guru dan siswa dari sekolah percontohan Adipangastuti periode 2019 di Kota Solo yaitu SMAN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta serta tiga sekolah tambahan di periode 2020 di Solo Raya yaitu SMAN 1 Kartasura Sukoharjo, SMAN 3 Sragen dan SMAN 1 Gemolong Sragen. Turut hadir Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VI Provinsi Jawa Tengah, Suratno, S.Pd., M.Pd., dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII, Suyanta, S.Pd., M.Pd. yang telah memberikan dukungan penuh sejak awal penerapan model Sekolah Adipangastuti serta para relawan Sahabat Simfoni yang selama ini mendampingi implementasi program-program Sekolah Adipangastuti.   Dalam pengantarnya Ketua Solo Bersimfoni M. Farid Sunarto menyebutkan bahwa model Sekolah Adipangastuti berisi pendidikan karakter hasthalaku[1] dengan budaya literasi yang dikemas secara menarik bagi remaja milenial. Tema-tema kebaikan kemudian didistribusikan secara digital lewat video, film, blog, konten, podcast, novel, komik dan lainnya. Tak kalah penting adalah branding sekolah untuk mengkampanyekan nilai-nilai hasthalaku melalui poster, leaflet, majalah dinding, hiasan sekolah dan tagline karya guru serta siswa. Peningkatan kapasitas media sosial serta penguatan platform digital juga dilakukan sehingga website dan media sosial sekolah seperti Youtube, FB, IG, Twitter dapat menyuarakan nilai-nilai hasthalaku. “Apalagi terjadinya pandemi Covid-19 telah memaksa siswa dan guru untuk lebih melek digital maka nilai-nilai hasthalaku menjadi sangat penting untuk dipahami dan dilakukan oleh generasi muda agar tercipta toleransi, perdamaian, dan menghargai keberagaman di mana saja termasuk di dunia maya,” kata Farid.   Bapak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan materi menarik berkaitan dengan tantangan berat yang dihadapi generasi muda di era disruptif ini. “Kita harus terbiasa untuk menerima perbedaan sejak dini,” ucapnya sambil menceritakan pentingnya tata krama dalam bermedia sosial dan rasa tanggung jawab ketika menyebarkan sebuah informasi. “Jika hasthalaku dapat benar-benar diterapkan di setiap sekolah saya yakin tidak akan ada lagi perundungan dan permusuhan,” tambahnya.   Webinar ditutup dengan pengukuhan lima sekolah percontohan menjadi Sekolah Adipangastuti oleh Bapak Gubernur. “Nilai-nilai hasthalaku harus ditularkan kepada sekolah-sekolah di wilayah lain, dan itu hanya bisa dilakukan apabila konsepnya dipahami serta diinternalisasi oleh setiap warga sekolah Adipangastuti sehingga akhirnya menjadi budaya yang terbukti baik dan bisa dicontoh.” Program Sekolah Adipangastuti yang terselenggara atas dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice 2 (AIPJ2) ini direncanakan untuk dua sekolah baru di lingkup Solo Raya pada tahun 2021. Harapannya, program ini juga bisa diterapkan pada sekolah lain di Jawa Tengah.   Ditulis oleh: Tia Brizantiana [1] Pendekatan budaya dan perilaku yang dikembangkan Solo Bersimfoni menjadikan aspek budaya Jawa (Solo) menjadi instrumen utama dan sebuah model untuk mengubah perilaku intoleran menjadi perilaku yang toleran dan cinta damai. (https://solobersimfoni.org/?page_id=415)

“KONTRIBUSI REMAJA MILENIAL untuk PENGUATAN KEBANGSAAN melalui PENERAPAN NILAI-NILAI HASTHALAKU” Read More »

PILKADA SOLO

PILKADA dan HASTHALAKU

Pemilihan umum telah memanggil kita S’luruh rakyat menyambut gembira Hak demokrasi Pancasila Hikmah Indonesia merdeka Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya Pengemban AMPERA yang setia Di bawah Undang-undang Dasar 45 Kita menuju ke Pemilihan Umum Lirik Mars Pemilu  karya Mochtar Embut di atas mungkin sedikit asing di telinga para milenial. Lagu yang sebelum era reformasi selalu menggema menjelang Pemilihan Umum, satu-satunya rujukan memilih anggota dewan dan majelis perwakilan yang kemudian akan memilih presiden sebagai mandataris yaitu penerima mandat dan perintah undang-undang. Saat itu, gubernur dan bupati atau walikota dipilih berdasarkan kesepakatan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Waktu itu, pemilihan langsung tidak dikenal, ciri khas pemerintahan sentralistik. Peraturan perundang-undangan berganti, sistem desentralisasi diterapkan untuk meningkatkan kredibilitas pemerintah. Dimulailah sebuah sistem pemilihan pimpinan daerah dari putera daerah yang diharapkan dapat menjembatani keinginan rakyat menuju tata kelola pemerintahan yang baik dan kemajuan daerah. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA atau PEMILUKADA) dilakukan secara simultan di seluruh wilayah Indonesia melalui pemilihan kepala daerah langsung. Kembali kepada lirik lagu di atas, bagi saya lagu ini sangat fenomenal bahkan masih terngiang sampai sekarang. Pada tahun 1998, grup musik Slank  pernah mengaransemen ulang lagu tersebut dengan sentuhan rock and roll, dengan harapan menggaet pemilih pemula untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Terulang diputar dan digelorakan setiap PEMILU berlangsung. Tidak tahu mengapa, apakah karena PILKADA yang sifatnya sangat lokal, atau karena tidak dikemas oleh musisi terkenal, sehingga tidak ada lagu, mars, jingle yang monumental untuk mensukseskan perhelatan ini. Atau malah sudah ada lirik lagu pilkada dengan lirik tarik sis.. semongko..? Entahlah. Secara kuantitas, partisipasi pemilih tercapai. Sayangnya, pesan dalam lirik lagu tersebut – memilih pemimpin sebagai pengemban atau sulih suara atas AMPERA (amanat penderitaan rakyat), yang merupakan slogan yang sering dipakai oleh Sukarno yang mengilhami perjuangan para founding fathers ketika memimpin negara ini untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama, sangat mungkin belum tercapai. Tahun ini, PILKADA serentak diselenggarakan pada tanggal 9 Desember 2020 yang kebetulan diperingati juga sebagai Hari Anti Korupsi Se-Dunia (HAKORDIA). Hal ini mungkin menjadikan para pasangan calon berfikir ulang untuk mengusung visi dan misi tentang pemberantasan korupsi sebagai dagangan politiknya. Berbagai pesan moral dan harapan tinggi mencuat supaya pemilihan kepala daerah ini mampu mendapatkan pemimpin terbaik. Pemimpin seperti lagu di atas. Dengan suasana pandemi yang kita tidak tahu kapan berakhir ini, muncul berbagai drama PILKADA di seluruh Indonesia. Mulai dari isu oligarki, kekerabatan, inkompetensi, protokol kesehatan, kotak kosong, dan lain sebagainya. Kesuksesan PILKADA dapat dijadikan parameter ketercapaian proses demokratisasi di daerah. Proses yang berjalan seiring dengan kedewasaan masyarakat bersama serangkaian variabel di dalamnya. Kedewasaan dalam berpikir dan bertindak sesuai dengan kata hati, dengan menjunjung tinggi nilai hasthalaku untuk menjaga toleransi. Penyebaran isu SARA dan politik uang demi kepentingan tertentu adalah kejahatan yang luar biasa yang harus dihindari, sehingga siapapun yang menang dalam kontestasi ini diharapkan mampu mengakomodir kepentingan semua elemen masyarakat. Kelompok yang dianggap termajinalkan harus tetap diperhatikan. Pun untuk praktik diskriminasi terhadap aliran, kelompok, atau partai yang berbeda yang digunakan sebagai pemicu kepentingan politik praktis saja. Siapapun yang terpilih dalam kontestasi ini, adalah hasil kontribusi kita. Konsekuensi dari pilihan yang harus dilaksanakan. Mari kita jadikan perhelatan PILKADA ini sebagai implementasi tepa selira, pangerten dan guyub rukun dalam hasthalaku untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga. Tarik sis… semongko…. Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya Pengemban AMPERA yang setia Di bawah Undang-undang Dasar 45 Kita menuju ke Pemilihan Kepala Daerah..   Penulis : Khresna Bayu Sangka

PILKADA dan HASTHALAKU Read More »

Menjadi Pahlawan Milenial dengan Ber-hasthalaku

Indonesia lahir dari pekik merdeka yang semangatnya masih berkobar dalam dada setiap rakyatnya. Negara kita tumbuh subur dari setiap tetesan darah para pejuang yang mengalir ke dalam tanah ibu pertiwi. Sudah selayaknya bangsa kita mengenang, menghargai dan meneruskan perjuangan para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa raganya demi sebuah cita-cita kemerdekaan yang diidam-idamkan.

Menjadi Pahlawan Milenial dengan Ber-hasthalaku Read More »

Sinergi untuk Meningkatkan Potensi Pemuda di Kota Solo

Peraturan Walikota (Perwali) Surakarta No 49 Tahun 2019 tentang Penyadaran, Pemberdayaan dan Pengembangan Kepemudaan telah disahkan oleh Walikota Surakarta, FX. Hadi Rudyatmo, pada tanggal 12 November 2019. Selama penyusunannya selama hampir satu tahun, Solo Bersimfoni turut berkontribusi dalam pembahasan substansi terutama dalam memasukkan hasthalaku ke dalam Pasal 11. Pasal tersebut menyebutkan hasthalaku sebagai salah satu landasan karakter pemuda kota Surakarta.

Sinergi untuk Meningkatkan Potensi Pemuda di Kota Solo Read More »

STRATEGI MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI PEMBERLAKUAN SISTEM ZONASI

Deskripsi Pemberlakuan Sistem Zonasi di SMAN 1 Surakarta Sistem zonasi di SMAN 1 Surakarta telah di berlakukan sejak dua tahun terakhir ini. Sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Nomor 421/07651 tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Provinsi Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2019/2020, seleksi PPDB SMA dilaksanakan melalui tiga jalur, yaitu jalur zonasi, jalur prestasi, dan jalur perpindahan orang tua atau wali. Hanya saja, perbedaannya adalah pada tahun pertama, sistem zonasi yang diterapkan menggunakan cakupan wilayah Kecamatan dengan sistem pemeringkatan masih menggunakan nilai UN SMP. pada tahun kedua, cakupan wilayah yang digunakan berubah menjadi wilayah Desa atau Kelurahan dalam jarak terdekat dengan satuan Pendidikan tanpa menggunakan pemeringkatan nilai UN SMP dalam proses seleksi. Melalui petunjuk teknis (juknis) PPDB tahun 2019/2020 tersebut, calon peserta yang wajib diterima melalui jalur zonasi adalah calon peserta didik yang berdomisili pada jarak Desa atau Kelurahan terdekat dalam zona sekolah paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima. Domisili calon peserta didik ini berdasarkan alamat pada kartu keluarga atau Surat Keterangan domisili dari RT/RW yang dilegalisir oleh Lurah/Kades setempat, yang diterbitkan paling singkat 6 bulan sebelum pelaksanaan PPDB. Dimana kuota 90% jalur zonasi ini sudah termasuk bagi peserta didik dari keluarga ekonomi tidak mampu atau Gakin (Keluarga Miskin) dengan proporsi jalur zona 70% dan jalur Gakin 20%. Kuota10% sisanya dibagi menjadi 5% jalur prestasi dalam zona dan 5% jalur prestasi luar zona. Hal ini karena kuota jalur perpindahan orang tua/wali di SMAN 1 Surakarta tidak terpenuhi 5%, sehingga kuota jalur orang tua/wali tersebut dialihkan ke dalam jalur prestasi. Hasthalaku Sebagai Program Penanaman Nilai di Sekolah Manajemen sekolah di SMAN 1 Surakarta yang terdiri dari berbagai unsur seperti siswa, guru, kepala sekolah, dan komite sekolah telah menentukan beberapa strategi akibat  Perubahan-perubahan yang muncul pasca pemberlakuan sistem zonasi. Dalam kaitannya untuk menghadapi perubahan budaya sekolah, melalui kerja sama dengan Solo Bersimfoni dan beberapa dosen dari Universitas Sebelas Maret (UNS), SMAN 1 Surakarta bersama dengan SMAN 6 Surakarta ditunjuk sebagai pilotting project yang menerapkan program hasthalaku di sekolah. Oleh karena itu, SMAN 1 Surakarta termasuk sekolah Adipangastuti yang mengimplementasikan program hasthalaku. Program hasthalaku tersebut merupakan bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) siswa. Sekolah tidak hanya berperan sebagai sarana lembaga untuk mentransfer ilmu pengetahuan, namun juga mendidik dan membentuk karakter siswa melalui nilai-nilai yang ditanamkan dalam hasthalaku tersebut. Nilai-nilai itu meliputi tepa selira (tenggang rasa), pangerten (saling menghargai), lembah manah (rendah hati), guyub rukun (kerukunan), gotong royong (saling membantu), grapyak semanak (ramah tamah), ewuh pakewuh (saling menghargai), dan andhap asor (berbudi luhur). Nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, misalnya ketika siswa bertemu gurunya menunduk, masuk kelas harus mengetuk pintu, salam terlebih dahulu, cara berbicara, dan lain-lain. Hal-hal tersebut terus-menerus dibiasakan dan tidak dapat dilakukan oleh satu orang, semua warga sekolah turut bersama-sama terlibat dalam mengimplementasikan hasthalaku. Menurut Ketua komunitas Solo Bersimfoni, Solo Bersimfoni menjadikan hasthalaku sebagai sebuah identitas gerakan yang bersumber dari budaya lokal, sehingga hal ini mendorong anak-anak muda untuk bersikap wong jawa ora ilang jawane.Inovasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai upaya mempertahankan budaya sekolah. Inovasi yang dilakukan dalam program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga menjadi strategi sekolah dalam menghadapi perubahan budaya sekolah yang terjadi. GLS yang awalnya hanya dilakukan sebatas kegiatan literasi 15 menit sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai, mulai tahun pelajaran 2019/2020 koordinator GLS di SMAN 1 Surakarta melakukan beberapa gebrakan untuk program ini. Inovasi yang dilakukan adalah dalam satu minggu, terdapat beberapa kegiatan yang berusaha dibiasakan oleh sekolah kepada para siswa. Pada hari senin, terdapat kegiatan senin presrasi dan literasi bahasa. Senin Prestasi ditujukan kepada siswa kelas XII dengan melakukan Try Out (TO) rutin untuk persiapan UTBK khusus. Kegiatan literasi bahasa dilakukan oleh siswa kelas X dan XII dengan cara berpidato dalam bahasa Inggris setelah upacara bendera. Pada hari selasa sampai dengan hari kamis, terdapat literasi keagamaan. Setiap 15 menit pertama sebelum KBM dimulai, siswa yang beragama Islam melakukan tadarus di kelas, kemudian bagi siswa yang beragama Kristen melakukan kebaktian, sedangkan bagi siswa yang beragama Katolik, Hindu, dan Budha melakukan diskusi bersama di ruang agama masing-masing. Setiap hari jum’at minggu pertama, kegiatan yang dilakukan dibagi menjadi jum’at bersih, jum’at religi, dan jum’at sehat. Setiap jum’at minggu kedua terdapat kegiatan Jum’at Beraksi. Pada minggu pertama, jum’at bersih dilakukan oleh siswa kelas X yang bergotong royong membersihkan sekolah dengan membawa alat-alat kebersihan. Jumat religi dilaksanakan oleh siswa kelas XI dengan mengikuti pengajian di aula sekolah, sementara yang non islam beribadah di ruang ibadah masing-masing. Jum’at sehat ditujukan kepada siswa kelas XII yang melakukan kegiatan senam di lapangan. Seluruh kegiatan yang ada pada hari jum’at minggu pertama tersebut dilakukan secara bergantian atau rolling per angkatan. Kegiatan yang dilakukan pada minggu kedua, yaitu jum’at beraksi dilakukan dengan cara berpendapat kritis melalui tulisan. Siswa kelas XII di instruksikan untuk membaca novel kemudian menulisnya dalam bentuk resensi yang di jilid dan dijadikan buku-buku kumpulan resensi novel. Sedangkan untuk siswa kelas X dan kelas XI membuat jurnal baca dari buku-buku (non pelajaran) yang sudah mereka baca. Seluruh tulisan mereka diberlakukan plagiarism checked untuk menghindari kecurang-kecurangan yang dilakukan oleh siswa. Pemberlakuan plagiarism checked yang dilakukan oleh sekolah bertujuan agar siswa dapat bersikap jujur dan berkompetisi dengan cara yang sehat. Sekolah merupakan lembaga pendidikan dengan salah satu tujuannya adalah mensosialisasikan generasi muda menjadi anggota masyarakat untuk dijadikan tempat pembelajaran, mendapatkan pengetahuan, perubahan perilaku, dan penguasaan tata nilai. Dalam pandangan struktural fungsional, masyarakat dilihat sebagai suatu sistem sosial yang terdiri atas unsur-unsur atau elemenelemen yang saling berkaitan. Perubahan yang terjadi pada suatu unsur atau elemen tertentu, akan berdampak pada perubahan unsur atau elemen lainnya. Pandangan ini juga  menekankan pada peran dan fungsi struktur sosial yang menitikberatkan pada konsensus atau kesepakatan bersama dalam masyarakat (Maunah, 2016, p. 159). Begitu halnya ketika sistem zonasi sebagai sebuah sistem yang baru diterapkan dalam dunia pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan seperti SMAN 1 Surakarta yang memiliki struktur organisasi di dalamnya diketahui telah mendapatkan pengaruh atas pemberlakuan sistem zonasi yang berdampak pada beberapa perubahan dan proses adaptasi untuk

STRATEGI MANAJEMEN SEKOLAH DALAM MENGHADAPI PEMBERLAKUAN SISTEM ZONASI Read More »

Solo Bersimfoni

Keberagaman Adalah KehendakNya

Negara harus hadir untuk memberikan rasa tenteram, Negara harus hadir untuk membangun kerukunan, Negara harus hadir untuk membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (Ustad Dian Nafi – Pemimpin Ponpes Al Muayyad Surakarta) Sudah sebulan yang lalu, tepatnya Sabtu tanggal 8 Agustus 2020, warga Solo merasakan keresahan akibat terjadinya tindakan intoleransi kepada salah satu warganya yang sedang melakukan hajatan. Pelaku dan rombongannya beranggapan bahwa empunya hajatan melakukan perbuatan yang dilarang agama dan tidak sesuai dengan ajaran agama, bahkan dianggap sesat. Pemberitaan di media online Kumparan (08/08/2020) menjelaskan bahwa sekelompok massa mendatangi lokasi korban dan memaksa tuan rumah untuk membubarkan acara keluarga tersebut. Sejumlah mobil dirusak, tiga orang terluka akibat pukulan massa dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Miris, mereka melakukan penyerangan sembari meneriakkan takbir dan kalimat yang mengancam nyawa sesama dengan dalih agama. Ironisnya, kejadian ini tidak bisa dihentikan oleh pihak kepolisian. Keluarga yang melakukan hajatan midodareni pun harus membubarkan diri. Multikulturalisme di Kota Solo dengan banyaknya suku dan ras yang tinggal di sana menjadikannya khas dan unik, namun masih sering dijumpai tindakan intoleransi seperti kejadian di atas. Peristiwa ini menambah catatan buruk tindakan intoleransi di Indonesia, khususnya Solo, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan Hasthalaku. Keberagaman Adalah Anugerah Ustad Dian Nafi, pemimpin Ponpes Al Muayyad Surakarta sekaligus penggiat toleransi di Kota Solo beranggapan bahwa peristiwa itu merupakan tindakan intoleran, kekerasan dan penistaan kepada hak sesama warga negara. Baginya, kejadian tersebut merupakan tindakan yang tidak disertai dengan pengetahuan yang cukup alias tindakan yang bodoh, oleh karenanya harus dihentikan. Salah satu cara menjadi warga yang baik adalah taat kepada hukum dengan cara yang berkeluhuran dan berkeadilan. “Solo haruslah kita anggap sebagai anugerah Allah. Maka bersyukurlah kita menjadi bagian dari kota Solo, berterima kasihlah kepada Allah dan juga kepada para pendahulu yang memperjuangkan Kota Solo Ini menjadi kota yang baik kita tinggali,” ujar Ustad Dian. Kepala Kesbangpol Solo, Indradi, mengatakan bahwa kejadian tersebut tidak seharusnya terjadi.  “Masyarakat diharapkan mengecek dahulu kebenaran sebuah cerita yang beredar dan memicu keresahan. Sehingga bila ada perbedaan pendapat dan pandangan dapat diselesaikan dengan cara yang baik dan bijak, dengan mengedepankan musyawarah mufakat dan menghargai hukum yang berlaku.” Beliau juga berharap seluruh pihak bersama dengan pemerintah untuk selalu menjaga kondisi damai di wilayah Kota Solo. Ustad Dian berpesan agar kita semua dapat bersyukur, “Kita berharap anak muda dan masyarakat Solo tidak mudah terpancing emosi dan terutama dapat menjadi penerus yang baik dan menyebarkan kebaikan di masyarakat.” Kebersamaan dalam Keberagaman Ustad Dian juga menambahkan bahwa kita semua harus belajar mengenai keberagaman, “Kita sering menganggap sesuatu ada sebagaimana ia ada dan tidak menjadikannya menjadi bahan pelajaran. Apa saja yang ada dan berbeda perlu untuk kita pelajari.” Beliau juga mengatakan tentang pentingnya silaturahmi, saling belajar saling mengetahui, yang bertujuan membangun pemahaman dalam keberagaman. Masyarakat Kota Solo diharapkan untuk membiasakan diri berpikir jernih, selalu menggunakan akal dan nurani dalam bertindak. Apalagi sebagai warga masyarakat yang sama-sama memiliki hak untuk hidup secara damai dan rukun di Kota Surakarta seharusnya saling menjaga tepa selira. Jangan sampai tindakan intoleransi yang terjadi menjadikan warganya tidak krasan tinggal di Solo karena dirasa tidak bisa mengembangkan diri serta menggali sumber daya untuk kesejahteraan bagi diri sendiri dan sekitar. Keberagaman adalah kehendak-Nya. Tidak dapat kita pungkiri adanya fakta bahwa keberagaman adalah nyata dan merupakan bagian dari takdir-Nya. Sebagai manusia yang baik dan berakal budi, tentu sebaiknya kita dapat menerima perbedaan dengan lapang dada. Menghormati perbedaan dengan bersikap hasthalaku yaitu pangerten dan tepa selira menjadikan guyub rukun terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Kebersamaan dalam persamaan merupakan hal yang biasa, sebaliknya kebersamaan dalam keberagaman merupakan hal yang perlu kita pupuk bersama-sama. Melihat fakta di atas, Solo Bersimfoni tentu saja mengecam segala tindakan intoleransi yang terjadi khususnya di Kota Solo. Sebagai organisasi yang bergerak dalam isu toleransi, rasanya sangat menyesakkan ketika mendengar salah satu warga Kota Solo mengalami tindakan intoleransi. Kami akan terus mendukung pihak kepolisian dalam mengusut dan menghukum para pelaku sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku di Negara Indonesia. Kami juga meminta pemerintah daerah di Soloraya untuk memberikan jaminan perlindungan kepada masyarakat minoritas agar dapat berkegiatan dengan aman dan damai serta mengajak tokoh pemuda, organisasi masyarakat sipil, dan tokoh lintas agama di Soloraya untuk saling berpegangan tangan dalam menjaga dan menggaungkan toleransi di Soloraya agar keharmonisan dalam keberagaman selalu terjaga dan tidak ada peristiwa seperti ini lagi. Marilah kita bersama-sama menyebarkan kebaikan dan mengedukasi diri sendiri serta lingkungan agar tidak mudah terpancing dengan berita atau informasi yang belum tentu benar dan jelas asal mulanya. Serta selalu menjaga silaturahmi agar Soloraya menjadi kota yang senantiasa aman dan damai.   Penulis : Tia Brizantiana

Keberagaman Adalah KehendakNya Read More »

SEGO BERKAT, HASTALAKU DAN GAYA HIDUP YANG TERTUKAR

Sego Berkat, Hasthalaku dan Gaya Hidup Yang Tertukar

Sejak pandemi, ada satu fenomena yang merebak di masyarakat yaitu banyaknya orang berbondong-bondong menapaki dunia perniagaan. Dari sekian banyak produk yang ditawarkan  di grup whatsapp saya, salah satu yang saya temui adalah Sego Berkat, kuliner khas Wonogiri yang terdiri dari nasi beserta uborampe-nya yaitu beberapa iris daging sapi, oseng tempe, sambel goreng kentang dan taoge. Makanan ndeso ini mampu menyita perhatian para pecinta kuliner, karena rasa dan aroma nasi (sego) yang khas dibalut daun jati sebagai pembungkusnya. Kuliner klasik nan filosofis ini tiba-tiba menjadi menu hits yang banyak ditawarkan oleh para pedagang baik online maupun offline. Menu ini mampu menembus semua segmen dan lapisan masyarakat, tidak ada sekat sosial yang menjadi penghalang bagi sego berkat untuk mendarat cantik di lidah para pecinta kuliner tradisional. Di daerah saya Wonogiri, sego berkat kerap disajikan ketika ada hajatan di sebuah kampung. Nasi berkat dikirimkan oleh tuan rumah atau orang yang punya hajatan (gawe) kepada tamu dan kanca gawe, yaitu para tetangga dan handai taulan yang membantu (rewang) selama hajatan berlangsung. Rewang adalah istilah untuk kegiatan bantu-membantu antar tetangga kepada yang sedang menyelenggarakan acara hajatan, suatu budaya gotong-royong masyarakat yang sangat kental di daerah pedesaan. Mereka bahu-membahu mencurahkan tenaga dan waktunya demi sang tetangga yang sedang punya gawe. Bukan hanya untuk satu dua hari, hajatan seperti ini bahkan bisa berlangsung selama satu minggu sebelum resepsi diadakan. Mereka memulai pekerjaan dengan menampi beras, mengumpulkan kayu bakar, membuat pagar serta pekerjaan lain untuk mempersiapkan acara spesial si tetangga agar hajatan berjalan dengan lancar. Sego berkat juga mengandung filosofi yang melekat kuat dalam akar budaya masyarakat desa, khususnya Wonogiri. Dalam sebungkus sego berkat tertanam pesan untuk saling berbagi rizki dan bersedekah. Sego berkat juga mengandung simbol solidaritas antar warga yang merupakan implementasi dari nilai-nilai hasthalaku. Hasthalaku adalah delapan tingkah laku yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Jawa.  Sikap ini meliputi : Tepa Selira, Lembah Manah, Andhap Ashor, Grapyak Semanak, Gotong Royong, Guyub Rukun, Ewuh pekewuh dan Pangerten. Sego berkat mampu memecah kebuntuan komunikasi masyarakat yang terpisah oleh perbedaan kasta dan jurang status sosial. Namun kini di desa-desa, sego berkat tak lagi bisa kita temui saat ada hajatan. Si empunya hajat lebih memilih kertas minyak atau tempat nasi dari plastik sebagai alat mengemas makanan yang akan dikirim ke tetangga dan saudara. Selain sulit didapat, daun jati yang dulunya menjadi pembungkus sego berkat kini dinilai kurang praktis dan estetis. Mereka juga merasa seolah tak ketinggalan dengan kemajuan jaman karena menggunakan jenis pembungkus yang baru. Hal ini saya ketahui ketika terlibat perbincangan dengan beberapa warga pada saat saya ikut rewang. Sebaliknya saat ini banyak masyarakat urban justru sedang gencar mengkonsumsi dan memakai produk tradisional sebagai sebuah gaya hidup. Penggunaan atribut bernuansa tradisional juga dipandang sebagai tren. Bukan hanya sego berkat, contoh produk lain yang sering saya temui adalah berbagai makanan olahan dari thiwul (sejenis makanan khas Wonogiri berbahan tepung singkong). Thiwul kini marak ditawarkan oleh produsen makanan, dengan polesan yang lebih modern seperti pilihan varian rasa dan warna yang beraneka rupa. Mereka berusaha mengangkat martabat thiwul yang dikenal sebagai makanan wong ndesa menjadi primadona dalam dunia kuliner. Begitu juga dengan penggunaan pakaian tradisional seperti lurik dan motif jumputan yang saat ini sangat populer bahkan dijadikan sebagai bagian dari seragam kantor. Di masa sekarang ini mengangkat unsur kearifan lokal dipandang sebagai sebuah bentuk gaya hidup yang memiliki nilai tersendiri. Sama halnya dengan perilaku hype yang sering kita temui di masyarakat kelas tertentu yang menggunakan perabotan atau alat-alat penunjang aktivitas sehari-hari yang diklaim eco friendly (ramah lingkungan). Berbeda dengan masyarakat kota berbondong-bondong menerapkan gaya hidup dengan mengangkat unsur kearifan lokal, sebaliknya masyarakat desa kini justru mulai meninggalkan budaya klasik yang dulu menjadi cita rasa khas dan mewarnai kehidupan sosial mereka. Mereka mulai mengganti kebiasaan hidup yang berbau tradisional menjadi lebih modern. Tak bisa dipungkiri arus informasi yang deras dari media sosial telah banyak mengubah gaya hidup masyarakat desa mulai dari fashion, kuliner, hingga tempat nongkrong yang ngehitz. Dari pembicaraan saya melalui telepon dengan salah satu saudara di Wonogiri, saya baru tahu ternyata sekarang  di desa-desa banyak orang yang memiliki usaha jastip (jasa titip). Orang-orang yang sering bepergian ke kota menawarkan jasa untuk membelikan makanan atau barang yang tidak bisa didapatkan di daerah mereka. Dengan tambahan sekian rupiah-biasanya tergantung harga barang yang dititip beli dan jarak lokasi pembelian- sebagai biaya jastip, para pengguna jasa ini sudah bisa mendapatkan barang-barang yang diinginkannya. Sebut saja donat J’Co, burger McD, pempek Nyonya Kamto atau pakaian bermerk terkenal yang hanya ditemui di pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Perubahan gaya hidup masyarakat desa yang beralih menjadi kekota-kotaan ini telah menggerus sedikit demi sedikit budaya lokal yang dulunya begitu kental. Pertukaran gaya hidup antara masyarakat desa dan kota adalah sebuah gejala perilaku sosial yang unik sebagai akibat dari keinginan manusia untuk menjadi bagian kemajuan zaman. Dari sego berkat dan pertukaran gaya hidup ini kita bisa berefleksi bahwa jaman boleh maju, peradaban boleh berubah, namun nilai-nilai Hastalaku tak boleh luntur dari kepribadian kita sebagai bangsa yang berbudaya.       Penulis : Asri Pujihastuti, S.Pd. Sahabat Simfoni dan Guru SMKN 7 Surakarta

Sego Berkat, Hasthalaku dan Gaya Hidup Yang Tertukar Read More »